You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Nafa`is dan Asrar : Syarat Khalwat

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Nafa`is dan Asrar : Syarat Khalwat

Al Hajj Bu Ghararah Al Makrari Al Fauqani bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra tentang persyaratan khalwat.

Beliau Ra menjawab: Bismillahirahmanirahim… Surat ini teruntuk orang yang kami cintai; Sayyidi Bu Ghararah al Makrari. Setelah kami mengucap Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Engkau telah menulis padaku dan bertanya tentang ragam persyaratan riyadhah dan jalur ma’rifat dengan isim a’zham…Ketahuilah bahwa syarat riyadhah yang patut dilakukan adalah beragam perkara berikut; dimana ini pun akan rusak ketika salah satu dari persyaratan berikut ini tidak dilakukan.

Pertama, bertobat dengan tobat dari segala dosa lantaran mengerjakan larangan Allah Swt.

Kedua, mampu membatasi kalbu dari seluruh khawatir dan ragam kesibukan. Apabila engkau belum mampu untuk melakukan syarat yang pertama, maka apalagi syarat ini. Akan tetapi jagalah kalbumu meskipun ketika pikiranmu ingin berfantasi pada beragam perkara yang lumrah, engkau pun bisa menepis itu. Begitu pula dengan ragam perkara dibalik dengan gambaran yang tidak dapat diindera.

Ketiga, adanya tempat yang tidak memungkinkan ia untuk bertemu dengan manusia lain kecuali satu guru, dimana engkau pun dibebani dengan urusan tempat tersebut.

Keempat, senantiasa diam kecuali ketika berdzikir.

Kelima, senantiasa menahan lapar secara bertahap engkau makan pada malam hari yang pertama seperti biasanya, kemudian setiap malam porsinya dikurangi sedikit demi sedikit. Sebagai contoh pada malam pertama kadar makananmu itu 2/3 kemudian setiap malannya dikurangi sedikit demi sedikit.

Keenam, tidak memakan apa yang keluar dari roh hewani; baik secara global maupun terperinci.

Ketujuh, terus berpuasa

Kedelapan, senantiasa konsisten menjaga kesucian badan, dimana ia tidak duduk satu jam saja kecuali dalam keadaan suci, dia pun tidak tidur kecuali dalam kondisi suci.

Kesembilan, menyedikitkan tidur kecuali dalam kondisi darurat.

Kesepuluh, mengkhususkan waktu untuk berdzikir, sebagiannya untuk istirahat, sehingga dia menentukan antara malam dan juga siang ada 6 waktu untuk berdzikir, dimana pada waktu tersebut ia berdikir sejumlah biangan dzikiran, waktunya adalah setelah shalat Subuh, waktu Dhuha, setelah shalat Zhuhur, setelah shalat Ashar, setelah shalat Maghrib dan pada tengah malam setelah tidur.

Hendaknya pada hari pertama engkau menentukan bilangan dzikiran yang tidak memberatkan dirimu dan terus hal tersebut dilakukan sampai gelapnya malam dan siang dalam kondisi berdzikir pada Allah.

Syarat yang ditekankan dalam riyadhah adalah mengkonsistenkan untuk haus dan tidak minum dalam jangka waktu yang lama, karena para ulama sepakat bahwa haus itu merupakan perkara yang menipu. Ketika seseorang bersabar untuk tidak minum, maka ia pun akan lupa sehingga memberikan efek kejernihan yang dahsyat dalam kalbu dan ketika seorang meremehkan hal tersebut, maka bekas dari jernihnya kalbu itu pun sedikit.

Syarat lainnya adalah meninggalkan segala kebutuhan selain riyadhaih tersebut, seperti kebutuhan keluarganya untuk makan dan semisal itu.

Syarat yang juga ditekankan adalah bermuamalah dengan Allah semata-mata dengan niat ibadah dan mujahadah nafs serta menolak selain Allah, seperti contohnya: Dia ingin melakukan hak-hak Rububiyah, maka dia pun harus ber-riyadhah dengan beragam syarat di atas.

Diantara syarat yang ditekankan pula adalah senantiasa berusaha untuk mendengarkan kalbu turut berdzikir kala lisan berdzikir, sekalipun kalbu berpaling dari kondisi tersebut. la pun perlu terus berlatih untuk mengembalikan kalbu pada kondisi biasanya.

Andai engkau mampu menjaga beragam persyaratan diatas dengan sempurna sampai 40 hari, maka dengan itulah ia mampu menguatkanmu untuk menghegemoni rohani ketika engkau ingin ber-tasharruf; dengannya pula ia mampu menarik beragam rahasia dari asma Allah kala ia ingin ber-tasharruf dengan hal itu. Kala itu kalbumu mampu hadir sehingga mempercepat tersebarnya cahaya dzikiran pada kalbumu. Dari sinilah engkau bisa memulai suluk kepada hadhrah Allah; Sang Raja dari para Raja. Seketika ini pula hendaknya engkau menjaga beragam persyaratan diatas dan senantiasa konsisten dalam ber-khalwat serta tenggelam dalam dzikiran meskipun dengan pikiran apapun. Sungguh ketika engkau mampu melakukan selama 40 hari setelahnya, maka engkau akan dapati dalam kalbumu seberkas cahaya yang menarikmu untuk bangkit menuju Allah dengan cara memotong segala penghalang dirimu menuju Allah. A

Ketika inilah seyogyanya engkau menjaga ragam syarat di atas bersamaan dengan tenggelam dalam dzikiran, maka di situlah kejernihan rohani akan menetap dalam kalbumu dan engkau pun telah dekat dengan sifatnya para malaikat, dimana engkau pun akan mendengarkan perkataan dari kalbumu yang berasal dari sisi ghaib.

Apabila engkau tambah khalwat tersebut 40 hari berikutnya, maka akan muncul bagimu wajah dari tauhid af’al, dimana engkau akan mampu melihat beragam perbuatan Allah di alam ini, engkau pun akan mampu melihat seluruh alam semesta tidak bergerak, engkau pun akan melihat tangan dari kemampuan azali yang menggerakkannya seketika itu. Dari kondisi inilah dia pun telah siap untuk masuk kepada hadhrah Allah dan seketika itu dia pun butuh seorang Syaikh murabbi yang mampu memasukkan dia kepada hadhrah ma’rifat billah dan engkau pun tidak perlu tamak dengan sisi ma’rifat tersebut lantaran banyaknya hal tersebut dalam maqam ini dan maqam setelahnya dari ragam perkara yang menghancurkan, memutuskan dan lagi memalingkan.

Sedangkan orang yang bersuluk ke hadhrah Allah sendirian tanpa adanya seorang Syaikh murabbi, dia telah mencapai maqam ini; maqam yang telah aku sifati padamu; yaitu maqam tajjalli af’ al al Qudrah al Azaliyah, setelah itu pun usahamu akan sia-sia dengan satu pandangan, tanpa adanya seorang Syaikh, maka sungguh ia pun telah merugi; yaitu dunia dan juga akhirat, lantaran banyaknya perkara yang memusnahkan dan bercampur-aduk. Ketika engkau telah sampai di sini datanglah seketika padaku dan lemparkanlah jiwamu padaku. Sebelum hal ini terjadi engkau pun tidak dapat melakukan itu, akan tetapi yang tersisa adalah satu dari beragam syarat riyadhah; yaitu meninggalkan berhubungan intim selama 40 hari, akan tetapi ketika itu berkaitan dengan hak seorang istri, maka dia pun bisa melakukannya setelah selesai dari 40 hari atau dua kali 40 hari ber-khalwat.

Setelah engkau melakukan suluk tauhid fi’li, andai perkara itu engkau langgengkan; yaitu suluk dan khalwat seraya bersahabat dengan Syaikh murabbi, maka engkau akan masuk pada hadhrah musyahadah shifat, dengan penyaksian inilah engkau pun telah hilang dari sernua alam, karena jiwamu tahu bahwa engkau hilang dari seluruh alam karena menyaksikan ragam sifat Allah nan azali.

Ketika engkau konsistenkan suluk ini sampai penyaksian sifat itu konsisten ada dalam dirimu dan engkau pun senantiasa bersahabat dengan Syaikh murabbi, maka akan muncul padamu penyaksian Dzat yang Agung lagi Suci. Penyaksian ini mencukupkanmu dari segala sesuatu bahkan sampai jiwamu sekalipun, bahkan tidak butuh lagi dengan penyaksian tersebut, juga sampai tidak membutuhkan bekas dari penyaksian itu sendiri.

Dari sinilah engkau telah berada pada genggaman tangan Allah dan pada genggaman tangan seorang Syaikh murabbi. Setelah kondisi ini, engkau pun akan berpindah dari kondisi sahwu dan hudhur bersama beragam penyaksian sebelumnya. Inilah maqam ma’rifat; andai Allah Swt ingin engkau pindah ke maqam ini. Wallahu Al Muwaffiq.

Balasan ini ditulis dengan cepat oleh Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad at-Tijany Ra.

Sumber : BUKU NAFA `IS SUKAIRIJIYYAH (AN-NAFA `IS AS-SUKAIRIJIYYAH) SYAIKH AHMAD BIN AL ‘IYASY SUKAIRIJ AT-TIJANY