You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Sifat Guru Mursyid

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sifat Guru Mursyid

Mengenai sifat guru mursyid, maka asy-Syarasyi pernah mengatakan dalam Anwâr as-Sara `ir.

وَلِلشَّيْخِ آيَاتٌ إِذَا لَمْ تَكُنْ لَهُ # فَمَا هُوَ إِلَّا فِي لَيَالِي الْهَوَى يَسْرِى

إِذَا لَمْ يَكُنْ عِلْمٌ لَدَيْهِ بِظَاهِرٍ # وَلَا بَاطِنٍ فَأَضْرِبْ بِهِ لِحَجَ الْبَحْرِ

فَأَقْرَبُ أَحْوَالِ الْعَلِيْلِ إِلَى الرَّدَى # إِذَا لَمْ يَكُنْ مِنْهُ الطَّبِيبُ عَلَى خَبَرٍ

وَإِنْ كَانَ إِلَّا أَنَّهُ غَيْرَ جَامِعٍ # لِوَصْفِيْهِمَا جَمْعًا عَلَى أَكْمَلِ الْأَمْرِ

وَأَيَاتُهُ أَنْ لَا يَمِيْلَ إِلَى هَوَى # فَدُنْيَاهُ فِي طَيِّ وَأَخِرُهُ فِي نَشْرِ

“Syaikh itu memiliki tanda-tanda, apabila ini tidak ada padanya # maka sosoknya setiap malam terbuai hawa

Apabila sosoknya tidak punya ilmu zhahir # tidak pula ilmu bathin, maka benturkanlah ia pada karang laut

Paling dekatnya orang yang sakit menuju kematian # apabila ia tidak punya dokter yang memberitahunya obat penyakit tersebut

Andai sosok yang memiliki itu semua tidak ada # lantaran sifatnya keilmuan zhahir dan keilmuan bathin sebagai penyempurna perkaranya.”

Maka tanda adalah sosoknya tidak condong pada hawa # dunia dalam genggaman dan akhiratnya dia bentangkan.

Hingga akhir bait sya’ir dalam Anwarus-Sara `ir.

Syaikhuna wa wasilatuna ila Rabbina, al Quthb al Maktum wal Khatm al Muhammadiy al Ma’lum mengatakan dalam Jawahirul Ma’âni: Sedangkan mengenai hakekat syaikh yang telah wushul, dia adalah sosok yang semua hijab telah terangkat darinya, sehingga mampu melihat pada hadhrah ilahiyyah dengan pandangan hakekat nan penuh keyakinan. Pertama, perkaranya adalah muhadharah, yaitu memandang ragam hakekat dari balik tirai yang tebal, kemudian mukasyafah, yaitu memandang ragam hakekat dari balik tirai yang tipis. Kemudian musyahadah, yaitu tajalli-nya ragam hakekat tanpa adanya hijab, tidak pula kekhususan, tidak pula adanya ghair. Ghair itu wujudnya ‘ain dan juga atsar, ini adalah maqam as-sahqu (lenyapnya diri); maqam al haq, maqam ad-dakk (hancurnya diri) dan maqam fana’ul fana (fana dalam kefanaan). Perkaranya tadak lain kecuali bentuk membersamai Allah al Haqq, untuk Allah dan dengan pertolongan dari Allah.

فَلَمْ يَبْقَ إِلَّا اللَّهُ لَا شَيْئَ غَيْرَهُ # فَمَا ثُمَّ مَوْصُوْلٌ وَلَا ثُمَّ بَائِنُ

“Tidak ada yang tersisa kecuali Allah, tidak ada sesuatu selain-Nya #karenanya tidak ada lagi penghubung dan tidak pula yang jelas.”

