You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 2. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud hadits qudsi yang dikabarkan dari Allah Swt. Allah Swt berfirman,
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada beliau Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang sabda Nabi Saw dalam hadits qudsi. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنتُهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Bila Aku sudah mencintainya, maka Aku menjadi bagian darinya.”

Dalam riwayat lain disebutkan,

كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِمَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

“Aku menjadi pendengarannya yang digunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang digunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang digunakan untuk memegang, dan menjadi kakinya yang digunakan untuk berjalan. Jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Aku tidak pernah ragu dalam melakukan apapun yang akan Aku lakukan seperti keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa orang beriman yang takut mati. Aku tidak ingin menyusahkannya.”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Maksudnya, hamba itu mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan amalan sunah. Amalan sunah adalah amalan di luar amalan wajib yang telah diketahui bersama.

Amalan sunah yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah dzikir, shalat, dan puasa berikut syarat-syaratnya. Inilah amalan sunah yang paling besar dan paling dicintai oleh Allah Swt.

Redaksi,

وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunah hingga Aku mencintanya.”

Maksud amalan sunah dalam hadits ini adalah menghadirkan ruh amal dalam suluk. Ruh amal dalam suluk adalah melakukannya dengan ikhlas karena Allah Swt, bukan untuk mendapatkan bagian atau khasiat dari amalan tersebut, cepat atau lambat. Justru, dengan amalan itu ia ingin keluar menuju Allah Swt dengan meninggalkan semua kelebihannya, hasrat dan hawa nafsunya. Dalam tingkatan ini, seorang hamba seperti seseorang yang dilumuri najis. Najis itu menempel di tubuhnya. Kemudian ia berusaha untuk menghilangkan najis itu dari tubuhnya agar ia bisa keluar menuju Allah Swt dalam keadaan suci dan disucikan.

Tidak diragukan lagi bahwa orang yang berada di tingkatan ini, yaitu orang yang berlumuran najis, melakukan amalan bukan untuk mendapatkan pahala, tetapi ia fokus untuk menyucikan dirinya. Tidak diragukan pula bahwa jiwa dalam kondisi ini ingin menjauh dari Allah Swt, kemudian keinginan ini menjadi karakter yang melekat dalam jiwanya. Seorang hamba pun akan kesulitan untuk membersihkan kotoran tersebut, kemudian iapun berusaha untuk membersihkannya.

Dalam tingkatan ini, ulama sufi menamai ruh tersebut dengan nama ghurab, tidak ada cahaya sedikitpun di dalamnya, ia berada di posisi yang paling jauh dari Allah Swt. Kemudian ragam amalan sunah dari seorang hamba adalah cara untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan amal shalih yang dilakukan secara ikhlas karena Allah dan bukan karena mencari pahala. Ia berusaha keras dalam melakukan hal itu untuk menyucikan jiwanya dari keinginan untuk bersama dengan selain Allah Swt. Ia pun melakukan mujahadah, mukâbadah (bersusah payah), mengendalikan hawa, membebaskan diri dari keterkungkungan hasrat. Yang dapat membantunya dalam mujahadah ini adalah berdzikir kepada Allah Swt. Karena seorang hamba tidak akan bersih dari jiwa yang berkarat, yang akan digunakan untuk masuk kedalam hadhrah ilahiyyah al qudsiyyah, kecuali dengan kucuran cahaya dari hadhrah Allah Al Quds.

Nah, kucuran cahaya ilahiyyah ini datangnya dari dzikir. Sebab, seorang hamba akan selalu menjaga waktu-waktu dzikirnya yang kemudian ia beristirahat. Kucuran cahaya inilah yang dihempaskan kedalam hatinya saat ia berdzikir, namun kemudian kucuran cahaya ilahiyyah itupun kerap berpindah lantaran ia belum bisa menetap di dalam tubuh orang tersebut. Akan tetapi kemunculan cahaya ilahiyyah ini didalam hati sudah dapat membersihkan jiwanya.

Jadi, awalnya kucuran cahaya ilahiyyah itu dihempaskan, kemudian ia berpindah pada keadaan yang lain, ia menetap di dalam hati kira-kira dua sampai tiga menit. Lalu berpindah pada keadaan yang lainnya lagi, ia menetap di dalam hati kira-kira selama satu jam. Kemudian berpindah lagi dari satu kondisi jiwa kepada kondisi jiwa yang lain, hingga ia pun menetap di dalam hati. Lalu ia memberi kekuatan kepada hamba itu untuk selalu berdzikir, mendorongnya untuk berdiam di pintunya Allah, membuat hatinya sakit karena berbaur dengan manusia sebab ia telah merasakan dampak negatif berbaur dengan mereka.

Lalu hamba itu senantiasa berdzikir sampai menghabiskan semua waktunya untuk berdzikir; siang dan malam. Kemudian ia mendapati jiwanya ridha dengan qadha Allah Swt, sabar dalam menghadapi cobaan, tanpa merasa terganggu sedikit pun, tawakkal kepada Allah Swt dalam urusan nafkah dan jauh dari sikap rakus terhadap dunia. Ia terus merasakan hal itu hingga ia merasa tenang dengan berdzikir pada Allah Swt.

Jika hati sudah merasa tenang dengan berdzikir pada Allah Swt, dimana dzikir itu telah mendarah daging, tidak bisa ditinggalkan walau hanya sesaat, maka berarti ia telah merasakan apa yang dirasakan ahli hakekat, mendapatkan kilauan cahaya ahwal orang-orang khusus yang mulia, dia telah menyaksikan dalam dirinya kedekatan dengan Allah Swt sebagai perkara yang agung dan mendapati dalam hatinya ilmu ilahiyyah sebagai perkara yang besar. Dengan demikian, ia terbebas dari setiap jeratan dan keterkungkungan. Ia terlepas dari setiap sesuatu selain Allah Swt. Ia menshalati semesta ini dengan cara shalat jenazah (sebagai simbol selamat tinggal), kemudian masuk pada Allah Swt melalui pintu muraqabah. Ia menyelidiki semua tujuan jiwanya, dimana ia tidak dapati tujuan dalam dirinya, selain Allah Swt.

Bersamaan dengan ini semua, ia pun tidak dapat melupakan begitu saja tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hawa yang samar. Karena dalam situasi ini, tipudaya hawa semakin besar. Hawa (kecondongan negatif jiwa) menipu dengan perkara Allah; yaitu dengan cara menampakkan bahwa tujuan jiwanya hanyalah Allah Swt semata. Kemudian kucuran cahaya ilahiyyah dengan kekuatannya menampakkan padanya antara bisikan hawa dan bisikan ilahiyyah. Hawa tidak akan pernah sirna darinya. Setelah itu, ragam bisikan hawa semakin berbahaya, karena tipudayanya semakin rumit. Ia adalah musuh Allah dan musuh pemiliknya. Musuh tidak akan pernah memberikan nasihat. Hamba itupun harus senantiasa merasa diawasi. Inilah ilmu kalbu yang Allah Swt berikan kepadanya, hingga ia berpindah pada kondisi musyahadah, yaitu luluh lantah dalam tauhid.

Puncak musyahadah adalah musnahnya segala sesuatu (dari hatinya) selain Al Haq, bersama Al Haq, dalam Al Haq, karena Al Haq, dari Al Haq. Sehingga tidak ada lagi ilmu pengetahuan, tulisan, rasio, ilusi, khayalan, cara, jumlah dan nisbat. Sirnalah semuanya selain Allah. la terus dalam keadaan demikian, hingga ia berpindah pada kondisi shahwu (keadaan tidak tidur). Dalam keadaan ini, ia menunaikan semua kewajiban, baik kepada Al Haq dan makhluk dengan pertolongan Allah Swt. Ia tidak merasakan apapun.

Jika ia sudah berpindah pada kondisi jiwa shahwu, ahli sufi menyebutnya sebagai “hidup setelah mati.” la memahami posisi Al Haq dan makhluk, ia dapat membedakan antara kekhususannya, keadaan dan tingkatannya serta segala sesuatu yang ada dalam setiap tingkatan, berupa hukum, kewajiban dan keperluan. Lalu iapun menunaikan semua hak-hak Allah Swt, dengan demikian dialah As Shiddiqul Akbar.

Redaksi حَتَّى أُحِبَّهُ “Hingga Aku mencintainya”. Cintanya Allah kepada hamba-Nya adalah curahan cinta Dzat-Nya Yang Maha Suci terhadapnya. Inilah puncak dari segala puncak, yang padanya setiap suluk bermuara. Barangsiapa yang telah sampai kondisi ini, maka sempurnalah tuntutan dunia dan akhirat baginya.

Allah Swt berfirman حَتَّى أُحِبَّهُ “Hingga Aku mencintainya.” Maksudnya adalah, Aku curahkan cinta padanya agar ia mencintai Dzat-Ku. Kondisi ini sesuai firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)

Jika bukan karena cintanya Allah Swt pada mereka, niscaya mereka tidak akan sampai mencintai Dzat-Nya.

Redaksi, فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ “Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya…..” Seorang hamba akan melihat dirinya memiliki kekuatan ilahiyyah seakan ia adalah Dzat Yang Maha Suci dengan semua sifat dan asma-Nya. Seakan ia bukan dirinya sendiri. Tetapi Allah Swt mencurahkan kepadanya ragam cahaya sifat dan asma-Nya lantaran melihat maqam-nya yang tinggi, dimana ia mampu memikul apa yang tidak bisa dipikul oleh seluruh makhluk lantaran saking beratnya.

Seorang yang ‘Arifbillah pernah berkata, “Barangsiapa yang disingkapkan tauhid kepadanya walaupun hanya sebesar biji dzarrah, maka ia mampu membawa langit dan bumi dengan satu bulu yang ada di pelupuk matanya.” Hal ini disebabkan karena pada maqam ini, ia bergerak dengan kekuatan Allah, ia melihat dengan kekuatan Allah Swt. Seakan dirinya adalah Dzat Allah Swt; dan juga mendengar dengan pendengaran Allah Swt.”

Tanda-tanda melihat dan mendengar dengan Allah Swt sebagai berikut:

Pertama, masalah melihat; ia akan melihat semua ciptaan, mulai dari Arasy sampai bumi terbawah. la melihatnya tanpa ada yang tersembunyi sedikit pun, walau hanya sebesar biji dzarrah. Semuanya sama dalam penglihatannya, baik yang ada di belakang dan di depannya, di kanan dan kirinya, di atas dan bawahnya.

Ia melihat semua itu dalam waktu yang bersamaan sekaligus. Ia melihatnya seperti satu benda, yang tak terbagi. Sehingga tidak ada penglihatan lain yang mencampuri penglihatannya, walaupun berbeda-beda kondisi dan tempatnya, gerakan dan warnanya. Ia melihat semuanya apa adanya secara sekaligus dalam waktu yang bersamaan pada setiap sisi dari berbagai sisi yang ada. Tidak ada satu biji dzarrah pun yang tersembunyi baginya. Sebab terjadinya penglihatan model ini adalah bahwa ketika itu penglihatan ruh telah terbuka. Apabila penglihatan ruh jiwanya telah terbuka, maka ia dapat melihat seluruh ciptaan dan alam. Tidak ada yang tersembunyi dari penglihatannya. Inilah yang dimaksud melihat dengan Allah Swt.

Kedua, mendengar dengan Allah Swt; yaitu ia mendengar semua kata-kata dari seluruh ciptaan dan perbedaan tasbih dan dzikir mereka dalam ruang waktu yang sama. Tidak ada yang tersembunyi baginya walaupun untaian kata-kata dan tasbih mereka sangat banyak. Dalam setiap kata, ia dapat mendengarnya dengan jelas seakan ia tidak mendengar kata yang lainnya. Padahal, secara umum seseorang hanya dapat mendengar satu kata saja, sehingga ketika kata-kata itu banyak, maka ia pun tidak mampu membedakannya. Sedangkan seorang salik dalam kondisi ini, ia dapat mendengar semua kata dan untaian tasbih dari seluruh ciptaan Allah. Tidak ada yang tersembunyi sedikit pun baginya.

Redaksi, وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا “Dan menjadi tangannya yang digunakan untuk memegang,” ia memegang dengan Allah Swt, bukan dengan kekuatan-Nya, karena ia berada dalam kekuasaan-Nya. Seandainya ia diizinkan untuk memukul, maka ia dapat membunuh satu juta orang dalam sekali pukul, inilah kekuatan ilahiyyah.

Redaksi, وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا “Dan menjadi kakinya yang digunakan untuk berjalan”. Dalam masalah ini, jika ia melangkahi semua ciptaan Allah dengan satu langkah, maka ia cukup meletakkan kakinya yang satu di bumi, dan kaki lainnya di belakang ‘Arasy, tetapi ini dilakukan secara ruhani saja dan bukan dengan jasadnya.

Redaksi, وَلسَانَهُ الَّذِي يَنْطِلِقُ بِهِ “Dan menjadi mulutnya yang digunakan untuk berbicara”. Dalam kondisi seperti ini, ia akan berbicara dengan bahasa Allah Al Haq Swt, ia mampu mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak seratus ribu kali dengan durasi waktu kira-kira seseorang membaca surah Al Ikhlas satu kali. Karena ia bersifat dengan ragam cahaya sifat Allah Al Haq Swt, sehingga ia tidak lemah untuk melakukan apapun. Jika cahaya kemampuan ilahiyyah telah menyebar dalam dirinya, maka ia akan melakukan apa yang tidak mampu dinalar oleh akal, bahkan ia mampu berada di suatu tempat selama satu jam. Sedangkan di tempat yang lain ia menikahi seorang perempuan yang melahirkan dua puluh anak darinya, misalnya dan demikian seterusnya. Hal ini sering terjadi kepada para wali. Karena Allah Swt tidak menjadikan satu ciptaan pun yang dapat melemahkannya, dimana iapun tidak terikat dengan kebiasaan kebanyakan manusia. Dalam kondisi ketidaksadarannya, ia bahkan mampu melakukan apa yang tidak bisa dinalar oleh akal manusia.

Redaksi, وَلَيْنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيُذَنَّهُ “Andai ia meminta perlindungan kepada-Ku, maka Aku akan melindunginya”, Sebab, ketika ia sampai pada puncak kedekatan dengan Allah Swt, maka semua keinginannya akan terwujud. Jika ia meminta perlindungan kepada Allah Swt dari sesuatu yang dikhawatirkannya, maka Dia akan melindunginya. Jika ia memohon kepada Allah Swt sesuatu yang diinginkannya, maka Dia akan memberikannya seketika itu pula.

Maksud dekat yang dicapai oleh banyak orang dan dijelaskan dalam Al Qur’an dan As-Sunnah bukan dekat dalam masalah jarak, bukan pula dekat bersentuhan. Tetapi yang dimaksud adalah kedekatan secara nisbi.

Sebab, pada awalnya seorang hamba berada di posisi yang paling jauh dari hadhrah Allah. Oleh karena itu, hadrah ilahiyyah itu menuntut agar tidak ada yang lain bersama Allah. Tidak ada hukum bagi selain Allah. Tidak ada yang dapat memalingkan muka dari Allah, bahkan tidak ada kepercayaan kepada selain Allah.

Intinya, tidak ada apapun dalam hati muqarrab (orang yang didekatkan kepada Allah) kecuali Allah, bukan selain-Nya. Seorang hamba diletakkan pertama kali saat ia dilahirkan dari perut ibunya dan saat ia menyadari kelalaiannya adalah dalam posisi paling jauh dari Allah Swt, karena ia hanya sibuk untuk memenuhi kebutuhan dan syahwatnya. Fokus untuk mencapai kesuksesan dalam masalah dunianya. Tidak menoleh sedikit pun kepada Allah Swt dan tidak ingin bersama-Nya. Demikianlah yang dimaksud jauh nisbat dengan Allah Swt. Bukan jauh dalam masalah jarak, karena Dzat Allah Swt yang Maha Tinggi lagi Maha Suci tidak mungkin memiliki jarak antara diri-Nya dengan makhluk yang Dia ciptakan, dimana tidak mungkin pula Dia bersambung dengan sesuatu, bahkan kondisinya adalah semua ciptaan ada dalam genggaman-Nya, berada di hadapan-Nya sejak pertama kali diciptakan sampai selama-lamanya. Setiap makhluk, maksudnya orang-orang yang jauh dari Allah Swt-, hanya sibuk dengan syahwat dan keinginan mereka. Padahal, gerak-gerik mereka (terlihat jelas) di hadapan Allah Swt. Barangsiapa yang berjalan diantara mereka, maka ia berjalan di hadapan Allah Swt. Demikian pula dengan orang yang berusaha dan orang yang duduk diantara mereka. Ia duduk di hadapan Allah Swt, dimana pun ia duduk. Barangsiapa yang tidur diantara mereka, maka ia tidur di hadapan Allah Swt.

Kesimpulannya, siapapun diantara mereka yang bergerak, maka ia bergerak di hadapan Allah Swt dan siapa yang diam diantara mereka, maka ia diam di hadapan Allah Swt, namun mereka buta dari semua itu.

Dalam masalah ini, ada orang kafir dan Islam, ada orang mukmin dan shiddiq, wali quthb dan rasul, nabi dan malaikat, semuanya berada dalam batasan yang sama. Tidak ada seorang pun dari mereka yang lebih spesial dari yang lainnya, kecuali orang-orang shiddiq dan yang setelah mereka, Allah singkapkan tirai penghalang baginya sehingga mampu memberikan sesuai dengan halnya. Sedangkan orang awam, mereka buta dari semua ini dan tidak mengetahuinya, mereka menjauh dari Allah Swt, bergelut dengan keinginan dan syahwat dan mengikuti hawa mereka, akan tetapi mereka memiliki udzur dalam hal ini. Sebab, tingkatan tertinggi dari kalangan shiddiqin sampai para rasul, Allah singkapkan tirai penghalang dan Allah ber-tajalli baginya, sehingga ia tidak mampu lagi berpaling dari-Nya dan tidak pula mampu membuat sesatu yang bisa memalingkannya, Allah pun sucikan dia dari seluruh hasrat dan syahwatnya.

Dalam sebuah isyarat dari Allah Swt disebutkan, “Barangsiapa yang Aku singkapkan padanya sifat-sifat-Ku, maka Aku mewajibkannya adab. Barangsiapa yang Aku singkapkan padanya Dzat-Ku, maka Aku mewajibkannya kehancuran diri.”

Mereka berkata, “Sesungguhnya kehancuran diri ini adalah puncak tujuan dan keinginan semua hamba, karena ini adalah wujud wushul yang nyata.”

Sedangkan orang-orang awam, tirai penghalang ditutupkan pada mereka, sehingga mereka tidak bisa melihat Tuhan mereka dan tidak pula mengenal-Nya. Lalu mereka pun sibuk dengan hasrat dan syahwat padahal mereka berada di hadapan Allah Swt, namun mereka tidak melihat-Nya. Tetapi, setiap orang mulai dari para nabi dan para shiddiqin, serta orang setelah mereka, semuanya adalah orang-orang yang dikehendaki-Nya dan bukan murni karena usaha mereka sendiri. Bahkan, setiap orang dari mereka, Allah-lah yang meletakkan mereka pada posisi itu.

Sungguh, orang ‘Arifbillah itu sampai pada posisi, dimana ia yang menjadi pelakunya sendiri, tanpa doa dan tanpa dzikir. Seandainya ada seribu orang yang mengepungnya, mereka ingin membunuhnya di tempat yang tidak ada orang selain dirinya, dimana ia pun tidak bisa meminta tolong, kemudian terdetik dalam hatinya bahwa mereka akan kalah, maka seketika itu pula mereka akan kalah darinya. Jika ia ingin, iapun dapat memecah belah persatuan mereka, sehingga seketika itu pula peperangan akan terjadi diantara mereka. Jika ia ingin penyakit bintik-bintik menimpa mereka, maka penyakit itupun akan menimpa mereka, sehingga mereka tidak bisa melakukan apapun, kecuali mereka memohon perlindungan kepada Allah Swt, karena ia melakukan semua itu bersama Allah Swt.

Jika ia merasakan haus yang mencekik leher di tengah padang pasir, kemudian dalam hatinya ia menginginkan hujan turun dari langit, maka seketika itupun hujan akan turun padanya tanpa harus berdo’a. Begitu juga jika ia menginginkan air memancar dari dalam tanah, maka seketika itupun air akan memancar darinya, bahkan lebih cepat dari kedipan mata. Tapi, jika hal itu terjadi pada para wali Allah, maka mereka tidak akan membiarkannya untuk seterusnya. Apabila ia telah minum atau berwudhu atau menunaikan hajat, maka ia akan langsung menghilangkan-nya kembali. Kesimpulannya adalah, apapun yang dikehendaki dalam hatinya, maka hal tersebut akan terjadi seketika itu.

Sebagian sufi ada yang berkata: Aku pernah melayani seorang syaikh yang ‘Arifbillah. Suatu hari aku pergi bersamanya untuk melaksanakan haji, saat itu beliau ada di kota Irak. Di tengah perjalanan beliau sakit, beliau membuatku susah dalam setiap saat, karena aku harus mengurusnya untuk membuang hajat. Kemudian aku memberinya tempat air untuk wudhu, lalu beliau pun berwudhu. Hal itu sangat memberatkanku. Sesampainya di Madinah, beliau berhenti di tanah yang lapang. Aku berkata kepada beliau, “Di Madinah ini ada tempat khusus orang-orang yang melakukan perjalanan. Di sana juga telah disiapkan berbagai macam obat untuk mereka yang sakit. Aku akan masuk ke sana, lalu akan membawakanmu obat sakit perut.” Beliau pun berkata, “Masuklah jika kau mau.” Beliau mengatakan demikian, karena beliau melihat diriku sangat ingin melakukan hal tersebut.

Ketika aku masuk ke tempat itu, aku berkata, “Aku ingin menemui gubernur agar ia memenuhi keinginanku.” Ketika aku masuk menemuinya, ia pun berdiri dan memelukku. Ia merasa senang dengan kedatanganku dan menyambutku dengan senyuman. Seakan aku adalah teman karibnya yang telah dikenalnya sudah sekian lama. Ia menyambutku dengan hangat. Ia berkata kepadaku, “Apa yang telah membuatmu ingin menemui kami?”Aku sangat heran karena ia begitu baik dan memuliakanku. Padahal, ia tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya kepada seorang pun. Kemudian ia berkata kepadaku, “Ара yang kau inginkan?” Maka, aku pun menyebutkan kepadanya keperluan dan keinginanku untuk meminta obat sakit perut. la menjawab, “Baiklah, dengan senang hati.” Kemudian ia berkata kepada pengawalnya, “Bawakan obat itu kepadaku sekarang juga.” Lalu mereka pun membawakan dan menyerahkannya kepadaku. Kemudian aku pergi dari sisinya dengan penuh penghormatan.

Ketika aku menemui guruku, aku pun menyerahkan obat itu kepada beliau. Aku ceritakan kepada beliau sambutan sang gubernur kepadaku, yang begitu gembira dan penuh penghormatan, yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Guruku berkata, “Akulah yang melakukan semua itu. Saat aku melihat keinginanmu untuk mendapatkan obat dan kau pergi menemuinya, aku khawatir kamu mendapatkan sambutan yang kurang baik, karena ia tidak mengenalmu, sehingga membuatmu kecewa. Aku pindah dari tempat ini dengan ruhku. Aku memindahkan ruhku dari jasadku, kemudian aku mendahuluimu pergi menemuinya. Lalu aku masuk ke dalam jasadnya, hingga aku menempati ruh dan jasadnya. Ketika engkau datang, akulah yang berdiri dan menyambutmu. Karena saat itu, akulah yang menguasai dirinya, ia tidak bisa terlepas dariku, sebab saat itu aku adalah ruh dan ia hanyalah jasad. Lantas, aku melakukan apa yang telah engkau lihat. Akulah yang telah memuliakanmu, bukan dia. Ketika engkau keluar dan pergi, maka ruhku keluar dari jasadnya dan kembali ke jasadku. Sedangkan obat itu, aku tidak membutuhkannya, tidak menginginkannya dan tidak mau meminumnya.”

Yang menjadi penguat dalam masalah ini adalah, bahwa orang yang Arifbillah akan melakukan apa yang dikehendakinya dalam setiap sesuatu. Hanya saja, dalam hal ini masih ada rasa malu dan adab andai ia hendak masuk ke dalam hadhrah Allah. Karena sifatnya saat itu hanya ridha, pasrah dan siap menjalani takdir, meninggalkan semua keinginan dan kehendak dirinya. Ketika ia telah memiliki sifat demikian, maka ia tidak akan merubah setiap sesuatu yang berkaitan dengan sifat kemanusiaannya. Kecuali jika dalam keadaan darurat, maka ia akan menggerakkan hatinya kemudian melakukan apa yang dikehendakinya.,

Pernyataan kami, “Yang dimaksud dekat itu adalah dekat nisbi bukan dekat jarak”. Maksudnya adalah, setiap makhluk jika dinisbatkan pada Allah dalam masalah kedekatannya, maka semuanya berada di posisi yang sama. Orang kafir dan seorang rasul berada di posisi yang sama. Sementara dalam hal ini, Allah Swt tidak bersambung, tidak pula terpisah, Dia sangat dekat, bahkan paling dekat dan Dia jauh dari setiap orang yang menjauh. Sifat ini melekat pada hakikat wujud Nya Allah. Tidak ada yang bersambung kepada-Nya, baik orang alim atau yang lainnya.

Jadi, yang disebutkan untuk para wali Allah itu adalah kedekatan nisbi, Sebab hadhrah al qudsiyyah pada puncak kejernihan dan tidak dapat dicemari. Sebab, orang yang masuk ke dalam hadhrah tersebut, maka semua ciptaan akan sirna, yang tersisa hanya Allah semata, bahkan dirinya sendiripun sirna. Dalam kondisi ini, seorang hamba tidak bisa berbicara, tidak memiliki akal, tidak memiliki keinginan, tidak bisa bergerak, tidak ada ketenangan, tidak ada gambarannya, tidak tahu juga caranya, tempat, tidak pula ada batasan dan tidak pula tahu ilmu tersebut. Jika dalam kondisi ini ia berbicara, maka ia akan mengatakan “La ilaha illa ana. Subhânii mâ a’zhama sya `nî (Tiada tuhan selain Aku. Maha Suci Aku dan begitu agung kedudukan-Ku)”, karena ia hanya perantara dari Allah Swt.

Dalam keadaan ini, Abu Yazid Al Busthami Ra mengatakan di hadapan murid-muridnya saat mereka duduk mengelilinginya, ia berkata, “Maha Suci Aku. Begitu agung keadaan-Ku.” Maka, murid-muridnya pun tidak berani berkata-kata kepadanya. Mereka mengetahui bahwa ia sedang dalam kondisi ghaibah (hilang sisi kemanusiaan -nya).

Ketika ia menghadapi sakaratul maut, murid-muridnya mengabarkan tentang apa yang telah ia katakan, namun ia menjawab, “Aku tidak tahu apa-apa. Kenapa kalian tidak membunuhku dalam keadaan itu? Seandainya kalian membunuhku pada saat itu, maka kalian (mendapatkan pahala) orang-orang yang berperang di jalan Allah dan aku mati syahid.” Mereka berkata kepadanya, “Kami tidak mampu melakukan itu.”

Kami telah katakan, bahwa hadhrah al qudsiyyah dalam kondisi puncak kejernihan yang tidak menerima selain Dia. Sebab, jika Allah Swt ber-tajalli pada seorang hamba dengan keangungan-Nya yang sempurna, maka Allah akan matikan sang hamba dari seluruh semesta ini, sehingga ia tidak bisa memikirkan yang lain-Nya, inilah puncak kejernihan. Sayyiduna Rasulullah Saw pernah mengabarkan tentang malam Isra’, saat beliau menceritakan bahwa beliau melihat Tuhannya,

وَلَمْ أَرَ عِنْدَ رُؤْيَةِ رَبِّي أَحَدًا حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ قَدْ مَاتُوْا

“Aku tidak melihat seorang pun saat aku melihat Tuhanku, hingga aku mengira bahwa semua makhluk yang ada di langit dan bumi telah mati.”

Demikianlah yang disebut “kejernihan” dan “kedekatan”.

Maksud dari al qurb adalah melupakan yang lain dan Dzat lain selain Allah Swt. Awalnya manusia tercipta dalam keadaan paling jauh dari hadhrah ilahiyyah, kecuali orang yang disingkapkan tirai penghalang dari mereka. Lalu ia akan melihat kedekatannya (dengan Allah Swt), sedangkan manusia yang lainnya sibuk dengan selain Allah Swt. Sebab, ketika diri mereka berkaca pada diri sendiri, mereka lupa pada Allah Swt, mereka hanya fokus kepada ragam perkara yang bermanfaat untuk diri mereka dan berusaha menghindari ragam perkara yang berbahaya bagi diri mereka sendiri. Dalam posisi ini, mereka sangat jauh dari Allah Swt.

Ibnu ‘Abbas Ra pernah berkata, “Sesungguhnya yang membuat manusia lupa pada Allah Swt adalah upaya mereka untuk mengurus diri mereka sendiri. Seandainya mereka meninggalkan hal itu, tentu mereka akan melihat Tuhan mereka secara kasat mata.” Demikianlah yang dimaksud jauh dari Allah Swt; yaitu jauh nisbi, karena pemiliknya tidak memiliki keterkaitan dirinya dengan Allah Swt. Jika Allah Swt ber-tajalli pada seorang hamba dengan keagungan dan kemuliaan-Nya, maka itu akan membuat-nya lupa semua makhluk, sehingga ia tidak melihat yang lain, selain Allah semata. Pada saat itu, ia terhubung dengan hadhrah ilahiyyah, karena kehadiran-Nya tidak menerima selain-Nya.

Ahmad bin Hanbal Ra pernah berkata saat Allah Swt memerintahkan untuk mengingkari Thaghut dalam firman-Nya,

لَاۤ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِ ۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِا لطَّا غُوْتِ وَيُؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِا لْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَا مَ لَهَا ۗ وَا للّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
laaa ikrooha fid-diin, qot tabayyanar-rusydu minal-ghoyy, fa may yakfur bith-thooghuuti wa yu-mim billaahi fa qodistamsaka bil-‘urwatil-wusqoo langfishooma lahaa, wallohu samii’un ‘aliim

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 256); ia berkata, “Apapun yang menyibukkan dari Allah Swt adalah thaghut, walaupun hanya sesaat.” Ini lantaran adanya keterkaitan dengan hadhrah ilahiyyah, sebab pada hadhrah ilahiyyah tidak menerima kesibukan dengan selain Allah Swt walaupun hanya sesaat. Jika seorang yang Arifbillah memikirkan selain Allah Swt walaupun hanya sesaat, maka ia akan diusir atau disalib atau disiksa dengan siksaan yang berat, jika ia termasuk orang yang memiliki perhatian khusus Allah Swt.

Sebagian Sufi berkata: Pada suatu hari kami pernah bersama Al Jariri Ra, lalu seseorang datang kepadanya seraya menangis, dia berkata, “Aku pernah mencapai tingkatan uns. Lalu aku terpeleset, hingga aku terhalang dari maqam-ku. Berilah aku petunjuk, agar aku bisa kembali lagi pada maqam yang sebelumnya telah aku capai.” Al Jariri Ra menjawab sambil menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya, “Wahai saudaraku, mau tidak mau semuanya berada dalam rencana ini.” Kemudian Al Jariri Ra menunjukku dan berkata, “Aku, kamu, dan kita semua berada dalam genggaman Allah Swt.” Lalu dia berkata kepada orang tersebut, “Tapi, aku akan melantunkan beberapa bait syair padamu, didalamnya engkau akan mendapatkan jawabanmu sendiri,

قِفْ بِالدِّيَارِ فَهِذِهِ أَثَارُهُمْ # تَبْكِي الأَحِبَّةَ حَسْرَةً وَتَشَوُّقَا

كَمْ ذَا وَقَفْتُ بِرَبْعِهَا مُسْتَخْبِراً # عَنْ أَهْلِهَا أَوْ سَائِلًا أَوْ مُشْفِقًا

فَأَجَابَنِي دَاعِي الْهَوَى مِنْ رَبْعِهَا # فَارَقْتَ مَنْ تَهْوَى فَعَزَّ الْمُلْتَقَى

“Berhentilah di perkampungan ini, karena inilah jejak-jejak mereka. Kau menangisi para kekasih penuh pilu dan rindu.

Berapa kali aku berhenti di sekitarnya untuk mencari kabar # dari keluarganya atau bertanya-tanya atau meminta belas kasihan.

la pun menjawab, tinggalkan hawa dan sekitarnya, # maka kau akan meninggalkan orang yang kau sukai. Maka mulialah orang yang telah berjumpa (dengan Tuhannya).”

Kemudian orang itu pergi sambil menangis. Ketika ia telah pergi, selah seorang murid Al Jariri Ra bertanya kepada Al Jariri Ra, “Apa masalahnya?,” Al Jariri Ra menjawab, “la bermesraan bersama Allah Al Haq tanpa izin, hingga ia pun diusir dari tempatnya. Karena bermesraan bersama-Nya tanpa izin akan membuatnya sibuk dari Allah Swt, dimana seorang yang ‘Arifbillah selamanya akan memakai adab.”

Sebagian murid Al Imam Al Junaid berkata: Pada suatu malam, kami pernah berjalan di gang kota Baghdad bersama Al Junaid Al Baghdadi, lalu ia mendengar seseorang yang melantunkan syair sambil menangis, ia berkata,

مَنَازِلاً كُنْتُ أَهْوَاهَا وَنَأْلَفُهَا # أَيَّامَ كُنْتُ عَلَى الْأَيَّامِ مَنْصُوْرًا

“Tempat-tempat yang sangat aku sukai dan aku merasa tenang di dalamnya, # beberapa hari aku senantiasa mendapatkan pertolongan.”

Imam Al Junaid Al Baghdadi Ra pun menangis, kemudian ia berkata, “Begitu bahagia dan nikmatnya bersama Allah Swt dan begitu sengsara jika jauh dan berpisah dari-Nya,” iapun lalu berkata, “Aku hendak mewujudkan keinginanku dan menaklukkan rasa takut lantaran mengharapkan perjumpaan (dengan Allah Swt). Aku menyesali hari-hariku yang lalu.”

Redaksi hadits yang sedang kita bahas,

وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

“Aku tidak pernah ragu-ragu dalam melakukan apapun yang akan Aku lakukan seperti keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa orang beriman yang takut mati. Aku tidak ingin menyusahkannya.” Ini bagian dari ragam masalah sifat Sam’iyyah, yang mustahil muncul dari Al Haq Swt, yaitu:

(1) Keragu-raguan untuk mencabut nyawa orang beriman, apakah Dia mencabutnya atau tidak?

(2) murka yang disebutkan dalam firman Allah Swt,

فَلَمَّاۤ اٰسَفُوْنَا انْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَاَ غْرَقْنٰهُمْ اَجْمَعِيْنَ 
fa lammaaa aasafuunangtaqomnaa min-hum fa aghroqnaahum ajma’iin

“Maka ketika mereka membuat Kami murka, Kami hukum mereka, lalu Kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut),”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 55)

dan

(3) kagum yang disebutkan dalam sabda Rasulullah Saw,

عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُقَادُونَ إِلَى الْجَنَّةِ فِي السَّلاَسِلِ

“Tuhanmu kagum kepada suatu kaum yang dituntun ke surga dengan menggunakan rantai.” Juga dalam sabda beliau,

عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ شَابٌ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ

“Tuhanmu kagum kepada seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah (keinginan untuk memperturuti hawa).” Demikianlah sebagian contoh dalam beberapa hadits.

Bahkan, Rasulullah Saw bersabda,

إِذَا قَالَ الْعَبْدُ لَا إِلهَ إلاَّ اللّٰهُ فَتَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ حَتَّى يَنْظُرُ إِلَى قَائِلِهَا

“Apabila seorang hamba mengucapkan, Lâ ilaha illallâhu, maka Allah membuka langit, hingga Dia melihat orang yang mengucapkannya.”

Juga sesuai dengan perkataan Muhammad bin Hanafiah Ra, “Sesungguhnya Allah melihat makhluk-Nya setiap hari sebanyak tiga ratus enam puluh kali.” la mengatakan masalah ini berdasarkan hadits, bukan pendapatnya sendiri, karena ia tidak mampu mengetahui hal tersebut (dengan asumsinya sendiri);

Juga sesuai dengan perkataannya dalam sebuah hadits mauquf pada Ibnu Abbas:

جَاءَ إِسْرَافِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: قُلْ يَا محمد : سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلا بِاللهِ، مِلْءَ مَا عَلِمَ وَعَدَدَ مَا عَلِمَ وَزِنَةَ مَا عَلِمَ، مَنْ قَالَهَا كُتِبَتْ لَهُ سِتَّ خِصَالٍ: كُتِبَ مِنَ الذَّاكِرِينَ الله كَثِيراً ، وَكَانَ أَفْضَلَ مِمَّنْ ذَكَرَهُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ، وَكَانَ لَهُ غَرْسٌ في الجَنَّةِ، وَتَحَاتَتْ عَنْهُ ذُنُوْبَهُ كَمَا تَتَحَاتَ وَرَقُ الشَّجَرِ الْيَابِسَةِ، وَنَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ، وَمَنْ نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ

Israfil datang menemui Rasulullah Saw, ia berkata kepada beliau, “Wahai Muhammad, ucapkanlah, Subhanallahi wal hamdulillahi walâ ilaha illallahu wallâhu akbar, wa lâ haula walâ quwwata illâ billâhi, mil`a mâ ‘alima, wa ‘adada mâ alima, wa zinata mâ alima (Maha Suci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain Dia, Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah, sejumlah isi yang diketahui-Nya; bilangan yang diketahui-Nya dan hiasan yang diketahui-Nya).” Rasulullah Saw bertanya, “Apa pahala yang didapat orang yang membaca kalimat ini?” Israfil menjawab, “Siapa yang membacanya satu kali, maka dicatat untuknya enam hal: (1) la dicatat sebagai orang yang banyak berdzikir kepada Allah, (2) dia lebih utama daripada orang yang berdzikir pada-Nya siang dan malam, (3) kalimat itu menjadi tanaman untuknya di surga, (4) dosa-dosanya berguguran darinya sebagaimana daun kering pepohonan yang berguguran, (5) Allah melihat kepadanya, dan (6) siapa yang dilihat oleh Allah, maka Dia tidak akan menyiksanya.”

Sebagai penguat dalam masalah ini adalah bahwa Allah Swt melihat kepadanya dan siapapun yang dilihat oleh-Nya, maka Dia tidak akan menyiksanya. Disamping itu, Allah Swt senantiasa melihat makhluk-Nya satu persatu. Berarti, pandangan ini adalah pandangan khusus, bukan pandangan umum. Ahli hakikat mengatakan, pandangan asal atau biasa merupakan sifat Allah Swt, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ 
innalloha laa yakhfaa ‘alaihi syai-ung fil-ardhi wa laa fis-samaaa

“Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 5)

Maka, pandangan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah pandangan idhafah (karena ada unsur lain), bukan pandangan asalnya.

Perkara ini sesuai dengan firman Allah Swt,

اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَ يْمَا نِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰٓئِكَ لَا خَلَا قَ لَهُمْ فِى الْاٰ خِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
innallaziina yasytaruuna bi’ahdillaahi wa aimaanihim samanang qoliilan ulaaa-ika laa kholaaqo lahum fil-aakhiroti wa laa yukallimuhumullohu wa laa yangzhuru ilaihim yaumal-qiyaamati wa laa yuzakkiihim wa lahum ‘azaabun aliim

“Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 77)

Pandangan dalam ayat ini bukanlah padangan asal, tetapi pandangan idhafah.

