
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 18. Al Hurriyyah
Al Hurriyyah (kebebasan) adalah keluar dari penghambaan terhadap alam semesta dengan memutuskan semua kaitan dan segala kepentingan selain Allah Swt.
Tingkatan kebebasan:
Pertama, Kebebasan umum: Kebebasan dari penghambaan syahwat
Kedua, Kebebasan khusus: Kebebasan dari penghambaan ragam keinginan lantaran fana-nya mereka dari keinginan diri menuju keinginan Rabb mereka
Ketiga, Kebebasan super khusus: Kebebasan dari penghambaan ragam gambaran dan jejak lantaran tenggelamnya mereka pada tajalli cahaya Allah Swt.
Dalam sebuah hadits disebutkan,
إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدُكُمْ مَا قَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ وَإِنَّمَا يَصِيرُ إِلَى أَرْبَعَةِ أَذْرُعٍ فِي سَبْعٍ وَإِنَّمَا يُرْجَعُ الْأَمْرُ إِلَى آخِرِهِ
“Sesungguhnya yang membuat salah seorang diantara kalian senantiasa merasa cukup adalah jiwa yang qana’ah, sungguh seseorang akan kembali pada 4 dikali 7 lengan (liang kuburan), dimana perkaranya dikembalikan pada akhir penghujung hidupnya.”
Imam Al Qusyairi pernah mengatakan, “Kebebasan itu adalah ketika seorang hamba tidak dibawah penghambaan terhadap makhluk, dia juga tidak dikuasai oleh ragam kerajaan.”
Ciri kebebasan dalam diri seseorang adalah ketika kalbunya tidak lagi mampu membedakan antara ragam perkara, sehingga baginya kemudharatan pun dianggap biasa.
Haritsah pernah berkata kepada Rasulillah Saw, “Aku telah membuat diriku membujang dari dunia, sehingga bagiku batu dan emas pun sama.”
Al Hafi pernah mengatakan, “Barangsiapa yang ingin merasakan kebebasan dan beribadah dengan rilex, maka hendaknya dia mensucikan tujuan antara dirinya dengan Allah Swt.”
Dalam Risalah Al Qusyairiyyah disebutkan, “Ketahuilah bahwa paling besarnya kebebasan ada pada khidmah kepada fuqara.” Aku pernah mendengar Abu Ali Ad-Darqaq pernah mengatakan, “Allah telah mewahyukan kepada nabi Daud As, ‘Apabila engkau melihat ada yang menjadi muridku, maka jadilah engkau khadim-nya.”
Nabi Saw pernah bersabda,
سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ
“Pemimpin kaum adalah pembantu mereka.”
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi pernah mengatakan, “Anak-anak dunia akan dilayani oleh budak wanita dan budak laki-laki, sementara anak-anak akhirat akan dilayani oleh para bidadari dan malaikat.”