Kemudian “Hayat,” yaitu pembeda ragam martabat dengan mengetahui semua kekhususan, kebutuhan, kelaziman, apa saja yang hak segala sesuatu dan dari hadhrah apa setiap martabat itu. Apa yang engkau dapati, apa maksud dari takwilan yang perkaranya kembali kepada setiap martabat tersebut?; ia adalah maqam-nya seorang hamba yang meliputi dzat dan sisi ma’rifat dirinya dengan semua asrar dan ragam kekhususan yang ia miliki. Juga berupa pengetahuan dirinya tentang apa itu hadhrah ilahiyyah, apa pula sisi keagungan dan sisi keperkasaan Allah berikut ragam ciri keluhuran-Nya.

Sementara “Al Kamal adalah sebuah ma’rifat yang hanya bisa dirasakan dan bentuk membersamai Allah dengan yakin. Pemilik martabat ini, dialah yang terhalang dalam mencari-Nya, akan tetapi meski sifat ini dalam dirinya, maka di dalam dirinya ada sisi sempurnanya izin khusus dari Allah Swt dalam hal pemberian hidayah Allah kepada hamba-Nya dengan menunjuki mereka jalan menuju hadhrah ilahiyyah. Inilah syaikh yang wajib dicari, dialah yang dimaksud dengan sabda Nabi Saw kepada Abu Juhaifah,

سَلِ الْعُلَمَاءَ وَخَالِطِ الْحُكَمَاءَ وَاصْحَبِ الْكُبَرَاءَ

“Tanyalah para ulama, gelutilah para ahli hikmah dan bersuhbahlah dengan para pembesar (wali Allah).”

Pemilik martabat ini biasa diibaratkan dengan “Al Kabir.” Ketika sang murid mendapati syaikh dengan sifat ini, maka lazim baginya untuk menyerahkan diri kepada beliau seperti halnya mayit di hadapan orang yang memandikannya; tidak ada ikhtiyar dan tidak pula ada keinginan, tidak pula pemberian dan tidak pula ada pemberian faedah, dan hendaknya ia menjadikan himmah-nya pada beliau demi menyelamatkan dirinya dari bala yang menenggelamkannya menuju sempurnanya kejernihan dengan mengamati hadhrah Ilahiyyah dengan menolak selain-Nya. Diapun hendaknya mensucikan jiwa dari semua pilihan dan maksud selain ini. Ketika beliau mengisyaratkan suatu perbuatan atau perintah, maka hendaknya ia berhati-hati agar tidak bertanya kepada beliau, “Mengapa melakukan ini, bagaimana melakukan itu, atas dasar apa melakukan ini dan untuk apa melakukan itu?” Sebab itu adalah pintu kemurkaan dan penolakan. Diapun harus yakin bahwa syaikh paling tahu dengan kemaslahatan dirinya dan tahapan apa yang harus ia lewati. Sungguh seluruhnya itu akan berjalan lantaran niatan karena Allah dan dengan pertolongan Allah Swt semata yang mampu mengeluarkannya dari gelapnya jiwa dan rongrongan hawa.

Sedangkan terkait syaikh yang memiliki sifat tersebut; bagaimana bisa terkoneksi dengan beliau dan dengan apa beliau diketahui? Jawaban mengenai ini adalah, bahwa seorang syaikh seperti yang diinginkan jumlahnya banyak, kebanyakan mereka berada di kota-kota besar, sebab disanalah tempat mereka.

Sementara terkait dengan bagaimana cara mengenali mereka dan bisa terkoneksi dengan mereka, sungguh ini merupakan perkara yang sulit dan paling aneh daripada keberadaan al Kibrit al Ahmar. Sebab, mereka itu bercampur dengan orang secara umum dan begitu pula ahwal mereka. Orang-orang yang engkau tanya mereka tentang ahwal sosoknya ini, mayoritas dari mereka acuh bahkan menolakmu, mereka pun akan berjanji bahwa diantara mereka tidak ada perkara ini. Perkara yang menyebabkan mereka demikian adalah, bahwa sang syaikh telah merusak tata kehidupan dengan kehendak Allah Swt yang tidak bisa terbantahkan. Setiap anak cucu Adam hanya bisa berusaha menggapai tujuan dan kehendak syahwatnya dengan cara memalingkan diri ke hadhrah ilahiyyah dengan mengaplikasikan ragam hak dan adab.

