
Elsubha.com – Wazhifah
A. Rukun bacaannya:
Membaca istighfar sebanyak 30 kali dengan bacaan,
اسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمِ الَّذِي لاَ اِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ القَيُّوْمُ
Membaca Shalawat Fatih sebanyak 50 kali. Bacaan wazhifah tidak sah tanpanya, dan di ma ‘fu bagi yang belum hafal.
Lafazh Shalawat Fatih
اللَّهُمَّ صَلَّى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ والخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ والهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ وعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ ومِقْدَارِهِ العَظِيمِ
“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami Nabi Muhammad pembuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalan-Mu yang lurus, dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.”
Membaca Hailalah sebanyak 100 kali,
لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ
Lafadz Shalawat Jauharatul kamal,
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan perwujudan rahmat sifat-sifat Tuhan, mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, dan yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, sang pembawa kebenaran ketuhanan, yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat.
Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang menjadi Ain Al Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran), telah tampak dari padanya seluruh hakikat keadilan yang seperti Arsy sebagai sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus.
Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajally, yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, tempat datangnya kasih-Mu, yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui hakikat.”
Dalam literatur bahasa yang asing, kata سَقَمَ يَسْقِمُ seperti kata عَدَلَ يَعْدِلُ baik secara timbangan huruf maupun maknanya. Orang arab berkata: سَقَمْتُ إِذَا عَدَلْتُ Kata ini bukan berasal dari kata سَقِمَ يَسْقَمُ seperti kata ُمَرِضَ يَمْرَض Terkadang sebagian orang ada yang menyangka kata tersebut berasal dari kata ini سَقِمَ يَسْقَمُ ini jelas salah.
Wazhifah ini dibaca satu kali dalam sehari semalam (1 X 24 Jam), baik itu di waktu pagi maupun sore hari. Apabila dibaca di dua waktu tersebut, maka itu lebih baik, dimana salah satunya menjadi Wazhifah yang sunah. Waktu terbaik untuk membaca wazhifah ialah antara Maghrib dan Isya’.
Barangsiapa yang rutin membacanya pada sore hari, maka hukumnya serupa dengan hukum wiridan sore pada waktu ikhtiyar dan daruratnya, begitu pula pada wiridan pagi. Pengarang buku Futuhat Rabbaniyyah pernah berkata: “Wazhifah ini ikut hukum wiridan pagi pada waktu utama atau ikhtiyarnya saja, lebih dari itu maka dia harus di-qadha`.”
Orang yang terlambat dalam membaca wazhifah secara berjamaah, sama layaknya dengan melakukan shalat. Dia mulai mengikuti bacaan yang dibaca secara berjamaah, apabila mereka telah usai, maka dia melanjutkan bacaan yang kurang secara tertib. Apabila tepat pada pertengahan bacaan (contoh: saat membaca pertengahan kalimat shalawat fatih), maka hal tersebut tidak dianggap, bahwa dia telah membacanya.
Janganlah dia memulainya dengan ta’awwudz kemudian basmalah, tidak juga Al Fatihah dan Shalawat Fatih karena itu semua merupakan perkara yang dianjurkan bagi orang yang ada sejak awal pembacaan wazhifah namun bukan menjadi rukun bacaan wiridan tersebut. Jangan pula dia membaca bacaan wiridan wazhifah yang terlewat dari dirinya, sementara jama’ah yang lain membaca bacaan lainnya, sebab itu dapat mengganggu mereka.
Bagi orang yang membaca Wazhifah saat bepergian dengan hewan tunggangan, hendaknya dia turun dari tunggangannya saat membaca Shalawat Jauharatul Kamal dan menjaga sebisa mungkin agar tidak menginjak sesuatu yang najis. Apabila telah sampai pada bacaan shalawat Jauharatul Kamal yang ketujuh, maka dia boleh menaiki kembali tunggangannya dan duduk di atasnya serta melanjutkan bacaan tersebut hingga selesai.
Diantara syarat sempurnanya membaca Shalawat Jauharatul Kamal adalah, membentangkan kain bersih pada bacaan ketujuh, hal ini tidak bertujuan bahwa Nabi Saw akan duduk diatas kain tersebut, sebagaimana prasangka orang-orang yang bodoh, akan tetapi, hal ini dilakukan agar orang yang sedang berdzikir berada pada posisi dan keadaan yang paling baik. Dimana telah terbukti, bahwa duduk di tempat yang lapang dan benar-benar suci, sebagai salah satu penyebab untuk menggapai jernihnya kalbu.
Barangsiapa yang sedang berkhalwat di tempat yang hanya cukup untuk satu orang, maka diperbolehkan baginya membaca Shalawat Jauharatul Kamal, apabila dia menghendaki hal itu.
Sumber : BUKU QASDUSSABIL FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYAH, SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI
