
Elsubha.com – Hikmah Mengajar Orang Pintar dan yang Bijaksana; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Ketika saya melihat gelegat orang yang bertanya tentang hal-hal rahasia gaib itu tidak termotivasi oleh keinginan-keinginan untuk memberontak, maka saya pun bersedia mengajarinya dan menjadi penasihatnya. Saya juga tawakal sepenuhnya kepada Allah yang memegang kunci-kunci pengetahuan tentang segala hal. Semua penjelasan saya berpijak pada bukti-bukti yang dapat dipikirkan oleh akal rasionalnya. Saya menutup semua celah yang dapat membuatnya ingkar atau yang selama ini belum ia ketahui. Sehingga ia mau mendengarkan penjelasan saya dengan seksama dan mau menemukan kebenaran dari setiap hakikat yang saya sampaikan. Selanjutnya saya menghadap Allah SWT, berdoa dan bermunajat kepada-Nya. merenung dan menghitung-hitung segala nikmat yang telah diberikan-Nya, kemudian saya menjelaskan rahasia-rahasia dan hikmah-hikmah pengetahuan yang diinginkan oleh si penanya itu. Seakan-akan dengan begini tujuan saya bukan mengajar, dan memang demikianlah sikap yang banyak dipraktikkan orang-orang yang Allah jadikan mereka bijaksana.
Seperti halnya rumah, ia hanya dapat dimasuki lewat pintu-pintunya, atau seperti kerajaan dan istana, ia hanya bisa dimasuki setelah mendapat izin dari para penjaganya. Sebab jika saya menyampaikan rahasia-rahasia ini dengan panjang lebar, maka hati si penanya itu akan mengembara ke mana-mana, pikirannya akan melompat ke ranah “personifikasi Tuhan (tajsim)”, kekuasaan rasionalitasnya akan menguasai hatinya, lalu mengubah cahaya hatinya menjadi api, dan meluluhlantakkan tempatnya yang semula berdiri kokoh. Allah SWT, apabila hendak mengambil sumpah dari orang yang memiliki sifat-sifat seperti ini dan hendak membuat orang tersebut berpaling dari semua makhluk, maka Allah SWT akan memberikan maqam itu kepadanya, menghilangkan segala macam prasangka, melepaskannya dari dunia materi, membuat orang itu mampu menerima apa saja dengan lapang dada dan tulus ikhlas, dan dalam hatinya akan muncul seberkas cahaya yang akan membimbingnya untuk mengenal Dzat Allah; Tuhannya sendiri.
Itulah alasan saya sengaja menghindari pertanyaan dan para penanya yang menjurus ke ranah ini. Saya berpuisi. Saya mencari penjelasan yang bisa ditangkap oleh pemahamannya. Suluk dapat menghadirkan Tuhan dan memanggil-Nya. Rahasia dan hakikat tentang perbuatan Tuhan terhadap hamba-Nya juga dapat dipahami dan dimengerti melalui Suluk.
Hatiku, dengan mengingatmu menjadi bahagia, dan terasa menderita tarkala dikuasai oleh warna-warni yang lain atau lupa sekejap mata saja.
Andai hasrat hati kuat berjuang menggapai langit penyingkapan. ia akan menemukan penampakan.
Sayangnya, hati sering berpaling dari jalan yang lurus, ia pun menjadi tak beruntung; menjadi orang yang miskin di antara makhluk yang lain.
Sampai tiba pada suatu waktu, ada sebuah kerinduan yang mengajaknya untuk kembali. Ia pun baru menyadari, dirinya telah tertipu, lalu ingin kembali seperti semula.
Cahaya petir mengkilat menggelegar di penjuru langit, ia pun amat menyukainya, seperti hatiku ini, yang terangkat dan melekat padanya.
Awan berarak, angin berhembus, perir menyambar, dan air mengalir.
Lalu permukaan bumi ini memancarkan segala macam keindahan. India dan China pun berbahagia.
Ketika si penanya mendengarkan penjelasan tentang dirinya yang rembulannya sengaja saya sembunyikan dalam keinginan kuatnya, tapi dia segera tahu apa yang disembunyikan dari dirinya, ia mampu memahami percikan makna dan hakikat, sementara saya merasa ia betul-betul mendengarkan semua penjelasan yang diberikan, ia menanggalkan semua egoismenya- maka saya pun mau menerimanya. la tenggelam dalam samudra yang saya berikan, ia haus dan minta untuk terus diberi tambahan syair dan puisi saya. la terus menuntut agar diajari hal lain yang lebih mendalam. Saya pun memenuhi semua keinginannya.