Kini banyak orang umum yang berusaha mencari para wali Allah tak lain untuk tujuan yang rusak; berharap mereka bisa bersenang-senang di dunia dengan semua kelezatan dan syahwat serta agar bisa selamat dari ragam musibah dan kesengsaraan di alam ini, dengan kondisi mereka yang terus-terusan tenggelam pada ragam perkara yang memusnahkan dari rangkaian dosa-dosa besar yang pada akhirnya itu dapat menempatkan mereka di neraka. Pada kondisi ini, mereka tidak bisa keluar dan tidak pula bisa kembali bahkan tidak pula bisa masuk ke dalam hadhrah ilahiyyah.

Ketika orang yang ‘Arifbillah telah mengetahui perkaranya seperti ini, maka mereka meng-hijab diri dari orang secara umum, bahkan sampai menolak mereka. Perkara tadilah yang memposisikan mereka untuk tinggal di padang sahara dan tempat antah-berantah. Allah Swt menghendaki dari mereka agar mereka menetap ditengah-tengah orang awam dan hidup diantara mereka untuk suatu perkara yang Allah kehendaki dari mereka dan sesuai dengan hukum yang Allah berlakukan tanpa ada yang bisa membantahnya. Merekapun tidak punya alasan untuk keluar dari kawasan orang-orang awam yang berada di padang sahara atau antah-berantah lantaran hukum yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Ia (Al ‘Arifbillah) tidak menemukan jalan untuk merubah orang secara umum dan mengembalikan mereka ke hadhrah ilahiyyah, mereka pada posisi orang yang ditempatkan diantara sekelompok orang bodoh yang melemparinya dengan bebatuan dan iapun menanggung itu dengan kesabaran dan terus menetap diantara mereka, meski sebenarnya mereka (para Arifinbillah) tersiksa. Lantaran inilah, mereka (para Arifinbillah) meng-hijab diri mereka dan menolak orang-orang dengan kondisi apapun. Bisa jadi orang umum mencium bau kedatangan mereka dari balik hijab hingga mereka bisa ber-ta’alluq pada para Arifinbillah terkait apa yang mereka inginkan dari ragam tujuan mereka. Maka orang-orang yang Arifinbillah bercampur dengan kebanyakan orang dengan menutupi diri dengan menampakkan perkara zina, berkata dusta, meminum khamr, membunuh dan perkara lain dari ragam perkara yang pelakunya akan dicap mendapatkan murka dan kemarahan Allah. Juga ragam perkara lain yang dilakukan orang-orang yang Arifbillah pada sisi ini.

Sungguh mereka senantiasa menampakkan gambaran dari sisi ghaib yang tidak ada wujud nyatanya, tetapi itu adalah gambaran khayalan yang dilihat oleh orang lain seolah itu adalah perkara yang benar terjadi. Mereka melakukan perbuatan ingkar yang menyalahi syari’at dimana pada hakekatnya mereka (para Arifina billah) tidak melakukan apa-apa. Dengan itulah mereka menutupi diri dari orang umum dalam rangka menjaga maqam dan ragam adab mereka.

Apabila engkau telah tahu bahwa orang-orang yang jujur jiwanya telah bercampur dengan orang-orang yang kerap berdusta dalam satu tempat, sehingga tidak diketahui yang ini dari yang itu, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui orang yang Arifbillah lagi sudah wushul, terkecuali pada permasalahan yang jarang terjadi.

Ada sebagian wali Allah yang kamil menampakkan diri dalam gambaran syari’at yang sempurna. Orang yang menampakkan diri dengan penampakan ini dan mengaku-ngaku dirinya sebagai syaikh dengan sisi ma’rifat dirinya; yaitu dirinya mmpu menunjukkan jalan menuju Allah dan kembali pada-Nya, mengajak untuk berzuhud di dunia dan penduduknya dengan tidak peduli pada ragam urusan dunia yang sina maupun urusan dunia yang jelas ada dengan menampakkan futuh pada orang lain melalui dirinya. Apabila orang tersebut muncul dihadapan seorang murid dengan gambaran seperti ini, maka sang murid bisa menyerahkan jiwa kepadanya, namun hanya untuk bertemu saja.

Diantara hak seorang murid adalah mengikuti ragam berita mengenai syaikh tersebut dari orang-orang yang berinteraksi dengannya, hingga diketahui ragam sifatnya. Andai yang nampak adalah sifat yang baik, maka sang murid harus ber-suhbah padanya, namun jika tidak demikian, maka sang murid pun tidak perlu ber-subhah kepadanya.

Orang yang ingin wushul pada seorang syaikh zaman ini, namun tidak tahu cara mengetahuinya dan ia takut dirinya terjebak dalam mata rantai orang-orang yang dusta, maka hendaknya ia ber-tawajjuh kepada Allah dengan kejujuran jiwa dan kalbunya senantiasa memohon perlindungan pada-Nya, senantiasa merendahkan diri dan berdo’a sepenuh hati kepada Allah agar Allah menyingkapkan baginya seorang syaikh yang telah wushul, yang dapat mengeluarkannya dari kesulitan ini dan menunjukkannya ke jalan Allah, juga membimbingnya untuk menjalankan perintah-Nya hingga ia tenggelam dalam lautan-Nya, dimana tidak ada lagi celah baginya selain jalan ini.

Bahkan paling besar, paling utama dan paling bermanfaat dan paling bisa me-wushulkan seseorang pada keinginannya serta paling tinggi dari itu adalah bagi orang yang tidak bisa menemukan syaikh yang kamil, sehingga dia tenggelam pada semua waktunya dengan bershalawat kepada Nabi Saw dengan penuh adab dan hadirnya jiwa. Kalbu pun berprasangka bahwa dia seolah sedang duduk di hadapan Nabi Saw dan hendaknya ia mendawamkan kondisi ini.

Sungguh orang yang mendawamkan kondisi itu, dimana fokus perhatiannya adalah agar bisa wushul kepada Allah Swt, seperti perhatiannya orang yang haus pada air; maka ketika itulah Allah bisa menariknya kepada-Nya; atau Allah kaitkan ia dengan seorang syaikh kamil, yang akan membimbingnya; atau Allah memberikan faidh padanya dengan dibimbing langsung oleh nabi Saw; atau Allah bukakan untuknya pintu wushul dan sibak ragam hijab darinya lantaran sebab ia bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw; sebab itu merupakan perantara paling utama menuju Allah Swt dalam hal wushul kepada-Nya. Ketika ada yang enggan melazimi seseorang untuk bisa wushul pada Allah Swt, maka usahanya pun akan sia-sia.

Sementara mengenai pertanyaan; bolehkah menguji seorang syaikh dan menimbang ragam perbuatan dan ahwalnya; maka jawabannya, hal itu tidaklah baik. Karena perkara itu merupakan perkara yang terkunci pada pintunya Allah Swt. Jika toh ada orang yang ingin melakukan itu bahkan diikuti semua orang yang ada, maka Allah akan tampakkan sifat kurang pada setiap diri manusia tersebut, sehingga setiap dari mereka memiliki jiwa yang tidak tenang. Lain halnya dengan “mempercayai seorang syaikh, maka sungguh itu merupakan perkara ilahi yang Allah letakkan pada setiap orang sehingga orang pun tidak bisa lepas dari itu sekalipun yang bersangkutan melihat syaikh tersebut melakukan seribu kemaksiatan. Akan tetapi andai sang murid itu adalah murid yang jujur jiwanya, maka balasan dari kejujuran jiwanya itu, Allah akan tampakkan dari syaikh tersebut ragam perkara yang mampu menentramkan kalbu, dan ini hanya terjadi pada seorang syaikh yang memiliki kejujuran jiwa. Namun jika sang murid adalah orang yang memiliki tabi’at yang buruk dan mencari seorang syaikh, maka ia pun tidak melihat kecuali berupa perkara yang kurang dan diingkari dari syaikhnya, dan diapun wajib pergi dari beliau. (Selesai-Jawahirul Ma’âni).

Sayyidi syaikh Mukhtar al Kattani Ra pernah mengatakan: Janganlah pernah engkau memahami isyarat perkataan para wali Allah, sungguh ragam perkataan dan perbuatan mereka memiliki dasar hukum Rabbani. Itulah makna perkataan sufi: Orang yang belum memahami ahwal kami, maka iapun belum bisa memahami perkataan kani.”

Ketika syaikh memerintahmu untuk melakukan suatu perkara yang engkau lihat bahwa perkara itu merupakan perkara yang menghancurkan, maka teroboslah itu, sungguh didalamnya ada perkara yang menyelamatkan. Sebab, ragam makna itu ber-tajalli pada mereka untuk orang tertentu dan dengan orang tertentu juga. Andai beliau mengujimu, maka tetaplah pada ujian itu hingga beliaulah yang menyelamatkanmu dari jeratan ujian tersebut dan meringankan bebannya dari dirimu yang tidak kau ketahui bahwa ujian bagi mereka adalah pemberian.

Hadirkanlah dalam dirimu gambaran permasalahan Abu Lubabah, itulah adab. Sementara beliau (syaikh) adalah adab itu sendiri, dimana engkau adalah saudara dari adab itu. Syaikhmu yang pewaris (Nabi itu) dan orang yang Allah bebaskan, sebenarnya maksudnya adalah satu. Janganlah engkau tergesa-gesa (dalam bersuluk), sebab itu mewariskan kesempitan, hingga akhirnya engkau tidak lagi berharap. Tidaklah syaikh itu mengujimu kecuali agar membuatmu semakin dekat; Tidaklah syaikhmu menurunkanmu kecuali agar merendahkanmu; Tidaklah syaikhmu merendahkanmu kecuali untuk mengolok-olokmu; Tidaklah syaikhmu mengolok-olokmu kecuali ia ingin menanamkan padamu (ragam nilai kebaikan); Tidaklah syaikhmu menanamkan padamu kecuali agar engkau berbunga (memiliki bekal diri); Tidaklah syaikhmu membuatmu berbunga kecuali agar engkau berbuah (bisa memberikan manfaat untuk yang lain); Tidaklah syaikhmu membuatmu berbuah kecuali agar engkau makmur dan memakmurkan; Tidakkah syaikhmu memakmurkanmu kecuali agar engkau kembali; Tidaklah syaikhmu membuatmu kembali kecuali agar engkau mewakili beliau dalam pelarangan dan pemberian, dalam kondisi sempit dan kondisi lapang.

Jangan sampai engkau membiarkan gurumu berjalan, sementara sandalnya di kedua kakimu, atau engkau sedang memegang alat-alat yang membuatmu nyaman kecuali beliau mengizinkanmu lantaran adanya sebuah udzur. Jangan engkau tidur di rumah, jangan engkau meludah di hadapan beliau, jangan pula membuang ingus, jangan engkau ulurkan kakimu di hadapan beliau, jangan banyak menoleh, jangan pula engkau duduk di karpet beliau, hal ini berbeda ketika itu adalah baju beliau untuk engkau ber-tabarruk darinya.

Begitu pula perkara para sahabat dengan Nabi Saw pada baju, rambut, alat bersuci, lebihan air wudhu, ludah, keringat, hewan tunggangan, cawan minum, tempat shalat, tempat khalwat beliau Saw, dimana para ulanapun banyak memberikan kesaksian bahwa semua itu bisa memberikan pengaruh untuk sembuh dari penyakit jasad maupun penyakit ruhani. Tidakkah engkau lihat pengaruh yang terjadi pada Khalid bin Walid yang menaruh beberapa rambut Nabi Saw pada peci beliau?! Hal ini diungkap lantaran banyaknya kaum muslimin yang terbunuh dalam penyerangan tersebut. Khalidpun menjawab, “Aku tidak menyerang lantaran peciku ini, tetapi aku cemburu jika sampai rambut-rambutnya Nabi Saw jatuh ke tangan orang-orang musyrik dan aku tidak lagi mendapatkan keberkahan itu.”

Beliau ini membuat hirqah tasawuf pada perkara yang bisa membuat jiwa tenang lagi menambah kesempurnaan, dan itu menempati posisi bendera bagi pemimpin perang.

Diantara adabmu kepada syaikh adalah menghormati semua yang dinisbatkan pada syaikhmu meskipun itu adalah anjing, mencintai murid, kerabat, orang yang beliau cinta; baik laki-laki atau wanita bahkan hingga ragam makanan dan baju. Setiap pengagungan dan pemuliaan bagi syaikh, maka hakekatnya itu untuk Allah. Rasulullah Saw bersabda,

يَجِّلُوا الْمَشَائِخَ فَإِنَّ تَبْحِيْلَهُمْ مِنْ تَعْظِيمِ حُرْمَةِ اللَّهِ

“Agungkanlah para masyayikh, sungguh memuliakan mereka bagian dari mengagungkan kemuliaan Allah.”

(Ibnu ‘Adi dalam al Kâmil fidh-Dhu’afa’; vol. 4, hal. 93; Pada Profil Shakhar bin ‘Abdullah al Kufi; Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim al Marwazi menceritakan kepada kami, Abdullah bin Mahmud al Marwazi menceritakan kepada kami, Sakhar bin Abdullah al Hajibi di Marwa menceritakan kepada kami, al-Laits bin Sa’ad menceritakan kepada kami, dari az-Zuhri, dari Anas, la berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Agungkanlah para masyayikh, sebab memuliakan mereka bagian dari mengagungkan kemuliaan Allah.”

Ibnu ‘Adi berkata: Ini merupakan hadits maudhu’ atas al-Laits bin Sa’ad.

HR. Ad-Dailami dalam al Firdaus bi Matsur al Khithab, vol. 2. hal. 9, no. 282; Dari Anas: “Agungkanlah para masyayikh, sebab memuliakan mereka bagoan dari mengagungkan kemuliaan Allah. Maka orang yang belum mengagungkan mereka, maka bukanlah bagian dari kita.”)

Rasulullah Saw pun bersabda,

عَلَى قَدْرِ التَّعْظِيمِ تَكُوْنُ الْبَرَكَةُ

“Sesuai dengan kadar pengagungan, disitulah ada keberkahan. “

(Aku tidak menemukan takhrij ini dalam kitab ulama terdahulu.)

Maksudnya adalah, sebagaimana seorang murid wajib mengikuti generasi salafush-shalih dalam pengagungan masyayikh dan memuliakan mereka secara zhahir dan bathin, maka wajib pula menghadirkan niat kala ber-talaqqi dan mendengar dari beliau, bahwa sungguh ia sedang ber-talaqqi dan mendengar dari Allah Swt dan Rasul-Nya, sebab syaikh merupakan pewaris rasul dan wakil beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ نْ اَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِيْنَ اسْتَجَا رَكَ فَاَ جِرْهُ حَتّٰى يَسْمَعَ كَلَا مَ اللّٰهِ ثُمَّ اَبْلِغْهُ مَأْمَنَهٗ ۗ ذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُوْنَ
wa in ahadum minal-musyrikiinastajaaroka fa ajir-hu hattaa yasma’a kalaamallohi summa abligh-hu ma-manah, zaalika bi-annahum qoumul laa ya’lamuun

“Dan jika di antara kaum musyrikin ada yang meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah agar dia dapat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke tempat yang aman baginya. (Demikian) itu karena sesungguhnya mereka kaum yang tidak mengetahui.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 6)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى 
wa maa yangthiqu ‘anil-hawaa

“dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 3)

Semua ini merupakan jawaban atas dugaan adanya sisi majazi sekaligus menetapkan hukum secara hakiki.

