You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Adab Muqaddam Kepada Ikhwan Thariqah At-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Adab Muqaddam Kepada Ikhwan Thariqah At-Tijaniyyah

Redaksi,

وَلَا تُثْبِتَنَّ لِلنَّفْسِ قَدْرًا مَزِيَّةَ # بِتَلْقِيْنِ وِرْدِ الخَتْمِ تَاجِ الْأَئِمَّةِ

“Jangan sampai engkau menetapkan keistimewaan akan kedudukan dirimu #dengan bisa menalqinkan wiridan sang mahkotanya para imam; sang pemilik maqam Al Khatm.”

Disebutkan dalam Bughyatul Mustafid. “Diminta dari seorang muqaddam agar ia dapat menurunkan haknya untuk mendapatkan pengagungan dari ikhwan, dan menghiasi diri dengan sikap tawadhu’ ketika bersama mereka, janganlah ia menganggap bahwa dirinya memang memiliki kelebihan dan keistimewaan diatas mereka (para ikhwan).”

Kemudian beliau berkata, “Semua perkara ini dilakukan dengan catatan tidak sampai menghinakan dirinya (muqaddam), yaitu yang melampaui batasan seperti menjilat. Jika tidak, maka ini malah akan menimbulkan fitnah bagi orang yang diikuti dan juga pengikutnya, kami memohon perlindungan kepada Allah dari perkara tersebut.-

Haruslah keadilan dijadikan neraca ketika muqaddam menurunkan dan bersikap loyal kepada ikhwan. Sebab, sikap itu dibuat untuk suatu hajat tertentu dan bukan yang lainnya. Jika sikap ini nampak lantaran sebuah hajat, maka harus pula ditakar kadamya sehingga tidak terjadi keteledoran dan juga pembiaran. Manusia dalam kondisi ini, maka kondisinya sesuai dengan apa yang terbesit di dalam kalbu mereka, yang merupakan atsar-nya sisi keagungan dan keindahan Allah, maka tidak ada perbincangan dengan kedua kelompok ini kecuali perkataan yang sesuai dengan kondisinya, dan semua perkataannya itu haruslah disesuaikan dengan dirinya dan yang biasa terjadi pada dirinya.

Disebutkan dari sebagian orang, dia berkata, “Kami jadi ingat akan sebuah sya ir saat kami bersama Muhammad bin Sirin, dia mengatakan dan juga bercanda di rumahnya, dia mencandai kami dengan apa yang ada pada diri kami, sehingga kamipun keluar dari rumahnya dengan kondisi tertawa terbahak-bahak. Kamipun pemah keluar dari rumahnya Al Hasan dalam kondisi menangis.” Dengan kata lain, perkara loyal ini tidak bisa diletakkan pada neraca keseimbangan, kecuali pada orang yang jiwanya kuat dan dia mengetahui beragam akhlak mulia dengan segala tabi’atnya, bahkan sampai ia bisa berdiri pada batasan keseimbangan tersebut.

Para ulama berkata, “Tidak benar seorang muqaddam itu menurunkan kadar dirinya dan loyal terhadap ikhwan, yaitu dengan bercanda kepada ikhwan yang sisi bathinnya belum ber-tarqiyyah dari kondisi jiwa mereka yang jernih dan memiliki pengetahuan yang mantap untuk menuju Allah, yang terlihat dari dominasi kesungguhan pada dirinya, hal ini bertujuan agar ikhwan itu terseret pada hal menyepadankan tabiat dirinya dengan tabi’at para ulama kamil selamanya, yang mengarah pada kerugian bagi sang ikhwan dan tidak tergerak untuk mencari jalan menuju Allah. Singkat kata, pembahasan ini jika dipaparkan akan menyebabkan ulasan yang sangat panjang, cukuplah kami menunjukkan beberapa hal penting yang harus dipahami. Wallahu a’lam.”

Sumber : BUKU MUQADDAM TIJANY HAK DAN KEWAJIBAN (HUSHULUL AMANI FIL MUQADDAMIT-TIJANY) SYAIKH ABU BAKAR ‘ATIQ IBN AL ‘ALIM KHIDR AL KANASYI AT-TIJANY