
Elsubha.com – Ada pertanyaan yang ditujukan kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berbentuk sya’ir dibawah ini:
تَطَهَّرْ بِمَاءِ الْغَيْبِ إِنْ كُنْتَ ذَا سِرِّ # وَإِلَّا تَيَمَّمُ بِالصَّعِيْدِ وَبِالصَّخَرِ
وَقَدَّمْ إِمَامًا كُنْتَ أَنْتَ أَمَامَهُ # وَصَلِّ صَلَاةَ الْفَجْرِ فِي أَوَّلِ العَصْرِ
فَهَذِى صَلَاةُ الْعَارِفِينَ بِرَبِّهِمْ # فَإِنْ كُنْتَ مِنْهُمْ فَانْضَحِ الْبَرِ بِالْبَحْرِ
Bersucilah dengan air ghaib andai engkau memiliki rahasia # jika tidak maka bertayammumlah dengan debu atau bersuci dengan bebatuan.
Dahulukanlah imam, meski engkau berada dihadapannya # dan sholat fajarlah pada awal waktu ashar
Maka inilah sholatnya orang yang ‘Arifbillah # maka jika engkau bagian dari mereka maka percikilah daratan dengan lautan.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan “Air ghaib yang digunakan untuk bersuci” adalah, kucuran ilahiyyah terbesar yang datang dari hadhrah Allah yang amat suci; yaitu hadhrah Al-Lahûtiyyah. Orang-orang yang Arifbillah biasa membahasakannya dengan “Futüh.” Penamaan hal ini dengan “Futûh,” memang ditolerir. Sebab “Futûh” sendiri bermakna hilangnya tabir penghalang antara seorang hamba dan antara hadhrah Al Quds (Allah Swt), yang jumlahnya 16.500 hijab (tabir penghalang). Nah, hilangnya tabir penghalang inilah yang disebut dengan “Futûh.”
Sebab, hamba tersebut telah dibukakan dari kondisi terhalang dengan sesuatu. Kondisi sang hamba sebelum futuh itu seperti orang yang terkepung di dalam sebuah rumah yang memiliki tembok dan atap yang tebal, tidak ada jendela tempat masuknya sinar matahari sama sekali, sementara di luar rumah itu ada lagi rumah-rumah lainnya yang kondisinya sama, setiap rumah kondisinya tertutup. Seolah-olah ada 165.000 rumah yang mengelilingi rumah yang didalamnya ada seorang hamba itu, dimana setiap rumah tidak ada jendela tempat masuknya cahaya matahari. Sang hamba terkepung di rumah itu dengan kondisi kegelapan. Jika semua rumah tadi dihancurkan secara serentak, maka inilah gambaran “futuh.”
Al Faidh (kucuran ilahiyyah) yang datang pada hamba setelah kondisi futuh ini menempati posisi cahaya matahari yang terlihat ketika semua rumah dihancurkan pada siang hari, dimana sang hamba dapat melihat matahari dengan jelas, sehingga tidak diragukan lagi kini kondisi sang hamba tidak lagi dalam kegelapan lantaran adanya matahari yang muncul.
Kucuran ilahiyyah dari hadhrah quds (Allah) yang datang kepada seorang hamba setelah futuh inilah yang dengan penyebabnyalah ragam akhlak, ragam sifat; sifat kebinatangan, tabi’at dan sifat kesyaithanan; seperti sifat sombong, bangan dengan diri, riya, sikap yang dibuat-buat, sifat condong pada selain Allah, cinta dunia dan lupa akhirat, berdusta, membicarakan keburukan orang lain, menipu, suka dipuji dan tidak suka dibenci dan ragam sifat buruk lain yang sudah disebutkan dalam buku-buku ulama syari’at.
Maka disaat kucuran faidh ilahiyyah itu datang pada hamba tersebut, maka faidh inilah yang akan membersihkan dari semua sifat buruk yang baru saja disebutkan satu persatu hingga tak tersisa lagi sifat buruk baik sedikit maupun banyak. Faidh tadilah yang menghancurkan wujud bahkan bekas dari semua sifat buruk tersebut, sehingga hamba tadi bersifat kebalikannya; yaitu sifat terpuji, bagian dari sifatnya malaikat, ruhaniyyun dan juga para nabi, dengan penyebab faidh inilah hamba tadi seolah-olah menjadi bagian dari malaikat lantaran didalam dirinya terdapat kecintaan Allah, kecintaan rasul-Nya untuk sang hamba tersebut, dimana dirinya senantiasa beradab dihadapan Allah, meniadakan ketergantungan diri pada selain Allah, zuhud pada perkara selain Allah, dia lupa akan dunia dengan segala seluk beluknya, dia juga lupa pada akhirat dan ragam nikmat yang ada didalamnya, dia hanya cinta pada Allah dan membenci karena Allah, serta ragam sifat lainnya yang sangat banyak.
Disaat faidh ini datang pada seorang hamba, maka ragam wujud sifat buruk yang ada padanya akan hilang, tidak mungkin ketika faidh ilahiyyah ini datang ragam sifat buruk tadi masih tersisa. Oleh karena itulah, dianjurkan untuk bersuci dengan air ghaib yang merupakan faidh aqdas (kucuran ilahiyyah yang paling suci), dengan faidh inilah tidak akan tersisa lagi lagi sifat buruk; sedikit maupun banyak, Inilah air ghaib yang mana kita diperintahkan untuk bersuci dengannya. Penyucian ini tidak bisa disamakan dengan penyucian yang biasa dilakukan seorang hamba dalam mu’amalahnya (berwudhu dll), sebab ada kekurangan dalam penyucian ini, dimana hamba tersebut masih memperhatikan benda yang bersangkutan dengan dirinya dan dia masih melihat bahwa dirinyalah yang melakukan penyucian tersebut. Maka lantaran inilah penyucian semacam ini bukanlah maksud yang diinginkan.
Sedangkan penyucian diri dengan faidh aqdas, ia datang spontan begitu saja dari sisi tajalli ilahiyyah, tidak ada campur tangan hamba tersebut. Faidh inilah yang menghancurkan ragam gambaran sisi kemanusiaan, sehingga hamba tersebut tidak dapat mengendalikan, tidak dapat melihat dan tidak dapat mengetahui perkara itu, dimana hamba tersebut dilemparkan pada kondisi fana ‘ul fana, iapun dihempaskan dilautan yang paling mulia nan memiliki rahasia yang paling besar, yang ditunjukkan oleh sabda Nabi Saw,
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ أَدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Sungguh Allah menciptakan Adam diatas gambaran-Nya.” Sang hamba tersebut dihempaskan ke lautan yang ditunjukkan oleh sabda Nabi Saw dalam hadits qudsi,
لَمْ تَسَعْنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِ، وَيَسَعُنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ
“Bumi dan langit-Ku tidak cukup luas bagi-Ku, yang luas bagi-Ku adalah kalbu hamba-Ku yang beriman.”
Makna kedua hadits ini tidak dapat diketahui melalui lafazh-nya saja, ragam maknanya pun tidak bisa disingkapkan, akan tetapi ia adalah ragam rahasia tinggi dan kucuran ilahiyyah yang paling suci. Kondisi ini diberikan Allah Swt pada hamba yang Dia cintai dan Dia pilih, sehingga ia mengetahui ragam rahasia diballik kedua hadits ini; baik secara dzauq, secara pengetahuan hakiki yang tidak perlu dibahasakan dan tidak pula memerlukan beragam rumusan isyarat.
Dengan kondisi inilah hamba tersebut menjadi orang yang memiliki tingkat ma’rifat yang sempurna dan menjadi hamba yang benar-benar tulus. Dan dengan sebab tajalli akbar yang tidak ada lagi batasan dan penghujungnya ini hamba tersebut dapat menguasai dirinya, dengan itu pula hamba tersebut akan mengetahui seluk beluk keberadaan dunia dan akhirat; kenapa kita ada di dunia dan akhirat dan apa yang inginkan dari keduanya. Faidh inilah yang merupakan bentuk penyucian diri yang sempurna dan orang yang mencari-carinya disebut sebagai hamba yang telah wushul (‘Abdun Washil).
تَطَهَّرْ بِمَاءِ الْغَيْبِ إِنْ كُنْتَ ذَا سِرٍّ # وَإِلا تَيَمَّمْ بِالصَّعِيدِ وَبِالصَّخَرِ
Bersucilah dengan air ghaib andai engkau memiliki rahasia # jika tidak maka bertayammumlah dengan debu atau bersuci dengan bebatuan.
Redaksi dalam bait sya’ir diatas, إِنْ كُنْتَ ذَا سِرٍّ “Andai engkau memiliki rahasia,” bermakna: Bersucilah dengan penyucian yang paling suci, yang digambarkan dengan air ghaib andai engkau memang memiliki sir (rahasia). Sebab, faidh yang paling suci dan juga futûh yang ada padanya tidaklah datang kecuali pada orang yang memiliki sirr tadi dan tidak pada yang lainnya.
Maka yang dimaksud dengan, “Sirr,” disini adalah kucuran cahaya ilahiyyah yang datang sebelum kondisi futûh, kucuran ilahiyyah ini merasuki jiwa dan kalbunya, kemudian menggerakkan jiwa untuk mencari kebenaran dan mengikutinya, serta mencegah dirinya dari kebatilan yang berupa perbuatan dan juga kondisi jiwa.
Yang dimaksud dengan redaksi, “Andai engkau memiliki rahasia,” adalah, bahwa sesungguhnya futûh dan juga faidh ilahiyyah tidak akan datang kecuali sebelumnya datang sirr tersebut. Jika hamba tersebut tidak memiliki sirr, maka dia tidak bisa mendapatkan futûh dan faidh akbar.
Oleh karena itu, pengarang sya’ir menyenandung-kan,
وَإِلا تَيَمَّمْ بِالصَّعِيْدِ وَبِالصَّخَرِ
“Jika tidak maka bertayammumlah dengan debu dan dengan bebatuan.”
Dalam redaksi diatas diisyaratkan dengan menggunakan debu dan bebatuan yang menunjukkan sisi syari’at yang dilakukan untuk bebersih oleh seorang hamba ketika air tiada. Allah pensyariat mengalihkan ke tayammum sebagai wakil daripada air. Kitapun sudah mengetahui bahwa bertayammum tidaklah seperti ber-thaharah dengan menggunakan air, namun hal ini boleh dilakukan ketika kondisinya darurat dan juga lantaran tidak ada air yang merupakan puncak maksud dari thaharah tersebut.
Yang dimaksud dengan redaksi, “Andai engkau termasuk pemilik rahasia, maka ber-thaharah-lah dengan air ghaib,” Sebab ini merupakan bentuk thaharah secara menyeluruh (raga dan jiwa) yang dilakukan dengan menepati puncak yang dimaksud, dimana dengan perantara thaharah ini seorang hamba bisa berstatus malaikat Allah sekaligus hamba akhirat yang mendapatkan sisi tajalli ilahiyyah, dimana Allah Al Jabbar ber-tajalli untuknya dari balik tabir ghaib.
Pembesar ‘Arifin pernah berkata, “Apabila Allah ber-tajalli pada sirr seorang hamba, maka Allah akan berikan padanya semua rahasia yang ada, Allah berikan derajat malaikat dan dia bisa bisa ber-tasharruf (melakukan sesuatu sesuai kehendaknya di alam semesta ini).”
Hamba inilah yang digambarkan oleh Abul Qasim Al Junaid Ra dengan perkataan beliau ketika ditanya tentang orang yang cinta (pada Allah), ‘Hamba yang jati dirinya sudah hilang, terkoneksi dengan menyebut Tuhannya, berdiri tegap dalam melaksanakan hak-Nya, senantiasa melihat Allah dengan kalbunya, dimana kalbunya telah terbakar dengan ragam cahaya Dzat-Nya, ia telah meminum dari gelas kecintaan-Nya, dimana Allah Al Jabbar ber-tajalli untuknya dari balik tabir ghaib. “
Hamba inilah yang kalbunya disebut dengan sebutan “Baitul Haram,” yang tidak bisa dimasuki kecuali Allah Swt. Semua kondisi ini digapai dengan proses thaharah yang telah disebutkan diatas.
Redaksi, وَإِلَّا تَيْتُمْ بِالصَّعِيدِ وَبِالصَّخَرِ “Andai engkau bukan pemilik rahasia, maka ber-thaharah-lah dengan debu atau bebatuan,” hal ini seperti kondisi orang yang tidak menemukan air dan akhirnya bertayammum. Bertayammum dengan debu dan bebatuan inilah yang digambarkan oleh sabda Rasulullah Saw,
تَخَلَّقُوْا بِأَخْلَاقِ اللَّهِ
“Berakhlaklah kalian dengan akhlaknya Allah.”
Sabda Rasulullah Saw dalam hadits qudsi,
قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: هَذَا دِينٌ ارْتَضَيْتُهُ لِنَفْسِي، وَلَنْ يُصْلِحَهُ إِلَّا السَّحَاءُ وحُسْنُ الْخُلُقِ، فَأَكْرِمُوْهُ بِهِمَا مَا صَحِبْتُمُوْهُ
“Ini adalah agama yang diriku ridhai dan juga untuk orang yang aku cintai. Agama ini tidak akan menjadi benar kecuali dengan kedermawanan dan kemuliaan, maka perbaikilah ia dengan sikap dermawan dan memuliakan.”
Sabda Rasulullah Saw lainnya,
إِنَّ اللَّهَ مَعَالِيَ الْأُمُورِ، وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا
“Sungguh Allah cinta akan perkara yang mulia (terhormat) dan membenci yang buruk (remeh-temeh).”
Sabda Rasulullah Saw,
اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الحَيَاءِ. قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ للهِ، قَالَ: لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّ الإِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَالبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرِ الْمَوْتَ وَالبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاء.
“Malulah kalian dari Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Para sahabat berkata, “Alhamdulillah, kami telah malu pada Allah,” Rasulullah Saw menimpali, “Malu itu bukanlah seperti itu, akan tetapi malu yang sebenarnya adalah engkau menjaga kepala dan apa yang meliputinya, engkau menjaga perut dan seisinya, hendaknya engkau pula mengingat kematian dan cobaan. Orang yang menginginkan akhirat, niscaya ia akan meninggalkan hiasan dunia. Maka orang yang telah melakukan itu berarti ia telah malu pada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu.” Dan masih banyak lagi ragam ayat dan juga keterangan hadits lainnya.
Maka sudah seyogyanya seorang hamba berusaha mengkonsistenkan ragam perkara di atas semampunya dibarengi dengan berdzikir pada Allah Swt. Yang kami maksud agar dibarengi dengan berdzikir disini adalah berdzikir dengan dzikiran yang didapatkan dari hasil talqin seorang Syaikh yang telah wushul pada Allah Swt, bukan dzikiran yang dia comot semaunya sendiri.
Kondisi berdzikir ini juga diharuskan untuk senantiasa menyandarkan diri pada seorang Syaikh yang kamil. Sebab dengan mengkonsistenkan ragam perkara diatas, hamba tersebut akan sampai pada kondisi dimana tak lama lagi Allah Swt akan menurunkan sisi rahasia Rabbani, yang dengan sebab inilah hamba tersebut akan sampai pada kondisi thaharah aqdas yang sebelumnya telah kita kemukakan. Perkara inilah yang diisyaratkan dengan kondisi,
مَنْ كَشَفْتُ لَهُ عَنْ صِفَاتِي أَلْزَمْتُهُ الْأَدَبَ، وَمَنْ كَشَفْتُ لَهُ عَنْ ذَاتِي أَلْزَمْتُهُ الْعَطَبَ
“Orang yang telah Aku singkapkan sifat-Ku untuknya, maka Aku lazimkan adab baginya dan orang yang telah Aku singkapkan Dzat-Ku untuknya, maka Aku lazimkan ‘athab (kehancuran diri)baginya.”
Kehancuran diri inilah yang menjadi puncak permohonan seorang hamba. Bentuk kehancuran diri seorang hamba adalah ketika ragam sifat kemanusiaan yang ada dalam dirinya dicabut kemudian dipakaikan sifat-sifat Rabbaniyyah yang memupuskan antara jarak dan perbedaan, kondisi inilah yang kerap diibaratkan dengan, “Jam’ul jam’i.” Ini pulalah makna dari redaksi, “Jika tidak maka bertayammumlah dengan debu atau bersuci dengan bebatuan.”
وَقَدَّمْ إِمَامًا كُنْتَ أَنْتَ أَمَامَهُ # وَصَلِّ صَلَاةَ الْفَجْرِ فِي أَوَّلِ الْعَصْرِ
Dahulukanlah imam, meski engkau berada didepannya # dan sholat fajarlah pada awal waktu ashar
Redaksi, وَقَهُمْ إِمَامًا كُنْتَ أَنْتَ أَمَامَهُ “Dahulukanlah imam, meski engkau berada didepannya,” Sayyidi Syaikh Ra berkata akan ini: maknanya redaksi ini adalah: Disini yang perlu didahulukan adalah seorang imam, bisa juga yang dimaksud disini adalah Rasulullah Saw, bisa juga yang dimaksud disini juga akal pikiran.
Jika kita katakan bahwa maknanya adalah Rasulullah Saw, maka maknanya adalah apa yang telah sampai padamu terkait thaharah dengan dengan air ghaib, dimana engkau telah sampai pada puncak maknanya dan engkau kini ingin mendirikan shalat untuk Rabbmu, maka saat seperti ini dahulukanlah imam akbar dan panutan tertinggi, ikutilah ia dalam hadrah Rabbmu lantaran engkau telah menyaksikan hakikatnya Rasulullah Saw yang merupakan perantara antara dirimu dan Rabbmu. Tiada kebaikan yang sampai padamu kecuali dengan cara ini, engkaupun tidak bsa mendapatkan kebaikan dari Rabbmu jika keluar dari lingkaran ini.
Makna redaksi, وَقَدَّمْ “Dahulukanlah,” maksudnya adalah beradab dengan adab sang imam dan berusaha konsisten mengikutinya. Jadikanlah ia kiblat wajah dan tawajjuh-anmu agar engkau benar-benar mendapat ridha Rabbmu.
Makna redaksi, كُنْتَ أَنْتَ أَمَامَهُ “Meski engkau berada di depannya,” maksudnya adalah bahwa sebelum melakukan thaharah ini engkau berada dihadapan Rasulullah Saw dengan bentuk kezhaliman diri dan permusuhan, engkau memutuskan seenak hawa (kecondongan negatif diri)-mu, engkau hanya mengikuti kemauanmu, engkau hanya memikirkan bagaimana memuaskan diri, engkau jauh dari hadhrah ilahiyyah dan tidak menghias diri dengan ragam sifat ruhaniyah, engkau tenggelam dalam lautan kezhaliman diri lantaran engkau jauh dari cahaya rahmaniyyah, engkau tidak mengindahkan bahkan tidak melirik hukum syari’at lantaran dirimu terselubungi hawa (kecondongan negatif diri), dimana racunnya telah menyebar dalam keseluruhan dirimu, pada hakikatnya engkau adalah hamba yang musyrik pada Allah lantaran engkau memposisikan dirimu sebagai tuhan yang disembah selain-Nya.
Sebab Rasulullah Saw pernah bersabda,
مَا تَحْتَ ظِلِّ السَّمَاءِ مِنْ إِلَهِ يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللَّهِ، أَعْظَمُ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مِنْ هَوَى مُتَّبَعٍ
“Dibawah naungan langit ini tidak ada Tuhan yang disembah selain Allah yang lebih agung daripada memperturutkan hawa (kecondongan negatif diri).’
Oleh karena itu penyair tadi mengemukakannya dengan, كُنْتَ أَنْتَ أَمَامَهُ “Meski engkau berada didepannya,” sebab jika posisimu berada dibelakang imam, maka engkau akan mengikutinya, tidak akan menyelisihinya dengan mengikuti hawa (kecondongan negatif diri)-mu, tidak akan memuaskan dirimu dan membuat dirimu terpuaskan, engkaupun akan lari dari ragam keburukan dan kemudharatan dirimu. Inilah yang dimaksud dengan “mengedepankan (mendahulukan),” dihadapan Rasulullah Saw, sebagaimana yang tertera dalam firman Allah Swt,
يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُقَدِّمُوْا بَيْنَ يَدَيِ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa tuqoddimuu baina yadayillaahi wa rosuulihii wattaqulloh, innalloha samii’un ‘aliim
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 1)
Firman Allah Swt lainnya,
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
fa laa wa robbika laa yu-minuuna hattaa yuhakkimuuka fiimaa syajaro bainahum summa laa yajiduu fiii angfusihim harojam mimmaa qodhoita wa yusallimuu tasliimaa
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 65)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan penjelasan beliau:
Andai kita katakan bahwa yang dimaksud dengan Iman yang didahulukan adalah akal pikiran. Maka maksud daripada akal disini adalah akal Rabbani yang terbatasi di hadhrah ghaib. Akal inilah yang merupakan sifat pertama dari ruh sebelum jasad dibuat, sebab ruh sendiri menempati posisi penglihatan bagi mata, sebagaimana matapun dapat menyingkap beragam hal yang nampak di hadapan mata. Begitu juga akal Rabbani yang menjadi sifat sebelum jasad dibentuk, ia dapat menyingkap ragam hal yang ter-sembunyi, secara hakiki ia bisa mengetahui yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah, ruh dapat menyingkapkan tanda adanya keraguan setelahnya, dimana ragam fitnah yang menyesatkanpun tidak dapat mempengaruhinya, ruh adalah timbangan antara yang benar dan yang salah, dengan ruh kita dapat mengetahui timbangan sesuatu, meletakkan segala sesuatu pada sisi yang benar atau pada sisi yang salah, dengan ruh pulalah kita mengetahui gambaran yang adil antara sesuatu.
Akal Rabbani ini mengambil ilmu langsung dari Allah tanpa perantara, yang tidak membutuhkan pengajaran guru pengajar dan ujian sang penguji, akan tetapi semua ilmu yang diinginkan langsung diambil dari Allah Swt tanpa perantara. Akal inilah yang seharusnya didahukan.
Kemudian akal pun memiliki tiga martabat: Pertama, Akal Rabbani, Kedua: Akal Kulli dan Ketiga: Akal Kehidupan. Demikian penjelasannya:
Pertama, Akal Rabbani yang wujudnya hanya berupa cahaya Rabbani yang terpatrikan pada hakekat tersembunyi dari ruh. Akal Rabbani inilah yang memberikan petunjuk dan yang bisa menyampaikan seseorang pada puncak keinginan. Tidak ada manusia yang bisa sampai pada akal ini kecuali orang yang ‘Arifbillah.
Kedua, Akal Kulli yang tertutup dengan beberapa lapisan kegelapan yang ringan, sehingga ditampakkan padanya ragam hakekat alam semesta yang nampak maupun yang tersembunyi.
Perbedaan Akal Kulli dengan Akal Rabbani Pada Akal Rabbani segalanya akan tersingkap baik unsur yang nampak maupun yang tersembunyi, ia akan benar-benar melihat rahasia hadhrah lahiyyah, ia akan duduk diatas singgasana raja yang agung dan dapat menentukan hukum sesuai dengan kehendaknya dan itu benar-benar terjadi.
Sedangkan pada Akal Kulli, hadhrah ilahiyyah menghalangi akal ini dengan halangan yang banyak. Akal inipun tidak mendapatkan rahasia ilahiyyah kecuali Allahlah yang menyingkapkan untuknya tentang hakekat alam semesta yang nampak dan yang tersembunyi, akan tetapi ini bisa terjadi hanya dengan cahaya ilahiyyah, sehingga ia bisa menentukan hukum sesuai dengan keinginannya; yang terkadang keinginannya bisa terwujud dan terkadang tidak terwujud. la mengetahui beragam sumber perkara dari sisi alam semesta yang nampak dan bukan langsung dari hadhrah qudsiyyah. Sebab pengetahuan yang datangnya dari sisi tersembunyi hadhrah ilahiyyah akan menampakkan hakekat alam semesta yang nampak dan yang tersembunyi, sedangkan pengetahuan yang datangnya dari sisi nampak alam semesta nan ghaib, didalamnya terdapat interval yang jauh.
Akal Kulli pada martabat ini senantiasa menimbang segala sesuatunya dengan timbangan, sehingga akal ini mampu mengetahui segala sesuatu, mengetahui beragam akibat dan apa akhir dari sesuatu, inilah perkara yang dicari-cari oleh banyak orang. Sekalipun Akal Kulli ini tidak sampai pada tingkatan Akal Rabbani, akan tetapi Akal Kulli ini memiliki faedah yang agung, ragam ilmu dan pengetahuan yang bagus, tetapi ini hanya seputar gambaran alam semesta saja. Akal Kulli ini juga dimiliki oleh orang mukmin dan juga orang kafir. Akal Kulli ini terkadang diberikan pada sebagian orang kafir dengan konsistensi mereka dalam menolak hawa (kecondongan negatif) diri mereka, dimana mereka senantiasa melihat pada hadhrah ilahiyyah, namun ini tidaklah cukup kecuali dibarengi dengan keimanan. Akan tetapi orang kafir dengan Akal Kullinya dapat menyingkap sebagian perkara ghaib dan mampu ber-thasharruf pada sebagian hal khusus maupun ragam asrar. Beragam perkataan dapat terjadi pada banyak perkara, tetapi sebenarnya ini merupakan istidraj bagi mereka sampai mereka nanti binasa di akhirat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari hal tersebut.
Martabat akal yang ketiga merupakan akal yang paling rendah, yaitu akal kehidupan yang mengatur urusan dunia, yang nampak dari akal ini adalah terkait hal-hal yang berhubungan dengan syahwat, suka bersantai-santai dan tenggelam dalam mengikuti hawa (kecondongan negatif diri) serta kecondongan diri untuk senantiasa berlari dari hal-hal yang bertentangan dengan ragam diatas. Akal ini dimiliki oleh manusia dan juga hewan. Padahal sebenarnya akal yang harus diikuti adalah Akal Rabbani dibalik Akal Kulli.
وَقَدَّمْ إِمَامًا كُنْتَ أَنْتَ أَمَامَهُ # وَصَلِّ صَلَاةَ الْفَجْرِ فِي أَوَّلِ العَصْرِ
Dahulukanlah imam, meski engkau berada didepannya # dan sholat fajarlah pada awal waktu ashar
Kita kembali pada redaksi kata, وَقَدَّمْ إِمَامًا “Dahulukanlah imam,” kata ini mengajak akal untuk senantiasa memiliki keterkaitan yang sempurna pada Allah Swt, ber-thaharah secara sempurna dari perkara lain selain Allah Swt secara totalitas. Oleh karena itu, Akal Rabbani haruslah didahulukan, sebab Akal Rabbani ini akan menarik hamba tersebut hanya pada hadhrah Allah Swt dengan thaharah yang sempurna dari selain Dzat-Nya.
Sedangkan redaksi kata, كُنْتَ أَنْتَ أَمَامَهُ “Engkau berada di depannya,” ini menunjukkan kondisi yang menguasai seorang hamba, yang tak lain dirinya mengikuti hawa (kecondongan negatif diri) yang ada di hadapannya dan menolak Akal Rabbani dan membelakanginya, oleh karena itu disebutkan dengan kata “Engkau berada di depannya.”
Redaksi, وَصَلِّ صَلاةَ الْفَجْرِ فِي أَوَّلِ العَصْرِ “Dan shalatlah shalat Fajar pada awal waktu Ashar,” maknanya adalah shalatlah engkau seperti shalat fajar pada awal waktu Ashar. Maksud Al Fajr,” disini adalah nampaknya keberadaan ruh, dimana awalnya tidak ada kemudian ruh pun menjadi ada. Digunakan redaksi, “Al Fajr,” lantaran melihat pada pancaran sinar ruh yang menunjukkan eksistensinya setelah sebelumnya tidak ada, sama seperti terbitnya fajar yang menghapus gelapnya malam.
Redaksi, فِي أَوَّلِ العَصْرِ “Pada awal shalat Ashar,” maksudnya adalah pada masa-masa umur ruh sejak diciptakannya, hal ini menunjukkan kondisi ruh yang dalam kondisi suci dan jernih serta memiliki ma’rifat yang sempurna pada Allah Swt, memiliki kecintaan yang sempurna pada Dzat Allah Swt, dimana ruh ketika itu juga lupa pada segalanya selain Allah Swt dengan senantiasa mengabdi dan beradab di hadapan Allah Swt, sesuai dengan watak dan tabiatnya dalam mengagungkan Allah tanpa mengindahkan selain-Nya.
Inilah kondisi ruh sejak awal diciptakannya yang merupakan bagian penting masa-masa penciptaannya; yaitu terpecahnya ruh dari ketiadaaan menjadi ada. Seolah-olah pelantun sya’ir mengatakan,
“Wahai orang yang menghendaki, jika engkau melakukan shalat untuk Allah, maka shalatlah seperti bentuk shalatnya ruh pada masa awal umur ruh tersebut; yaitu sesaat ketika ruh baru diciptakan, dimana kondisi ruh memiliki ma’rifat pada Allah Swt, seperti yang tadi kami kemukakan. Sebab itulah yang layak bagi Allah Swt dan tidak kondisi lainnya. Sebab jika dirimu lalui shalatmu dengan kalbu yang bukan untuk Allah, maka engkau tidak dikatakan sedang melakukan shalat, apalagi jika dikatakan sebagai shalatnya orang yang ‘Arifibillah. Maka jika engkau ingin shalat seperti shalatnya ‘Arifbillah, maka shalatlah sesuai dengan kondisi ruh sesaat setelah ruh diciptakan pertama kali.” Oleh karena itu, pelantun sya’ir diatas mengatakan, “Maka inilah kondisi shalatnya orang yang Arifbillah,”
Dalam sebagian teks naskah sya’ir diatas ada yang menyebutkan dengan redaksi, “Shalatlah Zhuhur pada awal waktu Ashar,” redaksi ini menunjukkan awal nampaknya ruh dari ketiadaan menuju ada pada masa awal keberadaanya, inilah yang disebutkan dengan, “Al Fajr,” Oleh karena itu pelantun sya’ir menyebutkan فَهَذِي صَلَاةُ الْعَارِفِينَ بِرَبِّهِمْ “Maka inilah kondisi shalatnya orang yang ‘Arifbillah, sebab ketika orang yang ‘Arifbillah melakukan shalat, maka ia akan mencampakkan semua wujud (segala yang ada selain Allah) dibelakang punggungnya secara totalitas dengan benar-benar menghadap Allah Swt, sehingga dalam dirinya tidak ada bentuk kecintaan, tidak ada pengagungan, tidak ada penghormatan, tidak ada yang dianggap, tidak ada yang nampak, tidak ada dia rasakan kecuali hadirnya Allah Swt, hal ini seperti kondisi masa awal ruh setelah penciptaannya.
فَهَذِى صَلَاةُ العَارِفِينَ بِرَبِّهِمْ # فَإِنْ كُنْتَ مِنْهُمْ فَانْضَحِ الْبَر بِالْبَحْرِ
Maka inilah sholatnya orang yang ‘Arifbillah # maka jika engkau bagian dari mereka maka percikilah daratan dengan lautan.
Redaksi, فَإِنْ كُنْتَ مِنْهُمْ “Andai engkau merupakan bagian dari mereka,” maksudnya bagian dari orang yang ‘Arifbillah, maka siramilah Al Barr dengan Al Bahr.
Makna “Al Barr” adalah ragam perkara syari’at yang berupa perintah dan beban bagi pemeluknya, yang bentuknya adalah melaksanakan perintah Allah secara ibadah, ‘ubûdiyyah (penyembahan) dan (ubûdah) penghambaan.
Sedangkan makna Al Bahr adalah lautan hakekat. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya engkau tidak melakukan ragam perintah yang dibebankan dalam syari’at kecuali ketika engkau melaksanakannya engkau men-yaksikan Allah Swt ada di hadapanmu, berada di sekelilingmu dan melihatmu, engkau ada pada genggaman-Nya dan dalam hadhrah-Nya. Kemampuan Allah lah yang menggerakkan dan mendiamkanmu. Penyaksian perkara ini tidak masuk pada ranah akidah tetapi bentuknya adalah wujud kondisi yang sebenarnya terjadi dan pengetahuan yang tumbuh sesuai keyakinan yang nantinya berbuah jernihnya kondisi jiwa, dimana Allah Swt akan berikan ia kemampuan sempurna untuk mengejawantahkan ragam maqamat inzal yang tidak bisa diketahui dengan ucapan. Inilah yang dibahasakan dengan menyirami daratan syari’at dengan lautan hakikat. – Wassalam.-
Perbedaan antara ibadah, ‘ubûdiyyah (penyem bahan) dan ‘ubûdah (penghambaan).
Ibadah adalah melaksanakan perintah Allah Swt pada magam Islam. Orang yang melaksanakan ini hanya sedikit; yang benar-benar bisa menghadirkan jiwa di hadapan Allah Swt, itupun dengan usaha yang berat. Sedangkan ubudiyyah (penyembahan) adalah melaksana-kan perintah Allah pada maqam Iman. Orang yang melaksanakan ini jiwanya hadir di hadapan Allah Swt, pertama kali jiwanya akan merasa bersama Allah dari balik tirai penghalang yang tebal dan yang lainnya akan merasa bersama Allah dari balik tirai penghalang yang tipis. Sementara ‘ubûdah (penghambaan) adalah melaksanakan perintah Allah Swt pada maqam ihsan. Orang yang melaksanakan ini tidak lagi merasakan wujud keberadaan dirinya ada, yang ada hanya Allah Swt. Sosoknya dapat melihat Allah dengan mata pandangan batin dan cahaya keyakinannya.
Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari pernah berkata, “Sinar pandangan batin menyaksikan wujud kedekatanmu dari-Nya, Inti pandangan batin menyaksikan fana’-nya dirimu lantaran keberadaan-Nya. Kebenaran pandangan batinmu menyaksikan wujud keberadaan-Nya, bukan fana-nya dirimu dan bukan juga wujud keberadaan dirimu.”
Sinar pandangan batin adalah cahayanya akal pikiran, ibadah orang yang bertipikal ini sebagai ibadah. Sedangkan mata pandangan batin adalah cahayanya ilmu, ibadah orang yang bertipikal ini disebut sebagai penyembahan. Sementara pandangan mata batin yang hakiki adalah cahayanya Allah Al Haq, dimana makhluk dalam pandangannya seperti hewan ternak diatas air. Sebagian pembesar wali pernah berkata,
أَتَمَنَّى عَلَى الزَّمَانِ # أَنْ تَرَى مُقْلَتَايَ طَلْعَةَ حُرِّ
“Aku berangan-angan pada zaman ini sebuah perkara yang mustahil # yaitu engkau melihat bidadari keluar dari kedua bola mataku.”
-Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tekait penjelasan ragam bait sya’ir pada akhir bulan Sya’ban tahun 1206 M. Wassalam.-
