You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 24. Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat ma’rifat pada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat ma’rifat pada Allah

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Ma’rifat yang hakiki adalah Allah menarik hamba-Nya dengan tarikan yang tidak diketahui asal muasalnya, tidak pula diketahui pasal dan sebabnya, tidak pula bisa dinalar tentang bagaimananya, tidak pula menyisakan rasa pada panca indera, pada penyaksian dirinya, pada keterhapusan dirinya, pada kehendak dan keinginan dirinya, tetapi kondisi ini terjadi dari sisi ilahiyyah yang tidak didahului oleh permulaan dan tidak diketahui akhirnya, tidak pula diketahui batasan dan akhirnya, diri sang hamba Allah itu akan terhapus sehingga tidak menyisakan rasa yang membuat dirinya bisa merasakan sesuatu dan tidak pula rasa untuk tidak merasakan keterhapusan dirinya itu, diapun tidak dapat membedakan sama sekali, bahkan tidak lagi terpikirkan kecuali Dzat Allah Al Haqq, dengan kemampuan Allah Al Haqq, pada kecintaan Allah Al Haqq, maka inilah ma’rifat yang hakiki.

Kemudian Allah Swt kucurkan padanya kucuran ilahiyyah dari cahaya kesucian-Nya yang membuatnya memiliki sense pembeda yang sempurna antara ragam martabat dan kekhususannya. Allah Swt pun berikan dia ragam hakekat dengan semua hukum, tuntutan dan perkara yang lazim bagi perkara tersebut. Allah Swt pun berikan dia rincian dari ragam sifat dan nama-nama Allah Swt dengan ragam martabat dari jejak sifat dan nama Allah beserta ragam pengetahuan dan ilmu akannya. Kondisi jiwa yang mampu membedakan ini biasa dinamakan dengan al baqa `ut-tâm wa shawul kâmil.

Asal pertama dari kondisi jiwa ini disebut dengan al fana at-tâm was-shahwul kâmil, dimana tidak terjadi kondisi al Baqa ini kecuali dengan kondisi fana’ul fana yang pertama dengan dasar dan kaidahnya, maka kapan kondisi yang pertama itu hancur, maka kondisi yang kedua pun akan hancur. -Selesai sudah apa yang di-imla’kan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra pada kami

Barangsiapa yang ber-tajalli dengan sifat diatas, maka benarlah dia menampakkan diri dan didahulukan dari yang lainnya, kepadanyalah sang murid menetapkan diri dan mengikuti jalan beliau dengan menepati ragam perintahnya dan menjauhi ragam larangan yang menentangnya meski dengan kalbunya. Jika sang murid melakukan ini, maka dia telah memohon pada Allah Swt dari sisi keutamaan dan kedermawanan-Nya agar Allah tampakkan padanya sisi kefaqiran diri dan kehinaan diri, juga dengan kemuliaan sosok yang Dia cintai dan berstatus nabi-Nya; Muhammad Saw agar Allah rahmati ia dengan futuh akbar ditangan sosok suri tauladannya; Muhammad Saw.

-Orang yang memohon futuh tidak melalui pintunya, maka ia akan ditolak dan penyebab dirinya futüh pun tidaklah bermanfaat baginya.-

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Kaidah: Ketahuilah bahwa mengenai futûh dan wushûl pada Allah dalam hadhrah ma’arif, Allah tidak berikan itu kecuali pada sosok yang memiliki izin khusus seperti izin risalah kenabian, maka kapan izin khusus itu hilang, maka dia pun tidak mendapatkan futûh dan wushûl dari Allah Swt, yang dia dapat hanya lelah saja.

Orang yang sering menela’ah ragam buku tasawuf dan menapaki perjalanan ruhani dengan menukil dari buku-buku tersebut, menjadikannya dalil dan mengembalikan ragam perkara padanya, dia tidak mendapatkan dari perjalanan ruhaninya itu kecuali hanya lelah saja, dia tidak mendapatkan apa-apa dari Allah Swt; maksudnya dia tidak bisa sampai pada hadhrah ma’arif dan ragam kekhususan.

Sedangkan mengenai ganjaran yang dia terima, maka ia akan diganjar sesuai keikhlasan dirinya.-Wassalam.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 2 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY