You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 36. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Al-Hadid 57: Ayat 4),
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَ رْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra: Demikian teks pertanyaannya:

Bismillahirrahmanirrahîm, washallallahu ‘Ala Sayyidina Muhammadin wa Alihi wa Shahbih wa Sallama Tasliman. Semoga Allah ridha kepada baginda dan akupun ridha kepada baginda, semoga Allah memperpanjang umur baginda dalam rangka memberikan manfaat bagi hamba Allah di semua negara, ketetapan antum cukuplah bagiku, dimana jawaban baginda yang tuntas dapat memberikan pencerahan dan menyembuhkan yang sakit. Aku ingin bertanya tentang makna “ma ‘iyyah,” yang ada dalam firman Allah Swt,

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ فِيْ سِتَّةِ اَيَّا مٍ ثُمَّ اسْتَوٰى عَلَى الْعَرْشِ ۗ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى الْاَ رْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيْهَا ۗ وَهُوَ مَعَكُمْ اَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
huwallazii kholaqos-samaawaati wal-ardho fii sittati ayyaaming summastawaa ‘alal-‘arsy, ya’lamu maa yaliju fil-ardhi wa maa yakhruju min-haa wa maa yangzilu minas-samaaa-i wa maa ya’ruju fiihaa, wa huwa ma’akum aina maa kungtum, wallohu bimaa ta’maluuna bashiir

“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa; kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar dari dalamnya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik ke sana. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 4)

Juga firman Allah SWT,

اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَا بِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَا دِسُهُمْ وَلَاۤ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَاۤ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَا نُوْا ۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
a lam taro annalloha ya’lamu maa fis-samaawaati wa maa fil-ardh, maa yakuunu min najwaa salaasatin illaa huwa roobi’uhum wa laa khomsatin illaa huwa saadisuhum wa laaa adnaa ming zaalika wa laaa aksaro illaa huwa ma’ahum aina maa kaanuu, summa yunabbi-uhum bimaa ‘amiluu yaumal-qiyaamah, innalloha bikulli syai-in ‘aliim

“Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 7)

Dan juga ayat lain yang semisal dengan ayat-ayat ini; akupun juga ingin bertanya tentang makna, “Al Qurb,” dalam firman-Nya,

وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلٰـكِنْ لَّا تُبْصِرُوْنَ
wa nahnu aqrobu ilaihi mingkum wa laakil laa tubshiruun

“dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 85)

Dan juga firman-Nya,

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهٖ نَفْسُهٗ ۖ وَنَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ
wa laqod kholaqnal-ingsaana wa na’lamu maa tuwaswisu bihii nafsuh, wa nahnu aqrobu ilaihi min hablil-wariid

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(QS. Qaf 50: Ayat 16)

Para ulama berbeda pendapat lantaran perbedaan pemahaman mereka akan ayat-ayat diatas. Diantara mereka ada yang mengatakan, “(Dia) bersama kalian dengan ilmu-Nya,” yang lainnya ada yang mengatakan, “(Dia) bersama kalian dengan Dzat-Nya.” Dimana setiap mereka memiliki dail penguat tersendiri, terkecuali diantara mereka ada yang mengatakan, “Dia bersama kalian dengan ilmu-Nya,” tujuannya adalah menjauh dari pemikiran bahwa Allah Swt bisa bergabung dengan makhluk dan Dzatnya tidak terikat dengan sebuah sisi. Sedangkan orang yang mengatakan, “(Dia) bersama kalian dengan Dzat-Nya,” maka pasti akan ada pihak yang menentang anggapan ini dengan dalil yang bertentangan dengan madzhab yang dia yakini. Oleh karena itu, kami menginginkan agar baginda menjelaskan hal ini kepada kami dengan kalimat yang jelas dan jawaban yang memuaskan, semoga Allah membalas baginda dengan balasan yang baik. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Hanya Allahlah yang memberikan taufik pada kebenaran dengan kemurahan-Nya.

Perlu diketahui bahwa perkara kebersamaan Allah pada segala sesuatu dan juga kedekatan-Nya dengan sesuatu merupakan dua sifat jiwa yang ikut pada inti Dzat, sebagaimana inti Dzat-Nya tidak dapat dinalar dan tidak ada pula cara yang mengarahkan kita bisa mencium semerbak wewangian untuk mengetahui hakikat-Nya, maka tidak ada pula cara untuk mengetahui kebersamaan dan kedekatan Allah Swt pada segala sesuatu. Dialah Allah Swt yang bersama dengan segala sesuatu dengan Dzat-Nya, Diapun lebih dekat pada segalanya dengan Dzat-Nya dengan sisi yang tidak bisa dinalar oleh akal pikiran.

