
Elsubha.com – Adab Dalam Berdzikir
1. Ketika berdzikir disunahkan untuk duduk seperti duduknya orang shalat, atau bersila.
2. Badan, pakaian dan juga tempat saat berdzikir harus suci. Jika tidak, maka bacaan wiridannya batal.
3. Jika hendak membaca wazhifah, maka dia harus berada di tempat yang suci dan mampu menampung minimal enam orang.
4. Hendaknya menaruh kedua tangan di atas paha dan tidak dia memejamkan mata kecuali jika hal itu dapat membuat kalbunya lebih khusyu’ ketika berdzikir.
5. Disunahkan untuk mewangikan tempat dimana dia berdzikir, mengenakan pakaian yang bagus, suci dan baunya wangi. Sebab, majelis dzikir selalu dihadiri oleh para malaikat dan makhluk Allah lainnya, seperti yang tertera dalam hadits shahih.
6. Dianjurkan membaca wiridan dengan tartil atau perlahan, tidak membacanya dengan cepat dan salah dalam pelafalan.
7. Dianjurkan tidak menolah-noleh saat berdzikir.
8. Dianjurkan membaca hailalah dan wazhifah secara jahar (dengan suara yang keras) bagi laki-laki dan tidak demikian bagi perempuan. Dianjurkan pula membaca wiridan (pagi dan sore) dengan secara sirr (dengan suara lirih).
9. Dianjurkan mengubah posisi duduk saat wazhifah, yaitu sebelum urutan ketujuh dalam membaca shalawat jauharatul kamat menjadi posisi layaknya duduk dalam shalat, hal ini sebagai bentuk penghormatan bagi yang menghadiri prosesi pembacaan wazhifah, dimana dikatakan dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa wazhifah itu dihadiri oleh Rasulullah Saw dan khalifah yang empat (Abu Bakar Ra, ‘Umar Ra, ‘Utsman Ra dan ‘Ali Ra).
10. Dianjurkan mengangkat kedua tangan menjadi posisi berdo’a- pada pembacaan shalawat jauharatul kamal yang terakhir.
11. Harus berkumpul bersama ikhwan saat pembacaan hailalah dan wazhifah jika di daerah itu ada ikhwan-, hal ini merupakan salah satu syarat dalam pelaksanaannya. Namun jika tidak menemukan ikhwan di sekitarnya, maka dia boleh mengerjakannya seorang diri. Sementara dalam pembacaan wiridan pagi dan petang, dianjurkan membacanya sendiri.
12. Dianjurkan menghadirkan makna bacaan dzikir, hendaknya dirinya berusaha memasukkan kalbunya ke dalam wiridan dan juga dalam lafazh yang diucapkan.
13. Dianjurkan menghadirkan gambaran Rasulullah Saw, seolah-olah engkau sedang duduk di hadapan Rasulullah Saw dan memohon madad dari baginda Rasulillah Saw, baik berupa anwar maupun asrar. Hal itu dilakukan sebelum dan saat dirimu berdzikir.
Jika engkau belum berhasil menghadirkan gambaran Rasulullah Saw, maka cobalah hadirkan gambaran empu thariqah ini (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Jika engkau juga belum bisa menghadirkan gambaran Sayyidi Syaikh Ra, cobalah hadirkan gambaran gurumu dari para muqaddam dan khalifah yang engkau kenal. Sebab, semuanya ini ada dalam satu rentetan, maka jika engkau telah berhasil menghadirkan gambaran yang pertama, maka seolah-olah engkau telah menghadirkan gambaran yang terakhir tadi (gambaran Rasulullah Saw).
14. Orang yang terluput menghadirkan makna dzikiran, atau kekhusyu’annya pudar saat membaca wiridan atau wazhifah, maka dia bisa mengganti itu dengan membaca shalawat fatih satu kali atau membaca shalawat jauharatul kamal sebanyak tiga kali setelah membaca wiridan atau wazhifah.
15. Dianjurkan tidak makan dan minum saat membaca wiridan. Sebab, makan sesuatu sekalipun kadarnya sedikit dapat membatalkan wiridannya. Sementara makan dalam porsi yang banyak, maka itu dapat membatalkan wazhifah-nya.
16. Dianjurkan selalu dalam kondisi tenang dan diam setelah selesai membaca wiridan untuk menerima anwar serta detikan yang ada dalam kalbu. Dianjurkan pula agar dirinya selalu memendam hawa (kecondongan diri yang negatif), sehingga anwar dari dzikiran yang dibaca itu dapat meliputi semua kondisi jiwa.
17. Dianjurkan duduk dalam posisi bershaff atau bersila atau dalam berbentuk memutar.
18. Hendaknya sang murid memposisikan diri seperti biasanya dan melakukan apa yang biasa dia lakukan.
19. Dianjurkan berdo’a setelah membaca dzikiran, sebab waktu itu adalah waktu yang mustajab.
Perlu diketahui, semua adab yang telah kami sebutkan diatas telah dilakukan oleh pemeluk thariqah Tijaniyyah ini sejak awal dan juga orang-orang yang mengikuti mereka, dimana mereka semua dapat wushul kepada Allah Swt dan meraih maqamat tertinggi. Thariqah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ini merupakan thariqah yang cepat membuat seseorang wushul kepada Allah Swt, yaitu dengan keutamaan yang dimiliki Sayyidi Syaikh Ra; berupa kedudukan dan kecintaan beliau di sisi Allah Swt.
Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
