You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-37 : Adam Alayhis Salam dan Hawa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-37 : Adam dan Hawa

Permulaan:

Rasa sayang paling utama yang pernah disambungkan adalah rasa sayang antara nabi Adam As dan Siti Hawa.

Semoga Allah membalas siapapun yang menyambungkan rasa kasih sayang dan memutuskan (keberkahan) pada orang yang memutuskannya.

A. Bumi:

Allah Swt menciptakan bumi ini dan menjadikannya surga semesta alam yang ada, lantaran ragam rahasia keindahan yang sudah Allah titipkan pada bumi melalui perantara nama-Nya, “Al Jamil [yang Maha Indah].” Juga lantaran ragam rahasia kreasi yang sudah Allah titipkan pada bumi melalui perantara nama-Nya, “Al Badi’ Yang Maha Pencipta dengan ciptaan yang tiada bandingannya].”

Sejak terjadinya ledakan besar, kemudian berpisah dari matahari, bumi pun melewati perjalanan waktu hingga menetap pada posisi yang cocok untuk kehidupan, berjuta tahun lamanya bumi melalui perjalanan ini. Allahlah yang menciptakan surga dunia yang cantik nan mempesona ini (bumi) serta mempersiapkannya untuk manusia, sebab manusia adalah tamu yang mulia, makhluk yang agung, maka lamanya waktu yang Allah pergunakan untuk mempersiapkan bumi ini menunjukkan pada sempurnanya Allah mempersiapkan bumi ini.

Allah Swt menciptakan beragam makhluk dan memberikannya akal yang cocok kepada semuanya. Kemudian Allah akan mengukur sesuai dengan kadar akal yang Dia berikan, hingga kambing remaja yang belum bertanduk dijauhkan dari kambing bertanduk. (Muslim meriwayatkannya dalam Shahih-nya, dari riwayat Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda,

 التؤدن الحقوق إِلَى أَهْلِهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُقَادَ لِلشَّاةِ الْجَلْحَاءِ مِنَ الشَّاةِ الْقَرْنَاءِ

“Pada hari kiamat semua hak akan diberikan kepada pemiliknya, bahkan sampal kambing yang bertanduk pun akan dituntun menuju kambing yang belum bertanduk *untuk menerima pembalasan lantaran menyeruduk di dunia.”)

B. Khilafah:

Terkait dengan iblis, ia pernah membuat singgasana di bumi, yang dengannya ia disembah, sampai namanya pun terkenal dan memiliki kedudukan yang tinggi.

Ketika itu malaikat turun dan naik ke langit lantaran terkagum-kagum akan keindahan surga dunia Allah ini (bumi). Bahkan semuapun menanti-nanti kapan penguasaan iblis terhadap planet yang indah ini akan usai. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Maka yang ada di semua alam ini pun menanti-nanti siapa yang akan mendapatkan kedudukan tinggi dan derajat yang agung ini.

a. Malaikat berharap dan berangan-angan mendapatkan posisi tersebut, sampai untaian pujian mereka kepada Allahpun mengarah pada hal tersebut; sebagaimana yang diabadikan dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

b. Sementara iblis, la yakin bahwa kerajaan bumi tidak akan luput darinya.

c. Akan tetapi Allah Swt telah menetapkan bahwa khalifah Nya di bumi ini adalah makhluk yang tercipta dari tanah bumi. Maka Allah pun menciptakan dan membentuk makhluk tersebut dengan bentuk yang indah. Semua yang ada pun takjub kepada makhluk itu dan Allah memberinya nama Adam, kemudian Allah tiupkan ruh dari sisi-Nya, sehingga tanah itu pun bersinar dengan terang benderang, menjadi manusia yang paling indah dan diselimuti cahaya.

C. Adam Alayhis Salam:

Allah menyebutkan kata Adam didalam Al Qur’an sebanyak 25 kali, sebagai simbol kecintaan Allah Swt padanya.

Dia adalah seorang nabi, yang Allah ajari dan ajak bicara secara langsung; sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Saw. (Redaksi haditsnya:

حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنْبِيًّا كَانَ آدَمُ ؟ قَالَ: نَعَمْ، مُعَلَّمٌ مُكَلَّمٌ، قَالَ: كَمْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ نُوحٍ ؟، قَالَ: عَشْرُ قُرُوْنٍ، قَالَ: كَمْ بَيْنَ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ ، قَالَ: عَشْرُ قُرُونِ، قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، كَمْ كَانَتِ الرُّسُلُ ؟ ، قَالَ : ثَلاثَ مِائَةٍ وَخَمْسَ عَشْرَةَ جَمَّا غَفِيرًا.

Diriwayatkan dari Abu Umamah Ra, sungguh ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Adam adalah nabi?” Rasulullah Saw menjawab, “Iya, yang diajarkan dan diajak bicara secara langsung oleh Allah.” lelaki itu kembali bertanya, “Berapa jarak antara Adam dengan Nuh As?,” Rasulullah Saw menjawab, “10 Abad,” lelaki itu kembali bertanya, “Berapa jaraknya Nuh dengan Ibrahim As?,” Rasulullah Saw menjawab, “10 Abad,” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, ada berapa jumlah utusan Allah (Rasul Allah)?” Rasulullah Saw bersabda, “Jumlahnya banyak; ada tiga ratus lima belas.”

Allah mengajarkannya nama segala sesuatu, Allah juga menganugerahkannya akal yang luar biasa; sebagaimana firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَ سْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَا لَ اَنْبِۢـئُوْنِيْ بِاَ سْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
wa ‘allama aadamal-asmaaa-a kullahaa summa ‘arodhohum ‘alal-malaaa-ikati fa qoola ambi-uunii bi-asmaaa-i haaa-ulaaa-i ing kungtum shoodiqiin

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 31)

Rasulullah Saw bersabda,

فَضْلُ العَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

“Keutamaan seorang yang ‘alim atas orang yang ahli ibadah, seperti keutamaanku diatas orang yang rendah diantara kalian.” (Redaksi haditsnya:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ البَاهِلِي، قَالَ: ذُكِرَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا عَابِدٌ وَالْآخَرُ عَالِمٌ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ.

Diriwayatkan dari Abu Umamah Al Bahili Ra, ia berkata: Ada dua orang yang disebutkan dihadapan Rasulullah Saw, salah satunya adalah orang yang ahli Ibadah, dan yang lain adalah orang yang ‘alim, maka Rasulullah Saw bersabda, “Keutamaan seorang yang ‘alim atas orang yang ahli ibadah, seperti keutamaanku diatas orang yang rendah diantara kalian.”)

*Para malaikat adalah ahli ibadah, sedangkan Adam As sosok yang diajarkan oleh Allah dan juga orang yang mengajarkan (malaikat).

(Al Hakim berkata: Hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, namun Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya; Al Imam Adz-Dzahabi juga mengakui hadits ini sesuai dengan syarat Muslim).

Adam As hidup selama seribu tahun, ia mengajarkan segala sesuatu kepada keluarganya.

Adam As merupakan makhluk yang paling indah, karena Allah Swt telah mengkhususkannya, yaitu dengan menciptakannya langsung dengan tangan Allah (kemampuan Allah).

Allah Swt mengusap punggung Adam As sebanyak tiga kali:

Pertama, Allah mengeluarkan keturunan darinya dan mengambil kesaksian untuk bertauhid; seperti yang tertera dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ اِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْۤ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَ اَشْهَدَهُمْ عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ ۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۗ قَا لُوْا بَلٰى  ۛ  شَهِدْنَا  ۛ  اَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَ 
wa iz akhoza robbuka mim baniii aadama ming zhuhuurihim zurriyyatahum wa asy-hadahum ‘alaaa angfusihim, a lastu birobbikum, qooluu balaa syahidnaa, ang taquuluu yaumal-qiyaamati innaa kunnaa ‘an haazaa ghoofiliin

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini,””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 172)

Kedua, Allah Swt mengeluarkan keluarga Adam As dan menampakkan umur mereka. Rasulullah Saw bersabda,

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ مَسَحَ ظَهْرَهُ ، فَسَقَطَ مِنْ ظَهْرِهِ كُلُّ نَسَمَةٍ هُوَ خَالِقُهَا مِنْ ذُرِّيَّتِهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَجَعَلَ بَيْنَ عَيْنَيْ كُلِّ إِنْسَانٍ مِنْهُمْ وَبِيصًا مِنْ نُورٍ، ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى آدَمَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَنْ هَؤُلَاءِ ؟، قَالَ: هَؤُلَاءِ ذُرِّيَّتُكَ، فَرَأَى رَجُلاً مِنْهُمْ فَأَعْجَبَهُ وَبِيصُ مَا بَيْنَ عَيْنَيْهِ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ مَنْ هَذَا ؟ ، فَقَالَ : هَذَا رَجُلٌ مِنْ آخِرِ الْأُمَمِ مِنْ ذُرِّيَّتِكَ يُقَالُ لَهُ دَاوُدُ، فَقَالَ : رَبِّ كَمْ جَعَلْتَ عُمْرَهُ ؟ ، قَالَ : سِتِّينَ سَنَةً، قَالَ: أَيْ رَبِّ، زِدْهُ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعِينَ سَنَةً، فَلَمَّا قُضِيَ عُمْرُ آدَمَ جَاءَهُ مَلَكُ الْمَوْتِ، فَقَالَ: أَوَلَمْ يَبْقَ مِنْ عُمْرِي أَرْبَعُونَ سَنَةً ؟، قَالَ : أَوَلَمْ تُعْطِهَا ابْنَكَ دَاوُدَ، قَالَ: فَجَحَدَ آدَمُ فَجَحَدَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَنُسِّيَ آدَمُ فَنُسِّيَتْ ذُرِّيَّتُهُ، وَحَطِئَ آدَمُ فَخَطِئَتْ ذُريَّتُه .

“Disaat Allah menciptakan Adam As, Allah mengusap punggungnya, maka berjatuhanlah setiap keturunan dari punggungnya, dimana Allah lah yang menciptakan keturunannya hingga hari Kiamat. Dia menjadikan kilatan cahaya pada kedua mata setiap manusia, kemudian mereka ditampakkan ke hadapan Adam, Adam pun berkata, “Wahai Rabb, siapa mereka ini?” Allah berfirman, “Mereka adalah keluargamu.” Adam pun melihat seorang lelaki yang terhalangi kilatan cahaya pada kedua matanya, Adam pun bertanya, “Wahai Rabb, siapakah sosok ini?” Allah Swt berfirman, “Ini adalah lelaki dari akhir umat dari anak keturunanmu, yang kerap disebut sebagai Daud,” Adam berkata, “Wahai Rabb, berapakah umur yang kau tetapkan untuknya?” Allah Swt berfirman, “Enam puluh tahun.” Adam menimpali, Wahai Rabb, tambahkanlah lagi umurnya empat puluh tahun.” Maka ketika ketentuan umur bagi Adam As telah habis, malaikat maut datang seraya berkata, “Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun?” Allah berfirman, “Bukankah engkau telah berikan itu pada anak (keturunan)mu Daud.” Allah Swt melanjutkan firman-Nya, “Adam ingkar, maka Aku jadikan anak keturunannya pun ingkar, Adam lupa, maka aku buat anak keturunannya pun lupa.” (HR. At-Tirmidzi dari riwayat Abu Hurairah, dimana At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”)

Ketiga, Allah perlakukan nabi Adam As dengan penuh kelembutan. Didalam hadits shahih disebutkan:

لَمَّا خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَنَفَخَ فِيْهِ الرُّوحَ عَطَسَ ، فَقَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ، فَحَمِدَ اللَّهَ بِإِذْنِهِ، فَقَالَ لَهُ رَبُّهُ : رَحِمَكَ اللَّهُ يَا آدَمُ، اذْهَبْ إِلَى أُولَئِكَ الْمَلَائِكَةِ، إِلَى مَلَا مِنْهُمْ جُلُوسٍ، فَقُلْ : السَّلامُ عَلَيْكُمْ، قَالُوا: وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةً اللهِ، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى رَبِّهِ، فَقَالَ: إِنَّ هَذِهِ تَحِيَّتُكَ وَتَحِيَّةُ بَنِيِّكَ، بَيْنَهُمْ، فَقَالَ  اللَّهُ لَهُ وَيَدَاهُ مَقْبُوْضَتَانِ : اخْتَرْ أَيُّهُمَا شِئْتَ، قَالَ: اخْتَرْتُ يَمِيْنَ رَبِّي وَكِلْنَا يَدَيْ رَبِّي يَمِيْنٌ مُبَارَكَةٌ ثُمَّ بَسَطَهَا فَإِذَا فِيْهَا آدَمُ وَذُرِّيَّتُهُ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ، مَا هَؤُلاءِ ؟ فَقَالَ : ذُرِّيَّتُكَ.

“Disaat Allah ciptakan Adam As dan meniupkan ruh padanya, iapun bersin seraya berucap, “Alhamdulillah, maka iapun telah memuji Allah dengan izin-Nya, “Rabb-Nya berfirman padanya, “Wahai Adam, Allah Rabbmu telah merahmatimu.” Allah lanjut berfirman, “Hai Adam, pergilah engkau pada para malaikat itu; pada sekelompok malaikat yang sedang duduk, ucapkan padanya, ‘Assalamu’alaikum’, maka Adam pun pergi dan mengucapkan kalimat itu, maka mereka (para malaikat) itupun menjawab, “Wa’alaikassalam warahmatullahi wabarakatuh. Kemudian Adam pun kembali pada Rabbnya dan berkata, “Ini adalah ucapan selamat bagimu, para nabi dan keturunan mereka,” Allah pun kembali berfirman seraya tangan-Nya menggenggam, ‘Pilihlah yang engkau suka’, Adam berkata, “Aku pilih sisi kanan Rabbku, dimana kedua tangan Rabbku merupakan janji yang penuh keberkahan,” kemudian Allah membentangkan tangan-Nya, dan didapati Adam dan anak keturunannya’, sontak Adam As berkata, “Wahai Rabb, apa mereka ini?’, Allah berfirman, “Anak keturunanmu.”
(HR. Al Hakim, dimana ia menilainya shahih, Imam Adz-Dzahabi mengakuinya dan sesuai dengan syarat Muslim; At-Tirmidzi.)

Itu merupakan kabar gembira yang sangat besar bagi anak keturunan seorang lelaki besar; Adam As, bahwa anak keturunannya ada pada janji Allah, lantas bagaimana mereka bisa kena adzab setelah ini?

Setiap kebajikan manusia ada pada catatan amal nabi Adam As, sebab dialah pengajar pertama mereka; Sebagaimana yang tertera dalam hadits:

مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang membuat tradisi baik dalam Islam, maka lapun akan mendapatkan pahalanya (pahala membuat tradisi) dan juga pahala orang yang mengamalkan setelahnya tanpa mengurangi pahalanya satupun.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)

Allah Swt telah menciptakannya dengan gambarannya (yang sudah Allah pilih untuk Adam As) untuk bersiap menjadi khalifah. Rasulullah Saw bersabda,

إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ فَإِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

“Apabila salah seorang dari kalian membunuh saudaranya, maka hindarilah bagian wajah, sebab Allah telah menciptakan Adam As dengan gambarannya (yang sudah Allah pilih untuk Adam As). ” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)

Allah meminta malaikat untuk sujud (penghormatan) kepada Adam As dan melaknat yang enggan bersujud (penghormatan) padanya dan mengusirnya dalam keadaan kerdil; sebagaimana yang telah digambarkan dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ خَا لِـقٌۢ بَشَرًا مِّنْ طِيْنٍ
iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii khooliqum basyarom ming thiin

“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.”
(QS. Sad 38: Ayat 71)

فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ
fa izaa sawwaituhuu wa nafakhtu fiihi mir ruuhii faqo’uu lahuu saajidiin

“Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.””
(QS. Sad 38: Ayat 72)

فَسَجَدَ الْمَلٰٓئِكَةُ كُلُّهُمْ اَجْمَعُوْنَ 
fa sajadal-malaaa-ikatu kulluhum ajma’uun

“Lalu para malaikat itu bersujud semuanya,”
(QS. Sad 38: Ayat 73)

اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ اِسْتَكْبَرَ وَكَا نَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
illaaa ibliis, istakbaro wa kaana minal-kaafiriin

“kecuali iblis; ia menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”
(QS. Sad 38: Ayat 74)

قَا لَ يٰۤـاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَا لِيْنَ
qoola yaaa ibliisu maa mana’aka ang tasjuda limaa kholaqtu biyadayy, astakbarta am kungta minal-‘aaliin

“(Allah) berfirman, “Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku (kekuasaan-Ku). Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu (merasa) termasuk golongan yang (lebih) tinggi?””
(QS. Sad 38: Ayat 75)

قَا لَ اَنَاۡ خَيْرٌ مِّنْهُ ۗ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّا رٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
qoola ana khoirum min-hu kholaqtanii min naariw wa kholaqtahuu ming thiin

“(Iblis) berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.””
(QS. Sad 38: Ayat 76)

قَا لَ فَا خْرُجْ مِنْهَا فَاِ نَّكَ رَجِيْمٌ 
qoola fakhruj min-haa fa innaka rojiim

“(Allah) berfirman, “Kalau begitu keluarlah kamu dari surga! Sesungguhnya kamu adalah makhluk yang terkutuk.”
(QS. Sad 38: Ayat 77)

وَّاِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِيْۤ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
wa inna ‘alaika la’natiii ilaa yaumid-diin

“Dan sungguh, kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari Pembalasan.””
(QS. Sad 38: Ayat 78)

Allah telah menjadikan hari dimana Dia menciptakan Adam As sebagai hari terbaik, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا

“Sebaik-baiknya hari diterbitkannya matahari adalah hari Jum’at, pada hari itu Allah menciptakan Adam; pada hari itu (ada sekelompok orang yang) dimasukkan ke dalam surga dan didalamnya; dan pada hari itu juga ada yang dikeluarkan dari nya (surga). ” (HR. Muslim dalam Shahih nya.)

Allah Swt telah memuliakan semua anak keturunan nabi Adam As lantaran kemuliaan yang telah diberikan pada (Rasulullah Saw). Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
wa laqod karromnaa baniii aadama wa hamalnaahum fil-barri wal-bahri wa rozaqnaahum minath-thoyyibaati wa fadhdholnaahum ‘alaa kasiirim mim man kholaqnaa tafdhiilaa

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 70)

Inilah beragam kekhususan dan keutamaan yang dimiliki oleh Adam As, dimana Allah Swt berfirman pada para malaikat berkaitan dengan sosok Adam;
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Allah Swt mengetahui, bahwa dari anak keturunan Adam As akan ada orang yang pendengaran dan juga matanya senantiasa diawasi oleh Allah, bahkan sampai semua kekuatan.

D. Malaikat:

Para malaikatpun menyampaikan salam kepada Adam As, bahkan salam tersebut saling bersahut-sahutan. Allah Swt memerintahkan semua makhluk yang ada di semesta alam untuk sujud pada makhluk ini (Adam As).

Allah Swt memberi perintah kepada malaikat untuk bersujud (penghormatan pada Adam As). Maka apabila ada perkara yang dinisbatkan pada malaikat, maka perkara itu aslinya untuk malaikat, akan tetapi semua alam yang ada juga mengikutinya. Dimana para malaikatpun tercipta sedemikian rupa agar bisa menerima perkara dari Allah, oleh karena itu, maka para malaikatpun menyampaikan seluruh perkara kepada alam semesta.

E. Iblis:

Iblis keluar dari lubang persembunyiannya dan menolak untuk bersujud. Allah Swt bertanya padanya, seperti yang diabadikan dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ مَا مَنَعَكَ اَ لَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗ قَا لَ اَنَاۡ خَيْرٌ مِّنْهُ ۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّا رٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
qoola maa mana’aka allaa tasjuda iz amartuk, qoola ana khoirum min-h, kholaqtanii min naariw wa kholaqtahuu ming thiin

“(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 12)
Maksudnya adalah bisa jadi ada sesuatu diluar kemauanmu yang menekanmu.

Iblis menjawab, “Tidak.”

Allah Swt pun bertanya lagi dengan bahasa lain, seperti yang diabadikan dalam firman-Nya,Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ مَا مَنَعَكَ اَ لَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗ قَا لَ اَنَاۡ خَيْرٌ مِّنْهُ ۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّا رٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
qoola maa mana’aka allaa tasjuda iz amartuk, qoola ana khoirum min-h, kholaqtanii min naariw wa kholaqtahuu ming thiin

“(Allah) berfirman, “Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 12)
Maksudnya adalah engkau enggan bersujud bukan karena tekanan melainkan lantaran kemauan diri, lantas apa alasan mendasarmu bersikap demikian?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰ دَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ اَبٰى وَا سْتَكْبَرَ ۖ وَكَا نَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
wa iz qulnaa lil-malaaa-ikatisjuduu li-aadama fa sajaduuu illaaa ibliis, abaa wastakbaro wa kaana minal-kaafiriin

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri dan ia termasuk golongan yang kafir.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 34)

اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ اَبٰۤى اَنْ يَّكُوْنَ مَعَ السّٰجِدِيْنَ
illaaa ibliis, abaaa ay yakuuna ma’as-saajidiin

“kecuali iblis. Ia enggan ikut bersama-sama para (malaikat) yang sujud itu.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 31)

وَاِ ذْ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰ دَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ اَبٰى 
wa iz qulnaa lil-malaaa-ikatisjuduu li-aadama fa sajaduuu illaaa ibliisa abaa

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam!” Lalu mereka pun sujud kecuali iblis; dia menolak.“
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 116)

Maksudnya bukan iblis tidak diperbolehkan tetapi memang dia tidak mau melakukan itu.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ اَنَاۡ خَيْرٌ مِّنْهُ ۗ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّا رٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ
qoola ana khoirum min-hu kholaqtanii min naariw wa kholaqtahuu ming thiin

“(Iblis) berkata, “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.””
(QS. Sad 38: Ayat 76)

Redaksi, “قَا لَ اَنَاۡ [Iblis berkata, Aku],” dia melihat dirinya dan itu sikap takabur (sombong).

Redaksi “خَيْرٌ [lebih baik],” dia mengaku bahwa dirinya pantas bahkan paling pantas.

Redaksi, “مِّنْهُ [daripadanya],” dia melihat yang lainnya berada pada hadrah Allah.

Redaksi, “خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّا رٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ,” [Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah,]” dia mengembalikan kelayakan diri pada unsur penciptaannya. Inilah pertama kalinya muncul perpecahan pada makhluk ciptaan Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَـكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَا خْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ
qoola fahbith min-haa fa maa yakuunu laka ang tatakabbaro fiihaa fakhruj innaka minash-shooghiriin

“(Allah) berfirman, “Maka, turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 13)

قَا لَ اَنْظِرْنِيْۤ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ
qoola angzhirniii ilaa yaumi yub’asuun

“(Iblis) menjawab, “Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 14)

Redaksi, “قَا لَ فَاهْبِطْ مِنْهَا, [Allah Swt berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu;]” Yang dimaksud dengan “Turun,” adalah keluar, sebagaimana perkataan Nuh yang diabadikan dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قِيْلَ يٰـنُوْحُ اهْبِطْ بِسَلٰمٍ مِّنَّا وَبَرَكٰتٍ عَلَيْكَ وَعَلٰۤى اُمَمٍ مِّمَّنْ مَّعَكَ ۗ وَاُ مَمٌ سَنُمَتِّعُهُمْ ثُمَّ يَمَسُّهُمْ مِّنَّا عَذَا بٌ اَلِيْمٌ
qiila yaa nuuhuhbith bisalaamim minnaa wa barokaatin ‘alaika wa ‘alaaa umamim mim mam ma’ak, wa umamung sanumatti’uhum summa yamassuhum minnaa ‘azaabun aliim

“Difirmankan, “Wahai Nuh! Turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami, bagimu dan bagi semua umat (mukmin) yang bersamamu. Dan ada umat-umat yang Kami beri kesenangan (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab Kami yang pedih.””
(QS. Hud 11: Ayat 48); maksudnya adalah turunlah engkau dari kapal.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَا مٍ وَّا حِدٍ فَا دْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْبِۢتُ الْاَ رْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّـآئِهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَ بَصَلِهَا ۗ قَا لَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِا لَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِ نَّ لَـکُمْ مَّا سَاَ لْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَا لْمَسْکَنَةُ وَبَآءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ كَا نُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَـقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَا نُوْا يَعْتَدُوْنَ
wa iz qultum yaa muusaa lan nashbiro ‘alaa tho’aamiw waahiding fad’u lanaa robbaka yukhrij lanaa mimmaa tumbitul-ardhu mim baqlihaa wa qissaaa-ihaa wa fuumihaa wa ‘adasihaa wa basholihaa, qoola a tastabdiluunallazii huwa adnaa billazii huwa khoiir, ihbithuu mishrong fa inna lakum maa sa-altum, wa dhuribat ‘alaihimuz-zillatu wal-maskanatu wa baaa-uu bighodhobim minalloh, zaalika bi-annahum kaanuu yakfuruuna bi-aayaatillaahi wa yaqtuluunan-nabiyyiina bighoiril-haqq, zaalika bimaa ‘ashow wa kaanuu ya’taduun

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, “Wahai Musa! Kami tidak tahan hanya (makan) dengan satu macam makanan saja maka mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia memberi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.” Dia (Musa) menjawab, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke suatu kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 61). Maksudnya pergilah ke kota; maka maksud ayat diatas adalah, wahai iblis pergilah engkau dari tempat yang engkau akui itu.

Redaksi, “فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا, [karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya,” hal itu karena sombong dan agung merupakan sifat yang sebenarnya dan bukan sikap yang diciptakan.

Rasulullah Saw pernah bersabda,

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ : الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا قَذَفْتُهُ فِي النَّارِ

“Allah Azza wa Jalla berfirman, ‘Kesombongan adalah selendang-Ku, keagungan adalah sarung-Ku. Maka barangsiapa yang menyelisihi-Ku pada salah satu dari keduanya, niscaya Aku akan lemparkan ia ke dalam neraka. ” (HR. Abu Daud; Ibnu Majah; Ath-Thayalisi; Al Humaidi;Al Bazzar.)

Redaksi,

“فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَاخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِينَ”

[Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina’,]” keluarlah dari kedudukanmu itu dalam keadaan hina yang kau buat sendiri.

Redaksi,
“قَالَ أَنظِرْ نِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ”

[Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan’,]” maksudnya adalah biarkan aku sampai hari kebangkitan, maka dengan demikian ia telah lari dari kematian dan dari kondisi tercengang dan kehidupannya terus berlanjut hingga hari kebangkitan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ فَاِ نَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ 
qoola fa innaka minal-mungzhoriin

“(Allah) berfirman, “Maka sesungguhnya kamu termasuk golongan yang diberi penangguhan,”
(QS. Sad 38: Ayat 80)

اِلٰى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُوْمِ
ilaa yaumil-waqtil-ma’luum

“sampai pada hari yang telah ditentukan waktunya (hari Kiamat).””
(QS. Sad 38: Ayat 81)

Ayat diatas menyatakan bahwa Allah Swt telah firmankan ini sebelum diminta, “bahwa Aku telah tentukan itu, bahwa engkau (iblis) termasuk yang diberi tangguh,” akan tetapi hanya sampai batas waktu tertentu; yaitu sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya, dimana ketika tanda itu terjadi, maka penyesatannya terhadap manusia tidak lagi berguna, sehingga orang yang mukmin tidak lagi bisa menjadi kafir dan sebaliknya.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Ra, ia berkata: Aku telah hafal sebuah hadits dari Rasulullah Saw yang tidak akan aku lupakan, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ أَوَّلَ الآيَاتِ خُرُوجًا طُلُوعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِهَا وَخُرُوجُ الدَّابَّةِ عَلَى النَّاسِ ضُحًى وَأَيُّهُمَا مَا كَانَتْ قَبْلَ صَاحِبَتِهَا فَالْأُخْرَى عَلَى إِثْرِهَا قَرِيبًا

“Sungguh tanda pertama yang akan muncul (tanda hari kiamat tiba) adalah terbitnya matahari dari arah tenggelamnya, keluarnya hewan melata kepada manusia pada waktu dhuha, dan darimana keduanya muncul pertama kali, maka yang lainnya pun akan menyusul dalam waktu dekat.” ,(HR. Muslim dalam Shahih-nya.)

Dalam riwayat ‘Abdullah bin Mas’ud Ra, dari Nabi Saw ia berkata,

خُرُوجُ الدَّابَّةِ بَعْدَ طُلُوعِ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا ، فَإِذَا خَرَجَتْ لَطَمَتْ إِبْلِيسَ وَهُوَ سَاجِدٌ

“Keluarnya hewan melata setelah matahari terbit dari tempat tenggelamnya, apabila hewan melata ini sudah keluar, maka iapun menampar iblis kala ia dalam kondisi bersujud.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak, Nu’aim bin Hammad dalam Al Fitan.)

Hewan melata tersebut mengetahui kondisi iblis, maka iapun membunuh iblis dalam kondisi iblis yang ketakutan dan tersungkur sujud. Sekalipun iblis bersujud seribu kali, akan tetapi tobatnya tidak akan diterima, karena waktu untuk sujud dan bersimpuh sudah lewat, sesuai dengan firman-Nya, َإذْ أَمَرْتُك “di waktu Aku menyuruhmu?,” dimana makna kata “diwaktu,” menunjukkan waktu tertentu untuk bersujud (penghormatan pada Adam As).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ فَبِعِزَّتِكَ لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ 
qoola fa bi’izzatika la-ughwiyannahum ajma’iin

“(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,”
(QS. Sad 38: Ayat 82)

Pada ayat ini, iblis bersumpah dengan sisi kemuliaan Allah, yang maksudnya adalah jikalau bukan karena Engkau kuasakan aku, maka Engkaupun tidak bisa menyuruhku.

Huruf sumpah yang digunakan pada ayat diatas memberikan penekanan terhadap ancaman penyesatan, yang dilengkapi dengan huruf “Lâm,” seperti dalam firman-Nya, لَاُ غْوِيَنَّهُمْ اَجْمَعِيْنَ kata iblis “Aku akan menyesatkan mereka semuanya,” sehingga baginya tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin, orang shaleh dan durjana, orang dewasa dan anak kecil.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ فَبِمَاۤ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَ قْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَا طَكَ الْمُسْتَقِيْمَ 
qoola fa bimaaa aghwaitanii la-aq’udanna lahum shiroothokal-mustaqiim

“(Iblis) menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus,”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 16)

ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ
summa la-aatiyannahum mim baini aidiihim wa min kholfihim wa ‘an aimaanihim wa ‘ang syamaaa-ilihim, wa laa tajidu aksarohum syaakiriin

“kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 17)

Redaksi firman Allah,

“قَا لَ فَبِمَاۤ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَ قْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَا طَكَ الْمُسْتَقِيْمَ”

[iblis menjawab, Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,]” Ayat ini menunjukkan sisi kesabaran Allah Swt. Meski iblis sudah berani kepada Allah dan beradab buruk di hadapan-Nya, bahkan iblis menyalahkan Allah bahwa Allahlah yang menjadi penyebab kesesatan dirinya. Iblis pun yakin bahwa ia yang dapat menunjukkan pada Allah, sehingga iblis jatuh pada kondisi makar Ilahi.

Orang yang bermu’amalah dengan Allah menggunakan dalil pembenaran diri, niscaya Allah akan hinakan orang itu. Allahpun akan ridha dengan perantara isim-Nya, “Al Mudzillu [yang Maha menghinakan makhluknya),” sampai ia benar-benar hina.

Redaksi,

“ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ”

[Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka;]” iblis mengumumkan adanya perang, ia menjadikan kalbumu sebagai pusat perhatiannya. Hanya kalbu yang iblis maksud, bukan yang lainnya.

Redaksi,

“وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ”

[Dari kanan dan dari kiri mereka;] kata وَعَنْ “Dari” mengindikasikan adanya penyelewengan dan menjauh, iblis tidak mampu datang dari arah kanan lantaran adanya malaikat pencatat amal kebajikan, tetapi ia tetap mendatangi manusia meski dari jarak yang agak jauh, iapun tidak datang dari arah kiri lantaran adanya malaikat pencatat amal keburukan.

Redaksi,

“وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ”

[Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta’at),]” yaitu orang yang menyembah Tuhan selain Allah, dia tetap mensyukuri nikmat Allah, maka orang tersebut kafir meskipun tetap bersyukur. Ada pula orang yang menyembah Allah namun tidak mensyukuri nikmat tersebut, maka iapun mukmin tapi kufur nikmat. Ada lagi orang yang menyembah Allah dan bersyukur terhadap nikmat tersebut, maka inilah orang mukmin yang pandai bersyukur.

F. Surga:

Pada sosok Adam As terkumpullah keindahan dan kesempurnaan. Hal ini tidak berubah sampai nampak sisi kekhilafahannya dan nampak pula rahasia nubuwwah serta risalahnya. Akan tetapi posisi Adam As yang berada di surga inilah yang menyebabkan beragam keunggulan itu tidak nampak.

Jika saja nabi Musa As tetap berada di istana Fir’aun, maka iapun tidak akan menjadi utusan Allah. Begitu pula Nabi Yusuf As, jika saja nabi Yusuf As hidup dalam tanggungan nabi Ya’qub As, maka iapun tidak akan menjadi nabi yang jujur dan ia pun tidak akan menjadi raja Mesir.

