You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Penutup Kitab Az-Zuhrul Fâ`ih fi Fadhli Shalâtil Fâtih : Faedah Keempat

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Penutup Kitab Az-Zuhrul Fâ`ih fi Fadhli Shalâtil Fâtih : Faedah Keempat

Ketahuilah bahwa Nabi Muhammad Saw tidak membutuhkan shalawatnya orang-orang yang bershalawat pada beliau Saw, bahkan itu tidak pernah disyari’atkan untuk mereka agar mereka mendapatkan manfaat dari shalawat tersebut. Nabi Muhammad Saw tidak butuh dengan pemberian pahala shalawat tersebut. Orang yang dihadiahi pahala ragam amalan tidaklah sama dengan orang yang menghadiahi pahala amalan tersebut yang mengira bahwa dengan itu Nabi Muhammad Saw akan bertambah pahalanya atau mendapatkan manfaat dengan hadiah tersebut, hal itu sebagaimana seseorang yang menorehkan setitik pena di lautan yang panjang dan lebarnya serta dalamnya sejauh perjalanan 100.000 tahun dan mengira bahwa lautan akan terpengaruh dengan satu setitik pena tersebut dan bisa menambah sesuatu pada lautan, sungguh perkara itu tidak akan menambahkan apapun pada lautan.

Ketika engkau sudah tahu martabat ketidakbutuhan Nabi Muhammad Saw akan pahala shalawat dan nasib beliau Saw ada di tangan Rabbnya, ketahui pula bahwa perintah Allah pada hamba-Nya untuk bershalawat, tujuannya adalah untuk memberitahu mereka tingginya kedudukan Nabi Muhammad Saw diantara makhluk lain serta untuk memberitahu mereka bahwa suatu amalan tidaklah diterima kecuali dengan ber-tawassul pada Allah Swt. Barangsiapa yang menginginkan kedekatan dengan Allah Swt dan ber-tawajjuh pada-Nya tanpa ber-tawassul dengan Nabi Muhammad Saw, maka sejatinya ia menentang sisi kemurahan-Nya Allah Swt; Dzat yang mengatur syari’at, sehingga ia layak mendapatkan kemurkaan, kemarahan, laknat, pengusiran, keterjauhan, usahanya buntu dan amalannya merugi, tidak ada washilah kepada Allah kecuali dengan Nabi Muhammad Saw, yaitu dengan bershalawat pada beliau Saw dan menjalankan syari’at-Nya. Dengan demikian, maka shalawat pada Nabi Muhammad Saw adalah bentuk pengenalan bagi kita tentang tingginya kadar beliau Saw di sisi Rabbnya. Juga sebagai bentuk pembelajaran bagi kita tentang ber-tawassul dengan Nabi Muhammad Saw dari semua tawajjuh dan permohonan, tidak seperti yang disangkakan orang yang beranggapan bahwa Nabi Muhammad Saw mendapatkan manfaat dari pahala yang dihadiahkan pada beliau.

Terkait dengan penghadiahan pahala kepada Nabi Muhammad Saw, maka perlu dipikirkan apa yang telah kami paparkan terkait ketidakbutuhan Nabi Saw terhadap pahala shalawat, kemudian pikirkanlah lagi perumpamaan lain terkait dengan pemberian hadiah pahala untuk Nabi Saw; yaitu seperti seorang raja yang memiliki kerajaan besar, dalam kerajaan tersebut setiap orang diberikan harta dari perbendaharaan, setiap perbendaharaan tersebut panjang dan lebarnya seperti antara langit dan bumi, dimana setiap perbendaharaan tersebut penuh diisi dengan batu yaqut, emas, perak, makanan dan barang-barang lainnya. Kemudian ada seorang fakir yang hanya memiliki dua roti, lalu seorang fakir yang memiliki dua buah roti ini mendengar sosok sang raja, dimana seorang fakir ini cinta dan sangat mengagungkan sang raja, hingga ia pun memberikan dua buah roti yang ia miliki kepada sang raja sebagai bentuk cinta dan pengagungan. Tidak diragukan lagi, bahwa pemberian yang bentuknya hanya sekedar roti tentu tidak berpengaruh bagi sang raja dengan ketidakbutuhannya; baik adanya roti atau tidak, itu sama saja bagi sang raja. Kemudian sang raja dengan kemurahan hatinya, dimana ia mengetahui kondisi fakimya orang tersebut, upayanya serta ketulusan cintanya, maka sang raja tidak melihat sisi dimana ia bisa mengambil manfaat dari roti itu, sang raja pun menghargai roti itu dengan kadar yang tidak terhingga dari tulusnya bentuk kecintaan dan pengagungan, bukan untuk mengambil manfaat dari roti tersebut.

Selesai sudah apa yang ingin kami tegaskan tentang shalawat yang agung ini (shalawat fatih), dan itu sesuai kemampuanku, selanjutnya aku berharap ampunan Allah Swt dan kedekatan dengan penghulunya anak keturunan ‘Adnan (Nabi Muhammad Saw) setiap waktu. Akupun mengakui kekurangan diri akan penguasaan materi ini, meski aku bukanlah ahli pada bidang ini akan tetapi aku tergerak dengan ragam faedah yang dimiliki shalawat fatih ini seraya berharap tergolong ke dalam golongan dalam hadits Nabi Saw,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْ لَهُ أَوْعِلْمٍ يَبْتُهُ فِي صُدُورِ الرِّجَالِ

“Apabila anak keturunan Nabi Adam meninggal dunia, maka terputuskan amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah, atau anak shaleh yang mendo’akan, atau ilmu yang disebarkan di dada para pakar ilmu.”

Selain itu juga bertujuan seperti apa yang dijanjikan oleh Nabi Muhammad Saw terkait keutamaan orang yang meninggalkan kertas berisikan ilmu dan bermanfaat bagi kaum muslimin.

Ad-Dailami meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda,

مَا مِنْ رَجُلٍ يَتْرُكُ وَرَقَةً مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا تَقُوْمُ لَهُ تِلْكَ الْوَرَقَةِ سِتْرًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ، وَإِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ حَرْفٍ مَكْتُوبٍ فِي تِلْكَ الْوَرَقَةِ مَدِينَةً فِي الْجَنَّةِ أَوْسَعُ مِنَ الدُّنْيَا سَبْعَ مَرَّاتٍ

“Tidaklah ada seorang lelaki yang meninggalkan kertas berisikan ilmu, kecuali kertas itu akan menjadi penghalang antara dirinya dan neraka. Kecuali Allah Swt bangunkan untuknya dengan setiap huruf yang tertulis di kertas itu berupa kota di surga yang tujuh kali lebih luas daripada bumi.”

Sekaligus memohon kepada orang yang mengetahui agar niatku ini diperbaiki dan memaafkan kelalaian dengan kemuliaan dan sisi ihsan-Nya, sebab manusia itu tempatnya salah dan lupa, terutama seperti aku ini yang memiliki ilmu yang tidak seberapa, yang tidak begitu paham mana manthuq dan mana yang mafhum, dimana yang membawaku untuk melakukan ini adalah kecintaan pada syaikh kami, penghulu dan sandaran kami di hari akhirat; Abul Abbas Ahmad bin Maulana Muhammad At-Tijany Ra; pemilik biografi mulia dan wiridan, yang mana wiridan beliau yang paling agung adalah shalawat yang kami berikan penegasan. Harapanku adalah bisa dekat dengan beliau nanti di surga dan ini sebagai penghubung antara aku dan antara sosok yang diwasiati oleh Nabi Muhammad Saw dengan shalawat ini (shalawat fatih), ber-tawassul kepada Allah dengan kehormatan beliau Saw pada setiap tujuan dan keinginan. Maka aku akhiri tawassulku pada Nabi Saw;

“Ya Allah, selamatkanlah aku dari perbudakan sisi manusia dan pengabdian pada jasad belaka. Jadikanlah aku hamba yang mengutamakan sisi ruhani, yang tulus ikhlas dari selain-Mu, jadikanlah aku tergolong ke dalam orang-orang yang berkhidmah pada hadhrah-Mu nan suci, yang senantiasa berdiri mengerjakan ragam tugas dengan baik dan jadikan itu sebagai bentuk ibadahku pada-Mu, khususkanlah aku dengan ragam kekhususan para wali-Mu, yang mampu berdiri pada maqam tamkin seraya senantiasa bisa menyaksikan sisi ihsan-Mu. Bersihkanlah aku dari ragam kotoran jasmani, hilangkanlah dari pandanganku ragam keraguan dan kesedihan, tambahkanlah aku dengan ragam karunia dan sisi rahmat-Mu. Tampakkanlah untukku ragam rahasia alam malaikat dan alam manusia.

Wahai Tuhanku, berikanlah aku madad lahutiyah-Mu, berilah aku minum dari minuman-Mu yang agung, hapuskanlah gelapnya sisi kemanusiaanku dengan rahasia maqam Jabarutiyyah-Mu. Akupun memohon pada-Mu agar Engkau mencukupkanku dengan faidh-Mu yang paling berharga; yaitu kucuran dari lautan hakekat ilahiyyah pada maqam nan suci. Sucikanlah aku dari kotoran dzat selain-Mu dengan pertolongan dari-Mu dan janganlah Engkau campuradukkan diriku dengan sesuatu yang dapat menjauhkanku dari-Mu.

Wahai Tuhanku, jadikanlah aku tergolong orang yang ta’at pada perintah-Mu, menjauhi larangan-Mu, penuhilah batinku dengan rahmat ilahiyyah, penuhkanlah batinku dengan futuhat rabbaniyyah dan sisi kesempurnaan manusia, kuatkanlah punggungku untuk melakukan ketaatan pada-Mu yang terpuji nan di terima oleh-Mu dalam setiap waktu.

Akupun memohon pada-Mu ya Allah, dengan satu dari ragam rahasia, satu dari ragam cahaya dan dengan satu dari ragam hakekat, juga dengan sumber ragam detikan jiwa, juga dengan halusnya tabir yang sangat halus, juga dengan agungnya sisi hakekat dan bathinnya alam semesta. Akupun memohon pada-Mu ya Allah, dengan rahasia alam yang mungkin terjadi, dengan apa yang bisa dilihat dengan mata telanjang, juga dengan maqam ihsan, juga memohon pada-Mu dengan perantara wali quthub-nya semesta ini dan juga dengan maqam al Muhammady dan al Ahmady agar Engkau memberikan padaku kucuran dari lautan ilmu pemberian-Mu yang luhur; yang berupa kucuran ilahiyyah yang membuat diriku cukup dari ilmu lainnya sehingga aku mampu memiliki pemahaman yang menyeluruh.

Tuhanku, jadikanlah aku termasuk orang yang tepat untuk meledaknya ragam rahasia-Mu, menjadi tempat untuk tempatnya cahaya dari ragam cahaya-Mu, lindungilah aku, saudaraku, orang-orang yang kucintai dan kerabatku dari penyelewengan jalan al Muhammady dan jalan yang penuh dengan keingkaran. Jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang bebas dan terbebaskan dari retakan dzat selain-Mu, yang bisa menggenggamku untuk ber-suluk pada selain-Mu dalam setiap kondisi jiwa, jadikan aku sosok yang berdiri kokoh dalam ibadah dengan keistiqamahan diri pada apa yang telah lampau dan juga pada harta (dengan menginfakkannya).

Maka aku memohon pada-Mu wahai Dzat yang berdiri tegak dengan semua kesempurnaan, yang suci dari kebutuhannya pada seluruh semesta, dengan hakekat Dzat-Nya yang mampu memberikan seluruh kelezatan, agar Engkau jadikan aku orang yang wushul dan tidak terputus lagi, orang yang didekatkan pada-Mu dan tidak dijauhkan lagi, orang yang diberitahu dan tidak bodoh lagi.

Ya Dzat Allah, wahai yang jika berkehendak, maka kehendaknya itulah yang terjadi, jadikanlah aku, saudaraku, istriku dan orang-orang yang bersandar padaku serta kaum muslimin berada di bawah panji Nabi-Mu Muhammad Saw pada hari Kiamat. Jadikanlah aku tergolong orang yang mengikuti beliau, pada perkataan, tindakan dan ragam kondisi jiwa beliau agar kami menjadi orang menang dengan mengikuti beliau Saw dan mampu menyaksikan orang-orang yang bahagia. Wahai Dzat yang di tangan-Nya nyawa para hamba, dimana tidak ada di bumi ini kecuali Engkaulah yang menggenggam ubun-ubun mereka, tariklah ubun-ubun kami untuk mencintai-Mu dan mencintai beliau Saw, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan serta mengerjakan ragam sunnah beliau Saw. Wahai Dzat yang apabila seorang hamba datang pada-Nya dengan kebutuhan dan pecahnya kalbu, Dia akan memberikan permintaannya dengan tambahan dan lebih banyak dari apa yang dia pinta.

Ya Allah, aku memohon dengan hak perbendaharaan yang manjur dan berlian yang tidak terbagi-bagi dan dengan hak khalifah beliau, syaikh kami Abul ‘Abbas At-Tijany Ra; sang wali quthub yang tersembunyi lagi wali penutup, jadikanlah aku termasuk orang yang Kau pilih untuk mendekat pada-Mu dan nyaman dengan-Mu. Rasakanlah aku dari sumbernya ahlush-shafa yang lebur dengan kecintaan pada-Mu dan pada nabi-Mu. Sungguh Engkaulah yang Maha memberi dan Maha mencegah, dimana Nabi-Mu Muhammad Saw adalah pemberi syafa’at, yang diberi hak syafa’at dari-Nya. Semoga shalawat dan salam yang sempurna lagi menyeluruh terlimpah pada sosok yang ada pada maqam ini. Segala puji bagi Allah sepanjang masa dan ungkapan syukur bagi Dzat yang memilikinya di awal dan di akhir.”

Penulisan buku ini diselesaikan hari Rabu malam Kamis, 2 Sya’ban 1317 H, ditulis ulang, diperbaiki dan diterbitkan pada 22 Dzulhijjah 1317 Η

Sumber : BUKU KUPAS TUNTAS SHALAWAT FATIH (AZ-ZUHRUL FA`IH FI FADHLI SHALATIL FATIH) SAYYIDI MUHAMMAD BIN MUHAMMAD BIN AL HASAN IBNU ‘ABDILLAH AL FASI AT-TIJANY