
Elsubha.com – Profil Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra
Perlu diketahui, bahwa mengenal Syaikh Ra dan menjelaskan sejarah hidup beliau sudah banyak disebutkan dalam ragam kitab thariqah, seperti Jawahirul Ma’âni, Bughyatul Mustafid dan kitab lainnya. Bahkan ada beberapa sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah menyusunnya yang serupa. Dalam buku ini aku akan sebutkan sebagiannya agar tidak terlewatkan dari keberkahan. Selain itu, mengenal Syaikh thariqah termasuk perkata penting bagi tokoh tasawuf. Sebab, perkara tersebut merupakan pendorong utama untuk menumbuhkan sisi ta’alluq, yang diawali dari adanya rasa cintayang berasal dari sampainya madad Syaikh kepada muridnya.
Maka aku katakan: Beliau adalah Syaikh thariqah yang memiliki manaqib nan nampak, karomah yang nyata dan berhati besar, ilmu yang termasyhur, berkepribadian luhur, berkedudukan tinggi; Abul Abbas Sayyidi Ahmad bin Sayyidi Muhammad; yang digelari Ibnu Umar; bin Al Mukhtar bin Ahmad bin Salim bin Al Abd bin Salim bin Ahmad; yang dihelari Al ‘Alwani; Sayyid Ibnu Ahmad bin Ali bin Abdullah bin Al ‘Abbas bi Abdul Jabbar, bin Idris, bin Idris bin Ishaq bin Zainal ‘Abidin bin Ahmad bin Muhammad yang digelari An-Nafsuz-Zakiyyah, bin Abdullah Al Kamil bin Al Hasan Al Mutsanna bin Al Hasn As-Sibt, bin Ali bin Abi Thalib; dari Sayyidatina Fathimah Az-Zahra Ra; putri Sayyidul Wujud wa Qiblatusy-Syuhud, Sayyidina Muhammad bin Abdillah; Rasulullah Saw.
Ibu beliau adalah sosok mutiara yang terpendam, permata yang tersimpan; Sayyidah Aisyah puteri dari Sayyidi Al Jalil Abu ‘Abdillah; Sayyidi Muhammad bin As-Sanusi At-Tijany Al Madhawi.
Tijani sendiri dinisbatkan kepada sebuah desa yang terkenal dengan nama Tijanah; dimana kerabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mayoritas berada di sana, sehingga beliaupun dinisbatkan ke sana. Sedangkan Al Madhawi dalah nisbat kepada Mâdhi; sebuah desa terkenal di padang pasir sebelah timur kota Maghrib. Sejarah hidup kakek-kakek beliau Ra sudah dijelaskan dalam kitab Jawahirul Ma’âni, Bughyatul Mustafid dan kitab-kitab thariqah lainnya. Silahkan baca kembali jika menghendakinya.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dilahirkan di Ainu Madhi pada tahun 1150 H. Ada juga dari sahabat beliau yang menerangkan tentang kelahiran beliau dengan menyebutnya “Maulid Al Khatmi.”
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memiliki sifat yang luhur, gambaran tentang penampilan ideal: Berkulit putih kemerahan, tinggi sedang, jenggot bercahaya, bersuara nyaring, perawakan hebat dan berpenampilan mulia. Ucapan beliau manis, lidah yang fasih, menawan dalam berbicara, berwibawa dan pemalu.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah menghafal Al Qur’an dengan hafalan yang baik sejak berumur 7 tahun.
Beliau lalu memfokuskan diri untuk bisa memperoleh berbagai ilmu hingga menjadi pakar terbaik dalam bidangnya. Beliau Ra belajar dan berfatwa sejak masih muda usia. Sejak kecil, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sangat tegas dalam berpegang kepada As-Sunnah, berbudi pekerti sesuai dengan As-Sunnah, sangat pemalu, tidak tertarik dengan ragam perkara mubah. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah guru dalam segala bidang ilmu. Apabila beliau ditanya sesuatu, beliau senantiasa menjawabnya dengan penjelasan yang rinci, seolah-olah beliau sembari melihat buku diantara kedua mata beliau.
Ayah dan ibu beliau Ra meninggal dunia pada hari yang sama karena terserang penyakit tha ‘un (sejenis wabah Pes) pada tahun 1166 H- Semoga Allah berkenan merahmati mereka berdua dengan rahmat yang luas dan menjadikan mereka sebagai penghuni syurga.-
Setelah wafatnnya kedua orang tua, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tetap berlanjut menyibukkan diri dengan menuntut ilmu hingga mencapai usia 21 tahun, kemudian diri beliau tergugah untuk mengikuti thariqah para sufi.
Beliau mencari Ahlullah dan berjumpa dengan Wali Quthub terbesar pada masanya. Kemudian pada tahun 1186 H beliau pergi melaksanakan ibadah haji ke Baitullah Al Haram dan berziarah ke maqam Nabi Muhammad Saw. Didalam perjalanan itu, beliau berjumpa dengan Sayyidi Mahmud Al Kurdi. Ketika Sayyidi Mahmud memandang kepadanya, beliaupun berkata, “Engkau adalah orang yang dicintai Allah; baik di dunia dan maupun di akhirat.” Dan Sayyidi Mahmud berkata kepada beliau, “Apakah yang engkau inginkan?” Beliau menjawab, “Yang saya inginkan adalah posisi sebagai Wali Quthub besar.”
Sayyidi Mahmud Al Kurdi menjawab, “Engkau akan memperoleh lebih banyak dari itu!.”
Ketika tiba di kota Makkah, Sayyidi Syaikh Ahmad AtTijany Ra berjumpa dengan Sayyidi Ahmad bin ‘Abdullah Al Hindi. Sayyidi Syaikh Ra banyak mempelajari tulisan-tulisan beliau. Lalu di Madinah Al Munawwaroh Sayyidi Syakh Ahmad At-Tijany Ra berjumpa dengan Seorang Wali Quthub Sayyidi Muhammad bin ‘Abdul Karim As-Sanmån dan memperoleh dari beliau beberapa sirr.
Kesimpulannya, setiap ada dari kalangan Arifin billah dan para Wali Quthub yang memandang beliau, maka mereka akan merasakan rasa cinta mendalam kepada beliau Ra bahkan sampai mengabarkan kepada beliau tentang keadaan beliau kelak. Setelah melaksanakan haji Sayyidi Syaikh Ra pun kembali menuju negeri Maghribi. Tetapi Allah Swt belum berkenan mengaruniakan futuh kepada beliau Ra melalui masyayikh yang beliau jumpai. Sebab sudah ditetapkan sejak sebelumnya oleh ilmu Allah, bahwa futuh dan keberhasilan tidak lain melalui Sayyidil Wujud Saw.
Pada tahun 1196 H Sayyidi Syaikh Ra melakukan perjalanan kembali dari Tilimsan menuju wilayah Abu Samghun dan Syalalah yang terletak di Padang Pasir Timur. Disitulah Allah Swt memberikan futuh sehingga dapat memandang Nabi Muhammad Saw dalam kondisi terjaga; tidak tidur (mimpi), Nabi Muhammad Saw menalqinkan wiridan kepada Sayyidi Syaikh Ra kala itu berupa; Bacaan istighfar sebanyak 100 kali dan shalawat nabi 100 kali. Nabi Saw pun berpesan agar beliau Ra menalqinkannya kepada orang-orang yang memintanya dari kalangan muslimin dan muslimat. Nabi Muhammad Saw pun bersabda kepada beliau Ra, “Tidak ada karunia makhluk untukmu dari para masyayikh, sebab akulah yang akan menjadi perantara dirimu dan yang akan menolongmu dengan sebenarnya. Oleh karena itu, tinggalkanlah semua yang engkau peroleh dari seluruh thariqah yang lain.
Pada tahun 1200 H, Nabi Muhammad Saw melengkapkan wiridan Tijany itu dengan bacaan tahlil sebanyak 100 kali. Ketika Nabi Saw memerintahkan beliau untuk mengajar masyarakat, maka beliau Ra berkata kepada Rasulullah Saw, “Apakah diriku akan menjadi pintu keselamatan bagi setiap pelaku maksiat yang menyandarkan diri kepadaku, maka itu akan baik, jika tidak, maka keunggulan apakah yang aku miliki?”
Rasulullah Saw menjawab dengan sabda beliau, “Engkau akan menjadi pintu keselamatan bagi setiap pelaku maksiat yang menyandarkan diri kepadamu!.”
Seketika itu beliau kembali mengajar masyarakat, setalah sebelumnya menjauhkan diri enggan bertemu dengan masyarakat. Beliau mulai menalqinkan kepada masyarakat wiridan Tijany sesuai dengan yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, tersebarluaslah thariqah At-Tijaniyyah dan memenuhi segala penjuru daerah dan kota.
Kemudian setelah itu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra melakukan perjalanan ke kota Fess dan menetap disana hingga wafat pada Kamis pagi, tanggal 17 Syawwal 1230 H; yaitu seusai shalat Shubuh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidur diatas lambung kanan beliau. Lalu beliau meminta air dan meminum sebagiannya, kemudian kembali tidur pada posisi tersebut dan naiklah ruh yang mulia ke tempatnya yang lebih suci. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dimakamkan di Fess, ketika itu beliau berusia 80 tahun.
Seorang tokoh thariqah At-Tijaniyyah bernama Ibnu Baba menuliskan sejarah dalam kitab Munyatul Murid, berkenaan dengan kewafatan Syaikh dengan mengatakan, “Imam Al Arif Ar-Rabbani wafat mencapai batas usianya, melampaui masa dewasa. Beliau meninggalkan putra dan putri; yaitu dua orang imam besar, dua orang pemimpin mulia; Sayyidi Muhamamd Al Kabir dan Sayyidi Muhammad Al Habib. Beliau meninggalkan keduanya untuk menjadi pembimbing ke jalan Allah Swt, memandu masyarakat ke jalan wushul menuju Allah Swt.
Diantara karomah yang diistimewakan bagi mereka (anak keturunan Sayyidi Syaikh Ra) adalah bahwa kakek mereka; Nabi Saw telah menjamin kema’rifatan mereka pada Allah Swt dan menjamin mereka dengan banyak kebaikan. Perkara ini diberitakan langsung oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dari dari Nabi Muhammad Saw.
Kedua imam besar ini perpulang ke negeri akhirat. Kemudian sesudah mereka dilanjutkan dengan hirarki khalifah yang dipikul oleh seorang tokoh besar dan Wali Quthub terkenal; yaitu Sayyidi Ahmad ‘Ammar bin Sayyidi Muhammad Al Habib. Sesudah beliau wafat, maka dilanjutkan oleh saudaranya; yaitu Sayyidi Muhammad Al Basyir, kemudian dilanjutkan oleh para khalifah yang lain Ra.