Di muka bumi ini, ketika engkau berada di tempat pengintai, hanya cahaya-cahaya indah gemerlapan yang tampak.
Setiap kali rahasia-rahasia baru bersinar terang, ia dapat diketahui dengan tepat dan terukur.
Hati ini menikmati perubahan-perubahannya, hati ini tidak mau berbagi keindahan-keindahan yang diperolehnya.
Tubuh ini adalah bahtera tua yang berlayar di samudra keindahan, melaju oleh dorongan angin rahasia-rahasia dari barat.
Para penumpangnya akan selamat dan aman, selagi bahtera itu dijalankan oleh hembusan angin syariat agama.
Nahkodanya, di awal kata-katanya, menyampaikan tentang tauhid. Dan dalam tauhid ini, terbentang jalan mulus menuju derajat yang tinggi.
Andai engkau melihat bahtera itu didorong oleh angin kerinduan. ia tidak akan bergerak juga tidak akan diam.
Unsur-unsur dasar manusia terdiri dari cahaya, api, dan tanah lumpur.
Lalu antara aku dan Tuhanku, ada kebersamaan dan hubungan yang tak terpisah terlalu jauh.
Rahasia tentang Allah datang dari arah belakangku. Dan orang setelahku, apabila engkau betul-betul mengetahuinya, juga bisa sampai dengan aman.
la berujar: “Aku berkata hal yang benar. Ambillah pelajaran darinya. Jantung kitab suci adalah surat Yasin.”
Setelah datang suatu masa sebelum terjadi peniupan roh ke dalam jasad, aku tidak mengenal malaikat yang terpelihara dari dosa, tidak pula mata ini yang menangis lantaran adanya penjelasan semacam itu.
Ketika aku tertutup oleh tanah liat kerajaanku ini, la membuatku tidak mengetahui tentang diri-Nya. Di kelopak mata ada tanah.
Awan ketidaksadaran menghalangiku dan sifat-sifatku dari-Nya. Di alam gaib aku berada.
Ketika aku berdiri di alam gaib itu, la kembali datang dengan gagah perkasa, berjalan dengan lembut gemulai, dan di tubuh-Nya ada kelembutan.
Hati yang mulia ini mulai beranjak, sampai tiba di surga Aden, disambut para bidadari cantik rupawan, ranting-ranting pohon yang menjulai, tidak ada awan yang menghalangi, sebab perintah agama adalah meninggalkan hawa nafsu.
Ketika berada di atas, Arsy, Lauhul Mahfud, Qalam yang mulia, dan Nun, kesemuanya berbaiat kepada-Nya.
Andai saja engkau melihat kejadian itu. Tetapi hakikat yang sesungguhnya disembunyikan. la berada sedikit di atas persemayaman Tuhan.
Jika demi sebuah hikmah la menampakkan diri kepada makhluk, itu artinya ada keputusan tertentu dalam penampakan-Nya.
Karena telah menyatu dengan benda-benda yang ditempati, maka la terus-menerus berfirman kepada alam semesta di dalam diri manusia: “Jadilah!”
Setiap hati lupa akan rahasia hikmah-Nya, di sepanjang waktu hati selalu tertipu.
Ketahuilah, engkau tidak akan pernah mengetahui siapa Tuhanmu. jika di dalam dirimu belum pernah terjadi Perang Yarmuk atau Shiffin.
Ketahuilah siapa Tuhanmu sebelum ajal menjemput. Jika engkau mari (dan belum tahu tentang Tuhan) itu artinya engkau terpenjara dalam taklid.
Jika engkau merasakan dan betul-betul mengetahui penampakan-Nya di cakrawala kesaksian, maka di dalam dirimu, antara yang tinggi dan rendah tak lagi penting.
Rahasia yang tak terpengaruh perubahan-perubahan akan bersinar terang pada setiap hal yang tampak maupun tersembunyi. la keluar dari lidahmu.
Waspadalah. Jagalah dengan hati-hati apa yang engkau rasakan itu. Karena rahasia adalah sebuah rumah yang dijaga ketat dalam hati orang merdeka.
