
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui bahwa yang ada dalam ayat ini adalah Allah Swt bukannya tidak mengetahui kondisi nabi Ibrahim As bahwa dirinya beriman bahwa Allah Swt mampu menghidupkan orang yang mati, diapun tidak ragu bahwa Allah mampu menghidupkan orang yang mati, akan tetapi nabi Ibrahim As ingin berproses dari ilmu yaqin menuju ainul yakin.
Perkara yang wajib diketahui disini adalah bahwa nabi Ibrahim As tidak mungkin berani mengajukan pertanyaan itu kecuali nabi Ibrahim As memiliki kedudukan yang khusus di sisi Allah Swt daripada para utusan Allah yang lainnya, jika tidak demikian lantas siapa yang berani mengajukan pertanyaan semisal ini. Inilah rahasia ketetapan Allah yang Dia sembunyikan dari makhluk-Nya. Sebab, ragam tajalli Allah Swt yang nampak di alam ini, kita sebagai makhluk hanya bisa menyaksikan gambaran dan juga wujud nyatanya saja. Sedangkan sisi yang tersembunyi dari hal ini adalah ragam rahasia ilahiyyah yang tidak bisa dinalar, hanya Allah yang mengetahui rahasia ini. Jika ada makhluk yang meminta untuk disingkapkan dari rahasia ini, maka Allah pun akan menolaknya; baik menolaknya dari sisi kedekatan dengan-Nya; dengan adanya hijab (tirai penghalang) pada hadhrah-Nya, kami memohon perlindungan dari hal itu; baik dengan cara pertanyaan itu tetap diajukan namun Allah Swt tidak menjawabnya, jika hal tersebut muncul dari sosok yang memiliki kekhususan di sisi Allah; dan dengan pembelajaran yang pedih berupa turunnya adzab sebagai balasan baginya. Sebab, rahasia ketentuan Allah Swt yang sisi tersembunyinya adalah bentuk tajalliyat Allah Swt, Dia sembunyikan hal ini dari makhluk-Nya, Dia tidak singkapkan untuk satupun makhluknya.
Oleh karena itu, Allahpun memberikan pelajaran pada sosok yang memiliki kekhususan di sisi-Nya sekalipun ia memiliki kedudukan yang tinggi, seperti nabi Nuh As yang Allah ajarkan adab dalam firman-Nya,
قَا لَ يٰـنُوْحُ اِنَّهٗ لَـيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚ اِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَا لِحٍ فَلَا تَسْـئَــلْنِ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنِّيْۤ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ
qoola yaa nuuhu innahuu laisa min ahlik, innahuu ‘amalun ghoiru shoolihing fa laa tas-alni maa laisa laka bihii ‘ilm, inniii a’izhuka ang takuuna minal-jaahiliin
“Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.””
(QS. Hud 11: Ayat 46)
Dia memberikan toleransi pada nabi Ibrahim As dan Allah perlihatkan padanya rahasia itu secara kasat mata, inilah yang dipinta oleh nabi Ibrahim As dengan pertanyaannya tersebut.
Redaksi, قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ” Tidakkah engkau mempercayai nya?” ini merupakan kalimat pertanyaan yang digunakan untuk bertanya namun mengindikasikan keingkaran akan apa yang ditanya; maksudnya adalah, bahwa Allah mengetahui kadar keimanan nabi Ibrahim As, akan tetapi kalimat yang bermuatan keingkaran ini sumbernya adalah celaan, seolah-olah Allah Swt mengatakan, “Sungguh engkau adalah orang yang beriman bahwa Aku mampu menghidupkan orang yang mati, lantas apa alasanmu bertanya lagi?” Andai untuk menghidupkan orang yang mati saja engkau telah mengimani bahwa Aku mampu melakukan itu, namun jika permohonanmu adalah untuk menyingkap rahasia-Ku, maka rahasia-Ku tidak akan Kusingkapkan untuk selain-Ku.
Redaksi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اَرِنِيْ كَيْفَ تُحْيِ الْمَوْتٰى ۗ قَا لَ اَوَلَمْ تُؤْمِنْ ۗ قَا لَ بَلٰى وَلٰـكِنْ لِّيَطْمَئِنَّ قَلْبِيْ ۗ قَا لَ فَخُذْ اَرْبَعَةً مِّنَ الطَّيْرِ فَصُرْهُنَّ اِلَيْكَ ثُمَّ اجْعَلْ عَلٰى كُلِّ جَبَلٍ مِّنْهُنَّ جُزْءًا ثُمَّ ادْعُهُنَّ يَأْتِيْنَكَ سَعْيًا ۗ وَا عْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
wa iz qoola ibroohiimu robbi arinii kaifa tuhyil-mautaa, qoola a wa lam tu-min, qoola balaa wa laakil liyathma-inna qolbii, qoola fakhuz arba’atam minath-thoiri fa shur-hunna ilaika summaj’al ‘alaa kulli jabalim min-hunna juz-ang summad’uhunna ya-tiinaka sa’yaa, wa’lam annalloha ‘aziizun hakiim
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.” Allah berfirman, “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab, “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).” Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 260)
Makna ketenangan adalah redanya ketakutan dan hinggapnya ketetapan hati dari rasa takut lantaran adanya ketidaktetapan dan keraguan, dugaan, rasa malu dan adanya perbedaan, inilah kemantapan hati. Kemantapan hati nabi Ibrahim As adalah apabila pemilik rahasia mengatakan langsung padanya, sebab setiap manusia akan disampaikan pada sirr-Nya, sirr inilah yang akan menjawab, mempertanyakan, menjawab keraguan, menjawab dugaan atau sangkaan (rasa was-was) sesuai dengan firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
wa laqod kholaqnal-ingsaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil-wariid
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 16)
Nabi Ibrahim As ingin jika Dzat yang menceritakan rahasia berbicara padanya tentang keimanannya; Allah mampu menghidupkan orang yang mati, dia ingin Allah berfirman, “Apakah engkau telah melihatnya?” Andai engkau belum pernah melihatnya lantas bagaimana engkau yakin bahwa itu bisa terjadi, maka nabi Ibrahim pun ingin kalbunya mantap sehingga meminta agar Allah memperlihatkan pada kasat matanya tentang hakikat itu.
-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
