
Elsubha.com – Maqâmât
A. Maqâm Khatmiyyah Dan Katmiyyah.
Maqam Al Khatm telah banyak diketahui oleh banyak orang, bahkan banyak ulama yang telah mengulasnya, antara lain: Sayyidi Abdul Ghani An-Nâbilisi dalam Ar-Radd Al Matin Ala Muqtashsh Al ‘Arif Muhyiddin; Imam Al Fâsi dalam Tarikh-nya; Syaikh Yûsuf An-Nabhani dalam Jawahirul Bihâr, Syaikh Asy-Sya’rani dalam Thabaqat nya dari Sayyidi ‘Ali Wafa; Sayyidi Muhammad Qanûn dalam Hill Al Aqfâl; Al Hakim At-Tirmidzi dalam Khâtimul Auliya’, (Dalam kitabnya ini, At-Tirmidzi memuji Ibnu ‘Atha’illah As-Sakandari, Imam As-Subki, Imam Al Qusyairi. Seperti yang dilakukan oleh Abu Nu’aim Al Ashbahani dalam Hilyah-nya). Ibnu ‘Arabi Al Hatimi dan Syaikh Al ‘lyyāsyi dalam buku tentang perjalanannya.
Khatmul Anbiya`.
Khatmul Anbiya merupakan sosok yang telah merasakan semua masyrab nabi dan rasul. Posisi ini merupakan sentral dari semua masyrab kenabian dan kerasulan, dimana masyrab ini menyendiri dari yang lainnya. Kenabian Nabi Muhammad Saw merupakan sentral dari semua kenabian, begitu juga tanda-tanda kenabian beliau yang merupakan satu dari cabang kenabian itu sendiri. Hal ini seperti yang telah disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Irbâd bin Sâriyah, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda,
إِنِّي عِنْدَ اللهِ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَخَاتَمُ النَّبِيِّينَ، وَإِنَّ آدَمَ لَمُنْجَدِلٌ فِي طِيْنَتِهِ.
“Sungguh aku sejak di Umm Al Kitab yang ada di sisi Allah, adalah penutup para nabi, dimana kala itu Adam masih ada di kubangan tanahnya. ” (HR. Ahmad; Al Hakim; dimana Al Hakim menilainya shahih, Al Baihaqi dalam Asy-Syu’ab dan Ad-Dala `il, Ath-Thabrâni dalam Al Kabir, Ibnu Abi Hâtim dalam tafsirnya; Ibnu Hibban dalam Shahih-nya; Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, Abu Nu’aim dalam Ad Dalâ ‘il, Al Ajiri dalam Asy-Syari’ah, Al Bukhari dalam At-Tarikh, Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqât, dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya.)
Sedangkan para nabi lainnya, mereka itu menjadi nabi saat diutus kepada kaumnya dan bukan sebelumnya.
Begitu pula halnya dengan Khatm Al Wilayah, sosoknya merupakan wali sentral dari unsur Al Muhammadi, dia merupakan sentral dari segala masyarb wali dengan status dirinya yang menyendiri dari semua masyrab yang ada. Kewaliannya juga merupakan pokok dari kewalian yang lainnya, semua kewalian yang ada merupakan cabang dari kewaliannya.
Wali Allah dari sisi Al Muhammadi terbagi menjadi dua:
Pertama, wali dari unsur Al Muhammadi Al Jâmi
Kedua, wali dari unsur Al Muhammadi Ghair Jâmi
Sosok Waliyyullah Al Jâmi’, adalah pewaris Rasulullah Saw secara keseluruhan, meliputi semua masyrab nabi, namun derajat kewalian ini tidak sampai pada taraf derajat nabi. Semua masyrab ini mengambil dari ruhaniyahnya Rasulullah Saw dengan perantara wali Khatm Al Muhammadi Al Jâmi’, seperti Ibnu ‘Arabi, Sayyidi Abdul Qadir Al Jîlâni dan yang lainnya. Ini merupakan bentuk pengambilan istimdad (*Istimdad maksudnya adalah memohon madad /pertolongan ruhani) secara khusus, kondisi ini tidak seperti kondisi para nabi lainnya ambil dari Rasulullah Saw.
Sedangkan wali al Muhammadi Ghair Jâmi’, adalah sosok wali yang ber-istimdad dari wali lainnya. Maksudnya adalah, dia ber-istimdad dari ruhaniyah Rasulullah Saw dengan perantara ruhaniyah nabi lainnya. Oleh karena itu, sosok wali semacam ini sering disebut dengan; Ibrahimi Muhammadi, atau Musawi Muhammadi, semua mereka ini adanya perorangan, hingga yang terakhir adalah Al Mahdi; dialah penutup kewalian secara mutlak, seperti halnya Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang merupakan penutup kewalian secara khusus.
