You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 34. Sayyidi Syaikh Ra juga pernah bertanya kepada beberapa pakar fikih yang hadir dalam majelis beliau; Sayyidi Syaikh Ra berkata:
Apakah makna hak nabi Musa As dalam firman Allah Swt (QS. Ta-Ha 20: Ayat 67),
فَاَ وْجَسَ فِيْ نَفْسِهٖ خِيْفَةً مُّوْسٰى

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

فَاَ وْجَسَ فِيْ نَفْسِهٖ خِيْفَةً مُّوْسٰى
fa aujasa fii nafsihii khiifatam muusaa

“Maka Musa merasa takut dalam hatinya.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 67)

Bagaimana bisa dikatakan nabi Musa As takut pada para penyihir dan perbuatan mereka, sementara sejatinya nabi Musa As hanya takut pada Allah Swt, diapun tidak punya keraguan bahwa ia adalah utusan dari Allah Swt dengan hujjah yang nyata, diapun yakin sepenuhnya bahwa Allah pun akan menolongnya, sesuai dengan janji-Nya yang tidak pernah diingkari,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَتَبَ اللّٰهُ لَاَ غْلِبَنَّ اَنَاۡ وَرُسُلِيْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ
kataballohu la-aghlibanna ana wa rusulii, innalloha qowiyyun ‘aziiz

“Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sungguh, Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.”
(QS. Al-Mujadilah 58: Ayat 21)

Juga yang tertera dalam firman-Nya,

اِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُوْرُوْنَ ۖ  
innahum lahumul-mangshuuruun

“(yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 172)

وَاِ نَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ
wa inna jungdanaa lahumul-ghoolibuun

“Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 173)

Lantas bagaimana dibenarkan adanya rasa takut sementara beliau memiliki pengetahuan yang pasti tentang perkara ini, juga pengetahuan beliau bahwa kebatilan tidak akan lama menetap selagi nampak kebenaran. Hal ini sebagaimana yang tertera dalam sebuah perumpamaan arab, “Ada putaran bagi kebenaran dan ada serangan bagi kebatilan.” Maka apabila kebenaran itu datang dengan perputarannya, maka kebatilan akan kalah dan terserang.

Lantas bagaimana bisa ada rasa takut yang muncul dari dalam diri nabi Musa As, padahal nabi Musa As mengetahui ragam perkara yang telah kami sebutkan?

Para pakar fikih menjawab ini dengan menyebutkan beragam pendapat pakar tafsir terkait ayat tersebut.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Bukan itu maksudnya, jawaban akan perkara ini adalah bahwa rasa takut nabi Musa As bukanlah seperti yang telah kami sebutkan, akan tetapi rasa takut nabi Musa As ini sudah banyak diketahui oleh para pembesar wali Allah yang senantiasa berada pada hadhrah ilahiyyah, yaitu bahwa Allah memiliki turunan sifat Al Qahru pada hamba-Nya yang khusus, dimana dengan sisi tanazzulat inilah Allah buat mereka bisa merasakan hal tersebut, yang mana rasa ini datang dari pahitnya tekanan dan paksaan Allah yang tersembunyi, yang ada pada hadhrah ilahiyyah.

Perlu diketahui juga bahwa bagi orang-orang khusus yang memiliki kedudukan tinggi disisi Allah, ada sisi tanazzulat yang dalam kenyataannya menyerupai kondisi kerasnya ancaman Allah Swt terhadap kekufuran makhluk-Nya, hal ini tidak menciderai martabat dan juga tidak menurunkan kedudukan mereka disisi Allah Swt.

Sungguh hakikat kejadian yang terjadi itu adalah bahwa hal ini sudah sewajarnya terjadi pada sosok yang Allah Swt pilih untuk mencintai Dzat-Nya agar ia merasakan pahitnya kejadian tersebut, tujuannya adalah agar ia memiliki kedudukan tinggi yang diinginkan oleh orang-orang lemah nan bodoh dari kalangan manusia, sehingga ia tidak nampak dengan keistimewaan tersebut dan tidak juga dapat dinikmati kecuali oleh orang-orang yang mampu menaklukkan ragam sulitnya kejadian tersebut, hal ini juga bertujuan agar mereka tahu bahwa kedudukan ini sulit untuk diraih, tidak ada yang bisa merasakan keberuntungan kecuali orang-orang yang mampu menaklukkan kejadian tersebut.

