You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Orientalis Dan Pencemaran Hakikat

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Orientalis Dan Pencemaran Hakikat

Orang-orang orientalis menulis sesuai dengan apa yang mereka pahami tentang tasawuf Islam. Mereka merusak akidah agama mereka sendiri, mereka tidak mampu melepaskan diri dari kecondongan, supaya mereka mampu memahami hakikat pemahaman kaum sufi. Mereka juga tidak bisa mengimbangi orang yang telah menyingkapkan beberapa tingkatan dalam perjalanan (spiritual) dan apa yang muncul darinya kepada mereka.

Apabila kita tidak percaya begitu saja kepada orang yang mempelajari ilmunya dari kitab-kitab kaum muslimin tanpa penjelasan langsung dari orang yang mengetahui kitab-kitab tersebut, maka apalagi dengan orang yang akidahnya bukan akidah Islam dan pemikirannya bukan pemikiran Islam? Hal ini memastikan, bahwa mereka menyelamatkan sebuah tujuan, namun melakukan pencemaran dalam hakikat.

Ini adalah kerancuan aneh yang mereka campuradukkan didalamnya, sehingga mereka memberikan gambaran yang buruk untuk tasawuf Islam. Hal ini tidak akan datang dari orang yang menyucikan tujuannya dan terbebas dari hawa (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan). Sebab, kekeliruan yang tidak disengaja tidak akan mungkin bisa mencemari beberapa hakikat dengan kekeliruan ini.

Menurutku, mereka takut jika terbukti bahwa ajaran Al Masih yang mereka anut ternyata ajaran yang kontroversial dan tidak masuk akal, yaitu tuhan itu tunggal, tuhan itu tiga, tuhan itu pencipta, tuhan itu makhluk, tuhan itu bapak dan tuhan itu anak, tuhan itu adil dan tuhan itu kuasa. Dia ingin mengampuni orang yang memakan pepohonan itu, kemudian dengan dalih itu pula dia membunuh orang yang tidak berhak dibunuh agar bisa mendapatkan ampunan, lalu dia memurkai orang yang melaksanakan pembunuhan itu.

Secara pasti kami tidak mungkin bisa menggambarkan orang suci (istilah Gerejani) -seperti junjungan kita Isa nabi Allah Swt dan rasul-Nya As- yang datang dengan membawa kisah khayalan yang tidak masuk akal. Maka apakah Allah Swt membebani syariat selain bagi orang-orang yang berakal? Barangsiapa yang bisa memurnikan tauhidnya, maka dia pasti memiliki pemahaman seperti pemahaman yang dibawa oleh Al Masih.

Apabila gambaran ajaran Al Masih pun berhasil mereka samarkan, lalu bagaimana dengan selainnya? Seakan-akan mereka ingin dengan cara yang samar- membenarkan sikap yang kontroversi diantara mereka, sehingga mereka menggambarkan tokoh sufi dengan gambaran orang yang berserikat bersama mereka di dalam kontroversi ini, lalu mereka menisbatkan kepada tokoh sufi itu bahwa mereka mengatakan, “Pencipta yang Maha Mulia keadaan-Nya adalah inti semesta yang diciptakan ini.”

Jadi, Dia itu tunggal kemudian Dia menjadi dua atau Dia itu tunggal kemudian Dia berjumlah banyak. Lantas bagaimana kaum muslimin sepakat dengan mereka dalam masalah agama yang menyebutkan, bahwa tuhan yang tunggal itu adalah tuhan yang tiga dari satu sisi.

Perbedaan itu sangat jauh sekali antara apa yang dikatakan oleh sufi dengan apa yang mereka asumsikan. Kami suguhkan keterangan berikut ini untukmu:

A. Penisbatan Makhluk kepada Khâliq

Tidak ada perbedaan pendapat diantara cendekiawan tentang wujud yang wajib (Tuhan) yang merupakan sumber segala sesuatu yang terdapat dalam semesta, mulai dari susunan, aturan, ilmu dan hikmah. Beberapa agama datang dengan membawa sifat Al Wajib (Dzat yang wajib ada) dengan kesempurnaan yang paling tinggi. Tidak ada perbedaan pendapat diantara mereka dalam hal ini. Namun mereka berbeda pendapat dalam memahami kesempurnaan tersebut. Setiap agama memilih satu dari beberapa kewajiban dalam penisbatan semua ciptaan kepada Al Wajib Swt.

Satu kelompok mengklaim, bahwa Al Khaliq membekas dalam Dzat-Nya, kemudian Dia mengelola semuanya atau sebagiannya, lalu Dia menjadikan itu sebagai semesta ini, sehingga semesta ini adalah Dia dan Dia adalah semesta ini. Tidak ada perbedaan pendapat diantara kaum muslimin, baik kaum sufi maupun selain mereka, bahwa akidah ini adalah akidah yang bathil. Perubahan sebuah dzat adalah tanda-tanda perkara baru. Orang yang berpedapat demikian, maka dia telah kafir lagi musyrik terhadap Allah Swt, serta menisbatkan akidah ini kepada akidah penyembah berhala Hindu.

Ada juga yang berpendapat, bahwa setiap sesuatu yang bisa diindera dan yang lainnya dari semesta ini atau sebagiannya, ada dengan dzatnya sendiri tanpa membutuhkan Rabbnya Swt. Keyakinan ini juga batil, dibantah oleh Islam dan kaum muslimin. Karena Al Wajib (Allah) tidak ada kecuali Dzat yang memiliki kesempurnaan mutlak dan kesempurnaan mutlak itu tidak bisa tergambar kecuali tunggal. Barangsiapa yang masih memiliki tandingan yang lebih tinggi dari kesempurnaanya, maka tidak mungkin dia memiliki tandingan.

Atau ada yang berpendapat, bahwa semesta ini berikut isinya membutuhkan Rabbnya (Allah Swt), sehingga tidak benar jika ia tidak membutuhkan-Nya secara pasti. Dialah yang Maha Kaya dengan Dzat-Nya sendiri yang mulia lagi agung. Ini adalah agama semua para nabi dan ini adalah pendapat tentang wihdatul wujud yang disebutkan oleh kaum sufi.

Rasulullah Saw bersabda,

أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا الشَّاعِرُ كَلِمَةُ لَبِيدٍ: أَنَا كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهَ بَاطِل

“Kalimat paling benar yang diungkapkan oleh para penyair adalah kalimat Labid; ‘Ketahuilah, bahwa segala sesuatu selain Allah adalah bathil.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۗ كُلُّ شَيْءٍ هَا لِكٌ اِلَّا وَجْهَهٗ ۗ لَـهُ الْحُكْمُ وَاِ لَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
wa laa tad’u ma’allohi ilaahan aakhor, laaa ilaaha illaa huw, kullu syai-in haalikun illaa waj-hah, lahul-hukmu wa ilaihi turja’uun

“Dan jangan (pula) engkau sembah Tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 88)

Kaum sufi berkata, “Maksud dari penyataan ini adalah tidak ada sifat berdiri bagi-Nya, kecuali dengan Dzat-Nya sendiri.”

Wihdatul wujud dengan pengertian seperti inilah yang dimaksud, maka tidak sah keimanan seseorang, kecuali berpendapat seperti itu.

Jadi, penisbatan makhluk kepada Khaliq adalah nisbat kebutuhan dzat kepada Dzat Yang Maha Kaya lagi mutlak.

Apabila gambar makhluk tampak di beberapa cermin dengan begitu banyak dan gambar-gambar itu tidak bisa berdiri sendiri, kecuali dengan dzatnya, berarti dia itu satu, sedangkan gambar-gambar itu bisa tampak semua dengan dzatnya. Di samping itu, gambar-gambar tersebut tidak bisa menjadikannya berbilang, tidak pula bisa menjadikannya berubah dan terpisah, sehingga gambar itu hanya sebatas gambar. Semua gambar itu kembali kepadanya dan senantiasa tetap menjadi gambar.

Ini adalah perumpaan bagi makhluk, Tuhan kita Sut disucikan darinya dan dari perumpamaan yang lain, karena Dia tidak memiliki jism sehingga gambar-gambar itu tidak bisa merubah-Nya. Dia disucikan dari kaif (cara) dan sesuatu yang membatasi. Terkadang Dia digiring kepada sesuatu yang memungkinkan bagi-Nya tampak di semesta ini, dari beberapa kesempurnaan-Nya yang suci, berupa ilmu, qudrah (kuasa), hidup, mendengar dan melihat.

