You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Adab Menalqin Thariqah At-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Adab Menalqin Thariqah At-Tijaniyyah

Syaikh An-Nazhifi pun berkata tentang adab muqaddam ketika menalqin thariqah,

تَأَنَّ لَدَى التَّلْقِيْنِ كُنْ ذَا تَثَبُّتٍ # إِلَى أَنْ تَرَى حَقًّا مَصَادِيْقَ رَغْبَةِ

Berhati-hatilah ketika menalqin (wiridan thariqah At-Tijaniyyah), usahakan engkau telah bisa memastikan # sampai engkau bisa melihat keinginan yang tulus (untuk mengambil thariqah At-Tijaniyyah)

وَبَالِغْ لَدَيْهِ هِمَّةَ الْخَتْمِ وَاعْتَقِدْ # بِأَنَّكَ مِرْأَةٌ لَهُ فِي الْحَقِيقَةِ

Engkau harus punya himmahnya pemilik pangkat wali Khatm dan meyakini # bahwa engkau adalah cermin hakiki dari Syaikh Ra

وَلَقَّنْ جَمِيعَ مَنْ أَتَى فِيْهِ رَاغِبًا # مِنَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ ذُكُورٍ وَنِسْوَةِ

Talqinlah semua orang yang datang karena keinginan tulus (mengamalkan Tijany)# dari kalangan kaum muslimin; laki-laki dan perempuan

Dalam Bughyatul Mustafid disebutkan: Sebagian orang yang mengaku biasa menalqin, maka syaratnya dia harus mengetahui poros pembahasan yang terdapat dalam kitab Jawahirul Ma’ani dan kitab lainnya bahwa wiridan thariqah ini bisa di-talqin-kan pada setiap orang yang memintanya dari kaum muslimin apapun kondisinya; baik orang yang besar atau kecil, laki-laki atau wanita, orang yang ta’at atau yang bermaksiat, sehingga dengan perkataan ini yang bersangkutan terburu-buru untuk menalqin tanpa memastikan kondisi yang akan ditalqin. Sebenamya wiridan thariqah ini tidaklah ditalqinkan kecuali setelah menjabarkan ragam persyaratan thariqah dan ada simbol penerimaan yang sempuma dari yang akan di-talqin. Perkataan inilah yang sering dilenyapkan dari Jawahirul Maâni.

Perkataan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Orang yang telah mengambil wiridan thariqah ini dan meninggalkan keseluruhan atau meremehkan-nya, maka dia akan mendapat hukuman dan kehancuran di dunia dan akhirat.” Perkataan ini merupakan bagian dari wasiat Sayyidi Syaikh Ra dan merupakan lafazh yang berasal dari Sayyidil wujud Nabi Muhammad Saw.

Mengamalkan adab ini termasuk perkara penting dalam thariqah ini sebab jika yang bersangkutan meninggalkannya, maka itu akan menjadi sebab adanya hukuman dan kehancuran. Kami berlindung kepada Allah dari perkara ini. Allahlah yang senantiasa mengilhamkan pada kita semua ragam petunjuk dan kebenaran, serta yang telah memilihkan ragam gerakan dan ketenangan dalam gerak-gerik kita, yang menggiring kita ke arah husnul khatimah.

Perlu engkau ketahui, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan mengokohkan keimanan kita, menerangi pandangan lahir dan batin kita dengan cahaya kejujuran dan keistiqamahan dalam bersuluk. Thariqah Al Ahmadiyyah At-Tijaniyyah ini merupakan thariqah yang digandrungi oleh orang dan bukan thariqah yang menginginkan pengikut yang banyak, ia pun merupakan thariqah yang banyak dicari orang dan bukan yang banyak mencari pengikut, oleh sebab itu para muqaddam terdahulu berpesan agar jangan menampakkan thariqah ini dengan cara mengajak dan membuat orang tertarik, sekalipun itu adalah orang yang paling dicintainya dan keluarga yang paling dekat, akan tetapi perkara ini sepenuhnya diserahkan pada Allah semata, sebab Dialah yang paling pengasih dari dzat yang lainnya, yang paling penyayang daripada ibu dan bapaknya sampai Allah datangkan bimbingan yang mengarahkannya masuk ke dalam thariqah Ahmadiyyah At-Tijaniyyah. Dengan demikian dadanya pun lapang, ragam perkaranyapun mudah. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَاٰ مَنَ مَنْ فِى الْاَ رْضِ كُلُّهُمْ جَمِيْعًا ۗ اَفَاَ نْتَ تُكْرِهُ النَّا سَ حَتّٰى يَكُوْنُوْا مُؤْمِنِيْنَ
walau syaaa-a robbuka la-aamana mang fil-ardhi kulluhum jamii’aa, a fa angta tukrihun-naasa hattaa yakuunuu mu-miniin

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di Bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu (hendak) memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman?”
(QS. Yunus 10: Ayat 99)

Firman Allah Swt lainnya,

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِا لطَّا غُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِا لْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَا مَ لَهَا ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
laaa ikrooha fid-diin, qot tabayyanar-rusydu minal-ghoyy, fa may yakfur bith-thooghuuti wa yu-mim billaahi fa qodistamsaka bil-‘urwatil-wusqoo langfishooma lahaa, wallohu samii’un ‘aliim

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256)

Diriwayatkan dalam hadits Nabi Saw,

لَا تُطْعِمْ طَعَامَكَ مَنْ لَا يَشْتَهِيهِ

“Jangan kau beri makananmu pada orang yang tidak berselera memakannya.”