Apabila engkau telah tahu hal ini, maka engkau telah tahu ragam turunnya cobaan pada para nabi dan utusan Allah Swt. Nabi Musa As benar-benar mengetahui kejadian ini, kejadian yang beragam dan cobaan yang menimpa secara berlapis-lapis pada para pembesar wali Allah Swt sesuai kadar kemampuan diri mereka; yaitu ketika tampak nyata sihir tersebut dalam gambaran khayalan yang bisa menampakkan gerakan benda mati, yaitu tongkat dan gunung. Para penyihir itu datang dengan sihir mereka untuk menentang sisi kenabian dan ragam pemberian-Nya. Hal ini sebagaimana yang telah ditetapkan sebelumnya bahwa sesuatu yang batil tidak akan selamanya bersama kebenaran. Maka ketika nabi Musa As melihat keistimewaan itu nampak pada dirinya untuk kalangan umum dan juga orang-orang khusus, dirinya pun merasa takut jika keistimewaan itu adalah bentuk tajalli dengan nampaknya cobaan baginya; yaitu dengan nampaknya penguasaan para musuh terhadap dirinya dan kondisinya tidak mampu mengelak hal tersebut, kondisi nabi Musa As sama seperti kisah nabi Ibrahim As, dimana para musuhlah yang menang hingga mereka berhasil melemparkan nabi Ibrahim As ke dalam api (dimana kala itu tidak ada yang menolong nabi Ibrahim As), begitupun dengan nabi Musa As yang mana ketika itu beliau takut jika kondisinya seperti kondisi nabi Ibrahim As; kala itu musuhlah yang berkuasa dan mampu melemparkan nabi Ibrahim As ke dalam api dimana tidak ada lagi tipuan maupun tempat berlindung. Nabi Musa As takut cobaan menerpa dalam kondisi seperti ini.

Inilah kondisi ketakutan nabi Musa As, maka nabi Musa As pun mendengar firman Allah Swt,

قُلْنَا لَا تَخَفْ اِنَّكَ اَنْتَ الْاَ عْلٰى
qulnaa laa takhof innaka angtal-a’laa

“Kami berfirman, “Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang).”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 68); maksudnya adalah keunggulan dan kekuasaan mereka tidak akan nampak padamu, kemudian Allah Swt perkuat dengan firman-Nya,

وَاَ لْقِ مَا فِيْ يَمِيْنِكَ تَلْقَفْ مَا صَنَعُوْا ۗ اِنَّمَا صَنَعُوْا كَيْدُ سٰحِرٍ ۗ وَلَا يُفْلِحُ السّٰحِرُ حَيْثُ اَتٰى
wa alqi maa fii yamiinika talqof maa shona’uu, innamaa shona’uu kaidu saahir, wa laa yuflihus-saahiru haisu ataa

“Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya pesihir (belaka). Dan tidak akan menang pesihir itu, dari mana pun dia datang.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 69)

Maka lihatlah kebenaran janji Allah Swt, dimana Allah Swt berfirman,

قُلْنَا لَا تَخَفْ اِنَّكَ اَنْتَ الْاَ عْلٰى
qulnaa laa takhof innaka angtal-a’laa

“Kami berfirman, “Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang).”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 68)

Maka ketika tongkat itu menelan ular para penyihir, inilah yang membuat para penyihir itu bertekuk lutut dan sujud, mereka spontan berkata, “Kami beriman kepada Rabbnya Musa dan Harun As.” Dengan inilah para musuh merasa kalah dan nampaklah kenistaan dan kehinaan mereka, dimana sebelum itu para penyihir berharap bisa unggul dan menandingi mu’jizat nabi Musa As.

Maka ketika Allah menjanjikan dan mengabarkan kemenangan pada nabi Musa As, Allah pun menampakkan hinanya kekufuran dengan berimannya para penyihir dan tongkat nabi Musa menampakkan perkara yang besar. Ketika tongkat nabi Musa berhasil menelan sihir tersebut, tongkat itupun beranjak ke singgasana Fir’aun, sosok yang mengaku Tuhan, nabi Musa As yakin bahwa tongkat itu dapat membinasakan Fir’aun dalam kondisinya yang tidak lagi bisa menolong diri, Fir’aun pun lari ketakutan dan melompat ke atas kursinya. Yang hadir di sana berkata, “Fir’aun kentut berbunyi sebanyak 70 kali sembari ia lari ke istananya.” Maka gugurlah sisi ketuhanan yang diakuinya. Inilah janji Allah Swt yang Dia janjikan kepada nabi Musa As dengan firman-Nya,

قُلْنَا لَا تَخَفْ اِنَّكَ اَنْتَ الْاَ عْلٰى
qulnaa laa takhof innaka angtal-a’laa

“Kami berfirman, “Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang).”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 68)

Ada perkataan yang sampai pada kami, yaitu perkataan, “Apa yang telah disebutkan tentang adanya rasa takut dalam diri nabi Musa As setelah beliau mendengar firman Allah Swt kala ia diutus, maka itu tidaklah benar,” Allah Swt berfirman kepada nabi Musa As,

قَا لَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِاَ خِيْكَ وَنَجْعَلُ لَـكُمَا سُلْطٰنًا فَلَا يَصِلُوْنَ اِلَيْكُمَا  ۛ بِاٰ يٰتِنَاۤ  ۛ اَنْـتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغٰلِبُوْنَ
qoola sanasyuddu ‘adhudaka bi-akhiika wa naj’alu lakumaa sulthoonang fa laa yashiluuna ilaikumaa bi-aayaatinaa, angtumaa wa manittaba’akumal-ghoolibuun

“Dia (Allah) berfirman, “Kami akan menguatkan engkau (membantumu) dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak akan dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamu yang akan menang.””
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 35)

Maka tidak benar jika setelah mendengar ayat ini nabi Musa As masih merasakan ketakutan dalam dirinya.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra pun jawab pernyataan ini:

Para pembesar wali memiliki sisi pengetahuan lain terkait dengan makhluk ciptaan Allah Swt, tidak ada yang mengetahui ini selain mereka. Sekalipun mereka telah mendengar firman Allah dan kebenaran janji-Nya, maka merekapun tahu bahwa pada sisi ghaib ilmu ketuhanan ada hal yang tidak tercakup janji yang telah Allah Swt janjikan, hal ini lantaran sempurnanya pengetahuan mereka terhadap Allah Swt. Bukti akan hal ini adalah, Allah Swt telah menjanjikan pada nabi Muhammad Saw bahwa Dia akan menampakkan kekuasaannya pada suku Quraisy dan kaum musyrikin mengalami kekalahan, dimana mereka pun akan tunduk dibawah hukum yang beliau bangun sesuai dengan janji Allah Swt yang pasti ditepati. Maka ketika beliau melihat mereka pada perang Badar, beliau Saw pun bersabda, “Ya Allah orang-orang Quraisy ini datang dengan kebanggaan beserta kuda-kuda mereka, mereka menentang-Mu dan mendustai utusan-Mu. Ya Allah, kemenangan yang sudah Engkau janjikan padaku.” Ketika shaf sudah rapat untuk saling memerangi, Rasulullah Saw turun dan menyendiri dari kursi beliau meminta bantuan kepada Allah seraya berkata,

يَاحَيُّ يَا قَيُّومُ ، اللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكُ هَذِهِ الْعِصَابَةُ فَلَنْ تُعْبَدَ فِي الْأَرْضِ أَبَدًا

“Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Yang Berdiri Sendiri, Ya Allah andai engkau binasakan kelompok ini, niscaya tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu di bumi ini selamanya.”

Sementara posisi Abu Bakar sedang berdiri di hadapan kepala beliau dengan membawa sebilah pedang, takut jika kaum Musyrikin datang ke arah nabi Muhammad Saw, Abu Bakar pun berkata kepada beliau, “Cukuplah do’amu itu pada Rabbmu, sungguh Allah akan menepati apa yang sudah Dia janjikan pada baginda,” namun Nabi Saw pun tidak berhenti memohon pertolongan pada Allah Swt.

Dikatakan: “Bagaimana beliau bisa merasakan rasa takut, sementara beliau yakin akan janji dari Rabbnya?”

Kami katakan demikian: Rasa takut beliau itu terlahir dari sempurnanya pengetahuan beliau terhadap Allah Swt, bahwa ilmu Allah tidak bisa dibatasi dengan akal pikiran, dari sinilah timbulnya rasa takut itu. Sama seperti perkataan nabi Syu’aib As ketika kaumnya meminta agar beliau kembali pada agama mereka, nabi Syu’aib As berkata sebagaimana diabadikan dalam Al Qur’an,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اِنْ عُدْنَا فِيْ مِلَّتِكُمْ بَعْدَ اِذْ نَجّٰٮنَا اللّٰهُ مِنْهَا ۗ وَمَا يَكُوْنُ لَـنَاۤ اَنْ نَّعُوْدَ فِيْهَاۤ اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ رَبُّنَا ۗ وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ عَلَى اللّٰهِ تَوَكَّلْنَا ۗ رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِا لْحَـقِّ وَاَ نْتَ خَيْرُ الْفٰتِحِيْنَ
qodiftaroinaa ‘alallohi kaziban in ‘udnaa fii millatikum ba’da iz najjaanallohu min-haa, wa maa yakuunu lanaaa an na’uuda fiihaaa illaaa ay yasyaaa-allohu robbunaa, wasi’a robbunaa kulla syai-in ‘ilmaa, ‘alallohi tawakkalnaa, robbanaftah bainanaa wa baina qouminaa bil-haqqi wa angta khoirul-faatihiin

“Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, setelah Allah melepaskan kami darinya. Dan tidaklah pantas kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami, menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil). Engkaulah pemberi keputusan terbaik.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 89)

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY