
Elsubha.com – Akupun bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang menyaksikan makhluk; maksudnya malaikat dan jin
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Ketahuilah para wali dari kalangan jin, peranan mereka seputar perbuatan, sirr perbuatan dan cahaya perbuatan. Sedangkan Ruhaniyyun, peranan mereka seputar isim, sirr ism dan cahaya isim. Sementara peranan malaikat adalah seputar sifat, sin sifat dan cahaya sifat-sifat Allah. Para wali Allah dari kalangan manusia, peranan mereka seputar Dzat, rahasia Dzat dan cahaya Dzat Allah. Setiap manusia telah mengetahui sumber masyrab-nya.
Pada manusia: martabat pertama kasyafnya adalah pada martabat jin, kemudian meningkat menuju martabat keempat -semoga Allah tidak haramkan kita dari martabat tersebut. – Wassalam-
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Berkitarnya arwah para wali Allah dan penyaksian mereka berbeda-beda. Diantara mereka ada yang batasannya alam mulki, yaitu dari langit dunia ke bumi, dialah yang tingkatannya paling rendah. Diantara mereka ada yang batasannya sampai alam malakut, yaitu dari langit ketujuh sampai disini. Diantara mereka ada ilmunya berakhir di alam jabarut, yaitu dari ‘Arasy sampai disini. Diantara mereka ada yang ruhnya menjadi burung hijau dan keluar dari bola bumi ini, dialah yang memiliki martabat paling besar. Semoga dengan keutamaan dan kemuliaan Allah, Dia jadikan kita termasuk golongan mereka.
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra melanjutkan: Martabat para wali Allah itu ada tiga:
Pertama, martabatnya orang yang ‘Arifbillah, yang berupa penyaksian Allah Al Haqq dalam berbagai tingkatan.
Kedua, ragan martabat wali Afrâd, yang berupa penyaksian Allah Al Haqq tidak dari sisi martabat yang ada.
Ketiga, martabat wali Quthb, yang berupa sisi ghaib terdalam nan tersembunyi, tidak ada yang bisa menyebut-kan, tidak pula ada yang bisa mengetahuinya kecuali sosoknya, dialah wali Quthb Al jami. Sebab, wali quthb memiliki dua martabat sebelumnya; yaitu penyaksian Allah Al Haq dalam berbagai martabat dalam berbuat sesuatu di alam ini dan diapun menyaksikan Dzat Allah pada selain martabat yang ada. Dia memiliki martabat ghaib nan tersembunyi yang tidak dimiliki oleh selainnya.
Ragam kemuliaan yang Allah beri pada wali Quthb. Allah mengajarkannya ilmu sebelum adanya makhluk berikut ragam perkara yang ada dibalik penciptaan dan perkara lain yang tidak ada akhirnya. Allah tampakkan Dzat-Nya padanya secara langsung. Allah ajarkan dia semua nama yang ada pada setiap biji atom dari makhluk yang ada; maksudnya adalah nama-nama yang agung. Allah Swt khususkan dia dengan ragam rahasia dairah ihathah dan semua kucuran ilahiyyah beserta kandungan-nya. Dengan semua inilah dia dikhususkan dari para wali Afrâd yang merupakan pembuka perbendaharaan Allah, para wali Afrad ini tidak mengetahui bahwa perbendaharaan Allah adalah milik mereka sementara wali quthb mengetahui hal tersebut, sedangkan penyaksian jiwa wali quthb, maka para wali afrâd tidak mengetahuinya.
Sebab wali quthb masuk kedalam hadhrah Allah melalui pintu tipuan yang mana pintu ini terhalang dari para wali afrâd. Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menisbatkan perkataan ini pada Abul Hasan Asy-Syadzili Ra.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kembali melanjutkan perkataan beliau:
Khalifahnya Allah memilki kemampuan bertindak secara umum. Hukumnya global nan mencakup semua kerajaan Allah Swt. Dengan itulah dia memiliki otoritas terkait dengan perintah dan larangan Allah, penilaian baik dan penilaian buruk, bisa memuji dan mencela sesuai dengan tuntutan pangkat khalifah Allah; baik sosoknya adalah seorang nabi atau juga wali, mereka sama dalam martabat ini. Seorang utusan Allah tidak memiliki keumuman perihal perintah dan larangan kecuali apa yang beliau dengar dari Allah Swt yang mengutusnya dan tak lebih dari itu, sungguh seorang Rasul (utusan Allah Swt) hanya sebatas orang yang menyampaikan risalah saja dan bukan sosok yang berhak memerintah dan melarang kecuali jika Rasul (utusan Allah Swt) tersebut juga berstatus khalifah. Jika demikian, maka beliau inilah sosok yang memiliki martabat paling utama dalam sisi kekhilafahan Allah Swt.
Dengan demikian, maka seorang khalifah yang juga wali Allah Swt memiliki lingkaran yang lebih luas dalam perkara perintah dan larangan daripada seorang Rasul (utusan Allah Swt) yang bukan berstatus khalifah. Contoh perkara ini yang mudah kita lihat adalah seperti perumpamaan raja teragung yang mewakilkan seseorang untuk bertindak apapun pada kerajaannya yang berkaitan dengan rakyat, dimana sang raja ini tidak mewakilkan perkara tersebut pada para menteri dan petinggi pemerintahannya meski sebenarnya merekalah yang memiliki kedudukan yang paling tinggi daripada para petinggi pemerintahan lainnya. Kiranya contoh inilah yang dapat menjawab keganjilan berkenaan seorang khalifah yang berstatus wali Allah lebih tinggi martabatnya daripada seorang Rasul (utusan Allah Swt) yang tidak berstatus khalifah.
-Selesai sudah apa yang di-imlakan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
