You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Kenali Perkara Yang Terjadi di Alam Semesta dan Yang Menunggumu : Seputar Perkara Akhirat

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Kenali Perkara Yang Terjadi di Alam Semesta dan Yang Menunggumu : Seputar Perkara Akhirat

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra memberikan penjelasan beragam hal yang musykil seputar ilmu akhirat, berikut menjelaskan dan menertib kannya dengan perkataan yang ringkas berkaitan dengan mawâthin al akhirah.

Pertama, Beliau memulainya dengan menjelaskan perkara al Hisab dengan tiga penampakan, dimana Allah Swt menilai buruk perbuatan tersebut, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَعُرِضُوْا عَلٰى رَبِّكَ صَفًّا ۗ لَقَدْ جِئْتُمُوْنَا كَمَا خَلَقْنٰكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍۢ ۖ بَلْ زَعَمْتُمْ اَ لَّنْ نَّجْعَلَ لَـكُمْ مَّوْعِدًا
wa ‘uridhuu ‘alaa robbika shoffaa, laqod ji-tumuunaa kamaa kholaqnaakum awwala marrotim bal za’amtum allan naj’ala lakum mau’idaa

“Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman), “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali; bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu (berbangkit untuk memenuhi) perjanjian.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 48)

Setiap orang akan mendebat dirinya dan memohon ampun atas keburukan perbuatannya, Nabi Saw bersabda,

فَأَمَّا عَرْضَتَانِ فَجِدَالٌ وَمَعَاذِيرُ

“Terkait dua penampakan (alam akhirat), maka isinya adalah perdebatan dan permohonan ampun,” hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

يَوْمَ تَأْتِيْ كُلُّ نَفْسٍ تُجَا دِلُ عَنْ نَّفْسِهَا وَتُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
yauma ta-tii kullu nafsing tujaadilu ‘an nafsihaa wa tuwaffaa kullu nafsim maa ‘amilat wa hum laa yuzhlamuun

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap orang datang untuk membela dirinya sendiri dan bagi setiap orang diberi (balasan) penuh sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya, dan mereka tidak dizalimi (dirugikan).”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 111)

Sementara penampakan yang ketiga; suhuf (catatan amal) beterbangan, setiap orang mengambil catatan amal tersebut dengan tangan kanan atau tangan kirinya; Ini diperuntukkan bagi sekelompok orang, tidak khusus untuk suatu umat, dimana semua manusia yang ada berada pada satu tempat; yaitu amal ditampakkan.

Kemudian kondisinya berpindah kepada pertanyaan para utusan Allah dan juga umatnya tentang risalah, dimana umat al Muhammadiyah dalam hal ini bercampur dengan umat lain hingga terjadilah kesaksian dari mereka terhadap utusan-utusan Allah satu demi satu, kemudian umat al Muhammadiyah dirincikan kembali dalam urusan hisab; mereka dipisahkan dari umat yang lain, kemudian perkaranya berpindah kepada dihisabnya umat-umat yang ada. Ketika orang-orang kafir di mauqif telah dipisahkan dan tidak tersisa lagi kecuali orang-orang yang beriman dan juga orang-orang yang menghamba kepada Allah dari kaum kafir seperti kaum Yahudi yang tertimpa fitnah tersebut( fitnah terkait dengan penyingkapan sâq [perkara betisnya Allah],)

Kemudian mereka digiring ke neraka. Apabila tidak tersisa lagi kecuali orang-orang mukmin, maka dipisahkan diantara mereka terkait dengan hak-hak antar mereka, lalu ada yang dikirim ke surga yang satu dan ada juga ke surga yang lain, begitu pula penghuni neraka digiring pada neraka yang satu sampai neraka yang lain.

Kedua, Mengenai khabar tentang haudh (telaga air), yang tertera di dalam hadits, maka sungguh itu adalah pada saat dihisabnya umat al Muhammadiyyah, mereka mendatangi haudh dalam kondisi sangat haus, mereka yang bisa minum apapun di sana, sedangkan yang tertolak mereka pun tidak bisa meminumnya terkhusus orang-orang yang belum Allah ampuni dari penduduk neraka. Orang-orang yang Allah Swt selamatkan dan orang yang Allah berikan ampunan; mereka dapat meminumnya. Atau orang yang mendapatkan syafaatnya para pemberi syafa’at sampai Allah mengampuninya, mereka pun bisa meminum dari haudh tersebut. Posisi haudh ini sebelum shirath sesuai dengan banyaknya khabar yang berkaitan dengan itu.

Sementara apa yang disebutkan oleh sebagian ulama bahwa posisi haudh itu setelah shirath, maka itu tidaklah benar, karena orang yang sudah melewati shirath tidak mungkin lagi ditolak haudh. Sebab, orang yang telah mampu melewati shirath, maka telah sempuma keselamatan dirinya. (Disarikan dari hafalan dan lafazh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra.)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra pernah ditanya mengenai haudh, beliau Ra menjawab: “Ketahuilah bahwa haudh itu satu, akan tetapi posisinya pada awal perkara hisab sebelum shirat (maksudnya adalah ketika manusia ada yang ditolak dari haudh) yaitu orang-orang yang mengganti ataupun merubah (seperti halnya para pembuat bid’ah). Kemudian jika tidak tersisa lagi orang-orang yang ditolak dari haudh itu, maka haudh itu pun dipindahkan setelah shirath agar manusia bisa minum darinya.

Indahnya beragam perkara di akhirat dari satu tempat ke tempat lainnya telah diriwayatkan dalam beberapa khabar yang shahih, “….Neraka datang kepada penghuni mahsyar…”

Sementara terkait dengan kesaksian yang dikhususkan bagi umat Nabi Muhammad Saw pada hari Kiamat, maka umat Nabi Muhammad bersaksi untuk urmat lain yang mendustakan para utusan Allah dan mengingkari sampainya risalah pada mereka. Apabila ada suatu umat mengatakan, “Ya Rabb, beliau (nabi) belum menyampaikan pada kami apa yang Engkau risalahkan,” maka Allah Swt berfirman, “Siapa yang bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan kepada mereka?,” maka para utusan Allah pun berkata, “Umat Nabi Muhammad Saw,” kemudian Allah lanjut bertanya, “Apakah kalian punya saksi untuk para utusanku ini?,” maka umat Muhammad berkata, “Kami pun bersaksi bahwa beliau atau nabi telah menyampaikan kepada mereka risalah-Mu, dan mereka pun bersaksi terhadapnya lantaran mereka tahu, bahwa Allah Swt tidak akan mempercayakan rahasia wahyu-Nya kecuali pada orang yang jujur lagi mengemban amanah, maka orang yang memiliki sifat ini mustahil jika dia tidak menyampaikannya.”

Ketiga, Berkaitan dengan penyingkapan betis dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَا قٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ 
yauma yuksyafu ‘ang saaqiw wa yud’auna ilas-sujuudi fa laa yastathii’uun

“(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu,”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 42)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra pernah berkata: “Itu merupakan fitnah yang terjadi pada orang-orang yang berada di mauqif, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَا قٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَ 
yauma yuksyafu ‘ang saaqiw wa yud’auna ilas-sujuudi fa laa yastathii’uun

“(Ingatlah) pada hari ketika betis disingkapkan dan mereka diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu,”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 42)

خَا شِعَةً اَبْصَا رُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗ وَقَدْ كَا نُوْا يُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سٰلِمُوْنَ
khoosyi’atan abshooruhum tar-haquhum zillah, wa qod kaanuu yud’auna ilas-sujuudi wa hum saalimuun

“pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan).”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 43)

Redaksi, “Al Kasyfu dan As-Sâq; maksudnya adalah nampaknya keagungan dan kesempurnaan Allah yang tiada tara, itulah yang dimaksud dengan As-Sâq. Redaksi tersebut muncul dengan gambaran perumpamaan melalui kesesuaian kata menurut orang Arab, karena ketika perkaranya dahsyat dan perlunya usaha yang dahsyat, berikut membutuhkan kesabaran yang besar, maka mereka akan mengatakan: “Sekarang tersingkaplah betis tersebut,” maksudnya hilanglah keraguan; seperti yang terdapat dalam hadits Nabi Saw. Allah Swt datang dengan gambaran sifat yang mereka tidak ketahui, seraya berfirman, “Aku adalah Tuhan kalian,” sehingga mereka pun menjawabnya, “Kami pun berlindung dengan Allah dari-Mu. Inilah tempat kami sampai Rabb kami datang pada kami; apabila Rabb kami telah datang, maka kami pun mengenali-Nya.”

Mengenai makna hadits bahwa Allah ber-tajalli pada mereka dibalik tirai penghalang dan belum menyingkapkan keperkasaan Dzatnya, Allah Swt memperdengarkan perkataan Dzatnya dengan kata-kata, “Akulah Rabb kalian.”

Didalam mauqif, Allah Swt kumpulkan orang-orang yang yakin dan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang yakin ketika itu akan diam sesuai dengan pengetahuan mereka bahwa itulah Allah Swt yang sedang berbicara dengan Dzatnya, dimana mereka tidak menganggap apa-apa tirai penghalang, meski Allah ber-tajalli dibaliknya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ يَّأْتِيَهُمُ اللّٰهُ فِيْ ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَا مِ وَا لْمَلٰٓئِکَةُ وَقُضِيَ الْاَ مْرُ ۗ وَاِ لَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُ مُوْرُ
hal yangzhuruuna illaaa ay ya-tiyahumullohu fii zhulalim minal-ghomaami wal-malaaa-ikatu wa qudhiyal-amr, wa ilallohi turja’ul-umuur

“Tidak ada yang mereka tunggu-tunggu kecuali datangnya (azab) Allah bersama malaikat dalam naungan awan, sedangkan perkara (mereka) telah diputuskan. Dan kepada Allah-lah segala perkara dikembalikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 210)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا كَا نَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَآئِ حِجَا بٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِ ذْنِهٖ مَا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
wa maa kaana libasyarin ay yukallimahullohu illaa wahyan au miw warooo-i hijaabin au yursila rosuulang fa yuuhiya bi-iznihii maa yasyaaa, innahuu ‘aliyyun hakiim

“Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 51)

Secara umum, orang-orang mukmin bodoh terhadap Allah pada martabat-Nya sebagai sebuah prasangka dari mereka, bahwa Allah tidak mengajak bicara mereka kecuali Allah Swt menampakan sisi keperkasaan-Nya dan tersingkaplah tirai penghalang itu. Oleh karenanya mereka berkata, “Kami berlindung kepada Allah darimu.”

Sedangkan orang-orang yang yakin dan para nabi, dimana mauqif tersebut pun diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman; mereka percaya dan yakin bahwa Allah lah yang ber-tajalli dari balik tirai penghalang. [Maka nisbat Allah dalam keyakinan orang-orang yang beriman adalah bahwa Allah tidaklah memiliki gambaran tertentu, tidak juga jisim, tidak bertempat pada suatu sisi, tidak memiliki batasan dan tidak terbatas dengan apapun), Kemudian secara nyata Allah ber-tajalli menyelisihi apa yang mereka yakini tersebut, sehingga mereka mengatakan, “Kami berlindung pada Allah dari-Mu.” Allah pun tidak murka pada mereka karena itulah tingkat keimanan mereka, kemudian Allah ber-tajalli pada mereka dengan sifat yang mereka ketahui, dengan itulah mereka (orang-orang beriman) pun tersungkur bersujud di hadapan Allah Swt.

Pada tajalli terhadap golongan yang kedua (orang-orang yang yakin); Allah Swt sisipkan cahaya keyakinan pada mereka, sehingga mereka pun mengenal Allah dengan cahaya tersebut, sehingga membuat mereka pun berkata, “Engkaulah Rabb kami.”

Janganlah kau berprasangka, bahwa orang yang telah ber-ma’rifat pada Allah; baik itu orang mukmin atau orang-orang yang memiliki keyakinan kuat pada Allah mampu menjawab hal tersebut dengan kekuatan atau pikirannya, akan tetapi dengan cahaya yang disisipi dari sisi Allah Swt pada orang-orang yang Allah khususkan dari makhluk-Nya. Maka orang-orang yang mengetahui cahaya Allah tersebut akan mengetahuinya dan orang yang beriman dengan cahaya tersebut pun akan mengimaninya. Begitu juga ketika cahaya tersebut hilang, maka orang yang kafir pun akan mengingkarinya.

Sayyidi Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra pernah berkata: “Di akhirat makhluk itu ada tiga golongan:

Golongan yang pertama, adalah golongan yang mendapatkan bagian keridhoan dari Allah Swt. Maksud ridha dari Allah adalah kehendak Allah Swt bagi seorang hamba dalam hal pengagungan mereka. Hamba Allah disini adalah para wali quthub, para nabi dan para utusan Allah Swt.

Golongan yang kedua, adalah golongan yang mendapatkan bagian dari rahmat Allah Swt. Rahmat Allah maknanya adalah mereka berubahnya lingkaran syahwat menjadi perkara nikmat yang terwariskan. Yang masuk ke dalam golongan ini adalah para nabi, orang-orang shaleh dan para syuhada.

Golongan yang ketiga, adalah golongan yang mendapat maaf dan ampunan dari Allah Swt. Mereka ini adalah para pelaku maksiat dari orang-orang mukmin.”

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY