
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang tentang Makna Ragam Huruf Lafazh, huruf yang terkait dengan bilangan penomeran dan huruf yang terkait dengan rasio; apa yang ada setiap itu semua?
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui bahwa dari ragam huruf lafazh tercipta alam arwah; maknanya adalah, bahwa setiap kalimat yang terucap dengan huruf lafazh ini akan menciptakan seorang malaikat yang bertasbih kepada Allah Swt. Jika ada yang mengatakan kalimat yang mengandung kebaikan, maka darinya akan tercipta malaikat rahmat dan jika ia mengatakan kalimat yang mengandung keburukan, maka darinya akan tercipta malaikat adzab lalu dia (yang mengatakan) juga tergolong kedalam kelompok malaikat adzab (meski bukan dari jenis malaikat); andai Allah mentakdirkan ia bertobat dari perkataan itu, maka dari malaikat itu akan dilepaskan sesuatu darinya yang merubahnya menjadi malaikat rahmat. Beragam huruf lafzhiyyah ini tidak muncul di alam panca indera.
Sedangkan huruf yang terkait dengan bilangan nomer adanya di alam panca indera; maknanya adalah, bahwa ini merupakan huruf yang bisa dilihat dengan kasat mata. Sementara huruf yang terkait dengan rasio, ini adanya pada khayalan di alam akal; maknanya adalah, huruf-huruf ini terkait dengan hukum khayalan, sedangkan kondisi berkhayal secara umum tidaklah menghasilkan apa-apa, yang biasa disebut juga dengan angan-angan, sementara khayalan orang yang ‘Arif billah akan menghasilkan sesuatu seketika itu juga.
Contoh dari khayalan orang yang ‘Arif billah: Apa yang pernah terjadi pada Al Jauhari Ra, ia berkata: “Ketika di Mesir, ia pernah dalam keadaan junub, iapun harus mandi di sungai nil, ia keluar rumah sembari membawa adonan roti untuk di panggang, ia berikan adonan roti itu kepada tukang roti agar dipanggang, sementara ia pergi untuk mandi di sungai nil. Ketika ia berada di dalam sungai nil dan ditengah-tengah mandi, ia mengantuk dan melihat dirinya kala itu sedang berada di Baghdad dan menikahi seorang wanita serta menetap bersamanya selama 6 tahun, dari sini lahirlah anak keturunannya yang tidak diketahui jumlahnya, lalu iapun sadar kembali dan mendapati dirinya sedang mandi di sungai nil, iapun menyempurnakan mandi seperti niatan awalnya, kemudian ia pergi ke tukang roti dan didapati rotinya tadi baru saja matang dan dikeluarkan dari panggangan oleh tukang roti tersebut, iapun mengambil roti tersebut dan pulang ke rumahnya, kemudian ia menceritakan hal tadi kepada istrinya sementara ia baru bersama istrinya yang ini selama dua bulan. Lalu wanita yang tadi dinikahinya di Baghdad itu datang untuk mencarinya, wanita tadipun sampai kepada tetangga Al Jauhari, wanita tadi menanyakan dimana rumah suaminya itu, penduduk Harah berkata, “Dimana engkau mengenalnya?” Wanita itu berkata, “Aku adalah istrinya dan ini anak-anaknya,” penduduk Harah pun berkata pada wanita tadi, “Dia tidak pernah keluar dari daerah sini,” akhirnya wanita tadipun mengetuk pintu rumah dan lelaki itu keluar dan kenal pada wanita tadi, iapun tidak mengingkari wanita tadi, penduduk Harah pun bertanya, “Apa yang engkau katakan tentang wanita ini?” Lelaki itupun berkata, “Iya, dia adalah istriku dan mereka adalah anak-anakku,” kemudian lelaki itu pun masuk ke dalam rumah seraya berkata pada istri yang baru tinggal bersamanya selama dua bulan, “Wanita yang telah kusebutkan dahulu, inilah dia, ia telah datang bersama anak-anaknya,” lelaki itupun mengajak masuk semuanya ke dalam rumah.
Sedangkan orang yang ‘Arif billah, mereka mampu bertindak dengan huruf-huruf, merekapun mampu bertindak sesuatu dengan huruf-huruf ucapan, mereka pun mampu bertindak dengan huruf-huruf khayalan (bertindak dengan sisi yang lebih terjaga), tidak ada yang mengetahui tindakan ini kecuali para rasul Allah dan bukan nabi-Nya. Allah Swt jadikan para utusan-Nya sebagai tempat rahasia-Nya, inilah sisi nasab ilahiyyah. Allah Swt tampakkan beragam sisi tersembunyi tabi’at kaumnya kepada setiap rasul yang Allah utus, sehingga mereka bisa berinteraksi sesuai dengan tabi’at mereka agar mereka tetap bisa istiqamah menjalankan beban taklif. Sebab, jika dakwah mereka tidak sesuai dengan tabi’at para kaumnya, maka risalah mereka tidak bisa tersampaikan dengan baik sejak pertama kali. Setiap rasul hanya mengetahui tabi’at kaumnya saja dan tidak mengetahui tabi’at kaum yang lain, oleh karenanya risalah mereka tidak mencakup bagi semua umat secara umum kecuali nabi kita Muhammad Saw.
Allah Swt tampakkan kepada beliau semua tabi’at makhluk yang ada, dimana setiap kelompoknya sesuai dengan tabi’at mereka, hal ini ditunjukkan oleh sabda Nabi Saw,
حَدِّثِ النَّاسَ بِمَا يَفْهَمُوْنَ، أَتُرِيدُ أَنْ يُكَذِّبَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ
“Berbicaralah pada manusia dengan yang mereka pahami, apakah engkau ingin Allah dan Rasul-Nya mendustakanmu?.”
Juga yang ditunjukkan dalam hadits lainnya,
يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
“Permudahlah (kalian) dan jangan kalian persulit, berikanlah kabar gembira dan jangan tebar ketakutan.”
Juga seperti yang ditunjukkan pada sabda beliau Saw,
الخَيْرُ عَادَةٌ، عَوِّدُوا كُلَّ بَدَنِ مَا اعْتَادَ
“Kebaikan adalah kebiasaan, biasakanlah setiap badan dengan hal yang terbiasa.”
Beragam nama-nama Allah Swt terbangun dari beberapa huruf, ragam huruf ini suci, berasal dari kalam-Nya dan dalam gambaran sisi keilmuan-Nya. Seluruh huruf-huruf ini bersifat qadim dan azali, sebab semua itu ada pada kalam dan ilmu Allah Swt, dengannyalah Allah Al Haq berfirman, “Alif Lâm Mîm, Ha Mâm ‘Aîn Sîn Qaf, Kaf Ha Ya ‘Aîn Shad, Tha Sin, Qaf, Nûn dan lain sebagainya. Semua ini bersifat qadim seperti qadim-nya Dzat Allah Swt, namun tidak dapat dikatakan bahwa sisi qadim-Nya terletak pada lafazh itu, tidak pula yang tertulis dengan tangan kita dan bukanlah yang tergambarkan dalam khayalan kita, ini bukanlah huruf-huruf yang sedang kami bicarakan.
Akan tetapi beragam huruf yang berbentuk lafazh, yang dituliskan dengan tangan kita dan yang tergambar dalam khayalan kita, ini semua mengarahkan pada huruf-huruf nan suci tersebut, dimana jika tidak ada gambaran akan huruf-huruf yang suci itu, maka tidak akan diketahui pula gambaran kalam, sebagiannya tidak dapat dibedakan bahkan tidak dapat pula diketahui ragam maknanya, sebab untuk membedakan itu haruslah dengan perantara huruf. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِذْ قَا لَ اللّٰهُ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اذْكُرْ نِعْمَتِيْ عَلَيْكَ وَعَلٰى وَا لِدَتِكَ ۘ اِذْ اَيَّدْتُّكَ بِرُوْحِ الْقُدُسِ ۗ تُكَلِّمُ النَّا سَ فِيْ الْمَهْدِ وَكَهْلًا ۚ وَاِ ذْ عَلَّمْتُكَ الْـكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَا لتَّوْرٰٮةَ وَا لْاِ نْجِيْلَ ۚ وَاِ ذْ تَخْلُقُ مِنَ الطِّيْنِ كَهَيْـئَـةِ الطَّيْرِ بِاِ ذْنِيْ فَتَـنْفُخُ فِيْهَا فَتَكُوْنُ طَيْرًا بِۢاِذْنِيْ وَ تُبْرِئُ الْاَ كْمَهَ وَا لْاَ بْرَصَ بِاِ ذْنِيْ ۚ وَاِ ذْ تُخْرِجُ الْمَوْتٰى بِاِ ذْنِيْ ۚ وَاِ ذْ كَفَفْتُ بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ عَنْكَ اِذْ جِئْتَهُمْ بِا لْبَيِّنٰتِ فَقَا لَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ اِنْ هٰذَاۤ اِلَّا سِحْرٌ مُّبِيْنٌ
iz qoolallohu yaa ‘iisabna maryamazkur ni’matii ‘alaika wa ‘alaa waalidatik, iz ayyattuka biruuhil-qudus, tukallimun-naasa fil-mahdi wa kahlaa, wa iz ‘allamtukal-kitaaba wal-hikmata wat-tauroota wal-ingjiil, wa iz takhluqu minath-thiini kahai-atith-thoiri bi-iznii fa tangfukhu fiihaa fa takuunu thoirom bi-iznii wa tubri-ul-akmaha wal-abrosho bi-iznii, wa iz tukhrijul-mautaa bi-iznii, wa iz kafaftu baniii isrooo-iila ‘angka iz ji-tahum bil-bayyinaati fa qoolallaziina kafaruu min-hum in haazaaa illaa sihrum mubiin
“Dan ingatlah, ketika Allah berfirman, “Wahai Isa putra Maryam! Ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu sewaktu Aku menguatkanmu dengan Ruhulqudus. Engkau dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan ingatlah ketika Aku mengajarkan menulis kepadamu, (juga) Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan ingatlah ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan seizin-Ku, kemudian engkau meniupnya, laIu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan ingatlah, ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan seizin-Ku. Dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku. Dan ingatIah ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari keinginan mereka membunuhmu) di kala engkau mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.””
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 110), ini bertentangan dengan firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَ يٰۤاِ بْلِيْسُ مَا لَـكَ اَ لَّا تَكُوْنَ مَعَ السّٰجِدِيْنَ
qoola yaaa ibliisu maa laka allaa takuuna ma’as-saajidiin
“Dia (Allah) berfirman, “Wahai Iblis! Apa sebabnya kamu (tidak ikut) sujud bersama mereka?””
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 32)
Maka perbedaan antara iblis dan Isa ada pada huruf, dimana tanpa adanya huruf, niscaya keduanya berstatus sama.
Dari huruf-huruf yang suci inilah adanya beragam nama-nama ilahiyyah, darinya pulalah muncul perintah ilahiyyah dengan firman-Nya, “Kun (Jadilah!).” Maka dengan huruf-huruf ini nampaklah ragam nama-nama ilahiyyah pada makhluk ini. Semua yang ada ini merupakan kalimat-kalimat Allah Al Haq, maka si Zaid, si Bakar, si Khalid dan si Umar, semua ini merupakan kalimat Allah Al Haq. Dari kalimat kalimat Allah Swt inilah semua makhluk ada dan tidak ada yang keluar dari kawasan ini. Beragam merupakan buatan ilahiyyah, begitu juga ragam bahasa dengan nama-namanya, ini merupakan buatan Allah Al Haq yang Dia alirkan melalui lisan manusia. Maka jika saja ada kesepakatan semua makhluk untuk membuat nama atau bahasa, maka makhluk tidak mampu akan ini, Allahlah yang membuatnya dan menamakannya dengan nama-nama-Nya. nama-nama
Sedangkan kalam Allah Swt yang azali, maka itu berasal dari huruf-huruf suci yang terhindar dari ragam alat yang digunakan untuk berbicara dan ini terjadi pada kalam Allah Swt; maksudnya dengan perantara huruf-huruf tersebut.
Sementara apa yang mereka katakan bahwa sesungguhnya kalam Allah yang azali itu tanpa adanya huruf, tanpa adanya suara. Yang mereka inginkan dengan perkataan ini adalah ingin menafikan kaum mu’tazilah tentang kaidah yang mereka gunakan. Sebab, pengikut pemikiran mu’tazilah dengan kaidah ini, mereka menafikan kalam Allah yang suci, yang bersumber dari Dzat Allah yang Maha Suci. Mereka memposisikan Allah Swt tidak bisa bicara, sementara Al Qur’an sendiri telah mendustakan mereka sebagaimana firman Allah Swt tentang nabi Musa As,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَاۡ فَا عْبُدْنِيْ ۙ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ
innaniii anallohu laaa ilaaha illaaa ana fa’budnii wa aqimish-sholaata lizikrii
“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 14)
Sebuah firman, jika saja ia keluar dari selain Dzat Allah, maka Dzat yang berfirman, dialah Dzat yang disembah, Maha Suci Allah dari hal ini. Sungguh tidak ada satupun dari makhluk ini yang mampu mengatakan,
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدني
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku,” kecuali hanya Allah semata, maka ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas yang mendustakan mereka (pengikut pemikiran mu’tazilah) atas apa yang mereka katakan terkait penafian kalam Allah yang azali.
Tidak benar jika Allah Swt hendak menyampaikan percakapan pada sebuah dzat, Dia sampaikan itu pada benda mati yang akan mengabarkan hal itu dengan inti dzatnya, sungguh pandangan ini sangatlah jauh dari kebenaran. Maka jikalau kita mendengar sebuah kalam dari benda mati yang berkata,
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَأَعْبُدْنِي
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku,” maka benda mati itu adalah Tuhan lantaran benda mati itu menyampaikannya dengan inti dzatnya, dan hal ini mustahil terjadi. Sungguh tidak ada yang mampu akan hal ini kecuali hanya Dzat Allah Swt yang mampu.
Tidak ada sesuatu yang mendahului dan mengakhirkan kalam Allah yang azali, tidak ada pula yang membatasi serta tidak perlu ditanya seluk-beluknya. Apabila kalam Allah ini muncul padamu dengan sendirinya dengan kondisi sesungguhnya dan engkau dapat mendengarnya, niscaya semua keterikatanmu akan sima, engkau pun melihat waktu sekarang sama seperti waktu sebelum adanya alam semesta dan inilah waktu yang ada sampai selamanya.
Terkait dengan beragam penggunaannya, maka ini adalah ragam ikatan yang ada pada kalam azali, dimana sesungguhnya ini hanya pada masa terhijab saja dan tidak pada masa lainnya. Ibnu Al ‘Arif Ra pernah berkata, “Tidak ada nasab antara Dia dengan hamba-Nya, Dia memilih mereka untuk-Nya atau memberi mereka untuk-Nya pula, sehingga tidak ada hal lain kecuali hanya bentuk perhatian Allah semata, tidak ada penyebab kecuali hanya bentuk sebuah hukum dan tidak ada waktu kecuali pada masa azali saja, dimana selebihnya adalah ketulian dan penyelamuran.”
Maka kata, “Azali,” adalah waktu dimana yang ada hanya Allah Swt, tidak ada keterikatan pada sesuatu. Rasulullah Saw bersabda,
كَانَ اللَّهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ
“Hanya Allah dan tidak ada yang bersama-Nya”
Maka pada waktu itulah Allah memberikan apa yang akan Dia beri, memisahkan apa yang seharusnya dipisahkan, sehingga tiada yang tersisa kecuali keridhaan dan penyerahan diri dengan perjalanan takdir.
-Selesai apa yang didiktekan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra juga pernah mendiktekan pada kami terkait pembahasan, “Kecintaan pada Dzat Allah yang luhur”;
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:
Mencintai Dzat Allah merupakan perkara yang sulit digapai, terkecuali bagi orang yang ‘Arif billah, oleh karenanya ada orang yang mengatakan:
تُجَرِّعُهُمْ كَأْسًا لَوْ ابْتُلِيَتْ لَظَى # بِتَجْرِيْعِهِ طَارَتْ كَأَسْرَعِ ذَاهِبِ
“Jika mereka diuji dengan ditenggakkan segelas api yang bergolak, maka dengan tenggakan ini mereka bisa terbang secepat mungkin.”
Asy-Syadzili Ra pernah berkata tentang makna ini, ketika ia disingkapkan menuju hadhrah ilahiyyah, Asy-Syadzili berkata: “Wahai Rabb, aku tidak memiliki kemampuan untuk ini, maka hijab-lah aku dari-Mu.” Maka dikatakan baginya, “Jikapun engkau meminta pada-Nya dengan apa yang diminta oleh Musa kalim-Nya, Isa ruh-Nya dan Muhammad kecintaan-Nya agar Dia meng-hijab-mu, maka Diapun tidak akan meng-hijab-mu, akan tetapi pintalah kepada-Nya agar Dia menguatkanmu.”
Maka aku (Asy-Syadzili) meminta-Nya agar Dia menguatkanku, seketika itu pula jikalau Allah Swt ter-hijab dariku sekejap mata saja, niscaya akupun mati seketika.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra juga berkata: Terkait dengan perkara ini, maka manusia terbagi menjadi empat golongan:
Golongan pertama, golongan orang-orang yang disibukkan dengan masa silam.
Golongan kedua, golongan orang yang disibukkan dengan penutup kehidupan;
Golongan ketiga, golongan orang yang disibukkan memperhatikan waktu, ia selalu memperhatikan apa yang dilakukannya setiap waktu;
Golongan keempat, golongan orang yang tenggelam dalam lautan penyaksian Dzat Allah Swt, hati mereka tidak merasa tercela dengan tidak mengingat masa silam, tidak pula mengingat penutup kehidupan, tidak pula mengingat waktu, mereka tidak menoleh dari kondisi mereka kini. Terkait ini As-Sara As-Saqathi bersenandung:
لًسْتُ أَدْرِى أَطَالَ لَيْلِي أَمْ لاَ # كَيْفَ يَدْرِي بِذَالِكَ مَنْ يَتَقَلَّى
لَوْ تَفَرَّفْتُ لِإِسْتِطَالَةِ لَيْلِي # وَلِرَعِيَ النُّجُوْمِ كُنْتُ مُخِلًا
إِنَّ الْعَاشِقِيْنَ عَنْ قَصْرِ الَّيْ # لِ وَعَنْ طُولِهِ لَفِي الْحُبِّ سُغْلَا
“Aku tidak tahu malamku ini panjang atau tidak # bagaimana bisa tahu tentang itu orang yang tidur disiang hari
Jika aku berusaha untuk memperpanjang malamku # maka aku telah salah dimata Dzat yang memelihara bintang-bintang
Sungguh para perindu itu sibuk daripada memikirkan pendek dan panjangnya malam.”
Pemilik maqam ini dialah yang senantiasa melakukan muraqabah yang agung; yaitu ia senantiasa memantau hadhrah ilahiyyah dan apa yang muncul dari ragam tajalliyat yang berbeda-beda, dia memberikan pada setiap hak berupa khidmah dan adab dari tajalli yang datang, dia tidak teledor dan tidak meluputkan apapun dari ragam tajalli yang datang tersebut. Pemilik kondisi jiwa ini ia tidak lagi mengenal waktu, pemilik kondisi jiwa ini adalah orang yang asing; maksudnya orang yang asing lantaran kerja keras mencari Allah Al Haq, dia tidak memiliki rumah di alam ini, dia juga tidak memperhatikan segala perhiasan dan ragam tujuan di dunia, sehingga semua hal di dunia ini tidak terdetik dikalbunya. Dalam kondisi ini ada yang mengatakan, “Engkau tidak boleh senantiasa terhubung dengan yang kau cintai, cukuplah engkau merasa ditemani di alam semesta ini.”
Orang yang dalam kondisi ini seperti orang asing yang jika engkau tanya hari apa ini, maka dia tidak akan tahu bahkan dirinya juga tidak tahu dimana keberadaan dirinya kini. Terkait kondisi ini sebagian pembesar wali berkata:
تَسَتَّرْتُ عَنْ دَهْرِي جَنَابِهِ # فَصِرْتُ أَرَى دَهْرِى وَلَيْسَ يَرَانِي فَلَوْ تَسْأَلِ الأَيَّامَ مَا اِسْمِي مَا دَرَتْ # وَأَيْنَ مَكَانِي مَا عَرَفْنَ مَكَانِي
“Aku berlindung dari waktu dengan naungan sisinya # sehingga aku bisa melihat waktuku, meski waktu tak dapat melihatku
Jika engkau bertanya tentang hari, siapa namaku, # dimana tempatku, maka akupun tidak tahu namaku dan dimana tempatku.”
Terkait syair diatas, maka itu telah diisyaratkan pada perkatan Dzunnun Al Mishri tentang seseorang yang ia temui di Makkah, Dzunnun berkata, “Aku melihat seorang pemuda yang menangis di emperan Ka’bah, kubertanya padanya, ‘Apa yang membuatmu menangis?’, dia menjawab, ‘Aku adalah orang yang asing dan dicari’, ia pun mengucap ini sampai ruhnya dicabut oleh Allah. Dzunnun berkata, ‘Maka aku tinggalkan ia disana tepatnya pada sebuah tempat, akupun melihat barang-barang bawaannya untuk nantinya aku mandikan dan kafani. Sekembalinya aku melihat barang-barangnya, namun tidak aku dapati dirinya, akupun bahkan tidak mendengar beritanya, kemudian Dzunnun pun menyesal dan dia berkata, ‘Wahai Rabb, siapa yang mendahuluiku mendapatkan pahalanya’, maka dikatakan padanya, ‘Berhati-hatilah engkau, iblis telah mencarinya, namun tidak bisa menemukannya, munkar dan nakirpun telah mencarinya, namun tidak dapat menemukannya, malaikat Ridwan penjaga surga pun mencarinya namun tidak menemukannya, aku (Dzunnun) berkata, ‘Lantas dimana dia?’, maka dikatakan padaku, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فِيْ مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيْكٍ مُّقْتَدِرٍ
fii maq’adi shidqin ‘ingda maliikim muqtadir
“di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.”
(QS. Al-Qamar 54: Ayat 55)
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
