
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَا قٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ
yauma yuksyafu ‘ang saaqiw wa yud’auna ilas-sujuudi fa laa yastathii’uun
“(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu,”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 42)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Ketahuilah bahwa ada hadits shahih dari Nabi Saw, beliau bersabda tentang hari Kiamat. Setelah Nabi Saw menyebutkannya, beliau bersabda,
يُقَالُ : مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْهُ، فَيَتَّبِعُ كُلَّ وَاحِدٍ مَا كَانَ يَعْبُدُهُ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَا كَانَ يَعْبُدُ اللهَ مِنْ بَرِّ وَفَاجِرٍ، أَتَاهُمُ اللَّهُ فِي غَيْرِ الصَّفَةِ الَّتِي يَعْرِفُوْنَ فَيَقُولُ : أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُولُونَ : نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِينَا رَبُّنَا، فَإِذَا أَتَانَا رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ، فَيَأْتِيهِمُ اللَّهُ فِي الصفة الَّتِي يَعْرِفُوْنَ، فَيَقُولُ : أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُوْلُوْنَ : أَنْتَ رَبُّنَا فَيَخِرُّوْنَ لَهُ سُجَّدًا .
“Dikatakan, ‘Barangsiapa yang menyembah sesuatu, hendaklah ia mengikutinya. Maka, setiap orang akan mengikuti apa yang disembahnya, hingga tidak tersisa selain yang menyembah Allah dari kalangan orang yang baik dan yang jahat. Allah mendatangi mereka dengan sifat selain yang mereka kenal, Dia berfirman, ‘Aku adalah Rabb kalian. Mereka berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dari-Mu. Ini adalah tempat kami, hingga Rabb kami mendatangi kami. Jika Dia mendatangi kami, kami akan mengenal-Nya. Maka, Allah mendatangi mereka dengan sifat yang mereka kenal, lalu Dia berfirman, ‘Aku adalah Rabb kalian. Mereka berkata, Engkaulah Rabb kami’. Mereka pun bersungkur sujud kepada-Nya.”
Maka, tak tersisa orang yang sujud kepada Allah Swt dengan segenap jiwanya, kecuali bersungkur sujud. Tak tersisa pula orang yang sujud karena ittiqa (biar dianggap bertakwa), riya (ingin perbuatannya dilihat orang) dan sum’ah (ingin nama baiknya terangkat), kecuali berbalik kebelakang. Inilah fitnah terakhir yang menimpa orang-orang yang berada di tempat itu.
Demikianlah maksud dari firman Allah Swt,
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَا قٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ
yauma yuksyafu ‘ang saaqiw wa yud’auna ilas-sujuudi fa laa yastathii’uun
“(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu,”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 42)
خَا شِعَةً اَبْصَا رُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗ وَقَدْ كَا نُوْا يُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سٰلِمُوْنَ
khoosyi’atan abshooruhum tar-haquhum zillah, wa qod kaanuu yud’auna ilas-sujuudi wa hum saalimuun
“pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan).”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 43)L
Maksud kata “tersingkap” dan “betis” dalam masalah ini adalah, tampaknya Tuhan Yang Maha Mulia, Maha Agung dan Maha Sempurna tanpa tandingan. Demikianlah yang dimaksud dengan kata “betis”. Ungkapan ini muncul sebagai perumpamaan yang biasa digunakan oleh orang Arab. Karena saat permasalahan semakin berat dan butuh untuk melakukan peperangan serta kesabaran yang cukup besar dalam menghadapinya, maka mereka akan mengatakan, “Sekarang betis disingkapkan.” Maksudnya adalah, keraguan telah sima, harapan yang diyakini oleh orang yang meyakininya telah lenyap dan kesulitan tidak akan menimpa mereka lagi (setelah peperangan). Tersingkaplah segala penutup, hingga menjadi jelas kebutuhan dan desakan untuk menghadapi kesulitan (dalam peperangan), dia berdiri tegak sebagai ksatria, dibutuhkan kesabaran yang besar dalam menanggung beban yang besar pula. Tidak ada keraguan lagi didalamnya dan tidak ada harapan lagi untuk tidak terjadinya (peperangan). Sehingga mereka mengatakan, “Betis disingkapkan”.
Perumpamaan ini juga biasa digunakan untuk seseorang yang tengah menghadapi kesulitan saat kesulitan itu tampak terang, dia berdiri tegak sebagai ksatria dan membutuhkan kesabaran dalam menghadapi beban yang cukup besar. Karena keadaan orang yang menghadapi masalah ini harus menyingkap betisnya, mengencangkan ikat pinggangnya serta menyingkap kedua lengannya untuk menghadapi kesulitan tersebut, maka dikatakan, “Betis disingkapkan”. Karena menyingkap betis dan kedua lengan, serta mengencangkan ikat pinggang, harus dilakukan dalam menghadapi masalah ini, maka orang Arab mengatakan “Betis disingkapkan”, sebagai ungkapan terhadap sesuatu yang harus dilakukan.
Kemudian sisi perumpamaan dalam ayat ini, yaitu firman-Nya,
يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَا قٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ
yauma yuksyafu ‘ang saaqiw wa yud’auna ilas-sujuudi fa laa yastathii’uun
“(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu,”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 42) adalah, setiap penyembah selain Allah berupa berhala dan thaghut yang mengira bahwa ia akan selamat sebab amalnya, berharap mendapatkan keberuntungan sesuai angan-angannya. Namun, perkara yang sebenarnya tersingkap dari Allah Swt kepada mereka, dengan firman-Nya,
مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْهُ
” Barangsiapa yang menyembah sesuatu (selain Allah), hendaklah ia mengikutinya.” (Hadits Muslim nomor 469)
Ketika para penyembah mengikuti apa yang disembah, maka mereka beserta apa yang disembah itu dilemparkan ke dalam neraka. Demikian itu adalah “betis disingkapkan” sebagai perumpamaan dalam ayat ini, yaitu saat harapan mereka mendapatkan keberuntungan sesuai angan-angan mereka karena ibadah mereka kepada selain Allah Swt telah sirna. Ketika mereka dilemparkan ke dalam neraka, maka harapan itu telah sirma, keraguan telah hilang dan tak tersisa lagi selain kenyataan yang murni.
Demikianlah perumpamaan bagi orang yang menyembah selain Allah Swt, yaitu menyembah thaghut. Kemudian masih tersisa fitnah yang kedua bagi orang yang menyembah Allah Swt, yaitu sabda Nabi Saw,
أَتَاهُمُ اللهُ فِي غَيْرِ الصِّفَةِ الَّتِي يَعْرِفُوْنَ فَيَقُوْلُ : أَنَا رَبُّكُمْ، فَيَقُوْلُوْنَ: نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا، فَإِذَا أَتَانَا رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ
“Lantas, Allah mendatangi mereka dengan sifat yang tidak mereka kenal, lalu Dia mengatakan, ‘Aku adalah Rabb kalian.
Mereka menjawab, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami hingga Rabb kami mendatangi kami. Apabila Rabb kami datang, maka kami akan mengenali-Nya.”
Yang dimaksud dengan hadits ini adalah, bahwa Allah Swt ber-tajalli kepada mereka dari belakang hijab, Dia tidak menyingkapkan Dzat-Nya yang agung kepada mereka dengan jelas. Kemudian Dia memperdengarkan kepada mereka pembicaraan Dzat-Nya dengan firman-Nya أنَا ربُّكُمْ “Aku adalah Rabb kalian.” Di tempat itu berkumpul orang-orang yang memiliki keyakinan (ashhabul yaqin) dan orang-orang yang memiliki keimanan (ashhabul iman). Orang-orang yang memiliki keyakinan diam saja karena mereka tahu bahwa itu adalah Al Haq Swt. Dia-lah yang berbicara langsung kepada mereka dengan Dzat-Nya sendiri. Mereka tidak menghiraukan adanya hijab tadi, dimana Dia ber-tajalli dari belakang hijab (tabir penghalang) itu. Allah Swt berfirman kepada mereka sesuai dengan kandungan ayat,
هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ يَّأْتِيَهُمُ اللّٰهُ فِيْ ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَا مِ وَا لْمَلٰٓئِکَةُ وَقُضِيَ الْاَ مْرُ ۗ وَاِ لَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُ مُوْرُ
hal yangzhuruuna illaaa ay ya-tiyahumullohu fii zhulalim minal-ghomaami wal-malaaa-ikatu wa qudhiyal-amr, wa ilallohi turja’ul-umuur
“Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya Allah bersama malaikat dalam naungan awan, sedangkan perkara (mereka) telah diputuskan. Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 210)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman:
وَمَا كَا نَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَآئِ حِجَا بٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِ ذْنِهٖ مَا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
wa maa kaana libasyarin ay yukallimahullohu illaa wahyan au miw warooo-i hijaabin au yursila rosuulang fa yuuhiya bi-iznihii maa yasyaaa, innahuu ‘aliyyun hakiim
“Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 51)
Sedangkan mayoritas orang yang beriman lantaran kebodohan mereka terhadap kedudukan Allah Swt mengira bahwa Allah Swt tidak akan berbicara kepada mereka, kecuali saat keangungan-Nya tampak jelas kepada mereka dan hilangnya hijab (tabir penghalang). Oleh karena itu, mereka mengatakan, نَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْكَ “Aku berlindung kepada Allah dari-Mu.”
Sementara para Shiddiqin dan para nabi, mereka bersama orang-orang yang beriman di tempat itu-, meyakini bahwa Allah Swt ber-tajalli dari belakang hijab, sebagaimana firman Allah Swt, فِيْ ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَا مِ “Dalam naungan awan.” Mereka tidak ragu dalam hal ini, karena mereka memiliki keyakinan yang bersih. Mereka tidak ragu dan was-was.
Perbedaan antara iman dan yakin adalah, tingkatan iman itu seperti susu yang diperah, sedangkan tingkatan yakin seperti keju saat bersihnya telah sempurna. Awalnya, ia berupa susu perahan yang bercampur antara susu dan buihnya. Kemudian berubah menjadi susu yang bersih. Lalu air yang bercampur dengan susu hilang (menjadi padat). Ketika sari susu telah dikeluarkan, maka sifat susu hilang darinya.
Susu dan keju itu seperti dedak dan tepung. Ketika buihnya telah bersih, maka kotoran-kotoran yang mencampurinya ikut hilang, sehingga yang tampak adalah sifat keju yang putih dan bersih.
Demikian pula dengan yakin, yang sebelumnya adalah iman. Iman itu terus berpindah dari satu tingkatan kepada tingkatan yang lain sampai kotoran, keraguan dan kesalahpahaman hilang. Perumpamaannya seperti matahari saat gelap menyelimuti malam, sementara orang yang akan mendapatkannya meyakini datangnya terang. Kemudian fajar membelah kegelapan. Lalu kegelapan tersingkap, sedikit demi sedikit. Hingga ketika matahari terbit, maka tak tersisa lagi kegelapan itu secara kasat mata.
Demikian pula dengan orang yang memiliki keyakinan, Allah Swt membuang gambaran selain Dia. Tidak tersisa lagi dalam perasaannya, penyaksian dan rasanya, selain Allah Swt dari setiap sisi dan dengan setiap i’tibar. Sebagaimana yang disenandungkan oleh seorang yang ‘Arif billah,
فَلَمْ يَبْقَ إِلَّا اللَّهُ لَا شَيْءَ غَيْرُهُ # فُمَا ثُمَّ مَوْصُوْلٌ وَلَا ثُمَّ بَائِنٌ
“Tak tersisa lagi selain Allah, tak ada sesuatu selain Dia # Tak ada istilah ‘berjumpa’ dan tak ada istilah ‘menjadi terang’.”
Kondisi dirinya dipenuhi dengan keyakinan yang bersih dan sempurna, sehingga seluruh semesta ini tampak seperti fatamorgana, tampak sebagai gambaran sesuatu (padahal bukan apa-apa), sebagaimana firman Allah Swt,
وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَعْمَا لُهُمْ كَسَرَا بٍ بِۢقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰ نُ مَآءً ۗ حَتّٰۤى اِذَا جَآءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـئًـا وَّ وَجَدَ اللّٰهَ عِنْدَهٗ فَوَفّٰٮهُ حِسَا بَهٗ ۗ وَا للّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَا بِ
wallaziina kafaruuu a’maaluhum kasaroobim biqii’atiy yahsabuhuzh-zhom-aanu maaa-aa, hattaaa izaa jaaa-ahuu lam yajid-hu syai-aw wa wajadalloha ‘ingdahuu fa waffaahu hisaabah, wallohu sarii’ul hisaab
“Dan orang-orang yang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi tidak ada apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah baginya. Lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan (amal-amal) dengan sempurna, dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya,”
(QS. An-Nur 24: Ayat 39)
Demikianlah orang yang memiliki keyakinan dalam memandang alam semesta ini. Al ‘Arif billah Asy-Syusytari Ra. bersenandung,
وَلَمْ تُلْفِ كُنْهَ الْكَوْنِ إِلَّا تَوَهُمَا # وَلَيْسَ بِشَيْءٍ ثَابِتٍ هَكَذَا الْفَيْنَا
“Kami tak melihat sifat semesta ini kecuali penuh praduga # tak ada yang pasti. Demikianlah sifat sesuatu yang fana.”
Karena keyakinan inilah, orang-orang yang memiliki keyakinan di tempat tersebut (saat mendengar perkataan Al Haq Swt) tidak merasa was-was dan ragu, sebab mereka tahu -bahkan yakin bahwa semua tabir yang Allah Saw ber-tajalli dibaliknya, bukanlah apa-apa, semua bagaikan fatamorgana. Dalam hal ini, gambarannya seperti butiran debu yang dibawa angin, engkau dapat melihatnya namun ketika engkau mencoba menggenggam, maka engkau tidak akan melihat apa-apa. Demikianlah gambaran semesta ini menurut orang-orang yang memiliki keyakinan.
Sedangkan menurut orang-orang yang memiliki keimanan, Allah Swt tidak memiliki bentuk tertentu, anggota badan, arah dan gambaran. Demikianlah Allah Swt menurut mereka. Ketika Allah Swt ber-tajalli dengan cara selain yang mereka yakini, mereka berkata, نَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْكَ “Kami berlindung kepada Allah dari-Mu”. Mereka mendengar perkataan-Nya itu, tetapi mereka mengingkari karena masalah bentuk. Allah Swt tidak mencela mereka, karena memang itulah tingkatan keimanan mereka. Kemudian Dia ber-tajalli dengan sifat yang mereka kenali. Lalu, Dia mengatakan ْأنا ربُّكُم “Aku adalah Rabb kalian.” Mereka pun menjawab أنْتَ رَبُّنَا Engkaulah Rabb kami”. Maka, mereka tersungkur sujud. Namun, pengingkaran mereka pada kali pertama karena Allah Swt mencabut cahaya keyakinan dari mereka, sehingga mereka tidak meyakini apapun dan mengingkari saat Dia berbicara kepada mereka.
Kemudian pada kali kedua, Allah Swt menghidupkan cahaya keyakinan itu dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengenali-Nya lantaran cahaya tersebut, lalu mereka mengatakan, أَنْتَ رَبُّنَا “Engkaulah Rabb kami”.
Jangan engkau kira bahwa orang yang mengenal Allah Swt saat itu adalah dari kalangan orang-orang yang memiliki keimanan dan orang-orang yang memiliki keyakinan karena kekuatan atau pikirannya sendiri, tetapi itu semua karena cahaya yang Allah Swt hidupkan dari sisi-Nya untuk orang yang istimewa dari makhluk-Nya. Karena cahaya itulah, orang yang mengenal-Nya dapat mengenali-Nya, orang yang beriman kepada-Nya dapat mengimani-Nya. Dan karena padamnya cahaya itulah, orang yang ingkar akan mengingkari-Nya.
Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah khabar,
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الأَرْوَاحَ كُلَّهَا فِي ظُلْمَةٍ ، ثُمَّ رَرَّ عَلَيْهِمْ مِنْ نُوْرِهِ، فَمَنْ أَصَابَ ذَلِكَ النُّورِ آمَنَ، وَمَنْ أَخْطَأَهُ ذَلِكَ النُّوْرِ كَفَرَ، فَمَا عَرَفَ اللَّهَ إِلَّا مَنْ عَرَفَ بِاللَّهِ، فَهُوَ الْمُعَرِّفُ وَالْمُتَعَرِّفُ، وَمَنْ أَبَى عَنْهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى تَرَكَهُ يَخُوضُ فِي ظُلامِ الْكُفْرِ.
“Sesungguhnya Allah menciptakan arwah seluruhnya dalam kegelapan, kemudian Dia menyinari mereka dengan cahaya Nya. Barangsiapa yang mendapatkan cahaya itu, ia akan beriman, dan barangsiapa yang tidak mendapatkannya, ia akan kufur. Tidak ada yang mengenal Allah kecuali orang yang kenal karena Allah (bukan usahanya sendiri). Maka, Dia-lah yang mengenalkan diri dan yang dikenal. Barangsiapa yang menjauh dari Allah Swt, maka Dia akan membiarkannya dalam gelapnya kekufuran.”
Dalam masalah ini, kami telah menyebutkan bahwa inilah fitnah terakhir yang menimpa orang-orang yang berada di tempat tersebut. Karena fitnah-fitnah yang terjadi sebelumnya pada hari Kiamat telah terpisah dan habis masanya. Tempat itupun bersih dari orang-orang musyrik kecuali orang yang menyembah Allah Swt, seperti kaum Yahudi. Pada saat itu, Allah Swt akan memisahkan mereka, kemudian mengirim ke neraka. Hingga tak tersisa lagi selain orang-orang yang beriman. Lalu Allah Swt akan memisahkan mereka.
Secara zhahir khabar ini menyisakan kemusykilan yang cukup besar jika dikaitkan dengan khabar tentang hari Kiamat, karena Nabi Saw mengabarkan dalam hadits syafa’ah kubra, saat beliau memberi syafa’at untuk mempercepat hisab bagi orang-orang yang berada di tempat tersebut. Allah Swt berfirman kepada beliau, setelah beliau memberi syafa’at, قَدِّمْ أُمْتَكَ لِلْحِسَابِ “Dahulukan umatmu untuk menjalani hisab.”
Maka, umat Muhammad pun maju ke depan untuk menjalani hisab, diantara mereka ada yang baik, jahat, wali dan Fir’aun. Mereka maju menjadi satu kelompok, dan yang menjadikan mereka berkumpul adalah para malaikat-. Lalu mereka berdiam diri untuk menjalani hisab di hadapan Allah Swt. Mereka tidak menoleh kepada umat-umat yang lain, hingga Allah Swt memisahkan mereka. Lalu penghuni surga dikirim ke surga dan penghuni neraka dikirim ke neraka.
Namun hadits ini bertentangan dengan dua hadits berikut ini:
Pertama, sabda Nabi Saw,
يُعْرَضُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَ عَرَضَاتٍ، فَأَمَّا عَرْضَتَانِ فَجِدَالٌ وَمَعَاذِيْرٌ، وَأَمَا الثَّالِثَةُ فَتَطَائِرُ الصُّحُفِ، فَاخِذْ بِيَمِينِهِ وَ آخِذٌ بِشِمَالِهِ
“Pada Hari Kiamat kelak manusia akan dijadikan tiga kelompok. Dua kelompok adalah kelompok yang membela dirinya sendiri dan yang menyampaikan banyak alasan. Sedangkan kelompok yang ketiga adalah kelompok yang catatan amalnya berterbangan, lalu ada yang mengambilnya dengan tangan kanannya dan ada yang mengambilnya dengan tangan kirinya.” (HR. At-Tirmidzi, vol. IV, hal. 195, no. 2425, dari riwayat Abu Hurairah; HR. Ibnu Majah, vol. II, hal. 1430, no. 4277, dari riwayat Abu Musa Al Asy’arl; HR. Ahmad, vol. XXXII, hal. 486, no. 19715 dari riwayat Abu Musa Al Asy’ari. (Pent) )
Dalam hadits ini cukup jelas bahwa seluruh umat akan mendapatkan cara ini.
Kedua, sabda Nabi Saw dalam hadits pertanyaan terhadap para rasul bersama umat mereka tentang risalah dan penyampaiannya, “Setiap rasul akan didustakan oleh umatnya yang kufur kepadanya, mereka mengatakan, ‘la tidak datang kepada kami dengan membawa sesuatu. Ia tidak mengabarkan sesuatu kepada kami. Dan ia tidak mendatangi kami dengan membawa risalah. Setelah Allah bertanya kepada rasul itu tentang risalah, ia menjawab, ‘Aku telah menyampaikan dan menunaikan amanah.’ Allah bertanya kepadanya, ‘Siapa yang bisa menjadi saksimu dalam hal ini?’ Ia menjawab, ‘Muhammad dan umatnya, wahai Tuhanku.’ Umat ini akan didatangkan dan menjadi saksi para rasul atas umat mereka, bahwa mereka telah menyampaikan risalah dan menunaikan amanah. Maka, keluarlah jawaban dari Allah Swt, ‘Kalian adalah orang-orang yang adil yang dapat diterima persaksiaannya terhadap orang yang kalian persaksikan!”
Untuk memecahkan kemusykilan dalam masalah ini adalah, bahwa permulaan hisab ada tiga kelompok. Allah Swt akan mencela setiap orang atas perbuatannya, sebagaimana firman Allah Swt,
وَعُرِضُوْا عَلٰى رَبِّكَ صَفًّا ۗ لَقَدْ جِئْتُمُوْنَا كَمَا خَلَقْنٰكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍۢ ۖ بَلْ زَعَمْتُمْ اَ لَّنْ نَّجْعَلَ لَـكُمْ مَّوْعِدًا
wa ‘uridhuu ‘alaa robbika shoffaa, laqod ji-tumuunaa kamaa kholaqnaakum awwala marrotim bal za’amtum allan naj’ala lakum mau’idaa
“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman), “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (berbangkit untuk memenuhi) perjanjian.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 48)
Lalu masing-masing akan membela dirinya sendiri dan menyampaikan banyak alasan tentang perbuatannya yang buruk, sebagaimana sabda Nabi Saw,
فَأَمَّا عَرْضَتَانِ فَجِدَالٌ وَمَعَاذِيْرٌ
“Dua kelompok adalah kelompok yang membela dirinya sendiri dan yang menyampaikan banyak alasan.”
Dan firman Allah Swt,
يَوْمَ تَأْتِيْ كُلُّ نَفْسٍ تُجَا دِلُ عَنْ نَّفْسِهَا وَتُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
yauma ta-tii kullu nafsing tujaadilu ‘an nafsihaa wa tuwaffaa kullu nafsim maa ‘amilat wa hum laa yuzhlamuun
“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap orang datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi setiap orang diberi (balasan) penuh sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 111)
Sedangkan kelompok yang ketiga adalah, catatan amalnya beterbangan, lalu setiap orang akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kirinya.
Hal ini untuk semua umat manusia, tidak hanya kepada satu umat saja. Semuanya berada di tempat yang sama. Kemudian keadaan ini akan berpindah kepada pertanyaan terhadap para rasul dan umat mereka tentang risalah. Sedangkan umat nabi Muhammad Saw berbaur dalam tempat itu bersama umat-umat yang lain hingga mereka menyampaikan kesaksian untuk para rasul, satu persatu. Kemudian umat nabi Muhammad Saw akan terpisah menuju hisab. Lalu Allah Swt akan menghisab umat-umat yang lain, satu persatu. Ketika Allah Swt memisahkan orang-orang kafir dari tempat itu dan tidak tersisa selain orang-orang yang beriman dan orang yang menyembah Allah dari kalangan orang-orang kafir, seperti Yahudi, maka Allah Swt ber-tajalli dengan fitnah tersebut, kemudian Dia akan mengirim mereka ke neraka. Penduduk surga akan dikirim ke surga dan penduduk neraka akan dikirim ke neraka.
Adapun kabar tentang telaga Rasulullah Saw (haudh) dalam sebuah hadits, maka ia ada pada saat proses hisab bagi umat nabi Muhammad Saw. Mereka mendatanginya dalam keadaan haus dan tersiksa karena dahaga. Lalu meminum darinya orang yang dapat meminumnya dan dijauhkan darinya orang yang dilarang meminumnya, yaitu orang yang tidak mendapatkan ampunan dari kalangan penduduk neraka. Diantara orang yang dapat meminumnya adalah orang yang mendapatkan ampunan atau mendapatkan syafa’atnya orang-orang yang memiliki syafa’at, lalu ia pun mendapatkan ampunan. Telaga itu ada sebelum shirath (titian), menurut pendapat yang mutawatir. Sedangkan pendapat ulama yang menyatakan bahwa ia ada setelah shirath, pendapat tersebut tidak shahih, karena orang yang telah melintasi shirath tidak mungkin dilarang meminum dari telaga tersebut, sebab keselamatannya telah sempurna.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
