
Elsubha.com – Catatan Berharga Sayyidi Syaikh Ahmad at-Tijany Ra : Ilmu Thariqah At-Tijaniyyah
Ada Sebagian hijab yang menghalangi manusia untuk bisa mengenal para walinya Allah Swt, semoga ragam perkara ini bisa menjadi perhatian bagi orang-orang yang memiliki akal pikiran sehat. Beragam hal tersebut adalah:
- la menyaksikan keserupaan (maksudnya bahwa ia berprasangka bahwa seorang wali sama sepertinya (manusia pada umumnya), tidak ada yang sesuatu yang membedakan pada diri beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لُوْا مَاۤ اَنْـتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُـنَا ۙ وَمَاۤ اَنْزَلَ الرَّحْمٰنُ مِنْ شَيْءٍ ۙ اِنْ اَنْـتُمْ اِلَّا تَكْذِبُوْنَ
qooluu maaa angtum illaa basyarum mislunaa wa maaa angzalar-rohmaanu ming syai-in in angtum illaa takzibuun
“Mereka (penduduk negeri) menjawab, “Kamu ini hanyalah manusia seperti kami, dan (Allah) Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu apa pun; kamu hanyalah pendusta belaka.””
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 15) - Hijab Muâshirah yaitu anggapan bahwa seorang wali di zamannya ia hidup, maka ini tidak mungkin dirinya itu benar wali Allah).
- Hijab ‘Ismah yaitu anggapan bahwa seorang wali itu disifati dengan ‘ismah (terlindung dari perbuatan dosa), maka ketika beliau melakukan sebuah dosa, maka dia pun tidak dianggap sebagai wali Allah dalam pandangan manusia.
- Hijab Hadiyyah; (Apabila seorang wali menerima hadiah dari seseorang, maka dia pun kecil dalam pandangan manusia).
- Hijab ragam dosa yang dilakukan sahabat sang wali (Apabila ada sahabat seorang wali melakukan sebuah kesalahan, maka itu akan dinisbatkan kepada wali tersebut; manusia berpandangan karena hal itu berasal dari sang wali, sehingga mereka pun melakukan keburukan itu).
- Hijab Ikhtilath (sering berbaur dengan manusia); (keyakinan bahwa para wali Allah hanya ada di gua dan padang pasir saja; mereka tidak berbaur dengan manusia).
- Hijab as-Sathwah wal ‘Izz (otoritas dan kemuliaan diri); (Sungguh jiwa tidak menerima ketika ada orang memiliki sifat tersebut, sehingga ia pun ghibah terhadap mereka, padahal ketika Allah ber-tajalli pada kalbu seorang hamba dengan sifat Al Qahhar (Maha menaklukkan), maka sang hamba pun akan mampu menaklukkan. Atau Allah ber-tajalli padanya dengan sifat pendendam, maka hamba tersebut pun akan menjadi orang yang pendendam atau juga ber-tajalli dengan sifat rahmat dan kasih sayang, maka sang hamba pun menjadi orang yang penyayang, begitu seterusnya yang berlaku; perkara yang membuat sang wali tidak di-suhbahi. Atau ada seorang wali atau orang alim yang nampak dengan penampakan mulia lagi menaklukkan tidak berteman kecuali dengan para murid yang Allah Swt sudah hapuskan hawa (kecondongan negatif) dari jiwanya.
- Hijab keraguan sang wali terhadap raja dan pemerintahan; (seringkali seorang wali ragu terhadap raja dan juga pemerintahan dalam memenuhi beragam hajat hamba Allah, sehingga ada yang berpandangan buruk terhadap sang wali).
- Hijab melihat pada sebab-akibat (Ada orang yang berprasangka, bahwa seorang wali itu tidaklah bersandar pada sebab perbuatan, maka apabila ada seseorang yang melihat sang wali datang ke dokter untuk berobat misalnya, maka ia pun akan ragu pada kemampuan sang wali untuk mengobati mereka).
- Hijab gambaran sosok wali; (Terkadang sebagian orang menggambarkan bahwa seorang wali itu seperti ini (dalam angan-angannya) sebelum pernah berkumpul dengannya, sehingga ketika ia benar-benar melihat sang wali dalam gambaran aslinya, maka iapun akan menganggap ada kurang pada wali tersebut.
- Hijab kekayaan dan terbentangnya dunia pada sang wali; (Sebagian orang berprasangka, bahwa kekayaan itu versus kezuhudan; maka apabila seorang wali itu kaya, maka iapun akan beranggapan sebenarnya bahwa beliau bukanlah seorang wali).
Yang benar dalam hal ini adalah zuhud itu kosongnya kalbu dari dunia dan bukan kosongnya tangan dari dunia. Orang-orang yang ‘Arifbillah menginginkan Allah lantaran keganderungannya pada ma’rifat, kerinduan diri dan mahabbahnya pada Allah Swt, sama kala ia menginginkan dunia, Begitu juga dengan kondisinya orang-orang yang mampu menjaga kehormatan diri dan orang-orang yang cacat yang menginginkan itu (dunia).
Seorang Arifbillah ia pun tahu bahwa diantara syarat berdakwah menyeru pada Allah Swt adalah tidak mengasingkan diri secara keseluruhan dari perkara dunia. Sementara bagi seorang yang tidak punya pekerjaan dan orang-orang memberikan infaq kepadanya, maka itu bagian dari sisi feminisme dirinya, dimana hal tersebut tidak ada pada sisi maskulin-nya.
Rasulullah Saw pernah ditanya mengenai zuhud di dunia, beliau Saw menjawab, “Memiliki keyakinan pada Allah.” Maka orang yang mampu zuhud di dunia dengan kalbunya, niscaya ia pun akan mewarisi ilmu tanpa perlu belajar; ia akan mendapatkan hidayah tanpa hidayah itu sendiri; ia akan mulia tanpa pendukung dan ia pun akan kaya meski tanpa harta.
