You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Sebagian Karomah Sayyidi Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sebagian Karomah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra

Perlu diketahui bahwa karomah adalah perkara diluar nalar sehat manusia yang ada pada para wali, sedangkan mukjizat ada pada utusan Allah. Mukjizat sifatnya memberikan penentangan, sedangkan karomah tidak. Semua Ahlussunnah sepakat bahwa karomah terjadi pada walinya Allah Swt, tidak perlu lagi menoleh pada orang yang menafikan karomah bisa terjadi pada seorang wali.

Syaikh Zarruq menukil dari Al ‘Uqbani bahwa “Mendustakan karomah para wali sama saja dengan mendustakan mukjizat para nabi, sebab karomah seorang wali adalah sebuah pembenaran sang wali pada nabi yang ia ikuti.”

Jika engkau sudah tahu perkara ini, maka karomah para wali itu tidak terhingga jumlahnya, bahkan keluarga, kerabat atau orang yang bersahabat dengan seorang wali, lidahnya pun kelu menyebutkan karomah yang pemah ia lihat dan bahkan ia pun tidak mampu mengumpulkan semua karamah yang ada lantaran saking banyaknya, bahkan bagi mereka perkara karomah seorang wali ini menjadi perkara penting, dimana Nabi Saw pun menyembunyikan beragam sisi mukjizat sampai-sampai beliau melarang untuk menuliskan apa yang dihafal dari kejadian tersebut. Jika toh perkara ini mau dikumpulkan, dikaji dan diteliti tentu akan ada perbendaharaan yang sangat besar tentang ragam cerita sisi kewalian, akan tetapi disini aku hanya akan menyebutkan sedikit saja, minimal ini dapat memberikan efek tenang bagi yang meyakininya dan efek gemetaran bagi yang tidak percaya akan perkara tersebut, sebab perkara mengenai karomah itu ibarat lautan yang tak bertepi.

وَمَنْ لِي بِحَصْرِ الْبَحْرِ وَالْبَحْرُ زَاجِرُ # وَمَنْ لِي بِإِحْصَاءِ الْحَصَى وَالكَوَاكِبِ

“Siapalah aku yang dipinta untuk membatasi lautan, sementara lautannya dalam # siapapula aku yang dipinta untuk menghitung pasir dan gugusan bintang.”

Beberapa mimpi Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sebelum beliau futuh sebagai berikut:

1. Sebelum Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berusia baligh, beliau pernah bermimpi jika beliau diberikan kursi kerajaan, beliau duduk disana. Beliaupun punya banyak pengawal yang beliau kerahkan untuk memenuhi kebutuhan, persis seperti seorang raja.

2. Beliau melihat diri beliau dalam gambaran seorang raja, banyak orang yang berbai’at setia pada beliau, beliau duduk di kursi kerajaan yang tinggi, dengan mengenakan baju raja. Ketika tiba waktu shalat Zhuhur, beliau ingin memerintah seseorang untuk menjadi imam seperti kebiasaan beliau Ra ketika dalam kondisi sadar diri, beliau sontak berkata, “Khalifah dialah yang mengimami shalat hingga selesai.”

3. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah bermimpi melihat Nabi Saw sedang menunggangi kuda seraya berkata, “Dia (kuda itu akan) berjalan ke arahnya, andai engkau mengucapkan salam padanya,” sementara beliau Saw masih ada diatas kuda tersebut, akupun sulit untuk mencerna maksud mimpi tersebut. Maka kata andai engkau mengucapkan salam padanya, ini kala beliau Saw tidak menaiki kuda tersebut dan aku tahu makna ini tanpa bersusah payah memikirkannya. Ketika sampai Nabi Saw pun turun dari kuda tersebut dan mengucapkan salam padanya, setelah itu Nabi Saw masuk ke dalam tamannya seseorang yang berasal dari Ainu Madhi dan bertakbir melakukan shalat di sana, maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany pun ingin ikut melakukan takbiratul ihram shalat, ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra hendak melakukannya dan membaca niat, Nabi Saw pun ruku’ dan sujud. Barulah ketika raka’at kedua Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bisa ikut shalat bersama Nabi Saw dan dilanjutkan dengan menyempurnakan shalat tersebut. Maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mentakwilkan mimpi ini bahwa pada kondisi ini separuh hidupnya telah berlalu dan tidak tahu apa-apa dan separuhnya lagi beliau tahu maknanya, dan memang perkaranya demikian.

4. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra melihat Nabi Saw berada di Tunis seraya berkata pada Sayyidi Syaikh Ra, “Mintalah ma’rifat pada Allah atau sesuai dengan keinginanmu, aku akan meng-aminkan do’amu,” Maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun berdo’a pada Allah dan beliau Saw meng-amin-kannya, kemudian Nabi Saw membaca surah Adh-Dhuha hingga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى 
wa lasaufa yu’thiika robbuka fa tardhoo

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 5)

Karomah terbagi menjadi dua: Karomah ma’nawiyah (abstrak) dan karomah hissiyyah (yang dapat diindera dengan kasat mata). Karomah ma’nawiyah itu lebih mulia dibandingkan karomah hissiyyah, oleh karena itu aku mulai dengan paparan tersebut.

A. Karomah Ma’nawiyah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra

1. Kerasnya sikap beliau dalam mengikuti perintah syari’at dan mengikatkan diri dengan ragam perintah dan larangan agama yang nampak maupun yang tersembunyi bahkan sampai pada kebiasaan adat istiadat yang berlaku dan juga dalam beragam perkara mubah, maka bagi para wali Allah yang sudah wushul kepada-Nya termasuk karomah yang paling agung untuk seorang hamba dari Allah Swt.

2. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sejak kecil memang tumbuh dengan tarbiyah yang ketat dalam beragama, bahkan dari kalangan khusus dan orang umum pun tahu prihal kebiasan beliau tersebut.

3. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra senantiasa melihat Nabi Saw secara yaqazhah (terjaga), dimana Nabi Saw tidak hilang sekejap pun dari pandangan beliau. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra banyak bertanya dan bermusyawarah dengan Nabi Saw, bahkan beliau di-tarbiyah langsung oleh Nabi Saw. Karomah semacam ini termasuk karomah yang tinggi.

4. Bahwa orang yang melihat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pada hari Senin atau hari Jum’at akan masuk surga tanpa hisab dan hukuman dengan jaminan Nabi Saw. Begitu pula ikhwan yang melihat beliau pada puncaknya hari Jum’at. Akan tetapi yang khusus adalah orang yang melihat beliau pada dua hari tersebut (Senin dan Jum’at); yaitu yang bersangkutan akan bahagia dengan kebahagiaan yang tidak dibuntuti kesengsaraan. Maksudnya adalah tidaklah ada seseorang yang melihat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pada hari Senin dan Jum’at, kecuali dalam catatan lauh mahfuzh terdahulu dia memang tergolong orang yang bahagia. Termasuk juga orang yang kafir; jika orang kafir melihat beliau pada salah satu dari dua hari tersebut, maka seyogyanya dia akan menutup hidupnya dengan keimanan. Baginya hendaknya bisa melihat beliau secara mutlak setiap harinya dengan orang Islam lainnya.

Melihat yang terikat dengan dua hari ini untuk setiap orang yang melihat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meskipun dia adalah orang kafir. Nah, yang dimaksud dengan “melihat” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah kondisi melihat, yang terbangun dengan suatu keyakinan dan penghormatan diri kepada beliau Ra bukan hanya sekedar melihat saja..

Perkara yang dapat menegaskan bahwa “melihat” ini mencakup juga orang kafir adalah perkara yang ceritanya telah masyhur di kalangan sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bahwa ada seorang Yahudi yang kerjanya sebagai penjahit baju, dia pernah menjahit baju Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sebagian sahabat Sayyidi Syaikh Ra duduk di samping si Yahudi tadi, mereka berbicara mengenai karomah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tersebut tanpa mempedulikan bahwa disana ada si Yahudi tadi. Jahitan baju Sayyidi Syaikh Ra pun selesai pada salah satu dari dua hari tersebut (senin atau jum’at). Ia pun pergi ke rumah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra untuk menyerahkan hasil jahitan baju Sayyidi Syaikh Ra itu sendiri kepada beliau dan biasanya memang ada pelayan Sayyidi Syaikh Ra yang menerima apapun untuk Sayyidi Syaikh Ra, ia pun berkata hendak meminta do’a daripada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Sang pelayan pun kembali masuk ke dalam rumah dan memberitahukan kepada Sayyidi Syaikh Ra apa yang disebutkan oleh orang Yahudi tersebut, maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengizinkannya masuk ke dalam rumah Sayyidi Syaikh Ra. Ketika Si Yahudi tadi sudah masuk ke dalam rumah Sayyidi Syaikh Ra, ia memandang wajah Sayyidi Syaikh Ra seraya berkata, “Wahai Tuanku, ini, hari ini aku telah memandang wajahmu bagini dan begitu, Sayyidi Syaikh Ra pun mendo’akannya, kemudian ia pun pulang. Dan kenyataannya sang Yahudi tersebut meninggal dunia dalam kondisi muslim setelah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra wafat lantaran yakin terhadap jaminan Nabi Saw yang ditekankan dengan redaksi sumpah.

5. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra senantiasa rajin menelaah ragam kitab, mengingat-ingat apa yang sudah dibaca dan juga sering mendiktekan ragam ilmu kepada yang lainnya. Berbicara sembari menulis dalam satu waktu, dimana tidak ada orang yang bisa membuat beliau sibuk, Maha suci Allah yang telah memuliakan beliau dengan itu.

6. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra hafal banyak ilmu. Orang yang ingin bertanya kepada beliau atau menulis surat untuk beliau, maka beliau dengan mudah saja menjawab tanpa perlu lagi berfikir akan jawaban pertanyaan itu, seolah-olah ada catatan di antara dua mata beliau.

7. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Jikalau aku ditanya selama empat tahun dan aku mendiktekannya, maka itupun tak akan habis-habis aku memberikan jawaban tanpa perlu berpikir.”
Hal yang demikian sebenarnya tidak lagi aneh, sebab Rasulullah Saw pernah berkata kepada beliau, “Setiap engkau diktekan, maka engkau adalah orang yang menterjemahkannya dariku Saw.”

8. Allah Swt menjadikan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pemberi syafa’at bagi umat pada masa beliau ditambah dua puluh tahun.

9. Rasulullah Saw pernah bersabda pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra seperti apa yang pernah disabdakan kepada Sayyidina Bilal bin Rabah Al Habasyi,

أَنْفِقْ يَا بِلالُ وَلا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالاً

“Infakkanlah bilal dan jangan kau takut kekurangan dari Dzat pemilik Arasy ini.”

10. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Dikatakan kepadaku

هٰذَا عَطَآ ؤُنَا فَا مْنُنْ اَوْ اَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَا بٍ
haazaa ‘athooo-unaa famnun au amsik bighoiri hisaab

“Inilah anugerah Kami; maka berikanlah (kepada orang lain) atau tahanlah (untuk dirimu sendiri) tanpa perhitungan.”
(QS. Sad 38: Ayat 39)

Dua karomah diatas merupakan satu macam. Kebenarannya telah terbukti secara ghaib dan nyata. Lihat kembali kitab Jawahirul Ma’ani pada pembahasan Karomah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, niscaya kau akan temukan apa yang Allah Swt khususkan untuk beliau Ra terkait perkara ini.

11. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra merupakan sosok yang memberikan madad kepada semua wali dan orang-orang yang ‘Arifbillah dengan ragam asrar dan ma’rifat dari Rasulullah Saw dan juga dari semua nabi As. Oleh karena itu, semua wali secara mutlak tunduk kepada beliau dan mengakui kedudukan beliau Ra pada alam ghaib dengan ragam tingkatannya.

12. Pada hari Kiamat, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra naik ke atas mimbar dari cahaya, kemudian pemanggil menyerukan pada semua yang ada di Mauqif, “Wahai penghuni Mahsyar, ini adalah imam kalian yang memberilan madad pada kalian.”

13. Jika para wali Quthub umat ini berkumpul, maka tidak ada timbangan serambutpun yang menyamai apa yang Allah Swt khususkan pada salah satu dari kelompok pengamal thariqah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Beliau Ra menyebutkan, bahwa jumlah kelompok ini lebih dari 600 orang, mereka adalah Wali Kamil Ahli Tarbiyah, semisal Sayyidi Al Hajj ‘Ali At-Tamasini.

14. Sungguh shalat fardhu ataupun nafilah di zawiyah beliau Ra pasti diterima sesuai dengan keutamaan Allah Swt.

15. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengetahui Isim A’zham. Beliaupun menyebutkan bahwa ia memiliki ragam kekhususan dan asrar yang sebelumnya belum pernah dinukil oleh para pembesar wali Allah Swt. 

B. Karomah Yang Nampak Pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sangat menyembunyikannya, bahkan beliau melarang untuk menuliskannya, akan tetapi para sahabat beliau memandang bahwa larangan untuk menuliskannya itu adalah pada masa hidup beliau. Sebab tipikal para wali Allah yang sempurna memang biasanya menyembunyikan karomah jenis ini dan tidak tertipu dengannya, sebagaimana yang banyak dikisahkan dalam berbagai kitab tasawuf.

1. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mendapatkan pangkat wali Quthub pada bulan Muharram tahun 1214 H, tepatnya di bukit Arafat. Kala itu beliau sedang bermukim di kota Fess yang jauh dari bukit tersebut. Perkara ini bagian dari ilmu melipat bumi dimana hijab diangkat sehingga Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bisa terlihat di dua tempat sekaligus atau di beberapa tempat yang berbeda sedang sejatinya beliau di satu tempat (kota Fess).

2. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengizinkan sebagian sahabat beliau untuk khalwat pada waktu tertentu, temyata ada seseorang dari sahabat Sayyidi Syaikh Ra yang menambahkan jumlah bilangan waktu khalwat yang sudah diizinkan oleh Sayyidi Syaikh Ra, maka yang bersangkutan pun senantiasa merasa bahwa Sayyidi Syaikh Ra bersamanya dalam khalwat tersebut, bahkan terdengar Sayyidi Syaikh mengatakan, “Motif apa yang membuatmu melakukan hal ini?”, sementara kala itu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berada di kota Fess dan yang sedang ber-khalwat itu di kota lain yang jarak antara keduanya jauh.

3. Suatu ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra datang (secara ruhani) ke rumah salah seorang sahabat beliau yang terkenal dengan maqam ke-ma’rifat-annya, ia sedang di rumah membaca buku karya sebagian pembesar wali, sehingga muncul penghormatan yang berlebihan darinya kepada pengarang kitab tersebut yang hampir mengarah kepada iltifat yang memudharatkan seorang murid, maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menegurnya dan mengambil kitab tersebut darinya seraya berkata, “Hai fulan engkau ini pengamal Tijany atau apa?” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kala itu sedang berada di padang pasir dan orang tersebut berada di kota Fess.

4. Ada dua orang sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra keduanya pergi untuk berhaji. Lalu terjadi salah paham antara keduanya hingga salah satunya ingin berbuat jahat pada yang lainnya, hingga pada hari itu atau pada hari setelahnya berhenti di sebuah mata air, dan orang-orang dan juga unta pada kehausan. Maka yang tadi telah berbuat jahat pada temannya turun ke mata air itu melalui jalan turun biasanya hingga tiba-tiba iapun terpeleset dan jatuh ke bawah dengan cepat hingga tidak sadarkan diri. Temannya pun menolah-noleh mencari apa yang jatuh, hingga iapun memohon luthuf Allah dan kemudian ia ingat pada Sayyidi Syaikh Ra dan ber-istighatsah dengan perantara beliau, tiba-tiba ada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra antara dirinya dan juga unta tersebut. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun menolongnya dan menatap wajah yang terjatuh tersebut seraya berkata, “Ya Allah, sahabat-sahabatku..” Yang dimaksudkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah apakah engkau ingin menyakiti sahabat-sahabatku?”. Maka iapun langsung paham bahwa kejadian yang menimpanya itu adalah lantaran dirinya berbuat jahat pada temannya itu. Sontak iapun pergi ke temannya yang ia sakiti itu dan meminta maaf kepadanya. Kala itu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ada di Maghrib dan keduanya berada di Hijaz.

5. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pemah mengabarkan muridnya Sayyidi Muhammad Al Musyri akan datangnya pemimpin yang zhalim dan nyatanya seperti yang beliau katakan. Beliau Ra pun pernah memberitakan sebelum kejadian terjadi bahwa akan ada kampung yang terbakar. Terkadang beliau memberitahu bahwa sebagian ikhwan akan datang. Terkait dengan berita-berita ini beliau biasanya menutup-nutupinya seraya berkata, “Hatiku mengatakan ini padaku atau Terdetik dalam batinku ini “

6. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengabarkan bahwa Prancis akan menguasai Al Jazair. Banyak ragam informasi yang diberitahukan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang perlu dibuktikan kenyataannya: baik tentang kejadian yang jelas maupun gambaran masa depan.

Diantara perkara yang diberitakan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang mengindikasikan gambaran masa depan adalah, sebuah perkara yang terbukti kejadiannya setelah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meninggal dunia, bahwa sebagian sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pemah menyebutkan bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memerintahkan untuk menjemur gandum di ladang seperti biasanya. Ketika itu adalah masa subur dan juga lapang, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata, “Panggilkanlah para budak dan perintahkan mereka untuk menemani membawa gandum ini ke ladang,” Sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ra menimpali, “Ladang itu dekat dan kita tidak butuh budak untuk hal tersebut,” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab “Panggil para budak itu dan perintahkan mereka untuk menemaninya membawa gandum agar tidak dijarah di jalan.” Sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bertanya dengan pertanyaan semisal ketika memerintahkan untuk ke tempat pemanggangan roti. Sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun berguman seraya berkata, “Kamipun tidak paham perkara itu sampai ada masa paceklik yang panjang pada tahun 1240 H, dimana orang-orang memerlukan seperti apa yang diperintahkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

7. Sayyidi ‘Ali Harazim Ra ketika akan berangkat menunaikan ibadah haji, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan kepada beliau bahwa Nabi Saw telah menikahkan beliau (Syaikh Ali Harazim) dengan seorang anak perempuan di kota Tunis. sesampainya di kota Tunis kejadiannya pun seperti yang diberitakan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Kemudian Syaikh ‘Ali Harazim mentalaknya, dimana beritanya ini sampai pula kepada para sahabat Nabi Saw. Sebagian mereka kaget akan berita itu hingga ada sesuatu di hatinya, dimana Syaithan senantiasa mengganggu. Pada suatu hari yang bersangkutan duduk berdua bersama Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dimana itu merupakan waktu yang tepat untuk curhat kepada beliau Ra, sampai tidak terasa ganjalan hati tentang masalah Syaikh ‘Ali Harazim yang mentalak istrinya itu pula turut tersampaikan. Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun mengangkat kepala seraya memalingkannya kepada sahabat Sayyidi Syaikh Ra tersebut lalu berkata, “Itu karena wanita itu tidak sholat.” Dengan perkataan itu ganjalan dalam hatipun sirna dan diapun tahu bahwa penyebab Syaikh ‘Ali Harazim mentalak adalah lantaran si wanita tidak pernah sholat.

8. Sebagian sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengambil kain suf untuk dijual di kota Fess, sesampainya di sana, ia mendapati pasar kain wol tersebut penjualannya sedang stagnan. la pun kembali untuk meminta petunjuk Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sesampainya disana ia mendapati para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sedang mengelilingi beliau, akhirnya ia pun duduk bersama mereka, belum saja ia bertanya, Sayyidi Syaikh Ra menanyakannya tentang harga minyak, lalu harga butter kemudian harga daging dan yang lainnya hingga sampai pada harga kain wol beliau, beliau langsung berkata, bahwa pasarannya sedang stagnan, lalu beliau kembali berkata, “Sungguh kain wol merupakan komoditi yang pasti dibutuhkan orang-orang dan sudah seharusnya pasarannya tinggi. Maka siapa yang punya kain wol hendaknya jangan bosan menyimpannya lantaran harganya yang kini sedang stagnan, hendaknya ia menaruhnya di tempat yang dapat menjaga mutunya seperti ini dan itu.” Pada lain waktu harganya akan kembali melambung tinggi, ada seorang lelaki yang mengamalkan petunjuk Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dimana ketika waktu tersebut tiba, ada banyak orang yang membeli kain wol tersebut dan yang bersangkutan untung besar.

9. Ada sebagian ulama Fess yang terkena penyakit ganguan akal, Sayyidi Syaikh Ra memeintahkan agar membawa kasur dan tinggal di zawiyah, merekapun ternyata langsung sembuh. Oleh karena itu ada anjuran untuk senantiasa mulazamah pada benteng Sayyidi Syaikh Ra:

إِنَّ التَّجَانِي تَاجٌ لَا نَظِيْرَ لَهُ # اللَّهُ صَرَّفَهُ فِيْنَا وَوَلَاهُ

فَاسْرِدْ مَنَاقِبَهُ فَإِنَّهَا دُرَرٌ # أَوِلْزَمْ حِمَاهُ تَنَلْ مَعِيْنَ سُقْيَاهُ

“Sungguh At-Tijany adalah mahkota yang tiada tandingannya # Allahlah yang men-tasrif-kan beliau dan menjadikannya pemimpin kami

Maka ceritakanlah manaqibnya sebab itu adalah mutiara # atau lazimkanlah bentengnya engkau akan mendapat air tegukannya

10. Ada seorang pemuda dari Barbar yang terkenal dengan Amhalusy, ia mengumpulkan kaumnya dan bersatu ingin menyerang kota Fess dan merusak tatanan kekuasaan nya, dalam perjalanan mereka bersamaan dengan seorang keturunan Nabi Saw, yang tujuannya sama yaitu berjalan ke kota Fess. Sesampainya dikawasan bukit kota Fess, seorang keturunan Nabi Saw inipun berpisah dengan mereka, mereka di sana sementara dirinya lanjut ke kota Fess. Tujuannya adalah agar bisa bertemu dengan Ahlullah di sana. Kemudian ia pun pergi ke rumah Sayyidi Syaikh Ra dan dipersilahkan untuk masuk ke dalam rumah beliau, kala itu ia mendapati Sayyidi Syaikh Ra sedang berdzikir, sementara ia pun mondar-mandir di dalam rumah beliau Ra, Sayyidi Syaikh Ra pun memberikannya isyarat agar ia duduk sampai Sayyidi Syaikh Ra selesai membaca wiridan. Setelah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra selesai membaca wiridan, beliau langsung ucapkan salam padanya seraya bertanya dari mana asalnya, dari jalur nasab siapa serta bertanya seputar kondisi dan tujuannya datang, ia pun menjawab semua itu lalu meminta ditalqinkan wiridan thariqah At-Tijaniyyah, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pun menalqinkannya, kemudian ia meminta petunjuk apakah harus berhijrah dari kota Bar-bar atau tidak, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra lantas bertanya,” Apakah para wanitanya masih melakukan shalat?” la menjawab, “Sebagian mereka masih melakukan sholat, maka Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memerintah kannya agar jangan berhijrah, lalu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra bertanya tentang anak muda Bar-bar dengan orang-orang yang bersamanya, apa yang ia inginkan? lapun menjawab dengan mencirikan kekuatan yang mereka bawa dan apa yang menjadi tujuan mereka. Kemudian Sayyidi Syaikh berpaling seraya menjulurkan telapak tangan beliau dan berucap, “Huss,” lalu keturunan Nabi Saw berpamitan dan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mendo’akan kebaikan untuk beiau. Keesokan paginya ia pun ingin kembali melakukan perjalanan, sesampainya di tempat perpisahan dengan Amhalusy dan orang yang bersamanya, namun tidak menemukan mereka, akhirnya beliau bertanya prihal mereka, lalu ada yang mengatakan, “Mereka kalah kemarin pada waktu ini dan itu,” namun tidak ada yang tahu penyebab mereka bisa dikalahkan. Sang keturunan Nabi Saw tidak ragu lagi mengatakan bahwa mereka dikalahkan pada waktu ini dan itu ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sedang berpaling kepada mereka.

11. Ada seorang ulama Tilimsan yang berguru kepada Sayyidi Muhammad bin Al Musyri; sosok yang banyak menyimpan rahasia Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Ketika beliau ingin kembali ke negerinya, iapun mendatangi para guru untuk meminta bekal dan do’a baik mereka, serta wasiat yang bermanfaat, seperti adat istiadat yang banyak dilakukan. Salah satu guru yang kutujuh adalah Sayyidi Muhammad bin Al Musyri Ra, diantara wasiat beliau kepadaku adalah, “Apabila engkau dalam kondisi sulit dan terhimpit, maka ber-istighatsah-lah dengan (kemuliaan yang Allah Swt berikan) kepada lelaki ini; maksudnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliaupun menekankan prihal tersebut.”

Beliaupun pergi kembali ke negerinya, kemudian pergi lagi menuju kota Makkah untuk menunaikan ibadah haji dengan naik kapal, atas izin Allah, tiba-tiba kapal tersebut pecah, beliau dan sekitar tujuh orang lainnya terapung di atas sebagian kayu kapal dan itu menghantarkan kami ke sebuah daratan yang ada di tengah laut, kamipun menepi dan menanti kematian, sebab tidak ada seorang pun yang berbicara kepada kami (sebab di sekelilingnya tidak ada orang ataupun penduduk). Seketika itulah terlintas dalam pikiran beliau saat-saat berada di negerinya dan juga ulama fikih kota Fess tempat menimba ilmu, dan terdetik wasiat itu, maka beliaupun ber-istighatsah dengan (kemuliaan yang dititipkan oleh Allah Swt kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Ketika beliau ber-istighatsah, kondisi diriku antara sadar dan tidak dan temyata di hadapanku ada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sedang berdiri dan berkata kepadaku, “Katakanlah, ‘Ya ‘Aliman bil Althaf Najjina Mimma Nakhaf (Wahai Dzat yang mengetahui baragam perkara yang halus, selamatkanlah kami dari apa yang kami takuti)’.” Beliaupun terbangun seraya melafalkan itu.” Tidak lama kemudian nampak ada perahu datang dan aku menunjuk orang-orang yang bersamaku kepada kapten kapal, kamipun diangkut dan dihantarkan ke Jazirah Arab (Madinah), lalu kami melanjutkan perjalanan darat dan itu lebih aman.” la melanjutkan,” Hari itupula bukan kejadian itu, di saat beliau kembali ke kota Fess, beliau bertanya tentang Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, ada orang yang berkata, ‘Beliau sudah meninggal dunia’, beliau juga bertanya tentang tanggal Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meninggal dunia dan aku ingat-ingat pula hari ketika aku dalam musibah itu, dimana saat itu aku melihat ada karomah besar pada kejadian tersebut, hari itu bertepatan dengan hari ketujuh dari wafatnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.”

12. Ada sebagian pemimpin kota Fess yang membangkang, ketika mendengar ragam perkara tentang Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, iapun terkejut kok masih ada orang yang seperti beliau di zaman ini, maka iapun datang kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan tampang ingin berziarah dan ber-tabarruk kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, akan tetapi maksud sebenamya adalah untuk menguji Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Sekeluarnya dari rumah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ia pun berkumpul dengan orang yang ia tuakan dan mereka mencaci-maki Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, lantaran tidak bisa bersenang-senang karena tidak ada hiburan di rumah beliau, dimana memang Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra jauh dari hal tersebut. Perkara ini pun sampai kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan beliau berkata, “Rumah kami adalah rumah kebaikan, sedangkan rumahnya, aku kok melihatnya sebagai rumah yang jorok lagi kosong. Tidak lama setelah itu sang pemimpin tersebut pun dicopot dari jabatan hingga akhimya rumahnya pun kosong dan harta bendanya pun hilang, bahkan namanya pun tidak lagi disebut-sebut oleh masyarakat.

13. Ada seorang pemimpin lainnya yang mengadukan prihal budak-budak yang dimiliki oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, ada yang mengatakan kepadanya, “Ini adalah budak Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra,” pemimpin tersebut berkata, “Sungguh aku tidak mengenalnya,” kabar ini pun sampai pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliau sontak berkata, “Hari ini dia akan mengenalku.”

Pada hari itu juga ada kabar yang diterima pemimpin tersebut, bahwa sebagian penduduk Barbar menyerang kabilahnya dan merampas rumahnya yang berada di tengah kabilah tersebut. Pemimpin tersebut pun pergi ke arah pasukan Barbar, ketika kedua pasukan bertemu, sang pemimpin terkena tembakan hingga ia meninggal dunia, sekelompok pasukan yang bersamanya pun kalah dan rumahnya dirampas, yang tersisa adalah jasad sang pemimpin itu yang tidak dimakamkan selama empat hari sampai kelompok dari Barbar itu pun pergi dari sana.

Orang-orangpun membawanya dalam kondisi yang mengenaskan, diantara orang yang membawa jasadnya adalah kerabatnya, kerabatnya ini termasuk orang yang cinta pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, ia berkata kepada jasad tersebut, “Apa kini engkau sudah mengenal siapa beliau atau engkau masih belum mengenalnya? Setelah itu ada seseorang yang menggantikan posisi pemimpin tadi yaitu seorang pemimpin lama yang dahulu pernah dipilih oleh Sultan, kemudian, Sultan pun kembali marah dan menurunkan nya dari jabatan, sehingga kondisi lelaki ini pun juga mengenaskan. Selanjutnya, setelah sang Sultan menunjuk pemimpin baru, iapun menetapkan bahwa pada setiap kerabat Sultan ada penjaganya.

Penyebab ia ditunjuk untuk menjadi pemimpin kaum, bahwa suatu hari sebagian sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra lewat dihadapannya seraya berkata, “Wahai fulan, tidakkah engkau lihat bagaimana kondisiku saat ini, maka aku mohon padamu agar engkau meminta belas kasihan pada Allah dengan perantara detikan jiwa Syaikh Ra dan meminta do’a dari beliau.

Lalu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mendo’akannya, setelah itu Sultan mengirimkan surat mandat dan menjadikannya pemimpin pengganti pemimpin sebelumnya.

14. Pada hari sabtu, 17 Muharram 1279 H, dari makam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra keluar mata air susu, susu itu terus keluar dari dalam kuburan beliau Ra hingga banyak sekali orang yang mengambilnya sampai berdesak-desakan. Orang cerdas kota Fess tidak bisa berpikir apa-apa kecuali ikut nimbrung mengambil air susu tersebut dengan cawan besar, hingga kini cawan yang berisikan susu itu pun masih ada di beberapa tempat di zawiyah dan tidak berubah hingga saat ini.

15. Nampaknya ragam futuh dan kewalian yang nyata pada para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra lantaran beliau Ra,

C. Profil Sahabat Sayidi Syaikh Ra Yang Telah Futuh

Diantara sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang futuh diantaranya:

1. Al Arifbillah Sayyidi Abu Abdillah Muhammad bin Al ‘Araby Ad-Damrawi At-Taâzi, beliau termasuk ulama thariqah At-Tijaniyyah yang terkenal, beliau pernah melihat Nabi secara yaqzhah, Nabi Saw bersabda, “Jika bukan lantaran kecintaanmu pada Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, maka engkau tidak bisa melihatku.” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sangat perhatian kepada beliau, Sayyidi Syaikh Ra kerap menziarahi beliau semasa hidup beliau bahkan setelah beliau meninggal dunia, sebab beliau meninggal lebih dahulu daripada Sayyidi Syaikh Ra. Ragam kebaikan beliau banyak sekali, kuburan beliau terkenal di Ainu Madhi dan biasa menjadi tujuan ziarahnya para ikhwan thariqah At-Tijaniyyah.

2. Al ‘Arifbillah Sayyidi Al Hajj ‘Ali Harazim Al Fâsi, sang pengarang kitab Jawahirul Ma’âni, beliau memiliki ragam keutamaan, diantaranya: Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pemah mengabarkan bahwa Nabi Saw cinta kepadanya dengan kecintaan khusus diatas kecintaan pada anak;

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Semua yang ia katakan adalah perkataanku.” Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata “Tidak ada seorang pun yang bisa sampai kepadaku kecuali dari Al Hajj ‘Ali Harâzim.”

3. Al ‘Allamah Al ‘Arifbillah Sayyidi Muhammad bin Al Musyri Al Hasani As-Siba’i, beliau adalah perbendaharaan asrar Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliau cukup terkenal, beliau adalah pengarang kitab Al Jâmi dan kitab Nushratusy-Syurofa’ fir-Raddi ‘Alâ Ahlil Jafâ.

Suatu ketika Sayyidi Muhammad bin Al Musyri menunggangi kuda melewati kuburan para kakek beliau yang terkenal dengan kewaliannya dan tidak mengucapkan salam, tiba-tiba pelana kuda tersebut terjatuh di tanah hingga beliau pun akhirnya menoleh kepada wali tadi seraya berkata, “Demi Allah, biar kudaku dipasangin pelana atau aku adukan engkau ke guruku, biarlah beliau yang akan mengurusmu, lalu pelana kudapun sudah terpasang dan beliau kembali melanjutkan perjalanan.

4. Al ‘Arifbillah Sayyidi Mahmud At-Tunisi, ia termasuk sosok yang terkenal dengan kewalian dan Futuh Akbar, beliau termasuk salah satu pewaris asrar Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Setelah wafatnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, Sayyidi Mahmud mengalami panas yang luar biasa, para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meyakini bahwa panas itu merupakan tanda beliau memikul asrar.

5. Al ‘Arifbillah Sayyidi Muhammad Al Hafiz Al Alawi Asy-Syingqithi, beliau termasuk salah seorang sahabat Syaikh yang menjadi pewaris asrar Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Penyebab Sayyidi Muhammad Al Hafiz Asy-Syingqithi masuk ke dalam thariqah At-Tijaniyyah. Ketika itu beliau ingin pergi menunaikan ibadah haji, diperjalanan beliau juga mencari seorang guru yang kamil agar ia bisa mengambil wiridannya. Ketepatan bahwa ketika itu beliau satu kapal dengan orang yang berasal dari Sijilmas, kedua saling bertemu dan terjadi kedekatan emosional antara keduanya sehingga keduanyanpun mengungkapkan rahasia bahwa ia pun sedang mencari guru yang kamil, kemudian terjadi kesepakatan bahwa siapapun yang pertama kali menemukannya ia harus mengabar kan kepada yang lainnya.

Ketika keduanya sampai di Makkah, Sayyidi Muhamamd Al Hafiz Asy-Syingqithi senantiasa memohon petunjuk pada Allah di beberapa tempat mustajab. Ketika beliau thawaf, ada seseorang yang membisikkan di telinga, “Gurumu itu Syaikh Ahmad At-Tijany Ra,” namun beliau merasa belum pernah mendengar nama Syaikh tersebut. Maka diapun memberitahukan nama itu dan keduanya saling bertanya tentang nama tersebut, maka orang-orangpun memberi petunjuk bahwa nama itu milik penduduk Maghrib, keduanya saling bertanya dan ditunjukkan kepada Syaikh ‘Ali Harazim, yang ketika itu berada di Makkah, maka keduanya pun bertanya-tanya tentang Syaikh Ra kepadanya dan beliau mengagungkan profil Sayyidi Syaikh Ra dan memberitahukan bahwa Syaikh Ra rumahnya di kota Fess. Maka Sayyidi Muhmmad Al Hafiz pun bertekad untuk datang ke Fess seraya mengajak temannya untuk pergi bersama, namun dia tidak bisa pisah dengan rombongan Sijilmas, dimana Allah pun tidak memberikan getaran apa-apa dalam kalbunya.

Setelah usai melakukan ibadah haji dan berziarah kepada Nabi Saw, iapun pergi ke kota Fess dan akhirnya bertemu dengan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan turut mengambil wiridan thariqahnya. Beliau menetap beberapa bulan di Fess, ketika beliau ingin pulang ke negaranya, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memberikan ijazah thariqah At-Tijaniyah serta bisa men-taqdim empat orang. Ketika ingin berpisah dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliau Ra berpesan kepadanya, “Janganlah memunculkan diri sampai Allah yang berkehendak dirimu muncul.” akhirnya beliaupun pulang ke Syingqith.

Sesampainya disana, beliau mengajar seperti sediakala dan tidak mengajak orang satupun untuk masuk ke dalam thariqah dan yang lainnya demi mengamalkan wasiat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Di Syingqith ada seorang lelaki yang terkenal biasa melihat Khidir As, suatu hari lelaki tadi hadir ke majelis Syaikh Muhammad Al Hafiz, dikatakan kepada Syaikh Muhammad, “Ini adalah si fulan,” Syaikh Muhammad sontak menjawab, “Mahasuci Allah,” Syaikh Muhammad pun berdiri, menyambutnya, serta ingin mempersilahkannya untuk duduk di samping beliau, namun yang bersangkutan tidak mau, lantas ia berkata, “Apakah engkau tahu mengapa aku datang padamu?” Syaikh Muhammad menjawab, “Tentu tidak tahu,” lelaki tadi kembali berkata, “Sungguh aku datang padamu agar engkau memberiku amanah yang engkau bawa dari suatu tempat.” Syaikh Muhammad menjawab, “Memang apa yang aku bawa dari suatu tempat itu, yang aku bawa hanyalah buku, jika engkau mau sebagian buku tersebut aku akan berikan padamu. Lelaki tadi berkata, “Cukup dari perkataan ini, sungguh aku datang padamu agar engkau berikan aku wiridan Syaikh At-Tijany Ra. Syaikh Muhammad Al Hafiz pun memberikannya wiridan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, setelah itu semua yang hadir dalam majelis itupun meminta wiridan Syaikh At-Tijany Ra. Dari didikan beliau inilah lahir banyak pembesar wali Allah yang jumlahnya tidak terhingga dari kalangan lelaki dan wanita.

6. Al Arifbillah Sayyidi Muhammad Al Ghali Al Hasani, beliau merupakan tokoh thariqah, sang wali yang terkenal. Beliau pernah bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw dan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra setelah beliau wafat, beliau bertanya kepada keduanya tentang ragam perkara yang diinginkannya sepertihalnya bertanya dalam kondisi terjaga. Beliau biasa melakukan khalwat pada waktu tertentu dan dengan dzikiran tertentu. Ketika murid beliau butuh sesuatu, maka mereka akan berdiri didepan ruang khalwat hingga beliau selesai membaca wiridan, Ketika beliau selesai membaca wiridan, beliau akan memanggil murid-muridnya, dimana ketika mereka masuk ruangan tersebut mereka merasakan seolah berada di kamar mandi yang panas sekali. Suatu ketika sang murid pernah bertanya kepada beliau akan hal itu, namun beliau hanya tersenyum seraya berkata, “Sini, taruh telunjukmu di sini (menunjukkan pada telapak tangan beliau),” sang muridpun menaruh telunjuknya dan merasakan seolah-olah ia telah meletakkan telunjuknya diatas batu yang panas, bahkan telunjuknya pun membekas luka bakar seperti terkena batu panas sungguhan.

7. Al ‘Arifbillah As-Sayyid Al Mufadhdhal As-Saqqâth Al Fâsi, beliau termasuk pembesar sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliau termasuk orang yang mendapatkan ijazah umum dan izin mutlak dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

8. Al ‘Arifbillah Sayyidi Al Hajj Ali bin Sayyidi Al Hajj Isa At-Tamâsini, Wali Quthub zamannya, pemegang bendera tarbiyah dan tarqiyah dalam thariqah kita, yaitu Abul Hasan, Sayyidi Al Hajj Ali bin Sayyidi Al Hajj Isa At-Tamâsini. Beliau termasuk sahabat khusus Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliau pulalah yang disaksikan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra akan mendapatkan futuh akbar dalam hidupnya. Beliau termasuk orang yang bisa melihat Nabi Muhammad Saw secara yaqzhah. Beliau memiliki ragam kisah hidup yang baik, diantaranya: -Suatu ketika beliau datang dari Tamasini untuk menziarahi Sayyidi Syaikh Ra dengan berjalan kaki, sekalipun ada orang yang sudah mencegah dan melarangnya melakukan itu. Sayyidi Syaikh Ra pernah berkata kepadanya, “Andai engkau ingin tali silaturahmi kita tetap terjalin karena Allah Swt, maka janganlah engkau datang padaku kecuali dengan keadaan manusia secara umum; yaitu dengan mengenakan dua sandal dan tongkat, serta bersama teman berjalan lainnya, dimana engkau merasakan apa yang mereka rasakan, baik itu berupa rasa haus, sakit, ketakutan dan yang lainnya.”

9. Pembantuku memetikkan setandan kurma untukku di Tamasin, iapun berangan-angan setandan kurma itu bisa sampai ke rumah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan kondisi itu, seraya berkata kepada tandan itu, ‘Jalanlah hingga sampai di hadapan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra’, Kala itu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sedang shalat berjama’ah di emperan rumah beliau di Fess bersama sahabat beliau. Ketika posisi salam terakhir selesai shalat, saat beliau menolehkan kepala ke arah orang yang shalat di belakang, sahabat Sayyidi Syaikh Ra masih dalam kondisi demikian seusai shalat, tiba-tiba satu tandan kurma jatuh diantara mereka, sahabat Sayyidi Syaikh Ra yang hadir pun melihatnya namun tidak tahu darimana asalnya, mereka semua bingung. Ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra melihat itu dan juga melihat kondisi kebingungan mereka, Sayyidi Syaikh Ra, “Ini perbuatan lelaki itu,” sosok lelaki yang Sayyidi Syaikh Ra gambarkan dengan orang bahlul (orang bego), kemudian Sayyidi Syaikh Ra memberitahukan mereka.

Disebutkan bahwa orang tersebut pernah bertemu dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra setelah kejadian itu, Sayyidi Syaikh Ra berkata, “Apa yang membuatmu melakukan perbuatan itu (menjatuhkan setandan kurma di depan pintu rumahku)?,” Ia memberikan penjelasan perkara dan akhirnya Sayyidi Syaikh Ra melarangnya melakukan yang demikian lagi.

10. Syaikhul Islam Syaikh Abu Ishaq, Sayyidi Ibrahim Ar-Riyahi At-Tunisi, pemegang sisi ilmu dan ma’rifat, sosok yang dimasa hidupnya mampu memberikan bantuan pada orang yang dirundung mushibah: Syaikh Abu Ishaq, Sayyidi Ibrahim Ar-Riyahi At-Tunisi. Beliau sangat terkenal dengan ilmu dan kewaliannya. Cucu beliau; Syaikh ‘Umar Ar-Riyahi membuat biografi kakeknya yang diberi judul Ta’thîr An-Nawahi Bi Tarjamah Sayyidi Ibrahim Ar-Riyahi sebanyak dua jilid dicetak di Tunis.

11. Al ‘Allamah Abu Zaid Abdurrahman bin Ahmad Asy-Syinjithi, beliau seorang imam pakar ilmu. Para Wali Nujaba pada zaman itu banyak berdatangan ke majelis ilmu di Fess beliau berjalan kaki. Dari majelis beliau banyak yang menjadi ulama pakar ilmu. Suatu ketika beliaupun pernah mengajar di sebuah masjid terbesar kota Fess, ketika itu Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan beberapa sahabat beliau masuk ke masjid tersebut, dan menepi untuk melakukan shalat tahiyyatul masjid. Syaikh Abdurrahman tersebut memperhatikan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sampai-sampai menghilangkan konsentrasinya dalam membaca kitab. Beliau ini merupakan sosok ulama yang mengakui kekhususan yang dimiliki wali Allah, bagi beliau ilmu yang beliau miliki adalah bagian dari ilmunya para ‘Arifinbillah.

Setelah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra selesai melakukan shalat tahiyyatul masjid, Syaikh Abdurrahman ini berkata kepada para murid beliau, “Mari kita berdiri dan ber-tabarruk pada Syaikh tersebut,” Beliaupun bersama para muridnya berdiri mendekat kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, mereka duduk di hadapan Sayyidi Syaikh Ra dengan penuh penghormatan dan kerendahan diri serta tawadhu’.

Syaikh Abdurrahman pun meminta agar la dan juga para muridnya dido’akan, kemudian Sayyidi Syaikh Ra pun memenuhi permintaan beliau tersebut. Syaikh Abdurrahman kemudian bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ra tentang beberapa permasalahan dan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab pertanyaan tersebut dengan baik seraya meminta Syaikh Abdurrahman untuk kembali meneruskan pengajaran beliau.

Ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pergi dari masjid tersebut dan Syaikh Abdurrahman selesai mengajar, salah seorang murid beliau berkata, “Sungguh kami tidak menganggapmu sebagai Syaikh/guru kami, kami pun tidak melihat kekuragan darimu, bahwa tidak ada yang paling berilmu kecuali engkau di seantero Maghrib ini, tetapi kenapa ketika tiba-tiba datang seorang lelaki dari padang pasir dengan mengenakan imamah yang dijahit dengan tali dari bulu unta, engkau malah bertanya kepadanya dan mengiyakan jawaban beliau.” Syaikh Abdurrahman sontak menyatakan, “Diam kamu hai anakku, demi Allah yang tiada ilah yang patut disembah melainkan Dia, bahwa di atas muka bumi ini tidak ada yang lebih berilmu dari beliau Ra.”

Kisah mengenai meninggalnya Syaikh Abdurrahman, bahwa suatu ketika beliau diundang oleh penduduk Fess bersama ulama lainnya untuk mengingat-ingat kembali cerita orang-orang soleh terdahulu. Sebagian ulama ada yang menunjukkan keingkarannya terhadap Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beberapa ulama pun menguatkan argumentasi keingkaran tersebut. Syaikh Abdurrahman ini menjawab namun tidak memberikan tanggapan tentang keingkaran mereka terhadap Sayyidi Syaikh Ra, hingga beliau mengantuk sejenak, yang dalam kondisi itu Syaikh Abdurrahman ini melihat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyergap nya dari langit, seraya berkata, “Ada apa denganmu, mengapa engkau tidak berbicara? Lantas apa yang kau perbuat di sini?” lalu Syaikh menariknya dan dibawa pergi ke atas langit, kemudian Sayyidi Abdurrahman Asy-Syinjithi terperanjat bangun dengan kondisi ketakutan dan ia merasakan rasa sakit pada telinganya setelah itu, inilah penyakit yang membawa pada kematiannya. Selanjutnya ketika beliau mengajar di lain waktu, beliau menceritakan peristiwa itu sebagai peringatan bagi yang lain dan agar tidak meremehkan perkara Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Selain mereka pula yang perlu aku ungkap, bahwa Sayyidi Ahmad bin Al Haj Al ‘Iyasyi Sukairij juga menulis kitab yang didalamnya berisikan sebagian orang yang pernah berkumpul dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, yang berjudul Kasyful Hijab ‘Amman Talaqqâ Minal Ashâb. Sungguh aku takjub pada orang yang masih saja ingkar kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sementara yang mengikuti Sayyidi Syaikh Ra adalah orang-orang ternama, yang terkenal kala itu dengan kema’rifatan diri mereka kepada Allah Swt. Paparan ini tentu tidak ada manfaatnya bagi orang yang akalnya miring, jika toh mereka mau berserah diri dengan fakta yang ada, maka tentu itu sangat bagus, akan tetapi Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ
innaka laa tahdii man ahbabta wa laakinnalloha yahdii may yasyaaa, wa huwa a’lamu bil-muhtadiin

“Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(QS. Al-Qasas 28: Ayat 56)

Kami kira cukup sampai disini paparan mengenai sebagian karomah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, kami pun memohon pada Allah Swt agar senantiasa menjaga kita dalam kondisi berpegang teguh pada thariqah At-Tijaniyyah ini, serta semoga Allah mengumpulkan kita semua dalam gerbong Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Sumber : BUKU FATHURRABBANI (FATHURRABBANI FIMA YAHTAJU ILAIHI MURID TIJANY) SYAIKH MUHAMMAD ATH-THASFAWI AT-TIJANY