
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ra tentang maksud An-Nafs, Ar-Ruh, Al Qalb dan As-Sirr, apakah semua ini merupakan nama untuk satu maksud ataukah setiap salah satunya memiliki istilah tersendiri? Jika kita katakan bahwa itu semua untuk satu nama yang dimaksud lantas apa manfaat dari kosa kata yang banyak itu, akan tetapi jika kita katakan bahwa setiap salah satunya memiliki makna tersendiri, maka yang dituju dari kata-kata tersebut adalah ruh yang dapat merasakan nikmat dan adzab yang pedih, maka jelaskanlah untuk kami hal tersebut dengan jawaban yang jelas. – Wassalam.-
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui bahwa nama-nama yang banyak diatas sesungguhnya itu untuk satu nama yang dimaksud, dimana tidak ada pengulangan kata disana. Akan tetapi adanya beragam nama-nama ruh itu lantaran banyaknya martabat dari ruh tersebut. Penjelasan akan hal ini sebagai berikut:
Allah Swt menciptakan ruh manusia dari cahaya ilahi yang jernih, pada sisi ‘Ama Rabbani lalu Allah Swt tempatkan pada wadah ruh tersebut, ketika itu ruh masih dalam kondisi ma’rifat yang sempurna pada Allah Swt, memiliki keteguhan dalam kecintaan dan kemanunggaling-an pada-Nya, ruh tersebut mengetahui ragam nama dan sifat Allah Swt, ia tidak menoleh dan tidak peduli pada dzat yang lainnya. Ruh tersebut senantiasa dalam kondisi ini; dalam puncak kejernihan dan sangat jauh untuk bisa dipahami dengan akal pikiran. Selanjutnya Allah tempatkan ruh pada jasad manusia, sehingga dengannya jasad dapat hidup dan mengetahui sesuatu. Kondisi jasad dengan keberadaan ruh inilah menciptakan yang namanya nafs, yang berupa asap tipis yang mampu mengemban sesuatu lantaran kuatnya unsur kehidupan, perasaan, gerakan dan pengetahuan.
Nafs (Jiwa) ada hukumnya namun tidak ada wujudnya, sebab ia terbentuk dari berkumpulnya ruh dengan jasad. Jika keduanya berpisah, maka wujud eksistensinya pun hilang. Maksud dari An-Nafs adalah asap tipis, inilah yang sering disebut sebagai nafs. Nafs merupakan sumber akhlak buruk dan beragam akhlak yang rusak selagi hukum nafs ini masih melekat dalam jasad seseorang.
Nafs merupakan tawanan dzatnya sendiri, ia hanya berusaha untuk memuaskan dzatnya, daripada kedekatannya dengan kekuatan cahaya ruh, hal ini lantaran posisi nafs yang berada di dalam jasad; ia berada pada puncak kehancuran dan jauh dari hadhrah ilahiyyah. Ketika kondisi nafs bercampur dengan sisi yang buruk dan kotor, yang selanjutnya dikuasai oleh hukum nafs yang buruk, maka nafs tadi menjadi fasik di hadapan Allah Swt. Hal ini terjadi lantaran itu semua adalah sisa-sisa dari hukum yang berlaku pada jasad. Sebab jasad itu terbentuk pada tempat yang penuh kegelapan; air dan tanah yang pekat.
Sedangkan ruh ketika bentuknya menjadi cahaya ilahiyyah sangat jernih, maka kondisi ruh disini pada puncak kejernihan dan mengkristal, ia merupakan permata yang paling jernih dan unggul. Ruh ini mendapatkan kezhaliman pada alam jasad, dimana ketika ruh condong pada kemaksiatan, pelanggaran dan mengikuti hawa (condongan negatif diri), maka ruh pada maqam ini disebut dengan Nafs Ammarah Bis-sû’.
Apabila ruh ini pun kemudian terkena cahaya ilahiyyah, yang membuat sebagiannya keluar dari sifat maksiat dan pelanggaran ini dengan hadirnya tobat, maka ruh pun akan mencerca jiwanya dan memaki dzatnya atas ragam hak ilahiyyah yang telah luput darinya. Kondisi jiwanya akan terus mencaci-maki untuk bisa kembali pada pintunya Allah yang Maha Dermawan lagi pemurah, maka kondisi ruh pada maqam ini disebut juga dengan Nafs Lawwamah.
Disebut demikian karena ruh tadi mencaci-maki dzatnya sendiri atas ragam hak Allah Swt yang dia luputkan. Kemudian jika ruh pada kondisi ini terkena paparan cahaya ilahiyyah lagi, yang membuatnya kelar dari kemaksiatan yang besar (dosa-dosa besar) dan tersisa kesalahan yang sedikit maka ruh pada kondisi ini disebut juga dengan Qalbu.
Disebut demikian karena ruh ketika itu mencium wanginya sisi hadhrah ilahiyyah, meski terkadang terpaksa diciumkan wewangian hadhrah ilahiyyah, sehingga ruh tersebutpun rindu untuk bisa kembali pada wujud awal penciptaannya, hal ini membuat kondisi ruh berbolak-balik pada dua perkara ini, oleh karenanya ia disebut dengan kalbu lantaran berbolak-balik pada dua waktu;
Pertama, ia condong pada hadhrah Al Qudsiyyah sekaligus mencoba untuk bangkit menuju hadhrah Al Qudsiyyah.
Kedua, ia condong pada kegelapan tabiatnya; yang berupa ragam syahwat dan pelanggaran, sehingga ruh condong untuk menghalagi dzatnya agar tidak condong pada yang kedua ini.
Oleh karena itu, ruh pada maqam ini disebut juga dengan kalbu lantaran ia banyak berbolak-balik. Lalu jika ruh pada kondisi ini diberikan ragam cahaya ilahiyyah dari sisi Allah, yang menuntutnya ada pada kondisi thaharah yang sempurna dari segala macam pelanggaran berat maupun yang ringan, yang tersembunyi maupun yang nampak, sehingga pijakan ruh tadi menjadi kuat untuk taat pada Allah Swt dan senantiasa ber-tawajjuh pada-Nya serta goncangannya pun berhenti, pada maqam inilah ruh disebut sebagai Nafs Muthmainnah.
Namun kondisi ini pun masih menyisakan kecondongan ruh pada selain Allah Swt meskipun pada hal yang halal, masih menyisakan kebengkokan dari keistiqamahan, masih menyisakan beragam pengaturan dan usaha untuk mengarah pada kemaslahatan ruh. Kemudian ketika pada kondisi ini ruh diberikan kucuran cahaya ilahiyyah, yang mengharuskan ruh menghancurkan ragam sendi usaha yang biasa dilakukan dan kembali pada Allah Swt dalam kondisi terlepas dari selain-Nya, maka ruh pada maqam ini disebut juga dengan An-Nafs Ar-Râdhiyah.
Pada kondisi ini masih ada tersisa ragam sendi yang sebelumnya dihancurkan. Sisa-sisanya seperti bekas luka tetanus ketika ia sembuh di hadapan hadrah Allah Swt. Lalu jika pada kondisi ini ruh diberikan kucuran cahaya ilahiyyah dari hadhrah Allah Yang Maha Suci, yang menuntut agar ruh berada dalam kondisi thaharah yang sempurna dari ragam angan-angan dan segala yang dapat disentuh, caranya adalah dengan memutuskan semua perkara itu; baik wujud maupun efek bekasnya, dimana wujud keberadaan jiwanya hilang dan penyaksian dirinyapun sirna.
Kucuran ilahiyyah ini adalah cahaya terbesar, yang biasa dibahasakan dalam istilah orang-orang yang Arifbillah dengan Al Fath Al A’zham (Futuh terbesar), maka pada maqam ini ruh disebut sebagai Nafs Mardhiyyah.
Terkecuali diantara yang hilang dari ruh tadi adalah apa yang bisa diindera dan diketahui, sehingga ruh tadi tidak lagi bisa mengetahui, bahkan tidak ada lagi gambaran dan tidak pula tersisa namanya, terkecuali hanya bentuknya berupa musyahadah Allah Al Haqq dengan kemampuan dari-Nya, pada perkara yang benar, untuk Allah yang Haq dari benarnya keberadaan jiwa. Inilah yang dibahasakan dengan Fana Al Fana (Sira dalam kesirnaan). Pada titik inilah Allah telah ridha pada ruh tersebut sehingga dibahasakan dengan An-Nafs Al Mardhiyyah.
Nah, ketika pada kondisi demikian dan Allah kembali memberikan kucuran cahaya ilahiyyah dari hadrah Allah yang Maha suci, yang menuntut ruh tersebut agar bisa membedakan beragam tingkatan dan rinciannya, mengetahui ragam kekhususan dan hak-haknya serta cakupannya dengan ragam tuntutan dan perkara yang lazim bagi ruh; secara global maupun terperinci, maka pada maqam ini ruh disebut jga dengan An-Nafs Al Kamilah.
Kemudian jika ruh tadi kembali mendapatkan kucuran ilahiyyah dari hadhrah Allah yang Maha suci, yang menuntut ruh agar menghancurkan ragam isyarat dan jejalan kata yang bisa diindera, dimana ruh lalu bersifat dengan sifat demikian, maka pada maqam ini ruh dinamakan dengan sebutan Sirr Al Khafa`.
Lalu jika ruh pada kondisi ini mendapatkan kucuran ilahiyyah dari hadhrah Allah yang Maha suci, yang menuntut ruh dinisbatkan pada kondisi Shafa Al Awwal (kondisi kejernihan ruh yang pertama kali) dari martabat yang tersembunyi, hal ini sama dengan penisbatan cahaya matahari pada malam hari (yang jelas tidak nampak), maka ruh dalam kondisi ini dibahasakan dengan Akhafa (kondisi lebih tersembunyi). Hal ini lantaran kondisi ini sangat jauh dari nalar, pemikiranan dan pemahaman manusia, kemudian setelah ini ruh terus meningkat ke ragam maqamat lainnya hingga tidak ada batasannya dalam ukuran umur manusia, tidak ada batasannya pada lamanya waktu di alam barzakh, tidak ada batasannya pada keabadian di surga, ruh tidak berhenti untuk meningkat dan tidak ada batasan akhirnya.
Pada setiap maqam yang ada, Allah singkapkan untuk ruh bagian dari ragam sifat dan nama Allah Swt, Allah singkapkan ragam rahasia dan cahaya-Nya, ragam futûh dan kucuran ilahiyyah, yang mana penisbatan ruh pada apa yang dicapainya seperti satu tetes air di lautan, seperti inilah yang akan terus terjadi. Setiap kali ruh meningkat, maka iapun akan mendapatkan sesuatu dari kucuran ilahiyyah, sisi tajalli, ragam ma’rifat, ragam ilmu, ragam rahasia Allah dan ragam futuh, yang mana nisbat ruh pada maqam ini seperti nisbatnya cahaya matahari kepada gelapnya malam. Maqam ruh diatasnya maqam Khafa disebut juga dengan Sirr, lantaran sisinya jauh dari maqam Al Ikhfa. Maqam ruh diatasnya maqam Sirr disebut juga dengan maqam Sirr As-Sirr. Maqam ketiga setelah itu disebut Sirra Sirri As-Sirri, maqam keempat setelah itu disebut Sirra Sirri Sirri As-Sirri yang memiliki empat martabat. Maqam kelima setelah itu disebut Sirra Sirri Sirri Sirri As-Sirri yang memiliki lima martabat. Demikian seterusnya demikian, setiap ruh meningkat pada maqam diatas, maka ruh pun akan diberi nama dari kata As-Sirri yang jumlahnya bisa sepuluh martabat, bahkan sampai ratusan dan sampai tidak terhingga lagi.
Dari sini jelas sudah bahwa ragam nama-nama yng banyak ini sejatinya untuk satu nama yaitu Ruh, nama Ruh tidak berubah, perubahan yang ada lantaran martabat yang dimiliki ruh tersebut berubah. -Billahit-taufiq.-
Sedangkan pernyataan penanya: Siapa yang menjadi objek dalam hal ini? Apakah ruh atau nafs atau jasad…?
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Yang menjadi objek ilahiyyah adalah ruh, karena ruh adalah kalbu, ia juga adalah nafs sebagaimana telah kami kemukakan ragam martabat ruh sebelum ini. Jasad bukanlah objek perkara ini, akan tetapi jasad diciptakan sebagai tempat ruh dan kepanjangtangan dari ruh untuk melaksanakan ragam hak yang dibebani oleh Allah Swt padanya, maka yang terbebani dengan syari’at sejatinya adalah ruh. Ruhlah yang Allah ambil janjinya, ruh pulalah yang akan diberikan ganjaran atau adzab, yang akan merasakan nikmat dan kesengsaraan, ruh tidak menerima adzab dan juga nikmat kecuali dengan perantara jasad sesuai dengan ketentuan ilahiyyah, ruh dipasangkan di jasad, ruh akan merasakan adzab dengan jasad yang ter-adzab dan merasakan nikmat dengan jasad yang mendapatkan nikmat. Setelah jasad mati, maka di alam barzakh ruh akan dipasangkan pada jasad lain yang dengannya ruh dapat merasakan kenikmatan dan juga adzab, hal ini sebagaimana disaksikan oleh sabda Nabi Saw,
أَرْوَاحَ الشُّهَدَاءِ فِي حَوَاصِلِ طَيُورِ خُضْرٍ
“Arwah-arwah orang yang syahid berada pada tubuh burung-burung bewarna hijau.”
Sabda Nabi Saw lainnya,
إِذَا مَاتَ الْمُؤْمِنُ أُعْطِيَ نِصْفَ الْجَنَّةِ
“Apabila seorang mukmin meninggal dunia, maka ia akan diberikan separuh surga.” (Al Hadits)
Maksud dari “Separuh” dalam hadits tersebut adalah separuh kenikmatan di surga, sebab sempurnanya kenikmatan di surga adalah dengan cara berkumpulnya ruh dan jasad, maka ruh akan mendapat separuh kenikmatan dan jasad pun akan mendapatkan separuh kenikmatan. Ketika ruh tidak dipasangkan pada jasad di alam barzakh sana, maka ruh akan merasakan kenikmatan di surga tanpa adanya jasad, sehingga ruh hanya mendapat separuh kenikmatan, inilah yang dibahasakan dalam hadits diatas dengan “separuh surga.” Kondisi ini hanya bagi orang yang ‘Arifbillah dan orang-orang yang syahid, sementara orang-orang mukmin lainnya tidak diperkenankan berwisata di surga, mereka hanya akan ditampakkan tempat mereka di surga setiap pagi dan sore hari.
Terkait dengan percakapan orang yang ‘Arifbillah, mereka tidak bisa mendengar perkataan Dzat Allah Swt secara nyata, maka itu merupakan perkara mustahil sesuai dengan firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَا نَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَآئِ حِجَا بٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِ ذْنِهٖ مَا يَشَآءُ ۗ اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ
wa maa kaana libasyarin ay yukallimahullohu illaa wahyan au miw warooo-i hijaabin au yursila rosuulang fa yuuhiya bi-iznihii maa yasyaaa, innahuu ‘aliyyun hakiim
“Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 51)
Terkecuali Nabi Musa As dan Rasulullah Saw, keduanya benar-benar mendengar makna kata-kata Dzat Allah Swt, sedangkan percakapan dengan Allah yang dikenal pada kalangan orang yang ‘Arifbillah, maka Allah menciptakan kata-kata-Nya didalam ruh orang yang Arifbillah bergantung kondisi ruh; baik ruh berada pada martabat khafa atau akhfa atau sir atau pada martabat yang lainnya. Allah ciptakan kata-kata-Nya secara maknawi pada ruh, yang mana tidak diragukan lagi, bahwa yang seperti inipun berasal dari Allah Swt.
Sehingga penisbatan kata-kata ini pada Allah Swt adalah penisbatan kata-kata “baru” yang keluar dari dzat yang baru, penisbatan makhluk pada Allah yang menciptakannya, bukan penisbatan kata-kata pada orang yang mengatakannya, tetapi perkataan tersebut dinisbatkan pada Allah Swt pada posisi ini, sebab pada waktu itu kondisinya tidak bisa tercampur dengan kesalahan dan angan-angan, tidak pula ada kerusakan dan kesalahan lainnya. Sebab, ruh pada posisi ini disebut juga sebagai Al Bait Al Haram, lantaran selain Allah Swt tidak dapat masuk ke dalamnya. Kemudian perkataan Allah Swt ini ketika sampai pada hamba, perkataan itu dipetik dari lingkaran indra, penyaksian jiwa, ilmu, pendengaran dan penglihatannya, maka hal ini tidak mungkin bisa dinalar kecuali karena Allah Swt, tidak dapat dirasa kecuali lantaran keberadaan Allah Swt yang bisa menghapus dzat yang lainnya.
Tajalli semacam ini berasal dari cahaya dan rahasia ilahiyyah nan abadi, dimana cahaya dan rahasia ilahiyyah inilah yang menjadi perantara antara Allah dan juga makna perkataan yang menggantikan posisi Dzat Allah, sehingga hamba tersebut bisa merasakan kenikmatan ketika mendengar perkataan yang menggantikan posisi Dzat Allah Swt tersebut, oleh karena itu dapat dikatakan dengan pasti, bahwa ia benar-benar telah mendengar perkataan Allah Swt. Perumpamaan hamba ini pada realita yang ada seperti orang yang sedang tidur; yaitu seperti orang yang sedang tidur diberikan kabar tentang perkara ghaib, dimana itu diwahyukan padanya dan tidak diberikan secara nyata; tetapi dengan perantara sebuah contoh yang disampaikan dalam mimpi, layaknya penta’bir mimpi berkata bahwa mimpimu yang ini dan itu menunjukkan perkata ghaib ini atau berita itu.
Pengetahuan mengenai perkara ghaib di alam mimpi tidak diberikan secara nyata akan tetapi perkara itu datang dengan perantara perumpamaan yang Allah Swt sampaikan padanya, dimana Allah Swt memang benar-benar ingin menyampaikan perkara ghaib itu dengan perantara tadi, maka seperti inilah maksud daripada percakapan (dengan Allah Swt). Sesungguhnya ini merupakan perantara antara orang yang berkata dengan makna yang menempati posisi Dzat Allah Swt, inilah yang sering para ulama bahasakan dengan ilham.
Dengan demikian jelas sudah jawaban yang diberikan. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk bercakap-cakap dengan Allah tanpa adanya perantara, sebab jika manusia langsung bercakap-cakap dengan Allah Swt tanpa adanya perantara, iapun akan langsung binasa, oleh karenanya Allah Swt membuat perantara antara manusia tersebut dan antara makna yang menempati posisi Dzat Allah Swt, yang dengan ini manusia tadi mengetahui perkataan Allah Swt pada masa azali, dari bahasan inilah dikatakan bahwa perantara itu sebagai firman Allah Swt.
Sementara mengenai pertanyaan yang terkait dengan bahasan ruh itu sifatnya ‘Alimah (mengetahui), lantaran perkara bahagia atau sengsaranya dikembalikan pada penentuan di alam barzakh sebelum ruh dipasangkan dalam jasad.
Jawaban pertanyaan ini adalah:
Ruh tersebut tidak bersifat ‘Alimah (mengetahui) perkara dzatnya ketika di alam barzakh, sebab ketika ruh diciptakan di alam barzakh, ia tidak mengetahui mengapa ia diciptakan dan apa yang diinginkan dari penciptaannya itu sampai adanya perjanjian dan proses menanggung beban amanah, dari sinilah ruh baru mengetahui beban apa yang diberikan padanya namun ia tidak mengetahui apakah nantinya bahagia atau sengsara. Billahit-taufiq.
Mengenai pertanyaan tentang status orang yang ‘Arifbillah setelah kondisi ma’rifat, apakah kondisinya kembali pada kondisi awal sebelum ruh dipasangkan ke dalam jasad atau akan lebih tinggi atau bahkan akan kembali pada kondisi yang lebih rendah?
Jawaban pertanyaan ini adalah: Tidak lazim jika ia kembali pada maqam awal baik maqam-nya tinggi atau rendah, sebab martabat dalam kema’rifatan hanya Allah yang tau, Allah Swt bisa berikan itu pada siapa saja dari hanya-Nya sesuai dengan kehendak dan pilihan-Nya. Oleh karena itu beragam dzauq dan martabat akan berbeda. Seorang hamba tidak memiliki campurtangan apa-apa kecuali perkara itu sesuai dengan kehendak dan pilihan Allah Swt, manusia tidak bisa menisbatkan apa-apa dalam perkara ini. -Billahit-Taufiq.-
Begitu pula pertanyaan seputar As-Salb bagi orang yang ‘Arifbillah, apakah As-Salb akan terjadi pada maqam mereka atau tidak?
Jawaban pertanyaan ini adalah:
Semua orang yang ‘Arifbillah tidak ada yang aman dari As-Salb kecuali Quthb Al Aqthâb, atau sosok yang memiliki isim a’zham atau orang yang sudah dijamin oleh Syaikh yang kamil.
Sedangkan pertanyaan seputar hakekat manusia dan untuk apa dia dicipta…
Jawaban pertanyaan ini adalah: Hakekat manusia adalah campur aduknya ruh dan jasad, dimana setiap dari keduanya tidak mengetahui hakekat yang lainnya. Allah Swt tidak menyebutkan hakekat manusia kecuali terkait dengan jasad. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ
wa laqod kholaqnal-ingsaana ming sulaalatim ming thiin
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 12)
Firman Allah Swt lainnya,
اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ
iqro bismi robbikallazii kholaq
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,”
(QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 1), dan masih banyak lagi ayat-ayat yang semisal.
Sungguh setiap kali Allah Swt paparkan tentang penciptaan manusia, maka Allah Swt hanya paparkan gambaran jasadnya saja, sedangkan tentang ruh manusia, perkaranya Allah Swt sembunyikan dari makhluknya, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
wa yas-aluunaka ‘anir-ruuh, qulir-ruuhu min amri robbii wa maaa uutiitum minal-‘ilmi illaa qoliilaa
“Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang roh, katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.””
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 85)
Dalam ayat ini, Allah Swt tidak tambahkan penjelasan lainnya lantaran memang esensinya Allah Swt sembunyikan, dan ruh inilah hakekat yang nampak dari manusia.
Sementara hakekat batin manusia, maka hakekatnya telah terrumuskan dalam sabda Nabi Saw,
إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ
“Sungguh Allah telah menciptakan Adam atas gambaran-Nya.”
lembut, Terkait hal ini telah diisyaratkan dengan isyarat yang
الإِنْسَانُ حَضْرَةُ كَمَالٍ قُوْبِلَ بِهَا حَضْرَةُ الْجَمَالِ
“Manusia adalah hadrah sempurna yang dengannya diterima oleh hadrah Allah Al Jamal.”
Ibnu ‘Arabi berkata dalam Futuhât Al Makkiyah ketika ditanya, “Apa saja sifat Adam?” Beliau menjawab, “Andai engkau mau, engkau bisa katakan bahwa Adam adalah gambaran dari hadhrah ilahiyyah atau engkau juga bisa katakan bahwa Adam adalah kumpulan dari nama-nama ilahiyyah.”
Terkait dengan pertanyaan tentang ada yang diinginkan dari penciptaan manusia; maksudnya adalah bahwa yang diharapkan dari manusia adalah simbol ragam sifat Allah Swt.
Seorang ahli kasyaf pernah menyatakan: “Allah Swt ciptakan ruh dengan panjang dan lebarnya 8900 tahun, Allah biarkan ruh ini berada dalam tarbiyah-Nya, Allah mengasihinya dengan ragam kucuran nikmat-Nya, Allah tampakkan bekas kecintaan-Nya pada ruh tersebut, demikianlah ruh menjalani tarbiyah Allah Swt. Ketika ruh merasakan sakitnya sebuah perpisahan, ruh mengadu pada Allah Swt seraya berkata, ‘Tuhanku, penghuluku, tuanku, aku tidak mampu akan perpisahan ini’, Allah berfirman, Kami tidak ciptakan engkau sesuai dengan keinginanmu, akan tetapi Kami ciptakan engkau agar Kami dapat tampakkan rahasia ke-Esaan Kami pada dirimu.”
Inilah yang sejatinya diinginkan dari hakekat manusia secara tersembunyi. Sedangkan hakekat manusia secara nampak dijelaskan dalam firman Allah Swt,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)
Firman Allah Swt ini merupakan bahasa yang digunakan dalam alam hikmah, sedangkan bahasa yang digunakan pada alam kehendak ilahiyyah yang tersembunyi adalah apa yang sudah kami kemukakan sebelumnya.
Yang diharapkan dari manusia sepanjang zarnan adalah seperti yang dipaparkan oleh Imam Al Junaidi Al Baghdadi Ra ketika ditanya, “Apa yang Allah inginkan dari alam ini?” Beliau menjawab, “Apa yang ditujukan dengan keberadaan mereka di alam semesta, maka untuk itu pulalah mereka diciptakan.”
Yang dimaksud dari jawaban Imam Al Junaidi Ra ini bukanlah merupakan gambaran pembolak-balikkan alam dan ragam gerakan, tetapi yang dimaksud dari pernyataan beliau adalah bahwa semua gerakan, berbolak-baliknya alam, ragam maksud dan detikan alam ini adalah gambaran ilahiyyah, sebab ia adalah bekas dari ragam nama dan sifat Allah Swt.
Bertolak dari pengertian ini, seorang yang ‘Arifbillah pernah berkata: “Tidak ada di alam ini kecuali kesempurnaan, tidak ada gambaran kekurangan satupun, sebab alam ini adalah gambaran kesempurnaan ilahiyyah. Jika toh ada kekurangan, maka itu adalah kekurangan yang sifatnya relatif, dimana hakekatnya adalah kesempurnaan, sebab itu bagian dari kesempurnaan Dzat İlahiyyah.”
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: “Maka setiap orang yang sampai pada maqam ma’rifat pada Allah, tentu ia akan mencari hakekat ini dan bukan yang lainnya.” Selesai dari apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra. Aku (Syaikh Ali Harazim) menamakan pembahasan ini dengan Ad-Durr an-Nafis fil farqi bainar-rûhi wan-nafs mi ghair talbis.”
