
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 8. Ash-Shumt
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari riwayat ‘Uqbah bin ‘Amir, dia berkata, “Wahai Rasulallah, apakah keselamatan itu?” Beliau bersabda,
أَمْسِكُ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ
“Jaga lisanmu, luaskanlah rumahmu, menangislah atas kesalahanmu.”
keselamatan.” Sebagian ulama berkata, “Bersikap diam adalah
Perkara shumt (diam) yang wajib dilakukan adalah yang berkenaan dengan perkara yang diakui oleh syari’at, dimana melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dan diam pada waktunya merupakan ciri lelaki sejati, sebagaimana berbicara pada waktunya pun bagian dari perkara yang paling mulia.
Diam itu terbagi menjadi dua: Diam dengan raga dan diam dengan kalbu.
Sahl bin ‘Abdullah pernah mengatakan, “Tidaklah dibenarkan sikap diamnya seseorang sampai dia melakukan khalwat, dimana tidak dibenarkan pula tobat seseorang sampai dia membiasakan diri untuk diam.”
Ad-Dinawari pernah mengatakan, “Para ahli hikmah berkata, ‘Wariskanlah hikmah dengan diam dan bertafakkur’.”
Suatu ketika pernah dikatakan kepada Dzun-Nun Al Mishri, “Siapakah manusia yang dirinya paling terjaga?” Dia berkata, “Yang mampu menjaga lisannya.”
Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, “Tidak ada sesuatu yang paling pantas dipenjara dalam kurun waktu yang lama daripada lisan.”
‘Ali bin Bakkar pernah mengatakan, “Allah Swt jadikan segala sesuatunya ada dua pintu dan Allah jadikan empat pintu bagi lisan; kedua bibir saling berhadapan; lisan saling berhadapan.”
Diriwayatkan bahwasanya Abu bakar Ash-Shiddiq Ra menaruh batu ini dan batu itu di mulutnya agar sedikit berbicara.
Fudhail bin ‘lyadh pernah mengatakan, “Tidaklah seseorang menghitung perkataannya kecuali perkataan yang berarti baginya.”
Sebagian ahli hikmah berkata, “Sungguh Allah ciptakan satu lisan pada satu manusia dan dua telinga dan mata, tujuannya agar menusia banyak mendengar dan melihat daripada banyak bicara.”
Ada ulama yang mengatakan, “Kesucian lisan terletak pada diam.”
Ada pula yang mengatakan, “Perumpamaan lisan sama seperti telinga, ketika belum mampu yakin terhadap apa yang didengar, maka akan berbalik menimpamu (dengan perkara yang buruk).”