Dzat Allah luhur dan tersucikan dari semua batasan, ukuran dan ruang dengan semua hal yang berkaitan dengannya seperti masuk dan keluar, dekat dan jauh, ketersambungan dan keterpisahan, bisa bergabung (dengan makhluk) dan dikhususkan dengan suatu sisi, atau mencakup hal yang menunjukkan tempat atau juga gambaran atau warna atau ukuran besar dan kecil dan lain-lainnya yang mengarah pada kondisi benda, seperti bisa mengalir, dapat bergerak, dapat diam, atau berupa seisi alam yang ada ini atau menjadi bagian dari alam semesta ini dan lain sebagainya sampai titik puncak terakhir dari batasan satu jasad yang sangat banyak namun kami tidak ingin membahasnya panjang lebar disini.

Oleh karena itu, dugaan dan juga nalar pikiran tidak bisa disematkan pada-Nya, karena pada ranah akal pikiran, dugaan maupun akal pikiran tidak keluar dari pembahasan yang terkait dengan jasad dan kelengkapannya, maka inti Dzat Allah Swt yang luhur dapat diketahui diluar nalar, panca indera dan juga pemikiran, hal ini seperti yang dikemukakan oleh para pembesar wali, “Tidak dapat diperumpamakan dalam jiwa dan tidak bisa dikhususkan dalam akal, tidak tergambar pada dugaan, tidak dapat direka dalam akal dan pemikiran tidak mampu mencakup-Nya, Dzatnya tidak terbatasi dengan sisi dan juga tempat.”

Maka ketika akal dan pikiran tidak keluar dari cakupan tadi, maka Rasulullah Saw menolak untuk menyelami sisi ini dengan sabda beliau,

تَفَكَّرُوا فِي الخَلْقِ، وَلَا تَفَكَّرُوْا فِي الْخَالِقِ، فَإِنَّكُمْ لَا تُقَدِّرُوْنَ قَدْرَهُ

“Bertafakurlah tentang makhluk dan jangan bertafakur tentang Sang Pencipta, karena sungguh kalian tidak mampu memperkirakan kadar-Nya.

Seperti inilah seharusnya untuk mengetahui inti dzat Allah Swt. Sungguh kebersamaan dan kedekatan Allah Swt pada segala sesuatu adalah kebersamaan dan kedekatan Dzat-Nya dimana itu adalah dua sifat dzat yang pemikiran manusia terhenti dan tidak mampu menggapai inti Dzat Allah Swt. Memikirkan hal ini merupakan perkara yang tidak diperbolehkan sebab tidak ada pemikiran dan akal manusia yang bisa sampai pada inti Dzat Allah Swt. Begitu juga perihalnya dengan dua sifat diatas (kebersamaan dan kedekatan Dzat-Nya), maka sifat ini dapat diketahui dengan pemikiran diluar nalar manusia dan panca indera, sehingga tidak lagi ada ketersambungan dan keterpisahan, tidak pula ada jarak dekat maupun jauh, tidak pula ditanya dimana Dzat-Nya, tidak ada sisi hulul (menyatu pada makhluk), tidak terikat dengan tempat, tidak pula terikat dengan masuk dan keluar, tidak ada keterbilangan Dzat dengan ragam kebersamaan Dzat-Nya.

للمرة

Ada sisi lain yang bisa engkau pikirkan; yaitu pada makhluk Allah: Seorang penghuni surga memiliki bidadari yang jumlahnya berlipat-lipat daripada jumlah malaikat, meski demikian lelaki ini bisa berhubungan intim dengan semuanya pada satu waktu, dimana setiap dari bidadari pun merasakan kenikmatan pada waktu yang sama, lelaki itu berhubungan intim dengan setiap bidadari pada satu tempat, dirinya satu, dimana yang lainnya tidak ikut serta pada satu tempat tersebut. Engkau dapat memikirkan ini jika engkau berpikir diluar nalar dan pemikiran, dimana pada sisi kemampuan Allah Swt, hal ini bisa saja terjadi.

Inilah yang terjadi, jika orang yang masih mengandalkan keterbatasan akal dan belum juga menerima, maka kisah diatas telah ditunjukkan dalam hadits shahih, yang makna haditsnya adalah, bahwa ada seorang lelaki dari penghuni surga berhubungan intim dengan perempuannya pada satu hari dari lamanya waktu dunia, dia menetap untuk setiap kali berhubungan intim dengan kadar 70 tahun pada satu hari dari ukuran hari dunia. semua

Jika engkau telah tahu perkara ini pada sisi makhluk dan engkau benarkan kejadian itu, maka jadikanlah itu pijakan untuk memperbaiki pemahaman definisi kedekatan dan kebersamaan Dzat Allah pada setiap makhluk, pada setiap waktu tanpa ada yang didahulukan maupun diakhirkan, tanpa perpisahan dan tanpa keterbilangan. Sampai disinilah kiranya pembahasan ini sudah cukup bagi orang yang benar-benar memikirkannya.

Terkait adanya bantahan dalam pertanyaan diatas bahwa keterbilangan Dzat Allah Swt melazimkan adanya keterbilangan pada hal-hal yang mungkin terjadi, pada percampuran dan lain sebagainya.

Jawaban untuk perkara ini: Ini adalah khayalan yang berdasarkan dugaan yang rusak, ini dalam konteks akal pikiran dan panca indera. Kami telah katakan bahwa kedekatan dan kebersamaan Allah Swt dengan makhluk itu diluar batasan panca indera dan akal pikiran, akal dan panca indera tidak mampu mengetahui hakikat kedekatan dan kebersamaan Allah Swt pada makhluk-Nya; maksudnya adalah bahwa kedekatan dan kebersamaan tadi belum dapat menggali inti dzat Allah yang sebenarnya. Kamipun telah katakan, bahwa mengetahui seluk-beluk inti Dzat Allah yang luhur sangatlah jauh dari pengetahuan panca indera dan akal pikiran manusia, begitu juga kebersamaan dan kedekatan Dzat-Nya sangat jauh jika dinalar oleh panca indera dan akal pikiran, maka khayalan dan dugaan ini pun gugur; khayalan yang dengannya melazimkan ragam perkara yang melingkupi Dzat Allah yang berkaitan dengan makhluk, dimana perkara inipun berbilang sesuai dengan jumlah bilangan perkara yang mungkin terjadi pada makhluk, semuanya ini pada batasan panca indera dan akal pikiran. Sementara kami (Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra) telah mengatakan, bahwa inti Dzat Allah yang luhur serta kedekatan-Nya pada makhluk berdasarkan perkara yang diluar jangkauan akal dan panca indera, dengan itulah khayalan panca indera dan akal pikiran terkait ragam perkara yang lazim ada pada sisi Dzat-Nya itu menjadi gugur.

Sementara pernyataan yang mengatakan, bahwa keberadaan Dzat Allah Swt pada makhluk dengan sifat-Nya; baik sifat mampu, sifat kehendak, sifat ilmu dan ragam sifat lainnya.

Jawaban untuk pernyataan ini: Pernyataan ini akan melazimkan adanya penisbatan sisi dan juga kemungkinan Dzat-Nya bergabung dengan makhluk, dan ini bathil (tidak dibenarkan). Penjelasannya demikian, bahwa ketika kebersamaan Dzat Allah Swt dengan makhluk bentuknya adalah hulul, maka ini melazimkan Dzat-Nya keluar dari semua tatanan yang ada, bahkan mau tidak mau Diapun harus keluar dari bola dunia ini dengan sendirinya, sehingga ini melazimkan dua perkara; bahwa Dzatnya meliputi alam yang ada, dimana Dzat Allah Swt sebagai bagian dari bola dunia dan ini mustahil, sebab ini berkaitan dengan ikatan jasad. Jika toh dikatakan bahwa Dzat Allah Swt tidak meliputi bola dunia, maka kondisi ini mengarah pada pengkhususan Dzat-Nya dengan suatu sisi dari sisi-sisi bola dunia; baik itu bagian atas, bagian bawah, kanan, kiri, belakang, depan. Sebab, ketika ada orang yang mengatakan, bahwa Dzat Allah Swt keluar dari bola dunia ini, maka hal itu melazimkan cakupannya atau dikhususkan dengan salah satu sisi bola dunia, dimana kedua hal ini sangatlah mustahil dalam akal pikiran, maka tidak ada yang tersisa kecuali bahwa Dzat Allah Swt bersama makhluk sesuai dengan sifat yang cocok dengan keagungan Dzat-Nya. Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan. -Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sedangkan “Al Ma’iyyah,” yang tertera dalam beberapa ayat, maka sebagian maknanya adalah sebagai perlindungan, seperti yang tertera dalam firman-Nya,

قَا لَ لَا تَخَا فَاۤ اِنَّنِيْ مَعَكُمَاۤ اَسْمَعُ وَاَ رٰى
qoola laa takhoofaaa innanii ma’akumaaa asma’u wa aroo

“Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 46)

Firman Allah Swt lainnya,

اِلَّا تَـنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَا نِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَا رِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَا حِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَا ۚ فَاَ نْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَـتَهٗ عَلَيْهِ وَاَ يَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰى ۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
illaa tangshuruuhu fa qod nashorohullohu iz akhrojahullaziina kafaruu saaniyasnaini iz humaa fil-ghoori iz yaquulu lishoohibihii laa tahzan innalloha ma’anaa, fa angzalallohu sakiinatahuu ‘alaihi wa ayyadahuu bijunuudil lam tarouhaa wa ja’ala kalimatallaziina kafarus-suflaa, wa kalimatullohi hiyal-‘ulyaa, wallohu ‘aziizun hakiim

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 40)

Firman Allah Swt lainnya,

قَا لَ كَلَّا ۚ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
qoola kallaa, inna ma’iya robbii sayahdiin

“Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.””
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 62)

Maksudnya adalah kebersamaan dalam kemenangan dan juga bentuk perlindungan-Nya. Firman Allah Swt lainnya,

فَلَا تَهِنُوْا وَتَدْعُوْۤا اِلَى السَّلْمِ ۖ وَاَ نْـتُمُ الْاَ عْلَوْنَ ۖ وَا للّٰهُ مَعَكُمْ وَلَنْ يَّتِـرَكُمْ اَعْمَا لَـكُمْ
fa laa tahinuu wa tad’uuu ilas-salmi wa angtumul-a’lauun, wallohu ma’akum wa lay yatirokum a’maalakum

“Maka janganlah kamu lemah dan mengajak damai, karena kamulah yang lebih unggul, dan Allah (pun) bersama kamu, dan Dia tidak akan mengurangi segala amalmu.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 35)

Firman Allah Swt lainnya,

وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَا زَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَا صْبِرُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ 
wa athii’ulloha wa rosuulahuu wa laa tanaaza’uu fa tafsyaluu wa taz-haba riihukum washbiruu, innalloha ma’ash-shoobiriin

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 46)

Firman Allah Swt lainnya,

فَلَمَّا فَصَلَ طَا لُوْتُ بِا لْجُـنُوْدِ ۙ قَا لَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْکُمْ بِنَهَرٍ ۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْ ۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِ نَّهٗ مِنِّيْۤ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِۢيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ ۙ قَا لُوْا لَا طَا قَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَا لُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَا لَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ کَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً کَثِيْرَةً بِۢاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
fa lammaa fashola thooluutu bil-junuudi qoola innalloha mubtaliikum binahar, fa mang syariba min-hu fa laisa minnii, wa mal lam yath’am-hu fa innahuu minniii illaa manightarofa ghurfatam biyadih, fa syaribuu min-hu illaa qoliilam min-hum, fa lammaa jaawazahuu huwa wallaziina aamanuu ma’ahuu qooluu laa thooqota lanal-yauma bijaaluuta wa junuudih, qoolallaziina yazhunnuuna annahum mulaaqullohi kam ming fi-ating qoliilatin gholabat fi-atang kasiirotam bi-iznillaah, wallohu ma’ash-shoobiriin

“Maka ketika Talut membawa bala tentaranya, dia berkata, “Allah akan menguji kamu dengan sebuah sungai. Maka barang siapa meminum (airnya), dia bukanlah pengikutku. Dan barang siapa tidak meminumnya, maka dia adalah pengikutku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Tetapi mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Talut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 249)

Firman Allah Swt lainnya,

اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَّا لَّذِيْنَ هُمْ مُّحْسِنُوْنَ
innalloha ma’allaziinattaqow wallaziina hum muhsinuun

“Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 128)

Semua hal yang berkenaan dengan “Kebersamaan Dzat Allah,” maka sungguh ini adalah kebersamaan khusus; kebersamaan dalam arti perhatian Allah dan perlindungan-Nya. Maka terkait dengan “Kebersamaan dengan Dzat Allah,” maka Dzat-Nya tidak dikhususkan dengan kemenangan dan juga perlindungan saja. Dia ada bersama segala sesuatu dalam segala kondisi sesuatu tersebut; baik Dzat-Nya bersama dengan musuh, orang yang dicintai: baik posisinya dekat atau jauh, maka Dzatnya seperti yang telah kami sebutkan tadi.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra di majelis beliau.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY