
Elsubha.com – Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra pernah ditanya tentang beberapa permasalahan, diantaranya terkait dengan maksud hadits,
عُلَمَاءُ أُمَّتِي كَأَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Ulamanya umatku seperti para nabinya Bani Israil.”; juga tentang maksud pernyataan Abul Abbas Al Mursi, “Jika saja Rasulullah Saw terhijab dariku sekejap saja, maka aku tidak akan anggap diriku dari kalangan orang-orang muslim.”; juga tentang maksud perkataan, “Kami telah selami lautan sementara para nabi hanya berada di tepian saja.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Semoga Allah berkenan memberikan taufik-Nya. Mengenai apa yang telah engkau sebutkan dari hadits diatas,
عُلَمَاءُ أُمَّتِي كَأَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ
“Ulama umatku seperti para nabinya Bani Isra `il.” Ini bukanlah hadits Nabi Saw sebagaimana yang sudah dipastikan oleh Imam As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al Muntasirah Fil Ahadits Al Musytahirah.
Pengarang Al Ibriz pernah bertanya pada guru beliau, dan guru beliau berkata, ” Itu bukanlah hadits Nabi Saw. Guru beliau sebutkan jawaban itu dari sisi kasyaf, sebab beliau tidak memiliki ilmu terkait dengan ilmu hadits, namun pernyataan beliau menjadi hujjah bagi yang lainnya, sebab ia adalah seorang wali quthb, hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh pengarang Al Ibriz.
Sementara tentang permasalahan yang kedua; pernyataan yang disebutkan oleh penanya itu bukanlah perkataan Al Mursi. Pernyataan Al Mursi yang pernah kukaji selama 40 tahun adalah sebagai berikut: “Aku tidak pernah ter-hijab dari Allah sekejap mata dan jika saja Rasulullah Saw ter-hijab dariku sekejap mata saja, maka aku tidak menganggap diriku bagian dari kaum muslimin.”
Jawaban akan hal ini: Kekhususan seperti ini bukan hanya untuk Al Mursi saja, akan tetapi ini juga terjadi pada para wali quthb di setiap waktunya sejak sang wali duduk di kursi kewalian quthb, dimana tidak ada lagi hijab antara dirinya dengan Rasulullah Saw sama sekali. Apa yang Rasulullah tampakkan dari sisi hadrah ghaib dan hadrah syahadah, maka sang wali quthb bisa melihat ini, dirinya tidak lagi ter-hijab dari Rasulullah Saw sekejap matapun.
Mengenai permasalahan yang ketiga; yaitu apa maksud dari perkataan, “Kami telah selami lautan sementara para nabi berada ditepiannya.” Ini adalah perkataan Abu Yazid Al Busthami Ra dan bukan merupakan pernyataan Al Mursi. Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan jawaban beliau: Perlu diketahui bahwa perkara mendasar yang tidak ada batasannya dan harus diyakini oleh seorang mukmin, dimana orang yang tidak meyakini perkara ini, maka ia telah keluar dari ranah keimanan. Perkara tersebut adalah bahwa Allah Swt ber-tajalli dengan Kesombongan, Keagungan dan Keperkasaan-Nya yang tinggi dan beragam sifat-sifat umum serta ragam nama-nama-Nya. Tajalli Nya Allah Swt ini tidak terjadi dalam kondisi yang sama pada setiap manusia, tidak pula mengikuti satu alur dan tata caranya, sebab ragam pandangan batin itu berbeda-beda, ragam rahasia penciptaan yang sedikit maupun banyak pun terlihat sangat jelas berbeda. Maka Allah Swt ber-tajalli pada setiap manusia sesuai dengan kadar kemampuan manusia tersebut dan juga sesuai dengan kadar cakupan dirinya dari tajalli sisi Jamal-Nya Allah Swt yang tidak ada akhirnya dan tidak terhentikan lantaran adanya batasan dan tidak pula ada habis-habisnya.
Jika engkau telah tahu hal ini, maka ketahuilah bahwa martabat yang ada pada Nabi Muhammad Saw dalam sisi tajalli sifat, tajalli dzat dan ragam hakekat tidak bisa dipaksakan untuk diketahui oleh para pembesar Ulul Azmi dari kalangan para nabi dan rasul secara umum. martabat yang ada pada Ulul Azmi dari kalangan pada nabi dan rasul tidak bisa dipaksakan untuk diketahui oleh salah seorang dari utusan Allah. martabat yang ada pada utusan Allah tidak bisa dipaksakan untuk diketahui oleh salah seorang dari nabi-nabi Allah secara umum. Martabat yang ada pada sisi kenabian tidak bisa dipaksakan untuk diketahui oleh para wali quthb secara umum, dan martabat yang ada pada sosok berpangkat Quthbaniyyah tidak bisa dipaksakan untuk diketahui oleh salah seorang dari kalangan shiddiqin secara umum.
Jika memang duduk perkaranya demikian dan engkau telah mengetahui rincian ini, maka ketahuilah bahwa syathahât (celetukan sufi) yang keluar dari pembesar orang yang ‘Arifbillah tidak bisa dianggap bahwa mereka memiliki kedudukan tinggi yang transparan pada martabat para nabi dan utusan Allah, seperti ucapan Abu Yazid Al Busthami, “Kami telah selami lauutan sementara para nabi berada di tepiannya,” juga seperti perkataan Syaikh Abdul Qadir Al Jilani, “Semua nabi telah diberikan gelar sementara kami diberikan gelar yang tidak diberikan pada mereka.” Juga seperti ucapan Ibnu Al Fâridh:
وَدُوْنَكَ بَحْرًا خُضْتُهُ وَقَفَ الْأُلَى # بِسَاحِلِهِ صَوْنًا لِمَوْضِعِ حُرْمَتِي
“Engkau tidak punya lautan seperti yang telah kuselami # lebih baik engkau berada ditepian untuk menjaga tempat kehormatanku.”
وَإِنِّي وَإِنْ كُنْتُ ابْنُ أَدَمَ صُورَةً # فَلِيَ فِيهِ مَعْنَى شَاهِدٌ بِالْأُبُوَّةِ
“Aku, meskipun aku ada dalam gambaran anak keturunan Adam # tetapi aku memiliki makna dan saksi dengan kebapak-an.”
Hingga perkataannya:
وَفِي الْمَهْدِ حِزْيِي الْأَنْبِيَاءُ وَ فِي عَنَا # صِرِ لَوْحِيَ الْمَحْفُوْظُ وَالْفَتْحُ سُوْرَتِي
“Pada masa buaian, aku ada pada golongan para nabi, pada ragam unsur #penciptaanku ada lauh mahfuzh dan surat Al Fath adalah suratku.”
Seperti perkataannya:
فَحَيَّ عَلَى جَمْعِي الْقَدِيمِ الَّذِي بِهِ # وَجَدْتُ كُهُوْلَ الْحَيِّ أَطْفَالَ صَبْوَتِي
وَمِنْ فَضْلِ مَا أَسْأَرْتَ شُرْبُ مُعَاصِرِي # وَمَنْ كَانَ قَبْلِي فَالْفَضَائِلُ فُضْلَي
“Marilah kemari menuju perkumpulan yang telah lampau, yang dengannya # aku temui masa-masa orang yang hidup ada pada masa bayiku
Diantara keutamaan yang kurasakan adalah mencicipi martabat kekinian yang ada pada #sosok sebelumku,maka beragam keutamaan itu sejatinya adalah keutamaanku
Juga seperti perkataannya dalam Kafiyah.
كُلُّ مَنْ حِمَاكَ يَهْوَاكَ لَكِنْ # أَنَا وَحْدِي بِكُلِّ مَنْ فِي حِمَاكَ
“Seluruh orang yang ada pada batasanmu menginginkan-Mu tetapi # akulah seorang yang memiliki seluruh yang dimiliki oleh sosok yang ada dalam batasan-Mu.”
Juga seperti ucapan sebagian orang yang ‘Arifbillah, “Akhir jejak kaki para nabi merupakan awal jejak kaki para wali Allah.”