Ketika si penanya telah mendengarkan penjelasan tentang puncak yang mungkin dicapai oleh hati manusia, tentang kemuliaan tempat itu di alam gaib, juga telah tahu tentang bekal ikannya di dalam kehidupan manusia ini; yaitu bekal berupa sifat-sifat ketuhanan dan rahasia-rahasia hati, maka tiba-tiba si penanya itu bersimpuh di atas kedua lututnya, ia terlepas dari kegelapan dirinya.
Lalu ia berkata: “Aku akan menyembunyikan rahasia itu, maka jelaskanlah lagi tentang persoalan ini padaku.” la tidak menunjukkan pengingkaran, ia menolak rayuan setan, itu berkat firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :
اِنَّ عِبَا دِيْ لَـيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطٰنٌ اِلَّا مَنِ اتَّبَـعَكَ مِنَ الْغٰوِيْنَ
inna ‘ibaadii laisa laka ‘alaihim sulthoonun illaa manittaba’aka minal-ghoowiin
“Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku, kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang yang sesat.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 42)
“Terangkanlah ciri-cirinya, aku akan menerima apa adanya. Ajarilah aku, aku akan terus belajar,” katanya lebih lanjut.
Saya jawab: “Saya merasakan pemandangan indah semacam itu terus-menerus, menikmati manisnya maqam itu berkali-kali, saya cicipi dan saya rasakan, pagi dan sore hari, sampai perkara ini betul-betul meyakinkan saya, dan saya memegang kunci-kuncinya.”
Ketika hasil semacam ini telah diperoleh, dan Allah mempersiapkan diri saya untuk menghadap-Nya, serta mempersiapkan saya untuk memperoleh penjelasan dari-Nya, saya baru tahu bahwa Allah SWT amatlah kuasa atas segala-galanya, dan Allah SWT menginginkan saya untuk segera kembali ke dunia realitas. Saya menerima saja kehendak Allah itu dengan syarat Allah tetap melanggengkan kesempatan buat saya untuk merasakan kondisi seperti ini lagi di lain waktu, bahkan dengan syarat Allah mau menambah kenikmatan dalam hal ini. Sebab memang tidak ada bukti kuar baliwa ini adalah akhir dari pengalaman saya, dan tidak ada bukti bahwa seseorang telah sampai pada batas akhir. Allah SWT berfirman sebagai bentuk penghargaan dan anugerah kemuliaan dari-Nya:
لَهُمْ مَّا يَشَآءُوْنَ فِيْهَا وَلَدَيْنَا مَزِيْدٌ
lahum maa yasyaaa-uuna fiihaa wa ladainaa maziid
“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami ada tambahannya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 35)
Orang yang sudah memperoleh maqam seperti ini, itu berarti kehendak Allah telah berhasil dimilikinya, orang itu telah mendapatkan tambahan kenikmatan yang umumnya sulit diperoleh. Kehendak Allah yang berhasil dimiliki itu tergambar dalam firman-Nya:
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَتَـرَى الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ يُّسَا رِعُوْنَ فِيْهِمْ يَقُوْلُوْنَ نَخْشٰۤى اَنْ تُصِيْبَـنَا دَآئِرَةٌ ۗ فَعَسَى اللّٰهُ اَنْ يَّأْتِيَ بِا لْفَتْحِ اَوْ اَمْرٍ مِّنْ عِنْدِهٖ فَيُصْبِحُوْا عَلٰى مَاۤ اَسَرُّوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ نٰدِمِيْنَ
fa tarollaziina fii quluubihim marodhuy yusaari’uuna fiihim yaquuluuna nakhsyaaa ang tushiibanaa daaa-iroh, fa ‘asallohu ay ya-tiya bil-fat-hi au amrim min ‘ingdihii fa yushbihuu ‘alaa maaa asarruu fiii angfusihim naadimiin
“Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 52)
Akan tetapi dengan catatan, janji Allah itu sendiri terpenuhi. dan kandungan ayat-ayat di atas terealisasikan secara lengkap, dalam artian, keputusan telah datang dari sisi Allah.
Ketika saya berpaling tanpa harus berpisah dengan sang teman, naik menuju alam yang tinggi dan alam kemenyatuan, di sepanjang jalan saya berjumpa dengan banyak peristiwa jagad semesta. Saat irulah saya baru tahu tentang peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi. dan saya saksikan banyak hal. Berangkat dari apa yang saya saksikan. maka saya menjadi tahu tentang alam atas dan alam bawah. Sejak saat itu sampai kelak ketika ajal datang menjemput, saya selalu dapat merasakan pengalaman-pengalaman gaib semacam ini. Ini adalah pengalaman penampakan yang sifatnya sangat pribadi.
Salah satu hal yang saya temukan adalah burung hudhud, seekor burung yang dulu membawa kabar benar, burung itu menjelma dalam riga jenis cahaya berbeda, saya mengajarinya rahasia-rahasia, juga mengajari siapa saja yang mau menerima saya dalam pikirannya, yaitu orang yang menunjukkan sikap baiknya kepada saya. Bintang akan tenggelam jika menolak dan hari penuh oleh kebencian. Sebaliknya, purnama akan bersinar ketika hati mau menerima hidayah yang benderang. Sehingga seluruh cahaya hakikat akan diberikan padanya. dan jalan yang boleh ditempuh akan diterangkan dengan rinci. Kemudian datanglah matahari besar dan cahaya terang yang menghapus kegelapan, menerangi ruang-ruang gulita, dan menghilangkan segala beban. Itulah penampakan mitsali, cahaya yang melimpah ruah. Orang itu akan menyambutnya, tapi tak lama kemudian ia akan tenggelam di ufuk ketaksadaran, sampai datang ajal yang dijanjikan. Dan ketika ajal telah dekat dan semakin mendekat padanya, ia muncul dari barar untuk memberi petunjuk.
Inilah matahari perjumpaan. maqam suci, yang dengan terpeliharanya kemusyrikan akan musnah, tali syirik akan terurai, jerat-jerat syirik akan terlepas, tipu daya syirik akan lenyap. Bagi orang yang pandangan matanya sempurna, terpeliharanya matahari perjumpaan ini terbagi dua.
Pertama, jika matahari itu diletakkan dalam relung hatinya maka ia akan mendapatkan cahaya dari Tuhan di alam gaibnya sendiri. la selamanya akan diliputi cahaya kedekatan pada-Nya, la berada di dalam cahaya yang berlapis cahaya, serta kebahagiaan akan berdatangan tanpa henti.
Kedua, jika matahari itu tenggelam dan meninggalkan gelap. maka itu artinya ia telah terlepas dari sifat-sifat cahaya itu, dan ia telah tenggelam dalam Dzat Yang Mahasuci, ia menanggalkan baju pengertian-pengertian maknawi yang menyelubunginya.
Perhatikanlah dengan betul rahasia-rahasia indah ini, betapa ia mengagumkan. Cicipilah rasa yang begitu manis ini, betapa ia sangat lezat sekali.
Saya menikmati cahaya matahari perjumpaan ini di maqam-Nya yang suci bertahun-tahun lama, saya terus bermunajat kepada-Nya. siang dan malam. Kemudian Allah SWT memberi tahu saya tentang seseorang yang menjadi Khatamul Imamah, pemimpin terakhir, maksud saya adalah pemimpin umat Muhammad secara spesifik dan khusus, bukan pemimpin mutlak universal. Barangsiapa yang paham tentang hal ini, maka peganglah pemahaman itu. Barangsiapa yang belum paham, maka teruslah ketuk pintu sampai terbuka dan diberi pemahaman. Tentunya, selama cahaya ini masih tetap berada di cakrawalanya, sebelum ia terbenam dalam kebenarannya, agar engkau dapat mengetahui dan memahami hal ini dengan benar, lalu engkau mengerti tentang rahasia-rahasia yang Allah berikan kepada Khatamut Imamah itu. Salah satunya adalah rakhiq makhtum (khamar murni yang masih disegel (dilak)).
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَ مِزَا جُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍ
wa mizaajuhuu ming tasniim
“Dan campuran(khamar murni)nya itu dari tasnim,”
(QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 27)
Pada tahun 195, di siang hari, saya teringat akan matahari yang terselimuti awan gelap. Ketika itu saya sedang dalam perjalan pulang dari tempat yang sudah saya jelaskan di muka, sesuai dengan ilmu saya yang sudah banyak dikenal, berdasarkan pengalaman saya yang amat pribadi, dengan mengenakan baju cahaya. Khamar murni ini ada di dalam sebuah kendi yang masih disegel (dilak), dan campurannya adalah kasturi. Khatamul Imamah itu adalah seorang pengikut sekaligus yang diikuti, orang yang mendengar sekaligus didengar kata-katanya. Sebentar lagi akan ada penjelasan tentang dirinya. Khatamul Auliya memiliki janji dan ancaman. Ketika memasuki tahun ’95 itu, dan telah berlalu tiga bulan pertama, Khatamul Imamah datang menjumpai saya. Ketika saya baru berpisah dengan matahari barat, saya meninggalkan khamar murni yang bercampur kasturi di perkumpulan Yatsrib. Ketika itu saya sedang menunjukkan piala berisi kasturi sebagai campuran untuk tarekat yang mereka jalani. Saya berjumpa dan dapat melihat langsung wali Allah yang sesungguhnya, dengan suatu kedudukan yang mulia; yakni sebagai imam, pemimpin khusus, mencakup segalanya, dan penuh kejujuran. Ia menjelaskan tentang rahasia asal usulnya. Saya diminta mencium tangannya, dengan perasaan menerima atas orang yang jujur dan sang pembeda antara kebenaran dan kesesatan (ash-shiddiq-al-faruq). Saya diminta mempunyai perasaan ingin mendekat kepada orang yang benar dan dapat dibenarkan (shadiq-mashduq). saya juga diminta untuk mendekat sejajar dengannya. Saya betul-betul memberikan perhatian kepadanya agar saya dapat mendengar kata-katanya, sekalipun melangkah maju kepadanya sangat mudah. Dua cincin yang dikenakannya adalah cahaya berlapis cahaya, karenanya Khatamul Imamah (pemimpin terakhir) itu betul-betul diliputi kesucian. Barangsiapa yang menentangnya maka ia bagaikan orang yang mengenakan baju kotor. Seorang perempuan yang menjadi matahari di rumahnya menciumi tangan Khatamul Imamah itu, seperti yang saya lakukan. Saya melirik perempuan itu.
Khatamul Imamah itu berkata: “Perempuan itu adalah anggota keluargaku. Lalu percakapan terjadi denganku. Dan kami bersenandung bersama tentang yang Qadim (dahulu) dan yang Hadits (baharu). Sementara itu ada orang yang menawarkan arak. la mulai menenggak arak dari Arsy Imamah, bersuka cita dengan kemabukan. kemudian mencumbuku bagaikan seorang kekasih tercinta.”
Khatamul Imamah itu melanjutkan kata-katanya, “Sembunyikanlah identitasku ini, akulah orang yang terakhir itu, tidak ada wali lain setelahku, tidak ada yang akan mewarisiku, setelah wafatku negara-negara akan hancur, perkara-perkara yang datang di akhir zaman akan berkumpul dengan generasi awal.”
Yang aku sebutkan adalah apa adanya, anggaplah ia sebagai kebaikan, jangan bertanya apapun padaku.
Ketika hati telah bermunajat dengan rahasia-rahasianya, matahari alam gaib muncul dari langit yang bercahaya terang, pertemuan di sebuah majelis baru akan dimulai. Abul Abbas bersama sahabatnya (Abul Abbas adalah nama panggilan Khatamul Imamah itu, nama lengkapnya Abul Abbas Ahmad al-Tijani. Kata “sahabat” adalah Ibnu Arabi sendiri.) masuk mengikuti majelis taklim itu. Saya merenungi apa yang baru saja saya ketahui. Semua keanehan dan pengalaman-pengalaman ganjil telah saya alami. Andai tidak ada perjanjian, yang kami sepakati untuk tidak disebarluaskan kepada siapapun, pastilah kami terangkan semua itu kepada kalian, tentang dirinya dan tujuannya. Akan tetapi, saya akan menjelaskan keindahan-keindahan permata itu dengan menyebutkan secara kiasan-kiasan saja; dengan bahasa metaforis. Barangsiapa yang sungguh-sungguh ingin tahu, lalu ia berusaha menyingkap tabirnya, pastilah ia akan mengetahui segala rahasia ini. Demikianlah cara yang saya tempuh dalam menjelaskan siapa sesungguhnya matahari kita yang terbit dari barat ini. Barangsiapa memiliki kemampuan penyingkapan yang tajam, keinginan yang kuat, pastilah ia akan mampu menguak isi hati saya, dan ia melihat di dalam hati ini matahari Tuhan saya. Barangsiapa yang menyebarluaskannya, ia akan terus mencari dan menemukan. Dan barangsiapa yang menyembunyikan dan merahasiakannya, ia akan selamat dan memperolehnya. Kecuali ia melakukannya seperti yang saya lakukan; cara melakukannya berangkar dari hari. Pilihan seperti ini sangatlah samar, metaforis, lorong yang sangat panjang dalam gelapnya kebutaan. Tujuan pilihan seperti ini tidaklah lain seperti yang sudah dijelasan di muka, menurunkan tabir-tabir untuk menutupi bulan purnama.
Ketika bulan Maulud Nabi Muhammad SAW telah tiba, Allah SWT mengirimkan seorang utusan kepada saya dengan membawa satu ilham; yaitu wahyu yang Allah berikan kepada saya; sebuah perintah dari Allah SWT untuk saya. Ilham itu dibawa oleh malaikat yang bersinar terang di suatu padang yang indah. Malaikat itu memerintahkan saya untuk mengarang suatu kitab yang sangat rahasia, yang berisi pembahasan tentang rahasia-rahasia penting. Malaikat itu meminta saya memberi judul kitab itu dengan judul Al-Kasyf wa al-Katm fi Ma’rifat al-Khalifah wa al-Khatm.
Lalu malaikat itu memeriksa kembali anjurannya, dan berkata:
“Wahai pemuda, bagaimana?” Ia berpaling padaku tanpa beranjak. Ia berada di tempat paling suci tanpa mau turun. Lalu ia kembali berkata: “Tuhan telah memberi judul kitab itu dengan judul Sidratul Muntaha wa Suratul Anbiya’ fi Ma’rifat al-Khalifah al-Mahdi wa al-Khatm Qablahu Khatm al-Auliya.”
Saya jawab: “Untuk pembahasan semacam itu saya merasa belum banyak memiliki pengetahuan. Jangan bebankan pada saya, dan itu tugas yang tiba-tiba saja.”
“Aku malu,” kata malaikat itu.
“Tuhanku yang menghidupkan dan mematikan,” jawab saya. (Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhаnnуа (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan Ibrahim berkata: Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَلَمْ تَرَ اِلَى الَّذِيْ حَآ جَّ اِبْرٰهٖمَ فِيْ رَبِّهٖۤ اَنْ اٰتٰٮهُ اللّٰهُ الْمُلْكَ ۘ اِذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّيَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُ ۙ قَا لَ اَنَاۡ اُحْيٖ وَاُ مِيْتُ ۗ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ فَاِ نَّ اللّٰهَ يَأْتِيْ بِا لشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِيْ كَفَرَ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
a lam taro ilallazii haaajja ibroohiima fii robbihiii an aataahullohul-mulk, iz qoola ibroohiimu robbiyallazii yuhyii wa yumiitu qoola ana uhyii wa umiit, qoola ibroohiimu fa innalloha ya-tii bisy-syamsi minal-masyriqi fa-ti bihaa minal-maghribi fa buhitallazii kafar, wallohu laa yahdil-qoumazh-zhoolimiin
“Tidakkah kamu memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim mengenai Tuhannya karena Allah telah memberinya kerajaan (kekuasaan). Ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan,” dia berkata, “Aku pun dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata, “Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.” Maka bingunglah orang yang kafir itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 258))
Ketika hari Jumat, tepatnya ketika khatib sedang membaca khotbah dan berdoa untuk para wali dan hamba-hamba Allah, tiba-tiba saya merasakan adanya sentuhan kesejukan yang tak jauh dari tempat saya duduk. Saya mendengarkan beberapa kalimat yang saya lupa kelengkapannya. Perasaan saya benar-benar tenang dan senang. karena ia berada dekat sekali dengan saya. Saya mendengarkan sebuah perintah yang begitu indah, yang datangnya dari maqam paling suci.
Wahai khatib dari barat (al-Maghrib), sang pembeda antara yang baik dan buruk, apakah engkau setuju dengan judul ini:
‘Anqa Mughrib fi Ma’rifat Khatm al-Auliya wa Syamsy al-Maghrib wa Nuktah Sirr al-Syifa fi al-Qarn al-Labiq bi Qarn al-Mushthafa.
