
Elsubha.com – Sifat Murid Tijany 23. Al Ghairah
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْـفَوَا حِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَ الْاِ ثْمَ وَا لْبَـغْيَ بِغَيْرِ الْحَـقِّ وَاَ نْ تُشْرِكُوْا بِا للّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
qul innamaa harroma robbiyal-fawaahisya maa zhoharo min-haa wa maa bathona wal-isma wal-baghya bighoiril-haqqi wa ang tusyrikuu billaahi maa lam yunazzil bihii sulthoonaw wa ang taquuluu ‘alallohi maa laa ta’lamuun
“Katakanlah (Muhammad), “Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 33)
Dalam sebuah hadits disebutkan,
مَا أَحَدٌ أَغْيَرُ مِنَ اللَّهِ، وَلِذَلِكَ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهْرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
“Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah. Oleh karena itu Dia melarang segala macam keburukan yang nampak maupun tersembunyi.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al Kabir)
Dalam hadits lain disebutkan,
إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ
“Sungguh Allah itu cemburu, cemburunya Allah adalah ketika seorang mukmin melakukan perbuatan yang diharamkan Allah.”
Kecemburuan adalah keikutsertaan yang lain.
Ada ulama yang mengatakan, “Cemburu itu termasuk sifat ahli bidâyah (orang yang baru melakukan suluk). Orang yang telah bertauhid, maka dia tidak lagi menyaksikan yang lain dan tidak lagi memilah-milih. Baginya di alam ini tidak hukum yang berlaku kecuali apa yang Allah Swt tentukan dalam ketetapann-Nya.”
Utsman Al Maghribi pernah mengatakan, “Kecemburuan adalah perbuatannya murid suluk, sedangkan ahli hakekat tidak demikian.”
Asy-Syibli pernah mengatakan, “Kecemburuan itu ada dua: Cemburu sisi kemanuisaan terletak pada jiwa, sedangkan cemburu sisi ilahiyyah terletak pada kalbu.”
Asy-Syibli juga pernah mengatakan, “Kecemburuan sisi ilahiyyah terhadap jiwa manusia adalah ketika engkau menyia-nyiakan perkaramu pada selain Allah Swt. Seharusnya yang wajib dia katakan adalah, ‘kecemburuan itu ada dua: Pertama, cemburunya Allah kepada seorang hamba; yaitu tidak menjadikan adanya yang lain dalam penciptaan, sehingga diapun memiliki prasangka demikian kepada manusia lainnya. Kedua, cemburunya seorang hamba kepada Allah Swt; yaitu tidak menjadikan sesuatu dari kondisi jiwa dan ragam pemberian datangnya dari selain Allah Swt. Sehingga dia tidak pantas mengatakan, ‘Aku cemburu kepada Allah’, tetapi katakanlah, ‘Aku cemburu karena Allah’. Cemburu kepada Allah Swt merupakan kebodohan yang dapat menyebabkan pelakunya meninggalkan agama ini, sedangkan cemburu karena Allah Swt akan senantiasa mewajibkan pelakunya untuk mengagungkan ragam hak dan memurnikan amalan hanya untuk-Nya.”
Ketahuilah, bahwa diantara sunnatullah pada para wali-Nya adalah apabila mereka merasa tenang dengan yang lain atau senantiasa mengamati sesuatu atau kalbu mereka bermalas-malasan dengan sesuatu, Allah Swt akan jadikan itu sebagai gangguan mereka hingga kalbu mereka cemburu untuk menyembah-Nya dengan tulus ikhlas; yang kosong dari perkara yang membuatnya tenang atau yang membuatnya bermalas-malasan.