Hal tersebut karena hikmah Allah telah menentukan bahwa orang yang mulia akan Allah uji dengan ujian yang baik, ini bertujuan agar mereka memiliki karakter yang kuat, akhlak yang baik dan memiliki jiwa dan ruh yang suci. Maka dengan ujian tersebut, tampaklah cahaya diri mereka dan nama mereka semakin terkenal dan banyak disebut. Dari sinilah nampak rahasia utusan Allah dan kekhususan pilihannya Allah Swt.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَيٰۤاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ فَـكُلَا مِنْ حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
wa yaaa aadamuskun angta wa zaujukal-jannata fa kulaa min haisu syi-tumaa wa laa taqrobaa haazihisy-syajarota fa takuunaa minazh-zhoolimiin

“Dan (Allah berfirman), “Wahai Adam! Tinggallah engkau bersama istrimu dalam surga dan makanlah apa saja yang kamu berdua sukai. Tetapi janganlah kamu berdua dekati pohon yang satu ini. (Apabila didekati) kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 19)

Ini mengindikasikan kenyamanan nabi Adam As saat mendengar isim Allah; Al Hannân (Yang Maha Penyayang) dan Al Mannân (Yang Maha Pemberi Anugerah), yang membuatnya terbuai yang menyamai nikmat-nikmat surga.

Surga disini adalah bumi, sebab pada hakekatnya bumi merupakan taman yang luas dan besar. Allah Swt menempatkan nabi Adam As pada tempat yang paling indah; yaitu surganya surga.

Kata surga dalam Al Qur’an memiliki makna mutlak, yaitu taman; sebagaimana firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْلَاۤ اِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَآءَ اللّٰهُ ۙ لَا قُوَّةَ اِلَّا بِا للّٰهِ ۚ اِنْ تَرَنِ اَنَاۡ اَقَلَّ مِنْكَ مَا لًا وَّوَلَدًا 
walau laaa iz dakholta jannataka qulta maa syaaa-allohu laa quwwata illaa billaah, ing taroni ana aqolla mingka maalaw wa waladaa

“Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan “Masya Allah, la quwwata illa billah” (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah, sekalipun engkau anggap harta dan keturunanku lebih sedikit daripadamu.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 39)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَمْ تَرَكُوْا مِنْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ 
kam tarokuu ming jannaatiw wa ‘uyuun

“Betapa banyak taman-taman dan mata air-mata air yang mereka tinggalkan,”
(QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 25)

Semesta ini melihat Adam As diciptakan, dia dibuat dari tanah bumi, sedangkan Hawa, Allah ciptakan ia dari Adam, Hawa diselimuti cahaya, tidak ada yang melihatnya kecuali nabi Adam As, karena cahaya telah meliputi Siti Hawa sejak ia diciptakan.

Allah Swt menempatkan hawa pada surga itu, namun itu bukanlah surga yang kekal, sebab jika dikatakan bahwa itu adalah surga yang kekal, maka syeithan pun tidak akan berkata kepada Adam As; sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَا لَ يٰۤاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى
fa waswasa ilaihisy-syaithoonu qoola yaaa aadamu hal adulluka ‘alaa syajarotil-khuldi wa mulkil laa yablaa

“Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?”“
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 120)

Pada surga yang kekal, maka orang yang sudah memasukinya tidak akan pernah keluar lagi, dimana iblis pun tidak pernah bisa memasukinya, bahkan iblispun tidak bisa bermaksiat kepada Allah bahkan didalam surga tidak ada lagi pembebanan syari’at. Sebab Allah telah berfirman dengan jelas kepada malaikat, bahwa sungguh Allah ingin menjadikan khalifah di bumi ini, maka semua kejadian ini terjadi di bumi.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَقُلْنَا يٰۤاٰدَمُ اِنَّ هٰذَا عَدُوٌّ لَّكَ وَلِزَوْجِكَ فَلَا يُخْرِجَنَّكُمَا مِنَ الْجَـنَّةِ فَتَشْقٰى
fa qulnaa yaaa aadamu inna haazaa ‘aduwwul laka wa lizaujika fa laa yukhrijannakumaa minal-jannati fa tasyqoo

“Kemudian Kami berfirman, “Wahai Adam! Sungguh ini (Iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 117)

اِنَّ لَـكَ اَ لَّا تَجُوْعَ فِيْهَا وَلَا تَعْرٰى 
inna laka allaa tajuu’a fiihaa wa laa ta’roo

“Sungguh, ada (jaminan) untukmu di sana, engkau tidak akan kelaparan dan tidak akan telanjang,”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 118)

وَاَ نَّكَ لَا تَظْمَؤُا فِيْهَا وَلَا تَضْحٰى
wa annaka laa tazhma-u fiihaa wa laa tadh-haa

“dan sungguh, di sana engkau tidak akan merasa dahaga dan tidak akan ditimpa panas matahari.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 119)

Ayat ini berisikan peringatan dari Allah untuk khalifah-Nya yang masih dalam masa percobaan; yang didalamnya adalah peristirahatan, makanan, minuman, pakaian, tempat bernaung, istri yang cantik dan perlindungan Allah yang menyelimuti nabi Adam As dan Siti Hawa.

Tetapi nabi Adam As tidaklah diciptakan untuk itu saja, namun ia tercipta untuk perkara yang jauh lebih rumit dan risalah yang lebih detail.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقُلْنَا يٰۤـاٰدَمُ اسْكُنْ اَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَـنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا ۖ وَلَا تَقْرَبَا هٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُوْنَا مِنَ الظّٰلِمِيْنَ
wa qulnaa yaaa aadamuskun angta wa zaujukal-jannata wa kulaa min-haa roghodan haisu syi-tumaa wa laa taqrobaa haazihisy-syajarota fa takuunaa minazh-zhoolimiin

“Dan Kami berfirman, “Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. (Tetapi) janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim!””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 35)

Maka datanglah iblis pada keduanya dengan penampakan sebagai teman yang menepati janji, sahabat yang senantiasa memberikan nasehat bagi keduanya. Iblis menggoda keduanya dari kejauhan, iblis tidak dapat melihat mereka kecuali hanyalah cahaya; seperti yang Allah Swt abadikan dalam firman-Nya,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَسْوَسَ اِلَيْهِ الشَّيْطٰنُ قَا لَ يٰۤاٰدَمُ هَلْ اَدُلُّكَ عَلٰى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلٰى
fa waswasa ilaihisy-syaithoonu qoola yaaa aadamu hal adulluka ‘alaa syajarotil-khuldi wa mulkil laa yablaa

“Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya, dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 120)

Maksudnya adalah bahwa iblis tidak bisa menunggu lebih lama lagi, maka ketika pertama kali ia mampu mendekati keduanya, ia langsung memberikan rasa was-was, namun ketika itu ia belum menggambarkan pohon yang membuat mereka penasaran ingin mengetahuinya.

Akan tetapi nabi Adam As yang sebelumnya telah diajarkan oleh Allah itu tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh iblis, kemudian iblis menggambarkan sebuah pohon dan menyingkap esensinya; seperti yang tertera dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطٰنُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وٗرِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْاٰ تِهِمَا وَقَا لَ مَا نَهٰٮكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هٰذِهِ الشَّجَرَةِ اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَا مَلَـكَيْنِ اَوْ تَكُوْنَا مِنَ الْخٰلِدِيْنَ
fa waswasa lahumasy-syaithoonu liyubdiya lahumaa maa wuuriya ‘an-humaa ming sau-aatihimaa wa qoola maa nahaakumaa robbukumaa ‘an haazihisy-syajaroti illaaa ang takuunaa malakaini au takuunaa minal-khoolidiin

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 20)

Kata-kata itu mengalahkan ejekan Adam As.

Tidakkah engkau tahu wahai iblis, bahwa Adam tercipta untuk kekal, dimana setiap malaikat pun sujud menghormatinya, bahkan iapun memiliki kedudukan yang tidak bisa ditandingi oleh siapapun?.

Nabi Adam As dan hawa pun lolos dalam ujian ini; yaitu ujian menjauhi apa yang dilarang tanpa kesulitan yang berarti.

Disinilah permusuhan iblis pada Adam semakin menjadi-jadi. Hal inilah yang mendorong iblis untuk hasud dan dengki sampai iblis bersumpah dusta atas nama Allah; seperti yang tertera dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا سَمَهُمَاۤ اِنِّيْ لَـكُمَا لَمِنَ النّٰصِحِيْنَ 
wa qoosamahumaaa innii lakumaa laminan-naashihiin

“Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 21)

Perkataan ini berisikan tiga kata yang fungsinya untuk benar-benar memastikan, tiga kata tersebut adalah kata sumpah, huruf “إنْ,” dan huruf “لَ.” Maka hal ini menunjukkan betapa sulitnya iblis memperdaya nabi Adam As.

Ini adalah ujian lain bagi nabi Adam As; yaitu ujian adab.

Maka ketika pertama kali Adam As mendengar nama Allah Swt, ia pun mengagungkan nama Allah, iapun memakan buah dari pepohonan itu bukan karena syahwat diri, tetapi memakannya dengan menyaksikan keagungan nama Allah.

Karena jika Allah Swt memasukkan muslim yang paling kecil kedalam surga itu dan berbicara padanya mengenai kekhususan tersebut serta melarangnya untuk makan buah dari pohon itu, maka urusan ini akan selesai tanpa adanya masalah yang berarti, lantas bagaimana pandanganmu dengan Adam, sang nabi yang Allah ajak bicara dan ajar?!

Tidak terpikirkan oleh Adam As bahwa akan ada yang bersumpah dusta atas nama Allah.

Semua yang Allah kabarkan pada nabi Adam As mengenai iblis hanya sebatas bahwa iblis adalah musuh saja, Allah belum mengabarkan bahwa iblis adalah pendusta atau penipu.

Bagi nabi Adam As, mengagungkan nama Allah Swt lebih didahulukan dibanding larangan untuk makan dari pohon tersebut. Dan inilah inti semua ilmu itu; yaitu pengagungan terhadap pemilik syari’at lebih utama dibandingkan syari’at itu sendiri, semua ulama sepakat akan hal ini.

yang Kemudian setelah itu nabi Adam As menisbatkan dosa yang ia lakukan kepada dirinya sebagai tanda penghomatannya pada ketentuan Allah yang ada jauh sebelum ia diciptakan.

Rasulullah Saw bersabda,

احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى، فَقَالَ لَهُ مُوسَى : يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُونَا خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنَ الْجَنَّةِ، قَالَ لَهُ آدَمُ: يَا مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ وَخَطَّ لَكَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةٌ؟، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى

“Adam dan Musa As beradu argumentasi, Musa berkata, ‘Wahai Adam, engkau adalah ayah kami, engkau telah menyia-nyiakan kami dan mengeluarkan kami dari surga’, Adam menjawab, Engkau adalah Musa, Allah telah mengutusmu dengan kalam-Nya dan Dia telah tuliskan itu dengan tangan-Nya, lantas apakah engkau mengejekku terkait perkara yang sudah Allah tentukan 40 tahun sebelum aku diciptakan?”,

maka Nabi Saw bersabda, “Maka ucapan Adam mengalahkan ucapan Musa, maka ucapan Adam mengalahkan ucapan Musa.”

Maka tidak pantas jika ada seseorang mengatakan, وَعَصٰۤى اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى “Dan durhakalah Adam pada Tuhannya,” tetapi ia harus mengawalinya dengan bacaan basmalah terlebih dahulu sebelum membaca ayat tersebut

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
bismillaahir-rohmaanir-rohiim

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

فَاَ كَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْاٰ تُہُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَـنَّةِ ۚ وَعَصٰۤى اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى 
fa akalaa min-haa fa badat lahumaa sau-aatuhumaa wa thofiqoo yakhshifaani ‘alaihimaa miw waroqil jannah, wa ‘ashooo aadamu robbahuu fa ghowaa

“Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 121)

Mengawali bacaan ayat tersebut dengan membaca Bismillahirrahmanirrahîm, sehingga orang tersebut mengucapkan itu sebagai wakil dari Allah dalam pengucapannya, sebagaimana tidak diperbolehkan pula bagi seseorang mengatakan kepada Rasulullah Saw, “Bertakwalah pada Allah,” tetapi ia boleh mengatakan,

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
bismillaahir-rohmaanir-rohiim

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا 
yaaa ayyuhan-nabiyyuttaqillaaha wa laa tuthi’il-kaafiriina wal-munaafiqiin, innalloha kaana ‘aliiman hakiimaa

“Wahai nabi! Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 1)

Disaat makan buah dari pohon merupakan pertanda keluarnya Adam dan Hawa dari surga menuju bumi untuk menerima tugas kenabian dan khilafah, maka Allah masukkan keduanya dalam perlindungan-Nya dan Allah panjangkan penutup tubuh keduanya. Tidak ada seorangpun yang melihat ketika Allah angkat tirai penghalang pakaian cahaya dari keduanya;

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاَ كَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْاٰ تُہُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَـنَّةِ ۚ وَعَصٰۤى اٰدَمُ رَبَّهٗ فَغَوٰى 
fa akalaa min-haa fa badat lahumaa sau-aatuhumaa wa thofiqoo yakhshifaani ‘alaihimaa miw waroqil jannah, wa ‘ashooo aadamu robbahuu fa ghowaa

“Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya, dan sesatlah dia.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 121)

Maksudnya adalah nampak bagi keduanya saja dan tidak ada yang lainnya. Aurat satu sama lainnya terlihat. Inilah pertama kalinya aurat satu sama lain terlihat. Hal tersebut karena pakaian cahaya ilahiyyah itu tebal, apalagi pada bagian aurat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَدَلّٰٮهُمَا بِغُرُوْرٍ ۚ فَلَمَّا ذَا قَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفٰنِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَّرَقِ الْجَـنَّةِ ۗ وَنَا دٰٮهُمَا رَبُّهُمَاۤ اَلَمْ اَنْهَكُمَا عَنْ تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَاَ قُلْ لَّـكُمَاۤ اِنَّ الشَّيْطٰنَ لَـكُمَا عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
fa dal-laahumaa bighuruur, fa lammaa zaaqosy-syajarota badat lahumaa sau-aatuhumaa wa thofiqoo yakhshifaani ‘alaihimaa miw waroqil-jannah, wa naadaahumaa robbuhumaaa a lam an-hakumaa ‘ang tilkumasy-syajaroti wa aqul lakumaaa innasy-syaithoona lakumaa ‘aduwwum mubiin

“dia (setan) membujuk mereka dengan tipu daya. Ketika mereka mencicipi (buah) pohon itu, tampaklah oleh mereka auratnya, maka mulailah mereka menutupinya dengan daun-daun surga. Tuhan menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu dari pohon itu dan Aku telah mengatakan bahwa sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 22)

Maka nabi Adam As dan juga Hawa menempelkan dedaunan surga satu demi satu sampai bisa menutupi aurat keduanya lantaran adanya rasa malu dan bukan lantaran adanya keharaman. Semua itu merupakan skenario ilahiyyah, agar keduanya dapat menyiapkan diri untuk mengemban amanat khilafah yang agung mewakili Allah dengan berbekal cahaya penyerahan diri dan juga berdasarkan pada pilihan ilahiyyah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَا سًا يُّوَا رِيْ سَوْاٰ تِكُمْ وَرِيْشًا ۗ وَلِبَا سُ التَّقْوٰى ۙ ذٰلِكَ خَيْرٌ ۗ ذٰلِكَ مِنْ اٰيٰتِ اللّٰهِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ
yaa baniii aadama qod angzalnaa ‘alaikum libaasay yuwaarii sau-aatikum wariisyaa, wa libaasut-taqwaa zaalika khoiir, zaalika min aayaatillaahi la’allahum yazzakkaruun

“Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 26)

Redaksi,

“يٰبَنِيْۤ اٰدَمَ قَدْ اَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَا سًا يُّوَا رِيْ سَوْاٰ تِكُمْ”

[Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu;] maka setelah mereka berdua menutupi aurat mereka, Allah kemudian menurunkan kain dari langit yang cocok untuk kehidupan keduanya di bumi.

Redaksi,

“وَرِيْشًا”

[Dan pakaian indah untuk perhiasan,]
Setelah keduanya bertobat, Allah menurunkan pakaian yang bagus, tidak sekedar pakaian untuk menutupi aurat keduanya saja, akan tetapi agar penampilan keduanya pun sempurna dan enak dilihat.

Redaksi,

“وَلِبَا سُ التَّقْوٰى ۙ ذٰلِكَ خَيْرٌ”

[dan pakaian takwa itulah yang paling baik;]” maksudnya adalah pakaian yang dihiasi dengan akhlak yang baik.

Hal yang menakjubkan adalah bahwa nikmat pakaian ini adalah nikmat yang Allah khususkan bagi anak keturunan Adam As saja, meski demikian kini menjadi perdebatan antara menutup aurat dan telanjang.

Iblispun menanti saat Allah menghukum Adam dengan pengusiran dan juga laknat-Nya, seperti yang terjadi padanya dahulu. Tetapi Allah Swt mengilhamkan sebuah kalimat kepada Adam As; seperti yang tertera dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَا رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِ نْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
qoolaa robbanaa zholamnaaa angfusana wa il lam taghfir lanaa wa tar-hamnaa lanakuunanna minal-khoosiriin

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 23)

Maka untuk pertama kalinya iblis menyaksikan hal ini; yaitu menyaksikan kondisi seorang yang memelas dan memohon ampunan.

Para malaikatpun tidak mengetahui untaian permohonan ampun tersebut, bahkan mereka pun tidak mengetahui rasanya. Yang mereka tahu adalah bertasbih dan mensucikan Allah Swt.

Maka nabi Adam As pun mengajarkan ini kepada para malaikat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَتَلَقّٰۤى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَا بَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
fa talaqqooo aadamu mir robbihii kalimaating fa taaba ‘alaiih, innahuu huwat-tawwaabur-rohiim

“Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 37)

Maksudnya adalah, Allah Swt menerima tobat nabi Adam As lantaran mengucapkan perkataan tersebut, dan bukan lantaran kalimatnya itu tetapi lantaran Allah yang Maha Menerima Tobat lagi Maha Penyayang.

Maka alampun baru pertama kali mengetahui makna tobat yang persyaratannya adalah:

Pertama, Menyesal.

Kedua, menisbatkan dosa tersebut pada diri sendiri; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَا رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِ نْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
qoolaa robbanaa zholamnaaa angfusana wa il lam taghfir lanaa wa tar-hamnaa lanakuunanna minal-khoosiriin

“Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 23)

Ketiga, melupakan dosa tersebut, karena mengingat-ingat suatu dosa adalah dosa, ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَلَـقَدْ عَهِدْنَاۤ اِلٰۤى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا
wa laqod ‘ahidnaaa ilaaa aadama ming qoblu fa nasiya wa lam najid lahuu ‘azmaa

“Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 115)

Keempat, Tidak memiliki kemauan yang kuat karena didalamnya ada sisi menghukumi ketentuan dan ketetapan Allah, sesuai dengan firman-Nya,

وَلَـقَدْ عَهِدْنَاۤ اِلٰۤى اٰدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهٗ عَزْمًا
wa laqod ‘ahidnaaa ilaaa aadama ming qoblu fa nasiya wa lam najid lahuu ‘azmaa

“Dan sungguh telah Kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa, dan Kami tidak dapati kemauan yang kuat padanya.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 115)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ اجْتَبٰهُ رَبُّهٗ فَتَا بَ عَلَيْهِ وَهَدٰى
summajtabaahu robbuhuu fa taaba ‘alaihi wa hadaa

“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 122)

Maka sia-sialah prasangka iblis, dimana tobat orang yang melakukan sebuah pelanggaran diterima dan iapun diberi hidayah, lantas bagaimana pemberian yang Allah berikan kepada orang yang ta’at dari keturunan Adam As?

Disanalah muncul perintah Allah, tepatnya pada hari yang paling utama; yaitu hari jum’at; yang merupakan penghulunya hari, untuk mengeluarkan Adam dan isterinya Hawa menuju negeri khilafah nan mulia, negeri kenabian dan kekhilafahan (bumi). Bumi inipun dipenuhi dengan cahaya Allah, bumi pun mempersiapkan diri menyambut kalimat yang mulia, sang nabi yang agung dan mulailah seketika itu juga pemakmuran bumi.

Nabi Adam As hidup di bumi selama seribu tahun, ia mengajarkan manusia tentang agama, akhlak, beragam nama dan sifat Allah, sebagaimana dia pun juga mengajarkan beragam hal mendasar terkait dengan kreasi dan juga pekerjaan, semoga Allah senantiasa membalas kebaikannya. Dan semoga Allahpun membalas ibu kami; Hawa dengan balasan yang baik. Mereka berdualah yang mewariskan kecintaan, kasih sayang dan pemberian Allah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا خْفِضْ لَهُمَا جَنَا حَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا 
wakhfidh lahumaa janaahaz-zulli minar-rohmati wa qur robbir-ham-humaa kamaa robbayaanii shoghiiroo

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.””
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 24)

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY