
Elsubha.com – Teo Sufism; Spiritual Modern Di Eropa
Diantara dasar mereka adalah mengenal Al Khaliq, kekekalan ruh dan pendapat tentang titisan ruh.
Akidah ini dikembangkan dari akidah agama Hindu, yaitu semua makhluk itu sesuai dengan pelajaran yang terdapat dalam Veda, kitab yang disucikan oleh mereka- muncul dari Allah Swt dan tidak lama lagi akan kembali kepada Allah Swt dengan cara taraqqi (kenaikan atau kemajuan) dan evolusi yang terus berlangsung. Ketika jiwa berpisah dari jasad yang fana ini, ia tidak kehilangan semua jasmani dan tidak pula memiliki sifat lemah dalam semesta yang agung ini. Justru, ia memiliki tubuh yang diperbaharui seperti fisik tuhan-tuhan yang dibentuk dari Allah Swt, ini adalah perantara yang terus berjalan-. Maksudnya, jiwa yang jelek atau cahaya dari api ketuhanan bersama jasadnya yang lembut, yang lebih baik lagi elok. la akan tetap demikian selamanya dalam keadaan bersiap-siap untuk menyatu dengan jasad baru yang ditunggu-tunggu ketika ia sudah mulai merasa membutuhkan itu demi menuju syari’at Al Ka ‘in yang lebih tinggi.
Demikianlah ringkasan dari beberapa pelajaran yang terdapat dalam agama Hindu.
Mereka mengibaratkan jasad-jasad yang tercipta dari tanah ini bagi ruh-ruh seperti madrasah, dimana jasad-jasad itu menjadi terdidik di dalamnya dengan petunjuk ruh-ruh yang telah sempurna penyuciannya. Mereka menyeru kepada akhlak yang mulia sebagaimana seruan semua agama.
Mereka mengira bahwa inilah yang dimaksud dengan hari kebangkitan yang dibawa oleh para nabi dan menjadikan balasan amal pada jasad-jasad yang terbuat dari tanah. Dalam hal ini, mereka bertendensi dengan apa yang mereka nukil dari beberapa kabar orang yang mendatangkan roh-roh mereka. Ini adalah tendensi yang tidak bisa dipercaya. Beredar isu diantara mereka, bahwa sebagian ruh-ruh yang didatangkan itu juga ada yang berdusta dan menyesatkan mereka.
Apabila masalah ini sesuai dengan apa yang mereka sampaikan, maka para pimpinan makhluk dari kalangan para rasul, para nabi, shiddiqin, orang-orang yang syahid dan yang shalih, berhak mendapatkan adzab di muka bumi ini, karena mereka adalah manusia yang paling besar mendapatkan cobaan.
Hal yang paling mengherankan adalah, bahwa yang mengambil beragam kabar tersebut adalah orang yang tidak ma’shum dan dirinya juga meninggalkan khabar orang ma’shum yang disaksikan oleh Al Haq Swt bahwa dia adalah orang yang jujur, amanah dan sempuma. Seandainya ini benar, tentu para nabi tidak akan menutup-nutupinya, mereka adalah orang-orang yang ma’shum dan tentu mereka akan menjelaskannya kepada manusia. Sebab, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
بِا لْبَيِّنٰتِ وَا لزُّبُرِ ۗ وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّا سِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
bil-bayyinaati waz-zubur, wa angzalnaaa ilaikaz-zikro litubayyina lin-naasi maa nuzzila ilaihim wa la’allahum yatafakkaruun
“(mereka Kami utus) dengan membawa keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 44)
Diriwayatkan secara tsabit, bahwa orang-orang kafir Quraisy mengingkari adanya hari kebangkitan, mereka berkata seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an-, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لُوْۤا ءَاِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَا بًا وَّ عِظَا مًا ءَاِنَّا لَمَبْعُوْثُوْنَ
qooluuu a izaa mitnaa wa kunnaa turoobaw wa ‘izhooman a innaa lamab’uusuun
“Mereka berkata, “Apakah betul, apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kami benar-benar akan dibangkitkan kembali?”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 82)
Maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَضَرَبَ لَـنَا مَثَلًا وَّ نَسِيَ خَلْقَهٗ ۗ قَا لَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَا مَ وَهِيَ رَمِيْمٌ
wa dhoroba lanaa masalaw wa nasiya kholqoh, qoola may yuhyil-‘izhooma wa hiya romiim
“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?””
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 78)
قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْۤ اَنْشَاَ هَاۤ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمُ
qul yuhyiihallaziii angsya-ahaaa awwala marroh, wa huwa bikulli kholqin ‘aliim
“Katakanlah (Muhammad), “Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,”
(QS. Ya-Sin 36: Ayat 79)
Orang-orang kafir menganggap tidak mungkin jasad-jasad yang telah hancur luluh dan bercampur tanah bisa dihidupkan kembali.
Sedangkan adanya ruh yang akan memiliki jasad lain selain jasad yang telah hancur luluh itu, maka dalam hal ini tidak ada perselisihan antara orang-orang kafir dengan Rasulullah Saw. Seandainya Rasulullah Saw mengatakan kepada mereka, bahwa hari perkumpulan itu hanya untuk ruh-ruh saja tanpa jasadnya atau diganti dengan jasad-jasad yang lain selain jasad yang telah hancur luluh itu, maka dalam masalah ini mereka tidak akan menyerukan keingkaran mereka tersebut.
Klaim manakah yang menyebutkan, bahwa Rasul itu diutus untuk menyampaikan masalah tentang titisan ruh (reinkarnasi), namun kemudian beliau memberikan gambaran kepada kaumnya bukan secara hakikat dimana beliau diutus untuk menyampaikan hakikat tersebut. Disamping itu, beliau adalah pembawa petunjuk kepada kebenaran dan menjauhkan (manusia) dari kesesatan?!
Bahkan mereka menganggap, gambaran yang disampaikan oleh beliau (Rasulullah Saw) itu jauh dari yang hakikat sebenarnya, sementara beliau diperintah untuk menyampaikan apa yang diturunkan kepada beliau dengan apa adanya. Demikian juga dengan para nabi terdahulu, mereka tidak menyeru kaumnya kepada pemahaman tentang reinkarnasi.
Setiap perkataan yang dibawa oleh orang-orang yang meyakini adanya reinkarnasi, maka itu tidak dianggap sebagai dalil tentang reinkarnasi. Sedangkan semua para nabi datang dengan membawa akidah yang sama dan lagi jelas, didalamnya tidak ada keserupaan dan juga kesamaran.
Barangsiapa yang mengira, bahwa apabila jasad-jasad itu telah bercampur dengan tanah, maka ia menjadi tanaman, lalu manusia memakannya, kemudian ia bercampur dengan jasad-jasad mereka, sehingga jasad itu tidak mungkin bisa dikumpulkan kembali, karena adakalanya berada dalam jasad manusia atau dalam jasad yang lain atau juga sudah terpisah-pisah dalam diri manusia sepanjang zaman. Dengan anggapan ini berarti dia buru-buru menentukan sebuah hukum dan dia tidak meneliti sebuah hakikat. Karena kekuasaan yang mutlak dalam kekuatannya itu akan menjaga setiap jasad dari percampuran yang menghantarkan pada gambaran yang telah mereka bayangkan, walaupun mereka tidak mengetahui.
Oleh karena itu, kebangkitan tertentu pada inti dari setiap jasad yang tidak memiliki pengaruh padanya, sebagaimana yang diriwayatkan secara shahih dari Nabi Saw bahwa Allah Swt akan menjaga tulang ekor dari kerusakan -Seperti yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dalam Ash-Shahih. Sebagaimana Allah Swt menjaga tulang ekor itu, maka Dia pun juga menjaga yang lainnya.
Barangsiapa yang berserikat dengan orang-orang kafir dalam kebodohan tentang kuasa ketuhanan dan mengira bahwa Al Haq Swt tidak kuasa mengembalikan jasad-jasad tersebut serta membangkitkannya setelah hancur dan menjadi tulang belulang, maka hukumnya seperti hukum orang-orang kafir.
Seandainya manusia memakan manusia yang lainnya sebagaimana yang diberitakan tentang kabilah Nayam Nayam (suku kanibal di Afrika Selatan)- apakah tidak mungkin Allah Swt mengambil jasad itu melalui salah satu jalur diantara beberapa jalur makanan dari kekuasaan-Nya yang luas, kemudian menempatkan jasad yang dimakan itu tanpa tercampur dengan jasad yang memakannya?
Barangsiapa yang ragu, bahwa kekuasaan Allah Swt bisa melakukan hal tersebut, berarti dia tidak mengetahui luasnya kekuasaan Allah Swt dan juga kufur terhadap Tuhannya. Setiap sesuatu tentu akan mencari sesuatu yang di luar kebiasaan, -maka Maha Suci Allah-, siapakah pemilik kebiasaan dan yang di luar kebiasaan itu? Sungguh tidak ada sesuatu pun yang bisa mengalahkan Al Haq Swt, Dia berfirman,
وَّا لْخَـيْلَ وَا لْبِغَا لَ وَا لْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةً ۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wal-khoila wal-bighoola wal-hamiiro litarkabuuhaa wa ziinah, wa yakhluqu maa laa ta’lamuun
“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 8)
Dia juga berfirman,
قُلْ كُوْنُوْا حِجَا رَةً اَوْ حَدِيْدًا
qul kuunuu hijaarotan au hadiidaa
“Katakanlah (Muhammad), “Jadilah kamu batu atau besi,”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 50)
اَوْ خَلْقًا مِّمَّا يَكْبُرُ فِيْ صُدُوْرِكُمْ ۚ فَسَيَـقُوْلُوْنَ مَنْ يُّعِيْدُنَا ۗ قُلِ الَّذِيْ فَطَرَكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۚ فَسَيُنْغِضُوْنَ اِلَيْكَ رُءُوْسَهُمْ وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هُوَ ۗ قُلْ عَسٰۤى اَنْ يَّكُوْنَ قَرِيْبًا
au kholqom mimmaa yakburu fii shuduurikum, fa sayaquuluuna may yu’iidunaa, qulillazii fathorokum awwala marroh, fa sayun-ghidhuuna ilaika ru-uusahum wa yaquuluuna mataa huw, qul ‘asaaa ay yakuuna qoriibaa
“atau menjadi makhluk yang besar (yang tidak mungkin hidup kembali) menurut pikiranmu.” Maka mereka akan bertanya, “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah, “Yang telah menciptakan kamu pertama kali.” Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu dan berkata, “Kapan (Kiamat) itu (akan terjadi)?” Katakanlah, “Barangkali waktunya sudah dekat,””
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 51)
Dia juga berfirman,
مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَا رَةً اُخْرٰى
min-haa kholaqnaakum wa fiihaa nu’iidukum wa min-haa nukhrijukum taarotan ukhroo
“Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 55)
Dia juga berfirman,
وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ تَقُوْمَ السَّمَآءُ وَا لْاَ رْضُ بِاَ مْرِهٖ ۗ ثُمَّ اِذَا دَعَا كُمْ دَعْوَةً ۖ مِّنَ الْاَ رْضِ ۖ اِذَاۤ اَنْـتُمْ تَخْرُجُوْنَ
wa min aayaatihiii ang taquumas-samaaa-u wal-ardhu bi-amrih, summa izaa da’aakum da’watam minal-ardhi izaaa angtum takhrujuun
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari kubur).”
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 25)
Para ahli tazkiyah (sufi) beriman dengan adanya hari kebangkitan, sebagaimana yang ditermaktub didalam Al Qur’an dan As-Sunnah. Mereka mengesampingkan beragam klaim yang Allah Swt tidak menurunkan dalil terkait dengannya dan mereka juga membantah pendapat terkait dengan fenomena titisan ruh (reinkarnasi). Tetapi mereka mengokohkan warisan yang telah disebutkan dalam hadits Abu Ad-Darda Ra,
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ
“Keutamaan orang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas bintang-bintang.”
Dan hadits yang berbunyi,
إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرِ
“Ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, sesungguhnya mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, berarti dia mengambil bagian yang sempurna.” (HR. Imam Ahmad dengan sanad hasan. Demikian juga Al Hakim, penulis As-Sunan dan Ibnu Majah dalam Shahih-nya)
Diantara manusia ada yang Allah Swt berikan warisan Al Khalil As atau salah satu dari para nabi As, sebagaimana kabar tentang sifat Nabi Saw yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Ra, bahwa beliau mirip dengan nabi Isa As terkait dengan sikap wara nya. (HR. At-Tirmidzi dan selainnya. Salah satu diantara beberapa sanadnya hasan)
Tidak ada nabi setelah Nabi Muhammad Saw, Allah Swt berfirman,
مَا كَا نَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَا لِكُمْ وَلٰـكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَا تَمَ النَّبِيّٖنَ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
maa kaana muhammadun abaaa ahadim mir rijaalikum wa laakir rosuulallohi wa khootaman-nabiyyiin, wa kaanallohu bikulli syai-in ‘aliimaa
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 40)
Nabi Saw memiliki beberapa makna “penutup para nabi,” apabila makna “penutup para nabi” adalah yang membenarkan (utusan sebelumnya), yang paling utama dan yang terakhir, maka beliau adalah orang yang membenarkan, yang paling utama dan yang terakhir. Tidak boleh membuang satu dari beberapa makna “penutup” tersebut.
Jadi, tidak ada nabi dan rasul setelah beliau, karena Nabi adalah orang yang Allah Swt pilih untuk sebuah syari’at agar dia mengamalkannya sendiri dan Dia mewahyukan syari’at itu kepadanya. Namun apabila Allah Swt memerintahnya untuk menyampaikan syari’at tersebut walaupun hanya kepada satu orang, maka dia adalah rasul.
Apabila Allah Swt meniadakan kenabian setelah Rasulullah Saw, berarti kerasulan juga tidak ada, kerena kerasulan tidak diberikan kecuali kepada nabi.
