
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
فَاِ ذَا سَوَّيْتُهٗ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ فَقَعُوْا لَهٗ سٰجِدِيْنَ
fa izaa sawwaituhuu wa nafakhtu fiihi mir ruuhii faqo’uu lahuu saajidiin
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku ke dalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
(QS. Al-Hijr 15: Ayat 29)
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui, pembahasan mengenai khilafah sudah kami kemukakan pada sebagian jawaban sebelumnya. Sementara terkait dengan makna “An-Nafkhu,” maka maksudnya adalah peletakan ruh ke dalam jasad. Dinamakan demikian lantaran berasal dari Allah Swt yang penuh dengan kasih sayang. Allah Swt mengembalikan bahasa jiwa pada Dzat-Nya, itu karena manusia adalah makhluk ciptaan-Nya. Manusialah yang Allah Swt khususkan dengan agungnya perhatian, kecintaan, kemuliaan Allah padanya dan Allah pun meninggikan martabat manusia dari segenap makhluk ciptaan-Nya. Inilah alasan kenapa ruh itu dikembalikan pada Dzat Allah Swt. Yang disebutkan dalam ayat ini adalah ruh hayawani yang mengatur dan menampakkan kehidupan pada jasad.
Ruh inilah yang ditiupkan pada jasad nabi Adam As, yang inti dari ruh ini adalah berasal dari sisi ruh ilahiyyah yang dengannya kemudian manusia patut menyandang kesempurnaan dan keunggulan daripada ruh makhluk yang lain. Tidak ada ruh makhluk lain yang menandingi keunggulan nuh manusia. Ruh Allah yang Maha Suci itulah yang ditiupkan pada ruh nabi Adam As dan bukan ditiupkan pada jasad nabi Adam As, sedangkan ruh hayawani Allah tiupkarı pada jasadnya, dengan itulah jasad akan bisa berfungsi.
Sementara ruh yang ada pada hewan, maka ruh Allahı yang Maha Suci itu ditiupkan pada ruh hewan dari ruh nabi Adam As, sebagaimana jasad nabi Adam As layaknya botol bagi ruh hayawaninya, begitu juga ruh hayawani nabi Adam As adalah botol dari ruh Allah yang Maha Suci. Dengan itulah ruh Allah yang Maha Suci memberikan keluhuran dan kesempurnaan pada ruh nabi Adam As daripada ruh makhluk yang lain. Lantaran sebab ruh Allah yang Maha Suci inilah ruh sisi hayawani memiliki sifat hidup abadi. Karena yang ada pada ruh hayawani inilah yang tak lain memberikan fungsi kehidupan, dapat merasakan dan juga membuat tubuh bisa bergerak serta beragam hal yang dibutuhkan oleh jasad.
Mengenai ruh Allah yang Maha Suci, Allah Swt memberikan kesempurnaan ilmu pada ruh hayawani tentang hadhrah Allah Swt yang disifati dengan keagungan, kesombongan, keperkasaan, keluhuran dan ketinggian Dzat-Nya, juga mencakup beragam Asma Al Husna dan ragam sifat Allah yang mulia. Allah pun memberikan kesempumaan ilmu tentang beragam hak hadhrah ilahiyyah dari kesempurnaan adab, kesempurnaan pengagungan, kesempurnaan cinta dan perhatian, kesempurnaan pengkhususan diri pada Allah dan mengabaikan ragam nasib dan senantiasa memperhatikan nasib tersebut. Allah Swt pun memberikan ilmu dengan apa yang diinginkan darinya, kenapa ia tercipta dan dimana posisi dari beragam lapisan kehidupan. Allahpun memberikan pengetahuan padanya tentang hakikat adab yang diinginkan darinya dalam setiap kondisi. Maka lantaran semua yang diberikan ruh Allah yang Maha Suci kepada ruh hayawani inilah, ia menjadi khalifah Allah di semua alam ini yang dapat menghukumi dan berbuat dengan apa yang dia inginkan, maka dengan inilah ruh tersebut wajib ta’at kepada Allah dengan ketaatan yang tidak berujung pada kemaksiatan. Hal ini tidak dapat dilakukan kecuali semata lantaran kemanunggalan Allah Swt semata.
Ketika Allah memberikan kesempurnaan pada ruh hayawani dan ia menjadi khalifah Allah bagi semua alam, maka ruh inilah yang harus menerapkan hukum Allah Swt dan menjalankan tugas dirinya pada semua alam yang ada, sebagaimana Allah melaksanakan tugas-Nya. Tidak ada yang memiliki ini di alam semesta kecuali ruh hayawani, maka inilah pola kehidupan ruh hayawani yang disebabkan adanya tiupan ruh Allah yang Maha Suci, kehidupan inilah yang ditunjukkan oleh firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوَمَنْ كَا نَ مَيْتًا فَاَ حْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّا سِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَـيْسَ بِخَا رِجٍ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ
a wa mang kaana maitang fa ahyainaahu wa ja’alnaa lahuu nuuroy yamsyii bihii fin-naasi kamam masaluhuu fizh-zhulumaati laisa bikhoorijim min-haa, kazaalika zuyyina lil-kaafiriina maa kaanuu ya’maluun
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 122) , maka inilah pola peniupan ruh pada jasad nabi Adam As. Ruh hayawani inilah hidup dengan tiupan ruh tersebut, sebab tanpanya, ruh hayawani sama saja dengan ruh-ruh lain yang tidak memiliki kesempurnaan.
Sedangkan ruh Allah yang Maha Suci bentuknya adalah cahaya besar yang dikucurkan dari hadhrah Allah. Ruh ini membawa luapan cahaya, ragam rahasia dan keilmuan yang tidak terhingga batasnya. Ketika ruh ini pertama kali menetap pada ruh makhluk, maka ruh inilah yang akan memberi ragam kesempurnaan pada ruh makhluk dan menjadikannya sebagai khalifah Allah sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya.
Jika engkau telah mengetahui perkara ini dengan baik, maka engkau pun sudah tahu martabat dan keluhuran manusia di alam semesta, engkau akan tahu mana yang sempurna dan mana yang tidak sempurna, engkaupun akan tahu mana manusia yang masih hidup atau yang sudah menjadi mayit.
Sementara tentang perintah Allah Swt kepada malaikat agar mereka bersujud kepada manusia, maka hal ini untuk menampakkan ketinggian martabat nabi Adam As di semua alam semesta dan kekhususan beliau di sisi Allah Swt, lantaran adanya perhatian, kecintaan dan penghormatan yang khusus dari Allah kepadanya, dimana perkara ini belum pernah diberikan kepada satu makhluk pun yang ada di alam semesta.
Dalam hal ini Allah Swt berikan isyarat dalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْۤ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًا
wa laqod karromnaa baniii aadama wa hamalnaahum fil-barri wal-bahri wa rozaqnaahum minath-thoyyibaati wa fadhdholnaahum ‘alaa kasiirim mim man kholaqnaa tafdhiilaa
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 70)
Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-
