You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Para Sufi Berakidah Salafush-shalih

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Para Sufi Berakidah Salafush-shalih

Puji syukur hanya bagi Allah Swt semata, karena kesempurnaan dzat-Nya merupakan kesempurnaan inti yang terbebas dari segala batasan yang mutlak tanpa pengikat. Siapa saja yang memiliki sifat berupa pengetahuan, kehidupan, pendengaran dan percakapan dan lain sebagainya sampai sifat hidup, maka semua ini merupakan pemberian Allah Swt. Dialah yang memiliki segalanya, kesempurnaan wujud yang ada merupakan kesempurnaan-Nya.

Tulisan tangan yang indah dan lukisan yang indah secara sendirinya menggambarkan- kemahiran penulis dan pembuatnya, sama halnya dalam kehidupan ini, segala wujud yang ada seolah-olah mengucap syukur akan hikmah penciptaan, ilmu dan kemampuan Allah Swt. Tidak ada yang pantas menerima ucapan kesempumaan Dzat dan juga bukan sumber kesempurnaan, bukan pula pemberi nikmat dan juga bukan pengatur alam semesta ini.

Orang yang dikaruniai nikmat-Nya, seyogyanya harus bersyukur kepada Allah Swt. Sikap mensyukuri nikmat, didalamnya terdapat sebuah pengakuan kepada pemberi nikmat Allah Swt- terhadap kesempurnaan, nikmat dan keinginan-Nya, hal ini mengharuskan kita untuk menggunakan nikmat tersebut pada perkara yang la ridhoi, karena jika berbagai nikmat itu digunakan pada perkara yang mengundang kemurkaan, maka ia sudah kufur akan nikmat yang telah diberikan. Di dalam rasa syukur juga terdapat sebuah pengagungan dan kecintaan, keduanya ini memiliki tingkatannya tersendiri; yang tertinggi adalah ibadah yang hanya dimiliki oleh Sang Pemberi nikmat -Allah Swt- karena Dialah yang sejatinya yang memberi nikmat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَا دًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّـلّٰهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْۤا اِذْ يَرَوْنَ الْعَذَا بَ ۙ اَنَّ الْقُوَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًا ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعَذَا بِ
wa minan-naasi may yattakhizu ming duunillaahi angdaaday yuhibbuunahum kahubbillaah, wallaziina aamanuuu asyaddu hubbal lillaahi walau yarollaziina zholamuuu iz yarounal-‘azaaba annal-quwwata lillaahi jamii’aw wa annalloha syadiidul-‘azaab

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azab-Nya (niscaya mereka menyesal).”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 165)

Allah Swt pun tidak menafikan dari seorang mukmin agar dirinya mencintai orang-orang yang Allah Swt sukai, seperti dalam firman-Nya,  وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّـلّٰهِ “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.” Sedangkan yang tidak diperbolehkan adalah mencintai mereka secara berlebihan sampai tingkat kecintaan yang tertinggi, sehingga ia menyamakan antara Allah Swt dan makhluk-Nya pada level yang paling tinggi, yang sebenarnya itu hanya hak bagi Allah Swt semata, karena hanya Dialah yang pantas mendapat kecintaan yang tertinggi.

Kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya yang menciptakannya- itu merupakan bentuk kecintaan hamba tersebut terhadap Dzat Allah Swt. Sedangkan kecintaan hamba tersebut kepada orang-orang yang Allah Swt cintai, sungguh itu dikarenakan Allah Swt mencintai mereka dan bukan karena diri mereka. Seandainya Allah Swt tidak mencintai mereka, maka kita pun sudah tentu tidak mencintainya.

Disinilah unggulnya sisi ibadah dari perkara yang lainnya lantaran adanya sisi kecintaan dan ta’zhim (penghormatan), sebab perbedaan sisi ibadah tersebut sangatlah terlihat, yaitu antara keagungan dzat-Nya (Dzat Allah Swt) dan keagungan yang bukan dzatnya (seperti karena Allah Swt mengagungkan mereka) dan juga kecintaan pada dzat (Dzat Allah) dan kecintaan yang bukan pada dzatnya (lantaran Allah Swt cinta pada mereka).

Barangsiapa yang mendekat kepada Allah Swt dengan ibadah lainnya, sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah Swt,

اَ لَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَا لِصُ ۗ وَا لَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖۤ اَوْلِيَآءَ ۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَاۤ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰى ۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّا رٌ
alaa lillaahid-diinul-khoolish, wallaziinattakhozuu ming duunihiii auliyaaa, maa na’buduhum illaa liyuqorribuunaaa ilallohi zulfaa, innalloha yahkumu bainahum fii maa hum fiihi yakhtalifuun, innalloha laa yahdii man huwa kaazibung kaffaar

“Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 3)

Mereka tidak berkata, “Kami tidak mencintai karena Allah Swt atau kami tidak mengagungkan mereka karena Allah Swt.”

Jikalau mereka mendekat kepada Allah Swt dengan kecintaan dan keagungan yang mereka miliki -dan memang merekalah yang patut atas bentuk kecintaan dan pengagungan karena Allah Swt-, maka inilah yang disebut kedekatan yang hakiki. Sedangkan jika ia mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan mencintai mereka pada puncak kecintaan paling tinggi dan puncak pengagungan yang paling tinggi -maka itu khusus bagi Allah Swt semata, itu adalah ibadah semata dan bukan pengagungan yang mutlak serta bukan pula bentuk kecintaan yang mutlak.-

Jika demikian keadaannya, maka di dalam diri hamba tersebut ada sebuah kesyirikan, karena sebenarnya ia menyetarakan Allah Swt dengan hamba-Nya pada hak yang sebenarnya hanya milik-Nya semata, sekalipun ia tidak menyentuh perihal penciptaan dan pengaturan alam semesta ini. Sebab, penyetaraan Allah Swt dengan yang lainnya dan mencintai seperti halnya mencintai-Nya, maka ini jelas-jelas sebuah kekufuran, mereka mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan kekufuran dan bukan dengan perkara yang diperbolehkan (mencintai lantaran Allah Swt mencintai mereka).

Sebagian kaum sesat ada yang menisbatkan nikmat yang Allah Swt berikan dan menyandarkannya kepada sebagian makhluknya serta menuhankannya. Begitu pula dengan orang yang berkeyakinan akan adanya pengaruh diri (contoh: ia bisa makan karena ia bekerja) atau ilmu pribadi (ia mengetahui sesuatu karena dirinya sendiri) atau pengakuan akan hukum halal dan haram, seperti yang telah tertera di dalam firman Allah Swt,

اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَا رَهُمْ وَرُهْبَا نَهُمْ اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَا لْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ ۚ وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَـعْبُدُوْۤا اِلٰهًا وَّا حِدًا ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ سُبْحٰنَهٗ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
ittakhozuuu ahbaarohum wa ruhbaanahum arbaabam ming duunillaahi wal-masiihabna maryam, wa maaa umiruuu illaa liya’buduuu ilaahaw waahidaa, laaa ilaaha illaa huw, sub-haanahuu ‘ammaa yusyrikuun

“Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah, dan (juga) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 31)

la mencintai mereka agar mereka menghalalkan yang haram dan mengharamkan bagi mereka apa-apa yang halal, hal tersebut seperti yang tertera dalam sabda Nabi Saw.

Barangsiapa yang menyifati Allah Swt dengan sifat makhluk, maka ia telah syirik, seperti orang yang percaya bahwa Allah Swt memiliki tubuh yang tinggi dan berperawakan lebar atau orang yang percaya bahwa Allah Swt menyatu dengan hamba-Nya atau Allah Swt menempati jasad hamba-Nya. Orang-orang yang tidak memahami kelak akan berkhayal, bahwa setiap wujud memiliki tubuh, baik itu benda mati, udara atau cahaya dan lain sebagainya. Ini salah satu pandangan yang dapat dipatahkan dengan dalil dan juga dengan apa yang dapat dicerna akal pikiran. Dalilnya adalah, para nabi telah membuktikan bahwa Allah Swt terhindar dari segala penyerupaan apapun.

Tidak ada bedanya antara orang yang mengkhayal sebuah benda lalu ia menyembahnya, dengan orang yang menyembah patung: baik dari batu, kayu atau logam. Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan sufi bahwa kelompok mujassim (yang beranggapan bahwa Allah Swt memiliki wujud seperti makhluk) merupakan kelompok orang-orang yang tidak mengetahui Tuhannya dan juga kafir kepada-Nya.

Penisbatan terhadap Allah Swt berupa “datang, turun dan istiwa’,” sebenarnya permasalahan yang mendasar, bahwa ini bukan turunnya jasad atau kedatangan-Nya, bukan pula istiwa Nya Allah Swt, akan tetapi itu semua merupakan perkara yang hanya pantas bagi Allah Swt yang terbebas dari segala penyerupaan makhluk-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ثُمَّ اسْتَـوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ وَهِيَ دُخَا نٌ فَقَا لَ لَهَا وَلِلْاَ رْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًا ۗ قَا لَتَاۤ اَتَيْنَا طَآئِعِيْنَ
summastawaaa ilas-samaaa-i wa hiya dukhoonung fa qoola lahaa wa lil-ardhi-tiyaa thou’an au karhaa, qoolataaa atainaa thooo-i’iin

“Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 11)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ رَبَّكُمُ اللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَ الْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَا رَ يَطْلُبُهٗ حَثِيْثًا ۙ وَّا لشَّمْسَ وَا لْقَمَرَ وَا لنُّجُوْمَ مُسَخَّرٰتٍ بِۢاَمْرِهٖ ۗ اَ لَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَا لْاَ مْرُ ۗ تَبٰرَكَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
inna robbakumullohullazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, yughsyil-lailan-nahaaro yathlubuhuu hasiisaw wasy-syamsa wal-qomaro wan-nujuuma musakhkhorootim bi-amrihiii alaa lahul-kholqu wal-amr, tabaarokallohu robbul-‘aalamiin

“Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 54)

Jelaslah sudah bahwa istiwa’ itu terjadi setelah penciptaan langit dan bumi. Coba perhatikan pula kalimat (ثُمَّ) ini menandakan bahwa hal ini merupakan perbuatan Allah Swt, suci dari segala penyerupaan dengan makhluk. Sifat-sifat Allah Swt itu azaliyyah (ada sejak zaman azal), ilmu-Nya azali, kemampuan dan keinginan-Nya juga azali. Semuanya itu sudah ada sebelum adanya penciptaan, maka Dia pun tidak terbatas dengan waktu dan ruang.

Begitu pula halnya dengan pekerjaan yang dinisbatkan kepada Allah Swt, itu pun tidak terbatas dengan waktu, karena Dia terhindar dari batasan waktu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
syahru romadhoonallaziii ungzila fiihil-qur-aanu hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon, fa mang syahida mingkumusy-syahro falyashum-h, wa mang kaana mariidhon au ‘alaa safaring fa ‘iddatum min ayyaamin ukhor, yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-‘usro wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirulloha ‘alaa maa hadaakum wa la’allakum tasykuruun

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Hal ini tidak terikat dengan kondisi sekarang maupun masa yang akan datang. Inilah keinginan mutlak yang azali dan abadi, seperti yang tertera pada firman Allah Swt,

وَاَ وْرَثَكُمْ اَرْضَهُمْ وَدِيَا رَهُمْ وَ اَمْوَا لَهُمْ وَاَ رْضًا لَّمْ تَطَــئُوْهَا ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرًا
wa aurosakum ardhohum wa diyaarohum wa amwaalahum wa ardhol lam tatho’uuhaa, wa kaanallohu ‘alaa kulli syai-ing qodiiroo

“Dan Dia mewariskan kepadamu tanah-tanah, rumah-rumah, dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 27)
Karenanya Dia tidak terikat dengan waktu.

Allah Swt berfirman tentang Thalut;

وَقَا لَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَـکُمْ طَا لُوْتَ مَلِكًا ۗ قَا لُوْۤا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِا لْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَا لِ ۗ قَا لَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮهُ عَلَيْکُمْ وَزَا دَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ ۗ وَا للّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْکَهٗ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
wa qoola lahum nabiyyuhum innalloha qod ba’asa lakum thooluuta malikaa, qooluuu annaa yakuunu lahul-mulku ‘alainaa wa nahnu ahaqqu bil-mulki min-hu wa lam yu-ta sa’atam minal-maal, qoola innallohashthofaahu ‘alaikum wa zaadahuu basthotang fil ‘ilmi wal-jism, wallohu yu-tii mulkahuu may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim

“Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Talut menjadi rajamu.” Mereka menjawab, “Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi) menjawab, “Allah telah memilihnya (menjadi raja) kamu dan memberikan kelebihan ilmu dan fisik.” Allah memberikan kerajaan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 247)

Kalimat “Basthah” merupakan satu kalimat, apabila itu dikaitkan dengan tubuh, maka tubuh itu dikaitkan dengan panjang dan lebamya. Namun apabila itu dikaitkan dengan ilmu (sifat ilmu Nya Allah Swt), maknanya tentu akan berbeda dengan yang dikaitkan ke tubuh, ia tidak bisa diukur dengan ukuran tubuh. Apabila keadaan seperti inilah yang terjadi pada makhluk, maka penyifatan yang dinisbatkan kepada Allah Swt haruslah suci dan terhindar dari segala persamaan dan penyerupaan, hal itu lantaran Dzat-Nya yang agung dan suci.

Begitupula mengenai situasional. Allah Swt suci dari sifat ini (berada pada situasi tertentu) dan sifat ini pula tidak cocok untuk-Nya, kondisi isi sama halnya dengan sucinya Allah Swt dari segala persamaan dan penyerupaan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَآءِ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمُ الْاَ رْضَ فَاِ ذَا هِيَ تَمُوْرُ 
a amingtum mang fis-samaaa-i ay yakhsifa bikumul-ardho fa izaa hiya tamuur

“Sudah merasa amankah kamu, bahwa Dia yang di langit tidak akan membuat kamu ditelan bumi ketika tiba-tiba ia terguncang?”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 16)

Dengan adanya huruf (فِى) bagi Allah Swt, maka hilanglah sifat situasional, begitu juga dengan huruf (عَلَى) dan ( َمَع) dan sebagainya.

Datang dan turunnya sebuah jasad akan terjadi dengan adanya perpindahan jasad itu sendiri. Maka, turunnya Dzat yang tidak memiliki jasad (maksudnya Dzat Allah Swt), itu sebuah perkara yang mustahil jika disamakan dengan turunnya dzat yang memiliki jasad (yaitu manusia). Mahasuci Allah Swt dari perpindahan dan perumpamaan.

Disebutkan dalam Risalah Al Qusyairiyyah:

قُرْبَهُ کَرَامَةٌ، وَبُعْدُهُ إِهَانَةٌ، عُلُوهُ مِنْ غَيْرِ تَوَفَّلٍ، وَمَجِيتُهُ مِنْ غَيْرِ تَنَقَّلٍ

“Kedekatan-Nya adalah karomah, Jauh dari-Nya adalah kehinaan, ketinggian-Nya tidak karena dipindahkan dan kedatangan-Nya tanpa sebuah perpindahan.”

Kalangan Ahlussunnah telah sepakat, bahwa kalimat “tangan” pada firman Allah Swt surah Al Fath [48]: 10

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)

Tidak sama seperti yang biasanya berlaku. Begitu juga hasta, jari-jemari dan yang lainnya, semua ini tidak sama seperti yang telah kita ketahui. Yang harus kita ucapkan adalah; turun, datang, istiwa-Nya Allah tidak seperti umumnya yang terjadi (pada makhluk) dan tidak seperti yang kita ketahui. Maka jika kemudian ada orang yang beranggapan bahwa turun, datang dan istiwa-Nya Allah seperti yang biasanya berlaku (pada makhluk), maka ia telah sesat.

Para sufi yakin, bahwa turun dan datang-Nya Allah Swt itu terhindar dari sifat jasmani. Mereka menganggap kafir kepada orang yang beranggapan; Allah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain seperti perpindahannya jasad pada umumnya. Para sufi juga meyakini istiwa-Nya Allah Swt dan mereka mengangap kafir orang yang beranggapan; istiwa Nya Allah sama dengan hal yang ada pada makhluk, karena istiwa nya makhluk itu dengan seluk-beluk tertentu, namun istiwa Nya Allah tidak diketahui seluk-beluknya. Inilah cara para salafush-shalih terdahulu yang notabene umat terbaik setelah sahabat dan tabi’in.

Sedangkan orang yang dengan mengumpat, mengaku bahwa dirinya tergolong dari salaf dan menisbatkan penjasmanian bagi Allah Swt -Mahasuci Allah Swt dari segala tuduhan orang. orang yang berbohong- atau dengan membuat sebuah keraguan dengan perkataannya, “Kita tidak berbicara ada atau tidak adanya sebuah jasad,” dia ini sama saja menyatakan bahwa Allah Swt itu bisa saja berjasad dan inilah bentuk sebuah kemunafikan.

Perbedaan nyata antara kita dan orang yang mengaku-ngaku bagian dari salafush-shalih terletak pada penetapan jasad bagi Allah Swt atau tidak. Suatu yang wujud itu antara dua hal; antara apakah ia memiliki jasad atau tidak dan tidak mungkin ia tidak memiliki keduanya; atau dengan memberikan contoh keduanya dan menyuruh mereka untuk memilih, mereka tidak memiliki pilihan kecuali tiga perkara ini; apakah ia akan mengatakan bahwa Allah Swt itu memiliki jasad atau Allah Swt tidak memiliki jasad atau malah berada pada posisi keraguan yang kelak memusuhi orang yang memperbolehkan penisbatan sifat jasad ini. Tidak ada bedanya antara orang yang memperbolehkan penisbatan sifat jasad ini dan orang yang menetapkan penisbatan sifat jasad ini kepada Allah Swt, mereka sama-sama sesat dan syirik kepada Allah Swt, kerena mereka menyifati Allah Swt dengan sifat makhluk yang terbatas.

Para sufi berkeyakinan, mereka percaya dan meyakini bahwa hal tersebut (penyifatan Allah Swt dengan memiliki jasad) tidak boleh dalam segala aspek, Allah Swt salah satu dari bagian yang sempurna, yang meliputi sisi jasmani atau hal lainnya yang tergolong bagian dari makhluk. Mahasuci Allah dari segala perkataan orang-orang yang zhalim.

Siapa saja yang percaya bahwa Allah Swt suci dari jasad, maka ia telah membuang dari khayalannya akan lazimnya sebuah jasad bagi suatu yang wujud. Barangsiapa yang tidak berkeyakinan seperti ini, maka sebagian keimanannya ada sisi yang sesat.

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI