
Elsubha.com – Pondasi Ke-41 : Hauqalah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاَ رْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوْفَا نَ وَا لْجَـرَا دَ وَا لْقُمَّلَ وَا لضَّفَا دِعَ وَا لدَّمَ اٰيٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍ ۗ فَا سْتَكْبَرُوْا وَكَا نُوْا قَوْمًا مُّجْرِمِيْنَ
fa arsalnaa ‘alaihimuth-thuufaana wal-jarooda wal-qummala wadh-dhofaadi’a wad-dama aayaatim mufashsholaat, fastakbaruu wa kaanuu qoumam mujrimiin
“Maka, Kami kirimkan kepada mereka topan, belalang, kutu, katak, dan darah (air minum berubah menjadi darah) sebagai bukti-bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 133)
Air, sekalipun ia sumber kehidupan, sebagaimana yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
اَوَلَمْ يَرَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنَّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ كَا نَـتَا رَتْقًا فَفَتَقْنٰهُمَا ۗ وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۗ اَفَلَا يُؤْمِنُوْنَ
a wa lam yarollaziina kafaruuu annas-samaawaati wal-ardho kaanataa rotqong fa fataqnaahumaa, wa ja’alnaa minal-maaa-i kulla syai-in hayy, a fa laa yu-minuun
“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 30)
Akan tetapi air juga bisa menjadi sebab kehancuran, meski ditangannya tidak ada kehidupan dan kematian, tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ قُلِ اللّٰهُ ۗ قُلْ اَفَا تَّخَذْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ لَا يَمْلِكُوْنَ لِاَ نْفُسِهِمْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الْاَ عْمٰى وَا لْبَصِيْرُ ۙ اَمْ هَلْ تَسْتَوِى الظُّلُمٰتُ وَا لنُّوْرُ ۚ اَمْ جَعَلُوْا لِلّٰهِ شُرَكَآءَ خَلَقُوْا كَخَلْقِهٖ فَتَشَا بَهَ الْخَـلْقُ عَلَيْهِمْ ۗ قُلِ اللّٰهُ خَا لِـقُ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُوَ الْوَا حِدُ الْقَهَّا رُ
qul mar robbus-samaawaati wal-ardh, qulillaah, qul a fattakhoztum ming duunihiii auliyaaa-a laa yamlikuuna li-angfusihim naf’aw wa laa dhorroo, qul hal yastawil-a’maa wal-bashiiru am hal tastawizh-zhulumaatu wan-nuur, am ja’aluu lillaahi syurokaaa-a kholaquu kakholqihii fa tasyaabahal-kholqu ‘alaihim, qulillaahu khooliqu kulli syai-iw wa huwal-waahidul-qohhaar
“Katakanlah (Muhammad), “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Katakanlah, “Allah.” Katakanlah, “Pantaskah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah, padahal mereka tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi dirinya sendiri?” Katakanlah, “Samakah orang yang buta dengan yang dapat melihat? Atau samakah yang gelap dengan yang terang? Apakah mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia Tuhan Yang Maha Esa, Maha Perkasa.””
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 16)
اَللّٰهُ خَا لِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۙ وَّ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
allohu khooliqu kulli syai-iw wa huwa ‘alaa kulli syai-iw wakiil
“Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 62)
Firman lainnya,
ٱلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ
allazii kholaqol-mauta wal-hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa, wa huwal-‘aziizul-ghofuur
“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 2)
Allah bisa saja menciptakan surga sebagai tempat kenikmatan, tetapi Dia juga bisa mengadzab orang yang ada di dalam surga dengan surga tersebut. Diapun menciptakan neraka untuk memberi adzab, Dia jugalah yang mampu memberikan nikmat pada orang yang ada di dalam neraka dengan neraka tersebut.
Maka Maha Suci Allah pemilik beragam sebab, yang tidak dimiliki oleh sebab itu sendiri.
Terkadang secara nampak, Dia memberikan adzab, namun secara batin Dia memberikan nikmat; seperti yang tertera dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
ثُمَّ بَدَّلْـنَا مَكَا نَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتّٰى عَفَوْا وَّقَا لُوْا قَدْ مَسَّ اٰبَآءَنَا الضَّرَّآءُ وَا لسَّرَّآءُ فَاَ خَذْنٰهُمْ بَغْتَةً وَّهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ
summa baddalnaa makaanas-sayyi-atil-hasanata hattaa ‘afaw wa qooluu qod massa aabaaa-anadh-dhorrooo-u was-sarrooo-u fa akhoznaahum baghtataw wa hum laa yasy’uruun
“Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan sehingga (keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, lalu mereka berkata, “Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan,” maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 95)
Mereka adalah orang-orang yang terkena adzab Allah secara nyata menurut pandangan banyak orang, namun mereka sendiri tidak merasakan pedihnya adzab tersebut pada batin mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ
iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5)
Ayat ini telah memberikan keterangan bahwa engkau memiliki kekuatan tersendiri, yang dengannya engkau bisa menolong, engkau itu kuat, tetapi engkau tetap perlu meminta pertolongan kepada Dzat yang lebih kuat darimu.
Martabat yang paling tinggi pada seorang hamba adalah martabat ucapan; “La Haula wala Quwwata illa Billäh [Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah].” Maksudnya adalah, kita tidak memiliki kekuatan ataupun sebab sama sekali, tetapi Allahlah pemilik segala daya dan sumber segala kekuatan, di tangan-Nyalah segala perkara ada, Dia bisa mengatakan pada sesuatu, “Jadilah!, maka sesuatu itu pun terjadi,” “Hilanglah!, maka sesuatu itupun hilang. Allah memerintahkan beragam penyebab turunnya kenikmatan, untuk bisa memberikan kenikmatan, maka kenikmatan itu langsung terwujud. Diapun bisa memerintahkan penyebab kenikmatan untuk memberikan adzab, maka adzablah yang terwujud.
Maka jadikanlah, وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ [Hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan],” pada dirimu yang nampak, dan jadikanlah ucapan, “La Haula wala Quwwata illa Billah [Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah]” di dalam batinmu, karena ia adalah satu dari sekian perbendaharaan surga. (Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda padaku,
ألَا أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ مِنْ كَسْرِ الْجَنَّةِ تَحْتَ الْعَرْشِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Maukah aku tunjukkan padamu sebuah kalimat dari perbendaharaan surga yang ada di bawah ‘Arasy?.” Rasulullah melanjutkan, “La Haula wala Quwwata Illa Billahi (Tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah).” (HR. Ath-Thayalist; Ibnu Al Ja’d; Ibnu Rahawath; Ahmad; Ath-Thabrani; Al Balhaqi; Al Hakim dimana la menilainya shahih, dan diakul oleh Adz-Dzahabi).
Perbendaharaan tersebut haruslah disembunyikan, jika demikian yang kau lakukan maka engkau telah menjadi hamba dengan penghambaan yang maksimal.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
