
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 9. Al Khauf
Yang dimaksud dengan khauf (sikap takut) adalah terjadinya perkara buruk yang tidak disukai dan hilangnya orang yang dicinta.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
تَتَجَا فٰى جُنُوْبُهُمْ عَنِ الْمَضَا جِعِ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَّطَمَعًا ۖ وَّمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
tatajaafaa junuubuhum ‘anil-madhooji’i yad’uuna robbahum khoufaw wa thoma’aw wa mimmaa rozaqnaahum yungfiquun
“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan penuh harap, dan mereka menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 16)
Didalam hadits disebutkan,
لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Dalam hadits lainnya disebutkan,
لَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ بَكَى مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ حَتَّى يَلِجَ اللَّبَنَ فِي
الضرع
“Tidak akan masuk neraka orang yang menangis lantaran takut kepada Allah Swt, sampai susu diperahan habis.”
Selama-lamanya tanah medan perang di jalan Allah Swt tidak bertemu dengan asapnya neraka pada lubang hidung seorang hamba.”
Takut kepada Allah Swt adalah simbol takutnya seorang hamba dihukum oleh Allah Swt; baik di dunia maupun di akhirat
Bahkan Allah Swt telah memerintahkan hamba-Nya untuk takut pada-Nya, sebagaimana firman Allah Swt,
يَخَا فُوْنَ رَبَّهُمْ مِّنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
yakhoofuuna robbahum ming fauqihim wa yaf’aluuna maa yu-maruun
“Mereka takut kepada Tuhan yang (berkuasa) di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 50)
Abu Hafsh mengatakan, “Rasa takut adalah pecutan Allah Swt yang Dia gunakan untuk menolak orang-orang yang membangkang dari pintu-Nya.”
Beliaupun berkata, “Rasa takut adalah pelita kalbu, yang dengannya dia melihat mana yang baik dan mana yang buruk.”
Ada ulama yang mengatakan, “Orang yang takut bukanlah orang yang menangis dan menghapus air matanya, akan tetapi orang yang takut adalah orang yang meninggalkan perkara, yang dapat menyebabkan dia mendapatkan hukuman Allah Swt.”
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi pernah mengatakan, “Miskinnya anak cucu Adam jikalau dia takut dari api neraka, sebagaimana dia takut miskin untuk masuk surga.”
Abu Qasim Al Hakim pernah mengatakan, “Barangsiapa yang takut pada sesuatu, maka ia akan berlari menjauh dari perkara itu, sementara orang yang takut kepada Allah Swt, maka ia malah akan berlari mendekat kepada-Nya.”
Mu’adz bin Jabal pernah mengatakan, “Seorang mukmin kalbunya tidaklah merasa tenang dari rasa takut sampai jembatan neraka jahannam ada di belakangnya.”
Bisyr Al Hafi pernah mengatakan, “Ketakutan itu adalah raja, ia tidak merasa tenang kecuali pada kalbunya orang yang telah mati.”
Hatim Al Asham juga pernah mengatakan, “Segala sesuatunya memiliki hiasan, dimana hiasan ibadah adalah rasa takut dan tanda takut adalah pendeknya angan-angan.”
Al Hasan bin Manshûr juga pernah mengatakan, “Barangsiapa yang takut pada selain Allah Azza wa Jalla atau dia berharap pada selain-Nya, maka Allah Swt akan tutup pintu segala sesuatu selain-Nya. Allah Swt akan kuasakan rasa takut pada dirinya dan akan tutupi dirinya dengan tujuh puluh hijab, dimana hijab yang paling ringannya adalah adanya rasa ragu.”
Perkara yang sepatutnya ditakuti adalah pemikiran dirinya terkait akhir hayatnya dan takut berubahnya kondisi iman. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ اَنَّ لِلَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مَا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا وَّمِثْلَهٗ مَعَهٗ لَا فْتَدَوْا بِهٖ مِنْ سُوْٓءِ الْعَذَا بِ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَبَدَا لَهُمْ مِّنَ اللّٰهِ مَا لَمْ يَكُوْنُوْا يَحْتَسِبُوْنَ
walau anna lillaziina zholamuu maa fil-ardhi jamii’aw wa mislahuu ma’ahuu laftadau bihii ming suuu-il-‘azaabi yaumal-qiyaamah, wa badaa lahum minallohi maa lam yakuunuu yahtasibuun
“Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai segala apa yang ada di bumi dan ditambah lagi sebanyak itu niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari azab yang buruk pada hari Kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang dahulu tidak pernah mereka perkirakan.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 47)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هَلْ نُـنَبِّئُكُمْ بِا لْاَ خْسَرِيْنَ اَعْمَا لًا
qul hal nunabbi-ukum bil-akhsariina a’maalaa
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 103)
اَ لَّذِيْنَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
allaziina dholla sa’yuhum fil-hayaatid-dun-yaa wa hum yahsabuuna annahum yuhsinuuna shun’aa
“(Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 104)
Abu Ali Ad-Daqqâq sering kali bersenandung:
أَحْسَنْتَ ظَنَّكَ بِالْأَيَّامِ إِذْ حَسَنَتْ # وَلَمْ تَخَفْ سُوْءَ مَا يَأْتِي بِهِ القَدَر
وَسَالَمْتُكَ اللَّيَالِي فَاعْتَزَزْتَ بِمَا # وَعِنْدَ صَفْوِ اللَّيَالِي يَحْدُثُ الْقَدَرِ
“Sudah baik dugaanmu dengan hari-hari yang berjalan ini, ketika memang ini baik # dan engkau tidak mendapatkan keburukan yang telah ditetapkan Keselamatanmu pada malam-malam hari, dimana engkau memohon kekuatan padanya # namun dalam kondisi jernihnya malam terjadi perkara yang tidak dinginkan”
Abu Hatim Al Asham pernah mengatakan, “Jangan engkau tertipu dengan posisi yang baik, karena tempat yang paling baik adalah surga. Nabi Adarn As mendapati apa yang sepatutnya dia dapati dan tidak tertipu dengan memperbanyak ibadah, sebab Iblis dengan lamanya beribadah mendapatkan apa yang sepatutnya dia dapatkan. Jangan pula engkau tertipu dengan ilmu yang banyak, sebab Bal’am adalah orang yang paling tahu tentang ismul a ‘zham, tetapi apa yang terjadi padanya. Jangan pula engkau tertipu dengan melihat orang-orang yang shaleh, sebab tidak ada seorang pun yang kamuliaannya lebih besar daripada nabi Muhammad Saw, dimana keluarga dan musuh beliaupun tidak bisa memberikan manfaat bagi beliau.”