Kelompok yang paling menjauhi dari pendapat tajassud (Allah Swt memiliki jasad) dan ittihad (menyatu dengan makhluk) adalah kaum sufi. Akan tetapi tujuan dalam ungkapan ini berbeda dari redaksinya. Apabila mereka berkata, “Tidak ada yang wujud kecuali Allah Swt,” maka maksudnya adalah tidak ada yang mewujudkan wujud yang hak, kecuali Allah Swt, sehingga tidak ada yang Maha Kaya secara dzat kecuali Dia.

Sesuatu yang masih membutuhkan dzat lain untuk mewujudkannya, berarti wujudnya bukan dengan wujud-nya sendiri, tetapi dia memilikinya karena ada yang memberikannya, sehingga yang azali lagi qadim dalam akidah kaum muslimin hanyalah satu (Allah Swt), sedangkan selain-Nya adalah baru, dengan-Nya wujudnya (makhluk) dan dengan-Nya sifat berdirinya (makhluk).

Jadi, sifat ke-Esa-an tetap pada dzat-Nya, dzat-Nya adalah milik-Nya. Sedangkan banyaknya ciptaan-Nya didunia inipun milik-Nya, sehingga tidak ada lagi kontroversi, karena dzat itu terbebas dari apapun.

Melalui hal ini, dari manakah keyakinan bahwa tuhan bapak itu dzat, anak itu dzat, ruh al qudus itu adalah burung yang terbang diantara langit dan bumi dan semua itu bersifat azali lagi qadim, sehingga yang tiga itu adalah satu secara hakikat?

Bukankah dalam diri manusia itu ada akal? Bukankah manusia memiliki pertimbangan yang baik? Begitu indah jika memang pemahaman itu tidak berlebihan.

Mereka mengklaim bahwa kaum sufi berpendapat, bahwa Nur Muhammadiyah itu bersifat azali, mereka sepakat dengan para pengikut Al Masih yang berpendapat, bahwa Al Masih As itu bersifat azali. Ini adalah pendapat yang tidak pernah disampaikan oleh seorang pun dari kalangan sufi dan tidak pula selain mereka. Akan tetapi tujuan dari orang-orang yang mengatakan demikian adalah untuk membenarkan pendapat yang menyatakan, bahwa hamba dan utusan Allah Swt adalah Isa As dan itu bersifat azali.

Orang yang berpendapat, Nur Muhammadi itu adalah permulaan makhluk, maka cukuplah untukmu pernyataan, bahwa tidak ada penjelasan yang menyatakan, bahwa yang bersifat azali itu adalah makhluk, sehingga sifat azali tidak bisa dipadukan dengan sesuatu yang sebelumnya tidak ada (makhluk).

Apabila makhluk yang pertama bukan Nur Muhammadi, maka Qalam adalah makhluk yang pertama atau ‘Arasy atau air atau udara. Karena dari semua itu, tentu ada yang menjadi makhluk yang pertama dalam setiap keadaan dan makhluk pertama dalam agama Islam itu tidak dianggap sebagai tuhan atau anak tuhan; atau dia berhak memiliki salah satu sifat dari beberapa sifat ketuhanan. Dari hal ini, bagaimana mereka bisa menjadikan Al Masih memiliki sifat azali, menjadikannya sebagai anak Allah dan menjadikannya sebagai tuhan utusan dari tuhan?

Abu Ishaq Al Marwazi Al Hanbali dan yang lainnya menyatakan sebagai ijma’ tentang semua ruh, bahwa ruh seseorang, baik yang beriman maupun yang kafir telah diciptakan sebelum adanya jasad. Zhahir-nya nash Al Qur’an menunjukkan demikian.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ خَلَقْنٰكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنٰكُمْ ثُمَّ قُلْنَا لِلْمَلٰٓئِكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰ دَمَ فَسَجَدُوْۤا اِلَّاۤ اِبْلِيْسَ ۗ لَمْ يَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَ
wa laqod kholaqnaakum summa showwarnaakum summa qulnaa lil-malaaa-ikatisjuduu li-aadama fa sajaduuu illaaa ibliis, lam yakum minas-saajidiin

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan kamu, kemudian membentuk (tubuh)mu, kemudian Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam,” maka mereka pun sujud kecuali Iblis. la (Iblis) tidak termasuk mereka yang bersujud.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 11)

Demikian juga dengan beberapa hadits shahih sebagai penjelas Al Qur’an. Tidak apa-apa memahami ayat itu dengan beberapa pengertian yang berbeda dengan penjelasan Rasulullah Saw, namun hal itu bisa menghancurkan kenabian yang dinisbatkan kepada Isa As yang diyakini, bahwa dia terlahir dari seorang ibu tanpa seorang ayah. Karena semua ruh bisa berserikat dengan junjungan kita Isa As dalam wujudnya sebelum jasad Adam As.

Ketika jasad itu seperti pakaian atau rumah bagi ruh, sementara ruh adalah insan yang bisa mengetahui, berkehendak lagi mendengar dan anak yang terlahir dari Maryam As bukanlah ruh Sayyidina Isa As, tetapi ia adalah jasadnya, pakaiannya dan rumahnya. Demikian juga dengan setiap manusia, baik berserikat dalam satu bangunan yang ditempati oleh seorang perempuan atau seorang perempuan dengan seorang lelaki, demikian juga dia tidak bisa masuk dalam penciptaan ruh, maka ruh-ruh tersebut wujud sebelum semuanya tercipta, di antaranya adalah ruh Sayyidina Isa As. Ia bukanlah ruhku, ruhmu, ruh salah seorang dari jasad bapak kita dan ibu kita, akan tetapi tanah itu berasal dari tanah.

Firman Allah Swt yang menyebutkan, bahwa Sayyidina Isa As adalah ruh-Nya dan di dalam hadits disebutkan, bahwa dia adalah ruh Allah Swt, maka idhafah (penggabungan dua kata) dalam hal ini mempunyai arti milik, seperti kata “rumah Allah” dan “unta betina Allah”. Hal ini juga menunjukkan kemuliaan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَقَا لَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللّٰهِ نَا قَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰهَا 
fa qoola lahum rosuulullohi naaqotallohi wa suqyaahaa

“lalu Rasul Allah (Salih) berkata kepada mereka, “(Biarkanlah) unta betina dari Allah ini dengan minumannya.”“
(QS. Asy-Syams 91: Ayat 13)

Padahal semua unta betina itu milik Allah Swt, tetapi Dia mengkhususkan unta tersebut untuk memuliakan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا تَّخَذَتْ مِنْ دُوْنِهِمْ حِجَا بًا ۗ فَاَ رْسَلْنَاۤ اِلَيْهَا رُوْحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا
fattakhozat ming duunihim hijaabaa, fa arsalnaaa ilaihaa ruuhanaa fa tamassala lahaa basyarong sawiyyaa

“lalu dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.”
(QS. Maryam 19: Ayat 17)

Yang dimaksud ruh Kami, adalah Jibril. Maksudnya, salah satu ruh diantara beberapa ruh yang Kami miliki.

Jadi, idhafah ini menunjukkan kemuliaan. Hal ini sudah dikenal dalam istilah bahasa Arab.

Orang yang berpendapat, bahwa makhluk yang pertama adalah cahaya atau air atau ‘Arasy atau Qalam. Jika dia benar, maka pendapat itu bagus, namun jika dia keliru, maka pendapat itu pun tidak berakibat mengurangi kesempurnaan Dzat, tidak pula menyifati makhluk dengan sifat Khaliq, tidak pula menyifati Khaliq dengan sifat makhluk, sehingga sifat yang tercipta pertama kali itu telah ditetapkan bagi makhluk.

Beberapa masalah yang berkaitan dengan ciptaan ada pada satu bahasan, sedangkan beberapa masalah yang mendustakan apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw adalah pembahasan yang lainnya. Hal itu tidak berdampak negatif terhadap keyakinan tentang ke-Esa-an Allah Swt sedikit pun, selama keyakinan itu menyatakan, bahwa dia (Jibril) adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt, dia tidak memiliki dirinya sendiri. Tidak pula bisa memberikan manfaat kepada yang lainnya, tidak bisa memberi bahaya, kematian, kehidupan dan kebangkitan. Dalam dirinya tidak ada sifat Rububiyyah dan Uluhiyyah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لُوا اتَّخَذَ الرَّحْمٰنُ وَلَدًا سُبْحٰنَهٗ ۗ بَلْ عِبَا دٌ مُّكْرَمُوْنَ 
wa qooluttakhozar-rohmaanu waladang sub-haanah, bal ‘ibaadum mukromuun

“Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Maha Suci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan,”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 26)

لَا يَسْبِقُوْنَهٗ بِا لْقَوْلِ وَهُمْ بِاَ مْرِهٖ يَعْمَلُوْنَ
laa yasbiquunahuu bil-qouli wa hum bi-amrihii ya’maluun

“mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 27)

Tidak ada seorang muslim pun berpendapat, bahwa Allah Swt menciptakan manusia kemudian Dia memasrahkan kepadanya untuk menciptakan semesta. Akidah mereka ialah Khaliq (pencipta) itu hanya Allah Swt semata, sedangkan selain Nya adalah makhluk. Al Mudabbir (yang mengatur) hanya Allah Swt semata, sedangkan selain-Nya adalah hamba yang diperintah.

Sedangkan akidah para pengikut Al Masih, baik kelompok orientalis ataupun selain mereka sesuai dengan yang tertera dalam beberapa kitab mereka adalah, kalimat yang ada di zaman azali ialah bahwa ada yang menciptakan alam semesta, ada yang mengatunya dan ada yang menghisabnya di akhirat. Lantas dimanakah akidah ini diantara beberapa akidah kaum muslimin?

Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi menjelaskan tentang barunya alam semesta dalam bab 69 dari Al Futûhât, dia berkata, “Seluruh semesta ini ada dari sebelumnya tidak ada dan keberadaannya diambil dari wujudnya Dzat yang mewujudkannya, yaitu Allah Swt. Jadi, mustahil semesta ini wujud sejak zaman azali, karena hakikat Dzat yang mewujudkan adalah mewujudkan sesuatu yang tidak disifati dengan wujud, yaitu tidak ada. Dia tidak mewujudkan sesuatu yang telah wujud sejak zaman azali, karena hal itu mustahil, sebab seluruh semesta ini berdiri dengan yang lainnya dan bukan dengan sendirinya.”

Perumpamaan pendapat tentang azaliyyah yang jauh dari hakikatnya adalah pendapat yang mengatakan, bahwa Rasulullah Saw menyatu dengan orang yang datang sepeninggal beliau, dari kalangan para wali. Orang yang berpendapat demikian tidak dianggap sebagai orang Islam, lantas bagaimana mungkin dia menjadi golongan sufi? Sementara Islam itu adalah hujjah bagi orang yang menisbatkan diri kepadanya, sedangkan orang yang menyelisihinya sangatlah jelas sekali.

Yang jelas kelompok orientalis tidak paham makna “mewarisi” yang terdapat dalam hadits,

إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi.”

Ahli waris yang sempurna adalah yang mewarisi Nabi Saw secara zhahir dan bathin. Maksudnya, sesuatu yang berkaitan dengan anggota badan dan sesuatu yang berkaitan dengan akhlak yang berhubungan aktivitas qalbu serta apa yang tersingkap bagi ruh dari penyaksian yang benar. Hal itu bukan berarti, bahwa batin agama itu menafikan zhahir-nya, karena hal itu adalah kesesatan yang nyata.

Diriwayatkan dari Ummu Salamah Ra, bahwa Nabi Saw bersabda,

إِنَّ فِي السَّمَاءِ مَلَكَيْنِ أَحَدُهُمَا يَأْمُرُ بِالشَّدَّةِ وَالْآخَرُ يَأْمُرُ بِاللَّينِ وَكُلِّ مُصيبٌ جِبْرِيلُ وَمِيكَائِيلُ، وَنَبِيَّانِ أَحَدُهُمَا يَأْمُرُ بِالدِّينِ وَالآخَرُ يَأْمُرُ بالشِّدَّةِ وَكُلِّ مُصِيبٌ، وَذَكَرَ إِبْرَاهِيمَ وَنُوحًا، وَلِي صَاحِبَانِ أَحَدُهُمَا يَأْمُرُ باللين وَالآخَرُ بِالشَّدَّةِ وَكُلِّ مُصِيبٌ، وَذَكَرَ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ

“Sesungguhnya di langit itu ada dua malaikat, yang satunya memerintah dengan keras dan yang satunya lagi memerintah dengan lembut, namun semuanya benar, yaitu Jibril dan Mika`il; (dan di langit itu) ada dua nabi, yang satunya memerintah dengan keras dan yang satunya lagi memerintah dengan lembut, namun semuanya benar, -kemudian beliau menyebut Ibrahim dan Nuh, sedangkan aku memiliki dua sahabat, yang satunya memerintah dengan keras dan yang satunya lagi memerintah dengan lembut namun semuanya benar, -kemudian beliau menyebut Abu Bakar dan Umar.” (HR. Ath-Thabrani dan para periwayatnya tsiqah).

Inilah warisan yang terus berlangsung dan disebut-sebut oleh kaum muslimin. Mereka mewarisi beliau dengan cara berakhlak sesuai akhlak beliau yang terpuji dan perjalanan ruhani yang lurus. Demikianlah yang dimaksud dengan iqtida (mengikuti Nabi Saw), bukan hulul (menyatu) dan bukan pula tanasukh (bergantian).

Demikian juga hadits Nabi Saw tentang Abu Dzarr Ra, bahwa dia mirip Isa As dalam hal ke-wara ‘an-nya. (yang disebutkan dalam hadits At-Tirmidzi dari Anas Ra) dan diriwayatkan dari Abu Ad-Darda Ra, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى المَسِيحِ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ إِلَى بِرِّهِ وَصِدْقِهِ وَجِدِّهِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى أَبِي ذَرٍّ

“Barangsiapa yang ingin melihat Al Masih Isa bin Maryam maksudnya melihat kebaikannya, kejujuran dan kegigihannya-, hendaklah dia melihat Abu Dzar.” (HR. Ath-Thabarani. Hadits yang serupa diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, namun di dalamnya terdapat periwayat yang dha’if. Asal hadits ini telah disebutkan dalam As-Sunan)

Mereka juga tidak bisa memahami dengan baik tentang syafa’at Nabi Saw yang diyakini oleh kaum muslimin dan beberapa hadits yang telah disampaikan oleh Rasulullah Saw melalui beberapa jalur periwayatan yang shahih sebagai penjelas bagi nash Kitab Allah Swt, sebab yang disepakati adalah Allah Swt memberi izin kepada Nabi-Nya Saw tentang syafa’at bagi orang yang dikehendaki oleh Allah Swt untuk diampuni dosanya.

Jadi, syafa’at itu mutlak dari Allah Swt, tidak ada pengaruh bagi yang memberi syafa’at (Nabi Saw) dalam kehendak Al Haq Swt. Akan tetapi Dia ingin menampakkan kemuliaan Rasulullah Saw di sisi-Nya. Syafa’at ini adalah syafa’at untuk orang-orang yang mengesakan Allah Swt dan bukan untuk orang-orang musyrik.

Sedangkan tawassul, maka tawassul itu melalui orang yang kita cintai, yaitu Nabi Saw, karena beliau adalah kekasih Allah Swt. Cintamu kepada Rasulullah Saw adalah wajib dan itu termasuk dari amalmu yang shaleh. Sedangkan tawassul kepada Allah Swt melalui amal yang shaleh itu termaktub dalam Al Qur’an, Dia berfirman,

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَا بْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wabtaghuuu ilaihil-wasiilata wa jaahiduu fii sabiilihii la’allakum tuflihuun

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 35)

Cinta karena Allah Swt termasuk ikatan iman yang paling kuat, lalu apa yang salah dalam hal itu? Sementara cinta kita kepada Nabi Saw terus melekat, baik saat beliau masih hidup dan setelah beliau wafat.

Tujuanku dalam pembahasan ini bukan untuk meneliti setiap kesalahan kelompok orientalis dan orang-orang yang mengikuti mereka, serta kaum yang tidak membedakan antara perkataan kaum sufi dalam keadaan extase (wajd), dimana dalam keadaan itu mereka mendapatkan toleransi dari para ulama, dengan apa yang mereka katakan dalam keadaan sadar. Kesalahan yang dilakukan oleh manusia dalam hal ini, sedikit pun tidak membahayakan mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُدٰفِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّا نٍ كَفُوْرٍ
innalloha yudaafi’u ‘anillaziina aamanuuu, innalloha laa yuhibbu kulla khowwaaning kafuur

“Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat dan kufur nikmat.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 38)

B. Tujuan Puncak Kaum Sufi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Allah Swt membedakan antara maqam muhib (tingkatan orang yang mencintai) dan maqam mahbub (tingkatan orang yang dicintai).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)

Sedangkan pangkat kenabian telah habis, sehingga tidak ada harapan bagi seorang pun untuk mendapatkan pangkat tersebut, sebagaimana keutamaan menjadi sahabat Rasulullah Saw yang tidak bisa dicapai lagi, karena sahabat itu adalah orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dalam keadaan memeluk Islam dan meninggal dalam keislamannya.

Tujuan puncak yang bisa dicapai oleh para wali adalah berkumpul dengan Nabi Saw dalam keadaan yaqzhah (terjaga), sesuai dengan apa yang disampaikan oleh para muhaqqiq ahli syuhûd. Kembalilah kepada apa yang disebutkan oleh Al Hafizh Ibnu Abi Hamzah dalam Syarh-nya terhadap Mukhtashar Shahih Al Bukhari dan yang lainnya dari kalangan tokoh sufi. Berkumpul dengan Nabi Saw itu adalah awal perjalanan seorang sahabat, sehingga puncak perjalanan para wali adalah awal perjalanan para sahabat Ra.

Hukum melihat dalam mimpi bisa seperti melihat dalam keadaan terjaga harus dipertimbangkan berdasarkan syari’at yang, sehingga apa yang bisa diterima oleh syari’at, maka kami pun akan menerimanya dan apa yang ditolak oleh syari’at, maka kami pun tidak akan mengambilnya. Hal ini telah dicoba untuk ditampakkan dengan beberapa cara, namun semuanya tertolak, karena demikian itu adalah keadaan ruhiyyah, bukan kedaan yaqzhah (kondisi sadar diri) yang bisa diperlihatkan.

Jadi, tujuan orang-orang yang arif itu adalah meyakini dengan sempurna apa yang mungkin diyakini bagi orang Islam sesuai dengan tingkatan mereka, berupa makrifat, amal perbuatan dan kondisi jiwa. Bukan dunia dan bukan pula jabatan, karena sedikit pun itu bukanlah tujuan.

Al ‘Arif Ibnu ‘Atha`illah berkata, “Tujuanmu ada di hadapanmu, maka tinggalkanlah setiap kenangan yang ada di belakangmu.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
washbir nafsaka ma’allaziina yad’uuna robbahum bil-ghodaati wal-‘asyiyyi yuriiduuna waj-hahuu wa laa ta’du ‘ainaaka ‘an-hum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-yaa, wa laa tuthi’ man aghfalnaa qolbahuu ‘ang zikrinaa wattaba’a hawaahu wa kaana amruhuu furuthoo

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)

Al Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah Ra, dari Nabi Saw, beliau bersabda,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ . الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لأعِيدَنَّهُ

“Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan genderang perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada apa yang Aku wajibkan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunah, hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia menyentuh dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku, tentu Aku berikan kepadanya dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku, tentu Aku melindunginya.”

Di dalam hadits ini ada tiga tingkatan:

1. Orang yang melaksanakan kewajiban, baik ilmu maupun amal, baik zhahir maupun bathin.

2. Orang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan beragam amalan sunnah setelah melaksanakan amalan wajib, sehingga dengannya dia mencapai maqam mahbubiyah.

3. Orang yang dengan beragam amalan sunah bisa mencapai maqam mahbubiyah di sisi Al Haq Swt. Ini adalah tingkatan yang paling tinggi dan kedudukan yang paling mulia,

كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

” maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat.” Allah Swt tidak mengatakan, “Aku akan menjadi kedua matanya dan tidak pula kedua telinganya,” karena perkara ini tidak bisa masuk dalam zona yang bisa di indera.

Baik kita memahami dalam hadits itu bahwa Al Haq Swt menjamin keadaannya, sehingga Dia akan memperdengarkan kepadanya apa yang tidak bisa didengar oleh telinganya dan Dia akan memperlihatkan kepadanya apa yang tidak bisa dilihat oleh matanya…..dan seterusnya; atau Al Haq Swt menjaga penglihatan dan pendengarannya, lalu Dia meliputinya dengan perlindungan-Nya yang khusus; atau Al Haq Swt membuat hamba itu lupa kepada dirinya sendiri dan membuatnya sibuk dengan Dzat-Nya yang luhur, sehingga dia tidak mendengar, melihat dan merasakan, kecuali dengan izin Rabbnya Swt.

Sedangkan penyatuan Al Haq dalam diri hamba-Nya adalah perkara yang jauh dari pemikiran Islami. Tidak diragukan lagi, bahwa orang yang meyakininya bukan termasuk kaum muslimin dan dia ingkar dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw berupa penyucian Al Haq Yang Maha Mulia keadaan-Nya. Kayakinan itu juga bertentangan dengan akal, sehingga menurut akal yang sehat tidak mungkin Dzat yang tidak terbatas menyatu dalam dzat yang serba terbatas.

Redaksi,

وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيدَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ  شَيْء أَنا فَاعِلُهُ

“Andaikan dia meminta kepada-Ku, tentu Aku berikan kepadanya, andaikan dia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya. Aku tidak pernah ragu tentang sesuatu yang Kulakukan,…” -seandainya Dia ja ‘iz (boleh) memiliki keraguan dalam melakukan sesuatu. Hadits ini menjelaskan tentang tercapainya sebuah tujuan karena pertolongan Allah Swt, dengan menyegerakannya lantaran keridhaan Allah Swt kepada orang yang Dia beri anugerahi maqam mahbubiyah.

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ مَنْ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهُ لَأَبَرَّهُ

“Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah ada seseorang yang seandainya dia bersumpah atas nama Allah, tentu Dia mengabulkannya.”

Allah Swt menambatkan hati mereka, sehingga keinginan mereka lebur dalam keinginan-Nya Swt dan menyirami mereka dengan cahaya, sehingga mereka mencari hakikat dari balik penutupnya, lalu hati mereka tidak menghadap kecuali kepada apa yang telah dikehendaki sejak zaman azali.

Ilmu mereka seperti manusia pada umumnya, namun Allah Swt mengkhususkan mereka dengan ilmu yang khusus.

Al Khalil As berkata (yang disebutkan dalam Al Qur’an), Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim

“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)

Jadi, iman kepada perkara ghaib merupakan keimanan yang memutus rantai keraguan, tetapi dalam ayat ini penyaksian disandarkan kepada apa yang telah disampaikan, sehingga pemiliknya memadukan antara iman pada perkara yang ghaib dengan iman pada perkara yang tampak. Maka barangsiapa yang beriman kepada malaikat padahal dia tidak pernah melihatnya, maka dia mukmin. Dan barangsiapa yang beriman kepada malaikat dan pernah melihatnya, maka dia telah mengumpulkan dua keimanan tersebut.

Redaksi,

كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ

“Maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat…….. sehingga tak ada lagi penghalang dan hijab. Apabila suatu kaum telah mencapai keyakinan melalui jalur kajian, baik secara akal ataupun pendengaran, maka terkait orang-orang yang memiliki kecintaan khusus (al Mahbubiyah al Khash), Rabb Pemilik dalil telah memilih mereka sehingga Dia menempatkan mereka dalam ainul yaqin, yaitu keyakinan yang bersifat pengetahuan (ilmi), baik melalui akal ataupun pendengaran-; dan keyakinan yang bersifat penyaksian langsung (syuhudi),

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَذٰلِكَ نُرِيْۤ اِبْرٰهِيْمَ مَلَـكُوْتَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَلِيَكُوْنَ مِنَ الْمُوْقِـنِيْنَ
wa kazaalika nuriii ibroohiima malakuutas-samaawaati wal-ardhi wa liyakuuna minal-muuqiniin

“Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi, dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 75)

Bagian dari orang-orang yang yakin adalah ilmu yaqin.
Jadi, Allah Swt menyebutkan keyakinan dengan dua nama, yaitu ‘ilmu yaqin dan ainul yaqin.

Para ulama adalah pewaris para nabi dalam setiap sesuatu yang bukan bagian dari spesialisasi kenabian.

Pernahkah engkau melihat orang yang diliputi oleh sinar matahari sehingga penglihatannya tidak bisa memandangi sinarnya yang berkilau, wajahnya menjadi hangus dan panasnya menjadi semakin panas, apakah engkau mengira dia akan meminta dalil kepada matahari? Pernahkah engkau melihat orang yang menutup pendengarannya seperti yang dilakukan oleh orang yang menolak untuk itu, sehingga hampir saja dia membuat tuli telinganya, apakah seseorang akan menanyakan tentangnya?

Bahkan barangsiapa yang melemparkan dirinya dalam kobaran api, apakah dengan kekekalannya itu, engkau masih melihat keraguan tentang adanya api? Demikianlah keadaan orang-orang yang memiliki keyakinan syuhudi. Keyakinan tidak akan menjauhi hakikat mereka, sehingga mereka yakin. Sedangkan kondisi berita yang sampai tidaklah seperti kondisi melihat secara langsung.

Demikian itu adalah (kondisi) wushul kepada Al Haq; Allah Swt menghilangkan sifat-sifat tercela dari seorang hamba tersebut dan Dia menyucikan dirinya dari sifat-sifat tersebut, kemudian Dia menganugerahi dan menghiasinya dengan sifat-sifat kesempurnaan sesuai dengan kedudukan makhluk, lalu Dia menyibukkan dirinya dari selain-Nya, sehingga dia tenggelam dalam cintanya kepada Allah Swt.

Mereka adalah kaum sufi. Barangsiapa yang tidak demikian, berarti dia bukanlah sufi. Betapa banyak orang yang menisbatkan kepada suatu kaum, padahal dia bukan bagian dari mereka. Hendaknya orang yang demikian itu mencari nama dengan nama yang pantas bagi dirinya.

Tidak ada salahnya bagi orang yang menggapai maqam mahbubiyah jika dia menjadi ‘amir atau orang fakir. Kaum sufi tidak memiliki tempat penyimpanan harta. Diantara mereka ada yang memiliki kekayaan, namun dia hanya mengambil apa yang dia ambil dari Allah Swt kemudian dia menafkahkannya dengan nama Allah Swt dan karena Allah Swt. Apabila dia fakir, maka dia akan menjadi orang fakir yang sabar dan apabila dia kaya, maka dia akan menjadi orang kaya yang pandai bersyukur.

Pencapaian puncak dalam ilmu adalah pangkat mereka dalam iman dan makrifat. Apakah mereka akan berhenti pada pangkat yang lebih rendah, dimana mereka bisa menggapai yang lebih tinggi dari beberapa pangkat ilmu tersebut? Berdasarkan inilah amal yang kerap mereka lakukan. Mereka diliputi dengan perlindungan, sehingga mereka beramal berdasarkan keterangan dari Tuhan mereka, lalu Dia akan menganugerahkan mereka puncak keikhlasan dalam beramal, kemudian Dia akan menggambarkan kondisi jiwa yang dihasilkan dari ilmu dan amal ini. Ketika itu, Allah Swt memadukan untuk mereka, kemurniaan ilmu, kemuniaan amal dan kemurniaan hal (kondisi jiwa).

Redaksi,

كُنتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي  يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأَعِيدَنَّهُ

“Maka Aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia menyentuh dan kakinya yang dengannya dia berjalan. Apabila dia meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan kepadanya dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku melindunginya.” Demikianlah keadaan orang-orang yang mencapai maqam mahbubiyah, mereka mendapatkan kenikmatan yang paling agung -semoga Allah yang Maha Besar meridhai mereka.-

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

جَزَآ ؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ
jazaaa-uhum ‘ingda robbihim jannaatu ‘adning tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaaa abadaa, rodhiyallohu ‘an-hum wa rodhuu ‘an-h, zaalika liman khosyiya robbah

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”
(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 8)

C. Sarana Sufi Menggapai Ilahi

Terkait sarana sufi, mereka berusaha mengaplikasikan secara menyeluruh, apa yang tertera dalam kitabullah, Sunnah Rasulullah Saw baik secara zhahir dan bathin. la juga memutuskan seluruh hal yang dapat memutuskan wushul seseorang kepada Allah Swt atau hal yang dapat memperlambat perjalanan suluk seseorang, kemudian dia berpindah menuju proses penghiasan diri dengan akhlak yang Allah Swt pilihkan bagi para wali-Nya, berupa akhlak baik yang dicintai Allah Swt, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَ
wallaziina jaahaduu fiinaa lanahdiyannahum subulanaa, wa innalloha lama’al-muhsiniin

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 69)

Maksud dari kata As-Sabil (jalan) adalah Ath-Thariq (jalan kecil/metode), dimana Allah membukakan jalan mana saja yang dapat me-wushulkan orang tersebut kepada Allah Swt.

Al Khathib dalam Tarikh-nya meriwayatkan sebuah atsar dari Jabir Ra: Ketika Nabi Saw pulang dari sebuah peperangan, beliau bersabda,

قَدِمْتُمْ خَيْرَ مَقَدَمٍ وَقَدِمْتُمْ مِنَ الْجِهَادِ الأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ

“Kalian telah mendatangi tempat kebaikan dan kalian telah datang dari jihad yang paling kecil menuju jihad yang paling besar,” Para sahabat berkata, “lantas apakah jihad yang paling besar itu wahai Rasulallah?”

Beliau bersabda,

مُجَاهَدَةَ الْعَبْدِ هَوَاهُ

“Seorang hamba bermujahadah atas hawa-nya (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan).

Kami akan kemukakan sumber akhlak para sufi dan pengaktualisasian mereka terhadap hal-hal di atas, yang bersumber dari Al Qur`an:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الٓمّٓ 
alif-laaam-miiim

“Alif Lam Mim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 1)

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ  ۛ  فِيْهِ  ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ 
zaalikal-kitaabu laa roiba fiih, hudal lil-muttaqiin

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 2)

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِا لْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ 
allaziina yu-minuuna bil-ghoibi wa yuqiimuunash-sholaata wa mimmaa rozaqnaahum yungfiquun

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 3)

وَا لَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِا لْاٰ خِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ 
wallaziina yu-minuuna bimaaa ungzila ilaika wa maaa ungzila ming qoblik, wa bil-aakhiroti hum yuuqinuun

“dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 4)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَ الْمَغْرِبِ وَلٰـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَا لْمَلٰٓئِکَةِ وَا لْكِتٰبِ وَا لنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰ تَى الْمَا لَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰكِيْنَ وَا بْنَ السَّبِيْلِ ۙ وَا لسَّآئِلِيْنَ وَفِى الرِّقَا بِ ۚ وَاَ قَا مَ الصَّلٰوةَ وَاٰ تَى الزَّکٰوةَ ۚ وَا لْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عٰهَدُوْا ۚ وَا لصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
laisal-birro ang tuwalluu wujuuhakum qibalal-masyriqi wal-maghribi wa laakinnal-birro man aamana billaahi wal-yaumil-aakhiri wal-malaaa-ikati wal-kitaabi wan-nabiyyiin, wa aatal-maala ‘alaa hubbihii zawil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiina wabnas-sabiili was-saaa-iliina wa fir-riqoob, wa aqoomash-sholaata wa aataz-zakaah, wal-muufuuna bi’ahdihim izaa ‘aahaduu, wash-shoobiriina fil-ba-saaa-i wadh-dhorrooo-i wa hiinal-ba-s, ulaaa-ikallaziina shodaquu, wa ulaaa-ika humul-muttaquun

“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ اَخَذْنَا مِيْثَا قَ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ لَا تَعْبُدُوْنَ اِلَّا اللّٰهَ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَا لْمَسٰکِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّا سِ حُسْنًا وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تُوا الزَّکٰوةَ ۗ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْکُمْ وَاَ نْـتُمْ مُّعْرِضُوْنَ
wa iz akhoznaa miisaaqo baniii isrooo-iila laa ta’buduuna illalloha wa bil-waalidaini ihsaanaw wa zil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiini wa quuluu lin-naasi husnaw wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaah, summa tawallaitum illaa qoliilam mingkum wa angtum mu’ridhuun

“Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari) kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu (masih menjadi) pembangkang.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 83)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ ۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
balaa man aslama waj-hahuu lillaahi wa huwa muhsinung fa lahuuu ajruhuu ‘ingda robbihii wa laa khoufun ‘alaihim wa laa hum yahzanuun

“Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَا بَةً لِّلنَّا سِ وَاَ مْنًا ۗ وَا تَّخِذُوْا مِنْ مَّقَا مِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّى ۗ وَعَهِدْنَاۤ اِلٰۤى اِبْرٰهٖمَ وَاِ سْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّآئِفِيْنَ وَا لْعٰكِفِيْنَ وَا لرُّکَّعِ السُّجُوْدِ
wa iz ja’alnal-baita masaabatal lin-naasi wa amnaa, wattakhizuu mim maqoomi ibroohiima mushollaa, wa ‘ahidnaaa ilaaa ibroohiima wa ismaa’iila ang thohhiroo baitiya lith-thooo-ifiina wal-‘aakifiina war-rukka’is-sujuud

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ism’ail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang itikaf, orang yang rukuk, dan orang yang sujud!”“
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 125)

Begitu juga yang tertera dalam Surah Al Hajj

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ بَوَّأْنَا لِاِ بْرٰهِيْمَ مَكَا نَ الْبَيْتِ اَنْ لَّا تُشْرِكْ بِيْ شَيْئًـا وَّطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّآئِفِيْنَ وَا لْقَآئِمِيْنَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
wa iz bawwa-naa li-ibroohiima makaanal-baiti al laa tusyrik bii syai-aw wa thohhir baitiya lith-thooo-ifiina wal-qooo-imiina war-rukka’is-sujuud

“Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 26)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَمَاۤ اَرْسَلْنَا فِيْکُمْ رَسُوْلًا مِّنْکُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْکُمْ وَيُعَلِّمُکُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِکْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ 
kamaaa arsalnaa fiikum rosuulam mingkum yatluu ‘alaikum aayaatinaa wa yuzakkiikum wa yu’allimukumul-kitaaba wal-hikmata wa yu’allimukum maa lam takuunuu ta’lamuun

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 151)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِ اللّٰهِ ۗ وَ اللّٰهُ رَءُوْفٌ  بِۢا لْعِبَا دِ
wa minan-naasi may yasyrii nafsahubtighooo-a mardhootillaah, wallohu ro-uufum bil-‘ibaad

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 207)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلصّٰــبِرِيْنَ وَا لصّٰدِقِــيْنَ وَا لْقٰنِتِــيْنَ وَا لْمُنْفِقِيْنَ وَا لْمُسْتَغْفِرِيْنَ بِا لْاَ سْحَا رِ
ash-shoobiriina wash-shoodiqiina wal-qoonitiina wal-mungfiqiina wal-mustaghfiriina bil-as-haar

“(Juga) orang yang sabar, orang yang benar, orang yang taat, orang yang menginfakkan hartanya, dan orang yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 17)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَـيْسُوْا سَوَآءً ۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَآئِمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَآءَ الَّيْلِ وَ هُمْ يَسْجُدُوْنَ
laisuu sawaaa-aa, min ahlil-kitaabi ummatung qooo-imatuy yatluuna aayaatillaahi aanaaa-al-laili wa hum yasjuduun

“Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur, mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, dan mereka (juga) bersujud (sholat).”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 113)

يُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَ يَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَا رِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
yu-minuuna billaahi wal-yaumil-aakhiri wa ya-muruuna bil-ma’ruufi wa yan-hauna ‘anil-mungkari wa yusaari’uuna fil-khoiroot, wa ulaaa-ika minash-shoolihiin

“Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka termasuk orang-orang saleh.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 114)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّآءِ وَا لضَّرَّآءِ وَا لْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَا لْعَا فِيْنَ عَنِ النَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ 
allaziina yungfiquuna fis-sarrooo-i wadh-dhorrooo-i wal-kaazhimiinal-ghoizho wal-‘aafiina ‘anin-naas, wallohu yuhibbul-muhsiniin

“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

وَا لَّذِيْنَ اِذَا فَعَلُوْا فَا حِشَةً اَوْ ظَلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللّٰهَ فَا سْتَغْفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلَّا اللّٰهُ ۗ وَلَمْ يُصِرُّوْا عَلٰى مَا فَعَلُوْا وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ
wallaziina izaa fa’aluu faahisyatan au zholamuuu angfusahum zakarulloha fastaghfaruu lizunuubihim, wa may yaghfiruz-zunuuba illalloh, wa lam yushirruu ‘alaa maa fa’aluu wa hum ya’lamuun

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, (segera) mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya, dan siapa (lagi) yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 135)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ
allaziina yazkuruunalloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii kholqis-samaawaati wal-ardh, robbanaa maa kholaqta haazaa baathilaa, sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا عْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـئًـا وَّبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَا لْيَتٰمٰى وَ الْمَسٰكِيْنِ وَا لْجَـارِ ذِى الْقُرْبٰى وَا لْجَـارِ الْجُـنُبِ وَا لصَّا حِبِ بِا لْجَـنْبِۢ وَا بْنِ السَّبِيْلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَا نَ مُخْتَا لًا فَخُوْرًا 
wa’budulloha wa laa tusyrikuu bihii syai-aw wa bil-waalidaini ihsaanaw wa bizil-qurbaa wal-yataamaa wal-masaakiini wal-jaari zil-qurbaa wal-jaaril-junubi wash-shoohibi bil-jambi wabnis-sabiili wa maa malakat aimaanukum, innalloha laa yuhibbu mang kaana mukhtaalang fakhuuroo

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri,”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 36)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَ حْسَنَ مِنْهَاۤ اَوْ رُدُّوْهَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
wa izaa huyyiitum bitahiyyating fa hayyuu bi-ahsana min-haaa au rudduuhaa, innalloha kaana ‘alaa kulli syai-in hasiibaa

“Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik atau balaslah (penghormatan itu yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 86)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا خَيْرَ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنْ نَّجْوٰٮهُمْ اِلَّا مَنْ اَمَرَ بِصَدَقَةٍ اَوْ مَعْرُوْفٍ اَوْ اِصْلَا حٍ ۢ بَيْنَ النَّا سِ ۗ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ ابْتِغَآءَ مَرْضَا تِ اللّٰهِ فَسَوْفَ نُـؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
laa khoiro fii kasiirim min najwaahum illaa man amaro bishodaqotin au ma’ruufin au ishlaahim bainan-naas, wa may yaf’al zaalikabtighooo-a mardhootillaahi fa saufa nu-tiihi ajron ‘azhiimaa

“Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 114)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِلَّا الَّذِيْنَ تَا بُوْا وَاَ صْلَحُوْا وَا عْتَصَمُوْا بِا للّٰهِ وَاَ خْلَصُوْا دِيْنَهُمْ لِلّٰهِ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۗ وَسَوْفَ يُـؤْتِ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًا
illallaziina taabuu wa ashlahuu wa’tashomuu billaahi wa akhlashuu diinahum lillaahi fa ulaaa-ika ma’al-mu-miniin, wa saufa yu-tillaahul-mu-miniina ajron ‘azhiimaa

“kecuali orang-orang yang bertobat memperbaiki diri dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan dengan tulus ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu bersama-sama orang-orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 146)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ مِنْ قَوْمِ مُوْسٰۤى اُمَّةٌ يَّهْدُوْنَ بِا لْحَـقِّ وَبِهٖ يَعْدِلُوْنَ
wa ming qoumi muusaaa ummatuy yahduuna bil-haqqi wa bihii ya’diluun

“Dan di antara kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan (dasar) kebenaran dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil menjalankan keadilan.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 159)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَتْ اُمَّةٌ مِّنْهُمْ لِمَ تَعِظُوْنَ قَوْمًا ۙ ٱلـلّٰهُ مُهْلِكُهُمْ اَوْ مُعَذِّبُهُمْ عَذَا بًا شَدِيْدًا ۗ قَا لُوْا مَعْذِرَةً اِلٰى رَبِّكُمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
wa iz qoolat ummatum min-hum lima ta’izhuuna qoumanillaahu muhlikuhum au mu’azzibuhum ‘azaabang syadiidaa, qooluu ma’zirotan ilaa robbikum wa la’allahum yattaquun

“Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, “Mengapa kamu menasihati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang sangat keras?” Mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertakwa.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 164)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِا لْعُرْفِ وَاَ عْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
khuzil-‘afwa wa-mur bil-‘urfi wa a’ridh ‘anil-jaahiliin

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 199)

وَاِ مَّا يَنْزَغَـنَّكَ مِنَ الشَّيْطٰنِ نَزْغٌ فَا سْتَعِذْ بِا للّٰهِ ۗ اِنَّهٗ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
wa immaa yangzaghonnaka minasy-syaithooni nazghung fasta’iz billaah, innahuu samii’un ‘aliim

“Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 200)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰٓئِفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِ ذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَ 
innallaziinattaqou izaa massahum thooo-ifum minasy-syaithooni tazakkaruu fa izaa hum mubshiruun

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari setan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 201)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا قُرِئَ الْقُرْاٰ نُ فَا سْتَمِعُوْا لَهٗ وَاَ نْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
wa izaa quri-al-qur-aanu fastami’uu lahuu wa angshituu la’allakum tur-hamuun

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 204)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا ذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَـهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ
wazkur robbaka fii nafsika tadhorru’aw wa khiifataw wa duunal-jahri minal-qouli bil-ghuduwwi wal-aashooli wa laa takum minal-ghoofiliin

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 205)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَهَا جَرُوْا وَجَاهَدُوْا بِاَ مْوَا لِهِمْ وَاَ نْفُسِهِمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَا لَّذِيْنَ اٰوَوْا وَّنَصَرُوْۤا اُولٰٓئِكَ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يُهَا جِرُوْا مَا لَـكُمْ مِّنْ وَّلَايَتِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ حَتّٰى يُهَا جِرُوْا ۚ وَاِ نِ اسْتَـنْصَرُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ اِلَّا عَلٰى قَوْمٍۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَا قٌ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
innallaziina aamanuu wa haajaruu wa jaahaduu bi-amwaalihim wa angfusihim fii sabiilillaahi wallaziina aawaw wa nashoruuu ulaaa-ika ba’dhuhum auliyaaa-u ba’dh, wallaziina aamanuu wa lam yuhaajiruu maa lakum miw walaayatihim ming syai-in hattaa yuhaajiruu, wa inistangshoruukum fid-diini fa ‘alaikumun-nashru illaa ‘alaa qoumim bainakum wa bainahum miisaaq, wallohu bimaa ta’maluuna bashiir

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada Muhajirin), mereka itu satu sama lain saling melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikit pun bagimu melindungi mereka, sampai mereka berhijrah. (Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum yang telah terikat perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 72)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنَ الْاَ عْرَا بِ مَنْ يُّؤْمِنُ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ وَيَتَّخِذُ مَا يُنْفِقُ قُرُبٰتٍ عِنْدَ اللّٰهِ وَصَلَوٰتِ الرَّسُوْلِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّهَا قُرْبَةٌ لَّهُمْ ۗ سَيُدْخِلُهُمُ اللّٰهُ فِيْ رَحْمَتِهٖ  ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
wa minal-a’roobi may yu-minu billaahi wal-yaumil-aakhiri wa yattakhizu maa yungfiqu qurubaatin ‘ingdallohi wa sholawaatir-rosuul, alaaa innahaa qurbatul lahum, sayudkhiluhumullohu fii rohmatih, innalloha ghofuurur rohiim

“Dan di antara orang-orang Arab Badui itu ada yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dan memandang apa yang diinfakkannya (di jalan Allah) sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah dan sebagai jalan untuk (memperoleh) doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya infak itu suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat (surga)-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 99)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلتَّآئِبُوْنَ الْعٰبِدُوْنَ الْحٰمِدُوْنَ السَّآئِحُوْنَ الرّٰكِعُوْنَ السّٰجِدُوْنَ الْاٰ مِرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَا لنَّاهُوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَا لْحٰــفِظُوْنَ لِحُدُوْدِ اللّٰهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
attaaa-ibuunal-‘aabiduunal-haamiduunas-saaa-ihuunar-rooki’uunas-saajiduunal-aamiruuna bil-ma’ruufi wan-naahuuna ‘anil-mungkari wal-haafizhuuna lihuduudillaah, wa basysyiril-mu-miniin

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama), rukuk, sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 112)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُوْفُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَلَا يَنْقُضُوْنَ الْمِيْثَا قَ 
allaziina yuufuuna bi’ahdillaahi wa laa yangqudhuunal-miisaaq

“(yaitu) orang yang memenuhi janji Allah dan tidak melanggar perjanjian,”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 20)

وَا لَّذِيْنَ يَصِلُوْنَ مَاۤ اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖۤ اَنْ يُّوْصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَ يَخَا فُوْنَ سُوْٓءَ الْحِسَا بِ 
wallaziina yashiluuna maaa amarollohu bihiii ay yuushola wa yakhsyauna robbahum wa yakhoofuuna suuu-al-hisaab

“dan orang-orang yang menghubungkan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 21)

وَا لَّذِيْنَ صَبَرُوا ابْتِغَآءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَاَ قَا مُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْفَقُوْا مِمَّا رَزَقْنٰهُمْ سِرًّا وَّعَلَا نِيَةً وَّيَدْرَءُوْنَ بِا لْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ اُولٰٓئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّا رِ 
wallaziina shobarubtighooo-a waj-hi robbihim wa aqoomush-sholaata wa angfaquu mimmaa rozaqnaahum sirrow wa ‘alaaniyataw wa yadro-uuna bil-hasanatis-sayyi-ata ulaaa-ika lahum ‘uqbad-daar

“Dan orang yang sabar karena mengharap keridaan Tuhannya, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik),”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 22)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًاy
washbir nafsaka ma’allaziina yad’uuna robbahum bil-ghodaati wal-‘asyiyyi yuriiduuna waj-hahuu wa laa ta’du ‘ainaaka ‘an-hum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-yaa, wa laa tuthi’ man aghfalnaa qolbahuu ‘ang zikrinaa wattaba’a hawaahu wa kaana amruhuu furuthoo

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ 
qod aflahal-mu-minuun

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 1)

الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَا تِهِمْ خَا شِعُوْنَ 
allaziina hum fii sholaatihim khoosyi’uun

“(yaitu) orang yang khusyuk dalam sholatnya,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 2)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ 
wallaziina hum ‘anil-laghwi mu’ridhuun

“dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 3)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فَا عِلُوْنَ 
wallaziina hum liz-zakaati faa’iluun

“dan orang yang menunaikan zakat,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 4)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ 
wallaziina hum lifuruujihim haafizhuun

“dan orang yang memelihara kemaluannya,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 5)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِاَ مٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَا عُوْنَ 
wallaziina hum li-amaanaatihim wa ‘ahdihim roo’uun

“Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 8)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَا فِظُوْنَ 
wallaziina hum ‘alaa sholawaatihim yuhaafizhuun

“serta orang yang memelihara sholatnya.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 9)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ 
innallaziina hum min khosy-yati robbihim musyfiquun

“Sungguh, orang-orang yang karena takut (azab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 57)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُوْنَ 
wallaziina hum bi-aayaati robbihim yu-minuun

“dan mereka yang beriman dengan tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 58)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُوْنَ 
wallaziina hum birobbihim laa yusyrikuun

“dan mereka yang tidak menyekutukan Tuhannya,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 59)

وَا لَّذِيْنَ يُؤْتُوْنَ مَاۤ اٰتَوْا وَّ قُلُوْبُهُمْ وَجِلَةٌ اَنَّهُمْ اِلٰى رَبِّهِمْ رٰجِعُوْنَ 
wallaziina yu-tuuna maaa aataw wa quluubuhum wajilatun annahum ilaa robbihim rooji’uun

“dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 60)

اُولٰٓئِكَ يُسَا رِعُوْنَ فِيْ الْخَيْـرٰتِ وَهُمْ لَهَا سٰبِقُوْنَ
ulaaa-ika yusaari’uuna fil-khoirooti wa hum lahaa saabiquun

“mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 61)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعِبَا دُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْاَ رْضِ هَوْنًا وَّاِذَا خَا طَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَا لُوْا سَلٰمًا
wa ‘ibaadur-rohmaanillaziina yamsyuuna ‘alal-ardhi haunaw wa izaa khoothobahumul-jaahiluuna qooluu salaamaa

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “salam,””
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 63)

وَا لَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَا مًا
wallaziina yabiituuna lirobbihim sujjadaw wa qiyaamaa

“dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 64)

وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَا بَ جَهَـنَّمَ ۖ اِنَّ عَذَا بَهَا كَا نَ غَرَا مًا 
wallaziina yaquuluuna robbanashrif ‘annaa ‘azaaba jahannama inna ‘azaabahaa kaana ghoroomaa

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,””
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 65)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ اِذَاۤ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَا نَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَا مًا
wallaziina izaaa angfaquu lam yusrifuu wa lam yaqturuu wa kaana baina zaalika qowaamaa

“Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 67)

وَا لَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِا لْحَـقِّ وَلَا يَزْنُوْنَ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَا مًا 
wallaziina laa yad’uuna ma’allohi ilaahan aakhoro wa laa yaqtuluunan-nafsallatii harromallohu illaa bil-haqqi wa laa yaznuun, wa may yaf’al zaalika yalqo asaamaa

“dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 68)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَ ۙ وَ اِذَا مَرُّوْا بِا للَّغْوِ مَرُّوْا كِرَا مًا
wallaziina laa yasy-haduunaz-zuuro wa izaa marruu bil-laghwi marruu kiroomaa

“Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya,”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 72)

وَا لَّذِيْنَ اِذَا ذُكِّرُوْا بِاٰ يٰتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوْا عَلَيْهَا صُمًّا وَّعُمْيَا نًا
wallaziina izaa zukkiruu bi-aayaati robbihim lam yakhirruu ‘alaihaa shummaw wa ‘umyaanaa

“dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 73)

وَا لَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا هَبْ لَـنَا مِنْ اَزْوَا جِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّا جْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَا مًا
wallaziina yaquuluuna robbanaa hab lanaa min azwaajinaa wa zurriyyaatinaa qurrota a’yuniw waj’alnaa lil-muttaqiina imaamaa

“Dan orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.””
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 74)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ اٰتَيْنَا لُقْمٰنَ الْحِكْمَةَ اَنِ اشْكُرْ لِلّٰهِ ۗ وَمَنْ يَّشْكُرْ فَاِ نَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِ نَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
wa laqod aatainaa luqmaanal-hikmata anisykur lillaah, wa may yasykur fa innamaa yasykuru linafsih, wa mang kafaro fa innalloha ghoniyyun hamiid

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.””
(QS. Luqman 31: Ayat 12)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَا لْمُسْلِمٰتِ وَا لْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ وَا لْقٰنِتِيْنَ وَا لْقٰنِتٰتِ وَا لصّٰدِقِيْنَ وَا لصّٰدِقٰتِ وَا لصّٰبِرِيْنَ وَا لصّٰبِرٰتِ وَا لْخٰشِعِيْنَ وَا لْخٰشِعٰتِ وَا لْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَا لصَّآئِمِيْنَ وَا لصّٰٓئِمٰتِ وَا لْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَا لْحٰـفِظٰتِ وَا لذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
innal-muslimiina wal-muslimaati wal-mu-miniina wal-mu-minaati wal-qoonitiina wal-qoonitaati wash-shoodiqiina wash-shoodiqooti wash-shoobiriina wash-shoobirooti wal-khoosyi’iina wal-khoosyi’aati wal-mutashoddiqiina wal-mutashoddiqooti wash-shooo-imiina wash-shooo-imaati wal-haafizhiina furuujahum wal-haafizhooti waz-zaakiriinalloha kasiirow waz-zaakirooti a’addallohu lahum maghfirotaw wa ajron ‘azhiimaa

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنَّمَاۤ اَعِظُكُمْ بِوَا حِدَةٍ ۚ اَنْ تَقُوْمُوْا لِلّٰهِ مَثْنٰى وَفُرَا دٰى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوْا ۗ مَا بِصَا حِبِكُمْ مِّنْ جِنَّةٍ ۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ لَّـكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَا بٍ شَدِيْدٍ
qul innamaaa a’izhukum biwaahidah, ang taquumuu lillaahi masnaa wa furoodaa summa tatafakkaruu, maa bishoohibikum ming jinnah, in huwa illaa naziirul lakum baina yadai ‘azaabing syadiid

“Katakanlah, “Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu mencari kebenaran karena Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian agar kamu pikirkan (tentang Muhammad). Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras.””
(QS. Saba’ 34: Ayat 46)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍ 
innal-muttaqiina fii jannaatiw wa ‘uyuun

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan mata air,”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 15)

اٰخِذِيْنَ مَاۤ اٰتٰٮهُمْ رَبُّهُمْ ۗ اِنَّهُمْ كَا نُوْا قَبْلَ ذٰلِكَ مُحْسِنِيْنَ 
aakhiziina maaa aataahum robbuhum, innahum kaanuu qobla zaalika muhsiniin

“mereka mengambil apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu (di dunia) adalah orang-orang yang berbuat baik,”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 16)

كَا نُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ
kaanuu qoliilam minal-laili maa yahja’uun

“mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam;”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 17)

وَبِا لْاَ سْحَا رِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
wa bil-as-haari hum yastaghfiruun

“dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 18)

وَفِيْۤ اَمْوَا لِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَا لْمَحْرُوْمِ
wa fiii amwaalihim haqqul lis-saaa-ili wal-mahruum

“Dan pada harta benda mereka ada hak orang miskin yang meminta, dan orang miskin yang tidak meminta.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 19)

وَفِى الْاَ رْضِ اٰيٰتٌ لِّلْمُوْقِنِيْنَ 
wa fil-ardhi aayaatul lil-muuqiniin

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin,”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 20)

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
wa fiii angfusikum, a fa laa tubshiruun

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)

وَفِى السَّمَآءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوْعَدُوْنَ
wa fis-samaaa-i rizqukum wa maa tuu’aduun

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 22)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ يُصَدِّقُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ 
wallaziina yushoddiquuna biyaumid-diin

“dan orang-orang yang mempercayai hari Pembalasan,”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 26)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ مِّنْ عَذَا بِ رَبِّهِمْ مُّشْفِقُوْنَ 
wallaziina hum min ‘azaabi robbihim musyfiquun

“dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya,”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 27)

اِنَّ عَذَا بَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُوْنٍ
inna ‘azaaba robbihim ghoiru ma-muun

“sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya),”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 28)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ 
wallaziina hum lifuruujihim haafizhuun

“dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 29)

اِلَّا عَلٰۤى اَزْوَا جِهِمْ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُمْ فَاِ نَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ 
illaa ‘alaaa azwaajihim au maa malakat aimaanuhum fa innahum ghoiru maluumiin

“kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela.”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 30)

فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَآءَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ 
fa manibtaghoo warooo-a zaalika fa ulaaa-ika humul-‘aaduun

“Maka barang siapa mencari di luar itu (seperti zina, homoseks, dan lesbian), mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 31)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِاَ مٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رٰعُوْنَ 
wallaziina hum li-amaanaatihim wa ‘ahdihim roo’uun

“Dan orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya,”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 32)

وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِشَهٰدٰتِهِمْ قَآئِمُوْنَ 
wallaziina hum bisyahaadaatihim qooo-imuun

“dan orang-orang yang berpegang teguh pada kesaksiannya,”
(QS. Al-Ma’arij 70: Ayat 33)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يُوْفُوْنَ بِا لنَّذْرِ وَيَخَا فُوْنَ يَوْمًا كَا نَ شَرُّهٗ مُسْتَطِيْرًا
yuufuuna bin-nazri wa yakhoofuuna yaumang kaana syarruhuu mustathiiroo

“Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 7)

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَا مَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا
wa yuth’imuunath-tho’aama ‘alaa hubbihii miskiinaw wa yatiimaw wa asiiroo

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan,”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 8)

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِـوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَآءً وَّلَا شُكُوْرًا
innamaa nuth’imukum liwaj-hillaahi laa nuriidu mingkum jazaaa-aw wa laa syukuuroo

“(sambil berkata), “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 9)

Dan kami pun tidak temukan diantara semua makhluk yang ada, orang yang senantiasa mengaplikasikan apa yang semua ayat di atas serukan selain mereka, bahkan telah dijelaskanı bahwa keyakinan, tujuan akhir dan sarana yang mereka gunakan itu melebihi hal yang dianjurkan ayat-ayat di atas dan juga beragam Sunnah Rasul-Nya Saw. Jelas sudah perbedaan kontras antara keyakinan mereka (para sufi) dengan keyakinan orang-orang Hindu, Nashrani dan yang lainnya.

Tujuan akhir mereka pun bukanlah seperti tujuan akhur orang-orang Hindu. Begitu juga sarana yang mereka gunakan, mereka hanya berdasarkan pada Al Qur’an dan As-Sunnah dan bukan pada amalan-amalan orang-orang Hindu dan orang lainnya. Amalan yang mereka lakukan tak lain adalah amalan yang selalu sesuai dengan neraca syari’at.

Imam Al Junaid pernah berkata, “Sungguh madzhab (tasawuf) kami ini terikat dengan dasar Al Qur’an dan As-Sunnah.”

Maka setelah ini tidak ada lagi orang yang mengatakan, bahwa sufi mengambil dasar amaliyah mereka selain dari Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. Sungguh orang yang mengatakan demikian adalah orang yang sedang menipu dirinya sendiri atau juga ia merupakan orang yang tertipu.

Alangkah lebih baik jika kami paparkan beragam pos atau terminal pemberhentian dalam rangka berjalan ke hadrah Allah Swt dari alam semesta dan seisinya ini, Kami memohon kepada Allah Swt agar kami pun bisa wushul kepada-Nya.-

“Ya Allah, Pemberi petunjuk atas kebingunganku, tunjukkanlah kami kepada-Mu. Ya Allah, penyambung orang-orang yang terputus dari-Nya, sambungkanlah diri kami kepada-Mu.”

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI