
Elsubha.com – Pondasi Ke-4 : At-Tafwidh Sebagai Pondasi Tauhid
Dzat ketuhanan tidak dapat diketahui kecuali oleh Dia yang mengetahuinya sendiri. Sedangkan Ilah (Tuhan), merupakan predikat ketuhanan dari mereka yang menuhankan-Nya.
Begitu juga Rabb (Tuhan), itu merupakan predikat sisi pengayoman dari yang mendapatkan pangayoman-Nya.
Setiap orang akan mendapatkan pengayoman Rabb-Nya sesuai dengan kadar penerimaan dirinya terhadap pemberian Rabb padanya.
Maka, semua orang mengetahui sisi ketuhanan dan menerima sisi pengayoman-Nya sesuai dengan kadar kemampuannya. Oleh karenanya, pandangan terhadap Rabb berbeda-beda.
Rabbnya orang yang ‘Alim tidaklah seperti Rabb dalam anggapan orang yang jahil.
Rabbnya orang yang ‘Arif tidaklah seperti Rabb dalam anggapan orang yang ‘alim.
Rabbnya seorang nabi tidaklah seperti Rabb dalam anggapan orang yang ‘Arif.
Rabbnya seorang utusan Allah tidaklah seperti Rabb dalam anggapan seorang nabi.
Rabbnya ulul azmi dari kalangan utusan Allah tidaklah seperti Rabb dalam anggapan Rasulullah.
Rabbnya Rasulullah tidaklah seperti Rabb dalam anggapan ulul azmi dari kalangan utusan Allah.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاَ نَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰى
wa anna ilaa robbikal-mungtahaa
“dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu),”
(QS. An-Najm 53: Ayat 42)
Letak redaksi yang menunjukkan makna diatas terletak pada huruf “Kaf,’ di redaksi, “رَبِّكَ“, dimana redaksi, “الْمُنْتَهٰى” berujung pada Rabbnya Sayyidina Muhammad Saw (Allah Swt) dan bukan berujung pada yang lainnya.
Benar sudah sabda Nabi Saw, bahwa beliau bersabda,
فَيَأْتِيهِمُ اللهُ فِي غَيْرِ الصُّورَةِ الَّتِي يَعْرِفُونَ فَيَقُولُ : أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُولُونَ: نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا أَتَانَا رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ، فَيَأْتِيهِمُ الله في الصُّورَةِ الَّتِي يَعْرِفُونَ، فَيَقُولُ : أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُوْلُوْنَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَتْبَعُونَهُ
“Allah datang kepada mereka (orang-orang munafik) dengan gambaran yang tidak mereka kenal, seraya berkata, “Aku adalah Rabb kalian,” mereka berkata, “Kami memohon perlindungan Allah dari dirimu, ini adalah tempat kami, sampai Rabb kami datang pada kami. Apabila Dia telah datang pada kami, maka kamipun mengenal-Nya.” Maka Allah mendatangi mereka dengan gambaran yang mereka kenali seraya berkata, “Aku adalah Rabb kalian,” merekapun berkata, “Engkau adalah Rabb kami,” maka merekapun mengikuti-Nya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)
Dari pemaparan diatas dapat kita ketahui bahwa setiap orang yang berakal pun memiliki sisi pandang tersendiri terhadap Dzat Allah. Sungguh setiap hamba Allah itu menyembah-Nya sesuai apa yang dipikirkan akalnya dan sesuai dengan kadar kemampuan amal perbuatannya. Semakin bertambahnya pengetahuan seorang manusia akan Tuhannya, maka penghambaannya pun akan semakin meningkat.
Orang yang bodoh menyembah Tuhan, orang yang pintar pun menyembah Tuhan, maka diantara dua sisi ketuhanan ini sama halnya dengan kondisi ilmu dan bodoh.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا عْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَـقِيْنُ
wa’bud robbaka hattaa ya-tiyakal-yaqiin
“dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 99)
Maksudnya adalah, sembahlah Tuhanmu yang dipaparkan dalam syari’at hingga keyakinan datang padamu, sehingga katub penutup (kalbu) bisa terbuka dan pandangan mata semakin tajam, sehingga dengannya engkau mampu melihat apa yang dilihat Nabi Saw, engkau bisa mendengar apa yang Nabi Saw dengar, sehingga engkau mengikuti Nabi Saw pada satu derajat; tanpa ada sisi kenabian atau membuat syari’at, tetapi itu adalah warisan kenabian untuk jiwa yang jujur dan mengikuti tuntunan Nabi Saw.
Maka perkara uluhiyyah dan rububiyyah dipercayakan pada apa yang tercermin di dalam cerminnya Rasulullah Saw, yang mana cermin Rasulullah Saw merupakan cermin paling mengkilap, paling bersih nan jernih.
Ketika sisi tajalli Allah sesuai dengan kadar jernih dan mengkilapnya cermin, juga sesuai dengan kesiapan orang yang menghadap cermin tersebut, dimana ketika itu cermin yang paling mengkilap adalah cermin Rasulullah Saw dan yang memiliki kesiapan adalah kesiapan diri Rasulullah Saw, oleh karena itu, pada Rasulullah Saw dikhususkan tajalli dzati. Selain beliau, tidak berlaku tajalli dzati, hanya berlaku tajalli asma dan tajalli sifat Allah Swt saja. Maka Rasulullah Saw merupakan cermin yang menampakkan Dzat Allah yang Maha Suci dengan cara tajalli yang sempurna pada makhluk. Maka kembalikanlah tetesan dzatmu kepada lautannya Rasulullah Saw, engkau bisa fana’ pada Rasulullah, sehingga yang engkau hadapi adalah lautan Rasulullah Saw dan bukan tetesan dirimu. Hal ini teraplikasikan bagi Nabi Saw pada maqam ini, sehingga engkau beranjak dengan tajalli Allah dari sisi Dzat-Nya.
Tajalli adalah nampaknya cahaya ghaib pada kalbu, (Lihat, Rafiq Al ‘Ajam, Mausu’ah Mushthalahat At-Tasawwuf Al Islami, (Beirut, Maktabah Libanon), cet. 1, hal. 165).
Orang yang melihat cermin, maka ia tidak lagi melihat volume cermin tersebut, tetapi yang dilihat adalah gambaran benda yang terpantul dihadapan cermin tersebut, sekalipun ia berusaha melihat volume cermin tersebut, maka iapun tidak akan mampu. Barangsiapa yang melihat pada Rasulullah Saw, dimana beliau sebagai cermin tadi, maka ia tidak akan melihat Rasulullah tetapi melihat sisi tajalli Allah didalam Rasulullah Saw. Maka kemudian jika ada yang melihat Rasulullah dan belum melihat sisi tajalli Allah pada beliau, maka cermin kalbunya perlu lebih dikilapkan lagi. Rasulullah Saw bukanlah perantara antara Allah dan makhluk-Nya, akan tetapi Rasulullah Saw adalah cermin mengkilap, dimana makhluk bisa melihat Rabb mereka pada diri Rasulullah Saw dan bukan Dzat lainnya, bahkan merekapun tidak melihat dzatnya Rasulullah Saw. Sebab, seseorang tidak bisa melihat volume cermin saat nampak suatu gambaran padanya.
Katakanlah: Aku mempercayakan semua keyakinanku pada keyakinan Rasulullah Saw. Maka aku berkeyakinan dengan seluruh keyakinan Rasulullah Saw dan menafikan seluruh perkara yang dinafikan Rasulullah Saw. Bagaimana tidak? Sementara semua nabi dan utusan Allah telah mempercayakan keimanan mereka pada keimanan Rasulullah Saw, sehingga Rasulullah Saw bersabda,
لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ، مَا حَلَّ لَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي
“Jika saja Musa masih hidup diantara kalian, maka ia tidak boleh kecuali mengikutiku.” (HR. Ahmad; Abu Ya’la dari Jabir bin ‘Abdullah.)
Dalam riwayat lain disebutkan:
لَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي
“Jika saja Musa masih hidup, maka ia tidak leluasa kecuali ia mengikutiku. ” (HR. Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi; Abu Ya’la; At-Tabrizi dalam Misykät Al Mashabih dari riwayat Jabir.)
Dari sini pulalah Rasulullah Saw bersabda kepada seorang Yahudi,
أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.” Dalam riwayat lain : نحن “Kami. “(HR. Al Bukhari; Ibnu Majah; Ahmad; Al Baihaqi; Abu Ya’la dari riwayat Ibnu ‘Abbas.)
Untuk itu, setiap orang yang akan masuk Islam dengan hanya mengatakan, “La Ilaha Illallah [Tiada Ilah yang patut disembah melainkan Allah],” maka keimanannya belum diterima kecuali ia juga mengatakan, “Sayyidina Muhammad Rasulullah.”
Sementara jika hanya mengatakan, “Sayyidina Muhammad Rasulullah,” dan tidak mengatakan, “La llâha Illallah [Tiada llah yang patut disembah melainkan Allah],” maka keimanannya sudah diterima. Sebab, ia telah melimpahkan keimanannya pada keimanan Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw adalah pondasi dan penghasil iman dan tauhid, beliau pulalah satu-satunya angan-angan.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