Rasulullah Saw pernah bersabda,

قُوْلُوْا: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ، فَإِنَّ اللَّهَ يَقُوْلُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ

“Katakanlah oleh kalian, ‘(wahai) Rabb kami, segala puji hanya bagi-Mu’. Maka Allah berfirman melalui lisan nabi-Nya, ‘Allah telah mendengar orang yang memuji-Nya.”

“Seorang syaikh adalah orang yang menggemblengmu dengan akhlak, menatarmu dengan adab, serta menerangi bathinmu dengan cahayanya.”

Syaikh Zarruq Ra pernah membuat catatan, bahwa adab seorang murid itu ada pada empat perkara: Mengikuti gambaran, tidak membantah, selalu melazim-kan diri dan selalu berusaha menggapai tujuan.- Sungguh gambaran ini adalah gambaran paling baik.-

Ketahui pula, bahwa ada empat perkara yang mungkin engkau dapati dari para masyayikh: Sikap yang menyakitkan dan sikap memuliakan, perlakuan buruk dan perlakuan baik. Maka balaslah sikap yang menyakitkan itu dengan kesabaran dan bukan dengan rasa sedih. Balaslah pemuliaan mereka dengan memuji tanpa menghitung-hitung ragam syari’at, baik itu lebih atau kurang. Balaslah perlakuan buruk mereka dengan memaafkan tanpa perdebatan dan tanpa mengkerdilkan. Balaslah perlakuan baik mereka dengan mencocoki perbuatan tersebut tanpa henti.

Kemudian cacatnya kebenaran jati diri para masyayikh adalah engkau merasa terpedaya dan juga melebih-lebihkan beliau. Kedua perkara merupakan asal dari keterasingan dan penolakan (dari syaikhmu). Cara menyembuhkannya adalah dengan melempar keinginan diri dan juga berserah diri pada beliau.

Mengenai ragam persyaratan Syaikh: Ilmu yang shahih, memiliki dzauq yang nyata, memiliki himmah yang tinggi, memiliki kondisi jiwa yang diridhai dan juga bashirah (pandangan batin) yang tajam. Seluruh rahasia (tarbiyah) terletak pada kejujuran jiwa, beliaulah syaikh yang hakiki.

Kemudian setelah ungkapan ini beliau berkata: Ketahuilah wahai saudaraku, sungguh tanda adanya kehendak Allah padamu adalah engkau bisa wushul (sampai) dan senantiasa terkoneksi; yaitu engkau bisa sampai pada seorang syaikh murabbi, dimana Allah Swt tidaklah membuat seseorang wushul kepada mereka (para masyayikh) kecuali memang orang yang Allah ingin wushulkan ia pada beliau, maka tidak akan wushul pada-Nya kecuali orang yang terkoneksi dengan mereka (para masyayikh), dan tidaklah Allah meng-hijab mereka kecuali orang yang memang ter-hijab dari mereka (para masyayikh); Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا
sunnatallohi fillaziina kholau ming qobl, wa lang tajida lisunnatillaahi tabdiilaa

“Sebagai sunnah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 62)

Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari pernah mengatakan, “Maha Suci (Allah) yang tidak menjadikan tanda bagi para wali-Nya, selain tanda yang menunjukkan ada-Nya.”

Aku katakan (Syaikh Ibrahim Inyas): Apabila engkau telah tahu secara yakin, maka mencari syaikh tarbiyah wajib hukumnya, begitu juga ragam perkara lazim dari adab ketika bersama beliau yang sudah kami nukilkan dari para masyayikh terkemuka sebelumnya.

Janganlah engkau katakan, bahwa para rijalullah yang kamil itu telah tiada. Sebelumnya kami telah paparkan, bahwa mengenai terputusnya madad para nabi, hal ini belum pernah dikatakan oleh orang yang beriman, para wali Allah merupakan pewaris para Nabi. Tarbiyah dari Allah kepada makhluknya tidak pernah terhenti selamanya. Pada generasi awal, Allah mengirimkan para nabi dengan tarbiyah dan irsyad. Setiap datang masa kosong, maka Allah angkat itu dengan diutusnya seorang Nabi hingga datang penutup risalah dengan diutusnya penutup para nabi dan pimpinan para utusan Allah; penghulu kita Nabi Muhammad Saw. Maka beliaupun diutus dengan tarbiyah bagi orang yang ‘ârifinbillah lagi pemilik izin khusus. Maka setiap datang masa kosong, Allah pun angkat itu dengan mengutus seorang wali mursyid yang kamil.

Masa kekosongan itu ada dua: Pertama, masa kekufuran yang terangkat dengan diutusnya seorang nabi.

Kedua, masa Islam itu terangkat dengan diutusnya syaikh murabbi. Kepada makna inilah diisyaratkan hadits nabi Saw berikut:

عُلَمَاءُ أُمَّتِي كَأَنْبِيَاءِ بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Ulama umatku layaknya para nabinya Bani Israil,” juga hadits nabi Saw:

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ عَلَى كُلِّ أُمَّةٍ مُحَدِّدًا

“Sungguh Allah senantiasa mengutus pada setiap umat seorang mujaddid (sosok pembaharu sisi keagamaan).”

(HR. Abu Dawud dalam Sunar-nya; Kitab. al Malahim, Bab. Apa yang disebutkan pada Abad ke-100; vol. 4, hal. 106-107.

H; Sulaiman bin Dawud al Mihri menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Sa’id bin Ibnu Abi Ayyub mengabarkan kepada kami, dari Syarahil bin Yazid al Ma’afiri, dari Abu ‘Alqamah, dari Abu Hurairah dari apa yang paling aku ketahui dari Rasulullah Saw, bahwa Allah Swt senantisa mengutus pada setiap seratus tahun sosok yang senantiasa memperbaharui perkara umat ini.”

HR. al Hakim dalam al Mustadrak, Kitab. al Fitan, Bab. Menyebut Sebagian Mujaddid pada Umat Ini; vol. 4, hal. 522; Dari jalur periwayatan ar-Rabi’ bin Sulaiman bin Kamil al Muradi; ‘Abdullah bin Wahab menceritakan kepada kami; hingga akhir sanad Abu Dawud dengan lafazh beliau. Namun al Hakim dan Adz-Dzahabi tidak berkomentar mengenal hadits ini.)

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah Saw wafat, bumipun menangis seraya berkata: Tuhan dan Tuanku, Aku masih tersisa dengan kondisi tidak ada lagi seorang Nabi yang berjalan diatas punggungku hingga hari Kiamat.” Maka Allah Swt pun mewahyukan kepada bumi, “Aku akan jadikan dari umat ini sosok yang kalbu mereka atas kalbunya para nabi As. Aku tidak akan membiarkan-mu kosong (mereka) hingga hari Kiamat”

Semoga Allah jadikan kita bagian dari pembesar para wali Allah nan memiliki maqam yang paling tinggi dan senantiasa menghadap pada Nabi Saw.

Inilah akhir pasal dalam bab ini. Semoga Allah senantiasa memberikan taufik kepada kebenaran. Hanya kepada-Nya tempat kembali dan harapan.

Sumber : BUKU FAIDHAH TIJANI (KASYIFUL ILBAS ‘AN FAIDHATI AL KHATMI ABIL ABBAS) SYAIKH IBRAHIM NIASS AL KULKHI AT-TIJANY