You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Wiridan Hailalah Dalam Thariqah At-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Hailalah

Yaitu membaca kalimat, لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ setelah shalat Ashar pada hari Jum’at, kira-kira satu jam sebelum terbenamnya matahari. Jika dia ingin, dia boleh membaca Hailalah ini dengan menggunakan hitungan, mulai dari 1000 hingga 1600. Jika dia ingin, dia juga boleh membacanya lebih dari jumlah bilangan itu, dan harus bersambung dengan waktu Maghrib, baik dia membacanya dengan hitungan tertentu maupun tanpa hitungan.

Barangsiapa yang memilki udzur shahih yang menghalangi dirinya untuk sampai pada waktu terbenamnya matahari, hendak baginya membaca Hailalah ini dengan menetapkan hitungan tadi. Apabila dia telah usai membacanya, maka dia boleh melanjutkan kesibukannya itu.

Barangsiapa yang terlambat atau terlewat waktu, dia tidak harus meng-qadha’ karena maksud dari dzikir Hailalah ini adalah menutup amaliyah yang satu minggu itu dan memulainya dengan berdzikir kepada Allah Swt.

Dimana terbenamnya matahari tidak sempurna kecuali sampai pertanda malam telah tiba. Bacaan Hailalah yang menyambung dengan terbenamnya matahari ini juga bertepatan dengan waktu diijabahnya do’a pada hari Jum’at, seperti yang telah disebutkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam berbagai hadits beliau dan ditetapkan oleh sebagian sahabat, bahwa waktu diijabahnya do’a adalah pada akhir waktu dari hari Jum’at.

Apabila seseorang lupa atau terlewat untuk membaca wiridan (pagi dan sore) dan wazhifah, maka dia harus meng-qadha`-nya, baik dia meninggalkannya karena lupa atau disengaja. Meng-gadha suatu wiridan menjadi sebuah kewajiban lantaran Wiridan itu dilakukan dengan di-nadzar-kan, begitupula dengan Wazhifah, namun bukan berarti dia meng-qadha` karena tertinggalnya suatu amalan yang sifatnya sunah.

Semua orang yang ingin membaca wiridan di atas, sunah untuk dimulai dengan bacaan Ta’awudz, Al Fatihah, Shalawat Fatih serta membaca akhir surat Ash-Shaffaat, yaitu:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ 
sub-haana robbika robbil-‘izzati ‘ammaa yashifuun

“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 180)

وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ 
wa salaamun ‘alal-mursaliin

“Dan selamat sejahtera bagi para rasul.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 181)

وَا لْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
wal-hamdu lillaahi robbil-‘aalamiin

“Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 182)

Akhir surat Ash-Shaffaat ini juga dibaca selepas Shalawat Fatih dalam setiap Wiridan dan Wadzhifah. Selepas membaca kalimat musyarrafah لآ إِلٰهَ إِلاَّ اللّٰهُ kemudian disusul dengan membaca,

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهِ عَلَيْهِ سَلاَمُ اللّٰهِ

bahkan lebih baik jika membaca,

سَيِّدُنَا مَحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ

yang kemudian ditutup dengan bacaan,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
innalloha wa malaaa-ikatahuu yusholluuna ‘alan-nabiyy, yaaa ayyuhallaziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)

dilanjutkan membaca,

صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا

Semoga rahmat dan keselamatan selalu tercurahkan kepadanya (Nabi Muhammad), keluarga dan sahabatnya.

Lalu dilanjutkan,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ 
sub-haana robbika robbil-‘izzati ‘ammaa yashifuun

“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 180)

وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ 
wa salaamun ‘alal-mursaliin

“Dan selamat sejahtera bagi para rasul.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 181)

وَا لْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
wal-hamdu lillaahi robbil-‘aalamiin

“Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 182)

Lalu berdoa sesuai yang dia inginkan, dengan ber-tawassul kepada Nabi Muhammad Saw, semua para nabi, para sahabat, Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra serta segenap pemuka thariqahnya, lalu diakhiri dengan bacaan Al Fatihah, Shalawat Fatih dan akhir surat As-Shaffât.

Sebagian sahabat Syaikh, ada yang memulai bacaan Hailalah ini, dengan membaca Al Fatihah yang dilanjutkan dengan membaca kalimat,

اسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

sebanyak tiga kali yang kemudian dilanjutkan dengan membaca Shalawat Fatih sebanyak tiga kali.

Diantara syarat-syarat Wazhifah dan Hailalah adalah membacanya secara jamai’ (bersama-sama), dengan suara yang keras. Ini bagi ikhwan yang tidak memiliki udzur atau halangan, sedangkan bagi perempuan atau wanita, membacanya dengan suara yang pelan, baik itu saat membaca Hailalah, Wazhifah dan juga Wiridan lainnya.

Negeri manapun yang tidak menyarankan untuk membaca Wadzhifah dan Hailalah secara jama’i, mereka itu sudah meremehkan thariqah At-Tijaniyyah. Bahkan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata: “Perbuatan yang demikian ini dapat menyebabkan seseorang keluar dari thariqah dan terputuslah hubungan selamanya, Wal’ iyaadzubillaah.”

Sumber : BUKU QASDUSSABIL FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYAH, SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI