
Elsubha.com – Wiridan Thariqah Tijaniyyah
Wiridan yang lazim dibaca dalam thariqah Tijaniyyah ada tiga: Wiridan (pagi dan petang), wazhifah dan hailalah.
A. Wiridan Lazimah
1. Membaca istighfar, yaitu hanya dengan shighat أَسْتَغْفِرُ اللّٰه sebanyak 100 kali.
2. Membaca shalawat kepada Rasulullah Saw 100 kali dengan lafazh apa saja. Tetapi menggunakan shalawat fatih lebih utama. Jika seseorang telah mengawalinya dengan suatu bacaan shalawat, maka dia tidak boleh melengkapi bacaannya itu dengan lafazh shalawat yang lainnya.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ وَالْهَادِى إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ وَعَلَى اٰلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ
3. Membaca hailalah (tahlil), yaitu hanya dengan shighat ُلَا إلَهَ إِلَّا اللّٰه sebanyak 100 kali.
Wiridan ini dibaca satu kali di waktu pagi dan satu kali lainnya di waktu petang.
Beberapa Catatan Penting!
1. Waktu pilihan wiridan pagi: Setelah melakukan shalat Shubuh hingga sebelum masuk waktu Zhuhur. Waktu daruratnya: Sebelum masuknya waktu Zhuhur hingga datang waktu Maghrib.
Waktu pilihan wiridan petang: Setelah shalat Ashar hingga waktu Isya’. Waktu daruratnya: Dari Isya hingga waktu fajar tiba.
Apabila wiridan ini dibaca diluar waktu darurat, maka harus diqadha.
Waktu pilihan adalah waktu yang amat baik untuk membaca wiridan, sementara waktu darurat, itu adalah waktu dimana wiridan ini tidak boleh ditunda lagi pembacaannya, kecuali orang tersebut dalam keadaan darurat. Maka, barangsiapa yang membaca wiridan tidak pada waktu darurat ini, dia wajib mengqadhanya.
2. Diperbolehkan memajukan pembacaan wiridan pagi pada malam hari sekalipun tanpa adanya halangan, bahkan hal itu sangat dianjurkan. Sebab, pahala bacaan shalawat fatih pada malam hari itu berlipat ganda menjadi 500 kali lipat daripada dibaca di waktu pagi.
Waktu memajukan pembacaan wiridan pagi ini adalah pada malam hari, kira-kira seseorang mampu membaca 5 hizib dari Al Qur’an setelah shalat Isya’. Itu adalah waktu diantara shalat Isya dan sebelum fajar. Apabila fajar telah menyingsing namun pembacaan wiridan belum selesai sekalipun itu hanya tersisa membaca kalimat hailalah satu kali saja, hendaknya dia menyempurnakan dan kembali mengulangi pembacaan wiridan tadi dari awal, apa yang dibaca sebelumnya itu menjadi bacaan sunah.
Ada ulama yang berpendapat lain, bahwa dia hanya harus melengkapi bacaan wiridan yang kurang dan tidak perlu mengulanginya lagi dari awal, inilah dua pendapat yang masyhur dan sama-sama shahih dalam thariqah ini.
3. Tidak dibenarkan memajukan pembacaan wiridan petang dari waktunya kecuali ada alasan yang sangat mendesak, sebelumnya dia harus sudah membaca wiridan pagi, kemudian barulah membaca wiridan petang setelahnya.
4. Apabila sedang dalam kondisi menaiki sebuah kereta atau mobil, dia boleh membaca wiridan itu di tempatnya, yaitu jika memang sepatu yang dia pakai bersih. Namun, jika dia tidak yakin akan kesucian dan kebersihan sepatu itu, maka dia harus membuka dan menaruh kaki di atasnya. Dia tidak boleh menggerak-gerakkan kedua kakinya saat membaca wiridan. Ini semua dapat dilakukan jika kursi tempat dia duduk itu diyakini kesuciannya.
5. Jika seseorang bertayammum untuk shalat, kemudian ingin membaca wiridan, maka dia harus bertayammum kembali selain tayammum untuk shalat. Jika dia bertayammum untuk shalat saja, maka dia harus mengulangi tayammum itu. Sernentara jika dia bertayammum untuk membaca wiridan, maka dia boleh membaca semua wiridan pilihan selain Al Fatihah dengan niat isim a zham, (Isim A’zham adalah sebuah nama yang terkumpul didalamnya seluruh nama Allah. Lih. Mu’jam Isthalâhât Ash-Shufiyyah, ‘Abdurrazzaq Al Kâsyâni, hal 54). sebab wiridan itu harus dibaca dalam kondisi suci yang menggunakan air, begitu pula shalawat jauharatul kamal.
6. Saat shalat berjamaah telah didirikan, sementara dia sedang membaca wiridan, hendaknya dia bangun dan ikut shalat berjama’ah, kemudian melanjutkan bacaan wiridan tadi langsung setelah shalat itu selesai, dirinya tidak perlu disibukkan oleh kegiatan penutup shalat (dzikir setelah shalat) dan juga tidak boleh berbicara. Jika dia melakukan kegiatan penutup shalat, atau berbicara melebihi dua kalimat, maka wiridannya batal dan dia harus mengulanginya kembali.
7. Orang sakit, haid atau nifas diberi pilihan dalam membaca wiridan.
8. Orang yang ragu dengan jumlah hitungan wiridannya, baik hitungannya lebih ataupun kurang, hendaknya dia menetapkan jumlah bilangan yang sedikit. Setelah tuntas wiridan yang dia baca, dia harus membaca istighfar seratus kali dengan niatan jabr (menambal hal yang luput) berupa lafazh أَسْتَغْفِرُ اللّٰه sebelum bacaan wiridan yang terakhir.
Apabila dia yakin jumlah hitungan bacaan wiridan setelah selesai pembacaan itu, hendaknya dia langsung membaca istighfar dengan niatan jabr. Sementara jika dia yakin akan jumlah bilang bacaan wiridan yang lupa setelah dia selesai membaca wiridan dan sebelum penutup, maka dia harus membaca kekurangan jumlah itu, kemudian membaca istighfar 100 kali dengan niatan jabr.
9. Apabila ada seseorang yang menundukkan kepala, mengantuk lalu lupa, dimana dia mendahulukan sebagian rukun wiridan itu. Seperti contohnya, ada orang yang membaca istighfar lalu dia lanjut membaca hailalah sebelum membaca shalawat, hendaknya dia melupakan apa yang telah dia baca dan menetapkan bacaan wiridan itu pada hitungan awal yang sudah benar.
Maksudnya adalah, dia harus melupakan jumlah bacaan hailalah dan shalawat yang telah dia baca dan menetapkan bahwa dirinya baru membaca istighfar, lalu membaca sesuai urutan yang benar, kemudian dia wajib membaca istighfar dengan niatan jabr. Apabila seseorang dengan sengaja meninggalkan bacaan Istighfar dengan niatan jabr ini, maka wiridannya tadi batal.
10. Pembacaan wiridan dinilai batal jika dia dengan sengaja memajukan dan mengakhirkan rukun-rukunnya, atau juga dengan niatan menolak susunan rukun, atau sengaja meninggalkan satu dari syarat sahnya membaca wiridan.
11. Pembacaan wiridan dinilai batal jika dia sengaja mengurangi jumlah hitungannya. Sementara jika seseorang menambah-nambahi jumlah hitungannya, maka itu termasuk bagian dari adab yang buruk, namun tidak menjadikan wiridannya batal.
12. Pembacaan wiridan juga dinilai batal jika dia salah membaca lafazh wiridan hingga merubah makna lafazh wiridan itu.
13. Pembacaan wiridan juga dinilai batal jika dia makan atau minum sekalipun hanya sedikit.
14. Pembacaan wiridan juga dinilai batal jika dia tertawa yang sampai mengeluarkan suara.
15. Jika dia memulai bacaan wiridan dengan shalawat fatih umpamanya, lalu dia melengkapi kekurangan bacaannya itu dengan shalawat yang lainnya, maka wiridan semacam ini batal hukumnya.
16. Jika seseorang mendahulukan bacaan wiridan pagi, lalu dia ingat bahwa dirinya belum membaca wiridan petang, maka hendaknya dia menghentikan pembacaan wiridan itu. Jika dia ingat pada pertengahan membaca wiridan pagi yang dimajukan waktu pambacaannya, maka dia harus mengulanginya setelah pembacaan wiridan petang, sebab saat itu adalah waktu bagi wiridan petang.
Apabila seseorang hendak membaca wiridan petang setelah shalat Ashar dan dirinya ingat, bahwa dia belum membaca wiridan pagi, hendaknya dia menghentikan bacaan wiridannya itu dan membaca kembali dengan niatan wiridan pagi, dimana wiridan yang sebelumnya dia baca tidak dianggap, sebab waktu itu masih tersisa bagian dari waktu darurat pembacaan wiridan pagi.
17. Jika seseorang membaca wiridan petang setelah shalat Maghrib, lalu ingat bahwa dia belum membaca wiridan pagi, maka dia dapat menuntaskan bacaan wiridan yang sedang dibaca (wiridan petang), bacaan wiridan ini dianggap sah. Sebab waktunya ini adalah waktu pembacaan wiridan petang. Lalu dia meng-qadha pembacaan wiridan pagi itu.
Begitu pula kondisi orang yang ingat, bahwa dirinya belum membaca wiridan petang pada waktu Shubuh, yang mana saat itu dia sedang membaca wiridan pagi. Tidak disyaratkan harus membacanya dengan tertib (wiridan pagi baru kemudian petang atau sebaliknya) setelah kondisinya keluar dari waktu pembacaan wiridan.
18. Orang yang ragu akan jumlah bilangan istighfar setelah dia membaca hailalah, maka hendaknya dia melengkapi semua bacaan wiridannya itu, kemudian membaca apa yang dia ragu. Sebelum penutup, dia harus membaca istighfar 100 kali dengan niatan jabr.
19. Apabila seseorang mendapati, bahwa jumlah bilangan tasbeh yang dia miliki kurang dari 100 butir dan dia telah lama memakainya, maka dia hanya harus mengulangi wiridan yang terakhir kali dia baca saja.
20. Apabila seseorang dalam kondisi sedang membaca wiridan dan masuk waktu untuk hailalah (pada hari Jum’at). Jika ada sekelompok ikhwan yang membaca hailalah di sana, maka hendaknya dia menyelesaikan bacaan wiridannya itu kemudian ikut membaca hailalah bersama mereka.
Namun jika keberadaan sekelompok ikhwan itu tidak sempurna kecuali dengan keberadaan dirinya (dirinya seorang muqaddam misalnya), maka dia harus memotong bacaan wiridannya itu dan membaca hailalah bersama mereka.
21. Jika seseorang sedang membaca wiridan, lalu ada sekelompok ikhwan lain membaca wazhifah, hendaknya dia menyempurnakan pembacaan wiridannya itu kemudian ikut bersama mereka membaca wazhifah dan menyempurnakannya, sekalipun dia tidak sempat duduk bersamaan dengan mereka.
22. Jika seseorang sedang membaca wiridan dan Imam/khotib naik ke atas mimbar pada hari Jum’at, maka dia boleh menyempurnakan wiridannya itu.
23. Jika seseorang mengalami kejadian tasbehnya terjatuh dari tangan dan dia tidak mengetahui berhenti pada hitungan yang keberapa, hendaknya dia menetapkan jumlah sesuai dugaannya, kemudian menyempurnakan wiridannya, bahkan jika dia mau, dia boleh mengulanginya dari awal.
24. Orang yang membaca wiridan, dimana setelah selesai membaca wiridan, dia menemukan dibajunya ada sebuah najis, maka dia tidak perlu mengulangi wiridannya itu. Namun, jika dia melihat najis itu ditengah dirinya membaca wiridan; apabila najis itu masih basah dan mudah untuk dihilangkan, dia dapat membuangnya, kemudian menyempurnakan bacaan wiridan tersebut. Namun jika najis itu sulit untuk dihilangkan dan harus dicuci, maka dia harus mengulangi kembali wiridannya, kecuali jika dirinya ada pada waktu darurat yang hanya cukup untuk membaca wiridan itu, maka dirinya boleh menyempurnakan bacaan wiridan dengan najis yang ada, sebab hal ini lebih utama daripada dia membaca wiridan tanpa adanya najis dan diluar waktunya.
25. Saat seseorang ingin membaca wiridan, perlu ditentukan niatnya, dia juga harus menutup aurat, tidak berbicara dari awal hingga akhir bacaan wirid kecuali sangat terpaksa. Dirinya bisa memberikan isyarat kepada lawan bicaranya. Jika lawan bicara tidak paham juga dengan apa yang dimaksud, maka dia boleh berbicara satu atau dua kata, terkecuali kepada ayah, ibu dan juga istri kepada suaminya, dia boleh berbicara kepada mereka hingga tuntas dan kemudian dia melanjutkan wiridannya. Namun apabila dirinya berbicara banyak dengan mereka, maka dirinya harus memulai wiridan itu dari awal.
26. Diwajibkan menjawab ucapan salam, baik dengan perkataan maupun dengan isyarat, dianjurkan juga mendo’akan orang yang sedang bersin, menjawab suara adzan sekalipun dirinya sedang membaca wiridan.
27. Orang yang terkena najis yang di-ma ‘fu boleh membaca wiridan; baik berupa tetesan darah, nanah atau yang lainnya.
28. Barangsiapa yang membaca wiridan dengan durasi yang lama, tetapi dirinya tidak mengetahui persyaratannya, maka dia termasuk orang yang mencintai Allah Swt. Sebab, mengetahui persyaratan adalah wajib dan merupakan salah satu syarat dalam thariqah.
Jika ada muqaddam yang men-talqin-kan wiridan tanpa memberitahukan persyaratan thariqah terlebih dahulu, maka saat itu juga izin kemuqaddamannya batal.
29. Orang yang ragu akan wiridannya; apakah dia telah membacanya atau belum, sebaiknya dia mengulangi pembacaan wiridan itu. Lantas apakah rukun bacaan wiridannya itu sempurna atau tidak? Dalam hal ini dia harus menetapkan jumlah bilangan yang paling sedikit.
30. Orang yang meremehkan pembacaan wiridan, maka akan datang musibah yang menimpa harta, tubuh atau agamanya sebagai balasan dari Allah Swt kecuali jika dirinya kembali bertobat kepada-Nya.
B. Wiridan Wazhifah.
1. Membaca istighfar sebanyak 30 kali dengan redaksi :
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيمِ، الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ القَيُّومُ
2. Membaca shalawat fatih sebanyak 50 kali. Harus dengan shalawat fatih. Jika tidak, maka wazhifah-nya batal.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ وَالْهَادِى إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيْمِ وَعَلَى اٰلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ
3. Membaca hailalah (tahlil) sebanyak 100 kali.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
4. Membaca shalawat jauharatul kamal sebanyak 12 kali.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.
Wazhifah bisa dibaca satu kali di waktu pagi, satu kali di waktu petang atau bisa juga dibaca sehari satu kali. Jika dia membiasakan diri membacanya pada pagi hari, maka waktunya mengkuti waktu pembacaan wiridan pagi, begitu juga jika dia membiasakan diri membacanya pada waktu petang, maka waktu pembacaannya pun mengikuti waktu pembacaan wiridan petang.
Jika dia telah membiasakan diri untuk membaca wazhifah pada waktu pagi, kemudian ingin merubah waktu pembacaannya, maka dia juga harus membacanya pada waktu petang. Dianjurkan agar wazhifah ini bisa dibaca sehari dua kali pada hari dimana dia ingin merubah waktu pembacaannya; yaitu satu kali pada waktu pagi dan satu kali lainnya pada waktu petang. Jika dia ingin membaca wazhifah sebanyak dua kali dalam sehari, maka salah satunya dianggap sebagai bacaan sunah dan yang lainnya sebagai bacaan wajib.
Perkara yang biasa diamalkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan para sahabat beliau adalah, bahwa wazhifah ini adalah wiridan yang lazim dibaca oleh murid Tijany sebanyak satu kali dalam sehari, namun membacanya dua kali dalam sehari itu lebih utama, tidak ada waktu khusus untuk membaca wazhifah ini. Seorang murid dapat membacanya kapanpun dia inginkan, baik pada malam atau siang hari. Seorang murid juga boleh membaca wazhifah hari ini di waktu petang dan esok harinya di waktu pagi, serta pada hari berikutnya dia membaca wazhifah itu pada pertengahan hari di waktu siang.
Beberapa Catatan Penting!
1. Orang yang tidak hafal shalawat fatih, -bukan lantaran dia tidak bisa- maka wazhifah ini gugur baginya.
2. Orang yang tidak hafal shalawat jauharatul kamal bukan lantaran dia tidak bisa, atau persyaratan membacanya belum sempurna, yaitu tempatnya tidak dapat memuat enam orang atau dia bersuci dengan debu (ber-tayammum atau ber-istijmar) atau dirinya seorang wanita yang sedang haid atau nifas, maka dia harus menggantinya dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali.
Sementara jika seseorang sedang dalam kondisi khalwat, maka kondisi ini dikecualikan, dirinya boleh membaca shalawat jauharatul kamal, sekalipun tempat itu hanya cukup untuk satu orang saja.
3. Orang yang masbuq dalam pembacaan wazhifah, maka dia harus memulai bacaannya seperti yang ikhwan lain baca. Jika mereka sudah selesai membaca wazhifah tersebut, maka yang masbuq tersebut lanjut melengkapi kekurangan bacaan dirinya mulai urutan istighfar dan seterusnya.
Jangan mencegah wanita yang ikut membaca wazhifah bersama para ikhwan lainnya, jangan pula dia melanjutkan bacaan wazhifah tadi dengan memulainya dari awal, yaitu dengan membaca ta’awwudz, basmalah, shalawat fatih karena hal ini hanya dianjurkan bagi orang yang hadir dari awal pembacaan wazhifah.
4. Orang yang membaca wazhifah ketika sedang mengendarai hewan tunggangan, hendaknya dia turun dari hewan tunggangan saat dia akan mulai membaca shalawat jauharatul kamal. Hendaknya dia berhati-hati dan berusaha semaksimal mungkin agar jangan menginjak suatu najis di tengah jalan. Jika dia sudah membaca shalawat jauharatul kamal urutan ke tujuh, maka dia boleh kembali duduk di atas hewan tunggangan itu sampai bacaan wazhifahnya selesai.
Namun jika dia tidak mungkin melengkapi bacaan shalawat jauharatul kamal dengan duduk di atas hewan tunggangan, maka dia boleh membacanya dalam posisi berdiri atau sambil berjalan, dengan catatan tempat tersebut merupakan tempat yang suci. Jika tidak, maka harus menggantikannya dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali.
Sementara jika dirinya mengendarai kereta api atau mobil, maka dia dapat membaca wazhifah di tempat dirinya duduknya, yaitu dengan mengganti bacaan shalawat jauharatul kamal menjadi bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali. Dia harus melepas sepatu yang dikenakannya, jika tidak dapat dipastikan kesuciannya-dan menaruh kaki di atas sepatu tersebut. mla
5. Apabila dia ber-tayammum untuk melakukan shalat, dia boleh membaca wazhifah dengan tayammum ini. Sedangkan jika dirinya ber-tayammum untuk membaca wiridan dan kemudian ingin membaca wazhifah, maka dia harus ber-tayammum lagi untuk membacanya. Jika dia membacanya dengan tayammum untuk wiridan tadi, maka dia harus mengulangi pembacaan wazhifah tersebut.
6. Orang yang merunduk, mengantuk dan lupa, dimana dia memajukan sebagian rukun bacaan wazhifah ini dari rukun lainnya; contohnya seperti, dia sedang membaca istighfar kemudian berpindah spontan kebacaan hailalah sebelum dirinya membaca shalawat, maka dia harus menghentikan apa yang sedang dia baca dan beralih pada urutan bacaan yang benar. Yaitu dirinya harus menghentikan bacaan hailalah dan shalawat tersebut, serta menetapkan bahwa dirinya hanya baru membaca istighfar, yang kemudian sebelum penutup wazhifah, dirinya membaca istighfar sebanyak 100 kali dengan niatan jabr.
Namun jika dia bersama sekelompok ikhwan lainnya, maka dia tidak perlu membaca istighfar dengan niatan jabr itu. Dimana menambal hal yang luput dengan membaca istighfar hukumnya wajib. Jika hal ini ditinggalkan secara sengaja, maka wazhifah-nya batal.
7. Jika ada orang yang lupa suatu bacaan wazhifah, sementara orang tersebut membacanya bersama sekelompok orang, maka orang itu dan mereka harus membaca apa yang kurang dari bacaan wazhifah itu setelah semua rukunnya selesai, mereka tidak perlu membaca istighfar dengan niatan jabr.
8. Bersuci dengan air dan tempat yang suci nan memadai untuk enam orang merupakan syarat sahnya pembacaan shalawat jauharatul kamal, bahkan sekalipun dirinya hanya hendak membacanya satu kali saja. Apabila salah satu syarat ini tidak ada, maka dia dapat menggantikan bacaan shalawat jauharatul kamal ini dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali.
9. Orang yang merasa haus atau gatal, yang membuatnya terluputkan suatu bacaan wazhifah, jika dirinya mampu mengejar ketertinggalannya dan menyusul bacaan para ikhwan, maka dia boleh melakukan hal itu. Namun jika tidak, maka dia bisa menyempurnakan bacaan wazhifah itu bersama para ikhwan lainnya dan kemudian melengkapi bacaan yang tertinggal tadi setelah semua rukunnya selesai.
10. Orang yang mengeluarkan darah dari hidungnya saat membaca wazhifah; apabila darah yang keluar itu kental, maka dia boleh menyumbat hidungnya dan menyempurnakan bacaan wazhifah tersebut. Namun jika darah itu terus mengalir atau menetes, maka dia boleh membasuhnya; yaitu jika posisi tempat untuk mencucinya itu dekat, dirinya tidak menginjak najis pada jalan yang dia lewati itu dan juga tidak berbicara dengan seseorang. Setelah membasuh membersihkan darah itu, dan diapun dapat langsung menyempurnakan bacaan yang kurang, namun jika tidak memenuhi tiga hal di atas, maka dia harus mengulangi bacaan wazhifah itu dari awal. dan
11. Pembacaan wazhifah menjadi batal apabila dibarengi dengan makan dan minum saat membacanya.
12. Orang yang yakin, bahwa para ikhwan lebih dalam membaca suatu bacaan wazhifah, maka dirinya dapat memberikan peringatan kepada ikhwan lainnya, dirinya tidak malah ikut membaca bacaan yang jumlahnya lebih itu, justru dia malah harus menanti bacaan ikhwan yang lainnya dan mengakhiri pembacaan wazhifah itu bersama-sama dengan mereka.
13. Jika ada orang yang bersuci dengan cara ber-tayammum, dan ikut membaca shalawat jauharatul kamal bersama para ikhwan lain lantaran lupa akan cara bersucinya itu, maka dia harus mengulangi bacaan tersebut; yaitu menggantinya dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali.
14. Orang yang bersuci dengan debu dan dia membaca shalawat fatih sebanyak 20 kali sebagai ganti dari shalawat jauharatul kamal, apabila dia telah usai membaca shalawat fatih sementara para ikhwan belum selesai membaca shalawat jauharatul kamal, maka dia boleh pergi dan meninggalkan mereka.
15. Diwajibkan meng-qadha pembacaan wazhifah jika dalam waktu 24 jam wazhifah tidak dibaca.
16. Jika ada orang yang membaca wazhifah selepas Ashar di hari Jum’at, kemudian dirinya baru ingat, bahwa dia belum membaca wazhifah hari Kamis kemarin, maka dia harus membaca wazhifah hari Kamis kemarinnya, lalu kemudian mengulangi pembacaan wazhifah hari Jum’at tersebut. Sementara bagi orang yang membaca wazhifah pada hari Jum’at setelah maghrib, maka dia cukup membaca wazhifah hari Kamis kemarinnya tanpa perlu mengulangi pembacaan wazhifah hari Jum’at.
17. Jika ada orang yang masbuq dalam pembacaan wazhifah, kemudian nampak bahwa pada sekelompok ikhwan ini terdapat rukun bacaan yang kurang, dimana mereka kembali ke rukun bacaan yang kurang dan lalu menyempurnakan hingga akhir. Maka, hal yang wajib dilakukan bagi orang yang masbuq dalam kondisi ini adalah ikut kembali bersama mereka dan menyempurnakan bacaan sampai akhir bersama mereka. Jika semua sudah selesai, maka dia baru kemudian meng-qadha bacaan rukun yang luput itu.
18. Jika ada orang yang memiliki bau baadan atau bau mulut yang tidak sedap, baik ditubuhnya ada luka yang bernanah atau dirinya telah memakan buah bit, bawang merah atau juga bawang putih dan tidak menemukan penawar bau tersebut, maka dia harus membaca pengganti shalawat jauharatul kamal yang berupa bacaan shalawat fatih sebanyak 20 kali dan duduk di belakang shaf para ikhwan.
19. Jika engkau telah membaca wazhifah secara berjarnaah, kemudian menziarahi sesama ikhwan Tijany dan engkau temui mereka dalam kondisi membaca wazhifah secara berjama’ah; jika engkau ikut juga membaca wazhifah bersama mereka dan ada bacaan yang tertinggal, maka engkau tidak perlu meng-qadha bacaan tersebut. Sebab, keikutsertaan dirimu membaca wazhifah bersama mereka termasuk dalam ulasan hadits,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا
“Jika engkau melewati taman surga, maka nikmatilah apa yang ada di dalamnya. ” (HR. At-Tirmidzi; dimana dia menilai hadits ini hasan, Ahmad; Al Baihaqi; Abu Ya’lâ; Abu Nu’alm; Ibnu ‘Asäkir dalam Târikh-nya dari riwayat Anas; At-Tirmidzi; dia menilainya hasan, dari riwayat Abu Hurairah; Ath-Thabrani dalam Al Kabir dari riwayat Ibnu ‘Abbas; Abu Nu’aim dari riwayat Ibnu ‘Umar.)
20. Jika ada orang yang membaca wazhifah, kemudian melihat di bajunya terdapat najis yang di-ma’fu, maka dia tidak diperbolehkan membaca shalawat jauharatul kamal dan mengganti bacaan itu dengan shalawat fatih sebanyak 20 kali, hal ini dilakukan jika ditakutkan waktu untuk membacanya tidak cukup, atau dirinya tidak menemukan air di sana.
Namun, jika tidak dalam kondisi ini, maka dia harus mencuci dan membersihkannya, lalu melanjutkan bacaan shalawat jauharatul kamal, hal ini diperbolehkan jika jangka waktu pembersihan najis itu tidak lama. Tetapi jika pembersihan najis itu membutuhkan waktu yang cukup lama, maka dia harus memulai bacaan wazhifah itu dari awal.
21. Jika engkau yakin, bahwa dalam bacaan wazhifah sekelompok ikhwan itu kurang satu rukunnya, atau ada keraguan akan jumlah hitungan; apakah mereka sedang membaca rukun bacaan wazhifah yang ketiga atau yang keempat, maka mereka wajib kembali kepada rukun bacaan yang kurang saat mereka ingat, lalu mereka membaca apa yang mereka anggap kurang atau ragu, kemudian mereka lanjutkan bacaan sisa rukun wazhifah yang ada sampai akhir, mereka tidak perlu membaca istighfar sebanyak 100 kali dengan niatan jabr.
22. Wazhifah harus dilakukan secara berjamaah. Jika para ikhwan meremehkan prihal membaca wazhifah secara berjamaah ini dalam suatu negara, maka negara tersebut akan tertimpa musibah. Sebab, pembacaan wazhifah ini akan memberikan efek aman bagi suatu Negara.
Yang dimaksud dengan hailalah adalah berdzikir menyebutkan kalimat
لَا إلَهَ إِلَّا اللّٰه
Tiada Tuhan yang patut disembah selain Allah), hal ini dilakukan pada hari Jum’at setelah shalat Ashar, kira-kira berdurasi satu jam sampai adzan maghrib menjelang.
Jika suatu kelompok ingin menetapkan suatu jumlah bilangan dalam membaca hailalah ini, maka jumlah bilangannya itu mulai dari 1000 hingga 1600. Jika mau, mereka boleh menambahkannya dari jumlah yang telah kami sebutkan. Kondisi bacaan hailalah tersebut harus menyambung dengan tenggelamnya matahari (waktu adzan Maghrib).
Demikian penulis rangkum penjelasan detail mengenai hitungan bilangan yang diriwayatkan dari beberapa tokoh Tijany:
– Jumlah hitungan 1000 kali: Ini merupakan riwayat dari khalifah agung Sayyidi Muhammad bin Abi An-Nashr Al ‘Alawi dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
– Jumlah hitungan 1200 kali: Ini merupakan riwayat dari Sayyidi Muhammad Al Hafizh Asy-Syinqithi.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.
– Jumlah hitungan 1200 atau 1500 kali: Ini merupakan riwayat Sayyidi Ibrahim Ar-Riyahi.
– Jumlah hitungan 1600 kali: Ini merupakan riwayat As-Sayyid Muhammad Al Ghali.
Paparan diatas dapat kita rangkum, bahwa riwayat yang ada dalam berbagai literatur thariqah Tijaniyyah menunjukkan hitungan minimal yang sudah disepakati para ulama Tijany, yaitu bagi yang membacanya sendirian adalah 1000 kali bacaan hailalah dan jika dia membacanya bersama sekelompok ikhwan, maka batasan minimalnya adalah 300 kali (Ini khusus bagi masyrab tertentu dan terikat dengan izin/ijazah khusus sehingga tidak boleh diamalkan tanpa adanya ijazah khusus.) bacaan hailalah.
Rasulullah Saw akan hadir pada pembacaan hailalah sejak awal hingga akhir.
Hari Jum’at dikhususkan untuk pembacaan hailalah dikarenakan beberapa perkara:
1. Di kolong langit, hari Jum’at juga disebut dengan hari tambahan kebaikan.
2. Disebutkan dalam Ash-Shahih, bahwa Dajjal akan keluar pada hari Jum’at setelah Ashar, dimana saat itu para ikhwan sedang membaca hailalah, sehingga Dajjal tidak dapat menguasai mereka.
3. Diriwayatkan dari banyak salafus shalih diantaranya adalah para Abadilah ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin Mas’ud, ‘Abdullah bin Az-Zubair dan ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash-, bahwa waktu diijabahnya suatu doa pada hari Jum’at terletak pada waktu yang bersambung dengan tenggelamnya matahari.
Diriwayatkan dari Rasulullah Saw dari Allah Swt,
مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ.
“Barangsiapa yang menyibukkan diri dengan berdzikir kepada-Ku daripada meminta sesuatu kepada-Ku, maka Aku akan berikan padanya hal yang paling utamadari segala yang pintakan oleh orang-orang yang meminta kepada-Ku.” (HR. Al Bukhari dalam Tarikh-nya dan juga dalam pembahasan: Penciptaan Ragam Perbuatan Hamba; Al Baihaqi; Al Bazzar; Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah, Asy-Syihab Al Qadhdha’i; Ath-Thabrâni dalam Ad-Du’a, Ibnu Syahin; Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh-nya dari riwayat ‘Umar bin Al Khaththab; Al Baihaqi dan Asy-Syihab Al Qadhdha’i dari riwayat Jabir bin ‘Abdillah Ra; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi dan Ahmad dalam Az-Zuhd dari riwayat Malik bin Al Harits; Ibnu Abi Syaibah dari riwayat ‘Amru bin Murrah; Abu Nu’ain dalam Al Hilyah, dari riwayat Hudzaifah bin Al Yaman. Dimana ada pula riwayat yang senada dengan hadits di atas yaitu:
مَنْ شَغْلَهُ القُرْآنُ وَ ذِكْرِي عَنْ تشأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أَعْطِي السَّائِلِينَ
“Barangsiapa yang menyibukkan diri dengan Al Qur’an dan berdzikir kepada-Ku daripada meminta sesuatu kepada Ku; maka Aku akan berikan padanya hal paling utama dari segala yang pintakan oleh orang-orang yang meminta kepada-Ku” (HR. At-Tirmidzi; dimana beliau menilai hadits ini hasan).
4. Dikarenakan semua amal perbuatan ditampakkan kepada Allah Swt pada hari Jum’at diwaktu-waktu ini, sehingga yang menjadi akhir catatan amal perbuatan kita hari itu adalah kalimat “لَا إلَهَ إِلَّا اللّٰه” .Dan juga mengawali hari berikutnya juga dengan kalimat yang sama, yaitu “لَا إلَهَ إِلَّا اللّٰه” dengan inilah Allah mengampuni dosa sang hamba diantara kedua waktu ini.
Beberapa Catatan Penting!
1. Orang terluputkan membaca hailalah pada hari Jum’at, maka dia tidak bisa meng-qadha-nya. Namun bagi orang yang ingin mendapatkan ganjaran bacaan hailalah ini, dia bisa membaca shalawat fatih sebanyak 500 kali, hal ini seperti keterangan yang banyak disebutkan oleh para pembesar thariqah, sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
2. Orang yang memiliki suatu udzur (halangan) yang dibenarkan, yaitu udzur yang menghalangi dirinya untuk dapat membaca hailalah hingga tenggelamnya matahari, maka dia bisa membaca sejumlah hitungan hailalah setelah shalat Ashar, kemudian dia bisa melanjutkan pekerjaannya itu.
Jika kondisi waktunya sempit, yang mana dalam jangka waktu yang sempit itu dirinya hanya mampu membaca kalimat, “اللّٰه” sebanyak 1000 kali, maka dia termasuk orang yang sudah membaca hailalah.
3. Dalam pembacaan hailalah ini, diperbolehkan untuk membaca dalam semua waktu itu kalimat لَا إلَهَ إِلَّا اللّٰه atau juga boleh pada sebagian waktunya membaca kalimat “اللّٰه” sejumlah hitungan hailalah, bahkan hal ini boleh dilakukan meski tanpa adanya udzur.
4. Dalam pembacaan hailalah, disyaratkan untuk melakukannya secara berkelompok dan dengan suarayang jahar (lantang), dengan posisi duduk yang melingkar atau bershaf-shaf atau juga berbentuk segi empat.
5. Sementara bagi wanita, dia tidak boleh membaca hailalah dan wazhifah dengan suara yang jahar (lantang), kecuali jika mereka berkumpul sesama kaun wanita dan tidak ada lelaki yang mendengar. Jika demikian kondisinya, maka mereka boleh untuk mengeraskan suara dalam membaca hailalah dan wazhifah.
6. Negeri manapun yang tidak mengharuskan membaca suatu dzikiran secara berkelompok, khususnya hailalah pada hari Jum’at, maka hal itu merupakan bentuk meremehkan thariqah yang menyebabkan gugurnya izin dalam thariqah. -Na’udzu billah min dzalik.-
7. Beragam hukum hailalah bagi orang yang bersuci dengan cara tayammum adalah sama dengan hukum membaca wiridan.
8. Orang yang disibukkan oleh sesuatu pada hari Jum’at dari membaca hailalah, sehingga waktu yang ada itu menjadi sempit, kondisi saat itu mengharuskan dirinya berwudhu, namun dirinya takut jika berwudlu, waktu pembacaan hailalah itu telah habis, maka dia boleh membaca hailalah tanpa berwudhu. Namun jika waktunya masih lama, maka dia harus berwudhu terlebih dahulu. Jika tidak, maka pembacaan hailalah-nya itu menjadi batal.
D. Maqashid Dzikir
Maqashid dzikir adalah beragam bacaan sunah yang dibaca sebelum, saat membaca dan setelah membaca wiridan, hailalah serta wazhifah.
Pertama: Tahapan Dalam Pembacaan Wiridan.
Sebelum membaca wiridan, hendaknya dia membaca surah Al Fatihah, lalu membaca shalawat fatih satu kali, yang dilanjutkan dengan membaca,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai keperkasân dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”(Qs. Ash-Shaffât [37]: 180-182).
Di akhir wiridan membaca
سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ، عَلَيْهِ سَلامُ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الذِّيَنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Penghulu kami Muhammad utusan Allah, semoga keselamatan selalu tercurahkan bagi beliau, sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Kemudian dia berdo’a sesuai yang dia inginkan.
Lalu membaca surah Al fatihah
Dilanjutkan dengan membaca
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامُ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Mahasuci ” Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” (Qs. Ash-Shaffat [37]: 180-182).,Kemudian membaca *
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الذينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Kedua: Tahapan Dalam Pembacaan Hailalah.
Sebelum membaca hailalah, bacalah urutan-urutan sebelum memulai suatu dzikiran seperti biasanya.
Setelah pembacaan hailalah juga membaca urutan-urutan di atas, yaitu urutan bacaan setelah selesai membaca dzikiran.
Ketiga: Tahapan dalam Pembacaan Wazhifah.
Sebelum membaca wazhifah, dia membaca surah Al Fatihah terlebih dahulu.
Kemudian membaca shalawat fatih dan setelahnya membaca,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامُ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”(Qs. Ash-Shaffât [37]: 180-182).
Diakhir pembacaan wazhifah, dia kemudian membaca,
إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الدِّينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيما، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامُ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ اللَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”
E. Permasalahan Yang Banyak Ditemukan
➤ Dianjurkan menghadiahkan semua bacaan wiridan kepada Rasulullah Saw sebagai perwakilan dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan berkeyakinan, bahwa sebenarnya Allah Swt telah mencukupi Nabi Saw dari hadiah yang kita kirimkan kepada beliau, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى
wa lasaufa yu’thiika robbuka fa tardhoo
“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 5)
Sebenarnya apa yang kita perbuat ini sejatinya sudah ada di lembaran Nabi Saw tanpa perlu kita hadiahkan kepada beliau, sebab beliaulah asal dari amalan ini dan beliau pulalah yang mengajarkan hal tersebut.
Akan tetapi kita melakukan pemberian hadiah semua wiridan ini kepada beliau sebagai simbol tambahan cinta kita kepada beliau dan bukan untuk tujuan yang lain.
Prinsip amalannya orang khusus, bahwa mereka senantiasa menghadiahkan semua pahala amal perbuatan, baik itu fardhu maupun sunah kepada Nabi Saw, sehingga mereka tidak melihat, bahwa itu adalah hasil usaha mereka, akan tetapi itu adalah wujud perwakilan dari Rasulullah Saw.
➤ Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Tidak diperbolehkan shalat di belakang orang yang membenci Syaikh. Sebab, imam shalat adalah orang yang didahulukan, lantas bagaimana bisa murid Tijany menjadikan orang lain sebagai orang yang didahulukan, sementara dia membenci gurunya (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Ini adalah bentuk perwakilan murid Tijany kepada orang yang membenci dan bentuk perbuatan yang menyalahi tabiat yang baik.”
➤ Apabila seorang muqaddam murtad, maka orang yang telah mengambil wiridan darinya dianjurkan untuk memperbaharui izin thariqahnya kepada muqaddam lain. Jika tidak memperbaharui izinnya dalam thariqah itu, maka dia tidak memiliki pegangan sama sekali sekalipun sebagai pemeluk thariqah.
➤ Barangsiapa yang tidak bersuluk di dalam thariqah dan tidak jadzab di dalamnya, maka dia hanya termasuk orang yang telah mengambil wiridan, namun bukanlah seorang Tijany. Sebab Tijany itu adalah orang yang bersuluk didalam thariqah, atau dirinya memperoleh jadzab khusus dalam berthariqah.
➤ Apabila seorang murid Tijany ditanya, “Apakah engkau seorang pengamal Tijany?” lantas dia menjawab, “Bukan,” maka izin thariqahnya secara otomatis gugur.
➤ Seorang murid Tijany boleh berziarah kepada semua wali, selagi ziarahnya itu dengan niatan lillahi ta’ala dan bukan untuk meminta madad dan tabarruk kepadayang diziarahi. Bahkan mereka boleh saja berziarah dengan ziarah yang disyariatkan, yaitu berupa memberi salam kepada mereka, mendo’akan mereka, memberikan bacaan do’a-do’a yang matsur, begitu juga ayat-ayat Al Qur’an.
Sedangkan jika dirinya berziarah dengan maksud untuk mengalap berkah, maka izin thariqahnya secara otomatis gugur saat itu juga, kecuali jika yang dia ziarahi itu adalah para sahabat Nabi.
➤ Perlu diketahui, bahwa jika kecintaan seorang murid kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah terhujam kuat didalam hatinya, niscaya kuat pula ikatan dirinya dengan thariqah, dirinya kelak sampai menilai bahwa tidak ada suatu keterkaitan diri kecuali dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dirinya pun tidak akan meminta madad kepada para wali selain beliau, baik wali itu masih hidup maupun sudah meninggal dunia, bahkan sekalipun ada wali quthb masa kini yang sampai memperlihatkan beragam karamah miliknya yang menunjukkan kewalian dirinya secara khusus, maka murid yang seperti ini tidak akan pernah menoleh kepadanya lantaran adanya kecintaan kuat yang terhujam pada Syaikhnya (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Apabila kondisi seorang murid seperti ini, maka dia tidak akan mendapatkan kemudharatan jika berkumpul dengan wali lainnya, menziarahi kuburan mereka dan juga membaca berbagai karangan mereka.
➤ Terkait dengan menggunakan ilmu asrar, wafaq dan ilmu huruf serta semisalnya. Dinukil dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa beliau pernah menggunakan semua itu pada awal mula perjalanan spiritual sampai beliau dapat melihat Rasulullah Saw secara terjaga, dimana Rasulullah Saw melarang itu semua dan memerintahkan beliau untuk menyibukkan diri dengan shalawat fatih pada segala tingkatan yang ada didalamnya dan juga menyibukkan diri dengan isim a’zham.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah memakai wafaq guna menggapai martabat yang beliau tunggu-tunggu dan bukan untuk tujuan keduniawiaan. Jika seseorang memakai wafaq untuk tujuan keduniawiaan, maka hal itu jelas dilarang oleh syari’at.
➤ Barangsiapa yang melihat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dalam mimpi atau secara terjaga dan beliau memerintahkan untuk berdzikir dengan dzikiran khusus, atau suatu wiridan baik yang ada didalam maupun wiridan diluar thariqah, atau juga beliau mengizinkannya untuk mentalqin wiridan bagi orang yang memintanya, maka sungguh itu adalah izin yang shahih dan dapat dijadikan sandaran. Dirinya boleh mentalqinkan wiridan yang telah Sayyidi Syaikh Ra izinkan kepadanya, baik berupa dzikiran umum maupun dzikiran khusus.
➤ Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra selalu membiasakan diri untuk membaca ayat kursi pada raka’at pertama shalat Shubuh dan membaca surah Al Qadr pada raka’at keduanya, beliau melakukan hal ini sampai ajal menjemput.
➤ Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga selalu membiasakan diri membaca
سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ ، وَلاَ إِلَهَ إلا اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِلْءَ مَا عَلِمَ، وَعَدَدَ مَا عَلِمَ، وَزِنَةَ مَا عَلِمَ
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah tidak terbatas dengan apa yang diketahui, jumlah yang diketahui dan timbangan yang telah diketahui,”
sebanyak satu kali dalam shalat, yaitu pada sujud pertama (setelah bacaan tahmid yang biasa dibaca dalam sujud- pent.). Dalam sebuah riwayat dinyatakan, bahwa beliau membacanya sebanyak tiga kali.
Sedangkan pada sujud kedua beliau membaca shalawat fatih sebanyak satu atau tiga kali. Dalam artian, bahwa pada setiap sujud dalam shalat, beliau menggabungkan antara do’a dan shalawat fatih.
F. Shalawat Fatih.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammaddinil Fatihi Lima Ughliqo Wal Khotimi Lima Sabaqo, Nashiril Haqqi Bil Haqqi Wal Hadi Ila Shirotikal Mustaqim Wa Ala Alihi Haqqo Qodrihi Wa Miqdarihil Azhim.
“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami Nabi Muhammad pembuka yang terkunci, penutup dari yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar dan penunjuk kepada jalan-Mu yang lurus dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.”
Di saat Allah Swt memerintahkan kami (manusia) untuk bershalawat kepada Rasulullah Saw, dimana ruh para wali Quthb dan ‘Arifin tertuju kepada beliau, mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, Nabi-Mu ini telah berbuat dengan kebaikan yang sempurna kepada kami, kami adalah hamba-Mu, kami tidak memiliki keutamaan pada amalan kami sedikitpun, namun kami harus memberikan balasan untuk beliau.”
Lisan ahwal Rasulullah Saw kala itu menyatakan, “Tiada yang aku ketahui selain Tuhanku.” Lalu Engkau wahai Tuhanku berfirman,
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
innalloha wa malaaa-ikatahuu yusholluuna ‘alan-nabiyy, yaaa ayyuhallaziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)
Dengan hal ini, maka kebingungan kami pun semakin menjadi-jadi, seorang hamba sejatinya tidak memiliki sesuatu yang cukup untuk dijadikan sebagai balasan, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا للّٰهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُوْنَ
wallohu kholaqokum wa maa ta’maluun
“padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 96)
Dengan ini, maka kebutuhan kami terhadap-Mu semakin menjadi-jadi. Dalam sebuah kaidah disebutkan, “Barangsiapa yang membesar-besarkan penghambaan dirinya, maka Tuannya akan mencukupi kebutuhannya dan siapa yang merendahkan penghambaan dirinya, maka Tuannya pun akan menolaknya, sehingga tidak ada imbalan dan juga pertolongan.”
Engkau tahu apa yang cocok bagi Nabi Saw dan bisa mengugurkan kewajiban kami dalam membalas jasa beliau, Engkau bershalawat di hadapan kemuliaan-Mu, sebagai perwakilan dari lemahnya penghambaan kami dengan shalawat yang mencakup segala keagungan Nabi Saw, Engkaulah yang hanya mampu melakukan itu, sebab beliau itu adalah hamba dan makhluk-Mu.
Saat Engkau wahai Allah, telah mengetahui kelemahan dan buruknya adab kami, Engkau tampakkan kepada kami shalawat-Mu kepada beliau pada masa azali dengan shalawat yang abadi – perkara ini merupakan ilham yang diperbolehkan bagi para wali Allah- dan Engkau mudahkan kami sehingga kami dapat membacanya dengan lisan, akal kami pun mampu menangkap Itu. Tiada seorang pun yang pernah bershalawat semisal shalawat fatih ini dalam alam ruh dan alam asybah ini.
Barangsiapa yang membaca shalawat ini dengan segala persyaratan dan adabnya, maka akan dikabulkan apa yang dimintanya, bahkan seandainya di dunia ini dibacakan beribu-ribu shalawat semisalnya, maka satu bacaan shalawat ini memiliki nilai yang lebih banyak dari shalawat yang lainnya.
A. Kandungan dan Makna dalam Shalawat Fatih
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ
Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammaddinil Fatihi Lima Ughliqo Wal Khotimi Lima Sabaqo, Nashiril Haqqi Bil Haqqi Wal Hadi Ila Shirotikal Mustaqim Wa Ala Alihi Haqqo Qodrihi Wa Miqdarihil Azhim.
“Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan atas penghulu kami Nabi Muhammad pembuka yang terkunci, penutup dari yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar dan penunjuk kepada jalan-Mu yang lurus dan juga (curahkanlah rahmat dan keselamatan) atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra pernah menjelaskan kandungan maknanya sebagai berikut:
1. Redaksi “اللَّهُمَّ صَلِّ“
Ini merupakan hak Allah Swt dalam bershalawat kepada Nabi-Nya (Nabi Muhammad Saw), juga sifat yang selalu ada. Dengan catatan, bahwa shalawat ini sesuai dengan keagungan dan kemuliaan-Nya. Maka di saat engkau mengatakan ” اللَّهُمَّ” , maksudnya adalah, aku ber-tawassul kepada-Mu dengan segenap nama-nama-Mu, untuk menjadi wakil-Mu dengan segenap keutamaan yang datangnya dari-Mu, sebab Engkau telah membebaniku dengan hal yang tidak mampu kulakukan, yaitu bershalawat kepada sosok yang tidak dapat aku nalar kesempurnaannya, sebagaimana Engkau pula yang telah mewakilkanku untuk membaca shalawat ini. Lalu dilanjutkan “صَلِّ” , maksudnya adalah kekalkanlah kekhilafahan beliau Saw yang mencakup seluruh lapisan makhluk dan kokohkanlah agama beliau selagi dunia masih berdiri kokoh, tinggikanlah derajat beliau. Jangan Engkau hinakan beliau Saw dengan memberikan adzab kepada seorang pun dari umatnya.
2. Redaksi “عَلىَ سَيِّدِنَا“
Maksudnya adalah, bahwa Nabi Muhammad Saw adalah khalifah Allah dalam lautan ijad dan imdad, beliau memberikan madad dengan cahaya Dzat yang selalu ada, sebagai wakil dan khalifah Allah Swt. Wahai Allah, setiap yang Engkau jadikan penghulu, maka Engkau benar-benar telah menjadikannya sebagai penghulu. Tidaklah seseorang menjadi penghulu di dunia dan di alam arwah ini kecuali hal itu semata-mata dengan nampaknya keagungan ruh beliau (Nabi Muhammad Saw). Ruh beliau memberikan madad kepada ruh kita, sisi kemanusiaan beliau selalu memberikan madad kepada sisi kemanusiaan kita. Puji syukur bagi Allah yang telah mencocokkan sisi kemanusiaan kami dengan beliau dalam segala hakikat. Oleh karena itu, apa yang Engkau beri kepada beliau wahai Allah, sungguh kami pun turut mendapatkan keutamaan itu. Disaat Engkau bershalawat kepadanya, Engkau (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) berfirman kepada kami,
هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
huwallazii yushollii ‘alaikum wa malaaa-ikatuhuu liyukhrijakum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43)
Sungguh betapa mulianya sisi kemanusiaan di sisi-Mu wahai Tuhanku! Bagaimana pikiran kami tidak menjadi kacau terhadap dunia ini, sementara Engkau telah memberikan sebuah indikasi kegembiraan yang meluap-luap kepada kami berupa firman-Mu,
هُوَ الَّذِيْ يُصَلِّيْ عَلَيْكُمْ وَمَلٰٓئِكَتُهٗ لِيُخْرِجَكُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
huwallazii yushollii ‘alaikum wa malaaa-ikatuhuu liyukhrijakum minazh-zhulumaati ilan-nuur, wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa
“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43).
Juga firman-Mu,
لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
laqod jaaa-akum rosuulum min angfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil-mu-miniina ro-uufur rohiim
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 128)
Sungguh Engkau telah mengagungkan dan meninggikan derajat kami. Kemuliaan Nabi Saw tersebar secara umum pada para nabi dan malaikat, tidaklah para nabi mulia kecuali itu merupakan wakil dari kemuliaan Nabi Muhammad Saw. Kemuliaan beliau merupakan pangkal setiap kemulian yang ada, semoga Engkau berkenan bershalawat kepadanya Ya Allah, dengan shalawat dan salam yang dapat memasukkan ruhku dalam menjaga ruh beliau dengan kemampuan-Mu, baik itu secara terjaga maupun dalam kondisi mimpi…Amîn.
3. Redaksi “مُحَمَّدٍ“
Maksudnya adalah, bahwa beliau Saw merupakan sosok yang dipuji oleh semua makhluk saat semuanya masih menjadi tulang belulang, juga pada semua alam yang ada. Jibril dan Israfil merupakan petugas pengibar panji Nabi Saw, mereka itu layaknya keluarga beliau.
Sementara mengenai rasa takut Nabi Saw saat beliau melihat Jibril As dengan enam ratus sayapnya, hal ini dikarenakan saat itu Nabi Saw melihatnya dengan gambaran kemanusiaan beliau, sementara Jibril As nampak dengan gambaran ruhaniahnya, maka tidak ada kecocokan antara keduanya. Jika sisi ruhaniah Nabi Saw yang keluar saat itu, maka Jibril As layaknya satu dari banyaknya burung pipit kecil.
Dalil mengenai hal ini adalah, adanya sebuah sabda Nabi Saw,
مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي بِالْمَلَإِ الأَعْلَى ، وَجِبْرِيلُ كَالْحِلْسِ الْبَالِي مِنْ خَشْيَةِ الله
“Suatu malam dimana aku dimi’rajkan oleh Allah, aku melihat Jibril itu seperti hils (Al Hils adalah kain tipis yang biasanya ada di atas punggung unta) lantaran ketakutannya terhadap Allah. ” (HR. Ath-Thabrâni dalam Al Ausath dengan sanad yang shahih, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah, Ibnu Abi Ad-Dunya; Ibnu ‘Asäkir dalam Tarikh-nya dari riwayat Jabir bin ‘Abdillah.)
Muhammad merupakan nama beliau di dunia, Mahmud nama beliau di langit. Ahmad adalah nama beliau yang ada di dalam Taurat; nama Mahmud adalah wujud yang nampak di luar, sedangkan Muhammad adalah wujud bathinnya dan Ahmad adalah sisi terdalam dari bathinnya sosok beliau.
4. Redaksi “الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ“
Maksudnya adalah, pembuka gambaran beberapa akwan, sejatinya semua akwan ini terkunci dalam hijab bathin, maka beliaulah sosok yang membuka hijab yang tertutup, beliau keluar dari wujud ketiadaan hingga menjadi ada (berwujud manusia), hal ini semata-mata karena keutamaan yang dimiliki oleh sosok beliau Saw. Jika bukan karena keutamaan beliau, maka Allah Swt tidak akan menciptakan makhluk atau membuat sesuatu yang awalnya tidak ada menjadi ada.
Dalam sebuah hadits disebutkan percakapan antara Allah Swt dengan Nabi Adam As, Allah Swt berfirman kepadanya,
وَلَوْلَاهُ مَا خَلَقْتُكَ
“Jika bukan karenanya (Nabi Muhammad Saw), maka Aku tidak akan menciptakanmu. ” (HR. Ath-Thabrâni dalam Al Ausath dan Ash-Shaghir, Al Ajuri dalam Asy-Syari’ah; Al Hakim; dimana dia menilai hadits ini shahih, Abu Nu’aim; Al Baihaqi dalam Ad-Dala ‘il Ibnu Asakir dari riwayat ‘Umar bin Al Khaththâb.)
Jika bukan karena Nabi Muhammad Saw, maka tidak akan terbuka beragam hijab yang terkunci tersebut. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ
wa maaa arsalnaaka illaa rohmatal lil-‘aalamiin
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 107)
Jika bukan karena Nabi Muhammad Saw, maka kalbu yang telah tertutupi beragam keburukan tidak akan pernah terbuka lagi dengan keimanan. Jika bukan karena Nabi Muhammad Saw, maka pintu surga tidak akan pernah dibuka, sebab beliaulah orang yang pertama kali membuka pintu surga.
5. Redaksi “وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ“
Maksudnya adalah, bahwa beliau Saw merupakan penutup kenabian dan juga risalah-Nya. Beliaulah yang menutupnya, sehingga tidak ada nabi setelah beliau Saw.
6. Redaksi “نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ“
Maksudnya adalah, bahwa beliau (Nabi Muhammad Saw) itu menolong Allah Swt dengan apa yang Allah berikan kepada beliau Saw.
7. Redaksi “وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ“
Maksudnya adalah, bahwa beliaulah (Nabi Muhammad Saw) yang menunjukkan semua hamba Allah Swt kepada agama-Nya yang lurus.
8. Redaksi “وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ“
Maksudnya adalah, bahwa orang yang bershalawat kepada beliau Saw memohon kepada Allah Swt yang mengetahui kadar keagungan Nabi-Nya, agar Allah Swt berkenan untuk bershalawat (curahkanlah rahmat dan keselamatan) kepada Nabi Saw sesuai dengan kadar pengetahuan Allah akan keagungan Nabi Saw dan juga atas keluarganya dengan sebenar-benar kekuasaan dan ukuran Allah yang Maha Agung.
B. Keutamaan Shalawat Fatih.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Seluruh umur dari manusia banyak yang terbuang sia-sia, kecuali pengamal shalawat fatih lima ughliq ini, sebab mereka mendapatkan keuntungan dunia dan akhirat. Orang yang mampu menyatu dengan shalawat ini tak lain adalah orang yang beruntung. Kekhususan shalawat fatih ini merupakan rahasia illahi yang tidak bisa dinalar. Seandainya ada 100 ribu umat, dimana setiap umat itu ada 1000 kabilah, yang di setiap kabilah itu ada 100 ribu orang, dimana setiap orang itu mampu hidup selama 1000 tahun, dimana setiap dari mereka itu melantunkan shalawat kepada Nabi Saw dengan selain shalawat fatih. Maka pahala bacaan semua dzikir umat yang ada dalam kurun semua tahun itu, tidak sama seperti pahala membaca satu kali shalawat fatih.”
Seorang wali quthub Sayyidi Muhammad Fathan Al Bakiri Ash-Shiddiqi telah memohon kepada Allah Swt selama 40 tahun agar Allah Swt memberikannya bacaan shalawat Nabi Saw yang mencakup pahala semua shalawat yang ada, lalu malaikat datang membawa shalawat yang tertulis dalam lembar kertas dari cahaya.
Akan tetapi Allah Swt tidak tampakkan pada beliau beberapa sisi kekhususannya seperti yang Allah Swt berikan kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra -Hal ini sudah dijelaskan dalam Ad-Durrah Al Kharidah karya Al Imam An-Nazhifi- Dimana Sayyidi Al Bakiri juga tidak dizinkan untuk mentarbiyah ikhwan dan mentalqinkan shalawat tersebut.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.
Alloohumma Sholli wa sallim ‘alaa ‘aynir rohmatir robbaaniyyati wal- mutahaqqiqotil haa-ithoti, bi-markazil fuhuumi wal ma’aani, wa nuuril akwaanil mutakawwanatil adamiyy shoohibil haqqir robbaanii, al-barqil astho’i bi-muzuwnil arbaahil maali-ati likulli muta’arridlin minal buhuuri wal awaani wa nuurikal laami’illadzii mala’ta bihii kawnakal haaitho bi-amkinatil makaanii.
Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa ‘aynil haqqiillatii tatajallaa min-haa ‘uruusyul haqoo-iqi ‘aynil ma’aarifil aqwam shiroothikat taammil asqom.
Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa thol’atil haqqi bil-haqqil kanzil a’dhom, ifaadlotika minka ilaika ihaathotin nuuril mutholsam. Shollallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihii sholaatan tu’arrifunaa bihaa iyyaahu.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan perwujudan rahmat sifat-sifat Tuhan, mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, sang pengemban kebenaran sisi ketuhanan, yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat.”
“Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang menjadi Ain Al Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran), telah tampak dari padanya seluruh hakikat keadilan yang seperti ‘Arsy sebagai sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus.”
“Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, tempat datangnya kasih-Mu, yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui hakikat.”
Perlu diketahui, bahwa shalawat jauharatul kamal ini merupakan shalawat yang di-imla-kan Rasulullah Saw kepada guru kita; Al Quthb Ar-Rabbani, Maulana Abil ‘Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra secara terjaga dan tidak dalam kondisi bermimpi.
Tugas Rasulullah Saw adalah menyampaikan apa yang diperintahkan untuk disampaikan. Sementara ilmu dan anwar Rasulullah Saw, sungguh tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui batasannya, bahkan tidak ada yang sangup untuk mengetahui hal itu. Rasulullah Saw pun telah menyatakan hal ini dalam sabdanya,
وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا
“Demi Allah, seandainya kalian mengetahui seperti apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. ” (HR. Asy-Syaikhani; Mâlik dalam Al Muwaththa; An-Nasa’i; Ahmad; Al Baihaqi, Abdurrazzaq dari riwayat Ummul Mukminin ‘Aisyah; At-Tirmidzi; Ibnu Majah; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi dan Al Hakim dari riwayat Abu Dzarr; dimana Al Hakim menilai hadits ini shahih, Al Bukhari; At-Tirmidzi; Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi semuanya dari riwayat Abu Hurairah; Asy-Syaikhani; Ibnu Majah; Ahmad; Ibnu Abi Syaibah; semuanya meriwayatkan dari hadits Anas; Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan dari hadits Abu Ad-Darda’.)
Beliau Saw juga pernah bersabda,
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الأَوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لاسْتَهَمُوا، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي التَّهْجِيْرِ لَاَسْتَبَقُوْا إِلَيْهِ، وَلَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْحُبْوا.
“Seandainya manusia mengetahui apa yang ada didalam seruan (shalat) dan apa yang ada di shaff pertama, dimana kemudian mereka tidak menemukan sesuatu kecuali memilih hal itu, maka mereka pun akan memilihnya. Seandainya manusia tahu yang ada pada bersegera (memenuhi perintah Allah), maka mereka akan berlomba-lomba untuk besegera datang. Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada waktu Maghrib dan mendatangi masjid untuk shalat Shubuh, maka mereka akan berusaha mendatanginya sekalipun sambil merangkak. ” (HR. Malik; Asy-Syaikhani; Ahmad dalam Al Musnad, An-Nasa’i; Al Baihaqi dari riwayat Abu Hurairah.)
Pada masa hidup Nabi Saw, beliau menyampaikan hal umum seperti ini untuk orang yang umum pula, dimana sepeninggalan beliau, beliau hanya menyampaikan hal khusus bagi orang yang khusus pula. Sepeninggalan Nabi Saw, beliau Saw masih tetap menjalin hubungan ruhani dengan para sahabat dan orang-orang yang beliau cintai, Nabi Saw menampakkan sebagian ilmu dan asrar beliau kepada mereka. Tidak ada sikap fanatisme atas keutamaan Allah dan Rasul-Nya ini.
Rasulullah Saw telah mengatakan beragam kekhususan shalawat ini kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra secara sadar dan tidak dalam kondisi bermimpi. Diantaranya kekhususan shalawat jauharatul kamal ini adalah:
1. Satu kali bacaan shalawat jauharatul kamal ini melebihi 3 kali bacaan tasbih semua yang ada di alam ini.
2. Orang yang membaca 7 kali shalawat jauharatul kamal atau bahkan lebih, maka ruh Nabi Saw dan para khalifah yang empat akan mendatanginya, selama dirinya membaca shalawat ini.
3. Orang yang membiasakan diri untuk membaca shalawat jauharatul kamal ini lebih dari 7 kali pada setiap harinya, maka Rasulullah Saw akan mencintainya dengan kecintaan khusus, seolah-olah dia menziarahi Nabi Saw -di Raudhah dan juga seluruh nabi dan para wali, mulai dari awal penciptaan hingga saat dia membaca shalawat itu.
4. Orang yang selalu istiqamah membacanya sebanyak 7 kali sebelum tidur, yaitu pada kasur yang suci dan dalam keadaan berwudhu, maka dia akan dapat melihat Nabi Saw.
5. Pembacaan shalawat jauharatul kamal sebanyak 3 kali setelah melakukan aktifitas ibadah apapun, dengan niatan melengkapi kekhusyu’an diri dalam beribadah, maka pahala bacaan shalawat ini dapat menutupi kekurangan ibadah tersebut.
A. Kandungan dan Makna dalam Shalawat Jauharatul Kamal
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّــانِــيَّــةِ وَالْيَـاقُوْتَـةِ الْـمُتَحَقِّقَةِ اْلحَائِطَةِ بِمَرْكَــزِ الْفُهُوْمِ وَالْـمَعَانِى وَنُوْرِ اْلأَكْــوَانِ الْـمُتَــكَــوِّنَةِ اْلأٰدَمِـــيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ الرَّبَّـــانِـــي
اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزَوْنِ اْلأَرْيَاحِ الْـمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ الْبُحُوْرِ وَالْأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللَّامِعِ الَّذِى مَلَأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِــنَةِ الْـمَكَانِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى عَيْنِ الْحَقِّ الَّــتِى تَــتَــجَلّٰى مِنْـهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْـمَعَارِفِ الْأَقْوَامِ صِرَاطِكَ التَّامِ اْلأَسْقَمِ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ الْكَنْــزِ اْلأَعْظَمِ إفَاضَتِكَ مِنْكَ إلَيْــكَ إحَاطَةِ النُّوْرِ الْـمُطَلْسَمِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَعَلٰى أٰلِهِ صَلَاةً تُعَرِّفُنَا بِـهَا إيَّاهُ.
Alloohumma Sholli wa sallim ‘alaa ‘aynir rohmatir robbaaniyyati wal- mutahaqqiqotil haa-ithoti, bi-markazil fuhuumi wal ma’aani, wa nuuril akwaanil mutakawwanatil adamiyy shoohibil haqqir robbaanii, al-barqil astho’i bi-muzuwnil arbaahil maali-ati likulli muta’arridlin minal buhuuri wal awaani wa nuurikal laami’illadzii mala’ta bihii kawnakal haaitho bi-amkinatil makaanii.
Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa ‘aynil haqqiillatii tatajallaa min-haa ‘uruusyul haqoo-iqi ‘aynil ma’aarifil aqwam shiroothikat taammil asqom.
Alloohumma sholli wa sallim ‘alaa thol’atil haqqi bil-haqqil kanzil a’dhom, ifaadlotika minka ilaika ihaathotin nuuril mutholsam. Shollallaahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihii sholaatan tu’arrifunaa bihaa iyyaahu.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan perwujudan rahmat sifat-sifat Tuhan, mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, sang pengemban kebenaran sisi ketuhanan, yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya. Yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat.”
“Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang menjadi Ain Al Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran), telah tampak dari padanya seluruh hakikat keadilan yang seperti ‘Arsy sebagai sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus.”
“Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada (dzat) yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, tempat datangnya kasih-Mu, yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui hakikat.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra juga pernah menjelaskan kandungan maknanya sebagai berikut:
1. Redaksi “اَللّٰهُمَّ وَسَلِّمْ صَلِّ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ”
“Ya Alloh, Limpahkan Sholawat dan Salam atas Hakikat Rohmat Robbaniyyah”
Perlu diketahui bahwa Allah Swt mengambil salah satu cahaya milik-Nya dan meletakkan apa saja yang Dia ingin bagikan untuk semua makhluk-Nya di dalam cahaya itu, baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah; baik itu juga berupa anwar, asrar maupun rezeki. Kemudian Allah Swt memberikan limpahan karunia kepada makhluk-Nya sesuai dengan pengakuan-Nya terhadap hakikat Al Muhammadiyyah yang berupa ilmu pengetahuan, rahmat maupun anwar, sehingga setiap makhluk akan mendapatkan beragam karunia ini sesuai dengan kemampuan ruhani dan persiapan jiwan yang suci.
Posisi Rasulullah Saw pada limpahan karunia ini adalah, bahwa beliau adalah inti rahmat itu sendiri, sosok beliau layaknya sumber air, banyak orang yang akan mendatanginya. Air itu kemudian berpencar menuju saluran-saluran yang dapat dimanfaatkan orang lain. Oleh karena itu, Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي
“Sungguh akulah yang membagi, dimana Allah lah yang memberi. ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka dengan lafazh ini; Ath-Thabrâni; Al Baihaqi dari riwayat Mu’awiyah. Hadits ini memiliki banyak lafazh dan juga shahih pada berbagai buku-buku hadits; kami tidak perlu menyebutkan semuanya di sini.)
Rahmat itu disandarkan kepada Allah Swt, lantaran rahmat dari Allah lah semua yang ada itu berasal dan rahmat itu juga merupakan hadrah, tempat dimana Allah Swt memandang makhluk dan mentarbiyah mereka dengan segenap karunia-Nya.
2. Redaksi “وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ” dan “بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى“
“Yaitu Ilmu (yang indah bagaikan) Permata yang meliputi Keseluruhan Hakikat, Yang menjadi Pusat segala Kefahaman dan Ma’na”
Maksudnya adalah, ini merupakan kiasan apik tentang kejernihan dan kemuliaan. Seluruh yang Allah Swt letakkan dalam hakikat ini, baik itu berupa pemahaman, pengetahuan, persiapan jiwa dan anwar, apabila semuanya ini dikumpulkan menjadi satu, maka Rasulullah Saw lah yang menjadi pusat dan pemberi madad Nya, bahkan beliaulah inti dan sumber itu semua.
3. Redaksi “وَنُوْر ِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأٰدَمِيِّ“
“Dan Cahaya ciptaan segala kejadian yang tercipta (yang dibangsakan kepada anak Adam/Humanity)”
Maksudnya adalah, bahwa sosok Rasulullah Saw adalah cahaya semua alam yang telah dibuat, yang mampu merangkaikan sesuatu dengan yang lainnya.
4. Redaksi “صَاحِبِ اْلحَقِّ الرَّبَّانِي“
Dia adalah Tuan Empunya bagi Haq (Kerja-kerja) Robbani (divinity)
Maksudnya adalah pemegang sebuah kebenaran, yang berupa perintah dan larangan Allah Swt, sebagaimana yang Allah Subhanahu Wa Ta’ala firmankan,
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا
may yuthi’ir-rosuula fa qod athoo’alloh, wa mang tawallaa fa maaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo
“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 80)
5. Redaksi “اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْيَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ” dan “مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى“
“Dia Bagaikan Kilat yang terpancar seperti turunnya hujan yang mengalir memenuhi setiap ruang yang menghadapnya, Sehingga memenuhi segala lautan ruang dan masa”
Maksudnya adalah, bahwa hal tersebut lantaran petir itu selalu menyertai turunnya hujan. Petir adalah hakikat Al Muhammadiyyah, yang mana “muznil arbah” itu merupakan limpahan rahmat dari hadrah Allah Swt, yang Allah berikan kepada makhluk-Nya dengan perantara Rasulullah Saw. Ruh mereka ini menerima limpahan rahmat sesuai dengan kemampuan, petunjuk dan kesiapan diri mereka dari Rasulullah Saw. Yang diantaranya adalah “buhur” yaitu lautan; maksudnya adalah, bahwa lautan itu adalah perumpamaan kalbunya orang-orang yang ‘Arif billah. Sementara “awani” di sini maksudnya adalah kalbunya para wali.
6. Redaksi “وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى“
“Nur Engkau yang bersinar terang terpancar meliputi seluruh makhluq dan memenuhi segenap tempat”
Maksudnya adalah, bahwa an-nûr di sini adalah hakikat sisi Al Muhammadiyyah yang cahayanya memenuhi setiap jagad.
7. Redaksi “اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ“
“Ya Alloh, Limpahkan Sholawat dan Salam ke atas sumber bagi hakikat dan haq”
Maksudnya adalah bahwa Rasulullah Saw merupakan tempat pertimbangan keadilannya Allah Swt, yang juga merupakan sumber kebenaran dan keadilan.
8. Redaksi “الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ“
“yang mana terpancar daripadanya puncak hakikat-hakikat ‘Arasy”
Maksudnya adalah bahwa segala pengetahuan dan juga hakikat yang ada di alam ini, sejatinya berasal dari perbendaharaan hakikat Al Muhammadiyyah dan sumber-sumbernya.
9. Redaksi “عَيْنِ اْلمَعَارِفِ اْلأَقْوَمِ” dan “صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ“
“Yaitu dzat makrifat yang paling kukuh, Yaitu Shirot/Jalan Engkau yang paling sempurna dan paling lurus”
Maksudnya adalah, bahwa hakikat yang bersumber dari sisi Al Muhammadi, semuanya itu berjalan sesuai dengan keadilan Allah Swt, tidak dibengkokkan untuk suatu yang lainnya, juga tidak keluar dari jalan yang lurus.
Kata “asqam” berasal dari kata kerja “saqama-yasqimu,” sama seperti pola kata “adala-ya’dilu,” yang artinya juga adalah keadilan. Kata tersebut bukan berasal dari kata kerja “saqima-yasqamu” yang sama seperti pola kata “maridha-yamradhu,” yang memiliki arti sakit. Hal tersebut karena kata, “saqima-yasqamu” ini tidak memiliki kata yang menunjukkan hal yang diunggulkan, itu sama halnya dengan seseorang yang tidak dapat sampai di surga kecuali melalui jalan yang lurus, yaitu melalui Rasulullah Saw.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰ نَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَ يُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًا
inna haazal-qur-aana yahdii lillatii hiya aqwamu wa yubasysyirul-mu-miniinallaziina ya’maluunash-shoolihaati anna lahum ajrong kabiiroo
“Sungguh, Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan kebajikan, bahwa mereka akan mendapat pahala yang besar,”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 9)
10. Redaksi “اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ“
“Ya Alloh, Limpahkan Sholawat dan Salam atas Nabi Muhammad ﷺ yang merupakan Madhar (tempat dhohir) haq dengan haq yang merupakan sumber gedung haqiqot yang Agung”
maksudnya adalah, bahwa Allah Swt telah ber-tajalli (Tajalli adalah tersingkapnya kalbu dengan cahaya keghaiban. Lih. Syaikh ‘Abdul Qadir Al Jilani, Sirr Asrâr, (Damaskus, Dâr As-Sanabil, 1993), hal. 37.) pada Nabi Saw dengan tajalli pada dzat beliau, bukan pada sisi yang lainnya. Yaitu proses tajalli-nya suatu Dzat kepada dzat lain, yang mana dalam proses ini tidak ada lagi hijab.
Redaksi “الكنز الأعظم” , maksudnya adalah bahwa Rasulullah Saw tempat berkumpulnya semua asrar, ma’rifat, futuh, limpahan ilham dan tajalli dalam bentuk yang sempurna serta kedudukan yang agung, dimana semua makhluk mengambil faedah ini dari sosok beliau Saw dengan kondisi yang sejatinya beliau tidak membutuhkan mereka.
11. Redaksi “إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ” dan “إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ“
“Tempat datangnya limpahan nur kasih yang meliputi gudang (tempat penyimpanan) rahasia dari Engkau (Allah Swt) kepada Engkau (Rasulullah Saw)”
Redaksi “إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ“maksudnya adalah, bahwa di saat Allah Swt ber-tajalli pada diri Rasulullah Saw dengan sifat yang teramat agung, yang mana Rasulullah Saw selalu memohon dari sumber kelembutan; Allah. Kemudian dzat Rasulullah pun menerima hal ini dari Allah Swt dengan bentuk penerimaan dan pertolongan, dengan demikian Allah Swt dapat mewujudkan hakikat Al Muhammadiyyah hadrah keilmuan-Nya, sehingga sosok beliau Saw layaknya sebagai sumber mata air dan juga sungai. Sedangkan Redaksi “إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ” ,maksudnya adalah, bahwa Rasulullah Saw merupakan sirr-nya sisi ketuhanan yang tersembunyi, perkara ini dibagi menjadi dua:
Pertama adalah, dimensi dimana sosok beliau Saw menguasai ilmu Allah, ini tidak pernah ditampakkan kepada siapapun.
Kedua adalah, bahwa sosok beliau Saw bisa memilih untuk menampakkan ilmu Allah Swt ini kepada orang khusus dari makhluknya. Rasulullah Saw dalam dua dimensi di atas berada pada bagian yang terakhir, baik sisi keilmuan maupun dzauq. Rahasia inilah yang berkumpul didalam sosok Rasulullah Saw, yang kemudian beliau Saw limpahkan kepada orang yang dikehendaki mendapatkan sirr ini; baik dilimpahkan kepada orang-orang yang Allah Swt cintai atau orang-orang yang telah Allah Swt pilih.
12. Redaksi “صَلَّى اللّٰه عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ“
“Sholawat dan Salam atas Nabi dan Keluarganya yang mana dengan Sholawat itu kami dapat mengetahui martabat tersembunyi Nabi Muhammadﷺ”
Maksudnya adalah, bahwa orang yang bershalawat kepada beliau Saw memohon kepada Allah Swt yang mengetahui kadar keagungan Nabi-Nya, agar Allah Swt berkenan untuk bershalawat (curahkanlah rahmat dan keselamatan) kepada Nabi Saw dan Keluarganya sesuai dengan kadar pengetahuan Allah akan keagungan Nabi Saw serta dengan bershalawat kepada beliau Saw, berilah kami pengetahuan akan martabat tersembunyi Nabi Muhammad Saw, dengan cara wushul kepada beliau; baik itu dalam kondisi jadzab maupun bersuluk, Amîn.
B. Keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal
Diantara Keutamaan membaca Sholawat Jauharotul Kamal yang disebutkan langsung oleh Rosulullah ﷺ kepada Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijaniy Ra adalah Sebagai Berikut :
ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﻤَﺮَّﺓَ ﺍﻟْﻮَﺍﺣِﺪَﺓَ ﺗَﻌْﺪِﻝُ ﺗَﺴْﺒِﻴْﺢَ ﺍﻟْﻌَﺎﻟَﻢِ ﺛَﻼَﺙَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ
”Membaca Sholawat Jauharotul Kamal sekali, Pahalanya menyamai 3 (tiga) kali lipat Tasbihnya seluruh alam”.
ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﻗَﺮَﺃَﻫَﺎ ﺳَﺒْﻊَ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻓَﺄَﻛْﺜَﺮَ ﻳَﺤْﻀُﺮُﻩُ ﺭُﻭْﺡُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻭَﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍْﻷَﺭْﺑَﻌَﺔِ ﻣَﺎ ﺩَﺍﻡَ ﻳَﺬْﻛُﺮُﻫَﺎ
”Siapa yang membacanya 7 (tujuh) kali atau lebih, Maka akan didatangi Ruh Nabi Muhammad dan 4 (empat) Khulafaur Rosyidin selama ia dalam keadaan membaca Sholawat itu”.
ﺃَﻥَّ ﻣَﻦْ ﻻَﺯَﻣَﻬَﺎ ﺃَﺯْﻳَﺪَ ﻣِﻦْ ﺳَﺒْﻊِ ﻣَﺮَّﺍﺕٍ ﻳُﺤِﺒُّﻪُ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲُّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻣَﺤَﺒَّﺔً ﺧَﺎﺻَّﺔً ﻭَﻻَ ﻳَﻤُﻮْﺕُ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﻜُﻮْﻥَ ﻣِﻦَ ﺍْﻷَﻭْﻟِﻴَﺎﺀِ
“Siapa saja yang melazimi membacanya lebih dari 7 (tujuh) kali, Maka ia akan sangat dicintai oleh Rosululloh dengan sebenar-benar cinta khusus dan ia tidak akan meninggal dunia sehingga menjadi salah satu dari para kekasih Alloh”.
Sumber : Kitab Jawahirul Ma’ani Wa Bulughul Amani
Adapun Keutamaan Sholawat Jauharotul Kamal yang disebutkan oleh Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijaniy ra adalah :
ﻣَﻦْ ﺩَﺍﻭَﻡَ ﻋَﻠَﻴْﻬَﺎ ﺳَﺒْﻌًﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡِ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﻬَﺎﺭَﺓٍ ﻛَﺎﻣِﻠَﺔٍ ﻭَﻓِﺮَﺍﺵٍ ﻃَﺎﻫِﺮٍ ﻳَﺮَﻯ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
”Siapa saja yang konsisten membacanya 7 (tujuh) kali menjelang tidurnya dalam keadaan bersuci yang sempurna dan di tempat tidur yang suci (tidak ada najis), Maka ia akan melihat Nabi Muhammad ﷺ”.
Sumber : Kitab Jawahirul Ma’ani wa Bulughul Amani
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﺸَّﻴْﺦُ ﺃَﺣْﻤَﺪُ ﺍﻟﺘِّﺠَﺎﻧِﻲ ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻪُ ﺃَﻋْﻄَﺎﻧِﻲ ﺭَﺳُﻮْﻝُ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠّٰﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﺻَﻼَﺓً ﺗُﺴَﻤَّﻰ ﺑِﺠَﻮْﻫَﺮَﺓِ ﺍﻟْﻜَﻤَﺎﻝِ , ﻣَﻦْ ﺫَﻛَﺮَﻫَﺎ ﺍﺛْﻨَﺘَﻲْ ﻋَﺸْﺮَﺓَ ﻣَﺮَّﺓً ﻭَﻗَﺎﻝَ : ﻫٰﺬِﻩِ ﻫَﺪِﻳَّﺔٌ ﻣِﻨِّﻲ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ , ﻓَﻜَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺯَﺍﺭَﻩُ ﻓِﻲ ﺭَﻭْﺿَﺘِﻪِ ﺍﻟﺸَّﺮِﻳْﻔَﺔِ , ﻭَﻛَﺄَﻧَّﻤَﺎ ﺯَﺍﺭَ ﺃَﻭْﻟِﻴَﺎﺀَ ﺍﻟﻠّٰﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﻭَّﻝِ ﺍﻟْﻮُﺟُﻮْﺩِ ﺍِﻟَﻰ ﻭَﻗْﺘِﻪِ , ﻭَﻓِﻲ ﺭِﻭَﺍﻳَﺔٍ : ﺍِﻟَﻰ ﺍْﻷَﺑَـﺪِ
”Syekh Ahmad At-Tijaniy ra berkata : Rosululloh SAW memberikan kepadaku redaksi Sholawat yang dinamai Jauharotul Kamal, Siapa saja yang telah membacanya sebanyak 12 (dua belas) kali dan berkata : ‘Sholawat ini aku hadiahkan kepada engkau Ya Rosululloh. Maka seakan-akan ia menziarohi Rosululloh di Roudhohnya yang Mulia dan seolah-olah ia telah menziarohi Para Wali Alloh beserta menziarohi orang-orang sholih dari sejak zaman Nabi Adam as sampai waktu ia membacanya. Bahkan dalam riwayat lain menyebutkan, yaitu sampai dunia musnah (selama-lamanya)”.
Syekh Muhammad Fathan bin Abdul wahid As-Susiy An-Nadhifiy ra mengumpulkan Keutamaan Sholawat Jauharotul Kamal dalam Nadhom Ad-Durrotul Khoridah :
ﺑِﺴَﺎﺑِﻌَﺔٍ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﺣُﻀُﻮْﺭُ ﻧَﺒِﻴِّﻨَﺎ
ﻣَﻊَ ﺍﻟْﺨُﻠَﻔَﺎﺀِ ﺍﻟﺮَّﺍﺷِﺪِﻳْﻦَ ﻭَﻗُﺪْﻭَﺗِﻲ
“Dengan membaca 7 (tujuh) kali Jauharotul Kamal, Maka akan hadir Nabi Muhammad ﷺ beserta para Khulafaur Rosyidin dan Syekh Ahmad At-Tijaniy ra”
ﻭَﻟَﻮْ ﺩُﻣْﺖَ ﺫِﻛْﺮَﻫَﺎ ﺩُﻫُﻮْﺭًﺍ ﻃَﻮِﻳْﻠَﺔً
ﻟَﻤَﺎ ﻓَﺎﺭَﻗُﻮْﻙَ ﺑِﺎﻟﺬَّﻭَﺍﺕِ ﺍﻟْﻜَﺮِﻳْﻤَﺔِ
“Seandainya kamu konsisten membacanya sampai masa yang lama, Maka mereka semua tidak akan meninggalkan kamu dengan dzat mereka yang mulia”
ﻭَﺗَﻐْﻴِﻴْﺮُ ﺟِﻠْﺴَﺔٍ ﺑِﻬَﺎ ﻟِﻠﺘَّﺄَﺩُّﺏِ
ﺟَﺮَﻯ ﻋَﻤَﻞٌ ﺑِﻪِ ﻟَﺪَﺍ ﺟُﻞِّ ﺍِﺧْﻮَﺗِﻲ
“Mengubah posisi duduk kepada duduk yang lebih bagus lantaran menjalankan adab (atas kehadiran Nabi beserta para Kholifah dan Syekh Ahmad At-Tijaniy). Adab seperti itu menjadi kebiasaan di sisi pembesar saudaraku (pengikut Tijaniyyah)”
ﻭَﻣَﻦْ ﺩَﺍﻡَ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﻨَّﻮْﻡِ ﺳَﺒْﻌًﺎ ﻳَﺮَﻯ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ
ﺑِﺸَﺮْﻁِ ﺍﻟْﻮُﺿُﻮْﺀِ ﻣَﻊْ ﻃَﻬَﺎﺭَﺓِ ﺑُﻘْﻌَﺔِ
“Siapa saja yang selalu membacanya ketika hendak tidur sebanyak 7 (tujuh) kali, Maka ia akan melihat Nabi Muhammad, dengan syarat ia memiliki wudhu dan tempat tidurnya suci (tidak ada najis)”
ﻭَﺗَﺎﻝٍ ﻟَﻬَﺎ ﺍﺛْﻨَﺘَﻴْﻦِ ﻣَﻊْ ﻋَﺸْﺮَﺓٍ ﻛَﺄَﻥَّ
ﻣَﺎ ﺯَﺍﺭَ ﺃَﺣْﻤَﺪَ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲَّ ﺑِﺮَﻭْﺿَﺔِ
“Yang membacanya sebanyak 12 (dua belas) kali, seakan-akan ia telah Menziarohi Nabi Muhammad ﷺ di Roudhoh”
ﻭَﻛُﻞِّ ﻧَﺒِﻲٍّ ﻣَﻊْ ﻭَﻟِﻲٍّ ﻣِﻦْ ﺃَﺩَﻣَﺎ
ﺍِﻟَﻰ ﻭَﻗْﺖِ ﺫِﻛْﺮِﻫَﺎ ﺑِﺈِﺫْﻥِ ﺍﻟْﻮَﺳِﻴْﻠَﺔِ
“Seolah-olah ia juga telah Menziarohi seluruh Nabi dan Para Wali sejak Zaman Nabi Adam sampai ketika ia membaca Sholawat tersebut dengan catatan bahwa ia telah mendapat izin dari Syekh Ahmad At-Tijaniy dan pengikutnya”
ﻭَﺑَﻌْﺪَ ﺍﻟْﻔَﺮَﺍﻍِ ﻗُﻞْ ﺑِﻘَﻠْﺐِ ﻣَﺬَﻟَّﺔٍ
ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻫٰﺬِﻯ ﻫَﺪِﻳَّﺘِﻲ
“Setelah selesai membaca Jauharotul Kamal, Maka katakanlah olehmu dengan hati yang penuh Ketundukkan dan Khusyu’ : “Aku hadiahkan Sholawat ini kepada Engkau Ya Rosululloh”
ﻭَﺧَﻤْﺴًﺎ ﻭَﺳِﺘِّﻴْﻦَ ﺍﺗْﻠُﻬَﺎ ﻋِﻨْﺪَ ﺷِﺪَّﺓِ
ﻭَﻟِﻠْﺨَﻴْﺮِ ﻣَﺮَّﺓً ﺑُﻌَﻴْﺪَ ﺍﻟْﻔَﺮِﻳْﻀَﺔِ
“Bacalah Jauharotul Kamal sebanyak 65 (Enam Puluh Lima) kali ketika terjadi kesulitan dan kepelikan dan Bacalah satu kali setiap selesai mengerjakan Sholat Fardhu untuk mendapatkan segala kebaikan”
Sumber : Al Yaqutatul Faridah dan Ad-Durrotul Khoridah
Di Kutip dari Risalah :
ﻣَﻮْﻫَﺒَﺔُ ﺫِﻱْ ﺍﻟْﺠَــﻼَﻝ
ﻟِﻤَﻦْ ﻗَﺮَﺃَ ﺟَﻮْﻫَـﺮَﺓَ ﺍﻟْﻜَﻤَﺎﻝِ
PERHATIAN !
Persyaratan Membaca Sholawat Jauharotul Kamal :
1. Mendapat Izin Dari Muqaddam atau Orang Yang Telah Mendapat Ijazah Dari Para Masyayikh Thariqah At-Tijaniyah yang memiliki Sanad Sampai kepada Sayyidi Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani Ra.
2. Wajib Bersuci atau Berwudhu dengan Sempurna (Dengan Air).
Jika Bertayammum, Maka tidak mencukupi Syarat dan Tidak Di Perkenankan Membaca Sholawat ini.
3. Wajib Suci Tempat, Pakaian, Badan dari Najis dan Hadats
4. Wajib Di Baca Pada Tempat Yang Agak Luas Sekiranya Mampu Memuat untuk 7 (Tujuh) Orang
5. Jangan Di Baca Saat Di Atas Kendaraan, Baik Darat, Laut maupun Udara.
6. Orang Yang Beristinja’ (Cebok) Pake Tisu atau Sejenisnya Yang Bukan Menggunakan Air, Maka ia Tidak Di Perbolehkan Membaca Sholawat ini, Walaupun ia Ketika Berwudhu Pakai Air. Lantaran Bersuci yang ia lakukan Tidak Tahaqquq (Sempurna).
Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