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, bahwa dia berkata: Rasulullah Saw bersabda,
لا يَزَالُ أَرْبَعُوْنَ رَجُلاً مِنْ أُمَّتِي قُلُوْبُهُمْ عَلَى قَلْبِ إِبْرَاهِيمَ، يَدْفَعُ اللَّهُ بِهِمْ عَنْ أَهْلِ الْأَرْضِ، يُقَالُ لَهُمُ الْأَبْدَالُ.
“Akan ada empat puluh orang dari umatku, yang kalbu mereka seperti kalbunya Ibrahim, dimana Allah menolong penduduk bumi dengan mereka, mereka ini disebut dengan abdal.” (HR. Ath-Thabrâni dalam Al Kabir, Abu Nu’alm dalam Al Hilyah dan Al Ma’rifah.)
Perlu diketahui, bahwa setiap pewaris nabi itupun ada maqam khatm-nya, seperti; Maqam Khatm An-Nûhi Al Muhammadi, Maqam Khatm Al Ibrahimi Al Muhammadî dan lain sebagainya, dimana akhir daripada setiap khatm ini, itu sebenarnya merupakan permulaan bagi maqam penutup para wali.
Semua wali yang pernah mengakui maqam khatmiyyah, baik mereka itu termasuk wali al Muhammadi al Jâmí, maka pangakuan semacam ini sesunggungnya merupakan bagian dari keutamaan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang berhembus dari bawah maqam beliau yang paling tinggi. Lain halnya jika mereka itu wali Al Muhammadi Ghair Jâmi, maka maqam mereka ini seperti magam yang pernah diakui oleh Sayyidi ‘All Wafa untuk ayahnya Muhammad Wafa yang kemudian pernyataan ini ditarik kembali; Sayyidi ‘Idrus bin ‘Umar Al Habasyi Al Yamani yang dikemudian hari baru tersingkap, bahwa yang dimaksud itu adalah Maqam Khatm Al Ibrahimi, Sayyidi Muhammad Utsman Al Marghini yang dikemudian hari ucapan ini ditariknya kembali; Sayyidi Musthafa Al Bakiri yang lalu beliau menarik kembali ucapan itu; dan juga Sayyidi Muhyiddin Ibnu Arabi, dia pernah berkata dalam Al Futuhât, tepatnya pada bab keenam puluh lima, yang khusus membicarakan tentang surga dan neraka beserta tingkatannya, beliau mengatakan, “Aku melihat layaknya orang sedang bermimpi melihat tembok ka’bah itu telah sempurna, kecuali dua tempat batu bata saja yang masih belum terisi, saat itu aku melihat bahwa akulah batu bata itu, dimana dengan keberadaanku tembok itu menjadi sempurna. Beliau kemudian mensenandungkan:
بِنَا خَتَمَ اللَّهُ الْوِلَايَةَ فَانْتَهَتْ # إِلَيْنَا فَلَا خَتْمَ يَكُونُ لَهَا بَعْدِي وَمَا فَازَ بِالْخُتُمِ الَّذِي لِمُحَمَّدٍ # مِنْ أُمَّتِهِ وَالْعِلْمِ إِلَّا أَنَا وَحْدِى
“Dengan kami Allah menutup kewalian maka dengan kamilah kewalian itu berakhir # pada kami, dimana tiada wali khatm lagi setelahku.
Tiada umat yang beruntung dengan maqam khatm Al Muhammadi # dan pengetahuan akannya selain hanya aku seorang diri.”
Saat Ibnu ‘Arabi Ra menyatakan ini, tiba-tiba terdengar suara yang memanggil-manggil seraya mengatakan, “Hal tersebut tidak seperti yang engkau duga dan angankan, itu adalah untuk wali lain di akhir zaman nanti, dimana tiada wali yang paling mulia dari dirinya di sisi Allah.” Kemudian beliau berkata, ” Aku serahkan perkara ini kepada sang Pencipta, selagi bashirah-ku (Bashirah adalah kekuatan yang dibukakan pada kalbu para wali, yang disinari dengan cahaya qudsi (Allah Al Haqq), yang dengannya seseorang dapat melihat hakikat sesuatu dan juga hal-hal yang tersembunyi, yang juga dinamakan dengan kekuatan qudsiyyah (Mata batin pent). Lih, Syaikh ‘Abdul Qadir Al Jilani, Sirr Asrar,, (Damaskus, Dâr As- Sanabil, 1993M), hal. 38.) masih tajam, kelak aku akan dapat mengetahui siapakah sosok yang ada dimaqam itu; siapa namanya, nasabnya, negaranya dan bagaimana ahwahnya, namun Allah tidak memunculkan itu semua padaku, bahkan aku pun tidak dapat mencium semerbak baunya.”
Setelah dua tahun berlalu, Ibnu ‘Arabi mengarang sebuah kitab yang berjudul ‘Unaqa Maghrib, beliau menuliskan: “Suatu saat aku memohon kepada Allah Swt agar dapat mengumpulkan aku dengan penutup para wali dan Allah mengabulkan permohonanku itu, sehingga aku dapat berkumpul dengannya secara ruhani yang tak terbatas dengan waktu. Dia ada di kota Fes, dimana aku dapat melihat tanda yang Allah sembunyikan dari para hamba-Nya dan dibukakan untukku, hingga aku dapat melihat tanda penutup kewalian darinya. Aku melihat, bahwa dia diuji dengan banyaknya orang yang ingkar saat sirr bellau yang berupa ilmu ladunni itu nampak.
Saat aku bertemu secara ruhani dengannya, waktu itu adalah tahun 595 H, dia memiliki panggilan Abu Al ‘Abbas, namanya tersembunyi dari jajaran wali, lantas kemudian aku mencium tangan beliau yang mulia dan meminta do’a kepadanya, lalu aku pergi.”
Inilah maqam katm, yaitu bahwa nama dan maqam Syaikh Ahmad At-Tijany Ra itu tersembunyi, hal ini tidak diketahui oleh satu pun pembesar wali quthb dan pembesar wali lainnya, hal inipun sama seperti penutup para nabi yang diutus kepada semua makhluk, bahkan kepada para nabi dan malaikat sekalipun, dimana syari’at Rasulullah Saw ini menghapus beragam syari’at sebelumnya, seperti yang pernah disabdakan oleh Rasulullah Saw dalam sebuah hadits yang bersumber dari riwayat Jabir, bahwa Rasulullah Saw bersabda,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي.
“Demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, seandainya nabi Musa masih hidup, maka dia tidak leluasa kecuali untuk mengikutiku.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya; Ibnu Abi Syaibah; Abu Nu’aim dalam Ad-Dalā’il, Al Bazzar; Ibnu Hajar memuatnya dalam Al Ishabah)
Begitu pula dengan penutup wali yang menghapus semua kewalian yang ada, thariqah beliau juga menghapus ragam thariqah yang ada. Jika pembesar para wali itu mencium semerbak bau beliau, maka mereka tidak lagi bisa mengelak untuk mengikuti Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan masuk ke dalam thariqahnya, seperti yang kelak dilakukan oleh Al Mahdi.
Sayyidi Syaikh Ra pernah berkata, “Sungguh semua wali itu akan terus masuk kedalam kelompok kami, mereka mengambil wiridan kami, berpegang teguh pada thariqah kami, bahkan sampai Imam Mahdi yang datang pada akhir zaman, dia akan mengambil wiridan kami, masuk kedalam kelompok kami setelah kami berpindah ke alam baqâ`.”
Perkataan beliau lainnya, “Thariqah kami ini menghapus semua thariqah yang ada dan membatalkannya, dimana tidak ada satu thariqah pun yang masuk kedalam thariqah kami.”
Perkataan beliau lainnya, “Sejak Allah Swt menciptakan ruh, dimana ruh Nabi Muhammad yang mulia itu memberikan madad kepada semua nabi dan rasul, saat itu pula ruhku memberikan madad kepada para wali quthb dan wali lainnya.”
Pernyataan Ibnu ‘Arabi Ra, bahwa sang wali khatm itu berada di kota Fes. Dimana di kota Fes sendiri, belum pernah ada orang yang mengakui maqam ini kecuali Sayyidi Abul ‘Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra sekalipun di sana ada banyak sekali wali termasuk juga wali quthb.
Pernyataan Ibnu ‘Arabi Ra, bahwa sosoknya banyak diingkari oleh banyak ulama. Begitu pula dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Pernyataan Ibnu ‘Arabi Ra, bahwa panggilannya adalah Abul ‘Abbas. Beliaupun memiliki panggilan demikian.
“Aku adalah penghulu para wali, sebagaimana Nabi Muhammad yang merupakan penghulu para Nabi. Tidak ada seorang walipun yang meminum atau diberi minum secara ruhani kecuali dari lautan karunia ruhani kami, sejak diciptakannya alam ini hingga sangkakala kembali ditiupkan.”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya-merupakan sosok yang membagikan madad kepada semua wali bahkan sampai sahabat pembagian madad nabi. Namun mengenai kepada para sahabat, para ulama memiliki tiga pendapat yang berbeda.
Sebagian ulama berkata, hal itu bukan berarti bahwa beliau “Syaikh Ahmad At-Tijany Ra” lebih utama dari para sahabat nabi. Keunggulan yang dimiliki seseorang tidaklah menandakan sisi keutamaan orang tersebut dari yang lainnya.
Memang benar, bahwa Sayyidi Asîd bin Hudhair dapat melihat malaikat dan hal itu tidak dapat dilakukan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq -sang sahabat Nabi-. Hal itu bukan berarti bahwa Sayyidi Asîd bin Hudhair itu lebih tinggi derajatnya daripada Abu Bakar Ash-Shiddiq. Contoh ini seperti halnya seorang raja yang memberikan suatu barang kepada penjaga istana, dimana benda ini pula yang lalu diberikan kepada para menterinya, hal ini bukan berarti bahwa penjaga istana ini lebih utama dibandingkan para menteri. Begitu pula halnya dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang memberikan madad kepada para sahabat, bukan berarti beliau itu lebih utama dibanding para sahabat.
“Di mauqif pada Hari Kiamat kelak, akulah yang akan dipanggil dengan seruan; ‘Wahai penghuni mauqif, ini adalah Imam kalian yang memberikan kalian madad sejak alam ini diciptakan hingga saat ini’.”
(Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra)
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Sungguh perumpamaan amaliah kami dan amaliah para sahabat nabi, ibarat semut dan burung quttah.” Namun semua ini adalah keistimewaan yang Allah Swt berikan kepada beliau, ini merupakan rentetan dari maqam khatmiyyah semoga Allah meridhai mereka semua. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Tidaklah ada seorang pun yang bisa tamak terhadap tingkatan sahabat kami, bahkan para wali quthb terbesar sekalipun, selain para sahabat nabi.”
“Sayyidul Wujud; Saw telah mengabarkan kepadaku secara lisan dan dalam keadaan sadar serta tidak tertidur, bahwa akulah Al Quthb Al Maktûm.”
Ulama lainnya At-Tijany mengatakan, bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad Ra telah mendapat martabat seorang sahabat, dengan dapat melihat Rasulullah Saw secara sadar. Sebelumnya beliau telah mendapat martabat khatm wilayah (penutup kewalian), beliau pun juga termasuk Alu Bait. Dari sinilah berkumpul tiga sisi kebaikan yang belum pernah berkumpul pada wali yang lainnya.
Ulama lainnya mengatakan, bahwa keutamaan itu terbagi menjadi dua; yaitu ada yang bisa diraih dengan amal perbuatan, yang mana dalam hal ini sudah tentu para sahabat Nabi lah yang unggul, sebab amalan yang kita lakukan itu tercatat dalam lembaran catatan kebaikan mereka, sebab merekalah yang memiliki keunggulan lantaran sudah mengajarkan kita beragam amal perbuatan tersebut. Ada pula keutamaan individu, yang Allah Swt berikan kepada siapa saja yang Allah kehendaki dari hamba-Nya, seperti yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan:
ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 4)
Keutamaan dalam ayat ini hanyalah dikhususkan bagi para sahabat nabi dan bukan bagi yang lainnya. Namun terkadang Allah Swt juga memberikan keutamaan ini kepada orang lain di akhir zaman, namun hal ini tidak berarti membatasi keutamaan para sahabat tadi. Kami pastikan, bahwa sahabat Rasulullah Saw merupakan kelompok terbaik dari kelompok apapun setelah mereka. Sedangkan Al Quthb Al Maktûm itu hanya perantara antara para nabi dan wali, sosoknya merupakan barzakh (Barzakh adalah tabir penghalang antara jasad manusia dan alam arwah, maksudnya antara dunia dan akhirat. Ibnu Arabi mengatakan, bahwa barzakh adalah alam yang bisa disaksikan antara alam maknawi dan alam jasad. Lih, ‘Abdurrazzaq Al Kāsyāni, Mu’jam Isthalähät Ash-Shufiyyah, hal 63.(Pent). besar yang menampung semua barzakh yang ada. Masyrab wali ini tersembunyi, bahkan tersembunyi juga dari para nabi, malaikat dan para wali lainnya kecuali Rasulullah Saw, dimana thariqah dan para pengembannya pun tersembunyi magam-nya. Wali ini pun merupakan pewaris Rasulullah Saw dari unsur al Ahmadi.
Pada tahun 1196 H, beliau sampai pada maqam yang bisa membuat beliau bertemu dengan Rasulullah Saw, kala itu Rasulullah Saw mentalqinkan wiridan berupa istighfar dan shalawat, lalu pada tahun 1200 H Rasulullah Saw lengkapi wiridan itu dengan bacaan hailalah, kala itu Sayyidi Syaikh Ra berumur 50 tahun.
Kewalian zhahir & Kewalian bathin
Pada awal Muharram 1214 H, beliau mendapatkan pangkat Quthbaniyah Al ‘Uzhma -yang juga merupakan maqam khatmiyyah.-Kemudian pada tanggal 18 Shafar 1214 H, beliau memperoleh maqam katmiyyah.
Singkat kata, bahwa kewalian itu ada dua macam: Kewalian zhahir dan kewalian bathin. Kewalian zhahir nampak pada orang-orang yang berkecimpung dalam perkara zhahir, sosok wali ini sangat terkenal, dimana kewalian ini ditutup oleh seorang Imam yang adil, yaitu Al Mahdi. Sedangkan kewalian bathin, maka itu nampak pada orang-orang yang berkecimpung dalam urusan bathin, dimana kewalian bathin ini pun terbagi menjadi dua:
Pertama, kewalian bathin umum, yaitu kewalian yang ada sejak nabi Adam As hingga nabi Isa As. Kewalian ini ditutup oleh nabi Isa As saat beliau turun ke muka bumi diakhir zaman.
Kedua, kewalilan bathin khusus, yaitu kewalian yang ada sejak Rasulullah Saw hingga penutup kewalian terbesar, yaitu Sayyidi Syaikh Abul ‘Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra. Segala puji bagi Allah yang menjadikan kita sebagai muridnya.-
Sayyidi Syaikh Ra meninggal dunia pada kamis pagi, 17 Syawwal 1230 H, yaitu setelah shalat shubuh, dimana beliau tidur dengan bertumpu di sisi tubuh sebelah kanan, kala itu beliau meminta air untuk diminum dan kembali pada posisi tidur semula dan meninggal dunia. Beliau meninggal dunia dalam usia yang ke- 80 tahun.
B. Maqâmât Watriyyah dan Syafi’iyyah.
Maqâmât terbagi menjadi dua:
Maqâmât watriyyah, yaitu maqâmât yang keberadaannya tidak terjadi berulang-ulang, dia hanya ada satu maqamât selamanya. Maqâmât lainnya adalah maqâmât syaf’iyyah, yaitu maqâm yang keberadaannya selalu berulang-ulang; ketika seorang wali ber-maqâm ini meninggal dunia, maka sudah ada wali lain yang menempati posisi tersebut.
Maqâm watriyyah ini seperti maqam qurbah, (Al Qurbah adalah mengakarnya seorang hamba dengan asma dan sifat-sifat (Allah) dalam pengetahuan dan kema’rifatan,dimana hal tersebut tidak mengganggu apa yang dia cari. Lih, Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, Sirr Asrar, (Damaskus, Dâr As-Sanabil, 1993M), hal. 38.) -yang hanya dimiliki oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq-; maqâm shiddiqiyyah, yang dimiliki oleh Sayyidina ‘Ali-, maqâm amanah, yang dimiliki oleh ‘Ubaidah bin Al Jarrah- dan juga seperti maqam khatmiyyah yang dimiliki oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.-
Sementara maqâm syafiyyah, maqâm ini seperti maqâm quthbâniyyah, saat seorang wali quthb meninggal dunia, maka telah ada wali quthb lainnya yang menempati posisi tersebut, sama halnya jika ada seorang wali abdal meninggal dunia, maka telah ada sosok wali abdal lain yang menggantikan posisinya.
Jika dilihat dari sisi permohonan dan juga pemberian madad, semua maqâm watriyyah sejatinya merupakan maqâm yang memohon madad dari hadapan baginda Rasulullah Saw pada unsur Al Muhammadiyyah, terkecuali maqâm khatmiyyah, dimana maqâm ini memohon madad langsung dari Rasulullah Saw dan bisa memberikan madad bagi semua wali. Sementara maqâmât syaf’iyyah, semua maqâmât ini memohon madad dari maqâm khatmiyyah, termasuk juga pemberian madad kepada semua makhluk. Maksudnya adalah, sosok wali ber-maqâm ini memohon madad dari Rasulullah Saw dengan perantara maqâm khatmiyyah.
Terkadang Allah Swt mengumpulkan kedua maqâm ini dalam diri seseorang, seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. Telah kami sebutkan, bahwa maqâm watriyyah adalah maqam qurbah, maka Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq inilah sosok wali quthb pada zamannya, dimana derajat quthbâniyyah tersebut termasuk dalam maqâm syafiyyah, begitu pula dengan Amirul Mukminin ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali.
‘Umar termasuk orang yang paling teguh dalam hal keagamaan, ‘Utsman merupakan orang yang paling pemalu, dengan hal itu semua, maka mereka di sisi lain telah menggapai derajat quthbâniyyah, yaitu dari satu orang bergiliran ke yang lainnya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra-dengan maqâm watriyyah-nya- dia langsung memohon madad secara langsung dari Rasulullah Saw dan beliau tidak memberikan madad kepada orang lainnya. Sementara dari sisi maqam syaf’iyyah dan quthbâniyyah, maka ia memohon madad dari maqam khatmul auliya dan beliau bisa memberikan madad kepada para orang yang dicintai. Oleh karena itu, dapat kami katakan bahwa permohonan madad-nya hanya bersumber dari sisi al Muhammadiy dan pemberian madad dari maqam khatm tijany.
Para wali dan murid pemberi madad memiliki beberapa ketetapan hukum, yaitu:
Seseorang yang bersuluk mengikuti wali yang memiliki maqâm syaf’iyyah seperti maqâm quthbâniyyah misalnya, maka orang tersebut harus bersuluk mengikuti wali itu. Jika wali quthb ini meninggal dunia dan ada wali quthb lain yang mengemban posisi tersebut, maka dia harus mengikuti wali quthb yang baru itu. Sehingga wali quthb yang terakhir ini menghapus hukum (tarbiyah) wali quthb sebelumnya, terkecuali wali quthb yang terakhir ini merupakan sosok yang mengikuti wali quthb sebelumnya, lantaran jalan suluk yang mereka tempuh sama.
Orang yang bersuluk mengikuti wali yang memiliki maqâm watriyyah, maka dirinya tidak perlu berpindah ke wali lainnya ketika wali yang dia ikuti itu meninggal dunia, karena maqam witriyyah ini akan terus berlanjut hingga hari Kiamat, maqam ini ada pada setiap wali hingga hari Kiamat, sehingga sang murid pun tidak perlu lagi berpindah ke wali lain dalam bersuluk.
Memang secara zhahir, semua wali itu nampak dengan ragam thariqah mereka, namun disisi bathin, mereka itu adalah Tijany, karena semua maqâmât syafiyyah itu mendapatkan madad dari maqam khatmiyyah.
Wali pemegang maqâm watriyyah merupakan khalifahnya Rasulullah Saw, sementara wali pemegang maqam syaf’iyyah, mereka adalah khalifahnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Imam Asy-Syadzili Ra misalnya, beliau memang menampakkan thariqah Asy-Syadziliyyah secara zhahir, namun beliau mengambil madad dari hadrah at-Tijaniyyah secara bathin, begitu pula dengan Syaikh Abdul Qadir Al Jīlâni, Ar-Rifa’i, Al Badawi dan para wali lainnya.
Sedangkan orang yang bersuluk mengikuti wali yang ber-maqâm syafiyyah, maka dia harus berpindah kepada wali lain ketika walinya itu meninggal dunia, yaitu berpindah kepada pewaris maqâm tersebut sepeninggalan walinya itu. Sementara orang yang mengikuti wali ber-maqâm watriyyah, maka walinya itu seolah tidak pernah mati selamanya (maksudnya pola tarbiyahnya), lantaran maqâm ini akan selalu dan terus berlanjut pada setiap wali yang ada hingga hari Kiamat dan maqâm ini tidak diwariskan kepada wali lainnya.
اللَّهُمَّ احْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ أَبِي الْفَيْضِ التِّجَانِي وَأَمِدْنَا بِمَدَدِ خَتْمِ الْأَوْلِيَاءِ الْكِتْمَانِي
Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
