
Elsubha.com – Pondasi Ke-16 : Ketundukan
Ketundukan tidaklah terucap dengan kata-kata.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اَنَدْعُوْا مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ عَلٰۤى اَعْقَا بِنَا بَعْدَ اِذْ هَدٰٮنَا اللّٰهُ كَا لَّذِى اسْتَهْوَتْهُ الشَّيٰطِيْنُ فِى الْاَ رْضِ حَيْرَا نَ لَـهٗۤ اَصْحٰبٌ يَّدْعُوْنَهٗۤ اِلَى الْهُدَى ائْتِنَا ۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰى ۗ وَاُ مِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
qul a nad’uu ming duunillaahi maa laa yangfa’unaa wa laa yadhurrunaa wa nuroddu ‘alaaa a’qoobinaa ba’da iz hadaanallohu kallazistahwat-husy-syayaathiinu fil-ardhi hairoona lahuuu ash-haabuy yad’uunahuuu ilal-huda-tinaa, qul inna hudallohi huwal-hudaa, wa umirnaa linuslima lirobbil-‘aalamiin
“Katakanlah (Muhammad), “Apakah kita akan memohon kepada sesuatu selain Allah, yang tidak dapat memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepada kita, dan (apakah) kita akan dikembalikan ke belakang, setelah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh setan di bumi, dalam keadaan kebingungan.” Kawan-kawannya mengajaknya ke jalan yang lurus (dengan mengatakan), “Ikutilah kami.” Katakanlah, “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya); dan kita diperintahkan agar berserah diri kepada Tuhan seluruh alam,”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 71)
Tunduknya akal: dengan hujjah dan dalil.
Tunduknya kalbu: dengan cinta dan kasih sayang.
Tunduknya ruh: dengan musyahadah, anugerah dan ihsan.
Tunduknya akal: engkau melihat Allah setelah sesuatu.
Tunduknya kalbu: engkau melihat Allah bersama sesuatu.
Tunduknya ruh: engkau melihat Allah sebelum melihat segala sesuatu.
Musyahadah adalah Penyaksian Dzat Allah dengan terangkatnya tiral penghalang. Muhyiddin Ibnu Arabi mendefinisikannya dengan melihat sesuatu dengan dalil tauhid; tersibaknya pandangan sehingga dapat melihat Allah pada segala sesuatu. Lih. Abdurrazzaq Al Kasyāni, Mu’jam Isthilahat Ash-Shufiyyah, (Kairo, Dar Al Manar, 1992, hal. 347).
Ketika engkau minum, engkau ucapkan, “Dengan nama Allah,” maka engkau telah melihat Allah dengan ruhmu sebelum merasakan nikmat tersebut.
Kemudian engkau hadirkan Allah dengan kalbumu ketika engkau minum.
Lalu engkau ucapkan, “Segala puji bagi Allah,” setelah engkau tahu bahwa itu adalah nikmat Allah.
Dengan itu semua, engkau telah tunduk (berserah diri) dengan akal, kalbu dan ruhmu.
Engkau menjadi orang yang diinginkan sesuai kehendak Allah, engkau orang yang dituju dari kehendak tersebut dan seluruhnya dikehendaki untuk dirimu.
Maka letakkanlah kakimu dimana ada kekonsistenan dirimu.
Apa yang ada dibawah kakimu menjadi tebusan untuk kakimu.
Tidaklah Allah siapkan semua keindahan ini kecuali agar bisa sampai padamu.
Tidaklah cawan-cawan itu terisi dengan kecintaan-Nya kecuali agar dapat kau minum. Aku akan pinjamkan cahaya untukmu agar dengannya engkau bisa melihat keindahan-Ku, aku pinjamkan pula telinga yang dengannya engkau bisa mendengar kalam-Ku.
Aku akan angkatkan tirai penghalang antara diri-Ku dan dirimu agar engkau bisa mendengarkan kalam-Ku tanpa pintu dan penjaganya.
Aku akan perlihatkan pula untukmu sisi kesempurnaan-Ku dan Ku sibak keindahan-Ku untukmu agar engkau tahu bahwa Aku tersucikan dari sesuatu yang serupa, yang mirip dengan-Ku. Tersucikan dari batasan dan kaitan, tersucikan dari ketersambungan dan keberpisahan, tersucikan dari bentuk, menjadi teman duduk, tersucikan dari dapat disentuh, tersucikan dari dapat dibandingkan dan tersucikan dari dapat bercampur.
Aku bukan ada di dalam sesuatu, bukan di atas sesuatu dan bukan berdiri dengan sesuatu.
Aku senantiasa terhubung dengan segala sesuatu andai engkau melihat kepada-Ku dengan mata batin.
Aku senantiasa terpisah dari segala sesuatu andai engkau melihat kepada-Ku dengan kasat mata.
Aku tersucikan dari penyucian itu sendiri.
Maka kini,
اِذْ قَا لَ لَهٗ رَبُّهٗۤ اَسْلِمْ ۙ قَا لَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
iz qoola lahuu robbuhuuu aslim qoola aslamtu lirobbil-‘aalamiin
“(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserah dirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 131)
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