Demikian juga dengan tersenyum yang disebutkan dalam sebuah hadits panjang Rasulullah Saw yang beliau sampaikan kepada seorang A’rabi, dimana ia bertanya kepada beliau, lalu beliau mengabarkan kepadanya kesulitan saat kekurangan hujan dan musim paceklik. Beliau bersabda,

يُشْرِفُ عَلَيْهِمْ آزَلِيٌّ يَظَلُّ يَضْحَكُ

“Allah menyambut mereka sambil tersenyum sejak masa azali.” ( Dalam Jami’ Al Ahadits karya Imam As-Suyuthi pada Musnad Lagith bin Shabrah disebutkan dengan redaksi,

يُشْرِفُ عَلَيْهِمْ آزَلَيْنَ مُشْفِقِينَ وَيَظُلُ رَبِّ يَضْحَكُ

(Tuhan mereka) menyambut mereka dengan lemah lembut sejak masa azali dan Rabb menaungi mereka dengan tertawa,”) Maksudnya, menerima doa qunut mereka. “Dia (Allah) mengetahui bahwa pertolongan-Nya sudah dekat.”

Perkara ini juga sesuai dengan sabda Rasulullah Saw dalam hadits yang lain, tentang orang terakhir yang keluar dari neraka, dia memohon (kepada Allah Swt) agar dikeluarkan dari neraka di akhir perkaranya. Dia berkata, “Tuhan, bau neraka telah membuatku sakit dan panasnya telah membakar tubuhku. Karena itu, keluarkanlah aku dari neraka dengan rahmatmu.” Allah Swt bertanya, “Bagaimana menurutmu setelah Aku mengeluarkanmu dari neraka, apakah engkau akan meminta yang lain? la menjawab, “Tidak.” Lalu Allah Swt memintanya untuk berjanji bahwa ia tidak akan meminta selain dikeluarkan dari neraka. Ketika Allah Swt mengeluarkannya dari neraka, kemudian Dia mendudukkan-nya di dekat neraka, dia mengadu lagi (kepada Allah) tentang bahaya dan panasnya neraka. Dia berkata “Tuhan, jauhkanlah aku dari neraka.” Allah Swt berfirman, “Bukankah kamu telah berjanji bahwa engkau tidak akan meminta selain dikeluarkan dari neraka?” Namun, ia menyampaikan alasan dengan bahayanya dekat dengan neraka. Allah Swt bertanya, “Bagaimana menurutmu setelah Aku menjauh-kanmu dari neraka, apakah kamu akan meminta yang lain?” la menjawab, “Aku tidak akan meminta yang lain.” Kemudian Allah Swt memintanya untuk berjanji bahwa ia tidak akan meminta lagi selain dijauhkan dari neraka. Lantas, Allah Swt menjauhkannya dari neraka, sehingga ia tidak melihatnya, tidak mendengarnya dan tidak mencium baunya lagi.

Namun, dari kejauhan dia melihat surga. Dia diam di tempat itu sesuai yang dikehendaki Allah Swt. Kemudian dia berkata, “Tuhan, dekatkan aku ke surga.” Allah Swt berfirman, “Bukankah kamu telah berjanji bahwa kamu tidak akan meminta selain dijauhkan dari neraka?” la menjawab, “Ya Rabb, aku tidak mau menjadi makhluk-Mu yang paling celaka.” Allah Swt berfirman, “Celaka kau hai anak Adam, kenapa kau melanggar janjimu? Kemudian Dia bertanya, “Bagaimana menurutmu setelah Aku mendekatkanmu ke surga, apakah engkau akan meminta yang lain?” la menjawab, “Tidak.” Rabb Swt memintanya untuk berjanji bahwa ia tidak akan meminta selain itu. la pun berjanji. Lantas, Allah Swt mendekatkannya ke surga. Setelah ia melihat surga, tampak jelas perkaranya, dan mencium wanginya, dia pun diam di tempat itu sesuai yang dikehendaki Allah Swt, kemudian dia berkata, “Tuhan, dekatkan aku ke pintu surga.”

Allah Swt berfirman, “Celaka kau, bukankah kamu telah berjanji bahwa kamu tidak akan meminta selain didekatkan ke surga?” la menjawab, “Ya Rabb, aku tidak mau menjadi makhluk-Mu yang paling celaka.” Allah pun mendekatkannya ke pintu surga, lalu dia melihat penduduk surga dan kenikmatan mereka. Dia melihat semua itu dengan jelas sekali, diapun diam di tempat itu sesuai yang dikehendaki Allah Swt, kemudian ia berkata, “Tuhan, masukkanlah aku ke dalam surga.” Allah Swt berfirman, “Bukankah engkau telah berjanji bahwa kamu tidak akan meminta selain didekatkan ke pintu surga?” Dia menjawab, “Tuhan, aku tidak mau menjadi makhluk-Mu yang paling celaka.” Allah Swt berfirman, “Celaka kau hai anak Adam, kenapa kau melanggar janjimu.” Kemudian Dia pun memasukkannya ke dalam surga.

Ketika dia melihat orang-orang mendapatkan kenikmatan yang tidak dia dapatkan, dia pun merasa bersedih karena dia tidak mendapatkannya. Lalu ia berkata, “Tuhan, berilah aku sedikit anugerah darinya.” Allah Swt berfirman, “Bukankah engkau telah berjanji bahwa kamu tidak akan meminta selain dimasukkan ke dalam surga.” la menjawab, “Tuhan, aku tidak mau menjadi makhluk-Mu yang paling celaka.” Allah Swt berfirman, “Celaka kau hai anak Adam, kenapa kau melanggar janjimu.”

Kemudian Allah Swt bertanya kepadanya, “Apa yang kamu inginkan dari kenikmatan-kenikmatan itu?” la pun menyebutkan kenikmatan yang diinginkannya. Allah Swt befirman kepadanya, “Minta lagi apa yang kamu inginkan.” la pun menyebutkan semua keinginannya, hingga tidak tersisa lagi keinginannya, kemudian ia berkata, “Ini adalah keinginan terakhirku.” Allah Swt berfirman kepadanya, “Engkau akan mendapat sepuluh kali lipat darinya.’

Namun, hatinya belum merasa tenang karena hal itu, hingga ia berkata, “Apakah Engkau mengolok-olokku, sementara Engkau adalah Dzat Yang Maha memiliki?” Allah pun tertawa lantaran perkataannya. Kemudian Allah Swt menampakkan semua kepadanya, kemudian Dia berfirman, “Ini keinginanmu dan sepuluh kali lipat darinya.”

Sebagai penguat dalam masalah ini, yaitu tertawanya Allah Swt, juga disebutkan dalam sebuah khabar, bahwa di dalam surga Allah Swt akan ber-tajalli dalam keadaan tertawa. Secara zhahir, semua hadits-hadits di atas mustahil bagi Allah Swt. Semua itu termasuk kata-kata kinayah ilahiyyah. Demikian pula dengan marah dan benci. Demikian pula dengan cinta dari-Nya yang secara zhahir mustahil bagi Allah Swt. Ungkapan-ungkapan itu menjelaskan tentang perkara yang tersimpan di sisi Allah Swt, tidak seorang pun mengetahuinya. Tidak ada pilihan lain, kecuali taslim (menyerahkan semua perkara kepada Allah) dengan apa yang kita dengar.

Dalam masalah ini, para ulama terbagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok memahaminya dengan cara ta ‘wil setelah memalingkan makna zhahir-nya dari Allah Swt. Kelompok yang lain menyebutkannya secara zhahir, kemudian menyerahkan urusan dan pengertiannya secara hakikat pada Allah Swt. Mereka tidak berani mencoba untuk memahaminya sedikit pun. Lain halnya kelompok lain yang menyampaikan pengertiannya secara hakekat, tetapi menggunakan isyarat; tidak secara gamblang.

Orang-orang yang ‘Arifbillah berkata: “Pesuluk yang masuk ke dalam Ardh Simsimah (bumi hakikat), maka tersingkap bagi mereka sifat-sifat yang penuh kemusykilan itu, kemudian mereka melihatnya dengan mata telanjang, hingga tidak ada lagi kemusykilan bagi mereka setelahnya, akan tetapi mereka tidak dapat menceritakannya.”

Karena memang demikianlah karakter bumi tersebut. Seluruh kemusykilan akan tersingkap di dalam-nya, ilmu apapun itu. Kemudian kita akan kembali men-ceritakan tentang sifat-sifatnya saja.

Mengenai “keragu-raguan” yang disebutkan dalam hadits di atas, maka secara zhahir itu mustahil bagi Allah Swt. Karena keragu-raguan itu mengindikasikan bahwa ketika Allah Swt hendak mencabut nyawa orang yang beriman, Dia ragu-ragu antara mencabutnya karena berkaitan dengan kehendak dan hukum-Nya, atau tidak mencabutnya karena tidak mau menyusahkan hamba-Nya. Maka, sesungguhnya hal ini tidak mungkin terjadi kepada Allah Swt, karena hukum dan ketentuan-Nya pasti terlaksana. Sebab, semua yang bernafas pasti merasakan mati dan ajal makhluk hidup yang akan dicabut telah ditentukan di sisi Allah Swt dalam ilmu yang terdahulu, karena mustahil tuntutan ilmu ilahiyyah itu ditunda atau diakhirkan. Jika masalahnya seperti ini, maka bagaimana mungkin Allah Swt ragu. Sedangkan hadits di atas adalah hadits yang tsabit lagi shahih. Maka, hadits ini termasuk kalimat kinayah ilahiyyah. Kalimat ini menyebutkan sesuatu yang tidak bisa dipahami secara zhahir.

Maka pengertiannya secara hakiki adalah, Allah Swt mengabarkan bahwa masalah ini (mencabut nyawa seorang hamba) adalah masalah yang sangat membingungkan jika dilakukan oleh selain Allah Swt.

Mari coba kita bayangkan jika salah seorang diantara kita memiliki seorang kekasih yang sangat ia cintai, hingga ia tidak sanggup berpisah dengannya walau hanya sesaat, kemudian ia mengetahui bahwa kekasihnya itu tidak akan mendapatkan kebaikan besar kecuali ia membunuhnya. Jika tidak melakukannya, maka kekasihnya itu tidak akan mendapatkan kebaikan besar itu selamanya. Maka, orang itu pasti bingung. Jika ia membunuh kekasihnya, tentu ia akan kesulitan untuk melakukannya, karena ia tahu bahwa kekasihnya itu tidak suka menghadapi hal tersebut. Namun, jika ia membiarkannya tanpa membunuh, maka kekasihnya tidak akan mendapatkan kebaikan. Oleh karena itu, ia pun ragu-ragu untuk melakukan hal tersebut, apakah membunuhnya atau membiarkannya.

Jika ia membunuh kekasihnya, maka hal itu sulit baginya dan juga bagi kekasihnya, namun ia terhalang mendapatkan kebaikan selamanya, maka hal itu lebih sulit lagi. Ia pun ragu-ragu untuk melakukan hal tersebut karena masalah ini, sementara telah ditentukan bahwa jika ia tidak membunuhnya, maka kekasihnya tidak akan mendapatkan kebaikan dan selamanya ia akan terhalang.

Jadi, seakan-akan Allah Swt berkata, “Seandainya hal ini menimpa kalian, kalian pasti merasakan keragu-raguan yang sangat dan kalian tidak akan melakukan apapun.” Demikianlah maksud dari sifat yang disebutkan dalam hadits di atas; yaitu keraguan-raguan dari Allah Swt.

Sedangkan yang dimaksud dengan “Tertawa” dalam hadits sebelumnya, maka istilah ini tidak asing pada kebanyakan orang. Namun, hal ini mustahil bagi Allah Swt, karena tertawa adalah perpindahan dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Sebab, sebelum tertawa pasti ada diam (tanpa tertawa). Kemudian dalam keadaan tertawa, terjadi perpindahan keadaan dari keadaan yang sebelumnya, yaitu diam, berpindah pada keadaan tertawa. Keadaan tertawa bukanlah keadaan yang sebelumnya dan setiap orang pasti mengetahui hal ini. Tetapi, tertawa yang biasa dilakukan manusia itu mustahil bagi Allah Swt. Tidak mungkin dilakukan oleh Dzat Yang Maha Tinggi. Hanya saja dalam masalah ini, terdapat sesuatu yang harus diketahui dan menjadi pengingat bagi orang orang yang memiliki hati.

Lawan bicara seseorang Raja yang memiliki pengaruh dan kekuasaan yang besar; gudang penyimpanan harta yang besar, otoritas dan kekuatan yang besar pula, tetapi, kemudian Dia menurunkan tirai penghalang untuk menutupi sifat tertawa itu. Tertawa adalah salah satu dari sifat-sifat-Nya yang sempurna, yang sesuai dengan besarnya keagungan-Nya, Dia menutupi sifat itu dari makhluk-Nya, tidak menampakkannya kepada mereka.

Barangsiapa yang ridha kepada Allah Swt, maka Dia akan menyingkapkan hijab dari sifat yang sempurna itu, kemudian menampakkan kepadanya, hingga ia dapat melihatnya dengan penuh bahagia dan gembira, kemudian rasa takut dan khawatir pun sirna darinya. Demikianlah pengertian yang pantas dengan sifat tertawa Allah Swt, bukan seperti tertawa yang biasa dilakukan oleh manusia.

Oleh karena itu, Rasulullah Saw bersabda dalam sebuah hadits tentang surga saat Dia ber-tajalli kepada para kekasih-Nya, beliau bersabda,

يَتَحَلَّى ضَاحِكًا لِيُؤْنِسَ أَوْلِيَاءَهُ وَيُفْرِحَهُمْ، وَيُذْهِبَ عَنْهُمْ جَمِيعَ الرَّوْعِ مِنْ سَطْوَةِ الْعَظَمَةِ وَالْكِبْرِيَاءِ

“Dia (Allah) ber-tajalli di dalamnya sambil tertawa agar para kekasih-Nya merasa tenang dan bahagia, serta menghilangkan semua kekhawatiran karena pengaruh keagungan dan kebesaran (Allah).”

Oleh karena itu, Syaikh Al Kamil Maulana Abdul Qadir Al Jilani Ra berkata, “Barangsiapa yang melihat keindahan dari Allah Swt, maka ia tidak akan melihat kecuali sifat-sifat yang indah dari Allah Swt. Ia tidak bisa diam karena tampaknya keagungan dan kebesaran (Allah).”

Maksud dari redaksi, “la tidak bisa dian karena tampaknya keagungan dan kebesaran (Allah)” adalah, tidak ada yang bisa diam karenanya, kecuali para pembesar wali Allah, bukan orang-orang yang ‘Arifbillah, karena yang paling sempurna diantara mereka adalah wali quthb. Hakikat keagungan (Allah) tidak tampak kepadanya, kecuali setelah ia mencapai tingkatan Quthbaniyyah ‘Uzhma. Tingkatan inilah yang disebut sebagai tingkatan paripurna. Para wali quthb tidak banyak yang bisa mencapai tingkatan ini, karena jarak tempuhnya yang sangat jauh.

Apabila seorang wali quthb telah naik dan sampai di tingkatan itu, maka Dia (Allah) akan ber-tajalli kepadanya dengan keagungan Dzati. la tetap berada di dalamnya untuk selama-lamanya. Seandainya Dia (Allah) ber-tajalli dengan keagungan itu pada seluruh ‘Arifin dan Shiddiqin walau hanya sekadar biji dzarrah, maka mereka akan menjadi debu yang dihambur-hamburkan dalam jangka waktu singkat lebih singkat dari kedipan mata. Tidak ada yang sanggup melihatnya, kecuali Al Quthb Al Fard Al Jami’, tetapi setelah ia mencapai tingkatan paripurna. Jika dia belum sampai kepadanya, maka dia tidak akan sanggup.

Sayyidina Ali Ra pernah berkata, “Ma’rifat adalah

tersingkapnya kesucian Dzat Yang Maha Agung dan puncaknya adalah kekaguman terhadap kebesaran Allah.” Yang dimaksud dengan “puncaknya” adalah maqam khatam dalam tingkatan Quthbaniyah. Inilah puncak di atas segala puncak.

Mengenai “Sifat heran dari Allah Swt,” hal ini terdapat dalam sebuah hadits Rasulullah Saw, beliau bersabda,

عَجِبَ رَبُّكَ مِنْ قَوْمٍ يُسَاقُوْنَ إِلَى الْجَنَّةِ بِالسَّلَاسِلِ

“Rabbmu heran terhadap satu golongan yang digiring ke surga dengan menggunakan rantai.”

Hakekat heran adalah orang yang merasa heran terhadap sesuatu yang terbilang aneh dan sebabnyapun tidak jelas; seperti kebiasan-kebiasaan yang terjadi pada para wali Allah. Sedangkan bagi Allah Swt, maka tidak ada perbuatan yang aneh dan mengherankan menurut-Nya, karena tidak ada satu sebabpun yang samar bagi-Nya.

Semua sebab yang terjadi adalah gadha dan qadar. Sedangkan gadha dan qadar itu ada dalam kekuasaan Allah Swt. Dari Allahlah qadha dan qadar muncul dan kepada-Nya qadha dan qadar dikembalikan. Qadha dan qadar terjadi dalam setiap peristiwa di semesta ini.

Qadha adalah ketentuan akan terjadinya sesuatu. Qadha ini muncul dari dua sifat: (1) Berkaitan dengan masyi’ah (kehendak Allah) dan (2) adanya kalimat “kun (jadilah).” Inilah yang dinamakan qadha dan ini ada sejak zaman azali, bukan dalam masyi’ah, bukan pula dalam kalimat.

Sedangkan qadar adalah terjadinya sesuatu sesuai dengan masyi’ah dan kalimat tersebut, yang terjadi sesuai dengan qudrah (kekuasaan Allah). Lantas, bagaimana mungkin Dia (Allah) merasa heran terhadap sesuatu, sementara Dia meliputinya? Tidak ada satu sebabpun yang samar bagi-Nya. Dalam hadits diatas tidak ada tujuan lain, kecuali mengabarkan kepada kita bahwa kejadian tersebut (seseorang yang digiring ke dalam surga dengan terbelenggu rantai) adalah kejadian yang aneh. Kita merasa heran dengan hal itu, karena tidak sesuai dengan gambaran yang kita ketahui (bahwa semua orang ingin masuk ke dalam surga).

Penjelasan perkara ini adalah, bahwa keterangan tentang surga itu sudah cukup jelas dengan membaca kabarnya yang ada dalam kitab-kitab yang telah diturunkan dan kabar yang dibawa oleh para rasul, sehingga perihalnya tidak ada yang samar lagi, baik untuk orang umum maupun orang khusus. Seluruh anak cucu Adam ingin masuk ke sana dan bersenang-senang di dalamnya, karena dihiasi dengan kesempurnaan syahwat. Kemudian Allah Swt mengabarkan bahwa ada sekelompok orang yang digiring dengan terbelenggu rantai menuju surga. Maksudnya, mereka adalah orang-orang yang lari menjauh dari surga, kemudian mereka digiring menggunakan rantai menuju surga dengan dipaksa. Kejadian ini sangat aneh. Yang dimaksud dengan kelompok yang membuat Allah Swt merasa heran terhadap mereka ini adalah orang-orang yang mendapatkan banyak musibah dan cobaan di dunia, hingga musibah dan cobaan itu menyucikan diri mereka dari semua dosa. Sebenarnya, yang menghalangi seorang hamba dari surga adalah dosa. Seandainya ia tidak memiliki dosa, maka ia akan bangkit dari kuburnya menuju istananya (di dalam surga). Kemudian musibah dan cobaan menghapus semua dosa seorang hamba, dan memberinya pahala yang ia sendiri tidak mengetahui kadar dan cara (mendapatkannya).

Allah Swt berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ )

“Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (Qs. Az-Zumar [39]: 10).

Orang-orang yang mendapatkan cobaan dan ujian akan datang ke surga tanpa ragu dan penghalang. Oleh karena itu, terkadang seorang hamba meminta musibah dan cobaan karena balasan yang telah kami sebutkan. Lantas, kenapa mereka lari dari surga saat mereka sampai di sana? Ini sangat mengherankan!

Sedangkan “melihatnya Allah Swt” yang terdapat dalam sabda Rasulullah Saw yang membahas tentang kalimat “Subhanallahu wal hamdulillahi wa laa ilâha illallahu….” Beliau bersabda tentang keutamaan kalimat tersebut,

وَنَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ، وَمَنْ نَظَرَ اللَّهُ إِلَيْهِ لَمْ يُعَذِّبْهُ

“Allah melihatnya. Orang yang Allah lihat, maka Dia tidak akan mengadzabnya.”

Hakekat “melihat” dalam hadits diatas bukan melihat sebagaimana sifatnya manusia. Tentang hal ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَخْفٰى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِى الْاَ رْضِ وَلَا فِى السَّمَآءِ 
innalloha laa yakhfaa ‘alaihi syai-ung fil-ardhi wa laa fis-samaaa

“Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 5)

Yang dimaksud “melihat” dalam hadits di atas adalah melihat yang khusus dengan pandangan inayah (pertolongan) dan mahabbah (cinta).

Muhammad bin Ali bin Hanafiah Ra berkata, “Sesungguhnya Allah melihat makhluk-Nya setiap hari sebanyak tiga ratus enam puluh kali.” Yang dimaksud melihat dalam kalimat ini adalah pemberian rahmat ilahiyyah, yang Dia (Allah) berikan kepada makhluk-Nya lantaran anugerah-Nya. Orang yang mendapatkannya dan orang yang tidak mendapatkannya sesuai dengan kehendak-Nya. Demikianlah yang dimaksud melihatnya Allah Swt.

Yang dimaksud dengan “melihat” dalam hadits di atas adalah pemberian inayah dan mahabbah bagi siapa saja yang dikehendaki Allah Swt dari hamba-hamba-Nya. Orang yang mendapatkan pandangan ini, maka ia menjadi orang yang beruntung. Inilah yang dimaksud dengan “melihat”. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw dalam sebuah hadits,

مَا قَالَ عَبْدٌ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إِلا فَتَقَ اللَّهُ لَهُ السَّمَاوَاتِ حَتَّى يَنْظُرَ إِلَى قَائِلِهَا

“Tidaklah seorang hamba yang mengucapkan: Lâ ilâha illallahu, kacuali Allah membelah langit-langit hingga Dia melihat orang yang mengucapkannya.”

Allah Swt tidak mungkin terhalang oleh langit untuk melihat hamba-hamba-Nya. Maka, yang dimaksud dengan “melihat” adalah pemberian rahmat ilahiyyah pada seorang hamba, yaitu rahmat khusus dari sisi-Nya untuk para hamba-Nya yang khusus. Rahmat itu membelah langit-langit dan turun kepada pemiliknya, kemudian pahalanya tersimpan untuknya.

Jadi, yang dimaksud “melihat” dalam masalah ini adalah pandangan rahmat dan inayah, bukan melihat sifat, karena penglihatan Allah Swt tersingkap pada semua makhluk, tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya. Demikianlah “melihat” yang kami pahami untuk menafsiri hadits di atas. Hal ini sejalan dengan sebuah ayat yang di dalamnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَشْتَرُوْنَ بِعَهْدِ اللّٰهِ وَاَ يْمَا نِهِمْ ثَمَنًا قَلِيْلًا اُولٰٓئِكَ لَا خَلَا قَ لَهُمْ فِى الْاٰ خِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ وَلَا يَنْظُرُ اِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
innallaziina yasytaruuna bi’ahdillaahi wa aimaanihim samanang qoliilan ulaaa-ika laa kholaaqo lahum fil-aakhiroti wa laa yukallimuhumullohu wa laa yangzhuru ilaihim yaumal-qiyaamati wa laa yuzakkiihim wa lahum ‘azaabun aliim

“Sesungguhnya orang-orang yang memperjualbelikan janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga murah, mereka itu tidak memperoleh bagian di akhirat, Allah tidak akan menyapa mereka, tidak akan memperhatikan mereka pada hari Kiamat, dan tidak akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 77)

Maksud “melihat” dalam ayat ini adalah pandangan rahmat dari Allah Swt, dimana Allah pun menjauhkan pandangan rahmat ini dari orang-orang yang disebutkan dalam ayat tersebut. Allah Swt tidak melihat mereka dengan pandangan rahmat. Kondisi ini mengisyaratkan betapa berat murka dan siksa-Nya, sesuai dengan firman Allah Swt,

وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ

“Bagi mereka azab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 77). Tetapi, penafian kita terhadap pandangan rahmat itu bertentangan dengan firman Allah Swt,

وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ 
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun

“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)

Maka, rahmat yang disebutkan dalam ayat ini (QS. Al-A’raf 7: Ayat 156) adalah rahmat umum yang diberikan kepada seluruh manusia, baik yang mendapatkan adzab maupun yang lainnya, bahkan sampai penduduk neraka sekalipun.

Sedangkan rahmat yang disebutkan dalam hadits di atas adalah rahmat khusus yang diberikan kepada makhluk-Nya yang dibatasi dengan firman-Nya,

فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ

“akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 156).

Orang yang mendapatkan pandangan (dari Allah) ini tidak akan tersentuh siksa neraka, keburukannya tidak akan dibuka (di hadapan manusia) pada hari Kiamat. Justru, ia termasuk golongan orang yang seandainya amal perbuatan mereka ditampakkan, maka ia akan merasa malu karena hal itu. Allah Swt berkata kepadanya, “Aku telah menutup dosa-dosa itu terhadapmu di dunia, maka hari ini Aku tidak akan menyiksamu. Pergilah, Aku telah mengampunimu.”

Mereka adalah orang-orang yang dilihat oleh Allah Swt di dunia dengan pandangan rahmat, mahabbah dan inayah. Semoga Allah menjadikan kita termasuk bagian dari mereka dengan kemurnian anugerah dan kedermawanan-Nya-. Demikianlah maksud “melihat” yang disebutkan dalam hadits di atas.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah Saw bersabda,

مَا مِنْ قَلْبٍ إِلَّا بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ

“Tidak ada satu hati pun kecuali ia berada di antara dua jemari dari jemari-jemari Ar-Rahman. Dia membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya.”

Dalam hadits ini ada dua kata yang akan dibahas, yaitu jemari dan nama Ar-Rahman.

Nama Allah, “Ar-Rahman” termasuk nama Allah pada martabat uluhiyyah, itu bukan termasuk nama Dzat Allah seperti Al ‘Azhîm, Al Kabîr dan Al Jalil. Beragam nama Dzat Allah Swt tidak memiliki keterkaitan dengan makhluk, sedangkan ragam nama Allah Swt pada martabat tertentu semuanya berkaitan dengan makhluk, karena sisi uluhiyyah-Nya Allah melazimkan keberadaan makhluk tanpa menyebutkan Tuhan bagi mereka. Sedangkan semua makhluk sudah selazimnya memiliki kesempurnaan pada sisi uluhiyyah-Nya Allah, karena selamanya semua makhluk akan menyembah Allah Swt, bersujud dan bertasbih kepada-Nya. Demikianlah yang dimaksud martabat uluhiyyah.

Maka, martabat uluhiyyah adalah martabat Tuhan yang berhak disembah. Nama Allah Swt yang paling besar adalah “Ar-Rahman,” karena ia meliputi semua nama-nama makhluk. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa seluruh makhluk itu ada berkat nama-nama Allah Swt, baik secara zhahir maupun bathin-nya. Semua nama yang dibutuhkan oleh alam semesta terliputi dibawah nama-Nya Allah “Ar-Rahman.” Sebab, dari nama Ar-Rahman inilah kucuran rahmat Allah bagi semua makhluk bersumber. Dengan begini, maka nama Ar-Rahman mendekati Al Ismul A’zham, hanya saja Ismul A’zham itu adalah Dzat-

Nya Allah sendiri. Rasulullah Saw bersabda,

فِي بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَا بَيْنَهَا وَبَيْنَ الْإِسْمِ الْأَكْبَرِ إِلَّا كَمَا بَيْنَ بَيَاضِ الْعَيْنِ وَسَوَادِهَا

“Tidak ada jarak antara ‘Bismillaahirrahmaanirrahiim dengan Ismul Akbar, kecuali seperti jarak antara putihnya mata dengan hitamnya.”

“Ar-Rahman’ termasuk nama-nama sisi uluhiyyah yang paling besar, karena semua nama-nama makhluk berada di bawah liputannya. Tidak ada satu makhluk pun yang keluar dari liputan rahmat ilahiyyah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا كْتُبْ لَـنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ اِنَّا هُدْنَاۤ اِلَيْكَ ۗ قَا لَ عَذَا بِيْۤ اُصِيْبُ بِهٖ مَنْ اَشَآءُ ۚ وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۗ فَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ 
waktub lana fii haazihid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti innaa hudnaaa ilaiik, qoola ‘azaabiii ushiibu bihii man asyaaa, wa rohmatii wasi’at kulla syaii, fa sa-aktubuhaa lillaziina yattaquuna wa yu-tuunaz-zakaata wallaziina hum bi-aayaatinaa yu-minuun

“Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau. (Allah) berfirman, “Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.””
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 156)

Oleh karena itu, istiwa di atas ‘Arasy menggunakan nama ini, sesuai dengan firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
ar-rohmaanu ‘alal-‘arsyistawaa

“(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 5).

Sebagaimana Dia (Allah) Swt ber-istiwa pada hakekat manusia dengan nama-Nya “Allah.” Maka, saat itu manusia adalah ‘Arasy-nya Allah, karena istiwa Nya Allah adalah dengan nama-Nya Allah itu sendiri. Tidak ada satu makhluk pun, dimana Allah Swt ber-istiwa di atasnya dengan menggunakan nama-Nya yang mulia ini kecuali manusia. Sebab hanya manusialah yang mampu mengembannya. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu mengemban sisi tajalli Allah dengan nama ini, kecuali manusia. Sebagaimana Allah Swt pun ber-istiwa atas hakikat Al Muhammadiyah dengan Al Ismul A’zham Al Kabir, yang tidak dapat diketahui bagaimana caranya dan tidak ada yang mampu mengembannya kecuali hanya Nabi Muhammad Saw. Maka, ia adalah tempat ber-istiwa nya beliau Saw.

Nama Allah “Ar-Rahman” meliputi seluruh makhluk. Dengan nama inilah Allah ber-istiwa di atas Arasy, karena di dalam ‘Arasy terdapat beragam nisbat seluruh makhluk. Oleh karena itu, Allah ber-istiwa di atasnya dengan nama-Nya Ar-Rahman. Nisbat antara ‘Arasy dengan semua makhluk -karena kemuliaannya-, seperti nisbat antara wali quthb dengan alam. Diriwayatkan bahwa ‘Arasy pernah bertanya kepada Allah Swt, “Ya Rabb, kenapa Engkau menciptakan aku?” Allah menjawab, “Supaya hamba-hamba-Ku terlindungi dari cahaya keter-hijaban makhluk.”

Sedangkan makna “Jari-Jemari” secara bahasa adalah salah satu bagian dari bagian-bagian tangan. Kami beriman bahwa Allah Swt memiliki jemari. Namun menurut kami jemari-jemari itu adalah hal-hal yang berkaitan dengan kehendak-Nya. Maka, kehendak itu posisinya seperti tangan, kemudian hal-hal yang berkaitan dengan tangan seperti jari-jemari. Demikian pula dengan makna Qudrah, posisinya seperti tangan, kemudian hal-hal yang berkaitan dengannya seperti jemari. Sedangkan penggunaan kata tatsniah (memiliki arti dua) dalam redaksi “Di antara dua jari dari jari-jemari Ar-Rahman” maksudnya

adalah bahwa setiap hati itu berada diantara dua perkara:

(1) Perkara yang sesuai dengan kehendak ilahiyyah,

(2) Perkara yang sesuai dengan dengan kemampuan

ilahiyyah. Jika demikian, maka setiap hati berada diantara dua keadaan:

(1) Keadaan yang sesuai dengan kehendak ilahiyyah,

(2) Keadaan yang sesuai dengan kemampuan ilahiyyah. Demikianlah maksud “jari-jemari” disebutkan dalam hadits Nabi Saw tersebut. yang

Nabi Saw pernah bersabda,

لاَ تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ؟ حَتَّى يَضَعَ الْجُبَّارُ قَدَمَهُ، فَتَقُوْلُ : قَط قَطْ

“Neraka senantiasa berkata, ‘Apakah ada tambahan lagi?” hingga Al Jabbar meletakkan kaki-Nya ke dalam neraka. Maka ia pun, ‘Cukup, cukup. Aku telah penuh.”

Hadits ini memiliki dua pengertian, dan keduanya sama-sama shahih.

Pertama: Yang dimaksud “kaki” dalam hadits di atas adalah makhluk-makhluk yang diciptakan oleh Allah Swt setelah semua makhluk ditempatkan di surga dan neraka pada hari Kiamat. Allah Swt menciptakan makhluk itu untuk memenuhi surga. Ini adalah “kaki” yang pertama.

Sedangkan “kaki” yang kedua, pada hari Kiamat Allah Swt menciptakan makhluk untuk memenuhi neraka, hingga neraka mengatakan, “Cukup, cukup.” Demikianlah yang dimaksud “kaki” Allah Al Jabbar. Maksudnya, mereka adalah makhluk terakhir yang diciptakan oleh Allah Swt. Oleh karena itu, dipinjamlah istilah “kaki” untuk menyebut mereka, karena mereka adalah makhluk terakhir yang diciptakan oleh-Nya. Tidak ada makhluk lagi setelah mereka selamanya.

Kedua: Istilah “kaki” dipinjam untuk nama-Nya Allah Al Jabbar, yaitu yang menundukkan, yang mengendalikan dan yang memaksakan kehendak. Jadi, maksudnya adalah, neraka itu senantiasa menyiksa dengan kekuatan sergapannya terhadap makhluk, juga dengan kekuatan membakar dan mengadzabnya, hingga Allah Al Jabbar meletakkan kaki-Nya di dalam neraka. Maksudnya, Allah Swt ber-tajalli di dalam neraka dengan nama-Nya Allah Al Jabbar sampai mengguncangkan neraka dengan cukup keras lantaran kebesaran Allah Al Jalal, sehingga neraka pun menyerah dan pasrah, kemudian ia berkata, “Cukup, cukup.” Dengan kekuatan itu, Dia (Allah) menghentikan siksanya. (Al ‘Arifibillah Al Faqih Sayyidi Muhammad bin Ahmad Akansus Ra pemah berkata: Ketahuilah, pemyataan ini banyak disampaikan oleh para wali Allah, seperti Syaikhul Akbar Ibnu ‘Arabi. Pemyataan ini butuh penakwilan dengan menggunakan salah satu dari dua cara:

Pertama, siksa neraka akan selesai bagi orang-orang beriman yang melakukan maksiat. Lalu mereka dikeluarkan dari neraka lantaran mendapatkan syafa’at dan selesainya ancaman Allah. Sedangkan orang-orang kafir, siksa mereka selama-lamanya tidak akan berhenti. Masalah ini telah kita ketahui bersama.

Kedua, yang dimaksud berhentinya siksaan nereka adalah bahwa Allah Swt tidak menambah ragam siksaan neraka sesuai dengan apa yang telah disampaikan oleh para ulama, sejak pertama kali sampai saat itu. Yaitu perkataannya, “cukup, cukup”. Maka, beragam siksaannya tidak ditambah sedikit pun sebagaimana sebelumnya. Tetapi, beragam siksaan itu akan terus menyiksa penghuni neraka, yaitu orang-orang yang telah Allah tetapkan kekekalan mereka di dalamnya hingga selama-lamanya.

Namun, Al Munawi dan yang lainnya menakwili pernyataan di atas dengan penakwilan yang lain.)

Sementara “Al Farah (Kebahagiaan)” di dalam hak-Nya Allah Swt yang terdapat dalam hadits, hakikatnya seperti hakikatnya tertawa. Karena tertawa adalah sifat yang ter-hijab, apabila Allah Swt hendak tertawa, maka Dia akan menyingkap tabir penghalang dari sifat tersebut. Dengan perkara sama yang dilihat oleh orang yang Allah ber-tajalli kepadanya, ia mengetahui sandaran kebaikan terhadap-Nya dan rasa aman dari adzab-Nya.

Demikian pula, kebahagiaan (Allah) setelah (seorang hamba) bertobat. Andai orang yang bertobat melihatnya, maka ia akan meyakini adanya seluruh kebaikan dan rasa aman dari semua adzab-Nya sesuai dengan janji-Nya yang benar,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا جَآءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰ يٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۙ اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْٓءًا بِۢجَهَا لَةٍ ثُمَّ تَا بَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَ صْلَحَ ۙ فَاَ نَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
wa izaa jaaa-akallaziina yu-minuuna bi-aayaatinaa fa qul salaamun ‘alaikum kataba robbukum ‘alaa nafsihir-rohmata annahuu man ‘amila mingkum suuu-am bijahaalating summa taaba mim ba’dihii wa ashlaha fa annahuu ghofuurur rohiim

“Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, “Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu).” Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 54)

Ter-hijab-nya sifat-sifat Allah tidak akan menyulitkan Anda, karena Rabb Swt menutupkan hijab bukan untuk semua sifat. Jika Allah hendak menyingkap hijab dari salah satu diantara sifat-sifat-Nya, maka Dia akan menghijab ragam sifat yang lain. Jika Allah Swt ber-tajalli dengan sifat rahmah ilahiyyah terhadap seorang hamba, maka Dia akan meng-hijab sifat intiqam dan qahr terhadapnya, karena di dalamnya terdapat kegelisahan dan kekhawatiran. Demikian pula sebaliknya. Juga seperti ini pula dengan semua sifat-Nya Allah Swt. Jika Allah ber-tajalli dengan satu dari ragam sifat-Nya, maka Dia akan meng-hijab ragam sifat-Nya yang lain.

Jadi, Allah tidak ber-tajalli dengan seluruh sifat-Nya yang digunakan dalam waktu yang sama. Saat Dia ber-tajalli dengan salah satu dari sifat-sifat-Nya, maka Dia akan meng-hijab ragam sifat-Nya yang lain. Demikian pula dengan kondisi salah satu diantara para wali Allah yang kondisi jiwanya terus naik dalam setiap kedipan mata, sehingga ragam sifat dan nama Allah Swt tersingkap baginya hingga tidak terhitung dan tidak terbatas. Sedangkan sisanya ada dalam hijab. Demikian pula dalam usia akhirat yang bersifat abadi, tersingkaplah baginya hijab ragam sifat dan nama Allah Swt. Sedangkan sisanya ter-hijab. Disamping itu, tidak ada satu makhluk pun yang mampu menerima tajalli-Nya Allah dengan semua sifat dan nama-Nya dalam satu waktu. Tidak ada satu makhluk pun yang mampu untuk itu.

Jika engkau telah mengetahui hal ini, berarti engkau sudah mengetahui bahwa dua sifat, yaitu tertawa dan bahagia dari Allah Swt, keduanya sama-sama ter-hijab. Jika Allah hendak ber-tajalli dengan kedua sifat itu, maka Dia akan menyingkapkan hijab dari keduanya, kemudian Dia ber-tajalli dengan kedunya; dengan sifat bahagia atau dengan sifat tertawa.

Yang dimaksud dengan kondisi bahagia dan tertawa adalah, ketika Allah ber-tajalli, Dia akan memberikan ragam kebaikan yang tidak terhitung dan tidak terbatas, serta menjauhkan dari kerusakan dan keburukan yang tidak terhitung dan tidak terbatas. Demikianlah puncak tajalli dengan keduanya.

Wassalaamu ‘alaikum warahmatullaahi wa barakatuh.

Selesai sudah apa yang di-imla`kan kepada kami dari penjelasan Syaikh Ahmad At-Tijany; baik dari hafalan maupun dari catatan beliau.

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 2 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY