
Elsubha.com – Perbedaan Maqam ‘Ibadah, Maqam ‘Ubûdiyyah dan Maqam ‘Ubûdah.
Ibadah adalah ragam perbuatan baik seorang hamba yang tujuan mencari pahala. Sedangkan ubûdiyyah adalah ragam perbuatan baik seorang hamba yang dilakukan semata-mata untuk Allah dan terlepas dari unsur mencari pahala; artinya amal perbuatannya ikhlas untuk Allah semata. Sementara ‘ubûdah adalah sebuah ungkapan untuk perbuatan yang dilakukan seorang hamba dengan bantuan Allah Swt. Oleh karena itu, adanya maqam ‘ubûdah ini menguasai semua maqâmât yang ada.
Begitu juga maqam khatam, ia ditarik dari maqam qurbah, sebab maqam khatam adalah sebuah ungkapan bagi penutup ragam maqâmât wali Allah. Ketika seorang wali telah melampaui maqam qurbah, maka ia telah melampaui semua maqâmât yang pernah digapai oleh makhluk dalam rangka wushul menuju Allah Swt. Noaoa)
Sebab, maqam khatam masuk ke dalam maqam qurbah, ketika sang wali sampai pada maqam khatam, maka semua maqam makhluk pun ditutup. Sehingga sang wali terkadang memiliki bagian dari maqam khullah (diri yang penuh dengan aib) dan bagian dari maqam hubb (kecintaan diri kepada Allah Swt), sehingga dengannya sang wali menjadi wali khatam dalam maqam qurbah.
Dikhususkan dengan nama maqam khullah sebagai awal martabat maqam qurbah, sebab al Muqarrab (orang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt) adalah sosok yang mampu menyingkirkan atsar wujud dirinya). Kemudian setelah itu ada maqam hubb, sebab itu adalah ungkapan dari maqam al Muhammady dalam pandangan ilahiyyah, dimana maqam khatam adalah nama bagi puncak maqam qurbah. Tidak ada jalan untuk menggapai puncak maqam tersebut, sebab Allah Swt tidak memiliki batas akhir untuk digapai, akan tetapi nama “Al Khatam” ditarik dari semua maqâmât qurbah.
Orang yang telah menggapai maqam qurbah dialah penutup wali dan pewaris Nabi Muhammad Saw pada maqam khatam, sebab maqam qurbah adalah maqam yang terpuji dan sebagai sarana perginya sang wali untuk mendekatkan diri kepada Allah, tidak ada seorang pun yang mampu menembus itu, sehingga dialah wali fard (sosok wali yang menyendiri) pada ragam maqamat ilahiyyah. Seyogyanya kita berkeyakinan bahwa itu adalah Nabi Muhammad Saw, dimana Nabi Muhammad Saw pun telah memberikan isyarat dalam sabda beliau,
إِنَّ الْوَسِيْلَةَ أَعْلَى مَكَانٍ فِي الْجَنَّةِ وَلَا تَكُوْنُ إِلا لِوَاحِدٍ وَأَرْجُوْ أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ
“Sungguh wasilah itu merupakan tempat paling tinggi di surga, dan ia hanya untuk satu (orang) dan aku berharap akulah yang memiliki itu.” Sebab beliaulah rembulan dalam alam semesta ini, maka sudah sepantasnya beliau yang menjadi Nabi penutup. (Inilah ungkapan yang ditulis oleh Syaikh Abdul Karim al Jili dalam penutup buku beliau; al Insân al Kâmil).
