
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 13. Al Khusyu’ Wat-Tawadhu’
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ
qod aflahal-mu-minuun
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 1)
الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَا تِهِمْ خَا شِعُوْنَ
allaziina hum fii sholaatihim khoosyi’uun
“(yaitu) orang yang khusyuk dalam sholatnya,”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 2)
Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi Saw pernah bersabda,
مَنْ يَتَوَاضَعَ اللَّهِ دَرَجَةً يَرْفَعُهُ اللَّهُ دَرَجَةً حَتَّى يَجْعَلَهُ فِي عِلِّيِّينَ ، وَمَنْ يَتَكَبَّرَ عَلَى اللَّهِ دَرَجَةً يَضَعُهُ اللَّهُ دَرَجَةً حَتَّى يَجْعَلَهُ فِي أَسْفَلَ سَافِلِينَ
“Orang yang tawadhu’ kepada Allah satu derajat, maka Allah akan mengangkatnya satu derajat hingga Allah mengategorikannya termasuk orang yang menempati surga illiyyin. Orang yang takabbur kepada Allah satu derajat, maka Allah akan merendahkannya satu derajat hingga Allah mengategorikannya termasuk orang yang menempati neraka yang paling bawah.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Hakim).
Ibnu Abi Ad-Dunya meriwayatkan dalam kitab Dzam Al Ghadhab dari Muhammad bin ‘Umair Al ‘Abdi, bahwa Nabi Saw pernah bersabda,
التَّوَاضَعُ لَا يَزِيدُ العَبْدَ إِلا رِفْعَةً فَتَوَاضَعُوا يَرْفَعْكُمُ اللَّهُ تَعَالَى، وَالْعَفْوُ لَا يَزِيدُ العَبْدَ إِلا عِزّاً فَاعْفُوا يُعِزَّكُمْ اللَّهُ، والصَّدَقَةُ لَا تَزِيدُ المَالَ إِلا كَثْرَةً فَتَصَدَّقُوا يَرْحَمَكُمْ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Dengan tawadhu, tidaklah seorang hamba bertambah (tawadhu’) kecuali Allah angkat dia, maka tawadhu’lah kalian, niscaya Allah angkat derajat kalian. Dengan sikap pemaaf, tidaklah seorang hamba bertambah (menjadi sosok yang pemaaf), kecuali Allah muliakan dia, maka berilah maaf niscaya Allah akan beri kemuliaan padamu. Dengan Sedekah, tidaklah seorang hamba bertambah (sedekahnya) kecuali Allah perbanyak hartanya, maka bersedekahlah niscaya Allah ‘Azza wa Jalla akan sayangi kalian.”
Abu Syaikh meriwayatkan dari ‘Aisyah Ra bahwa Nabi Saw pernah bersabda,
يَا عَائِشَةَ، تَوَاضَعِي فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَاضِعِينَ وَيَبْغِضُ الْمُتَكَبِّرِينَ
“Wahai Aisyah, tawadhu (rendah hati) lah sebab Allah suka kepada orang-orang yang rendah hati dan membenci orang-orang yang sombong.”
Abu Nu’aim meriwayatkan sebuah hadits dari Umar bahwa Nabi Saw bersabda,
مَنْ تَوَاضَعَ اللَّهِ رَفَعَهُ اللَّهُ، فَهُوَ فِي نَفْسِهِ صَغِيْرٌ، وَفِي أَعْيُنِ النَّاسِ عَظِيمٌ، وَمَنْ تَكَبَّرَ وَضَعَهُ اللَّهُ، فَهُوَ فِي أَعْيُنِ النَّاسِ صَغِيْرٌ، وَفِي نَفْسِهِ كَبِيرٌ، حَتَّى هُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِمْ مِنْ كَلْبٍ أَوْ خِنْزِيرٍ
“Barangsiapa yang tawadhu’ karena Allah, niscaya Allah akan mengangkat derajatnya, baginya dirinya adalah kecil sementara dalam pandangan manusia lain dirinya adalah besar. Orang yang takabbur (menyom-bongkan diri), niscaya Allah akan rendahkan ia, dalam pandangan manusia lain dirinya adalah kecil dan dalam pandangannya dirinya adalah besar, bahkan dia lebih hina daripada anjing atau babi.”
Mujahid pernah mengatakan, “Setelah Allah tenggelamkan kaumnya nabi Nuh As, maka bukit menjadi tinggi dan Al Judiyy merendah, maka Allah Swt jadikan bukit Judiyy sebagai tempat berlabuhnya bahtera nabi Nuh As.
Ada pula yang mengatakan, “Allah mewahyukan kepada bukit bahwa Aku akan berbicara dengan seorang nabi, maka bukit pun meninggi dan Thur Sina merendah, oleh karena itu Allah Swt berbicara kepada nabi Musa As diatasnya lantaran kerendahan hatinya.”
Sebagian ulama yang unggul pernah mengatakan, “Allah telah menjadikan kemuliaan pada sikap rendah hati, kemuliaan pada ketakwaan diri serta kemerdekaan pada kepuasan diri.”
Kerendahan hati, kekhusyu’an dan ketundukan bermakna satu, sementara secara definitif ahli hakekat adalah penyerahan diri dan percaya kepada Allah Swt dan tidak menentang hukum yang ditetapkan.
Ada ulama yang mengatakan, “Tawadhu’ (kerendahan hati) adalah rasa takut yang senantiasa ada didalan kalbu.”
Sebagian ulama bertanya tentang ciri-ciri khusyu, ia menjawab, “Ketika seorang hamba marah, dan ditolak, dia mampu menerima itu semua dengan bentuk penerimaan yang baik.”
Hudzaifah pernah mengatakan, “Perkara agama yang akan hilang adalah ke-khusyu-an.”
Sebagian ulama ditanya tentang khusyu, mereka menjawab, “Tegaknya kalbu dihadapan Allah Al Haq”
Sahl bin ‘Abdullah pernah mengatakan, “Orang yang kalbunya khusyu’ tidak akan didekati syaithan.”
Muhammad bin Ali At-Tirmidzi pernah mengata-kan, “Orang yang khusyu’ adalah orang yang mampu memadamkan api syahwatnya dan asap dadanya semakin menghilang serta cahaya penghormatan dalam kalbunya pun muncul. Syahwatnya mati, kalbunya hidup dan tubuhnya pun khusyu.”
Al Junaid Al Baghdadi pernah mengatakan, “Menghinanya kalbu dihadapan Allah yang Maha mengetahui hal yang ghaib.”
