You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 5. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang sabda Rasulullah Saw,
حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبْحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang sabda Rasulullah Saw,

حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبْحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

“Hijab-Nya adalah cahaya. Jikalau Dia menyingkapkannya, maka kesucian wajah-Nya akan membakar apa yang dijangkau oleh penglihatan-Nya dari makhluk-Nya.”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Maksud hadits ini adalah, bahwa andai semua makhluk memandang Allah Swt tanpa hijab, maka kesucian wajah-Nya Allah akan membakar seluruh makhluk yang memandang-Nya tanpa hijab. Dan dengan cepat mereka akan kembali tiada seperti semula melebihi kecepatan kedipan mata.

Redaksi “مَا” cocok untuk semua makhluk. Kata ganti terakhir dalam kalimat “adrakahu” kembali kepada Allah Swt. Fa’il (subyek) dari kata “adraka” adalah “بَصَرُهُ” Sedangkan kata ganti dalam kalimat “بَصَرُهُ” adalah “huwa” yang dijelaskan dengan redaksi berikutnya, yaitu “مِنْ خَلْقِهِ

Redaksi, حِجَابُهُ النُّورُ “Hijab-Nya adalah cahaya”. Maksudnya, dua cahaya yang menjadi hijab bagi makhluk dari melihat Allah Swt. Hijab pertama adalah hakekat Al Muhammadiyyah. Ia adalah Barzakhul Akbar antara Allah dan makhluk-Nya. Hijab kedua adalah Rida Kibriya (Jubah kebesaran Allah) yang menutupi-Nya, tidak ada jalan untuk merobeknya.

Sedangkan perkataan Syaikh Maulana Abdussalam bin Masyisyi Ra, “Hijab-Mu yang besar yang menghalangi di hadapan-Mu” maksudnya adalah hakekat Al Muhammadiyyah, karena hijab beliau Saw diletakkan untuk menyempurnakan manfaat dari-Nya, bukan untuk menghalangi manfaat. Andai tidak ada hijab, maka makhluk tidak akan mampu berjumpa Rabb mereka dengan cara mengambil manfaat dari-Nya. Andai mereka melihat langsung kesucian wajah-Nya Allah dengan pandangan mereka, maka semua makhluk akan terbakar, hingga tidak ada lagi makhluk yang akan mengambil manfaat. Sebab, pengambilan manfaat itu dari balik hijab, maka diletakkanlah hijab di hadapan Allah Swt, agar semua makhluk dapat mengambil manfaat sebab adanya hijab tersebut sebagai unsur (elemen) dari keberadaan mereka, melestarikan mereka, dan sebagai unsur pengambilan manfaat dari Allah Swt. Sebab, semua manfaat itu diambil dari Allah Swt secara mutlak. Kemudian hijab besar menghalangi Allah Swt, hijab itu menjadi kuat karena kekuatan-Nya, kemudian Dia (Allah) memberikan manfaat itu kepada semua makhluk. Andai tidak ada hijab itu, maka tidak ada seorang pun yang dapat mengambil manfaat dari Allah Swt. Demikianlah yang dimaksud dengan kalimat “Hijab itu diletakkan sebagai ifâdah (pemberian manfaat)”.

Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللّٰهُ مُعْطِي

“Sungguh aku hanya yang membagi dan Allah lah yang memberi.”

Rasulullah Saw mengisyaratkan bahwa kepastian ilahiyyah untuk menerima itu sesuai dengan kehendak Rabbani. Kemudian Allah Swt menjadikan Nabi-Nya Saw sebagai utusan-Nya untuk menyampaikan pembagian yang telah dibagi tersebut, sesuai dengan kehendak yang telah kami sebutkan di atas, yaitu kepastian ilahiyyah. Jadi, Rasulullah Saw tidak memberikan apa-apa, kecuali yang telah ditentukan oleh kepastian ilahi. Sekarang sudah jelas bagimu bahwa datangnya pemberian itu dari Allah Swt, baik secara global maupun terperinci, untuk orang yang telah dikehendaki menerimanya.

Pemberian secara terperinci itu diberikan kepada para pemiliknya dan sesuai dengan martabat hakekat Al Muhammadiyyah-nya. Allah Swt memberikannya kepada para pemiliknya sesuai dengan kadar nisbat. -Demikianlah maksud hadits,

إِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللّٰهُ مُعْطِي

“Sesungguhnya aku hanya yang membagi, dan Allah lah yang memberi.”-

Hijab Pertama bagi Allah Swt adalah hijab kibriya, tidak ada jalan untuk merobeknya. Hijab kedua adalah hijab hakekat Al Muhammadiyyah antara Allah dan makhluk. Di bawah hakekat Al Muhammadiyyah terdapat hijab-hijab dari cahaya. Tidak ada seorang pun yang bisa sampai kepada hakekat Al Muhammadiyyah dan bisa menembus hijab-hijab dari cahaya yang ada di bawahnya. Tetapi, Allah lah yang ber-tajalli dari balik hijab kibriya’, dari balik hijab hakekat Al Muhammadiyyah, dan dari balik hijab-hijab yang lainnya.

Wushul kepada Allah Swt itu harus melalui pintu Nabi Saw, karena beliau adalah satu-satunya pintu wushul kepada Allah Swt. Tidak ada harapan wushul kepada Allah Swt bagi seorang pun tanpa melalui pintu itu. Yang dimaksud dengan pintu itu adalah dengan mengikuti syari’at Nabi Saw, menapaki jalannya, berakhlak dengan akhlaknya, dan beradab dengan adabnya, serta ikhlas dalam melakukan semua itu karena Allah Swt.

Dengan ketentuan ini, seorang hamba akan wushul kepada Allah Swt. Tidak ada jalan untuk wushul kepada-Nya tanpa ketentuan ini. Jika orang yang wushul kepada Allah Swt menginginkan semua hijab itu hilang darinya secara mutlak dan wushul kepada-Nya murni tanpa hijab, atau membuang hijab-hijab itu ke belakangnya, keinginan ini tidak mungkin tercapai dan tidak ada harapan bagi seorang pun untuk mencapainya. -Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Diantara hal yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra pada kami adalah: Abu Al ‘Abbas Al Mursi berkata, “Tidak akan bisa masuk menemui Allah, kecuali melalui dua pintu; Dari pintu fana` akbar, yaitu kematian tabiat, atau fana yang telah disebutkan oleh kelompok (ahli thariqah) ini.”

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 2 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY