You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-34 : Keberadaan Manusia Di Bumi

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-34 : Keberadaan Manusia Di Bumi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَهٗ مَا سَكَنَ فِى الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ ۗ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
wa lahuu maa sakana fil-laili wan-nahaar, wa huwas-samii’ul-‘aliim

“Dan milik-Nyalah segala apa yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 13)

Pada hakekatnya, tidak ada benda dan makhluk apapun yang diam di muka bumi ini.

Semua yang ada di alam ini bergerak, bahkan hingga sesuatu yang nampak dimatamu diam, sejatinya ia tetap bergerak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَسْئَـلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍ 
yas-aluhuu mang fis-samaawaati wal-ardh, kulla yaumin huwa fii sya-n

“Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 29)

Bahkan saat dirimu dalam kondisi duduk diatas bumi, bumipun berputar dengan sangat cepat pada porosnya, berputar mengelilingi matahari, berputar disekeliling planet-planet, berputar disekeliling semesta, apabila perputaran ini dikalikan satu sama yang lainnya, maka kecepatan putaran ini melebihi kecepatan cahaya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَرَى الْجِبَا لَ تَحْسَبُهَا جَا مِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَا بِ ۗ صُنْعَ اللّٰهِ الَّذِيْۤ اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۗ اِنَّهٗ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَفْعَلُوْنَ
wa tarol-jibaala tahsabuhaa jaamidataw wa hiya tamurru marros-sahaab, shun’allohillaziii atqona kulla syaii, innahuu khobiirum bimaa taf’aluun

“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan (seperti) awan berjalan. (Itulah) ciptaan Allah yang mencipta dengan sempurna segala sesuatu. Sungguh, Dia Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 88)

Maksudnya: Allah senantiasa dalam keadaan menciptakan, menghidupkan, mematikan, memelihara, memberi rezeki dan lain-lain.

Benda yang diam adalah benda yang terpengaruh oleh kekuatan lain.

Maka engkau melihat benda yang sejatinya tidak diam itu terlihat diam, karena ia terpengaruh kekuatan gravitasi bumi dan kekuatan friksi.

Bahkan kalbupun berbolak-balik, ia terpengaruh dengan rasa senang dan rasa sedih.

Tidak ada benda yang mutlak diam kecuali hanya ruh yang Allah tiupkan pada manusia yang mulia.

Sekali lagi, hanya ruh yang Allah tiupkan!.

Itupun ketika kondisi manusia diam maupun sedang memperhatikan Allah.

Ruh tersebut diam dan tidak terpengaruh oleh kekuatan apapun meski kekuatannya diluar jangkauan.

Ruh inilah yang dimaksud dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَهٗ مَا سَكَنَ فِى الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ ۗ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
wa lahuu maa sakana fil-laili wan-nahaar, wa huwas-samii’ul-‘aliim

“Dan milik-Nyalah segala apa yang ada pada malam dan siang hari. Dan Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 13)

وَلَهُ مَا سَكَنَ

“Dan kepunyaan Allah-lah segala yang ada,” (Qs. Al An’âm [6]: 13).

Maka dengan keberadaan Allah lah, manusia bisa diam menempati bumi ini dengan perantara isim Allah, “Al Matin (yang kokoh/tetap keberadaannya),” sesuai dengan firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَذَّبُوْا وَا تَّبَعُوْۤا اَهْوَآءَهُمْ وَكُلُّ اَمْرٍ مُّسْتَقِرٌّ
wa kazzabuu wattaba’uuu ahwaaa-ahum wa kullu amrim mustaqirr

“Dan mereka mendustakan (Muhammad) dan mengikuti keinginannya, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya.”
(QS. Al-Qamar 54: Ayat 3)

Ketetapan inilah yang membuat dua orang yang sedang berseteru kembali saling berbaikan satu sama lain.

Ini pula yang mampu menyatukan dua pedagang, sehingga keduanya saling berserikat, orang yang saling mencinta sehingga mereka bisa menikah.

Redaksi, “Ats-Tsabit,” adalah kalimat Allah yang kerap didengar oleh manusia, yang didengar permintaannya di bumi dan langit, sehingga Allah tidak akan menolak satupun kalimat-Nya, sebab kalimat itu adalah kalimat yang dicintai dari kalangan pecinta dan yang dipilih dari semua hamba-Nya.

Ketetapan itulah yang mengikat segala yang bergerak.

Sejatinya tidak ada yang diam kecuali satu Dzat yaitu Allah, sementara beragam sifat, asma (nama-nama Allah), ragam keyakinan, agama, isyarat dan juga bahasa berputar di sekitar-Nya pada sebuah gugusan tempat yang bentuknya pun indah.

Kecuali bagi orang yang jadzab atau dalam kondisi fana lantaran sisi keindahan abadi Allah Swt, sehingga baginya apapun akan tetap kokoh lantaran adanya cahaya sisi tersebut. Itulah Al Baqa (kokoh keberadaannya) setelah fana (sirna).

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY