
Elsubha.com – Wihdatul Wujud (Lebur bersama Allah Swt)
Apabila engkau mengambil sedikit adonan, kemudian kau bentuk seperti pepohonan, lalu engkau hancurkan dan bentuk kembali seperti bentuk orang, kemudian engkau hancurkan lagi dan adonan tersebut dijadikan roti, maka semua bentuk yang terlihat silih berganti, sejatinya berasal dari satu adonan.
Kemudian kembalilah engkau pada asal-muasal adonan itu sebelumnya, dimana sebelumnya ia adalah gandum, dan sebelum menjadi gandum ia adalah tanah, sehingga hakikat yang dapat dirasa, dilihat dan disentuh itu adalah materi yang terus berkembang menjadi berbagai macam bentuk, yang kemudian menanggalkan bentuk asalnya agar ia tampak jelas dengan bentuk lainnya, namun sejatinya materi asalnya kala itu masih belum dapat diketahui.
Pemeluk agama Hindu menjadikan ruh nuraniyah (bersifat cahaya) sebagai asas (pokok) ciptaan, dimana dzat alam semesta tercipta dari dzatnya berdasarkan unsur penciptaan yang ada dahulu, sehingga alam semesta ini adalah bagian dari penciptaan tersebut, dan hakekat ruh nuraniyyah adalah material bagi seluruh alam semesta, sehingga setiap sesuatu adalah bagian dari cahaya tersebut.
Dari cahaya itu terciptalah manusia dan dari cahaya itu pula muncullah (segala sesuatu). Kemudian apabila manusia telah mencapai puncak pendakian (spiritualitasnya), maka dia akan kembali kepada cahaya tersebut, lalu dia akan bersatu dengannya dan lebur di dalamnya. Oleh karena itu, mereka memuliakan api yang memancarkan cahaya.
Contoh di atas ini seperti halnya tumbuh-tumbuhan yang keluar dari tanah, kemudian ia berkembang sampai tiba masa menuainya, lalu ia menjadi kering dan kembali menjadi tanah, serta kemudian bercampur dengan asalnya, yaitu tanah.
Demikianlah konsep wihdatul wujud dan fana (lebur bersama Tuhan) menurut agama Hindu yang dikenal dengan istilah Nirfana. Inilah akidah agama Hindu, kaum muslinin tidak berselisih pendapat tentang kebathilannya, baik ulama salaf maupun ulama khalaf, dari kalangan ahli fikih, hadits, tasawuf, teologi (ilmu kalam), ahli qira ‘ah dan tafsir.
Kesepakatan para ulama adalah meyakini bahwa Dzat Al Bari Swt mustahil menjadi tempat bagi makhluk, demikian juga makhluk mustahil menjadi tempat bagi-Nya. Ulama salaf dan khalaf sepakat menyatakan, bahwa semua asumsi yang telah beredar luas tidak bisa dihubungkan pada makhluk secara kontekstual. Tetapi yang dimaksud dengan asumsi itu adalah makna Ilahi yang pantas untuk Dzat yang tiada sesuatu pun menyerupai-Nya.
Tidak diragukan lagi bahwa sesuatu yang bisa dibagi dan dipotong untuk kepentingan penyatuan, peleburan dan pemisahan serta yang lainnya termasuk sifat-sifat makhluk. Jika Allah Swt digiring dalam konsep penyatuan rohani, berarti pada-Nya berlaku ketentuan-ketentuan makhluk, sehingga Dia bisa bercampur dengan makhluk dan makhluk pun bisa bercampur dengan-Nya, Dia bisa melebur dengan makhluk dan makhluk pun bisa melebur dengan-Nya, kemudian terjadilah batasan, baik pada seluruh Dzat-Nya maupun sebagian-Nya saja.
Apabila pada Dzat-Nya berlaku salah satu diantara sifat-sifat makhluk, maka tidak menutup kemungkinan sifat-sifat yang lainnya juga berlaku pada-Nya, sehingga sifat-sifat yang wajib hilang dari-Nya, sifat qidam pun juga hilang dari-Nya. Padahal Allah yang Maha Esa lagi Kekal disucikan dari hal-hal tersebut, sehingga tidak ada istilah jasad, hulul, menyatu, bercampur dan lebur. Allah yang Maha Benar lebih luhur dari apa yang telah dikatakan oleh orang-orang zhalim.
Jadi, perbedaan antara akidah agama Hindu dengan akidah Al Ahadiyah Al Ilahiyah (Ketuhanan Yang Maha Esa) yang dibawa oleh para nabi dan rasul sangatlah jauh. Karena Allah Swt adalah Pencipta setiap sesuatu tanpa sifat terputus.
Apabila engkau melihat sebuah cermin, maka gambarmu akan muncul dalam cermin itu tanpa ada kekurangan sedikit pun dari dirimu atau terputus atau terpisah. Apabila hal ini bisa berlaku bagi makhluk, maka Al Haq lebih suci dari hal itu -dan bagi-Nya perumpamaan yang tinggi. Dia disucikan dari sifat terpisah dan terputus, serta setiap sifat yang berlaku pada makhluk. Berdasarkan hal ini, terciptalah setiap sesuatu tanpa proses penyentuhan dan pencampuran (dengan Allah Swt).
Perbedaan antara orang yang meyakini bahwa Al Haq (Allah Swt) adalah materi setiap sesuatu yang ada (di alam semesta ini) dengan orang yang meyakini bahwa Al Haq adalah Penciptanya dan Dia berada di atas kebersihan-Nya, kesucian-Nya dan keluhuran-Nya dari sifat-sifat makhluk, perubahan dan pergantian. Jadi, Dia (Allah) adalah Dia (Dzat Allah sendiri), baik sebelum maupun setelah terciptanya makhluk. Dialah yang melakukan lagi yang memilihkan. Apa yang Dia kehendaki, ia akan tercipta dan apa yang tidak Dia kehendaki, ia tidak akan tercipta.
Jadi, hakikat wihdatul wujud yang dimaksud oleh para ahli tasawuf dalam ungkapan dan syair mereka adalah, bahwa Dzat Yang Maha Esa, Maha Benar lagi Maha Kaya dari selain-Nya, setiap sesuatu yang ada (di alam semesta) butuh kepada-Nya, Dialah Allah semata.
Jika salah seorang ulama mengatakan, “Lâ maujûda illallâh (Tak ada yang wujud kecuali Allah Swt)”, maksudnya adalah, wujud Allah Swt itu adalah wujud yang hak, yang bersifat independen dan tidak dihasilkan dari selain-Nya. Sedangkan selain-Nya itu mengikuti wujud Al Haq (Allah) dan selain-Nya tidak memiliki hak untuk mewujudkan dirinya, sehingga dia tidak bisa mewujudkan pribadinya. Oleh karena itu, dia (makhluk) tidak bisa berdiri sendiri, tetapi dia berdiri dengan Allah Swt. Dia (manusia) juga tidak bisa mewujudkan dirinya, sehingga dia tidak bisa bertindak dalam dirinya, tetapi dia bertindak karena Allah Swt yang mengaturnya sesuai dengan kehendak-Nya.
Jadi, dia (makhluk; manusia) tercipta bukan dari pribadinya, bukan dengan pribadinya dan bukan karena pribadinya, sehingga dia bukanlah wujud yang hakiki. Andai saja bukan karena Al Haq (Allah) yang mewujudkannya, maka dia tidak akan tercipta, sehingga dia itu dari Allah, dengan Allah dan juga karena Allah Swt.
Berdasarkan hal ini, jelaslah sudah bahwa yang dimaksud mereka dengan kata “wujud” adalah Dzat Al Haq (Allah) yang mulia. Sedangkan selain Dzat Al Haq itu harus mempunyai nama yang pantas dengannya. Maka Al Haq adalah Pencipta (subyek), sedangkan makhluk adalah yang diciptakan (obyek).
Perserikatan dalam kata “wujud” menurut manusia hanyalah perserikatan dalam sebuah kata dan bukan secara hakikat. Hakikat Al Haq (Allah) hanya satu, sehingga wujud-Nya pun hakiki. Sedangkan wujud selain-Nya tidak bersifat hakiki dan ketiadaannya pun ketiadaan yang bersifat pribadi.
Al Bari (Allah) Swt suci dari bentuk perserikatan dalam sebuah sifat dan nama, sehingga pendengaran Dzat-Nya merupakan pendengaran yang disucikan dari jarak, batasan, anggota badan dan berbagai macam alat, ini berbeda dengan pendengaran makhluk yang serba terbatas dengan beberapa batasan dan berbagai macam alat.
Jadi, perserikatan dalam sebuah kata bukanlah perserikatan secara hakiki dan tidak ada keserupaan antara pendengaran makhluk dengan pendengaran yang hakiki (pendengarannya Allah) dari berbagai macam sisi, sehingga hakikat pendengaran-Nya bukanlah hakikat pendengaran makhluk.
Apakah masuk akal, perserikatan hakiki antara ilmu Dzat (sifat Ilmu-Nya Allah) yang mutlak, yang mana dari-Nya terciptalah beberapa makhluk -sementara Dia jauh lebih dahulu dari semuanya dengan ilmu yang baru tentang wujudnya makhluk yang baru (manusia)?
Apabila engkau berpikir secara mendalam, maka engkau akan dapati bahwa engkau tidak mendengar kecuali dengan anugerah Allah Swt dan engkau tidak mendengar dengan pendengaranmu sendiri. Engkau tidak mengetahui kecuali dengan Allah Swt, bukan dengan dirimu sendiri, sehingga engkau itu bersama Allah Swt, bukan bersama dirimu sendiri.
Jika mata air dengan mata manusia sama secara lafazh, maka maknanya menjadi berbeda dan dua-duanya memungkinkan. Sedangkan Al Haq (Allah) jauh dari berbagai macam gambaran dan perumpamaan. Barangsiapa yang menjelaskan tentang cahaya bulan di dalam lautan, bahwa cahaya itu adalah cahaya matahari, maka dia bukan pendusta, karena cahaya bulan itu muncul dari cahaya matahari dengan tanpa terpotong sedikitpun darinya.
Ini adalah perumpamaan yang paling dekat guna menjelaskan ungkapan para pemimpin ahli tasawuf yang pengertiannya menyiratkan, bahwa semua makhluk itu tercipta sebab Al Haq (Allah) bukan sebab diri mereka sendiri.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ
allohu laaa ilaaha illaa huwal-hayyul-qoyyuum
“Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 2)
Dia tidak butuh kepada sesuatu, Dia membantu setiap makhluk sesuai dengan kebutuhannya, Dia menahan langit hingga tidak gugur menimpa bumi, Dia juga menahan burung yang terbang dan Dialah yang mengurus segala sesuatu (yang ada di alam semesta ini).
Barangsiapa yang tidak bisa membedakan antara konsep wihdatul wujud orang kafir yang menjadikan Al Haq (Allah) sebagai material bagi makhluk, dengan konsep wihdatul wujud-nya orang mukmin yang menafikan kekufuran, serta mengklaim bahwa Al Haq Swt adalah Dzat yang mengurus makhluk tanpa cara dan contoh, maka ini menandakan kebodohan dirinya yang telah mengakar.
Jadi, pernyataan sufi yang telah disebutkan, “Tidak ada yang wujud kecuali Allah Swt,” maka maksud dari pernyataan ini sesuai dengan penjelasan di atas, yaitu tidak ada yang wujud dengan wujud yang bersifat Dzat (mutlak) kecuali Allah Swt. Inilah penjelasan yang benar dan disepakati oleh kaum muslimin, baik khusus maupun umum, semoga Allah Swt meridhai mereka semua.
