
Elsubha.com – Kutipan Fash Al Hikmah karya al ‘Arif Manla ‘Abdurrahman bin Ahmad al Jâmi
Ketahuilah, sebenarnya andai kami yakin bahwa apa yang telah kami nukilkan ini secara ringkas disini sudah cukup mewakili pembahasan ini tanpa menoleh pada perkara yang menakutkan, akan tetapi pada sebagian waktu memang tetap butuh tambahan penjelasan untuk orang yang belum paham konsep ini meski sudah dijabarkan secara jelas tentang maqam khatmiyyah, apalagi jika hanya dijelaskan melalui isyarat, tentu mereka lebih tidak paham lagi. Oleh karena itu, disini kami akan nukilkan syarah Manla al Jâmi tentang konsep wali khatam sebagai penjelasan tambahan dari apa yang sudah dipaparkan oleh an-Nabulisi. Berikut perkataan beliau:
“Seluruh nabi yang ada, sejak nabi Adam As hingga nabi terakhir mengambil kenabian dari tirai ruhani penutup para nabi, meskipun beliau hadir belakangan dibandingkan para nabi yang mengambil kenabian dari balik tirai kenabian tersebut.
Nabi Muhammad Saw adalah penutup kenabian secara hakiki dan secara ruhani, keberadaan beliau sudah ada sebelum adanya seluruh nabi, bahkan nabi Adam As sekalipun. Kenabian nabi Adam As disifati pada alam ini lantaran Nabi Muhammad Saw. Beliau Saw diutus kepada para nabi dan juga kepada manusia lainnya pada alam ghaib dan sisi ilâhiyyah dengan perantara malaikat. Beliau Saw juga penutup para wali ditinjau dari sisi bathin-nya; sang pewaris rasul dari sisi syari’at dan ragam hukumnya.
Pewaris disini setara dengan kedudukan risalah, yaitu mengambil ajaran agama dari asalnya; Allah Swt tanpa adanya perantara. Orang yang mengambil ajaran agama dengan perantara orang lain yang sudah menyaksikan ragam martabat ‘Arifbillah untuk diberikan kepada orang yang berhak mendapatkannya, maka itu dibenarkan.
Sang penutup wali, meskipun memiliki kedudukan yang tinggi, tetapi sosoknya merupakan satu dari ragam kebaikan sang penutup risalah; Nabi Muhammad Saw. Sosok wali khatam lebih diutamakan dalam suatu kelompok nabi, dimana beliau juga satu dari ragam manivestasi kewalian khusus dan kewalian mutlak Nabi Saw. Sebab, ketika Nabi Saw muncul dengan syari’at dalam maqam risalah, beliau tidak menonjolkan sisi kewalian Ahadiyyah Dzatiyyah yang mengakomodir semua asma Allah untuk memenuhi hak isim Al Hadi, sehingga sisi kewalian bathin tersebut tetap ada pada beliau Saw hingga beliau nampak dengan manivestasi sang penutup wali; sang pewaris Nabi Saw dari sisi kenabian yang zhahir dan sisi kewalian yang bathin. Sebab ruh Nabi Saw sisi al Muhammady nampak di alam ini dengan gambaran para nabi dan para wali (Syaikh Ibnu Araby menyebutkan ini pada bab 14 dari kitab Futûhât al Makkiyyah).
Sungguh ruh al Muhammady memiliki penampa-kan di alam ini, penampakan yang paling sempurna adalah keberadaan sang wali quthub zaman ini; wali afrad, wali khatam sisi al Muhammady. Wali khatam ‘âm (umum) adalah nabi Isa As dan juga Nabi Muhammad Saw sang pembuka pintu syafa’at.
Setelah mengulas masalah syafa’at dan ragam tingkatan asma Allah serta manivestasinya, Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby mengatakan dengan nash berikut:
“Orang yang memahami beragam tingkatan kewalian, kenabian dan risalah serta beragam maqâmât, juga ragam martabat isim ilâhiyyah berikut maqâmât serta penampakannya; maka ia pun tidak akan sulit menerima pernyataan yang didasari pada keunggulan wali khatam secara hakekat dari rasul khatam pada sisi asma ilahiyyah.”
Ada pernyataan gamblang yang datangnya dari Syaikh Muayyid ad-Dîn al Junaidi, beliau berkata: “Ketahuilah, bahwa yang nampak dari pernyataan Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby adalah pengakuan kewalian diri beliau, hal itu sebagaimana ditunjukkan dalam perkataan beliau pada Futûhât al Makkiyyah, didalamnya menunjukkan, bahwa beliaulah pemilik pangkat wali khatam khusus sisi al Muhammady.
Syaikh Syaraf al-Dîn Dawud al Qaishari pun secara gamblang menjelaskan, bahwa sang wali khatam adalah nabi Isa As, berdalih bahwa Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Araby telah menyatakan secara gamblang dalam Futûhât al Makkiyyah bahwa Nabi Muhammad Saw wali khatam secara mutlak. Syaikh Kamal ad-Din Abd ar-Razzaq juga memberikan isyarat, bahwa wali khatam adalah al Mahdi, akan tetapi beliau menafikan apa yang dinukilkan al Qaishari dari Futûhât al Makkiyyah. Syaikh Shadruddin al Qunawi dalam Tafsir al Fâtihah; bahwa sungguh Allah Swt menutup kekhalifahan zhahir dalam umat Nabi Muhammad Saw ini dengan datangnya al Mahdi. Allah pun menutup kekhilafahan mutlak dari Allah Swt dengan nabi Isa Ibnu Maryam. Allah juga menutup kewalian sisi al Muhammady dengan sosok yang telah mengejawantahkan sisi barzakhiyyah antara dzat dirinya dengan dzat ilahiyyah. -Inilah yang beliau katakan. Wallahu a’lam.-