Dalam Bughyatul Mustafid disebutkan, “Aku tidak pemah melihat dan tidak pula mendengar orang-orang yang paling banyak mengejawantahkan ragam adab ini kecuali sahabat Sayyidi Syaikh Ra, yang mensahabati beliau semasa hidup Sayyidi Syaikh Ra, serta mendapatkan ijazah untuk layak menalqin wiridan Sayyidi Syaikh Ra.

Ketika ada orang yang hendak meminta ditalqin masuk ke dalam thariqah At-Tijaniyyah, mereka menaruh perhatian lebih kepadanya bahkan banyak mendo’akannya, mereka menguatkan pijakan yang bersangkutan sembari menyerahkan perkara tersebut pada himmah Sayyidi Syaikh Ra. Merekapun membantu urusan keduniawiannya, mereka pun tidak memiliki keunggulan daripada orang yang ditalqin olehnya masuk ke dalam thariqah At-Tijaniyyah, ragam usaha mereka memberikan nasehat dan petunjuk yang jelas dalam thariqah ini semata-mata mereka lakukan itu mengharapkan keutamaan dari Allah saja.

Diantara mereka tidak menalqinkan thariqah At-Tijaniyyah kecuali beristikharah terlebih dahulu dan benar-benar dalam kondisi bersandar pada Allah sesempurna mungkin. Diantara mereka pun ada yang melakukan shalat istikharah dengan menambahkan bacaan shalawat Fatih, dan menghadiahkan bacaan tersebut kepada Sayyidi Syaikh Ra seraya meminta izin dari beliau untuk menalqinkan wiridan kepada yang bersangkutan dengan berkata, “Si fulan ini meminta padaku agar aku menalginkan wiridanmu padanya, maka kini akupun menalqinkannya atas izin dan keberkahan himmah-mu.” Atau dengan redaksi semisalnya.

Diantara mereka pun ada yang aku lihat; ketika seorang muqaddam ingin menalqin kan wiridan thariqah At-Tijaniyyah, dia menyuruh muhibbin yang ingin ditalqin untuk datang waktu pembacaan wazhifah secara berjama’ah pada waktu biasa para ikhwan membacanya. Setelah wazhifah berjama’ah selesai, maka bisa ditanyakan kepada muhibbin tersebut; apakah terasa hadirnya jiwa ketika membaca wazhifah bersama tadi, jika muhibbin tersebut menjawab, bahwa jiwanya turut hadir saat membaca wazhifah tadi, maka ini pertanda bahwa yang bersangkutan telah diizinkan untuk ditalqin. Kemudian setelah itu muhibbin tersebut diminta untuk menghadapkan wajahnya ke ikhwan lainnya seraya sang muqaddam berkata, “Si fulan ini ingin minta ditalqinkan ‘Ahd Sayyidi Syaikh Ra (ditalqinkan wiridan thariqah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany).” Lalu sang muqaddam menalqinkannya wiridan thariqah At-Tijaniyyah setelah itu berdo’a dan mengajak semua ikhwan lainnya untuk mendo’akannya. Penjelasan tentang masalah ini sengaja aku jelaskan agak sedikit panjang agar menjadi pengingat diriku dan nasehat bagi para ikhwan serta mengarahkan agar adab dalam menalqin ini bisa diamalkan semampunya.

Syaikh An-Nazhifi telah menyinggung ini ketika menjelaskan tidak bolehnya mengaku-ngaku sebagai syaikh, seperti yang tergambar dalam sya’ir berikut:

وَمَنْ يَدَّعِي تَمَشْيُخًا فَهُوَ مُفْتَرٍ # وَمُسْتَجْلَبٌ بِذَاكَ كُلَّ بَلِيَّةِ

Orang yang mengaku-ngaku sebagai Syaikh, maka dia pembual #dan itu bisa menatangkan segala cobaan baginya

Diriwayatkan dari Ibnu Abdilah Sayyidi Muhammad Al Kansusi, beliau pernah berkata: Ketahuilah bahwa perantara yang terdapat dalam sanad ketika dzikiran ditalqinkan dari para masyayikh, itu tidak berarti apa-apa, sehingga hal ini tidak bisa menjadi dalih bahwa yang bersangkutan berhak menyandang predikat syaikh, atau juga yang bersangkutan mengaku-ngaku atau menunjukkan perkara yang sampai ikhwan mengira sosoknya memiliki kemuliaan seperti halnya Sayyidi Syaikh Ra atau juga memiliki kedudukan seperti halnya kedudukan Sayyidi Syaikh Ra. Jika demikian pengakuannya, maka ini adalah perkara dusta yang memancing kemurkaan Allah.

Sejatinya yang bersangkutan sama saja dengan para ikhwan lainnya, tidak ada yang lebih, hanya saja beliau memiliki izin untuk menalqin saja, tidak yang lain. Terkecuali jika yang bersangkutan memang bersungguh-sungguh melakukan amaliyah seperti para masyayikh dan melakukan suluk seperti para ulama terdahulu hingga beliau menempati maqam qurb dengan Allah dan Rasulullah serta yang bersangkutan mendapatkan izin khusus untuk mentarbiyah ikhwan, maka ketika inilah dia pantas mendapatkan sebutan Syaikh lantaran dia senantiasa mendapatkan kucuran faidh ruhani langsung dari Rasulullah Saw.

Dengan demikian muqaddam awal yang melaqinkannya wiridan thariqah mendapatkan pahala dari perantara sanad thariqah dan juga pahala orang yang menunjukkan jalan kebaikan dan membantunya.

Terkait dengan ikhwan yang ditalqin, haruslah memperhatikan hal tersebut serta memberikan setiap hak daripada setiap martabat yang ada. Maka Sayyidi Syaikh Ra memiliki hak yang sempuma setelah kemuliaan Allah dan Rasul-Nya. Sementara terkait hak perantara dalam thariqah, maka ini jauh berbeda, baginya sepatutnya diberikan ungkapan syukur dan juga mendo’akannya, hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Saw,

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

“Barangsiapa yang belum bersyukur kepada manusia berarti dia belum bersyukur kepada Allah.”

Beliaupun pernah berkata, “Bersyukur kepada orang-orang yang menjadi perantara dalam thariqah itu hukumnya wajib, sebab jika bukan lantaran keterkaitan dengan parantara, maka perkaranya pun tidak akan berguna.”

Rujuk kembali apa yang telah kami paparkan dari kitab Adz-Dzahab Al Ibriz fi Manaqib Al Quthb Ad-Dibagh. Dalam kitab Bughyatul Mustafid disebutkan bahwa tarbiyah dalam thariqah At-Tijaniyyah ini tidak dilarang sebagaimana dugaan sebagian ikhwan, yang dilarang adalah menonjolkan diri dengan pengakuannya (sebagai seorang syaikh) bermodalkan pakaian masyayikh, dimana yang bersangkutan membenci menonjol-nonjolkan diri, sementara dirinya membuka jalan ke arah itu.

Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani pernah berkata, “Orang-orang yang Arifbillah meninggalkan jalan menonjol-nonjolkan diri di zaman ini adalah perkara yang benar. Seseorang tidak akan membuka jalan ini (menonjol-nonjolkan diri) kecuali dia adalah orang yang Allah telah butakan mata batinnya diantara orang-orang yang menjadikan pangkat tersebut sebagai sarana mencari uang.”

Cek kembali dalam Ad-Durrah Al berisikan Kharidah, engkau akan temui pula pembahasan ini dalam Bughyatul Mustafid yang penjelasan yang memadai tentang perkara ini. Kemudian beliau menutup pembahasan ini dengan tiga bait yang menjelaskan tentang ragam perkara yang wajib dilakukan oleh seorang murid Tijany kepada muqaddam; yaitu beliau memiliki hak untuk dihormati; ini tergambar dalam sya’ir beliau:

وَلَا بُدَّ مِنْ تَعْظِيمِ كُلِّ مُقَدَّمٍ # وَ كُلِّ خَلِيْفَةٍ مِنْ إِنْسٍ وَجِنَّةِ

Seharusnya (seorang ikhwan) mengagungkan setiap muqaddam, # dan semua khalifah dari kalangan manusia dan jin

لَهُمْ حُرْمَةٌ كَحُرْمَةِ الشَّيْخِ فَارْعَهَا # وَكُنْ بَاذِلًا لَهُمْ صَفَاءَ مَوَدَّةِ

Mereka memiliki kehormatan seperti kehormatan Syaikh Ra maka peliharalah itu # dan hendaknya engkau mengerahkan kecintaan yang tulus (pada mereka)

فَهُمْ مِثْلُ آبِاءِ بَلْ أَعْظَمُ مِنَّةٍ # فَقَامُوا المَقَامَ فِي الدُّعَاءِ بِحِكْمَةِ

Mereka itu seperti ayah, bahkan mereka adalah karunia yang lebih besar # pada posisi itu mereka menyeru (pada Allah) dengan hikmah

Maksud sya’ir ini pun telah jelas, sehingga kami tidak perlu menukil ragam perkataan untuk menguatkan ulasan pada perkara ini. Bagi yang ingin mengkaji lebih dalam silahkan buka kembali kitab Ad-Durrah Al Kharidah. Ulasan mengenai ini insya Allah akan kami bahas kembali ketika menyebutkan pembagian tipikal muqaddam; perbedaan antara muqaddam dengan khalifah.

Sumber : BUKU MUQADDAM TIJANY HAK DAN KEWAJIBAN (HUSHULUL AMANI FIL MUQADDAMIT-TIJANY) SYAIKH ABU BAKAR ‘ATIQ IBN AL ‘ALIM KHIDR AL KANASYI AT-TIJANY