You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Kenali Rabb-mu; Allah Swt : Hakekat Mahabbah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Kenali Rabb-mu; Allah Swt : Hakekat Mahabbah

Kecintaan para hamba terhadap Tuhan mereka dan terhadap Nabi mereka tidaklah seperti gambaran adanya orang yang datang kepadamu untuk berziarah kemudian berkata, “Aku inginkan darimu ini dan itu.” Begitu juga orang yang cinta padamu, ia datang padamu hanya untuk sekedar melihatmu, bukan untuk tujuan yang lain, maka ada perbedaan diantara kedua hal ini.

Sebagaimana seorang hamba seyogyanya tidak meminta kecuali kepada Allah Swt secara ikhlas dan bukan untuk ragam tujuan dunia atau juga ragam tujuan akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ 
wa maaa umiruuu illaa liya’budulloha mukhlishiina lahud-diina hunafaaa-a wa yuqiimush-sholaata wa yu-tuz-zakaata wa zaalika diinul-qoyyimah

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”
(QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)

Maka Allah Swt dihambai tidaklah untuk suatu tujuan, akan tetapi karena dia adalah Tuhan yang berhak untuk di-Tuhan-kan dan diibadahi lantaran Dzat-Nya yang memiliki ragam sifat mulia dan luhur, serta memiliki ragam nama-nama Allah yang indah. Inilah yang disebut sebagai ibadah yang luhur.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra pernah mengatakan: “Asal dan dasar segala sesuatu adalah kecintaan.” Maka apabila ada seorang yang mengaku cinta kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra, beliau pun berkata padanya, “Diantara tanda cinta adalah berusaha mendapatkan keridhaan orang yang dicinta dan terus konsisten menjalankan perintah dan menjauhi larangannya serta mengikuti perkataan dan perbuatannya.”

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra pernah menceritakan sebuah cerita yang banyak diketahui oleh para raja-raja terdahulu: yaitu bahwa ada seorang raja yang punya pelayan yang dekat dengannya, para pengawal banyak membicarakan hal ini dan sang raja pun pun ingin menampakan sisi keistimewaan pelayan tersebut. Sang raja lalu memperlihatkan batu permata dan memerintahkan setiap pelayan yang ada untuk memecahkannya. Batu permata tersebut diperlihatkan pada setiap pelayan dan sang raja pinta untuk memecahkannya. Sesampainya sang raja di hadapan seorang pelayan (yang ingin beliau tampakkan sisi keitimewaan dirinya), pelayan tadi langsung memecahkannya tanpa ragu. Sang Sultan pun menganggap perbuatannya itu adalah perbuatan yang buruk sehingga sang pelayan tadi pun memelas kepada raja seraya berkata, “Wahai penghuluku, wahai tuanku.”

Sang raja berkata kepada pelayan yang lainnya, “Pertama, kalian semua telah diperintahkan untuk memecahkan batu permata itu, namun kalian malah balik memberiku petunjuk. Andaipun kalian pecahkan itu dan dicela lantaran perbuatan tersebut, kalian pun pasti akan berkata, ‘Paduka yang telah perintahkan kami’. Maka gambaran sang pelayan yang pertama tadi adalah bentuk ia melaksanakan perintah dan gambaran keduanya adalah bentuk sang pelayan memelas padaku. Oleh karena itu aku suka pelayan ini.”

Ketahuilah, bahwa kecintaan makhluk kepada Allah Swt digolongkan ke dalam beberapa tingkatan: Tingkatan pertama; Para pembesar wali yang Allah Swt berikan pada mereka kecintaan Dzat-Nya. Dengan itulah mereka tenggelam dalam lautan tauhid. Mereka tidak mengenal selain Allah Swt dan tidak berpaling dari-Nya. Sementara selain mereka dalam hal kecintaan; (Tingkatan kedua); yaitu umumnya para wali Allah, mereka mencintai Allah Swt lantaran keutamaan-Nya dan apa yang telah Allah Swt karuniakan dari sisi kedermawanan dan kecintaan-Nya pada mereka, yang muaranya adalah mereka bersyukur atas kecintaan tersebut. Pada kecintaan inilah para nabi ajak semua manusia.

Sementara kecintaan Allah pada mereka (makhluk), maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman terkait hak mereka,

وَمَا كَا نَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَ مَنْ يُّرِدْ ثَوَا بَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَا ۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَا بَ الْاٰ خِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَا ۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ
wa maa kaana linafsin ang tamuuta illaa bi-iznillaahi kitaabam mu-ajjalaa, wa may yurid sawaabad-dun-yaa nu-tihii min-haa, wa may yurid sawaabal-aakhiroti nu-tihii min-haa, wa sanajzisy-syaakiriin

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 145)

Tingkatan ketiga adalah kecintaan lantaran sisi adanya keimanan pada Allah Swt, dan ini dimiliki oleh semua orang-orang mukmin yang telah hilang dari mereka kebencian pada Allah Swt, sehingga tidak ada kecintaan pada Allah berbalut kebencian pada-Nya. Sedangkan kecintaan Allah kepada mereka, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman pada hak mereka,

وَعَدَ اللّٰهُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا وَمَسٰكِنَ طَيِّبَةً فِيْ جَنّٰتِ عَدْنٍ ۗ وَرِضْوَا نٌ مِّنَ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ ذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
wa’adallohul-mu-miniina wal-mu-minaati jannaating tajrii ming tahtihal-an-haaru khoolidiina fiihaa wa masaakina thoyyibatang fii jannaati ‘adn, wa ridhwaanum minallohi akbar, zaalika huwal-fauzul-‘azhiim

“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di Surga ‘Adn. Dan keridaan Allah lebih besar. Itulah kemenangan yang agung.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 72)

Tingkatan keempat adalah kecintaan yang bersifat umum; yaitu bagi orang-orang kafir secara khusus. Sungguh mereka mencintai Allah Swt dengan kecintaan uluhiyyah lantaran Dzatnya memiliki kesempurnaan uluhiyyah dan keumumannya, hanya saja mereka berselisih pada martabat itu. Diantara mereka ada orang-orang yang mencintai Allah Swt berbarengan dengan pengetahuan mereka akan sisi uluhiyyah Allah, seperti orang-orang Yahudi. Ada pula diantara mereka yang mencintai Allah, namun salah dalam penisbatan uluhiyyah kepada Dzat yang lain, hanya saja Allah Swt ber-tajalli pada mereka dengan gambaran tersebut lantaran sempurna sisi uluhiyah-Nya, sehingga mereka pun mencintai Allah dan menghamba pada Allah tanpa mereka sadari. Jika bukan lantaran Allah Swt ber-tajalli pada mereka dengan ‘bungkus’ dan tarik mereka dengan tajalli pada kecintaan sisi uluhiyyah-Nya, maka mereka pun tidak akan pernah menoleh kepada berhala-berhala tersebut. Hakekatnya mereka adalah orang-orang yang mencintai Allah Swt, menghamba pada Allah tanpa mereka sadari, maka seluruh makhluk yang ada; baik global maupun terperinci itu sesuai pada kehendak ilahiyyah.

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY