
Elsubha.com – Karomah Sayyidi Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu (001)
Pada artikel ini, kami mencoba menyebutkan contoh dari karomah yang Allah Swt anugerahkan kepada Sayyidi Syaikh Abul ‘Abbas Ahmad At-Tijany Ra.- Aku pun ridho kepada beliau dan semoga kita pun mendapat keridhoan beliau.-
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Thariqah kami merupakan thariqah murni pemberian (dari Allah Swt), Rasulullah Saw memberikannya padaku; yaitu dari beliau kepadaku tanpa ada perantara, dalam kondisi sadar dan tidak dalam kondisi mimpi.”
Perlu diketahui, bahwa berdirinya thariqah ini semata-mata pemberian Allah Swt, perkara ini tidak terkait dengan beragam perintah dan larangan; balasan kebaikan dan keburukan; beragam hasil uji coba; beragam hal yang lazimnya terjadi dan perkiraan lainnya.
Lingkaran kehidupan yang paling rendah adalah lingkaran kehidupan manusia, sedangkan lingkaran keutamaan Allah Swt, itu adalah sisi khusus dan murní pilihan Allah Swt, Allah Swt memberikan kucuran anugerah tersebut dari lautan kedermawanan dan kemuliaan-Nya, kucuran anugerah-Nya tidak terbatas pada adanya penyebab yang membuatnya ada dan tidak pula terikat dengan suatu syarat, tidak bergantung pada hilangnya suatu larangan, akan tetapi perkara ini terjadi muni karena kehendak-Nya. Allah Swt tidak peduli lagi dengan siapa sosok yang mendapat kucuran anugerah-Nya; apakah ia telah mengambil janji (dengan agama Islam) ataukah tidak; apakah ia mengikuti metode yang mengarah pada jalan yang lurus ataukah ia jatuh pada kubangan maksiat.
Dalam kondisi itu, Allah Swt pun tidak lagi peduli untuk siapa dan terkait hal apa Dia akan memberi. Jika ada makhluk yang bisa mendapatkan ini, maka sempurnalah kenikmatan dunia dan akhirat baginya tanpa perlu merasakan kesengsaraan sedikitpun, bahkan keluarga orang ini turut mendapat anugerah tersebut, [alhamdulillah), sehingga ibadah yang dilakukan makhluk yang mendapat anugerah ini adalah ibadah yang bentuknya ungkapan rasa cinta dan syukur. Inilah warisan dari sisi Al Muhammady, sebagaimana yang tertera dalam hadits Nabi Saw,
أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?! “
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَقُومُ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرِمُ قَدَمَاهُ أَوْ سَاقَاهُ فَيُقَالُ لَهُ تيَقُولُ أَفَلَا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
Nabi saw biasa bangun malam untuk melakukan shalat hingga kaki atau betis beliau bengkak, maka beliaupun bersabda, “Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?!” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih mereka; At-Tirmidzi; An-Nasa`i; Ibnu Mâjah; Ibnu Abi Syaibah; Al Baihaqi; ‘Abdurrazzâq; Ath-Thabrāni; dan Al Humaidi dari riwayat Al Mughirah bin Syu’bah).
Oleh karena itu, Sayyidi Abul ‘Abbas Ahmad At-Tijany Ra berkata, “Thariqahku adalah thariqah syukur.”
Beliau juga pernah berkata, “Sungguh para sahabatku tidak akan dimakan oleh api (neraka), walaupun ia telah merenggut 70 ruh orang lain; yaitu (dengan catatan) jika dia bertobat setelah melakukannya.”
Lingkaran anugerah ini sudah disebutkan dalam Al Qur`an; kitab yang tidak ada kebatilan yang menyisipinya, baik dari arah depan maupun belakang, seperti yang tertera dalam firman-Nya:
مَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَلَا الْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يُّنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ خَيْرٍ مِّنْ رَّبِّکُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
maa yawaddullaziina kafaruu min ahlil-kitaabi wa lal-musyrikiina ay yunazzala ‘alaikum min khoirim mir robbikum, wallohu yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 105)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تُؤْمِنُوْۤا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْ ۗ قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِ ۙ اَنْ يُّؤْتٰۤى اَحَدٌ مِّثْلَ مَاۤ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَآ جُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِ ۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
wa laa tu-minuuu illaa limang tabi’a diinakum, qul innal-hudaa hudallohi ay yu-taaa ahadum misla maaa uutiitum au yuhaaajjuukum ‘ingda robbikum, qul innal-fadhla biyadillaah, yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Dan janganlah kamu percaya selain kepada orang yang mengikuti agamamu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kamu, atau bahwa mereka akan menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 73)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَّخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 74)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَـفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
qul bifadhlillaahi wa birohmatihii fa bizaalika falyafrohuu, huwa khoirum mimmaa yajma’uun
“Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Yunus 10: Ayat 58)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, bahwa Rasulallah Saw pernah bersabda,
ليَمَنِيَنَّ أَقْوَامٌ لَوْ أَكْثَرُوا مِنَ السَّيِّئَاتِ قَالُوا : بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الَّذِينَ بَدَّلَ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ.
“Biarkan saja suatu kaum berangan-angan ketika mereka banyak melakukan perbuatan buruk,” para sahabat berkata, “(berangan-angan) dengan apa wahai Rasulallah?” Beliau bersabda, “Orang-orang yang Allah ganti keburukan mereka dengan kebaikan. ” (HR. Al Hakim, dimana ia menilainya shahih berdasarkan syarat Asy-Syaikhani, Adz-Dzahabi pun menilai sama. Al Qurthubi, Ar-Razi dan An-Naisabai menyebutkan riwayat ini dalam tafsir mereka.)
Dari keutamaan ini, Allah Swt pun telah memberikan keutamaan shalawat fatih kepada Sayyidi Syaikh Ra dengan keutamaan yang tidak diberikan kepada pembesar wali quthb lainnya, semua ini murni merupakan keutamaan dan anugerah dari Allah semata, bahkan sampai dikabarkan kepada beliau bahwa huruf-huruf isim a’zham al kabir pun sudah dibagikan dalam shalawat ini (shalawat fatih), bahkan beliau pun (Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) berkata, “Seluruh umur manusia lenyap begitu saja kecuali pengamal shalawat fatih lima ughliq, sebab sungguh ia (pengamalnya) telah beruntung dengan keuntungan dunia dan akhirat. Tidaklah seseorang membacanya (shalawat fatih) kecuali ia tergolong menjadi orang yang beruntung.”
Kekhususan shalawat fatih merupakan rahasia ilahi yang tidak masuk akal, kekhususan tersebut sebagaimana yang diutarakan oleh Sayyidi Syaikh Ra, “Jikalau saja ada 100.000 kabilah, di satu kabilah ada 100.000 lelaki, setiap lelaki berumur 100.000 tahun, setiap dari mereka membaca shalawat kepada Nabi Saw sebanyak 100.000 shalawat selain shalawat fatih, lalu semua umat ini dikumpulkan dengan semua jumlah tahun yang ada dan dengan dzikiran yang serupa, maka semua ini tidak menyamai satu pahala bacaan shalawat fatih.”
Sudah kita ketahui bersama, bahwa jika seorang muslim bershalawat kepada Nabi Saw dengan shalawat yang lain (selain shalawat fatih), niscaya Allah dan malaikat-Nya akan bershalawat (melimpahkan rahmat) kepadanya sepuluh kali, lalu lihatlah engkau pada kadarnya Dzat Allah Swt, kemudian lihat pula bagaimana satu shalawat tersebut dilipatgandakan oleh Allah Swt menjadi sepuluh kali lipat.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun diberikan keutamaan bacaan surah Al Fatihah dengan niatan isim azham, beliau berkata, “Satu kali bacaan Al Fatihah itu setara dengan bacaan shalawat fatih sebanyak 1 triliun dan semua ini merupakan martabat zhahir bacaan surah Al Fatihah dengan niatan isim a’zham, lantas bagaimana pendapatmu tentang bacaan surah Al Fatihah dengan martabat bathin?. Allah Swt berfirman,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 4)
Sayyidi Syaikh Ra juga pemah berkata, “Seluruh perkara yang sudah kusebutkan terkait keutamaan yang Allah Swt berikan kepada ashab kami, itu bukan lantaran keutamaan tersebut tersembunyi; itu hanya layaknya satu tetes air di lautan.”
Sayyidi Syaikh Ra juga pernah berkata, “Jika saja para pembesar wali quthb itu tahu apa yang sudah Allah Swt siapkan untuk ashab kami di surga, niscaya mereka akan menangisi hal itu, mereka pun akan berkata, ‘Engkau tidak memberikan apapun kepada kami wahai Rabb kami’.”
Sayyidi Syaikh Ra juga pernah berkata, “Tidak ada satupun para wali yang dapat memasukkan segenap sahabatnya ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa diberi hukuman kecuali hanya aku sendiri (yang dapat melakukannya), sekalipun mereka (para sahabatku) berdosa dan banyak melakukan kemaksiatan.”
Saat Sayyidi Syaikh Ra mendengar firman Allah Swt,
وَقَلِيْلٌ مِّنَ الْاٰ خِرِيْنَ
wa qoliilum minal-aakhiriin
“dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian,”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 14)
beliau berkata, “Mereka adalah sahabat kami.”
Ketika keutamaan thariqah ini begitu banyak, Sayyidi Syaikh Ra senantiasa mengingatkan berulang kali agar jangan merasa aman dari makar Allah Swt, dengan perkataan beliau, “Seluruh perkara yang sudah kupaparkan terkait thariqah ini merupakan perkara yang benar adanya andai selamat dari makar Allah Swt. Para Rasul Allah dengan segenap kemuliaan dan tingginya kedudukan mereka-, mereka tidak pernah merasa aman dari makar Allah Swt.”
Sayyidi Syaikh Ra pernah berkata, “Beritakanlah kabar gembira, bahwa setiap orang yang memiliki kecintaan kepada kami sampai ia meninggal dunia dengan kecintaan tersebut, niscaya ia akan dibangkitkan sebagai golongan orang-orang yang aman, bagaimanapun kondisi dirinya, (dengan catatan) selagi ia tidak merasa aman dari makar Allah.“
Sayyidi Syaikh Ra juga berkata, “Barangsiapa yang mengambil wiridan (thariqah) kami dan mendengar perkara terkait masuk surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab, juga bahwa dirinya tidak dimudharatkan dengan kemaksiatan, maka jika ada orang yang mendengar ini kemudian dirinya tercebur dalam kubangan maksiat lantaran perkara yg telah ia dengar, serta menjadikan perkara itu (yang telah ia dengar) sebagai tameng merasa aman dari hukuman Allah Swt terkait kemaksiatannya, niscaya Allah Swt akan masukkan kedalam hatinya sikap membenci kami hingga ia mencela kami, di saat ia sudah mencela kami, niscaya Allah Swt akan mematikannya dalam keadaan kafir.”