Jawaban akan maksud dari pernyataan ini adalah: Seorang yang ‘Arifbillah memiliki waktu dimana ia fana` dan tenggelam dalam sisi keindahan Allah Swt hingga panca indera dan penyaksian dirinya pun hilang, bahkan ia keluar dari segala pengetahuan dan wujud keberadaan dzatnya, akan tetapi terkadang ia ada pada sisi dari Dzat Allah Swt, ia mendapatkan kucuran ilahiyyah dari kawasan sucinya alam lahut, yang menuntutnya menyaksikan Dzat-Nya Allah yang sebenarnya lantaran jiwanya telah pupus dan hancur, dimana dalam kondisi ini dirinya berkata,
“Mahasuci Aku tiada ilâh yang patut disembah melainkan Aku…” juga seperti ucapan, “Betapa agung keagungan-Ku dan betapa suci kesombongan-Ku.” Orang yang mengatakan ini dimaafkan, sebab akal yang bisa membedakan beragam penyaksian dan kebiasaaan, yang juga dapat memberikan ragam rincian martabat dengan cara mengetahui ragam hak dari sifat Allah yang ada itu sudah hilang dan pupus serta lenyap. Maka disaat akalnya ini pergi nan hilang, saat inilah datang kucuran ilahiyyah padanya dan ia berbicara dalam kondisi demikian.
Ucapan yang terlontarkan pada saat itu adalah ucapan yang memang Allah Swt ciptakan sebagai perwakilan dari-Nya, maka ketika itu orang tersebut berbicara dengan lisan Allah Al Haqq dan tidak dengan lisannya, ia menjabarkan tentang Dzat Allah bukan tentang dzatnya. Contoh ucapan yang demikian adalah ucapannya Abu Yazid al Busthami, سُبْحَانِي مَا أَعْظَمَ شَأْنِي “Mahasuci-Ku betapa agungnya perkara-Ku,” ada pula ucapan Al Hallaj, أَنَا الحَقُّ “Aku Al Haqq” وَمَا فِي الحُبَّةِ إلاَّ اللَّهُ “Tidak ada dalam jubahku kecuali Allah.”
Juga seperti perkataan, فَالْأَرْضَ أَرْضِي وَالسَّمَاءُ سَمَاىِٔ “Maka bumi ini adalah bumi-Ku dan langit adalah langit-Ku.”
Juga seperti ucapan At-Tustari,
أُنْظُرْ أَنَا شَيْءٌ عَجِيْبٌ لِمَنْ رَأَنِي # أَنَا الْمُحِبُّ وَالْحَبِيْبُ مَا ثُمَّ ثَانِي
“Lihatlah Aku adalah sesuatu yang ajaib, bagi orang yang melihat-Ku # Aku adalah yang mencinta dan dicintai, maka tiada lagi yang kedua (selain-Ku).”
Juga seperti perkataan, أَنَّا مَنْ أَهْوَى وَمَنْ أَهْوَى أَنَا “Aku adalah sosok menghendaki dan orang yang menghendaki adalah Aku.”
Perkataan Ibnu Al Faridh yang seperti ini ada banyak. Hal ini terlontar begitu saja lantaran kondisi fana dan tenggelam pada gambaran Dzat Allah, perkara ini merupakan perkara yang keluar dari ranah akal pikiran namun dapat diketahui dengan dzauq dan jernihnya kondisi jiwa. Orang yang tahu akan perkara ini adalah orang yang mampu merasakannya. Bahkan terkadang orang yang ‘Arifbillah dapat tenggelam pada dzat Nabi Saw, dengan hilangnya kesadaran diri dan tenggelam pada dzat Nabi Saw, sehingga Nabi Saw memberikannya sebagian rahasia beliau.
Apabila dirinya telah dipakaikan rahasia tersebut, maka ia pun tidak lagi menyaksikan keberadaan dirinya, yang ada hanyalah keberadaan dzat Nabi Saw, dimana kemudian Allah Swt mengajarkannya sebagian yang Allah Swt khususkan pada nabinya, kekhususan yang tidak bisa dipaksakan untuk bisa dimiliki oleh orang lainnya, sehingga dia pun kelak akan berbicara ragam perkara khusus dengan lisan Nabi Saw sebagai simbol perwakilan dari beliau Saw, yang hanya Allah Swt khususkan pada diri Nabi Saw; terkait ketinggian dan kemuliaan beliau, dimana iapun akan bisa melihat ragam martabat semua nabi dan utusan Allah, dirinya akan memberitahukan tentang perkara yang Allah Swt berikan pada nabi-Nya. Maka orang yang mendengar perkataan ini akan mengira bahwa ia menisbatkan perkataan itu pada dirinya, tetapi sesungguhnya dia menisbatkan itu pada sabda nabi Saw lantaran keberadaan jiwanya yang telah hilang. Maka ketika orang ini terputus dari kondisi fana` dan tenggelam dalam sisi keindahan Allah Swt, iapun akan kembali sadar pada panca indera dan penyaksian dirinya, dirinya terlepas dari perkataan tadi lantaran dirinya mengetahui akan martabat dirinya.
Selain perkara ini, maka semua kalian akan mendengarnya dari para masyayikh yang mengharuskan mereka mengetahui ragam martabat kenabian dan utusan Allah; seperti syair Ad-Dasuqi:
أَنَا كُنْتُ مَعَ نُوحٍ بِمَا شَهِدَ الْوَرَى # بُحُوراً وَطُوْفَانًا عَلَى كَفِّ قُدْرَتِي
أَنَا كُنْتُ فِي رُؤْيَا الذَّبِيحِ فِدَاءَهُ # وَمَا أُنْزِلَ بِالْكَبْشِ إِلَّا بِفُتُوَّتِي
أَنَا كُنْتُ مَعَ أَيُّوبَ فِي زَمَنِ الْبَلَا # وَمَا شُفِيْتُ بَلْوَاهُ إِلَّا بِدَعْوَتِي
“Aku menyaksikan bersama nabi Nuh apa yang disaksikan oleh orang-orang #yang berupa lautan, angin topan sesuai dengan tangan kekuasaan-Ku.”
Aku melihat dalam mimpiku dimana Isma `il menjadi tebusannya # dan tidaklah digantikan dengan kambing kecuali dengan keluhuran-Ku
Aku pernah bersama Ayyub pada zaman bala diturunkan # dan penyakitnya tidaklah sembuh kecuali dengan do’a-Ku.”
Dan masih banyak lagi perkataan yang seperti ini. Seluruhnya lantaran kondisi fana’ dirinya pada dzat Nabi Saw, ia menterjemahkan apa yang ada pada maqam Nabi Saw dan perkara seperti ini tidak perlu dijawab lagi, perkara ini tidak bisa dinalar dan tidak boleh diperbincangkan lantaran jauh dari cakupan akal pikiran. Wassalam.-
Inilah yang kami sebutkan dari pembahasan kondisi fana ‘nya orang yang ‘Arifbillah pada Dzat Allah Swt dan pada dzat Nabi Muhammad Saw, kondisi ini tidak terjadi pada setiap orang yang ‘Arifbillah, tidak pula terjadi pada setiap waktu, tetapi kondisi ini bisa terjadi pada waktu yang khusus dan juga terjadi pada sebagian orang yang ‘Arifbillah saja, Wassalam.
Catatan Penting:
Lautan yang diselami oleh Rasulullah dimana para nabi lainnya berada ditepiannya adalah lautan hakekat yang dengan lautan hakekat inilah Allah ber-tajalli padanya tanpa selainnya dari pembesar utusan Allah dan nabi dan yang memiliki martabat dibawah itu. Sebab, jika pada hakekat ini andai saja Allah Swt ber-tajalli dengannya pada para nabi dan utusan Allah walaupun sedikit saja, maka merekapun dalam sekejap akan sina semua. Akan tetapi posisi mereka yang berada ditepian lautan ini; yaitu sisi tajalli-Nya Allah Swt yang Dia khususkan bagi mereka, yang berupa nampakknya sisi keperkasaan, sisi keindahan, sisi keagungan dan sisi kesombongan-Nya. Itulah hakekat yang dimiliki oleh para nabi dan utusan dibandingkan dengan hakekat Allah Swt singkapkan pada Nabi Saw, sehingga seperti buih lautan sebab para nabi dan utusan Allah ini berbicara dengan lisannya Nabi Muhammad Saw lantaran kondisi jiwa mereka yang hilang dan dalam kondisi fana mereka. – Wassalam.-
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Perkataan lebih dari apa yang sudah dipaparkan ini terkait dengan hakekat Al Bahr (lautan hakekat), maka tidak boleh lagi disebutkan apalagi ditulis di atas kertas. Wassalam. Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra pada satu majelis pada tanggal 19 Rabi’uts-Tsani 1206 M. Setelah disetujui, maka aku (‘Ali Harazim) namakan catatan penting ini dengan “Menyelami lautan guna mengumpulkan ragam mutiara dan permaslahannya pada kata, ‘kami selami lautan sementara para nabi berada di tepiannya’.”
