
Elsubha.com – Hakekat Tasawuf : Faedah Tasawuf
Faedah ilmu ini adalah guna menggembleng kalbu dan berma’rifat pada Allah Allam al Ghuyûb. Atau kita bisa katakan, bahwa buah dari ilmu ini adalah kedermawanan jiwa, selamatnya shadr serta berakhlak baik pada setiap makhluk ciptaan Allah Swt.
Ketahuilah bahwa ilmu yang kami paparkan ini bukanlah ilmu tentang menyedikitkan bicara, akan tetapi ilmu ini berkenaan dengan dzauq dan wijdan. Ia juga tidak diambil dari lembaran-lembaran kertas, akan tetapi diambil dari para ahli dzauq. Ilmu ini pun tidak bisa didapatkan dengan hanya menukil perkataan ini dan itu, akan tetapi ia didapat dari khidmah pada para rijal dan ber-suhbah dengan ahli kamal (para wali Allah).
-Deni Allah, tidaklah berbahagia orang yang berbahagia kecuali dengan suhbah orang yang telah bahagia (para sufi). -Billahi at-Taufiq.-
Suatu ketika sayyiduna wa maulana wa ustadzuna as-Sayyid Abul Abbas at-Tijany Ra pernah ditanya mengenai hakekat Tasawuf, beliau Ra menjawab, “Ketahuilah bahwa tasawuf adalah bentuk pelaksanaan ragam perintah Allah dan menjauhi ragam larangan-Nya; baik secara zhahir maupun bathin sesuai yang Dia ridhai dan bukan sesuai keridhaan dirimu.”
Aku (Syaikh Ibrahim Niass) katakan: Tidak ada jalan lain untuk menggapai ini kecuali dengan ber-suhbah kepada syaikh mursyid yang kamil.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَا بْتَغُوْۤا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّـكُمْ تُفْلِحُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha wabtaghuuu ilaihil-wasiilata wa jaahiduu fii sabiilihii la’allakum tuflihuun
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya, agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 35)
Sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt tentunya banyak; diantaranya adalah ittiba pada Nabi Saw dalam perkataan dan perbuatan beliau Saw, sebagaimana firman Allah Swt,
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Dalam sebuah hadits disebutkan,
فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُهُ
“Maka jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi dia (menyertainya).”
(Muhammad bin Utsman bin Karamah menceritakan kepada kami, Khalid bin Makhlad menceritakan kepada kami, Sulaiman bin Bilal menceritakan kepada kami, Syarik menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Abu Namir, dari Atha, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka aku telah tabuh genderang perang dengannya. Tidaklah hambaku mendekatkan diri (bertaqarrub) pada-Ku dengan sesuatu yang Aku lebih cintai dari apa yang pernah aku wajibkan baginya. Hambaku tersebut masih saja bertaqarrub pada-Ku dengan ragam perkara nafilah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku akan menjadi telinga yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi mata yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangan yang ia gunakan untuk meraih sesuatu, menjadi kaki yang la gunakan untuk berjalan. Andai ia meminta pada-Ku niscaya Aku berikan (permintaannya) dan andai ia memohon perlindungan pada-Ku niscaya Aku lindungi ia. Aku tidak pernah ragu melakukan sesuatu sepertihalnya keraguanku akan jiwa seorang mukmin, dia benci kematian sementara Aku tidak suka berbuat buruk padanya.”
HR. al Bukhari dalam Shahih-nya; Kitab ar-Ragaq, bab. Tawadhu’, vol. 4, hal. 197, no. 9502.
HR. Ahmad dalam Musnadi-nya; Musnad Ummul Mukminin ‘Aisyah Ra dengan lafazh berikut: “Barangsiapa yang mengkerdilkan wali-Ku, maka ia akan menempati tempat pengharaman-Ku. Tidaklah hambaku bertaqarrub kepada-Ku dengan seperti pelaksanaan ragam fardhu. Hambaku masih saja senantiasa bertaqarrub pada-Ku dengan ragam perkara nafilah hingga Aku mencintainya. Andai la meminta pada-Ku pasti Aku berikan (permintaannya. Andai la berdo’a (memohon) pada-Ku pasti aku ljabah. Tidaklah Aku ragu akan sesuatu yang Aku lakukan, seperti keraguanku akan wafatnya, sebab ia benci kematian dan Aku benci berbuat buruk padanya.)
Dan itu berkaitan dengan aspek ma’rifatullah.
Diantara sarana lainnya adalah dengan men-suhbahi seorang yang ‘arifbillah lagi washil, sebagaimana firman Allah Swt,
وَاِ نْ جَاهَدٰكَ عَلٰۤى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَا حِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًا ۖ وَّا تَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَا بَ اِلَيَّ ۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُ نَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
wa ing jaahadaaka ‘alaaa ang tusyrika bii maa laisa laka bihii ‘ilmung fa laa tuthi’humaa wa shoohib-humaa fid-dun-yaa ma’ruufaw wattabi’ sabiila man anaaba ilayy, summa ilayya marji’ukum fa unabbi-ukum bimaa kungtum ta’maluun
“Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beri tahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Luqman 31: Ayat 15)
Diantara sarana lainnya adalah dengan melazimkan ragam dzikir (senantiasa berdzikir pada Allah Swt), sebagaimana firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا صْبِرْ نَـفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِا لْغَدٰوةِ وَا لْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ وَلَا تَعْدُ عَيْنٰكَ عَنْهُمْ ۚ تُرِيْدُ زِيْنَةَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَ لَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ وَكَا نَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
washbir nafsaka ma’allaziina yad’uuna robbahum bil-ghodaati wal-‘asyiyyi yuriiduuna waj-hahuu wa laa ta’du ‘ainaaka ‘an-hum, turiidu ziinatal-hayaatid-dun-yaa, wa laa tuthi’ man aghfalnaa qolbahuu ‘ang zikrinaa wattaba’a hawaahu wa kaana amruhuu furuthoo
“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 28)
Telah diketahui ahli thariqah, bahwa dzikiran yang senantiasa memberikan manfaat bagi pengamalnya adalah yang diambil dari para masyayikh yang kamil.
