
Elsubha.com – Yaqin
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَ جَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَ مْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا ۗ وَكَا نُوْا بِاٰ يٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ
wa ja’alnaa min-hum a-immatay yahduuna bi-amrinaa lammaa shobaruu, wa kaanuu bi-aayaatinaa yuuqinuun
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 24)
Yang dimaksud dengan yakin adalah mengetahui suatu hakikat dengan pengetahuan yang jazm (mantap) dan dengan dalil yang meyakinkan.
Maksud “jazm (mantap),” adalah sikap mencerabut keraguan dan meniadakan kemungkinan lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan, “dalil,” adalah berupa ragam argumentasi logis dan juga agama serta ilham yang cocok dengan keduanya, dimana ragam argumentasi itu sampai pada taraf memberikan keyakinan dan penyaksian terhadap kebenaran.
Sementara yang dimaksud dengan “ilmu yaqin,” adalah pengetahuan yang mantap terhadap suatu hakikat yang bersumber dari balik tirai penghalang (antara Allah Swt dan hamba-Nya).
Begitu pula yang dimaksud dengan ” ‘ainul yaqin,” adalah bentuk pengetahuan suatu hakikat tanpa adanya tirai penghalang (antara Allah Swt dan hamba-Nya), sebagaimana firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِ
kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal-yaqiin
“Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti,”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 5)
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ
latarowunnal-jahiim
“niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim,”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 6)
ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ
summa latarowunnahaa ‘ainal-yaqiin
“kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri,”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 7)
Keimanan seseorang tidaklah disebut keimanan yang hakiki kecuali jika bentuknya adalah sebuah keyakinan yang dibarengi dengan kepatuhan, sebagaimana yang Allah Swt firmankan terkait orang-orang yang kafir,
وَجَحَدُوْا بِهَا وَا سْتَيْقَنَـتْهَاۤ اَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَّعُلُوًّا ۗ فَا نْظُرْ كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الْمُفْسِدِيْنَ
wa jahaduu bihaa wastaiqonat-haaa angfusuhum zhulmaw wa ‘uluwwaa, fangzhur kaifa kaana ‘aaqibatul-mufsidiin
“Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongannya, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 14)
Maka tiada gunanya keyakinan mereka tanpa adanya kepatuhan kepada Rasulullah Saw.
Terkait dengan keyakinan yang sifatnya berupa kepercayaan dan keyakinan yang sifatnya hanya bisa dirasa dalam jiwa; maka itu semua merupakan keyakinan seorang mukmin yang meyakini bahwa Tuhan selalu memantaunya, dimana keyakinan tersebut telah tertanam kuat dalam hati tanpa adanya keraguan sedikit pun. Oleh karena itu, terkadang orang yang demikian itu, ia lenyap dari penyaksian diri terhadap Tuhannya, sehingga ia pun jatuh pada kubangan kesalahan, hal ini bukan lantaran orang itu tidak yakin kepada Allah Swt, akan tetapi pada kondisi tersebut, ia terhalang dan lenyap dan bukan termasuk orang yang jiwanya hadir, di saat ini ia pun tidak tergolong ke dalam orang-orang yang memiliki keyakinan yang utuh kepada Allah Swt. Maka kondisi yang pertama tadi merupakan kondisi keyakinan yang sifatnya berupa kepercayaan dalam jiwa dan yang kedua merupakan kondisi kepercayaan yang sifatnya berupa hal yang bisa dirasa dalam jiwa.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْۤ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَا دُوْۤا اِيْمَا نًا مَّعَ اِيْمَا نِهِمْ ۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
huwallaziii angzalas-sakiinata fii quluubil-mu-miniina liyazdaaduuu iimaanam ma’a iimaanihim, wa lillaahi junuudus-samaawaati wal-ardh, wa kaanallohu ‘aliiman hakiimaa
“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 4)
Maka cahaya keimanan pun terus bertambah pada kalbu orang-orang mukmin -sesuai dengan keutamaan yang Allah Swt berikan kepadanya, hingga mereka pun mendapatkan cahaya furqân (cahaya pembeda); cahaya yang dapat membedakan kebenaran dalam ilmu dan amal perbuatannya, begitu pula yang ada di dalam hati dan juga hal yang tampak secara zhahir. Itulah awal turunnya kucuran karunia Allah Swt -yang berupa pemberian karunia secara khusus dengan diberikannya beragam asrar (rahasia ilahiyyah).
Kemudian kucuran karunia Allah Swt yang suci ini pun meningkat sehingga kecintaan yang tinggi dan murni mampu menguasai dirinya. Kucuran karunia Allah Swt ini akan terus meningkatkan derajat seorang hamba hingga dirinya dikaruniai keyakinan yang mengkristal. Dalam kondisi ini, ia memiliki kalbu yang tentram dan lapang, seolah-olah mereka dapat menyaksikan sesuatu layaknya melihat dengan mata telanjang. Inilah yang dianggap sebagai keyakinan yang sifatnya berupa kepercayaan dalam jiwa dan keyakinan yang sifatnya bisa dirasa dalam jiwa, hal ini sesuai dengan apa yang diisyaratkan dalam sebuah hadits Nabi Saw,
ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولاً
“Yang telah merasakan rasanya keimanan adalah orang yang telah ridha dengan Allah sebagai Rabb dan dengan Muhammad sebagai utusan (Allah swt).”
Sedangkan tentang hadits Nabi Saw,
ثَلَاثَ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ أَنْ يَكُوْنَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga golongan yang telah menemukan manisnya keimanan; menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada keduanya; mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan hendaknya ia benci untuk kembali lagi pada kekufuran, sebagaimana ia pun benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka,”
An-Nawawi berkata: “Al Qadhi berkata: ‘makna hadits ini sama dengan makna hadits sebelumnya; yaitu (orang) yang telah merasakan manisnya keimanan’.”
Terkadang seorang mukmin sejati telah beriman, namun ia belum merasakan manisnya keimanan, kemudian Allah Swt menganugerahkan kepadanya karunia, sehingga keimanannya pun bertambah dan ia bisa merasakan manisnya keimanan secara yakin; yaitu keyakinan yang dapat dirasa oleh jiwa. Sebab dalam kalbunya, ia diajarkan suatu perasaan khusus yang sesuai dengan argumentasi yang ada, sekalipun ia terkadang tidak menemukan argumentasi untuk hal ini. Maka dengan ini ia layaknya memiliki panca indera keenam, sehingga ia pun bisa mengetahui kebenaran sesuatu hanya dengan menunjukkan hal tersebut kepadanya, sebagaimana lidah yang baik mampu merasakan makanan yang berbeda, tanpa perlu penjelasan terkait dengan manis ataupun pahitnya makanan tersebut. Rasulullah Saw bersabda,
اِسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتُوْكَ
“Mintalah fatwa pada kalbumu, sekalipun mereka (orang-orang yang ada di sekitar) telah memberikan fatwa kepadamu.”
Sebagaimana jika matahari terbit, kegelapan pun hilang. Maka itulah cahaya yang telah dimulai pada maqam furqân dan meningkat menuju maqam Ash-Shidq.
Jika keyakinan telah terhujam kuat dalam jiwa, maka tidak ada lagi celah masuknya kegelapan, sebagaimana yang Allah Swt firmankan,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَا نَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْاَ مْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
allaziina aamanuu wa lam yalbisuuu iimaanahum bizhulmin ulaaa-ika lahumul-amnu wa hum muhtaduun
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 82)
Diriwayatakan dari Al Harits bin Malik, bahwa ia pernah berjalan di hadapan Nabi Saw, beliau bersabda, “Bagaimana kondisi dirimu di pagi hari ini?,” ia berkata, “Pada pagi hari ini, aku adalah mukmin yang hakiki,” Nabi Saw bersabda, “Lihat kembali apa yang kau katakan, sebab setiap perkataan itu ada hakikatnya, lantas apa hakikat keimananmu itu?,” ia menjawab, “Aku telah menyingkirkan diriku dari dunia, sehingga aku pun bangun dan begadang dimalam hari, aku buat diriku kehausan pada siang hari, seolah-olah aku telah melihat singgasana Rabbku secara jelas dan seolah-olah aku melihat penghuni surga yang saling menziarahi satu sama lain; seolah-olah akupun melihat penghuni neraka yang saling mendengki satu sama lainnya,” beliau lalu bersabda, “Wahai Haritsah, engkau telah mengetahui itu, maka pegang kokohlah hal itu.”
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ لَاٰ يٰتٍ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
inna fis-samaawaati wal-ardhi la-aayaatil lil-mu-miniin
“Sungguh, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang mukmin.”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 3)
وَفِيْ خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِنْ دَآ بَّةٍ اٰيٰتٌ لِّقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
wa fii kholqikum wa maa yabussu ming daaabbatin aayaatul liqoumiy yuuqinuun
“Dan pada penciptaan dirimu dan pada makhluk bergerak yang bernyawa yang bertebaran (di bumi) terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) untuk kaum yang meyakini,”
(QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 4)
