
Elsubha.com – Mengingkari Wali Allah Harus Punya Enam Ilmu
Syaikh Islam al Makhzumi pernah mengatakan: Ragam keilmuan yang patut dipelajari sebelum mengingkari sesuatu ada enam: Pertama, ia harus memiliki husnuzh-zhan (berbaik sangka) kepada para wali Allah, agar ia bisa mendekat pada mereka, sehingga lapun mampu tahu apa saja ragam tujuan mereka. Sebab, orang yang memiliki su ‘uzh-zhan (buruk sangka) terhadap mereka, maka Allah akan usir dari hadhrah mereka, orang yang terusir dari hadhrah mereka berarti iapun telah terusir dari hadhrah Allah dan Rasul-Nya dan orang yang telah terusir dari hadhrah Allah dan Rasul-Nya, maka ragam cahayapun akan menghalanginya dan ragam asrar akan menjauh darinya. Bagaimana bisa ia melihat cahaya orang yang mata batinnya tertumpuk ragam kezhaliman dan kotoran.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كَلَّا بَلْ ۜ رَا نَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ
kallaa bal roona ‘alaa quluubihim maa kaanuu yaksibuun
“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 14)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوْ كَظُلُمٰتٍ فِيْ بَحْرٍ لُّـجّـِيٍّ يَّغْشٰٮهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ سَحَا بٌ ۗ ظُلُمٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ ۗ اِذَاۤ اَخْرَجَ يَدَهٗ لَمْ يَكَدْ يَرٰٮهَا ۗ وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْرٍ
au kazhulumaating fii bahril lujjiyyiy yaghsyaahu maujum ming fauqihii maujum ming fauqihii sahaab, zhulumaatum ba’dhuhaa fauqo ba’dh, izaaa akhroja yadahuu lam yakad yaroohaa, wa mal lam yaj’alillaahu lahuu nuurong fa maa lahuu min nuur
“atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 40)
Kedua, dia telah menelaah ragam mukjizat para nabi dan ragam karamah para wali Allah.
Ketiga, melazimkan diri menelaah ragam kitab tafsir dan takwil dan mengetahui beragam rahasia Al Qur’an dan As-Sunnah.
Keempat, banyak berpikir dan melihat pada ayat-ayat sifat dan ragam kabar mengenai itu serta penelaahannya terhadap semua yang pernah dikatakan para ulama salaf dan khalaf. Juga mengetahui orang yang berpendapat dengan sisi zhahir dan orang yang menakwilkannya serta siapa yang memiliki dalil yang paling kuat dan paling benar.
Kelima, banyak menyelami ragam perdebatan para mujtahid beserta ragam dalil yang menjadi sandaran mereka, baik dari Al Qur’an atau As-Sunnah atau qiyas.
Keenam dan yang paling penting adalah mengetahui ragam istilah para sufi terkait dengan apa yang mereka ungkapkan dari tajalli dzati dan tajalli shuwari, ragam maqamat, ragam dzauq, sakar, mahwu, fana dan ragam mukafahat (perlawanan diri terhadap hawa) dan yang lainnya, yang tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi. Orang yang belum bisa ber-tarqiyah pada maqamat ini, ia belum bisa mencium satu dari ragam anugerah sisi tajalliyat. Orang yang belum bisa merasakan buah dari ragam buah tadalliyât (proses pendekatan diri pada Allah), ia belum bisa menghirup (madad) dari lautan kewalian; bagaimana bisa dia mengelakkan ungkapan kaum sufi atau bahkan mengingkari mereka dalam perjalanan maqamat mereka sementara dirinya pun di tempat yang terasingkan?, mereka ibarat matahari yang sinarnya mampu menutupi mata yang kotor dan tidak bisa mendengar kecuali orang yang berbisik-bisik.
Imam asy-Sya’rani pernah berkata sebagaimana tertera dalam al Bahr al Maurud. Kami pun diambil janji untuk memastikan agar salah seorang dari ikhwan kami tidak cepat-cepat mengingkari orang yang menyelisihi nukilan sebagian ulama, kecuali jika ia telah menguasai semua jalur syari’at dan ia tidak menemukan hukum itu didalam syari’at tersebut, dan ini jarang sekali terjadi. Hal ini bertujuan untuk menutup pintu mengingkari sesuatu tanpa didasari ilmu.
Imam ath-Thabrani pernah meriwayatkan dari Rasulillah Saw, beliau bersabda,
إِنَّ شَرِيْعَتِي جَاءَتْ عَلَى ثُلاثُمِائَةٍ وَثَلَاثَ عَشْرَةَ طَرِيقَةً لَا يَلْقَى الْعَبْدُ بِهَا رَبًّا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sungguh syari’atku datang dengan tiga ratus tiga belas jalan, tidaklah seorang hamba bertemu dengan Allah dengannya, kecuali ia akan masuk Surga.”
