You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 39. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang pernyataan Syaikh Al Jazuli Ra terkait dengan Hizb Al Falah tentang redaksi, “Keutamaan apa yang berhak dimiliki beliau?”

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang pernyataan Syaikh Al Jazuli Ra terkait dengan Hizb Al Falah tentang redaksi, “Keutamaan apa yang berhak dimiliki beliau?”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Ketahuilah bahwa Rububiyah memiliki beberapa anugerah yang tampak dalam kaifiyah, izham, ladzdzat dan khawash yang dilimpahkan dalam satu martabat, baik anugerah itu sebagai balasan amal, atau datang dari martabat tersebut, atau bukan karena balasan apapun. Martabat Allah Al Haq Swt tidak pernah kehilangan sedikitpun dari anugerah ini selamanya. Anugerah inilah yang disebut dengan fadhal, ‘atha’, minah dan in’âm hingga hal lain yang mengikutinya, berupa sirr inâyah yang tampak dari-Nya, mahabbah yang datang dari-Nya. Juga keagungan, kemuliaan dan kehormatan bagi martabat yang dianugerahi apa yang telah disebutkan sebelumnya, berupa fadhal, atha`dan minah.

Apabila engkau telah mengetahui hal ini, pasti engkau akan mengetahui bahwa anugerah yang Allah Swt berikan kepada Nabi Saw; baik yang segera atau yang tertunda, berupa ‘atha’dan minah, dimana akal tidak akan mampu memahami bagian terendahnya, apalagi bagian teratasnya; engkau juga mengetahui bahwa ragam anugerah itu datang dari Allah Swt kepada Nabi-Nya Saw adalah penjelasan tentang kaifiyah dan batasan-batasan tentang banyak dan sedikit, kecil dan besar. Dalam semua itu, orang yang memperhatikan akan memahami tingginya martabat Nabi Saw mengalahkan semua makhluk Allah dan agungnya posisi beliau mengalahkan setiap manusia. Kelayakan beliau dalam menerima anugerah tersebut telah ditetapkan dengan hukum inayah Allah Swt kepada beliau dan kecintaan-Nya kepada beliau. Maka, beliau pun layak menerima yang sedikit sebagaimana beliau berhak menerima yang besar.

Orang yang berdo’a meminta kepada Allah Swt untuk membalas Nabi-Nya Saw karena apa yang telah beliau ajarkan kepada kita; berupa kebaikan dan kemuliaan, dan apa yang beliau persiapkan untuk kita; berupa kenikmatan dan mawahib yang agung, dimana akal tidak mampu untuk memahami sedikit pun darinya; juga apa yang telah beliau berikan kepada kita, berupa nasehat serta apa yang beliau ajarkan kepada kita berupa akhlak mulia dan adab, yang pantas bagi orang yang memilikinya menghadap kepada hadhrah Rububiyah. Juga sesuatu yang dengannya beliau melindungi kita dari sakitnya siksa yang abadi, yang tidak sanggup digambarkan oleh akal; dan sesuatu yang dengan sebab beliau, kita mendapatkan kenikmatan selamanya; kenikmatan yang tidak sanggup disebutkan oleh akal. Rasa syukur kita kepada Nabi Saw dalam hal ini tidak akan tercukupi.

Seandainya kita habiskan umur kita untuk bersyukur kepada beliau, kita tidak akan bisa menunaikannya, walaupun hanya seberat butiran debu sebagai balasan kebaikan Nabi Saw. Ketika orang yang berdo’a mengetahui bahwa dirinya tidak mampu bersyukur kepada beliau atas apa yang telah disebutkan, maka dia akan mengembalikan hal itu kepada Al Haq Swt, karena Dialah yang memiliki kekuasaan ilahiyyah yang luas, yang bisa memberi taufik kepada kita untuk bersyukur kepada Nabi Saw dengan berlipat ganda. Sehingga seakan-akan orang yang berdo’a mengatakan:

“Ya Rabb, jika Engkau mengetahui kelemahan kami untuk melakukan kewajiban kami dalam bersyukur kepada Nabi Saw, maka balaslah beliau karena kami sesuai dengan keagungan anugerah yang Engkau berikan kepada martabat beliau yang agung; berupa mawahib dan minah Mu, yang Engkau khususkan kepada beliau, yang beliau layak mendapatkan bagian terbesarnya, sebagai mana beliau layak mendapatkan bagian terkecilnya. Balaslah beliau karena kami sesuai dengan keagungan apa yang beliau layak mendapatkan nya, berupa minah dan mawahib-Mu. Hal itu datang dari-Mu sebagai pengganti kami dalam syukur kami kepada beliau yang tidak mampu kami lakukan.”

Pahamilah ungkapan yang sempurna ini. Jangan yang mempedulikan perdebatan tentang redaksi diperselisihkan diantara ahli zhahir. Semoga Allah Swt memuliakan kita dengan cintanya orang-orang yang Arifbillah yang sempurna, yang mendapatkan cucuran asrar bathin ilahiyyah, mewafatkan kita diatas cinta mereka dan memasukan kita dalam golongan mereka. Amin.

Demikianlah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada sebagian pakar fikih dan dari tulisan tangan beliau saya mencatatnya.

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY